MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu mengintervensi realitas sosial. Sejak tahun 2023, keterlibatan intensif dalam merancang ruang presentasi bagi proses belajar seni masyarakat bukan sekadar upaya menggelar pertunjukan, melainkan sebuah metode pembangunan manusia yang terukur melalui Rumah Bertumbuh yang digagas oleh pemerintah Desa Tembok kala itu.
Berawal dari upaya membaca ulang keberadaan Desa Tembok, kemudian saya bersama kawan-kawan dari Kampus Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK) yang kala itu masih Bernama STAHN Mpu Kuturan selalu terlibat dalam berbagai gerakan kebudayaan. Pertamakali dimulai dengan mengajar pasraman mingguan sejak awal tahun 2023 silih berganti kawan-kawan dosen (IMK) datang bertemu warga di pasraman itu.
Seni sebagai Metode, Bukan Sekadar Output
Seringkali, seni di tingkat warga hanya dianggap sebagai hiburan pelengkap yang dihadirkan dalam berbagai acara dan ritus keagamaan. Namun, sejak saya diminta untuk melakukan program pengabdian di Tembok saya membaca ulang potensi desa di bidang seni budaya yang dapat digerakan. Termasuk mendengarkan seklumit kisah konflik warga Tembok dan permasalahan lain yang masih belum tuntas.
Tahun 2024 menjadi titik balik penting melalui Program Pengabdian Desa Binaan. Berbeda dengan program akademis atau birokratis pada umumnya, pendekatan yang dilakukan di sini berbasis pada pendampingan proses kreatif yang organik.
Puncaknya terjadi saat halaman Kantor Desa Tembok berubah menjadi panggung presentasi karya. Ibu-ibu pedagang mulai menjajakan dagangannya di Kawasan Pertunjukan akan digelar. Para orang tua silih berganti mengantarkan anak-anaknya untuk berias di kantor Desa Tembok. Pegawai Desa yang biasanya sibuk administrasi sekrang sibuk menjadi pelayan para pementas, menyiapkan kopi dan jajanan khas desa termasuk menemani setiap tamu yang datang.

Di hadapan ribuan pasang mata warga sendiri, proses belajar selama setahun itu disingkap. Momen ini bukan sekadar pameran keterampilan, melainkan pernyataan martabat. Ketika warga melihat tetangganya, anaknya, atau dirinya sendiri mampu menciptakan keindahan, muncul rasa kepemilikan kolektif terhadap desa. Kantor desa tidak lagi terasa sebagai gedung administratif yang kaku, melainkan ruang publik yang hangat dan inklusif.
Obor Kesanga : Rekonsiliasi Warga dan Runtuhnya Sekat 30 Tahun
Puncak dari perjalanan ini adalah Festival Budaya Obor Kesanga tahun 2026. Selama tiga dekade, Desa Adat Ngis dan Desa Adat Tembok terjebak dalam residu konflik yang seolah menemui jalan buntu. Namun, melalui seni sebagai metode diplomasi budaya, sejarah baru dituliskan tepat saat menyambut Hari Suci Nyepi.
Festival ini memaksa kedua belah pihak untuk berkolaborasi dalam persiapan teknis dan artistik. Cahaya obor yang menyala bukan sekadar api, melainkan simbol pembersihan dendam masa lalu. Pertemuan Ngis dan Tembok dalam satu bingkai budaya adalah kemenangan besar bagi kemanusiaan; sebuah bukti bahwa konflik tiga puluh tahun pun dapat luluh oleh kehangatan api kesenian.






