17 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Helvi Carnelis by Helvi Carnelis
April 14, 2026
in Ulas Pentas
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu muncul kembali ketika menyaksikan pertunjukan “Malin Kundang Lirih” yang diperankan oleh Fajar Eka Putra di event Budamfest kerja sama antara Lab Teater Ciputat dengan MTN, Jakarta Pusat (Rabu, 10 Desember 2025).

Pementasan tersebut membuka ruang refleksi yang dalam, bukan  tentang mitos dan narasi klasik, tetapi tentang posisi manusia Minangkabau hari ini, terutama dalam relasi antara tradisi, gender dan perantauan.

Malam itu, diskusi berlangsung cukup panjang diantara kalangan seniman. Sebagai seorang seniman, saya justru merasa tidak sepenuhnya masuk kedalam bagian-bagian tertentu dari diskusi tersebut. Ada pernyataan-pernyataan yang seharusnya saya ungkapkan, namun terhenti sebagai kegelisahan batin. Kegelisahan ini bukan semata persoalan artistik, melainkan kegelisahan kultural dan sosial yang tidak didiskusikan .

Minangkabau dikenal sebagai ruang budaya dengan sistem Matrilineal, dimana perempuan memegang simbol-simbol material yang penting. Harta pusaka, rumah gadang, dan garis keturunan diwariskan melalui perempuan. Dalam kontruksi budaya ini, perempuan sering diposisikan sebagai penjaga nilai dan aset budaya.

Sementara itu, laki-laki didorong untuk merantau meninggalkan kampung halaman sebagai bagian dari proses pendewasaaan dan pencarian jati diri. Namun, dalam perbincangan tentang budaya rantau hari ini, saya mulai mempertanyakan kembali yang dikotomi lama tersebut.

Sehingga pertunjukan yang memiliki bias tradisi seperti kisah Malin Kundang melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih ini tidak lagi dianggap kurang relevan atau mempertanyakan apakah masih relevan untuk menjadi bagian sebuah pertunjukan teater, sebagaimana menjadi bagian kecil dari diskusi malam itu. Mitos perlu dibicarakan, sebab perlu dikuliti, dicari kebenaran serta perspektifnya dengan tepat dan kritis.

“Pertunjukan Malin Kundang Lirih, lebih mengulik perasaan anak perantauan yang berjuang dan bertahan. Dialog dan akting aktor disampaikan secara jujur dan mampu mewakili perasaan,ekpresi, emosi, serta tekanan yang dihadapi anak rantau. kisah ini tidak menitikberatkan pada kutukan, melainkan pada proses Malin Kundang sebagai anak perantau yang menjalani kehidupan, berproses, bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Malin tidak pernah melupakan, apalagi membenci ibunya, ia justru terbentuk oleh kerasnya kehidupan di perantauan, dikelilingi oleh orang-orang yang baru dikenalnya tanpa ikatan darah, dan terus berupaya membuktikan ia mampu bertahan. Kadang hidup seseorang tidak dapat ditebak, namun Malin  digambarkan sebagai manusia yang tidak pernah mengharapkan hidupnya berakhir dalam kesengsaraan, dimanapun ia berada.” ujar Dila Ayu Arioksa salah satu penonton.

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

 Kisah Malin Kundang bukan lagi semata persoalan bahwa laki-laki yang telah cukup usia dan matang secara sosial harus merantau, sementara perempuan tinggal di kampung sebagai “penunggu rumah” yang menjaga harta pusaka. Realitas sosial telah berubah. Lalu, bagaimana dengan perempuan Minangkau hari ini?

Perempuan Minangkabau kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan tinggi, ruang publik, dan pilihan hidup. Namun, ironisnya, untuk memperoleh kemandirian intelektual dan professional, banyak perempuan justru harus “melarikan diri” dari kampung  halaman, merantau bukan sebagai kewajiban budaya, tetapi sebagai strategi bertahan hidup dan pengembangan diri.

Dalam konteks ini, merantau bagi perempuan bukan lagi soal tradisi, melainkan bentuk negosiasi terhadap struktur adat yang masih membatasi. Ada juga sebagian mereka mengatakan bahwa merantau adalah salah satu cara untuk menghindari perjodohan, pertanyaan tentang pernikahan. Sebab, diusia tertentu perempuan sudah seharusnya menikah bahkan memiliki keturunan. Maka sebagian mereka memilih untuk merantau sebagai uapaya menyelamatkan diri dari pemaksaan, bahkan pertanyaan yang memaksa.

