31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Ida Ayu Made Dwi Antari by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
in Ulas Musik
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Janardana

Citta-Vrittis dan Fenomena ‘Sending’

Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending (kegalauan) yang melanda Gen Z Bali saat ini adalah bentuk modern dari gejolak tersebut.

Sebagai Narasumber Kesehatan Mental, saya melihat bahwa tanpa ruang pelepasan, Citta-Vrittis akan menjadi beban mental yang berat. Di sinilah seni memiliki peran vital sebagai media Katarsis atau pembersihan emosi.

Sumber Sastra : Konsep ‘Langu’ dan Janardana

Janardana, melalui single ‘Tresna Ngatos Mati’, membawa kita kembali pada konsep Langu—sebuah pencapaian estetika dalam Sastra Bali di mana rasa kesedihan diolah menjadi keindahan yang menyentuh sukma.

Secara teknis, lirik lagu pop berbahasa Bali yang diperkenalkan Janardana ini adalah manifestasi Geguritan Modern. Jika leluhur kita menggunakan Pupuh Maskumambang untuk menyuarakan lara, Janardana menggunakan frekuensi musik pop-akustik untuk menjangkau jiwa pendengar di era digital.

Teologi Cinta dalam Lontar Smaradahana dan Realitas ‘Tresna Ngatos Mati’

Melalui wawancara mendalam yang saya lakukan bersama Janardana, terungkap bahwa estetika Langu dalam karya ini tidak lahir dari imajinasi tekstual belaka, melainkan sebuah monumen dari kisah nyata hubungan romansa pribadinya terdahulu. Janar mengungkapkan bahwa pemilihan judul ‘Tresna Ngatos Mati’ menjadi penanda betapa sakralnya komitmen rasa berbahasa Bali yang ingin ia abadikan. Namun, kedalaman rasa di balik lagu ini menyimpan cerita getir: proses produksi video klipnya sempat tertunda lama akibat hubungan asmara tersebut telanjur selesai di dunia nyata.

Secara filosofis, fenomena runtuhnya hubungan fisik namun abadi dalam bentuk karya ini sangat selaras dengan teologi cinta dalam Lontar Smaradhana. Dalam teks tersebut, ketika wujud fisik Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih hangus terbakar menjadi abu, roh cinta (Smara) mereka tidak ikut mati, melainkan melebur dan menyusup ke dalam jiwa kosmos manusia.

Begitu pula dengan yang terjadi pada proses kreatif Janar; ketika jalinan romansa fisiknya harus selesai di dunia nyata, esensi cinta tersebut tidak lenyap. Ia bertransformasi, melebur ke dalam bait lirik dan petikan gitar, lalu menyusup ke dalam hati setiap pendengarnya. Musik ini menjadi ruang katarsis tempat sang musisi mengawetkan memori sekaligus merayakan keabadian rasa.

Sumber Kesehatan Mental : Validasi dan ‘Self Healing’

Secara klinis, mendengarkan musik yang selaras dengan suasana hati adalah teknik Self Healing. Ini bukan sekadar ‘galau’, melainkan upaya batin mencari validasi. Berdasarkan penuturan Janar mengenai makna lagunya, karya ini justru berfokus pada kebahagiaan seseorang ketika sang kekasih telah kembali dan akhirnya bisa bersatu.

Pilihan narasi ini menawarkan resolusi emosional yang sehat bagi pendengarnya; memberikan ruang untuk mengakui kerentanan tanpa harus kehilangan harapan akan sebuah akhir yang membahagiakan. Inilah yang saya sebut sebagai Sastra Husada Modern; di mana aksara menjelma menjadi melodi yang didengarkan untuk menyembuhkan luka mental.

Sastra Tan Pawates: Resiliensi Jiwa dan Kemanunggalan Seni

Langkah Janardana mempertegas posisi Sastra Tan Pawates (Sastra Tanpa Batas) dikarenakan lagu ‘Tresna Ngatos Mati’ tersedia di Spotify. Berdasarkan rekam jejak yang digali dalam wawancara, resiliensi jiwanya terbentuk karena ia telah merintis karier musik dari nol sejak bangku Sekolah Dasar (SD) tanpa modal dukungan awal dari orang tua, bergerak murni berbasis hobi dan konsistensi.

Ketika orang lain mempertanyakan mengapa ia tidak melanjutkan ke sekolah musik formal, Janar menegaskan pilihannya sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Bali  karena sebuah kesadaran estetis : bahwa Bahasa Bali dan seni musik hampir menyatu, karena keduanya sama-sama seni. Keseimbangan menjadi mahasiswa dan musisi aktif ini kini didukung oleh ekosistem kampus dan para dosen yang memahami potensinya, membuktikan bahwa jalur akademik dan industri kreatif dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.

Meruwat Rasa lewat Karya

Pada akhirnya, kolaborasi antara nada Janardana, filosofi Lontar Smaradhana, dan kedalaman Sastra Bali adalah sebuah perlawanan terhadap kedangkalan rasa. Kita belajar bahwa kesehatan mental bukan berarti menghilangkan kesedihan, melainkan meruwat kesedihan tersebut menjadi sesuatu yang bermartabat.

Lewat wawancara dan bedah karya ‘Tresna Ngatos Mati’ ini, Janardana mengingatkan kita bahwa di dalam setiap luka, selalu ada ruang untuk sastra, orisinalitas rekam jejak, dan penyembuhan. [T]

Penulis: Ida Ayu Made Dwi Antari
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan mentallaguLagu Pop Balimusikmusik pop baliulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Next Post

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

Ida Ayu Made Dwi Antari

Ida Ayu Made Dwi Antari

Lahir dan menetap di Bali. Seorang penyuka musik dan sastra. Mengawali jejak kepenyairannya lewat Antologi Puisi pada 2021, ia juga pernah menjadi Narasumber Kesehatan Mental. Baginya, kata adalah nada yang tak bersuara. Sapa ia di Instagram @i.a_ant.

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co