“Tiga puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk memelihara jarak, namun seni hanya butuh satu tarikan napas kolektif untuk meruntuhkannya. Di Desa Tembok, kita belajar bahwa kebudayaan adalah satu-satunya bahasa yang mampu menerjemahkan amarah menjadi harmoni tanpa perlu menghakimi siapa yang paling benar. Api dalam Obor Kesanga tidaklah membakar perbedaan, melainkan meleburkan batas, menyatukan Hindu dan Muslim, serta mempertemukan Ngis dan Tembok dalam persaudaraan yang abadi.”
“Api yang dinyalakan dalam Obor Kesanga bukanlah api yang membakar perbedaan, melainkan api yang meleburkan batas. Selama tiga puluh tahun kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu, namun malam ini kita membuktikan bahwa satu percikan kesenian jauh lebih terang daripada tiga dekade kegelapan prasangka. Cahaya tidak pernah memilih siapa yang ia terangi; begitu pula persaudaraan kita yang kini kembali utuh dalam pendar yang sama.”
Festival Budaya: Ruang Negosiasi dan Pereda Konflik
Salah satu pencapaian paling krusial dalam perjalanan ini adalah penggunaan festival budaya sebagai instrumen resolusi konflik. Di tengah dinamika masyarakat yang kerap terfragmentasi oleh perbedaan kepentingan atau sisa-sisa perselisihan masa lalu, festival hadir sebagai titik temu netral.
Mengapa festival budaya efektif mereda konflik?
Proses kreatif menuntut kolaborasi yang melampaui batas ego individu atau kelompok yang menjadi kerja-kerja kolektif llintas banjar, lintas warga dan lintas generasi. Misalnya saja dalam Obor Kesanga 2026 Saat warga membuat ogoh-ogoh dan berlatih fragmentari bersama yang ditampilkan dipusat desa, fokus mereka berpindah dari “perbedaan” menuju “tujuan estetika bersama.”


Seni memberikan ruang bagi warga untuk menyalurkan energi emosional ke dalam bentuk yang konstruktif dan indah. Di atas panggung, setiap lapisan masyarakat mendapatkan pengakuan yang setara. Peristiwa budaya ini menjadi ritual yang memvalidasi dan memfasilitasi ruang bertemu dan bertumbuh bagi setiap warga adalah bagian penting dari narasi besar Desa.
Memasuki Akhir tahun 2024 warga menyaksikan pertunjukan budaya presentasi hasil belajar sebagai luaran pengabdian desa binaan. Pada awal tahun 2026 kembali warga berkumpul dalam nafas seni pertunjukan Pawai Budaya Ogoh-ogoh. Apa yang bermula dari sebuah inisiatif belajar kini telah mengakar menjadi sebuah tradisi intelektual baru. Desa Tembok telah membuktikan bahwa dengan menempatkan seni sebagai metode, konflik bukan lagi dihancurkan dengan kekuatan, melainkan diredam dengan kebersamaan.
Perjalanan ini adalah bukti bahwa ketika sebuah desa berani merayakan proses belajarnya secara terbuka melalui perayaan kebudayaan, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi perdamaian yang paling kokoh.

Perjalanan 2023-2026 di Desa Tembok membuktikan tesis bahwa konflik yang paling keras sekalipun dapat melunak di bawah hangatnya api kesenian. Seni telah berhenti menjadi sekadar tontonan tetapi menjadi “alat” perdamaian. Keberhasilan mempersatukan Ngis dan Tembok melalui Obor Kesanga adalah bukti nyata bahwa kebudayaan adalah bahasa yang paling efektif untuk membicarakan persatuan ketika kata-kata politik menemui jalan buntu.
Jangan dilupakan juga,
Salah satu pencapaian paling luhur dalam metode seni di Desa Tembok adalah kemampuannya menjadi jembatan bagi warga Hindu dan Muslim. Dalam peristiwa budaya yang digelar, seni hadir sebagai bahasa universal yang tidak dibatasi oleh dogma. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk duduk melingkar dalam satu proses kreatif. Seni sebagai metode memberikan ruang di mana identitas keagamaan tetap terjaga, namun ego sektarian luruh.


Kita melihat bagaimana harmoni ini bukan sekadar toleransi pasif, melainkan keterlibatan aktif. Warga Hindu dan Muslim bahu-membahu menyusun narasi budaya yang sama, membuktikan bahwa di bawah langit Tembok, perbedaan adalah warna yang memperkaya kebersamaan, bukan pemisah yang meretakkan persatuan.
Selamat Nyepi dan Idul Fitri Tahun 2026
Tancab Kayonan [T]
Penulis: I Putu Ardiyasa
Editor: Adnyana Ole





























