25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

I Gede Tilem Pastika by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
in Ulas Pentas
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

Lakon 'I Sigir Jlema Tuah Asibak'

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara sekaligus koreografer, saya berdiri di belakang panggung, menatap barisan penonton yang dipenuhi tokoh penting, termasuk Gubernur Bali yang hadir untuk menyaksikan penutupan Bulan Bahasa Bali VIII. Pementasan I Sigir Jlema Tuah Asibak yang kami usung bukan sekadar pertunjukan teatrikal biasa; ia adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan dan rekonstruksi spiritual atas narasi-narasi pinggiran yang sering kali dianggap remeh dalam hirarki sastra Bali.

Kisah I Sigir yang lahir “asibak” atau separuh adalah metafora paling brutal tentang eksklusi sosial. Namun, dalam garapan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini, saya menolak untuk menjadikan kecacatan sebagai pusat kesedihan. Sebaliknya, pementasan ini adalah laboratorium kritis untuk menguji sejauh mana kita mampu memahami konsep Atma Kertih: Udiana Purnaning Jiwa (tema Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026). Sesuai dengan apa yang ditulis oleh I Ketut Wiana dalam jurnalnya, Sad Kertih adalah “noble behavior” atau perilaku mulia yang menjadi basis kehidupan manusia Bali (Wiana, 2018, hlm. 1). Atma Kertih, secara khusus, menuntut penyucian jiwa yang melampaui sekat-sekat ragawi.

Dari sudut pandang hermeneutika, pementasan ini merupakan upaya interpretatif untuk menyuarakan apa yang disebut Friedrich Schleiermacher sebagai “kesadaran batin penulis” yang termanifestasikan dalam teks. Schleiermacher menekankan bahwa memahami sebuah karya berarti melakukan rekonstruksi historis dan psikologis terhadap subjeknya (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 74). Saya ingin penonton tidak hanya melihat I Sigir sebagai tokoh dongeng, tetapi sebagai refleksi dari jiwa-jiwa kita sendiri yang sering kali merasa terbelah antara ambisi duniawi dan kerinduan spiritual.

Penerapan tema Udiana Purnaning Jiwa (taman tempat jiwa disempurnakan) saya manifestasikan melalui tata ruang panggung yang masif. Penggunaan LED Tron yang membentang besar bukan sekadar pamer teknologi, melainkan perluasan dari ruang batin I Sigir. Ketika I Sigir berinteraksi dengan video, terjadi apa yang disebut Hans-Georg Gadamer sebagai “peleburan horison” (fusion of horizons), di mana batas antara realitas aktor dan bayangan digital menjadi kabur. Ini adalah kritik saya terhadap modernitas: bahwa manusia sering kali lebih “utuh” dalam dunia imajiner ketimbang dalam realitas sosial yang menghakiminya.

Adegan I Sigir dan penari cahaya

Kehadiran Gubernur Bali di barisan depan memberikan penekanan bahwa diskursus tentang Atma Kertih harus menjadi napas dalam kebijakan pembangunan manusia. Dalam konteks ini, I Sigir adalah simbol rakyat yang mungkin “cacat” secara akses atau ekonomi, namun memiliki hak yang sama untuk mencapai “Ujung Timur” atau kesejahteraan. Pementasan ini sengaja saya buka dengan adegan masatua anak-anak yang bertengkar karena ejekan fisik. Ini adalah strategi hermeneutika praktis untuk mendekatkan teks klasik dengan problem perundungan (bullying) yang hari ini menjadi penyakit kronis di masyarakat kita.

Secara semiotik, tubuh I Sigir yang separuh adalah tanda (sign) yang harus dibaca secara dekonstruktif. Jika masyarakat melihatnya sebagai kegagalan biologis, saya justru melihatnya sebagai keberhasilan spiritual. Wilhelm Dilthey dalam teorinya tentang Erlebnis atau pengalaman hidup yang dihayati, menyatakan bahwa ekspresi seni adalah hasil dari pemahaman mendalam terhadap kehidupan (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 152). Penderitaan I Sigir dan ibunya, Ni Ubuh, adalah Erlebnis yang kemudian bertransformasi menjadi energi estetik di atas panggung melalui gerak-gerak yang asimetris namun tetap harmonis.

