2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
in Ulas Musik
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ilustrasi dibuat dengan AI

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral sederhana: nyanyian cinta untuk semenanjung sunyi di Skotlandia, tempat McCartney menemukan keteduhan jauh dari sorot lampu panggung.

Namun dalam horizon hermeneutika di mana teks tidak sekadar dibaca, melainkan dipertemukan dengan pengalaman pembacanya, lagu ini melampaui geografis Skotlandia. Ia berbicara tentang “pulang” sebagai struktur eksistensial manusia.

Bagi kita di Indonesia, pengalaman itu menemukan resonansi kuat dalam tradisi mudik Idulfitri: arus besar manusia yang kembali ke kampung halaman, bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan makna. Di sinilah “Mull of Kintyre” dapat dibaca sebagai teks universal tentang kerinduan pulang, tentang rumah sebagai ruang rekonsiliasi antara diri dan asal-usulnya.

Teks sebagai Lanskap: Alam yang Menghadirkan Diri

Lirik seperti “mist rolling in from the sea” dan “sweep through the heather like deer in the glen” memunculkan citra kabut, padang heather, rusa di lembah, sebuah dunia yang bergerak perlahan. Alam bukan latar dekoratif, melainkan subjek yang aktif: kabut “datang”, padang “menyapu”, laut “bernapas”. Dalam pembacaan hermeneutika, lanskap ini adalah bahasa bagi pengalaman batin.

Semenanjung Mull of Kintyre sendiri adalah wilayah terpencil di Skotlandia barat, menghadap Samudra Atlantik. Di sana McCartney memiliki pertanian; di sana ia menanggalkan identitas “mantan personel The Beatles” dan menjadi manusia biasa yang bercakap dengan angin dan tanah. Lagu ini adalah bentuk re-appropriation of self: upaya mengambil kembali diri dari arus industri dan ketenaran.

Dalam konteks mudik, lanskap kampung sawah, langgar kecil, aroma tanah basah setelah hujan juga berfungsi sebagai bahasa eksistensial. Ia bukan nostalgia kosong, tetapi simbol pemulihan relasi. Kampung halaman adalah teks yang menyimpan memori kolektif: di sanalah nama kita pertama kali dipanggil, di sanalah doa pertama diajarkan.

Kerinduan sebagai Struktur Eksistensial

Baris “My desire is always to be here” menegaskan bahwa kerinduan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan orientasi batin yang menetap. Dalam hermeneutika eksistensial, kerinduan adalah tanda bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara “di sini” dan “di sana”. Ia hidup dalam keterlemparan (thrownness) sekaligus pencarian makna.

Mudik Idulfitri memuat struktur yang sama. Selama setahun, banyak orang hidup di kota besar, terlibat dalam ritme kerja, kompetisi, dan percepatan waktu. Namun menjelang Lebaran, muncul dorongan purba: pulang. Tiket habis, jalan macet, perjalanan melelahkan, namun kerinduan mengalahkan segalanya. Pulang menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar agenda sosial.

Dalam perspektif ini, “Mull of Kintyre” berbicara tentang homecoming sebagai gerak melingkar: manusia menjauh untuk bertumbuh, lalu kembali untuk mengakar. Mudik pun demikian, ia adalah siklus tahunan yang menegaskan bahwa modernitas tidak sepenuhnya mampu memutus tali asal-usul.

Rumah sebagai Ruang Rekonsiliasi

Hermeneutika selalu melibatkan fusion of horizons, peleburan cakrawala antara teks dan pembaca. Ketika kita membaca “Mull of Kintyre” dalam konteks Indonesia, cakrawala Skotlandia dan cakrawala Nusantara saling menyapa. Heather dan padang rumput boleh berbeda dari sawah dan kebun kelapa, tetapi struktur maknanya serupa: alam sebagai rahim identitas.

Pada hari raya Idulfitri, pulang bukan hanya kembali ke rumah fisik, melainkan ruang rekonsiliasi. Tradisi saling memaafkan, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, semuanya adalah tindakan simbolik untuk memulihkan retakan relasi. Lagu McCartney pun mengandung nada rekonsiliatif: kembali ke tempat yang “menerima” tanpa syarat.

