12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 17, 2026
in Ulas Rupa
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud,

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang semakin terasa di wilayah Ubud–Tampaksiring dalam perkembangan ogoh-ogoh Bali beberapa tahun terakhir. Di kawasan ini, ogoh-ogoh tampak berkembang dengan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kecenderungan yang muncul di Denpasar dan mulai merambah ke Badung.

Jika Denpasar dalam satu dekade terakhir dikenal sebagai ruang eksperimen ogoh-ogoh berbasis teknologi mekanik dan spektakel visual dengan sistem hidrolik, gerakan otomatis, efek cahaya, hingga mekanisme transformasi figur, maka wilayah Ubud–Tampaksiring justru memperlihatkan kecenderungan lain. Di sini, perhatian lebih banyak diarahkan pada bahasa patung itu sendiri: anatomi, tekstur, komposisi, detail kriya, dan kekuatan imajinasi visual.

Teknologi tidak sepenuhnya absen, tetapi ia bukan pusat gagasan. Yang menjadi pusat adalah kekuatan bentuk. “Tugu Mayang” adalah salah satu karya yang secara sangat jelas menunjukkan arah ini.

Sosok dari Dunia Maya

Ketika pertama kali berhadapan dengan karya ini, kesan yang muncul bukanlah sekadar figur bhuta yang agresif sebagaimana lazimnya ogoh-ogoh. Yang terlihat justru sebuah struktur tubuh manusia yang saling bertumpuk dan menopang, membentuk komposisi yang hampir menyerupai monumen hidup.

Figur utama berada dalam posisi membungkuk dengan lutut menekuk tajam, seperti sedang menahan beban besar. Otot-otot paha menegang, betis mengeras, dan punggung melengkung kuat. Di tangannya ia menggenggam kepala figur lain yang lebih kecil. Figur kedua ini kembali menopang figur ketiga yang bertumpuk di atasnya.

Tubuh-tubuh ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling menekan, saling menahan, dan saling menopang, membentuk komposisi yang sangat dinamis sekaligus penuh ketegangan.

Yang paling menarik adalah pusat komposisi yang berada pada pertemuan kepala-kepala figur. Wajah figur besar menunduk dengan mulut terbuka memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi. Kulit wajahnya penuh keriput dengan lipatan yang dalam. Mata setengah tertutup seolah melihat dunia yang kabur. Di tangannya ia memegang kepala figur kecil yang juga memperlihatkan ekspresi penderitaan.

Rantai ekspresi ini menciptakan semacam aliran emosi bertingkat, dari wajah kecil yang tercekik hingga wajah besar yang tampak seperti menelan penderitaan itu sendiri.

Wajah-wajah ini bukan hanya menyeramkan. Mereka tampak lelah, tua, dan hampir putus asa. Ini memberi kesan bahwa figur-figur tersebut bukan sekadar makhluk buas, melainkan makhluk yang memikul beban eksistensi.

Anatomi sebagai Bahasa Emosi

Jika diperhatikan dengan teliti, anatomi tubuh patung ini menunjukkan pemahaman yang sangat baik tentang tubuh manusia. Otot-otot paha terlihat jelas, terutama tonjolan vastus medialis di dekat lutut. Tendon pada lutut tampak tertarik kuat, sementara otot betis membentuk tonjolan yang tegang.

Namun anatomi ini tidak digunakan untuk menciptakan realisme netral. Sebaliknya, ia dimanfaatkan untuk mengekspresikan tekanan dan ketegangan. Tubuh-tubuh itu terasa seperti struktur arsitektur hidup. Tulang dan otot menjadi elemen yang menopang keseluruhan komposisi.

Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme dalam seni patung, di mana tubuh manusia sering digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan kondisi batin.

Lapisan warna pada kulit figur dibuat dengan teknik yang sangat cermat. Warna dasar kehijauan dilapisi nuansa abu-abu tanah dan semburat kuning pucat. Bayangan halus memberi kesan kedalaman pada permukaan kulit.

Teknik ini menghasilkan efek yang mengingatkan pada patina perunggu tua, meskipun bahan utamanya bukan logam. Kulit tampak hidup, dengan detail pori, keriput, dan lipatan yang sangat nyata. Detail pada gigi dan mulut bahkan mendekati kualitas patung hiperrealistik. Gigi tidak disusun simetris, enamel tampak kusam, gusi sedikit memerah, dan lidah terlihat lembap. Semua ini memberi kesan bahwa patung tersebut hampir memiliki tubuh biologis.

