14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
in Ulas Pentas
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka, entah berada di mana, di rumah, di ruang keluarga, di dapur atau restoran, di jalan pulang atau jalan pergi. Atau tak tahu lagi manusia entah berada di negeri yang mana.

Pertunjukan musikal ini hadir dengan segenap tawaran yang memungkinkan kita duduk merenungi diri sendiri, menegakkan arah diri, dan bangkit kembali. Sebuah pesan, mimpi harus dipeluk kembali dan dirayakan dengan berani.

Saya menyaksikan pentas musikal Perahu Kertas itu, Minggu, 15 Februari 2026. Itu pertunjukan ke-20 dari 21 total pertunjukan musikal Perahu Kertas yang terjadi sejak 30 Januari.

Saya diundang secara khusus oleh Dee Lestari, dengan tiket VIP, saya menyiapkan diri berangkat dari Singaraja sehari sebelumnya. Dan saya benar-benar ingin mengabadikan pengalaman menonton musikal dengan serius dan sekaligus bahagia.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Ketakjuban saya saat pentas itu sudah terjadi sejak layar panggung terangkat. Lalu panggung seakan terbuka seperti cakrawala yang luas. Pertunjukan diawali dengan penampilan Dee Lestari. Ia memberi pengantar tentang karya ini.

Lalu Dee menyanyikan lagu Perahu Kertas dengan sangat baik, menyentuh dan magis. Penampilan pembuka ini disambut hangat oleh semua audiens yang memadati teater. Daya tampung gedung ini kira-kira 1.200 penonton. Full, namun nyaman dan tenang.

Cerita mengalir kemudian. Karakter Kugy dan Keenan diperkenalkan sebagai mahasiswa baru yang menentang Ospek. Kugy yang bercita-cita sebagai pendongeng, dan Keenan yang bercita-cita sebagai pelukis namun dipaksa sebagai pebisnis.

Cerita mengalir kembali bagaimana cinta, passion harus mengalah demi realitas. Dengan cahaya dan musik yang memanjakan visual dan audio yang sungguh memikat, kita diajak mengarungi kompleksitas hidup Kugy dan Keenan yang mulai menemui realitas pekerjaan, Kugy dengan pekerjaan sebagai staf di perusahaan agensi, dan Keenan di bisnis orang tuanya.

Pada klimaksnya,  soal cinta menjadi salah satu alasan cerita terus bergerak. Seperti panggung yang terus bergerak, dengan cahaya yang hidup dan koreografi tari dan musik yang apik, hidup Kugy dan Keenan selalu bergerak. Pada akhirnya tiba di titik yang menemukan kembali cinta mereka pada seni dan cinta mereka pada mimpi mereka sendiri yang diwujudkan bersama.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Yang menarik dari musikal ini adalah selipan karakter Noni dan Eko yang menjadi representasi dari masyarakat yang realis, humoris dan juga kritis metaforis. Mereka menghadirkan kekuatan masyarakat sebagai daya dukung utama dari individu yang punya mimpi.

Seni adalah sebuah cara menyampaikan pesan dengan indah. Manusia menghadirkan chaos dalam dirinya dengan cara estetis, metaforis, dan manis. Seni menghadirkan manusia yang chaos menjadi cosmos, sebuah tatanan baru yang mendefinisikan ulang semua tentang dirinya sebagai diri yang utuh. Dan seperti itulah pentas musikal Perahu Kertas ini menaburkan renungan, terutama kepada saya, juga barangkali kepada siapa saja.

Edwin Wilson dalam bukunya the Theater Experience menegaskan bahwa the subject of theater is human being. Subjek teater adalah manusia dan segala kemanusiaannya. Teater adalah sebuah cara menyampaikan realita dengan metafora panggung dan kisah yang melibatkan produksi total; aktor, naskah, musik, cahaya, kostum, makeup, dan artistik panggung berikut property dan alat pendukung lainnya.

Dengan subjek manusia, seni seharusnya tak pernah memiliki batas untuk melahirkan karya indah yang menggugah, dia harusnya selalu hadir sebagai alat cermin manusia yang jujur dan autentik.

Musikal Perahu Kertas hadir sebagai bagian dari masyarakat yang merindukan seni sebagai jalan menemukan diri sendiri.

Gagasan tentang mimpi, kenyataan, proses bertumbuh, dan proses menerima, semua adalah isu yang kita hadapi sehari-hari. Kita sebagai manusia sering merasa kalah, sering putus asa, sering hampa, namun bertahan adalah sebuah cara  alami untuk membangun diri kembali sebagai manusia.

Bahasa kadang tak mampu mengucapkan seberapa dalam sakit kita, seberapa nyaring kecemasan kita, seberapa rapuh jiwa kita, namun seni teater dalam konteks musikal Perahu Kertas ini mampu kembali menggugah kerapuhan kita dan merayakan kebangkitannya dengan manis.  Betapa seni memiliki daya itu, memungkinkan apa yang terlihat tak mungkin, menjadikan batasan sebagai harapan, dan menjadikan persoalan sebagai jalan keluar.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Sebagai seorang pengajar drama dan seorang penulis, saya melihat produksi ini sebagai sebuah karya yang monumental, rigid, dan efektif. Produksi ini melibatkan penulis naskah, sutradara, aktor, musisi, tim artistik panggung, cahaya, audio, kostum, make up, dan masih banyak lainnya. Ini adalah kerja kemanusiaan dan kerja kesenian yang total. Juga kerja ekonomi yang besar. Sebuah produksi tidak lahir dari imajinasi belaka. Dia lahir dari sebuah ekosistem kerja yang besar.

