23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
in Ulas Musik
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ilustrasi dibuat dengan AI

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral sederhana: nyanyian cinta untuk semenanjung sunyi di Skotlandia, tempat McCartney menemukan keteduhan jauh dari sorot lampu panggung.

Namun dalam horizon hermeneutika di mana teks tidak sekadar dibaca, melainkan dipertemukan dengan pengalaman pembacanya, lagu ini melampaui geografis Skotlandia. Ia berbicara tentang “pulang” sebagai struktur eksistensial manusia.

Bagi kita di Indonesia, pengalaman itu menemukan resonansi kuat dalam tradisi mudik Idulfitri: arus besar manusia yang kembali ke kampung halaman, bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan makna. Di sinilah “Mull of Kintyre” dapat dibaca sebagai teks universal tentang kerinduan pulang, tentang rumah sebagai ruang rekonsiliasi antara diri dan asal-usulnya.

Teks sebagai Lanskap: Alam yang Menghadirkan Diri

Lirik seperti “mist rolling in from the sea” dan “sweep through the heather like deer in the glen” memunculkan citra kabut, padang heather, rusa di lembah, sebuah dunia yang bergerak perlahan. Alam bukan latar dekoratif, melainkan subjek yang aktif: kabut “datang”, padang “menyapu”, laut “bernapas”. Dalam pembacaan hermeneutika, lanskap ini adalah bahasa bagi pengalaman batin.

Semenanjung Mull of Kintyre sendiri adalah wilayah terpencil di Skotlandia barat, menghadap Samudra Atlantik. Di sana McCartney memiliki pertanian; di sana ia menanggalkan identitas “mantan personel The Beatles” dan menjadi manusia biasa yang bercakap dengan angin dan tanah. Lagu ini adalah bentuk re-appropriation of self: upaya mengambil kembali diri dari arus industri dan ketenaran.

Dalam konteks mudik, lanskap kampung sawah, langgar kecil, aroma tanah basah setelah hujan juga berfungsi sebagai bahasa eksistensial. Ia bukan nostalgia kosong, tetapi simbol pemulihan relasi. Kampung halaman adalah teks yang menyimpan memori kolektif: di sanalah nama kita pertama kali dipanggil, di sanalah doa pertama diajarkan.

Kerinduan sebagai Struktur Eksistensial

Baris “My desire is always to be here” menegaskan bahwa kerinduan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan orientasi batin yang menetap. Dalam hermeneutika eksistensial, kerinduan adalah tanda bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara “di sini” dan “di sana”. Ia hidup dalam keterlemparan (thrownness) sekaligus pencarian makna.

Mudik Idulfitri memuat struktur yang sama. Selama setahun, banyak orang hidup di kota besar, terlibat dalam ritme kerja, kompetisi, dan percepatan waktu. Namun menjelang Lebaran, muncul dorongan purba: pulang. Tiket habis, jalan macet, perjalanan melelahkan, namun kerinduan mengalahkan segalanya. Pulang menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar agenda sosial.

Dalam perspektif ini, “Mull of Kintyre” berbicara tentang homecoming sebagai gerak melingkar: manusia menjauh untuk bertumbuh, lalu kembali untuk mengakar. Mudik pun demikian, ia adalah siklus tahunan yang menegaskan bahwa modernitas tidak sepenuhnya mampu memutus tali asal-usul.

Rumah sebagai Ruang Rekonsiliasi

Hermeneutika selalu melibatkan fusion of horizons, peleburan cakrawala antara teks dan pembaca. Ketika kita membaca “Mull of Kintyre” dalam konteks Indonesia, cakrawala Skotlandia dan cakrawala Nusantara saling menyapa. Heather dan padang rumput boleh berbeda dari sawah dan kebun kelapa, tetapi struktur maknanya serupa: alam sebagai rahim identitas.

Pada hari raya Idulfitri, pulang bukan hanya kembali ke rumah fisik, melainkan ruang rekonsiliasi. Tradisi saling memaafkan, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, semuanya adalah tindakan simbolik untuk memulihkan retakan relasi. Lagu McCartney pun mengandung nada rekonsiliatif: kembali ke tempat yang “menerima” tanpa syarat.

