16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

I Gede Tilem Pastika by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
in Ulas Pentas
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

Lakon 'I Sigir Jlema Tuah Asibak'

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara sekaligus koreografer, saya berdiri di belakang panggung, menatap barisan penonton yang dipenuhi tokoh penting, termasuk Gubernur Bali yang hadir untuk menyaksikan penutupan Bulan Bahasa Bali VIII. Pementasan I Sigir Jlema Tuah Asibak yang kami usung bukan sekadar pertunjukan teatrikal biasa; ia adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan dan rekonstruksi spiritual atas narasi-narasi pinggiran yang sering kali dianggap remeh dalam hirarki sastra Bali.

Kisah I Sigir yang lahir “asibak” atau separuh adalah metafora paling brutal tentang eksklusi sosial. Namun, dalam garapan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini, saya menolak untuk menjadikan kecacatan sebagai pusat kesedihan. Sebaliknya, pementasan ini adalah laboratorium kritis untuk menguji sejauh mana kita mampu memahami konsep Atma Kertih: Udiana Purnaning Jiwa (tema Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026). Sesuai dengan apa yang ditulis oleh I Ketut Wiana dalam jurnalnya, Sad Kertih adalah “noble behavior” atau perilaku mulia yang menjadi basis kehidupan manusia Bali (Wiana, 2018, hlm. 1). Atma Kertih, secara khusus, menuntut penyucian jiwa yang melampaui sekat-sekat ragawi.

Dari sudut pandang hermeneutika, pementasan ini merupakan upaya interpretatif untuk menyuarakan apa yang disebut Friedrich Schleiermacher sebagai “kesadaran batin penulis” yang termanifestasikan dalam teks. Schleiermacher menekankan bahwa memahami sebuah karya berarti melakukan rekonstruksi historis dan psikologis terhadap subjeknya (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 74). Saya ingin penonton tidak hanya melihat I Sigir sebagai tokoh dongeng, tetapi sebagai refleksi dari jiwa-jiwa kita sendiri yang sering kali merasa terbelah antara ambisi duniawi dan kerinduan spiritual.

Penerapan tema Udiana Purnaning Jiwa (taman tempat jiwa disempurnakan) saya manifestasikan melalui tata ruang panggung yang masif. Penggunaan LED Tron yang membentang besar bukan sekadar pamer teknologi, melainkan perluasan dari ruang batin I Sigir. Ketika I Sigir berinteraksi dengan video, terjadi apa yang disebut Hans-Georg Gadamer sebagai “peleburan horison” (fusion of horizons), di mana batas antara realitas aktor dan bayangan digital menjadi kabur. Ini adalah kritik saya terhadap modernitas: bahwa manusia sering kali lebih “utuh” dalam dunia imajiner ketimbang dalam realitas sosial yang menghakiminya.

Adegan I Sigir dan penari cahaya

Kehadiran Gubernur Bali di barisan depan memberikan penekanan bahwa diskursus tentang Atma Kertih harus menjadi napas dalam kebijakan pembangunan manusia. Dalam konteks ini, I Sigir adalah simbol rakyat yang mungkin “cacat” secara akses atau ekonomi, namun memiliki hak yang sama untuk mencapai “Ujung Timur” atau kesejahteraan. Pementasan ini sengaja saya buka dengan adegan masatua anak-anak yang bertengkar karena ejekan fisik. Ini adalah strategi hermeneutika praktis untuk mendekatkan teks klasik dengan problem perundungan (bullying) yang hari ini menjadi penyakit kronis di masyarakat kita.

Secara semiotik, tubuh I Sigir yang separuh adalah tanda (sign) yang harus dibaca secara dekonstruktif. Jika masyarakat melihatnya sebagai kegagalan biologis, saya justru melihatnya sebagai keberhasilan spiritual. Wilhelm Dilthey dalam teorinya tentang Erlebnis atau pengalaman hidup yang dihayati, menyatakan bahwa ekspresi seni adalah hasil dari pemahaman mendalam terhadap kehidupan (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 152). Penderitaan I Sigir dan ibunya, Ni Ubuh, adalah Erlebnis yang kemudian bertransformasi menjadi energi estetik di atas panggung melalui gerak-gerak yang asimetris namun tetap harmonis.

