14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
in Ulas Musik
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Ilustrasi dibuat dengan AI

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral sederhana: nyanyian cinta untuk semenanjung sunyi di Skotlandia, tempat McCartney menemukan keteduhan jauh dari sorot lampu panggung.

Namun dalam horizon hermeneutika di mana teks tidak sekadar dibaca, melainkan dipertemukan dengan pengalaman pembacanya, lagu ini melampaui geografis Skotlandia. Ia berbicara tentang “pulang” sebagai struktur eksistensial manusia.

Bagi kita di Indonesia, pengalaman itu menemukan resonansi kuat dalam tradisi mudik Idulfitri: arus besar manusia yang kembali ke kampung halaman, bukan semata perjalanan fisik, melainkan perjalanan makna. Di sinilah “Mull of Kintyre” dapat dibaca sebagai teks universal tentang kerinduan pulang, tentang rumah sebagai ruang rekonsiliasi antara diri dan asal-usulnya.

Teks sebagai Lanskap: Alam yang Menghadirkan Diri

Lirik seperti “mist rolling in from the sea” dan “sweep through the heather like deer in the glen” memunculkan citra kabut, padang heather, rusa di lembah, sebuah dunia yang bergerak perlahan. Alam bukan latar dekoratif, melainkan subjek yang aktif: kabut “datang”, padang “menyapu”, laut “bernapas”. Dalam pembacaan hermeneutika, lanskap ini adalah bahasa bagi pengalaman batin.

Semenanjung Mull of Kintyre sendiri adalah wilayah terpencil di Skotlandia barat, menghadap Samudra Atlantik. Di sana McCartney memiliki pertanian; di sana ia menanggalkan identitas “mantan personel The Beatles” dan menjadi manusia biasa yang bercakap dengan angin dan tanah. Lagu ini adalah bentuk re-appropriation of self: upaya mengambil kembali diri dari arus industri dan ketenaran.

Dalam konteks mudik, lanskap kampung sawah, langgar kecil, aroma tanah basah setelah hujan juga berfungsi sebagai bahasa eksistensial. Ia bukan nostalgia kosong, tetapi simbol pemulihan relasi. Kampung halaman adalah teks yang menyimpan memori kolektif: di sanalah nama kita pertama kali dipanggil, di sanalah doa pertama diajarkan.

Kerinduan sebagai Struktur Eksistensial

Baris “My desire is always to be here” menegaskan bahwa kerinduan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan orientasi batin yang menetap. Dalam hermeneutika eksistensial, kerinduan adalah tanda bahwa manusia selalu berada dalam ketegangan antara “di sini” dan “di sana”. Ia hidup dalam keterlemparan (thrownness) sekaligus pencarian makna.

Mudik Idulfitri memuat struktur yang sama. Selama setahun, banyak orang hidup di kota besar, terlibat dalam ritme kerja, kompetisi, dan percepatan waktu. Namun menjelang Lebaran, muncul dorongan purba: pulang. Tiket habis, jalan macet, perjalanan melelahkan, namun kerinduan mengalahkan segalanya. Pulang menjadi kebutuhan spiritual, bukan sekadar agenda sosial.

Dalam perspektif ini, “Mull of Kintyre” berbicara tentang homecoming sebagai gerak melingkar: manusia menjauh untuk bertumbuh, lalu kembali untuk mengakar. Mudik pun demikian, ia adalah siklus tahunan yang menegaskan bahwa modernitas tidak sepenuhnya mampu memutus tali asal-usul.

Rumah sebagai Ruang Rekonsiliasi

Hermeneutika selalu melibatkan fusion of horizons, peleburan cakrawala antara teks dan pembaca. Ketika kita membaca “Mull of Kintyre” dalam konteks Indonesia, cakrawala Skotlandia dan cakrawala Nusantara saling menyapa. Heather dan padang rumput boleh berbeda dari sawah dan kebun kelapa, tetapi struktur maknanya serupa: alam sebagai rahim identitas.

Pada hari raya Idulfitri, pulang bukan hanya kembali ke rumah fisik, melainkan ruang rekonsiliasi. Tradisi saling memaafkan, sungkem kepada orang tua, ziarah kubur, semuanya adalah tindakan simbolik untuk memulihkan retakan relasi. Lagu McCartney pun mengandung nada rekonsiliatif: kembali ke tempat yang “menerima” tanpa syarat.

