21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 17, 2026
in Ulas Rupa
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud,

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang semakin terasa di wilayah Ubud–Tampaksiring dalam perkembangan ogoh-ogoh Bali beberapa tahun terakhir. Di kawasan ini, ogoh-ogoh tampak berkembang dengan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kecenderungan yang muncul di Denpasar dan mulai merambah ke Badung.

Jika Denpasar dalam satu dekade terakhir dikenal sebagai ruang eksperimen ogoh-ogoh berbasis teknologi mekanik dan spektakel visual dengan sistem hidrolik, gerakan otomatis, efek cahaya, hingga mekanisme transformasi figur, maka wilayah Ubud–Tampaksiring justru memperlihatkan kecenderungan lain. Di sini, perhatian lebih banyak diarahkan pada bahasa patung itu sendiri: anatomi, tekstur, komposisi, detail kriya, dan kekuatan imajinasi visual.

Teknologi tidak sepenuhnya absen, tetapi ia bukan pusat gagasan. Yang menjadi pusat adalah kekuatan bentuk. “Tugu Mayang” adalah salah satu karya yang secara sangat jelas menunjukkan arah ini.

Sosok dari Dunia Maya

Ketika pertama kali berhadapan dengan karya ini, kesan yang muncul bukanlah sekadar figur bhuta yang agresif sebagaimana lazimnya ogoh-ogoh. Yang terlihat justru sebuah struktur tubuh manusia yang saling bertumpuk dan menopang, membentuk komposisi yang hampir menyerupai monumen hidup.

Figur utama berada dalam posisi membungkuk dengan lutut menekuk tajam, seperti sedang menahan beban besar. Otot-otot paha menegang, betis mengeras, dan punggung melengkung kuat. Di tangannya ia menggenggam kepala figur lain yang lebih kecil. Figur kedua ini kembali menopang figur ketiga yang bertumpuk di atasnya.

Tubuh-tubuh ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling menekan, saling menahan, dan saling menopang, membentuk komposisi yang sangat dinamis sekaligus penuh ketegangan.

Yang paling menarik adalah pusat komposisi yang berada pada pertemuan kepala-kepala figur. Wajah figur besar menunduk dengan mulut terbuka memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi. Kulit wajahnya penuh keriput dengan lipatan yang dalam. Mata setengah tertutup seolah melihat dunia yang kabur. Di tangannya ia memegang kepala figur kecil yang juga memperlihatkan ekspresi penderitaan.

Rantai ekspresi ini menciptakan semacam aliran emosi bertingkat, dari wajah kecil yang tercekik hingga wajah besar yang tampak seperti menelan penderitaan itu sendiri.

Wajah-wajah ini bukan hanya menyeramkan. Mereka tampak lelah, tua, dan hampir putus asa. Ini memberi kesan bahwa figur-figur tersebut bukan sekadar makhluk buas, melainkan makhluk yang memikul beban eksistensi.

Anatomi sebagai Bahasa Emosi

Jika diperhatikan dengan teliti, anatomi tubuh patung ini menunjukkan pemahaman yang sangat baik tentang tubuh manusia. Otot-otot paha terlihat jelas, terutama tonjolan vastus medialis di dekat lutut. Tendon pada lutut tampak tertarik kuat, sementara otot betis membentuk tonjolan yang tegang.

Namun anatomi ini tidak digunakan untuk menciptakan realisme netral. Sebaliknya, ia dimanfaatkan untuk mengekspresikan tekanan dan ketegangan. Tubuh-tubuh itu terasa seperti struktur arsitektur hidup. Tulang dan otot menjadi elemen yang menopang keseluruhan komposisi.

Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme dalam seni patung, di mana tubuh manusia sering digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan kondisi batin.

Lapisan warna pada kulit figur dibuat dengan teknik yang sangat cermat. Warna dasar kehijauan dilapisi nuansa abu-abu tanah dan semburat kuning pucat. Bayangan halus memberi kesan kedalaman pada permukaan kulit.

Teknik ini menghasilkan efek yang mengingatkan pada patina perunggu tua, meskipun bahan utamanya bukan logam. Kulit tampak hidup, dengan detail pori, keriput, dan lipatan yang sangat nyata. Detail pada gigi dan mulut bahkan mendekati kualitas patung hiperrealistik. Gigi tidak disusun simetris, enamel tampak kusam, gusi sedikit memerah, dan lidah terlihat lembap. Semua ini memberi kesan bahwa patung tersebut hampir memiliki tubuh biologis.

