14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
in Ulas Pentas
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

Pementasan Cak dalam Festival Budaya Obor Kesanga di Desa Tembok, Tejakula, Buleleng, Bali

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu mengintervensi realitas sosial. Sejak tahun 2023, keterlibatan intensif dalam merancang ruang presentasi bagi proses belajar seni masyarakat bukan sekadar upaya menggelar pertunjukan, melainkan sebuah metode pembangunan manusia yang terukur melalui Rumah Bertumbuh yang digagas oleh pemerintah Desa Tembok kala itu.

Berawal dari upaya membaca ulang keberadaan Desa Tembok, kemudian saya bersama kawan-kawan dari Kampus Institut  Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan  (IMK) yang kala itu masih Bernama STAHN Mpu Kuturan selalu terlibat dalam berbagai gerakan kebudayaan. Pertamakali dimulai dengan mengajar pasraman mingguan  sejak awal tahun 2023 silih berganti kawan-kawan dosen  (IMK) datang bertemu warga di pasraman itu.

Seni sebagai Metode, Bukan Sekadar Output

Seringkali, seni di tingkat warga hanya dianggap sebagai hiburan pelengkap yang dihadirkan dalam berbagai acara dan ritus keagamaan. Namun, sejak saya diminta untuk melakukan program pengabdian  di Tembok saya membaca ulang potensi desa di bidang seni budaya yang dapat digerakan. Termasuk mendengarkan seklumit kisah konflik warga Tembok dan permasalahan lain yang masih belum tuntas.

Tahun 2024 menjadi titik balik penting melalui Program Pengabdian Desa Binaan. Berbeda dengan program akademis atau birokratis pada umumnya, pendekatan yang dilakukan di sini berbasis pada pendampingan proses kreatif yang organik.

Puncaknya terjadi saat halaman Kantor Desa Tembok berubah menjadi panggung presentasi karya. Ibu-ibu pedagang mulai menjajakan dagangannya di Kawasan Pertunjukan akan digelar. Para orang tua silih berganti mengantarkan anak-anaknya untuk berias di kantor Desa Tembok. Pegawai Desa yang biasanya sibuk administrasi sekrang sibuk menjadi pelayan para pementas, menyiapkan kopi dan jajanan khas desa termasuk menemani setiap tamu yang datang.

Tarian yang dipertunjukkan pada Festival Budaya Obor Kesanga di Desa Tembok

Di hadapan ribuan pasang mata warga sendiri, proses belajar selama setahun itu disingkap. Momen ini bukan sekadar pameran keterampilan, melainkan pernyataan martabat. Ketika warga melihat tetangganya, anaknya, atau dirinya sendiri mampu menciptakan keindahan, muncul rasa kepemilikan kolektif terhadap desa. Kantor desa tidak lagi terasa sebagai gedung administratif yang kaku, melainkan ruang publik yang hangat dan inklusif.

Obor Kesanga : Rekonsiliasi Warga dan Runtuhnya Sekat 30 Tahun

Puncak dari perjalanan ini adalah Festival Budaya Obor Kesanga tahun 2026. Selama tiga dekade, Desa Adat Ngis dan Desa Adat Tembok terjebak dalam residu konflik yang seolah menemui jalan buntu. Namun, melalui seni sebagai metode diplomasi budaya, sejarah baru dituliskan tepat saat menyambut Hari Suci Nyepi.

Festival ini memaksa kedua belah pihak untuk berkolaborasi dalam persiapan teknis dan artistik. Cahaya obor yang menyala bukan sekadar api, melainkan simbol pembersihan dendam masa lalu. Pertemuan Ngis dan Tembok dalam satu bingkai budaya adalah kemenangan besar bagi kemanusiaan; sebuah bukti bahwa konflik tiga puluh tahun pun dapat luluh oleh kehangatan api kesenian.

Berbagai atraksi seni dan ogoh-ogoh dalam Festival Budaya Obor Kesanga di Desa Tembok

“Tiga puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk memelihara jarak, namun seni hanya butuh satu tarikan napas kolektif untuk meruntuhkannya. Di Desa Tembok, kita belajar bahwa kebudayaan adalah satu-satunya bahasa yang mampu menerjemahkan amarah menjadi harmoni tanpa perlu menghakimi siapa yang paling benar. Api dalam Obor Kesanga tidaklah membakar perbedaan, melainkan meleburkan batas, menyatukan Hindu dan Muslim, serta mempertemukan Ngis dan Tembok dalam persaudaraan yang abadi.”