Di sini rumah bukan sekadar bangunan, tetapi pengalaman diterima. Kota mungkin memberi prestise; kampung memberi pengakuan eksistensial. Seperti McCartney yang menemukan kedamaian di Mull of Kintyre, para perantau menemukan ketenangan saat duduk di beranda rumah orang tua, mendengar azan Magrib dari masjid kecil yang sama sejak masa kanak-kanak.

Kesederhanaan sebagai Kritik atas Modernitas

Secara musikal, “Mull of Kintyre” sederhana: balada dengan iringan bagpipeSkotlandia yang khas. Tidak ada kompleksitas progresif seperti dalam karya-karya rock eksperimental era 1970-an. Kesederhanaan ini adalah pernyataan estetik sekaligus etis, sebuah kritik halus terhadap gemerlap industri musik.

Mudik pun, dalam paradoksnya, adalah kritik terhadap modernitas. Ia menunjukkan bahwa seberapa pun maju teknologi dan urbanisasi, manusia tetap merindukan kesederhanaan relasi primer: keluarga, tetangga, tanah kelahiran. Arus kendaraan yang mengular setiap Lebaran adalah metafora besar bahwa modernitas tidak menghapus kebutuhan akan akar.

Dalam kerangka hermeneutika, kesederhanaan ini bukan regresi, melainkan penegasan nilai. Pulang bukan berarti menolak kemajuan, tetapi mengingat sumber. Ia seperti mata air yang memastikan sungai tidak kehilangan kejernihannya.

Kabut sebagai Metafora Spiritualitas

Kabut yang “rolling in from the sea” dapat dibaca sebagai metafora ambiguitas hidup modern, segala sesuatu tampak samar, identitas cair, arah sering kabur. Namun justru dalam kabut itulah penyanyi menemukan keindahan. Kabut tidak menakutkan; ia menenangkan.

Dalam pengalaman mudik, perjalanan panjang sering diselimuti kelelahan dan ketidakpastian: macet, hujan, risiko kecelakaan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa ujung perjalanan adalah rumah. Kabut perjalanan menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

Lebaran, secara spiritual, adalah momentum kembali ke fitrah, ke keadaan asal yang bersih. Maka mudik bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol perjalanan batin dari keterasingan menuju kejernihan. Seperti kabut yang akhirnya menyingkapkan lanskap, Idulfitri menyingkapkan kembali wajah asli relasi kita.

Pulang sebagai Narasi Universal

Mengapa lagu yang sangat lokal tentang semenanjung Skotlandia bisa menjadi salah satu singel terlaris dalam sejarah Inggris? Karena ia menyentuh arketipe universal: kerinduan pada rumah. Mull of Kintyre hanyalah nama; maknanya adalah pulang.

Dalam budaya Indonesia, istilah “mudik” memiliki dimensi yang unik, ia bukan sekadar homecoming, tetapi peristiwa kolektif yang membentuk memori nasional. Jalan tol, pelabuhan, bandara menjadi ruang perjumpaan kelas sosial dan latar belakang yang beragam. Semua bergerak ke arah yang sama: rumah.

Hermeneutika mengajarkan bahwa teks hidup ketika ia dibaca ulang dalam konteks baru. Maka “Mull of Kintyre” hari ini dapat dibaca sebagai lagu mudik lintas budaya. Ia mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan mobilitas tanpa batas, manusia tetap makhluk yang merindukan akar.

Rumah sebagai Doa yang Diam

Pada akhirnya, “Mull of Kintyre” bukan sekadar balada pastoral, melainkan doa yang dinyanyikan perlahan. Ia adalah pengakuan bahwa ketenaran, kota, dan karier tidak pernah sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan tanah yang akrab.

Mudik Idulfitri menggemakan doa yang sama. Ia adalah perjalanan kembali ke sumber ke orang tua, ke tradisi, ke diri yang lebih jujur. Di kampung halaman, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa; kita cukup menjadi anak, saudara, tetangga.

Kabut mungkin bergulung dari laut Skotlandia, atau dari sawah Nusantara saat subuh Lebaran. Namun maknanya serupa: dalam keheningan alam dan pelukan rumah, manusia menemukan kembali dirinya.

Dan seperti bait sederhana yang terus terngiang “My desire is always to be here” kerinduan untuk pulang adalah bahasa paling purba dari kemanusiaan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratPaul McCartneyulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Next Post

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co