Adegan I Sigir dipermalukan di kerajaaan

Adegan Ni Ubuh (ibu Sigir) yang dijauhi masyarakat karena kehamilannya yang misterius menjadi penggambaran betapa kejamnya stigma sosial. Dalam perspektif Atma Kertih, pemurnian jiwa tidak bisa dilakukan selama kita masih memiliki polusi pikiran berupa kebencian terhadap sesama. Melalui visualisasi pada LED Tron yang menampilkan lanskap kelabu, saya ingin penonton merasakan dinginnya pengucilan sosial, sebelum akhirnya cahaya keemasan dari Bhatara Surya datang untuk memberikan kehangatan spiritual.

Cahaya adalah elemen paling krusial dalam lakon ini. Penari cahaya berkostum emas yang saya hadirkan bukan hanya sekadar ornamen panggung. Mereka adalah representasi dari energi Surya yang menghidupkan. Secara teologis, ini adalah perwujudan dari Atman yang menyinari kegelapan raga. Dalam ajaran Hindu Bali, Surya adalah saksi agung (Saksi Jagat). Hadirnya penari cahaya ini menegaskan bahwa dalam setiap kekurangan fisik, selalu ada cahaya ketuhanan yang menyempurnakan batin manusia, sesuai dengan visi Atma Kertih yang diusung.

Adegan I Sigir menanyakan tentang ibunya

Saat I Sigir tumbuh dan bertanya tentang ayahnya, ibunya mengungkap semuanya, bahwa ayahnya adalah Ida Bhatara Surya dan bersthana di ufuk timur (tanggu kangin langite barak). Seketika itu I Sigir membulatkan tekad, meminta bekal berupa tipat dan taluh abungkul untuk perjalananya. Analisis mendalam saya terhadap perbekalan I Sigir membawa kita pada wilayah semiotika budaya yang sangat dalam. Tipat (ketupat) melambangkan raga atau Pradhana yang terikat oleh jalinan karma (anyaman janur). Sementara telur utuh melambangkan Purusa atau spirit yang bersifat bulat dan kekal. I Sigir membawa keduanya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kesempurnaan membutuhkan keseimbangan antara beban fisik dan keutuhan batin.

Gamelan Semarandhana yang diorkestrasi oleh sahabat saya Praptika Kamalia Jaya memberikan dimensi emosional yang sangat dinamis. Karakter suara Semarandhana yang manis sekaligus gagah mampu menangkap dualitas emosi I Sigir: antara rasa malu pada dunia dan keberanian untuk menghadapi Tuhan. Musik ini menjadi “benang merah” hermeneutik yang menghubungkan setiap adegan, memastikan bahwa pesan Atma Kertih tidak hanya sampai di telinga, tapi meresap ke dalam kesadaran penonton.

Koreografi yang saya bangun untuk I Sigir sengaja menantang hukum keseimbangan tari Bali yang konvensional. Biasanya, tari Bali sangat mementingkan simetri (agem kanan dan kiri), namun I Sigir bergerak dengan satu sisi tubuh yang dominan. Ini adalah pernyataan estetik bahwa keindahan tidak harus lahir dari kesimetrisan. Kesempurnaan batin justru sering kali ditemukan dalam penerimaan atas ketidakseimbangan fisik. Ini adalah inti dari Udiana Purnaning Jiwa, di mana jiwa menemukan kedamaian justru saat ia berhenti memaksakan kehendak ragawi.

Kritik sosial yang paling tajam muncul saat warga desa berteriak “ada memedi, ada tonya” saat melihat I Sigir (dalam perjalananya ke timur). Adegan ini mencerminkan ketakutan manusia terhadap “Yang Lain” (The Other). Kita cenderung menganggap yang berbeda sebagai ancaman atau makhluk halus karena kita tidak mampu melihat Atman di balik rupa yang aneh. Melalui pementasan ini, saya ingin menyentil ego kolektif penonton bahwa sering kali kitalah yang bersifat “monster” karena ketidaktulusan hati kita sendiri.

