2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
in Ulas Musik
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ilustrasi dibuat dengan AI

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral sederhana: nyanyian cinta untuk semenanjung sunyi di Skotlandia, tempat McCartney menemukan keteduhan jauh dari sorot lampu panggung.

Namun dalam horizon hermeneutika di mana teks tidak sekadar dibaca, melainkan dipertemukan dengan pengalaman pembacanya, lagu ini melampaui geografis Skotlandia. Ia berbicara tentang “pulang” sebagai struktur eksistensial manusia.

Bagi kita di Indonesia, pengalaman itu menemukan resonansi kuat dalam tradisi mudik Idulfitri: arus besar manusia yang kembali ke kampung halaman, bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan makna. Di sinilah “Mull of Kintyre” dapat dibaca sebagai teks universal tentang kerinduan pulang, tentang rumah sebagai ruang rekonsiliasi antara diri dan asal-usulnya.

Teks sebagai Lanskap: Alam yang Menghadirkan Diri

Lirik seperti “mist rolling in from the sea” dan “sweep through the heather like deer in the glen” memunculkan citra kabut, padang heather, rusa di lembah, sebuah dunia yang bergerak perlahan. Alam bukan latar dekoratif, melainkan subjek yang aktif: kabut “datang”, padang “menyapu”, laut “bernapas”. Dalam pembacaan hermeneutika, lanskap ini adalah bahasa bagi pengalaman batin.

Semenanjung Mull of Kintyre sendiri adalah wilayah terpencil di Skotlandia barat, menghadap Samudra Atlantik. Di sana McCartney memiliki pertanian; di sana ia menanggalkan identitas “mantan personel The Beatles” dan menjadi manusia biasa yang bercakap dengan angin dan tanah. Lagu ini adalah bentuk re-appropriation of self: upaya mengambil kembali diri dari arus industri dan ketenaran.

Dalam konteks mudik, lanskap kampung sawah, langgar kecil, aroma tanah basah setelah hujan juga berfungsi sebagai bahasa eksistensial. Ia bukan nostalgia kosong, tetapi simbol pemulihan relasi. Kampung halaman adalah teks yang menyimpan memori kolektif: di sanalah nama kita pertama kali dipanggil, di sanalah doa pertama diajarkan.

Kerinduan sebagai Struktur Eksistensial

Baris “My desire is always to be here” menegaskan bahwa kerinduan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan orientasi batin yang menetap. Dalam hermeneutika eksistensial, kerinduan adalah tanda bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara “di sini” dan “di sana”. Ia hidup dalam keterlemparan (thrownness) sekaligus pencarian makna.

Mudik Idulfitri memuat struktur yang sama. Selama setahun, banyak orang hidup di kota besar, terlibat dalam ritme kerja, kompetisi, dan percepatan waktu. Namun menjelang Lebaran, muncul dorongan purba: pulang. Tiket habis, jalan macet, perjalanan melelahkan, namun kerinduan mengalahkan segalanya. Pulang menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar agenda sosial.

Dalam perspektif ini, “Mull of Kintyre” berbicara tentang homecoming sebagai gerak melingkar: manusia menjauh untuk bertumbuh, lalu kembali untuk mengakar. Mudik pun demikian, ia adalah siklus tahunan yang menegaskan bahwa modernitas tidak sepenuhnya mampu memutus tali asal-usul.

Rumah sebagai Ruang Rekonsiliasi

Hermeneutika selalu melibatkan fusion of horizons, peleburan cakrawala antara teks dan pembaca. Ketika kita membaca “Mull of Kintyre” dalam konteks Indonesia, cakrawala Skotlandia dan cakrawala Nusantara saling menyapa. Heather dan padang rumput boleh berbeda dari sawah dan kebun kelapa, tetapi struktur maknanya serupa: alam sebagai rahim identitas.

Pada hari raya Idulfitri, pulang bukan hanya kembali ke rumah fisik, melainkan ruang rekonsiliasi. Tradisi saling memaafkan, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, semuanya adalah tindakan simbolik untuk memulihkan retakan relasi. Lagu McCartney pun mengandung nada rekonsiliatif: kembali ke tempat yang “menerima” tanpa syarat.