Salah satu figur memiliki rambut panjang yang dibuat dari bahan alami. Serat-serat rambut ini kasar dan menggantung hingga hampir menyentuh bagian bawah komposisi.

Rambut ini tidak hanya memperkaya tekstur visual, tetapi juga menciptakan kontras kuat dengan permukaan kulit yang halus.
Selain itu, garis vertikal rambut juga berfungsi sebagai elemen komposisi yang menyeimbangkan struktur tubuh yang sangat dinamis di bagian atas.

Detail lain yang sangat menarik adalah penggunaan uang kepeng yang dironce pada berbagai bagian tubuh. Kepeng terlihat di pinggang, pergelangan tangan, lengan atas, pergelangan kaki, juga di bagian kepala. Dalam budaya Bali, kepeng bukan hanya alat tukar tradisional. Ia juga memiliki makna simbolik dalam berbagai upacara keagamaan. Dengan menempatkan kepeng di seluruh tubuh figur, pembuatnya seolah menciptakan tubuh kosmis yang dilingkari energi ritual. Figur ini menjadi semacam makhluk yang berada di antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Cincin logam terlihat pada beberapa jari tangan, bahkan pada jari kaki. Penempatan ini terasa tidak lazim, tetapi justru memberikan karakter unik pada figur tersebut. Ia tampak seperti makhluk purba yang sekaligus memiliki sentuhan gaya kontemporer. Sabuk logam di bagian pinggang bahkan memiliki ornamen kepala kuda di bagian belakang, yang menambah kesan eksentrik sekaligus simbolik.

Pedestal Realistis

Jika figur-figur di atasnya terasa surealis, pedestal yang menopangnya justru sangat realistis. Ia dibuat menyerupai struktur batu padas tua yang dipenuhi: ukiran, patung buthakala, lumut, dan rumput liar. Gambaran ini sangat akrab di Bali, karena banyak tugu atau patung penjaga di catus patha memang tampak seperti ini. Pedestal tersebut terasa seperti potongan nyata dari ruang Bali. Masyarakat Bali menyebutnya bataran.

Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini tampak jelas. Pedestal atau bataran-nya sangat realistis, seolah-olah benar-benar berasal dari ruang fisik Bali. Tetapi figur-figur yang berdiri di atasnya begitu surealis dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata.

Karya ini seperti mempertemukan dua lapisan realitas sekaligus: sekala (dunia nyata yang dapat dilihat dan disentuh) dan niskala (dunia tak kasat mata yang dipercaya hadir dalam kosmologi Bali)

Dengan cara ini, penonton seperti diajak membayangkan bahwa di perempatan jalan yang kita lewati setiap hari, sebenarnya terdapat makhluk-makhluk maya yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Para Maestro Bali Hadir Kembali

Secara estetika, karya ini mengingatkan pada beberapa garis penting dalam sejarah patung Bali. Salah satunya adalah karya Ida Bagus Tilem dari Desa Mas, yang dikenal dengan patung-patung ekspresifnya yang menggambarkan wajah manusia penuh emosi. Tilem sering menampilkan figur dengan ekspresi penderitaan yang kuat dan bentuk tubuh yang terdistorsi.

“Tugu Mayang” terasa memiliki kedekatan dengan semangat ekspresionisme Tilem, terutama dalam penggambaran wajah yang penuh tekanan batin.

Di sisi lain, komposisi tubuh yang berpilin dan saling menekan mengingatkan pada karya Ida Bagus Nyana, yang sering menghadirkan gerak spiral dalam patungnya. Sementara tekstur yang liar dan organik mengingatkan pada tradisi patung Tjokot, yang terkenal dengan bentuk-bentuk makhluk yang tampak seolah lahir langsung dari kayu.

“Tugu Mayang” menunjukkan bahwa ogoh-ogoh kini bukan hanya medium ritual atau festival, tetapi juga ruang eksperimen seni patung.

Di tangan generasi pematung muda Bali, ogoh-ogoh menjadi laboratorium tempat berbagai gagasan estetika bertemu: tradisi kriya, ekspresionisme, simbolisme kosmologis, dan bahkan pengaruh seni patung dunia. Karya ini memperlihatkan bagaimana bahasa patung Bali terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

“Tugu Mayang” memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang sebagai medium seni rupa yang serius. Di tengah kecenderungan spektakel teknologi yang berkembang di beberapa daerah, karya ini menunjukkan bahwa kekuatan patung itu sendiri –melalui detail, imajinasi, dan simbol– tetap mampu menciptakan pengalaman estetika yang mendalam. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat Masogoh-ogohUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Next Post

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh  dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co