Inovasi visual interaktif yang kami gunakan membantu menciptakan atmosfer “niskala” (gaib) yang megah. Saat I Sigir menempuh perjalanan ke ufuk timur, LED Tron menampilkan transisi waktu dan alam yang bergerak secara sinkron dengan gerak penari. Ini menggambarkan bahwa perjalanan spiritual adalah proses yang dinamis, bukan statis. Perjalanan ke Timur adalah simbolisasi dari pencarian pencerahan, sebuah perjalanan mendaki menuju matahari kesadaran yang merupakan puncak dari Atma Kertih.

Adegan mesatua Bali

Asisten sutradara Sang Nyoman Gede Adhi Santika bekerja sangat detail dalam mengatur transisi antara adegan masa kecil I Sigir hingga dewasa. Perubahan karakter ini penting untuk menunjukkan bahwa jiwa mengalami evolusi. Meskipun fisiknya tetap “asibak”, mentalitas I Sigir bertumbuh dari rasa takut menjadi rasa bakti yang luar biasa kepada ibunya. Bakti inilah yang menjadi kunci bagi I Sigir untuk membuka pintu gerbang Udiana Purnaning Jiwa.

Seratusan seniman yang terlibat, dari penari, penabuh, hingga kru panggung, menunjukkan kekuatan kolektif yang luar biasa. Saya melihat pementasan ini sebagai Yajna atau persembahan tulus dari civitas akademika UHN IGB Sugriwa untuk Bali. Kehadiran mahasiswa UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan membuktikan bahwa generasi muda Bali masih memiliki gairah yang besar untuk membedah teks-teks klasik dengan cara yang sangat progresif dan berani. Meskipun hanya 1 bulan berproses, di tengah kesibukan akdemik dan keseharian mereka, namun rasa haru dan bangga masih membekas hingga saat ini karena totalitas yang mereka lakukan.

Pesan penutup melalui adegan penutur yang menasehati anak-anak adalah titik balik didaktis. Saya ingin pementasan ini memiliki dampak nyata setelah lampu panggung padam. Bahasa dan sastra Bali harus menjadi instrumen untuk membangun karakter yang inklusif. Atma Kertih bukan hanya teori di atas kertas jurnal, melainkan praktik nyata untuk berhenti merendahkan sesama dan mulai menghargai keunikan setiap ciptaan Tuhan. Secara kritis, saya melihat bahwa transformasi fisik I Sigir di akhir cerita, menjadi pemuda tampan setelah mandi di kolam suci (pancoran sindhuratna) sebenarnya adalah metafora dari pencapaian kebahagiaan batin (Moksartham Jagadhita). Ketampanan itu adalah pantulan dari kemurnian jiwa yang telah tuntas melewati ujian Tapa. Di sini, Udiana Purnaning Jiwa mencapai puncaknya: jiwa yang purna akan memancarkan aura kesempurnaan yang tidak bisa dipalsukan oleh kosmetik atau rupa fisik semata.

Kehadiran Gubernur Bali hingga akhir pertunjukan memberikan sinyal kuat bahwa narasi-narasi lokal seperti I Sigir memiliki nilai strategis dalam membangun identitas Bali yang modern namun tetap berakar pada nilai Sad Kertih. Pementasan ini membuktikan bahwa dengan kreativitas, sastra Bali dapat bertransformasi menjadi tontonan global tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Saya merasa puas karena misi untuk mengedukasi masyarakat melalui keindahan visual telah tercapai malam itu di Ksirarnawa.