Adegan I Sigir dipermalukan di kerajaaan

Adegan Ni Ubuh (ibu Sigir) yang dijauhi masyarakat karena kehamilannya yang misterius menjadi penggambaran betapa kejamnya stigma sosial. Dalam perspektif Atma Kertih, pemurnian jiwa tidak bisa dilakukan selama kita masih memiliki polusi pikiran berupa kebencian terhadap sesama. Melalui visualisasi pada LED Tron yang menampilkan lanskap kelabu, saya ingin penonton merasakan dinginnya pengucilan sosial, sebelum akhirnya cahaya keemasan dari Bhatara Surya datang untuk memberikan kehangatan spiritual.

Cahaya adalah elemen paling krusial dalam lakon ini. Penari cahaya berkostum emas yang saya hadirkan bukan hanya sekadar ornamen panggung. Mereka adalah representasi dari energi Surya yang menghidupkan. Secara teologis, ini adalah perwujudan dari Atman yang menyinari kegelapan raga. Dalam ajaran Hindu Bali, Surya adalah saksi agung (Saksi Jagat). Hadirnya penari cahaya ini menegaskan bahwa dalam setiap kekurangan fisik, selalu ada cahaya ketuhanan yang menyempurnakan batin manusia, sesuai dengan visi Atma Kertih yang diusung.

Adegan I Sigir menanyakan tentang ibunya

Saat I Sigir tumbuh dan bertanya tentang ayahnya, ibunya mengungkap semuanya, bahwa ayahnya adalah Ida Bhatara Surya dan bersthana di ufuk timur (tanggu kangin langite barak). Seketika itu I Sigir membulatkan tekad, meminta bekal berupa tipat dan taluh abungkul untuk perjalananya. Analisis mendalam saya terhadap perbekalan I Sigir membawa kita pada wilayah semiotika budaya yang sangat dalam. Tipat (ketupat) melambangkan raga atau Pradhana yang terikat oleh jalinan karma (anyaman janur). Sementara telur utuh melambangkan Purusa atau spirit yang bersifat bulat dan kekal. I Sigir membawa keduanya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kesempurnaan membutuhkan keseimbangan antara beban fisik dan keutuhan batin.

Gamelan Semarandhana yang diorkestrasi oleh sahabat saya Praptika Kamalia Jaya memberikan dimensi emosional yang sangat dinamis. Karakter suara Semarandhana yang manis sekaligus gagah mampu menangkap dualitas emosi I Sigir: antara rasa malu pada dunia dan keberanian untuk menghadapi Tuhan. Musik ini menjadi “benang merah” hermeneutik yang menghubungkan setiap adegan, memastikan bahwa pesan Atma Kertih tidak hanya sampai di telinga, tapi meresap ke dalam kesadaran penonton.

Koreografi yang saya bangun untuk I Sigir sengaja menantang hukum keseimbangan tari Bali yang konvensional. Biasanya, tari Bali sangat mementingkan simetri (agem kanan dan kiri), namun I Sigir bergerak dengan satu sisi tubuh yang dominan. Ini adalah pernyataan estetik bahwa keindahan tidak harus lahir dari kesimetrisan. Kesempurnaan batin justru sering kali ditemukan dalam penerimaan atas ketidakseimbangan fisik. Ini adalah inti dari Udiana Purnaning Jiwa, di mana jiwa menemukan kedamaian justru saat ia berhenti memaksakan kehendak ragawi.

Kritik sosial yang paling tajam muncul saat warga desa berteriak “ada memedi, ada tonya” saat melihat I Sigir (dalam perjalananya ke timur). Adegan ini mencerminkan ketakutan manusia terhadap “Yang Lain” (The Other). Kita cenderung menganggap yang berbeda sebagai ancaman atau makhluk halus karena kita tidak mampu melihat Atman di balik rupa yang aneh. Melalui pementasan ini, saya ingin menyentil ego kolektif penonton bahwa sering kali kitalah yang bersifat “monster” karena ketidaktulusan hati kita sendiri.