“Api yang dinyalakan dalam Obor Kesanga bukanlah api yang membakar perbedaan, melainkan api yang meleburkan batas. Selama tiga puluh tahun kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu, namun malam ini kita membuktikan bahwa satu percikan kesenian jauh lebih terang daripada tiga dekade kegelapan prasangka. Cahaya tidak pernah memilih siapa yang ia terangi; begitu pula persaudaraan kita yang kini kembali utuh dalam pendar yang sama.”

Festival Budaya: Ruang Negosiasi dan Pereda Konflik

Salah satu pencapaian paling krusial dalam perjalanan ini adalah penggunaan festival budaya sebagai instrumen resolusi konflik. Di tengah dinamika masyarakat yang kerap terfragmentasi oleh perbedaan kepentingan atau sisa-sisa perselisihan masa lalu, festival hadir sebagai titik temu netral.

Mengapa festival budaya efektif mereda konflik?

Proses kreatif menuntut kolaborasi yang melampaui batas ego individu atau kelompok yang menjadi kerja-kerja kolektif llintas banjar, lintas warga dan lintas generasi. Misalnya saja dalam Obor Kesanga 2026 Saat warga membuat ogoh-ogoh dan berlatih  fragmentari bersama yang ditampilkan dipusat desa, fokus mereka berpindah dari “perbedaan” menuju “tujuan estetika bersama.”

I Putu Ardiyasa (penulis, angkat tangan) bersama dosen IMK Bali di Festival Budaya Obor Kesanga di Desa Tembok

Penghargaan untuk pembina dari IAHN Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Bali

Seni memberikan ruang bagi warga untuk menyalurkan energi emosional ke dalam bentuk yang konstruktif dan indah. Di atas panggung, setiap lapisan masyarakat mendapatkan pengakuan yang setara. Peristiwa budaya ini menjadi ritual yang memvalidasi dan memfasilitasi ruang bertemu dan bertumbuh bagi setiap warga adalah bagian penting dari narasi besar Desa.

Memasuki Akhir tahun 2024 warga menyaksikan pertunjukan budaya presentasi hasil belajar sebagai luaran pengabdian desa binaan. Pada awal tahun 2026 kembali warga berkumpul dalam nafas seni pertunjukan Pawai Budaya Ogoh-ogoh. Apa yang bermula dari sebuah inisiatif belajar kini telah mengakar menjadi sebuah tradisi intelektual baru. Desa Tembok telah membuktikan bahwa dengan menempatkan seni sebagai metode, konflik bukan lagi dihancurkan dengan kekuatan, melainkan diredam dengan kebersamaan.

Perjalanan ini adalah bukti bahwa ketika sebuah desa berani merayakan proses belajarnya secara terbuka melalui perayaan kebudayaan, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi perdamaian yang paling kokoh.

Foto bersama seniman, pembina, arapat desa, dan lain-lain, dalam Festival Budaya Obor Kesanga di Desa Tembok

Perjalanan 2023-2026 di Desa Tembok membuktikan tesis bahwa konflik yang paling keras sekalipun dapat melunak di bawah hangatnya api kesenian. Seni telah berhenti menjadi sekadar tontonan tetapi menjadi “alat” perdamaian. Keberhasilan mempersatukan Ngis dan Tembok melalui Obor Kesanga adalah bukti nyata bahwa kebudayaan adalah bahasa yang paling efektif untuk membicarakan persatuan ketika kata-kata politik menemui jalan buntu.

Jangan dilupakan juga,

Salah satu pencapaian paling luhur dalam metode seni di Desa Tembok adalah kemampuannya menjadi jembatan bagi warga Hindu dan Muslim. Dalam peristiwa budaya yang digelar, seni hadir sebagai bahasa universal yang tidak dibatasi oleh dogma. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk duduk melingkar dalam satu proses kreatif. Seni sebagai metode memberikan ruang di mana identitas keagamaan tetap terjaga, namun ego sektarian luruh.

Dewa Komang Yudi, mantan Perbekel Desa Tembok yang kini jadi anggota DPRD Buleleng, salah satu inspirator dan inisiator Festival Budaya Obor Kesanga 2026

Kita melihat bagaimana harmoni ini bukan sekadar toleransi pasif, melainkan keterlibatan aktif. Warga Hindu dan Muslim bahu-membahu menyusun narasi budaya yang sama, membuktikan bahwa di bawah langit Tembok, perbedaan adalah warna yang memperkaya kebersamaan, bukan pemisah yang meretakkan persatuan.

Selamat Nyepi dan Idul Fitri Tahun 2026

Tancab Kayonan [T]

Penulis: I Putu Ardiyasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa TembokHari Raya NyepiIAHN Mpu KuturanIMK Baliseni pertunjukanTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Butterfly Effect’, Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

Next Post

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

'Fernando': Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co