Sebagai sutradara, pementasan ini adalah perjalanan spiritual pribadi bagi saya. I Sigir mengajarkan saya bahwa dalam membuat karya, kita tidak perlu menunggu semua elemen menjadi “sempurna” atau lengkap. Dengan “setengah” modal sekalipun, asalkan dilakukan dengan niat yang bulat, kita dapat menciptakan keajaiban yang menyentuh hati banyak orang. Itulah esensi sejati dari Atma Kertih: memuliakan jiwa di tengah keterbatasan raga.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh semua pihak. Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pihak yang terlibat. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa adalah energi utama yang membuat pementasan kolosal ini memiliki napas yang sangat segar namun tetap berwibawa. Terima kasih khusus kepada asisten sutradara saya, Sang Nyoman Gede Adhi Santika, yang dengan sabar dan teliti menerjemahkan visi saya ke dalam detail-detail panggung yang presisi. Kepada komposer Praptika Kamalia Jaya, terima kasih atas aransemen Semarandhana yang begitu puitis dan menggetarkan sukma. Tanpa dentuman musik yang tepat, perjalanan I Sigir menuju ufuk timur tidak akan memiliki jiwa yang sekuat ini. Juga rasa terimakasih pada Ibu Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, Ibu Gek Diah Desi Sentana, yang selalu setia menemani proses latihan serta berperan sebagai Ni Ubuh dengan sangat menyentuh hati. Serta tak lupa pada Cokorda Krisna Dwiyoga, yang sudah begadang beberapa hari dengan tim untuk menyelesaikan segala urusan properti panggung dan tari.

Apresiasi setinggi-tingginya saya tujukan kepada seluruh anggota UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan. Kalian adalah penjaga gawang tradisi yang luar biasa. Dedikasi kalian berlatih siang dan malam, melatih gerak “asibak” yang tidak mudah, hingga mengoordinasikan seratusan orang di atas panggung adalah bentuk Atma Kertih yang nyata, sebuah kerja keras untuk memuliakan jiwa melalui dedikasi seni.

Adegan mesatua Bali

Terima kasih juga kepada Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Dinas Kebudayaan, yang telah memfasilitasi ruang bagi seni tradisi untuk terus berevolusi dalam ajang Bulan Bahasa Bali. Kehadiran Bapak Gubernur Bali memberikan suntikan semangat bagi kami para akademisi dan seniman untuk terus menggali mutiara-mutiara kearifan lokal yang tersembunyi dalam Satua-satua Bali yang kaya akan nilai filosofis. Kepada para penonton dan masyarakat Bali, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan I Sigir. Melalui tepuk tangan dan haru kalian, saya merasa bahwa pesan inklusivitas dan pemurnian jiwa ini telah sampai ke tujuannya. Semoga setelah menyaksikan lakon ini, kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain.

Akhir kata, lakon I Sigir Jlema Tuah Asibak ini saya persembahkan bagi mereka yang pernah merasa terpinggirkan, bagi mereka yang sedang mencari jati diri, dan bagi masa depan Bali yang lebih inklusif. Mari kita terus merawat “taman jiwa” kita masing-masing hingga mencapai kesempurnaan. Semoga cahaya Bhatara Surya senantiasa menuntun langkah kita menuju Ujung Timur yang penuh kedamaian dan pencerahan.

Matur Suksma. Terima kasih kepada semua tim yang terlibat. Sampai jumpa di palagan estetika berikutnya, di mana kita akan terus memuliakan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai rumah bagi jiwa yang merdeka. I Sigir bukan lagi manusia separuh, ia kini telah utuh dalam setiap ingatan kita. [T]

Refrensi:

Mueller-Vollmer, K. (Ed.). (1985). The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. New York: Continuum. (Mencakup pemikiran Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer).

Wiana, I. K. (2018). “Sad Kertih”: Sastra Agama, Filosofi, dan Aktualisasinya. Bali Membangun Bali: Jurnal Bappeda Litbang, 1(3), 179-201. ISSN 2615-0956.

Penulis: I Gede Tilem Pastika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliseni pertunjukanTeaterUHN I Gusti Bagus Sugriwa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Next Post

Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

I Gede Tilem Pastika

I Gede Tilem Pastika

Dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, seniman, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

Mindfulness-based Learning, EFL Poetry, and Language Identity

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co