Inovasi visual interaktif yang kami gunakan membantu menciptakan atmosfer “niskala” (gaib) yang megah. Saat I Sigir menempuh perjalanan ke ufuk timur, LED Tron menampilkan transisi waktu dan alam yang bergerak secara sinkron dengan gerak penari. Ini menggambarkan bahwa perjalanan spiritual adalah proses yang dinamis, bukan statis. Perjalanan ke Timur adalah simbolisasi dari pencarian pencerahan, sebuah perjalanan mendaki menuju matahari kesadaran yang merupakan puncak dari Atma Kertih.

Adegan mesatua Bali

Asisten sutradara Sang Nyoman Gede Adhi Santika bekerja sangat detail dalam mengatur transisi antara adegan masa kecil I Sigir hingga dewasa. Perubahan karakter ini penting untuk menunjukkan bahwa jiwa mengalami evolusi. Meskipun fisiknya tetap “asibak”, mentalitas I Sigir bertumbuh dari rasa takut menjadi rasa bakti yang luar biasa kepada ibunya. Bakti inilah yang menjadi kunci bagi I Sigir untuk membuka pintu gerbang Udiana Purnaning Jiwa.

Seratusan seniman yang terlibat, dari penari, penabuh, hingga kru panggung, menunjukkan kekuatan kolektif yang luar biasa. Saya melihat pementasan ini sebagai Yajna atau persembahan tulus dari civitas akademika UHN IGB Sugriwa untuk Bali. Kehadiran mahasiswa UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan membuktikan bahwa generasi muda Bali masih memiliki gairah yang besar untuk membedah teks-teks klasik dengan cara yang sangat progresif dan berani. Meskipun hanya 1 bulan berproses, di tengah kesibukan akdemik dan keseharian mereka, namun rasa haru dan bangga masih membekas hingga saat ini karena totalitas yang mereka lakukan.

Pesan penutup melalui adegan penutur yang menasehati anak-anak adalah titik balik didaktis. Saya ingin pementasan ini memiliki dampak nyata setelah lampu panggung padam. Bahasa dan sastra Bali harus menjadi instrumen untuk membangun karakter yang inklusif. Atma Kertih bukan hanya teori di atas kertas jurnal, melainkan praktik nyata untuk berhenti merendahkan sesama dan mulai menghargai keunikan setiap ciptaan Tuhan. Secara kritis, saya melihat bahwa transformasi fisik I Sigir di akhir cerita, menjadi pemuda tampan setelah mandi di kolam suci (pancoran sindhuratna) sebenarnya adalah metafora dari pencapaian kebahagiaan batin (Moksartham Jagadhita). Ketampanan itu adalah pantulan dari kemurnian jiwa yang telah tuntas melewati ujian Tapa. Di sini, Udiana Purnaning Jiwa mencapai puncaknya: jiwa yang purna akan memancarkan aura kesempurnaan yang tidak bisa dipalsukan oleh kosmetik atau rupa fisik semata.

Kehadiran Gubernur Bali hingga akhir pertunjukan memberikan sinyal kuat bahwa narasi-narasi lokal seperti I Sigir memiliki nilai strategis dalam membangun identitas Bali yang modern namun tetap berakar pada nilai Sad Kertih. Pementasan ini membuktikan bahwa dengan kreativitas, sastra Bali dapat bertransformasi menjadi tontonan global tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Saya merasa puas karena misi untuk mengedukasi masyarakat melalui keindahan visual telah tercapai malam itu di Ksirarnawa.