Salah satu figur memiliki rambut panjang yang dibuat dari bahan alami. Serat-serat rambut ini kasar dan menggantung hingga hampir menyentuh bagian bawah komposisi.

Rambut ini tidak hanya memperkaya tekstur visual, tetapi juga menciptakan kontras kuat dengan permukaan kulit yang halus.
Selain itu, garis vertikal rambut juga berfungsi sebagai elemen komposisi yang menyeimbangkan struktur tubuh yang sangat dinamis di bagian atas.

Detail lain yang sangat menarik adalah penggunaan uang kepeng yang dironce pada berbagai bagian tubuh. Kepeng terlihat di pinggang, pergelangan tangan, lengan atas, pergelangan kaki, juga di bagian kepala. Dalam budaya Bali, kepeng bukan hanya alat tukar tradisional. Ia juga memiliki makna simbolik dalam berbagai upacara keagamaan. Dengan menempatkan kepeng di seluruh tubuh figur, pembuatnya seolah menciptakan tubuh kosmis yang dilingkari energi ritual. Figur ini menjadi semacam makhluk yang berada di antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Cincin logam terlihat pada beberapa jari tangan, bahkan pada jari kaki. Penempatan ini terasa tidak lazim, tetapi justru memberikan karakter unik pada figur tersebut. Ia tampak seperti makhluk purba yang sekaligus memiliki sentuhan gaya kontemporer. Sabuk logam di bagian pinggang bahkan memiliki ornamen kepala kuda di bagian belakang, yang menambah kesan eksentrik sekaligus simbolik.

Pedestal Realistis

Jika figur-figur di atasnya terasa surealis, pedestal yang menopangnya justru sangat realistis. Ia dibuat menyerupai struktur batu padas tua yang dipenuhi: ukiran, patung buthakala, lumut, dan rumput liar. Gambaran ini sangat akrab di Bali, karena banyak tugu atau patung penjaga di catus patha memang tampak seperti ini. Pedestal tersebut terasa seperti potongan nyata dari ruang Bali. Masyarakat Bali menyebutnya bataran.

Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini tampak jelas. Pedestal atau bataran-nya sangat realistis, seolah-olah benar-benar berasal dari ruang fisik Bali. Tetapi figur-figur yang berdiri di atasnya begitu surealis dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata.

Karya ini seperti mempertemukan dua lapisan realitas sekaligus: sekala (dunia nyata yang dapat dilihat dan disentuh) dan niskala (dunia tak kasat mata yang dipercaya hadir dalam kosmologi Bali)

Dengan cara ini, penonton seperti diajak membayangkan bahwa di perempatan jalan yang kita lewati setiap hari, sebenarnya terdapat makhluk-makhluk maya yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Para Maestro Bali Hadir Kembali

Secara estetika, karya ini mengingatkan pada beberapa garis penting dalam sejarah patung Bali. Salah satunya adalah karya Ida Bagus Tilem dari Desa Mas, yang dikenal dengan patung-patung ekspresifnya yang menggambarkan wajah manusia penuh emosi. Tilem sering menampilkan figur dengan ekspresi penderitaan yang kuat dan bentuk tubuh yang terdistorsi.

“Tugu Mayang” terasa memiliki kedekatan dengan semangat ekspresionisme Tilem, terutama dalam penggambaran wajah yang penuh tekanan batin.

Di sisi lain, komposisi tubuh yang berpilin dan saling menekan mengingatkan pada karya Ida Bagus Nyana, yang sering menghadirkan gerak spiral dalam patungnya. Sementara tekstur yang liar dan organik mengingatkan pada tradisi patung Tjokot, yang terkenal dengan bentuk-bentuk makhluk yang tampak seolah lahir langsung dari kayu.

“Tugu Mayang” menunjukkan bahwa ogoh-ogoh kini bukan hanya medium ritual atau festival, tetapi juga ruang eksperimen seni patung.

Di tangan generasi pematung muda Bali, ogoh-ogoh menjadi laboratorium tempat berbagai gagasan estetika bertemu: tradisi kriya, ekspresionisme, simbolisme kosmologis, dan bahkan pengaruh seni patung dunia. Karya ini memperlihatkan bagaimana bahasa patung Bali terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

“Tugu Mayang” memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang sebagai medium seni rupa yang serius. Di tengah kecenderungan spektakel teknologi yang berkembang di beberapa daerah, karya ini menunjukkan bahwa kekuatan patung itu sendiri –melalui detail, imajinasi, dan simbol– tetap mampu menciptakan pengalaman estetika yang mendalam. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat Masogoh-ogohUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Next Post

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails
Next Post
Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh  dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co