25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
in Ulas Musik
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ilustrasi dibuat dengan AI

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral sederhana: nyanyian cinta untuk semenanjung sunyi di Skotlandia, tempat McCartney menemukan keteduhan jauh dari sorot lampu panggung.

Namun dalam horizon hermeneutika di mana teks tidak sekadar dibaca, melainkan dipertemukan dengan pengalaman pembacanya, lagu ini melampaui geografis Skotlandia. Ia berbicara tentang “pulang” sebagai struktur eksistensial manusia.

Bagi kita di Indonesia, pengalaman itu menemukan resonansi kuat dalam tradisi mudik Idulfitri: arus besar manusia yang kembali ke kampung halaman, bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan makna. Di sinilah “Mull of Kintyre” dapat dibaca sebagai teks universal tentang kerinduan pulang, tentang rumah sebagai ruang rekonsiliasi antara diri dan asal-usulnya.

Teks sebagai Lanskap: Alam yang Menghadirkan Diri

Lirik seperti “mist rolling in from the sea” dan “sweep through the heather like deer in the glen” memunculkan citra kabut, padang heather, rusa di lembah, sebuah dunia yang bergerak perlahan. Alam bukan latar dekoratif, melainkan subjek yang aktif: kabut “datang”, padang “menyapu”, laut “bernapas”. Dalam pembacaan hermeneutika, lanskap ini adalah bahasa bagi pengalaman batin.

Semenanjung Mull of Kintyre sendiri adalah wilayah terpencil di Skotlandia barat, menghadap Samudra Atlantik. Di sana McCartney memiliki pertanian; di sana ia menanggalkan identitas “mantan personel The Beatles” dan menjadi manusia biasa yang bercakap dengan angin dan tanah. Lagu ini adalah bentuk re-appropriation of self: upaya mengambil kembali diri dari arus industri dan ketenaran.

Dalam konteks mudik, lanskap kampung sawah, langgar kecil, aroma tanah basah setelah hujan juga berfungsi sebagai bahasa eksistensial. Ia bukan nostalgia kosong, tetapi simbol pemulihan relasi. Kampung halaman adalah teks yang menyimpan memori kolektif: di sanalah nama kita pertama kali dipanggil, di sanalah doa pertama diajarkan.

Kerinduan sebagai Struktur Eksistensial

Baris “My desire is always to be here” menegaskan bahwa kerinduan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan orientasi batin yang menetap. Dalam hermeneutika eksistensial, kerinduan adalah tanda bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara “di sini” dan “di sana”. Ia hidup dalam keterlemparan (thrownness) sekaligus pencarian makna.

Mudik Idulfitri memuat struktur yang sama. Selama setahun, banyak orang hidup di kota besar, terlibat dalam ritme kerja, kompetisi, dan percepatan waktu. Namun menjelang Lebaran, muncul dorongan purba: pulang. Tiket habis, jalan macet, perjalanan melelahkan, namun kerinduan mengalahkan segalanya. Pulang menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar agenda sosial.

Dalam perspektif ini, “Mull of Kintyre” berbicara tentang homecoming sebagai gerak melingkar: manusia menjauh untuk bertumbuh, lalu kembali untuk mengakar. Mudik pun demikian, ia adalah siklus tahunan yang menegaskan bahwa modernitas tidak sepenuhnya mampu memutus tali asal-usul.

Rumah sebagai Ruang Rekonsiliasi

Hermeneutika selalu melibatkan fusion of horizons, peleburan cakrawala antara teks dan pembaca. Ketika kita membaca “Mull of Kintyre” dalam konteks Indonesia, cakrawala Skotlandia dan cakrawala Nusantara saling menyapa. Heather dan padang rumput boleh berbeda dari sawah dan kebun kelapa, tetapi struktur maknanya serupa: alam sebagai rahim identitas.

Pada hari raya Idulfitri, pulang bukan hanya kembali ke rumah fisik, melainkan ruang rekonsiliasi. Tradisi saling memaafkan, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, semuanya adalah tindakan simbolik untuk memulihkan retakan relasi. Lagu McCartney pun mengandung nada rekonsiliatif: kembali ke tempat yang “menerima” tanpa syarat.