Sebagai sutradara, pementasan ini adalah perjalanan spiritual pribadi bagi saya. I Sigir mengajarkan saya bahwa dalam membuat karya, kita tidak perlu menunggu semua elemen menjadi “sempurna” atau lengkap. Dengan “setengah” modal sekalipun, asalkan dilakukan dengan niat yang bulat, kita dapat menciptakan keajaiban yang menyentuh hati banyak orang. Itulah esensi sejati dari Atma Kertih: memuliakan jiwa di tengah keterbatasan raga.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh semua pihak. Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pihak yang terlibat. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa adalah energi utama yang membuat pementasan kolosal ini memiliki napas yang sangat segar namun tetap berwibawa. Terima kasih khusus kepada asisten sutradara saya, Sang Nyoman Gede Adhi Santika, yang dengan sabar dan teliti menerjemahkan visi saya ke dalam detail-detail panggung yang presisi. Kepada komposer Praptika Kamalia Jaya, terima kasih atas aransemen Semarandhana yang begitu puitis dan menggetarkan sukma. Tanpa dentuman musik yang tepat, perjalanan I Sigir menuju ufuk timur tidak akan memiliki jiwa yang sekuat ini. Juga rasa terimakasih pada Ibu Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, Ibu Gek Diah Desi Sentana, yang selalu setia menemani proses latihan serta berperan sebagai Ni Ubuh dengan sangat menyentuh hati. Serta tak lupa pada Cokorda Krisna Dwiyoga, yang sudah begadang beberapa hari dengan tim untuk menyelesaikan segala urusan properti panggung dan tari.

Apresiasi setinggi-tingginya saya tujukan kepada seluruh anggota UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan. Kalian adalah penjaga gawang tradisi yang luar biasa. Dedikasi kalian berlatih siang dan malam, melatih gerak “asibak” yang tidak mudah, hingga mengoordinasikan seratusan orang di atas panggung adalah bentuk Atma Kertih yang nyata, sebuah kerja keras untuk memuliakan jiwa melalui dedikasi seni.

Adegan mesatua Bali

Terima kasih juga kepada Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Dinas Kebudayaan, yang telah memfasilitasi ruang bagi seni tradisi untuk terus berevolusi dalam ajang Bulan Bahasa Bali. Kehadiran Bapak Gubernur Bali memberikan suntikan semangat bagi kami para akademisi dan seniman untuk terus menggali mutiara-mutiara kearifan lokal yang tersembunyi dalam Satua-satua Bali yang kaya akan nilai filosofis. Kepada para penonton dan masyarakat Bali, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan I Sigir. Melalui tepuk tangan dan haru kalian, saya merasa bahwa pesan inklusivitas dan pemurnian jiwa ini telah sampai ke tujuannya. Semoga setelah menyaksikan lakon ini, kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain.

Akhir kata, lakon I Sigir Jlema Tuah Asibak ini saya persembahkan bagi mereka yang pernah merasa terpinggirkan, bagi mereka yang sedang mencari jati diri, dan bagi masa depan Bali yang lebih inklusif. Mari kita terus merawat “taman jiwa” kita masing-masing hingga mencapai kesempurnaan. Semoga cahaya Bhatara Surya senantiasa menuntun langkah kita menuju Ujung Timur yang penuh kedamaian dan pencerahan.

Matur Suksma. Terima kasih kepada semua tim yang terlibat. Sampai jumpa di palagan estetika berikutnya, di mana kita akan terus memuliakan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai rumah bagi jiwa yang merdeka. I Sigir bukan lagi manusia separuh, ia kini telah utuh dalam setiap ingatan kita. [T]

Refrensi:

Mueller-Vollmer, K. (Ed.). (1985). The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. New York: Continuum. (Mencakup pemikiran Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer).

Wiana, I. K. (2018). “Sad Kertih”: Sastra Agama, Filosofi, dan Aktualisasinya. Bali Membangun Bali: Jurnal Bappeda Litbang, 1(3), 179-201. ISSN 2615-0956.

Penulis: I Gede Tilem Pastika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliseni pertunjukanTeaterUHN I Gusti Bagus Sugriwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Next Post

Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

I Gede Tilem Pastika

I Gede Tilem Pastika

Dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, seniman, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co