1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 17, 2026
in Ulas Rupa
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud,

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang semakin terasa di wilayah Ubud–Tampaksiring dalam perkembangan ogoh-ogoh Bali beberapa tahun terakhir. Di kawasan ini, ogoh-ogoh tampak berkembang dengan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kecenderungan yang muncul di Denpasar dan mulai merambah ke Badung.

Jika Denpasar dalam satu dekade terakhir dikenal sebagai ruang eksperimen ogoh-ogoh berbasis teknologi mekanik dan spektakel visual dengan sistem hidrolik, gerakan otomatis, efek cahaya, hingga mekanisme transformasi figur, maka wilayah Ubud–Tampaksiring justru memperlihatkan kecenderungan lain. Di sini, perhatian lebih banyak diarahkan pada bahasa patung itu sendiri: anatomi, tekstur, komposisi, detail kriya, dan kekuatan imajinasi visual.

Teknologi tidak sepenuhnya absen, tetapi ia bukan pusat gagasan. Yang menjadi pusat adalah kekuatan bentuk. “Tugu Mayang” adalah salah satu karya yang secara sangat jelas menunjukkan arah ini.

Sosok dari Dunia Maya

Ketika pertama kali berhadapan dengan karya ini, kesan yang muncul bukanlah sekadar figur bhuta yang agresif sebagaimana lazimnya ogoh-ogoh. Yang terlihat justru sebuah struktur tubuh manusia yang saling bertumpuk dan menopang, membentuk komposisi yang hampir menyerupai monumen hidup.

Figur utama berada dalam posisi membungkuk dengan lutut menekuk tajam, seperti sedang menahan beban besar. Otot-otot paha menegang, betis mengeras, dan punggung melengkung kuat. Di tangannya ia menggenggam kepala figur lain yang lebih kecil. Figur kedua ini kembali menopang figur ketiga yang bertumpuk di atasnya.

Tubuh-tubuh ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling menekan, saling menahan, dan saling menopang, membentuk komposisi yang sangat dinamis sekaligus penuh ketegangan.

Yang paling menarik adalah pusat komposisi yang berada pada pertemuan kepala-kepala figur. Wajah figur besar menunduk dengan mulut terbuka memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi. Kulit wajahnya penuh keriput dengan lipatan yang dalam. Mata setengah tertutup seolah melihat dunia yang kabur. Di tangannya ia memegang kepala figur kecil yang juga memperlihatkan ekspresi penderitaan.

Rantai ekspresi ini menciptakan semacam aliran emosi bertingkat, dari wajah kecil yang tercekik hingga wajah besar yang tampak seperti menelan penderitaan itu sendiri.

Wajah-wajah ini bukan hanya menyeramkan. Mereka tampak lelah, tua, dan hampir putus asa. Ini memberi kesan bahwa figur-figur tersebut bukan sekadar makhluk buas, melainkan makhluk yang memikul beban eksistensi.

Anatomi sebagai Bahasa Emosi

Jika diperhatikan dengan teliti, anatomi tubuh patung ini menunjukkan pemahaman yang sangat baik tentang tubuh manusia. Otot-otot paha terlihat jelas, terutama tonjolan vastus medialis di dekat lutut. Tendon pada lutut tampak tertarik kuat, sementara otot betis membentuk tonjolan yang tegang.

Namun anatomi ini tidak digunakan untuk menciptakan realisme netral. Sebaliknya, ia dimanfaatkan untuk mengekspresikan tekanan dan ketegangan. Tubuh-tubuh itu terasa seperti struktur arsitektur hidup. Tulang dan otot menjadi elemen yang menopang keseluruhan komposisi.

Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme dalam seni patung, di mana tubuh manusia sering digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan kondisi batin.

Lapisan warna pada kulit figur dibuat dengan teknik yang sangat cermat. Warna dasar kehijauan dilapisi nuansa abu-abu tanah dan semburat kuning pucat. Bayangan halus memberi kesan kedalaman pada permukaan kulit.

Teknik ini menghasilkan efek yang mengingatkan pada patina perunggu tua, meskipun bahan utamanya bukan logam. Kulit tampak hidup, dengan detail pori, keriput, dan lipatan yang sangat nyata. Detail pada gigi dan mulut bahkan mendekati kualitas patung hiperrealistik. Gigi tidak disusun simetris, enamel tampak kusam, gusi sedikit memerah, dan lidah terlihat lembap. Semua ini memberi kesan bahwa patung tersebut hampir memiliki tubuh biologis.