Di sini rumah bukan sekadar bangunan, tetapi pengalaman diterima. Kota mungkin memberi prestise; kampung memberi pengakuan eksistensial. Seperti McCartney yang menemukan kedamaian di Mull of Kintyre, para perantau menemukan ketenangan saat duduk di beranda rumah orang tua, mendengar azan Magrib dari masjid kecil yang sama sejak masa kanak-kanak.

Kesederhanaan sebagai Kritik atas Modernitas

Secara musikal, “Mull of Kintyre” sederhana: balada dengan iringan bagpipeSkotlandia yang khas. Tidak ada kompleksitas progresif seperti dalam karya-karya rock eksperimental era 1970-an. Kesederhanaan ini adalah pernyataan estetik sekaligus etis, sebuah kritik halus terhadap gemerlap industri musik.

Mudik pun, dalam paradoksnya, adalah kritik terhadap modernitas. Ia menunjukkan bahwa seberapa pun maju teknologi dan urbanisasi, manusia tetap merindukan kesederhanaan relasi primer: keluarga, tetangga, tanah kelahiran. Arus kendaraan yang mengular setiap Lebaran adalah metafora besar bahwa modernitas tidak menghapus kebutuhan akan akar.

Dalam kerangka hermeneutika, kesederhanaan ini bukan regresi, melainkan penegasan nilai. Pulang bukan berarti menolak kemajuan, tetapi mengingat sumber. Ia seperti mata air yang memastikan sungai tidak kehilangan kejernihannya.

Kabut sebagai Metafora Spiritualitas

Kabut yang “rolling in from the sea” dapat dibaca sebagai metafora ambiguitas hidup modern, segala sesuatu tampak samar, identitas cair, arah sering kabur. Namun justru dalam kabut itulah penyanyi menemukan keindahan. Kabut tidak menakutkan; ia menenangkan.

Dalam pengalaman mudik, perjalanan panjang sering diselimuti kelelahan dan ketidakpastian: macet, hujan, risiko kecelakaan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa ujung perjalanan adalah rumah. Kabut perjalanan menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

Lebaran, secara spiritual, adalah momentum kembali ke fitrah, ke keadaan asal yang bersih. Maka mudik bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol perjalanan batin dari keterasingan menuju kejernihan. Seperti kabut yang akhirnya menyingkapkan lanskap, Idulfitri menyingkapkan kembali wajah asli relasi kita.

Pulang sebagai Narasi Universal

Mengapa lagu yang sangat lokal tentang semenanjung Skotlandia bisa menjadi salah satu singel terlaris dalam sejarah Inggris? Karena ia menyentuh arketipe universal: kerinduan pada rumah. Mull of Kintyre hanyalah nama; maknanya adalah pulang.

Dalam budaya Indonesia, istilah “mudik” memiliki dimensi yang unik, ia bukan sekadar homecoming, tetapi peristiwa kolektif yang membentuk memori nasional. Jalan tol, pelabuhan, bandara menjadi ruang perjumpaan kelas sosial dan latar belakang yang beragam. Semua bergerak ke arah yang sama: rumah.

Hermeneutika mengajarkan bahwa teks hidup ketika ia dibaca ulang dalam konteks baru. Maka “Mull of Kintyre” hari ini dapat dibaca sebagai lagu mudik lintas budaya. Ia mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan mobilitas tanpa batas, manusia tetap makhluk yang merindukan akar.

Rumah sebagai Doa yang Diam

Pada akhirnya, “Mull of Kintyre” bukan sekadar balada pastoral, melainkan doa yang dinyanyikan perlahan. Ia adalah pengakuan bahwa ketenaran, kota, dan karier tidak pernah sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan tanah yang akrab.

Mudik Idulfitri menggemakan doa yang sama. Ia adalah perjalanan kembali ke sumber ke orang tua, ke tradisi, ke diri yang lebih jujur. Di kampung halaman, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa; kita cukup menjadi anak, saudara, tetangga.

Kabut mungkin bergulung dari laut Skotlandia, atau dari sawah Nusantara saat subuh Lebaran. Namun maknanya serupa: dalam keheningan alam dan pelukan rumah, manusia menemukan kembali dirinya.

Dan seperti bait sederhana yang terus terngiang “My desire is always to be here” kerinduan untuk pulang adalah bahasa paling purba dari kemanusiaan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratPaul McCartneyulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Next Post

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co