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan feminis pascakolonial Nawal El Sadawi, yang melihat perempuan bukan sekedar objek tradisi atau simbol budaya, melainkan sebagai subjek yang memiliki kesadaran, kehendak dan tubuh yang otonom. Perempuan memahami dirinya melalui pengalaman hidupnya sendiri, bukan semata melalui defenisi budaya yang diwariskan.

Dalam konteks Minangkabau, ini bearti perempuan tidak hanya menjadi simbol pemilik harta, tetapi juga berhak menentukan arah hidupnya termasuk memilih untuk merantau. Dengan demikian, narasi Malin Kundang dan budaya rantau perlu dibaca ulang, bukan hanya cerita tentang anak durhaka atau kewajiban laki-laki Minangkabau, tetapi sebagai cermin relasi kuasa antara adat , gender dan modrenitas. Pertanyaanya bukan lagi siapa yang harus merantau, melainkan siapa yang diberi ruang untuk memilih.

“Utuk melihat  satu persoalan yang kompleks, mungkin kita perlu sesekali memandang kerumitan itu dari kejauhan. Seperti persoalan tokoh Malin Kundang yang kerap disebut anak durhaka, boleh jadi kita juga harus berlaku demikian, dengan mengambil jarak agar persolan itu bisa terurai. Melalui kelirihan Malin, kita mendengar keluh kesah Malin sebagai manusia yang menyejarah, agar simbol anak durhaka yang sudah terlanjur terkenal itu bisa luntur,” kata Akbar Munazif selaku penangung jawab karya.

Saya menyadari bahwa pengalaman ini bukan hanya bersifat konseptual tetapi juga sangat personal. Sebagaimana perempuan-perempuan Minangkabau lain juga pernah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh orang-orang ang dituakan: paman, tante, ibu bahkan ayah sendiri. Ucapan itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk kutukan yang ekplisit, tetapi juga beroperasi sebagai peringatan moral yang halus namun menekan: Jangan jadi Malin Kundang!

Menariknya, dalam konteks hari ini, sebutan “Malin Kundang” tidak lagi semata-mata diarahkan kepada laki-laki, ia juga disematkan kepada perempuan, terutama Ketika perempuan mengambil sikap, pilihan atau jalan hidup yang dianggap bertolak belakang dengan ekpetasi adat dan keluarga. Ketika perempuan memilih pergi, memilih mandiri, memilih berpikir dan menentukan hidupnya sendiri, label durhaka itu muncul kembali, seolah-olah mitos lama menemukan tubuh baru untuk dihukum.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa Malin Kundang bukan lagi sekedar tokoh, melainkan mekanisme kultural. Bekerja sebagai alat disiplin sosial, sebagai cara adat mengatur tubuh dan kehendak. Jika dahulu Malin kundang adalah laki-laki yang pergi terlalu jauh dan lupa pulang, kini “Malin Kundang”  bisa bearti diperuntukkan kepada siapa saja, terutama perempuan yang tidak tunduk, tidak patuh, dan tidak diam.

Kesadaran ini, memperkuat argumen bahwa budaya rantau tidak pernah netral secara gender. Laki-laki yang merantau, sering diposisikan sebagai subjek yang berani dan dewasa, sementara perempuan yang memutuskan  hal serupa dibaca sebagai ancaman terhadap tatanan. Dalam situasi ini, perempuan berada dalam posisi paradoks: mereka secara simbolik dimuliakan sebagai pemilik harta pusaka dan penjaga rumah gadang, tetapi secara praksis dibatasi ruang geraknya. 

Label “Anak Durhaka” bekerja sebagai sanksi simbolik yang sangat efektif tidak membutuhkan hukuman fisik, cukup dengan rasa bersalah. Cukup rasa takut kehilangan legitimasi sebagai anak, sebagai kemenakan, sebagai bagian dari kaum. Dengan cara ini, adat tidak perlu melarang secara eksplisit ia cukup mengingatkan secara cerita, mitos, dan kata-kata yang diwariskan dari generasi ke generasi hinga menghantui anak-anak muda untuk bergerak, bertindak, dan memilih.

Perempuan Minangkabau tumbuh dengan negosiasi dan perdebatan batin yang sunyi: antara keinginan untuk memilih dan ketakutan diangap durhaka. Antara Hasrat untuk bergerak dan tuntutan karena telah menjadi penyangga nilai. Di sinilah, istilah Malin Kundang bertransformasi dari mitos padagogis menjadi alat kontrol.

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

Maka, membaca Malin Kundang hari ini bukan  sekedar upaya yang bagaimana pertunjukan itu hadir dan tumbuh dari ruang akademik dan atau non akademik sebagaimana percakapan didalam pendiskusian panjang itu melainkan kebutuhan etis yang dapat dipertanggungjawabkan kelayakan pertunjukkanya.