Salah satu figur memiliki rambut panjang yang dibuat dari bahan alami. Serat-serat rambut ini kasar dan menggantung hingga hampir menyentuh bagian bawah komposisi.

Rambut ini tidak hanya memperkaya tekstur visual, tetapi juga menciptakan kontras kuat dengan permukaan kulit yang halus.
Selain itu, garis vertikal rambut juga berfungsi sebagai elemen komposisi yang menyeimbangkan struktur tubuh yang sangat dinamis di bagian atas.

Detail lain yang sangat menarik adalah penggunaan uang kepeng yang dironce pada berbagai bagian tubuh. Kepeng terlihat di pinggang, pergelangan tangan, lengan atas, pergelangan kaki, juga di bagian kepala. Dalam budaya Bali, kepeng bukan hanya alat tukar tradisional. Ia juga memiliki makna simbolik dalam berbagai upacara keagamaan. Dengan menempatkan kepeng di seluruh tubuh figur, pembuatnya seolah menciptakan tubuh kosmis yang dilingkari energi ritual. Figur ini menjadi semacam makhluk yang berada di antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Cincin logam terlihat pada beberapa jari tangan, bahkan pada jari kaki. Penempatan ini terasa tidak lazim, tetapi justru memberikan karakter unik pada figur tersebut. Ia tampak seperti makhluk purba yang sekaligus memiliki sentuhan gaya kontemporer. Sabuk logam di bagian pinggang bahkan memiliki ornamen kepala kuda di bagian belakang, yang menambah kesan eksentrik sekaligus simbolik.

Pedestal Realistis

Jika figur-figur di atasnya terasa surealis, pedestal yang menopangnya justru sangat realistis. Ia dibuat menyerupai struktur batu padas tua yang dipenuhi: ukiran, patung buthakala, lumut, dan rumput liar. Gambaran ini sangat akrab di Bali, karena banyak tugu atau patung penjaga di catus patha memang tampak seperti ini. Pedestal tersebut terasa seperti potongan nyata dari ruang Bali. Masyarakat Bali menyebutnya bataran.

Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini tampak jelas. Pedestal atau bataran-nya sangat realistis, seolah-olah benar-benar berasal dari ruang fisik Bali. Tetapi figur-figur yang berdiri di atasnya begitu surealis dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata.

Karya ini seperti mempertemukan dua lapisan realitas sekaligus: sekala (dunia nyata yang dapat dilihat dan disentuh) dan niskala (dunia tak kasat mata yang dipercaya hadir dalam kosmologi Bali)

Dengan cara ini, penonton seperti diajak membayangkan bahwa di perempatan jalan yang kita lewati setiap hari, sebenarnya terdapat makhluk-makhluk maya yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Para Maestro Bali Hadir Kembali

Secara estetika, karya ini mengingatkan pada beberapa garis penting dalam sejarah patung Bali. Salah satunya adalah karya Ida Bagus Tilem dari Desa Mas, yang dikenal dengan patung-patung ekspresifnya yang menggambarkan wajah manusia penuh emosi. Tilem sering menampilkan figur dengan ekspresi penderitaan yang kuat dan bentuk tubuh yang terdistorsi.

“Tugu Mayang” terasa memiliki kedekatan dengan semangat ekspresionisme Tilem, terutama dalam penggambaran wajah yang penuh tekanan batin.

Di sisi lain, komposisi tubuh yang berpilin dan saling menekan mengingatkan pada karya Ida Bagus Nyana, yang sering menghadirkan gerak spiral dalam patungnya. Sementara tekstur yang liar dan organik mengingatkan pada tradisi patung Tjokot, yang terkenal dengan bentuk-bentuk makhluk yang tampak seolah lahir langsung dari kayu.

“Tugu Mayang” menunjukkan bahwa ogoh-ogoh kini bukan hanya medium ritual atau festival, tetapi juga ruang eksperimen seni patung.

Di tangan generasi pematung muda Bali, ogoh-ogoh menjadi laboratorium tempat berbagai gagasan estetika bertemu: tradisi kriya, ekspresionisme, simbolisme kosmologis, dan bahkan pengaruh seni patung dunia. Karya ini memperlihatkan bagaimana bahasa patung Bali terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

“Tugu Mayang” memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang sebagai medium seni rupa yang serius. Di tengah kecenderungan spektakel teknologi yang berkembang di beberapa daerah, karya ini menunjukkan bahwa kekuatan patung itu sendiri –melalui detail, imajinasi, dan simbol– tetap mampu menciptakan pengalaman estetika yang mendalam. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat Masogoh-ogohUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Next Post

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails
Next Post
Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh  dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co