Di sini rumah bukan sekadar bangunan, tetapi pengalaman diterima. Kota mungkin memberi prestise; kampung memberi pengakuan eksistensial. Seperti McCartney yang menemukan kedamaian di Mull of Kintyre, para perantau menemukan ketenangan saat duduk di beranda rumah orang tua, mendengar azan Magrib dari masjid kecil yang sama sejak masa kanak-kanak.

Kesederhanaan sebagai Kritik atas Modernitas

Secara musikal, “Mull of Kintyre” sederhana: balada dengan iringan bagpipeSkotlandia yang khas. Tidak ada kompleksitas progresif seperti dalam karya-karya rock eksperimental era 1970-an. Kesederhanaan ini adalah pernyataan estetik sekaligus etis, sebuah kritik halus terhadap gemerlap industri musik.

Mudik pun, dalam paradoksnya, adalah kritik terhadap modernitas. Ia menunjukkan bahwa seberapa pun maju teknologi dan urbanisasi, manusia tetap merindukan kesederhanaan relasi primer: keluarga, tetangga, tanah kelahiran. Arus kendaraan yang mengular setiap Lebaran adalah metafora besar bahwa modernitas tidak menghapus kebutuhan akan akar.

Dalam kerangka hermeneutika, kesederhanaan ini bukan regresi, melainkan penegasan nilai. Pulang bukan berarti menolak kemajuan, tetapi mengingat sumber. Ia seperti mata air yang memastikan sungai tidak kehilangan kejernihannya.

Kabut sebagai Metafora Spiritualitas

Kabut yang “rolling in from the sea” dapat dibaca sebagai metafora ambiguitas hidup modern, segala sesuatu tampak samar, identitas cair, arah sering kabur. Namun justru dalam kabut itulah penyanyi menemukan keindahan. Kabut tidak menakutkan; ia menenangkan.

Dalam pengalaman mudik, perjalanan panjang sering diselimuti kelelahan dan ketidakpastian: macet, hujan, risiko kecelakaan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa ujung perjalanan adalah rumah. Kabut perjalanan menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

Lebaran, secara spiritual, adalah momentum kembali ke fitrah, ke keadaan asal yang bersih. Maka mudik bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol perjalanan batin dari keterasingan menuju kejernihan. Seperti kabut yang akhirnya menyingkapkan lanskap, Idulfitri menyingkapkan kembali wajah asli relasi kita.

Pulang sebagai Narasi Universal

Mengapa lagu yang sangat lokal tentang semenanjung Skotlandia bisa menjadi salah satu singel terlaris dalam sejarah Inggris? Karena ia menyentuh arketipe universal: kerinduan pada rumah. Mull of Kintyre hanyalah nama; maknanya adalah pulang.

Dalam budaya Indonesia, istilah “mudik” memiliki dimensi yang unik, ia bukan sekadar homecoming, tetapi peristiwa kolektif yang membentuk memori nasional. Jalan tol, pelabuhan, bandara menjadi ruang perjumpaan kelas sosial dan latar belakang yang beragam. Semua bergerak ke arah yang sama: rumah.

Hermeneutika mengajarkan bahwa teks hidup ketika ia dibaca ulang dalam konteks baru. Maka “Mull of Kintyre” hari ini dapat dibaca sebagai lagu mudik lintas budaya. Ia mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan mobilitas tanpa batas, manusia tetap makhluk yang merindukan akar.

Rumah sebagai Doa yang Diam

Pada akhirnya, “Mull of Kintyre” bukan sekadar balada pastoral, melainkan doa yang dinyanyikan perlahan. Ia adalah pengakuan bahwa ketenaran, kota, dan karier tidak pernah sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan tanah yang akrab.

Mudik Idulfitri menggemakan doa yang sama. Ia adalah perjalanan kembali ke sumber ke orang tua, ke tradisi, ke diri yang lebih jujur. Di kampung halaman, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa; kita cukup menjadi anak, saudara, tetangga.

Kabut mungkin bergulung dari laut Skotlandia, atau dari sawah Nusantara saat subuh Lebaran. Namun maknanya serupa: dalam keheningan alam dan pelukan rumah, manusia menemukan kembali dirinya.

Dan seperti bait sederhana yang terus terngiang “My desire is always to be here” kerinduan untuk pulang adalah bahasa paling purba dari kemanusiaan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratPaul McCartneyulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Next Post

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co