7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

Wahyu Mahaputra by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
in Ulas Pentas
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami”

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat terdengar parau. Ia menyampaikan kabar duka dari, tanah kelahirannya, seorang warga meninggal dunia setelah terlambat mendapat penanganan medis. Menurut Ariel, keterlambatan itu terjadi akibat akses jalan di desanya yang rusak dan belum memadai, sehingga proses evakuasi ke rumah sakit menjadi terhambat.

Sebelum menutup percakapan yang hampir satu jam itu, saya dikirimkan dua buah mini esai yang berisi refleksi atas kumpulan persoalan yang membelit kawasan tepi Kabupaten Kuningan, khususnya di Kecamatan Garawangi, Kecamatan Cinuru, dan Kecamatan Hantara. Mulai dari jalan rusak, penerangan jalan umum yang minim, hingga subsidi serta bantuan sosial yang tidak tepat sasaran.

Berangkat dari keresahan dan kegelisahan itu, sebagai warga desa, Ariel Valeryan bersama dengan Kelompok Seni Manusia Manusia Tanah Subur membuat sebuah pertunjukan mini esai performatif yang diberi tajuk “Desa Kami”.

Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami”

Pertunjukan esai itu digelar pada tanggal 14 dan 15 Februari 2026 di Balai Dusun Cibunut, Desa Cirukem, Kecamatan Garawani, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat disutradari oleh Ariel Valeryan dan dipentaskan oleh orang-orang yang juga berasal dari wilayah sekitar Dusun Cibunut, yakni Manda Dwi Febriyani, Icha Kartika Ningsih, Raka Danuarta, Padli Fadilah, Ferdi Nur Rizki Pramadani, dan Ariel Valeryan sebagai aktor, Andrea Verla Adventia, Rama Al Fajri sebagai pemusik, Guruh Ramadhan sebagai penata cahaya, Topik Hidayat sebagai penata visual (mapping). Dengan beberapa orang kru, yakni Vina Elviyani, Aen Putri Rahmawati, Fany Nofianty, Dila Ferlianti, Khairunisa, dan Nisrina Ayuningtyas.

Sebagai sebuah pertunjukan, “Desa Kami” bukan hanya sekadar alterasi dari esai ke peristiwa panggung, melainkan juga sebuah pengejawantahan suara kolektif masyarakat desa yang kerapkali hanya didengarkan ketika ada kepentingan pemungutan suara dalam pemilihan langsung, setelahnya dilupakan. Padahal setiap warga, baik yang tinggal di kota maupun di desa, mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan infrastruktur yang layak dan didengarkan dengan layak. Seperti apa yang ditulis Ariel Valeryan pada esai yang dijadikan bahan baku pementasan ini.

“Kerusakan jalan, di setiap pelosok desa adalah sebuah potret dari kegagalan sistem dalam mengakomodir pengeluaran yang mesti dipertimbangkan setiap tahunnya. Di beberapa desa, masyarakat kerap menelan kenyataan getir dari segala bentuk penggunaan dana yang tidak transparan. Setiap tahunnya warga membayar pajak dengan tanpa mendapatkan keuntungan yang semestinya menjadi hak. Peningkatan Infrastruktur yang nihil, subsidi dan bantuan sosial yang seringkali tidak pada tempatnya. Yang kenyang menjadi buncit, sementara kemiskinan jadi nyanyian yang dibiarkan,” tulis Ariel dalam esainya yang berjudul “Desa Kami yang Dilupakan”.

Memilih seni pertunjukan sebagai media penyampaian kritik dan refleksi atas persoalan yang terjadi, tentu Ariel dan Kelompok Manusia Manusia Tanah Subur tidak ingin menghilangkan elemen pemanggungan dan tontonannya.

Mereka tampaknya juga mempunyai visi untuk memberi ingatan tentang kesenian rakyat Sunda lampau pada warga desa hari ini, yakni dengan menggunakan estetika Longser: salah satu jenis teater rakyat tatar Sunda yang hidup di daerah Priangan, Jawa Barat, tontonan yang berkembang sekitar tahun 1920-1960an.

Pertunjukan Mini Esai Performatif “Desa Kami”

Sebagai contoh kecil, pertunjukan “Desa Kami” dipentaskan di balai dusun yang berarti pertunjukan tersebut berlangsung di tengah-tengah penonton, tanpa ada “panggung fisik”, para pemain berbagi ruang dengan penonton, pun penonton berbagi ruang dengan pemain. Tidak juga dibatasi oleh kain hitam atau belakang panggung (backstage).

Barangkali ini adalah langkah sengaja yang dipilih oleh Ariel Valeryan untuk juga memberi ruang dialog dan refleksi pada warga desa itu sendiri, bahwa warga desa harus saling bahu membahu membangun kesadaran kolektif atas persoalan yang menimpa kondisi desa saat ini, sekaligus menghidupi ruang-ruang publik yang ada di desa.

Pada akhirnya ada tiga resolusi yang diharapkan oleh Ariel Valeryan dan kelompoknya itu yang dirangkum menjadi sebuah penutup esai (saya lebih suka menyebutnya sebagai gugatan), yakni sebagai berikut.

Pertama, perbaikan jalan-jalan rusak. Kedua, perhatian pemerintah terhadap penerangan jalan umum. Ketiga, tinjauan ulang terhadap pemberian subsidi dan bantuan sosial agar lebih tepat sasaran.

“Resolusi dari semua problem ini mestinya adalah perbaikan jalan-jalan yang rusak, penerangan jalan umum yang diperhatikan, dan subsidi serta bantuan sosial (Bansos) yang mesti dilakukan tinjauan dalam menempatkan individu atau keluarga yang mesti mendapatkan haknya,” tulis Ariel Valeryan menutup esainya. [T]

Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa Baratseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

Next Post

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

Wahyu Mahaputra

Wahyu Mahaputra

Bernama lengkap I Putu Wahyu Mahaputra, akrab dipanggil WM Putra, lahir di Gianyar, 14 Maret 2004. Masyarakat sipil biasa yang baru belajar menulis dan gemar mendengarkan nada-nada minor, sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha.

Related Posts

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
0
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

Read moreDetails

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails
Next Post
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

Penghargaan 'Bali Kerti Bhuana Mahottama' untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co