Di sini rumah bukan sekadar bangunan, tetapi pengalaman diterima. Kota mungkin memberi prestise; kampung memberi pengakuan eksistensial. Seperti McCartney yang menemukan kedamaian di Mull of Kintyre, para perantau menemukan ketenangan saat duduk di beranda rumah orang tua, mendengar azan Magrib dari masjid kecil yang sama sejak masa kanak-kanak.

Kesederhanaan sebagai Kritik atas Modernitas

Secara musikal, “Mull of Kintyre” sederhana: balada dengan iringan bagpipeSkotlandia yang khas. Tidak ada kompleksitas progresif seperti dalam karya-karya rock eksperimental era 1970-an. Kesederhanaan ini adalah pernyataan estetik sekaligus etis, sebuah kritik halus terhadap gemerlap industri musik.

Mudik pun, dalam paradoksnya, adalah kritik terhadap modernitas. Ia menunjukkan bahwa seberapa pun maju teknologi dan urbanisasi, manusia tetap merindukan kesederhanaan relasi primer: keluarga, tetangga, tanah kelahiran. Arus kendaraan yang mengular setiap Lebaran adalah metafora besar bahwa modernitas tidak menghapus kebutuhan akan akar.

Dalam kerangka hermeneutika, kesederhanaan ini bukan regresi, melainkan penegasan nilai. Pulang bukan berarti menolak kemajuan, tetapi mengingat sumber. Ia seperti mata air yang memastikan sungai tidak kehilangan kejernihannya.

Kabut sebagai Metafora Spiritualitas

Kabut yang “rolling in from the sea” dapat dibaca sebagai metafora ambiguitas hidup modern, segala sesuatu tampak samar, identitas cair, arah sering kabur. Namun justru dalam kabut itulah penyanyi menemukan keindahan. Kabut tidak menakutkan; ia menenangkan.

Dalam pengalaman mudik, perjalanan panjang sering diselimuti kelelahan dan ketidakpastian: macet, hujan, risiko kecelakaan. Namun di balik semua itu, ada keyakinan bahwa ujung perjalanan adalah rumah. Kabut perjalanan menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

Lebaran, secara spiritual, adalah momentum kembali ke fitrah, ke keadaan asal yang bersih. Maka mudik bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol perjalanan batin dari keterasingan menuju kejernihan. Seperti kabut yang akhirnya menyingkapkan lanskap, Idulfitri menyingkapkan kembali wajah asli relasi kita.

Pulang sebagai Narasi Universal

Mengapa lagu yang sangat lokal tentang semenanjung Skotlandia bisa menjadi salah satu singel terlaris dalam sejarah Inggris? Karena ia menyentuh arketipe universal: kerinduan pada rumah. Mull of Kintyre hanyalah nama; maknanya adalah pulang.

Dalam budaya Indonesia, istilah “mudik” memiliki dimensi yang unik, ia bukan sekadar homecoming, tetapi peristiwa kolektif yang membentuk memori nasional. Jalan tol, pelabuhan, bandara menjadi ruang perjumpaan kelas sosial dan latar belakang yang beragam. Semua bergerak ke arah yang sama: rumah.

Hermeneutika mengajarkan bahwa teks hidup ketika ia dibaca ulang dalam konteks baru. Maka “Mull of Kintyre” hari ini dapat dibaca sebagai lagu mudik lintas budaya. Ia mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan mobilitas tanpa batas, manusia tetap makhluk yang merindukan akar.

Rumah sebagai Doa yang Diam

Pada akhirnya, “Mull of Kintyre” bukan sekadar balada pastoral, melainkan doa yang dinyanyikan perlahan. Ia adalah pengakuan bahwa ketenaran, kota, dan karier tidak pernah sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan tanah yang akrab.

Mudik Idulfitri menggemakan doa yang sama. Ia adalah perjalanan kembali ke sumber ke orang tua, ke tradisi, ke diri yang lebih jujur. Di kampung halaman, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa; kita cukup menjadi anak, saudara, tetangga.

Kabut mungkin bergulung dari laut Skotlandia, atau dari sawah Nusantara saat subuh Lebaran. Namun maknanya serupa: dalam keheningan alam dan pelukan rumah, manusia menemukan kembali dirinya.

Dan seperti bait sederhana yang terus terngiang “My desire is always to be here” kerinduan untuk pulang adalah bahasa paling purba dari kemanusiaan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: lagumusikmusik baratPaul McCartneyulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Next Post

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails
Next Post
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co