Hal itu perlu dipertanyakan dan perlu ditelisik lebih jauh.  Dengan sebuah pertanyaan : Apakah adat  memberi ruang bagi seseoang untuk memilih tanpa harus kehilangan pengakuan? Atau justru modrenitaslah yang memaksa perempuan dan laki-laki bergerak, sementara adat tertinggal sebagai suara yang terus menuduh? Kesadaran ini menjadi titik penting. Apakah memungkinkan seseorang untuk mengungkap kegelisahan yang sering kali tidak mendapakan ruang dalam diskursus adat, lalu, siapa saja berhak menjadi subjek penuh atas hidupnya sendiri tanpa harus dikutuk oleh mitos yang seharusnya bisa ditafsir ulang.

Ucapan tersebut tidak pernah berdiri sendiri, hadir dari sistem  nilai yang sudah lama bekerja dan diwariskan  tanpa banyak dipertanyakan. Ketika seseorang perempuan Minangkabau mengambil jarak dari kampung halaman, secara fisik maupun cara berpikir yang dipersoalkan, tetapi keberanian untuk menegosiasikan adat. Pada titik itu, Malin Kundang hadir bukan sebagi cerita, melainkan sebagai peringatan, batas yang tidak boleh dilampaui.

Pengalaman ini bersifat kolektif, meski sering dirasakan secara individual. Banyak perempuan Minangkabau tumbuh dengan tubuh yang terus menerus yang diawasi oleh Bahasa: Cara berbicara, cara berpakaian cara memilih pasangan, cara menentukan masa depan. Ketika pilihan-pilihan itu tidak sejalan dengan harapan keluarga dengan kaum, mitos Malin Kundang menjadi alat legitimasi dan rasa takut diangap tidak tahu diri. Disinilah relasi kuasa antara adat dan gender bekerja dengan sangat halus. Perempuan seolah diberi kehormatan, sebagai pemilih  garis keturunan, tetapi kehormatan itu sekaligus menjadi beban. Ia harus menjaga, mempertahankan, dan mengorbankan diri demi kesinambungan nilai.

Modrenitas tidak serta-merta membebaskan perempuan  dari tekanan ini. Justru ditengah tuntutan mandiri, berpendidikan dan produktif. Disisi lain juga didorong untuk maju, selebihnya mereka diikat  oleh narasi adat yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi pilihan individual. Ketegangan inilah yang  membuat cerita malin kundang melaui pertunjukan  Malin Kundang Lirih menjadi sangat relevan  hari ini,  Malin Kundang yang mengukapkan keluh kesah sebagai anak yang dikutuk  yang harus yang  menyuarakan, tidak hanya pada laki-laki melainkan juga bagi perempuan.

Kisah Malin Kundang  adalah arsip  kuktural tentang siapa yang boleh merantau, siapa yang yang harus tinggal  hal ini  menandai siapa yang dianggap patuh dan siapa yang melampaui batas. Hukuman bukan hanya pengucilan simbolik melainkan juga keretakan relasi  dengan keluarga, dengan kaum bahkan dengan dirinya sendiri.

Makna kata “Pulang”  juga tidak diartikan kembali, melainkan juga  sebagai  proses berdialog, berjarak atau bahkan berbeda. Urgensi inilah yang membuat saya terus membaca ulang “Malin Kundang” bukan untuk meniadakan adat, tetapi untuk mengajukan pertanyaan kritis terhadap cara adat berkerja dan tumbuh  dalam tubuh perempuan  atau bahkan laki-laki di Minangkabau hari ini.  Jika adat adalah sesuatu yang hidup, maka seharusnya mampu mendengar kegelisahan generasinya, bukan hanya mengulang mitos sebagai alat pembungkaman. [T]

Penulis: Helvi Carnelis
Editor: Adnyana Ole

Tags: Malin Kundangseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Next Post

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Helvi Carnelis

Helvi Carnelis

Lahir di Pariaman pada 10 Januari 1996. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang menjadikan pengalaman dan ketertarikannya pada dunia seni sebagai sumber inspirasi dalam berkarya. Selain aktif menulis, Helvi juga memiliki latar belakang di bidang Seni Peran, Sutradara, masih aktif dalam manajemen produksi seni pertunjukan yang telah membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengalaman tersebut turut memperkaya sudut pandangnya dalam membangun cerita dan karakter dalam tulisannya.

Related Posts

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails
Next Post
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co