Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam ingatan kita, seperti api unggun kecil yang terus menyala di malam panjang. “Fernando” dari ABBA, salah satunya.
“Fernando” adalah lagu yang tidak cuma enak didengar, tetapi juga dirasakan. Ia lebih dari sekadar balada pop. Lagu ini seperti sebuah lukisan suara yang melankolis, kisah yang hidup kembali setiap kali notanya diperdengarkan. Dirilis pada tahun 1976, “Fernando” seolah melayang melampaui zamannya, membawa pendengarnya masuk ke sebuah ruang hening untuk bernostalgia, bukan hanya pada kenangan pribadi, tetapi juga pada sejarah, pada perjuangan, dan pada harga dari sebuah kebebasan.
Di tengah hiruk-pikuk diskotek yang sering diasosiasikan dengan ABBA, “Fernando” hadir sebagai oase yang tenang dan atmosferik. Lagu ini tidak mengajak kita berdansa, melainkan merenung. Iramanya dimulai dengan hentakan drum yang pelan, seperti barisan tentara yang berarak dari kejauhan. Suara siulan synthesizer terdengar seperti nyanyian sendu di ujung senja, sementara petikan gitar akustik yang lembut membawa kita duduk di sekeliling api unggun, menyaksikan dua bayangan tua yang tenggelam dalam lautan kenangan di padang rumput Meksiko yang sunyi.
“Ini adalah cerita kecil tentang dua pejuang tua yang penuh bekas luka,” begitu ungkap Bjorn Ulvaeus, penulis lagu ini. Mereka adalah dua veteran Revolusi Meksiko 1910 yang saling berbagi kenangan tentang ketakutan, cinta yang hilang, dan pengorbanan masa muda untuk sebuah idealisme bernama kemerdekaan.
Kisah ini datang dari sebuah grup yang namanya identik dengan kejayaan pop. ABBA—akronim dari Agnetha, Bjorn, Benny, dan Anni-Frid—meledak di panggung dunia setelah kemenangan mereka di Kontes Lagu Eurovision 1974 lewat “Waterloo.” Sejak saat itu, mereka bukan sekadar grup musik, melainkan fenomena global. Lagu-lagu mereka memenuhi tangga lagu dunia dan menjadikan ABBA salah satu nama terbesar dalam sejarah musik populer.
Namun di antara gemerlap “Dancing Queen” dan keceriaan “Mamma Mia,” “Fernando” berdiri dengan karismanya sendiri. Lagu ini seakan menjadi jeda hening di tengah pesta panjang musik pop, juga sebagai bukti bahwa ABBA juga piawai merangkai kesunyian.
“Fernando” bukan sekadar cerita perang. Ia adalah kisah tentang kemanusiaan. Liriknya yang sinematik membuka tirai panggung sejarah: dua orang muda yang hendak melangkah ke medan laga. Namun bukan untuk menyuguhkan heroisme yang bombastis, lagu ini justru menyoroti kerentanan jiwa manusia.
Can you hear the drums, Fernando?
I remember long ago another starry night like this
In the firelight, Fernando
Di bawah langit berbintang yang sama, mereka mengingat kembali malam ketika genderang perang mulai ditabuh. Dan di sanalah letak keindahan lagu ini: kejujurannya tentang rasa takut.
There was something in the air that night
The stars were bright, Fernando
They were shining there for you and me
For liberty, Fernando
Ketakutan itu manusiawi, dan mereka tak malu mengakuinya. Namun di balik ketakutan itu, ada juga kobaran api lain: kebanggaan. Di usia yang telah menua, sang narator masih dapat melihat kilau di mata Fernando. Sebuah kilau seorang pejuang yang pernah membela tanahnya, kilau harga diri yang tak sepenuhnya padam oleh waktu.
Pada akhirnya, “Fernando” adalah sebuah perayaan atas esensi terdalam dari jiwa manusia: kebebasan. Terbebas dari belenggu penjajahan, terbebas dari rasa takut, dan pada akhirnya terbebas dari waktu itu sendiri. Vokal Frida yang jernih dan penuh penghayatan, berpadu dengan harmoni lembut Agnetha, membuat lagu ini terasa seperti nyanyian yang tak lekang oleh zaman. Ia menjadi jembatan emosional yang menghubungkan kita dengan para pejuang di masa lalu, dan dengan pergulatan batin kita sendiri di masa kini.
Barangkali, di dalam hidup kita masing-masing, selalu ada sedikit Fernando yang tersisa. Ada keberanian yang pernah diuji, ada ketakutan yang pernah kita sembunyikan, ada kenangan yang tetap menyala diam-diam. Dan seperti api unggun kecil di malam yang panjang, lagu ini terus menyala dalam ingatan, meski pelan, sendu, namun tak pernah benar-benar padam. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:





