Di sini rumah bukan sekadar bangunan, tetapi pengalaman diterima. Kota mungkin memberi prestise; kampung memberi pengakuan eksistensial. Seperti McCartney yang menemukan kedamaian di Mull of Kintyre, para perantau menemukan ketenangan saat duduk di beranda rumah orang tua, mendengar azan Magrib dari masjid kecil yang sama sejak masa kanak-kanak.

Kesederhanaan sebagai Kritik atas Modernitas

Secara musikal, “Mull of Kintyre” sederhana: balada dengan iringan bagpipeSkotlandia yang khas. Tidak ada kompleksitas progresif seperti dalam karya-karya rock eksperimental era 1970-an. Kesederhanaan ini adalah pernyataan estetik sekaligus etis, sebuah kritik halus terhadap gemerlap industri musik.

Mudik pun, dalam paradoksnya, adalah kritik terhadap modernitas. Ia menunjukkan bahwa seberapa pun maju teknologi dan urbanisasi, manusia tetap merindukan kesederhanaan relasi primer: keluarga, tetangga, tanah kelahiran. Arus kendaraan yang mengular setiap Lebaran adalah metafora besar bahwa modernitas tidak menghapus kebutuhan akan akar.

Dalam kerangka hermeneutika, kesederhanaan ini bukan regresi, melainkan penegasan nilai. Pulang bukan berarti menolak kemajuan, tetapi mengingat sumber. Ia seperti mata air yang memastikan sungai tidak kehilangan kejernihannya.

Kabut sebagai Metafora Spiritualitas

Kabut yang “rolling in from the sea” dapat dibaca sebagai metafora ambiguitas hidup modern, segala sesuatu tampak samar, identitas cair, arah sering kabur. Namun justru dalam kabut itulah penyanyi menemukan keindahan. Kabut tidak menakutkan; ia menenangkan.

Dalam pengalaman mudik, perjalanan panjang sering diselimuti kelelahan dan ketidakpastian: macet, hujan, risiko kecelakaan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa ujung perjalanan adalah rumah. Kabut perjalanan menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

Lebaran, secara spiritual, adalah momentum kembali ke fitrah, ke keadaan asal yang bersih. Maka mudik bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol perjalanan batin dari keterasingan menuju kejernihan. Seperti kabut yang akhirnya menyingkapkan lanskap, Idulfitri menyingkapkan kembali wajah asli relasi kita.

Pulang sebagai Narasi Universal

Mengapa lagu yang sangat lokal tentang semenanjung Skotlandia bisa menjadi salah satu singel terlaris dalam sejarah Inggris? Karena ia menyentuh arketipe universal: kerinduan pada rumah. Mull of Kintyre hanyalah nama; maknanya adalah pulang.

Dalam budaya Indonesia, istilah “mudik” memiliki dimensi yang unik, ia bukan sekadar homecoming, tetapi peristiwa kolektif yang membentuk memori nasional. Jalan tol, pelabuhan, bandara menjadi ruang perjumpaan kelas sosial dan latar belakang yang beragam. Semua bergerak ke arah yang sama: rumah.

Hermeneutika mengajarkan bahwa teks hidup ketika ia dibaca ulang dalam konteks baru. Maka “Mull of Kintyre” hari ini dapat dibaca sebagai lagu mudik lintas budaya. Ia mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan mobilitas tanpa batas, manusia tetap makhluk yang merindukan akar.

Rumah sebagai Doa yang Diam

Pada akhirnya, “Mull of Kintyre” bukan sekadar balada pastoral, melainkan doa yang dinyanyikan perlahan. Ia adalah pengakuan bahwa ketenaran, kota, dan karier tidak pernah sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan tanah yang akrab.

Mudik Idulfitri menggemakan doa yang sama. Ia adalah perjalanan kembali ke sumber ke orang tua, ke tradisi, ke diri yang lebih jujur. Di kampung halaman, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa; kita cukup menjadi anak, saudara, tetangga.

Kabut mungkin bergulung dari laut Skotlandia, atau dari sawah Nusantara saat subuh Lebaran. Namun maknanya serupa: dalam keheningan alam dan pelukan rumah, manusia menemukan kembali dirinya.

Dan seperti bait sederhana yang terus terngiang “My desire is always to be here” kerinduan untuk pulang adalah bahasa paling purba dari kemanusiaan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratPaul McCartneyulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Next Post

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co