Yang merayakan semua ini adalah kita semua sebagai manusia.  Kerja-kerja sebagai manusia yang selalu dibenturkan dengan realita terkadang memadamkan api kita sebagai manusia. Apakah kita lahir sebagai pendongeng, pelukis, penulis, pendidik, atau yang lain. Kita adalah manusia produk waktu masa kini, yang ditentukan oleh chaos waktu, uang, tenggat pekerjaan, tuntutan, dan tanggung jawab yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehampaan yang panjang.

Melalui seni kehampaan itu dipaparkan dengan indah, dirangkul dan dihadirkan. Dibagikan. Untuk dirasakan kembali, diberikan makna baru dan dirasakan dalam konteks masing-masing.

Dee Lestari, menulis karya ini 30 tahun lalu, dan karya ini telah bermetamorfosis menjadi film, dan kini musikal. Pilihan musikal ini menjadi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat (penonton) saat ini yang tentu tak lagi sama dengan 30 tahun lalu, dimana kebutuhan mengapresiasi seni harus berkompetisi dengan banyak tantangan; social media, AI, tingkat literasi, dan sebagainya. Ia dituntut harus segar dan relevan, menjadi jembatan bagi semua yang terkait dengannya. Ia juga harus merangkum semua kegaduhan menjadi sebuah keutuhan yang manis, metaforis dan liris.

Bahasa verbal saja tak lagi cukup untuk menyampaikan realita sehingga dia perlu visual, audio, pergerakan panggung, koreo, hentakan dan kesunyian sekaligus, sehingga musikal hadir sebagai bahasa baru yang merangkum semuanya dengan cerdas. Dalam konteks filsafat Wittgenstein, bahasa harus menemui tantangannya untuk mengurai fakta, sehingga simbolisme akurat harus hadir sebagai kombinasi struktur fakta dan struktur bahasa, yang sama sekali tak sederhana. Saya pernah menulis ini di tatkala.co, tentang hal itu.

Bisa baca:

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Dalam konteks musikal Perahu Kertas, keterbatasan bahasa verbal dilengkapi dengan struktur lain seperti musik, visual, tari, artistik panggung, kostum, dan property lainnya. Hal-hal yang tak dapat diungkap bahkan oleh bahasa metafora digenapi oleh karya lain, sehingga menjadikannya ekosistem karya yang lengkap.

Dan lebih dari semuanya, sebuah pertunjukan ini melibatkan ratusan manusia yang menyihir ribuan manusia lainnya, dalam satu waktu bersamaan.

Saya bersama Dee Lestari usai pementasan

The theater experience, seperti dalam buku Edwin Wilson, membuat sebuah seni teater sebagai pertunjukan masih relevan di dunia yang sangat chaos dengan kehampaan manusia di tengah ekonomi yang juga tak baik-baik saja ini.

Kenapa dia masih relevan, karena presence of human being in the middle of others’ presence, kehadiran nyata di tengah masyarakat yang lelah, yang mendamaikan diri sendiri, tapi sesungguhnya tak benar-benar sendiri.

Sebagai sebuah ruang alternatif baru untuk healing, musikal menjadi sebuah pilihan yang bernas untuk menawar kepahitan hidup dan berdamai sejenak dengan realita, menyusun kembali mimpi dan mewujudkannya meski terasa getir dan sunyi.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Dee Lestari, setelah pertunjukan dalam percakapan singkat dengan saya mengatakan karya ini memang ditulis 30 tahun lalu tapi tetap memberi arti lagi dan lagi. Bagi saya, yang dengan cengeng mengakui menangis 3 kali sepanjang pertunjukan mengakui bahwa  Perahu Kertas adalah premis sederhana yang dikemas dengan sangat apik, merawat mimpi dengan upaya dan melalui semua rintangan dengan cara-cara bijaksana. Dan sekali lagi pasti ada alasan dan selalu ada alasan mengapa kita ada di dunia ini, dan kita hanya harus menemukannya, kini dan atau nanti.

Kehadiran musikal seperti menjadi sebuah alternatif liburan berbasis literasi yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya secara hangat dan absurd, sendiri namun bersama, bersama namun tetap tidak kehilangan makna sendiri. Selamat untuk semua tim produksi, kolaborasi Trinity Entertainment Network, Trinity Youth Symphony Orchestra, dan  Indonesia Kaya, juga semua audiens yang telah merayakan seni di Indonesia untuk terus hidup dan bercahaya kembali. [T]

Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dee Lestaridrama musikalmusikseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangan-Tangan Kecil, Semangat Besar: Ketika Lomba Mewarnai Membuka Perayaan HUT ke-17 Kesbam

Next Post

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails
Next Post
Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine's Day dan Imlek 2577 di DCC School

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co