14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
in Ulas Pentas
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka, entah berada di mana, di rumah, di ruang keluarga, di dapur atau restoran, di jalan pulang atau jalan pergi. Atau tak tahu lagi manusia entah berada di negeri yang mana.

Pertunjukan musikal ini hadir dengan segenap tawaran yang memungkinkan kita duduk merenungi diri sendiri, menegakkan arah diri, dan bangkit kembali. Sebuah pesan, mimpi harus dipeluk kembali dan dirayakan dengan berani.

Saya menyaksikan pentas musikal Perahu Kertas itu, Minggu, 15 Februari 2026. Itu pertunjukan ke-20 dari 21 total pertunjukan musikal Perahu Kertas yang terjadi sejak 30 Januari.

Saya diundang secara khusus oleh Dee Lestari, dengan tiket VIP, saya menyiapkan diri berangkat dari Singaraja sehari sebelumnya. Dan saya benar-benar ingin mengabadikan pengalaman menonton musikal dengan serius dan sekaligus bahagia.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Ketakjuban saya saat pentas itu sudah terjadi sejak layar panggung terangkat. Lalu panggung seakan terbuka seperti cakrawala yang luas. Pertunjukan diawali dengan penampilan Dee Lestari. Ia memberi pengantar tentang karya ini.

Lalu Dee menyanyikan lagu Perahu Kertas dengan sangat baik, menyentuh dan magis. Penampilan pembuka ini disambut hangat oleh semua audiens yang memadati teater. Daya tampung gedung ini kira-kira 1.200 penonton. Full, namun nyaman dan tenang.

Cerita mengalir kemudian. Karakter Kugy dan Keenan diperkenalkan sebagai mahasiswa baru yang menentang Ospek. Kugy yang bercita-cita sebagai pendongeng, dan Keenan yang bercita-cita sebagai pelukis namun dipaksa sebagai pebisnis.

Cerita mengalir kembali bagaimana cinta, passion harus mengalah demi realitas. Dengan cahaya dan musik yang memanjakan visual dan audio yang sungguh memikat, kita diajak mengarungi kompleksitas hidup Kugy dan Keenan yang mulai menemui realitas pekerjaan, Kugy dengan pekerjaan sebagai staf di perusahaan agensi, dan Keenan di bisnis orang tuanya.

Pada klimaksnya,  soal cinta menjadi salah satu alasan cerita terus bergerak. Seperti panggung yang terus bergerak, dengan cahaya yang hidup dan koreografi tari dan musik yang apik, hidup Kugy dan Keenan selalu bergerak. Pada akhirnya tiba di titik yang menemukan kembali cinta mereka pada seni dan cinta mereka pada mimpi mereka sendiri yang diwujudkan bersama.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Yang menarik dari musikal ini adalah selipan karakter Noni dan Eko yang menjadi representasi dari masyarakat yang realis, humoris dan juga kritis metaforis. Mereka menghadirkan kekuatan masyarakat sebagai daya dukung utama dari individu yang punya mimpi.

Seni adalah sebuah cara menyampaikan pesan dengan indah. Manusia menghadirkan chaos dalam dirinya dengan cara estetis, metaforis, dan manis. Seni menghadirkan manusia yang chaos menjadi cosmos, sebuah tatanan baru yang mendefinisikan ulang semua tentang dirinya sebagai diri yang utuh. Dan seperti itulah pentas musikal Perahu Kertas ini menaburkan renungan, terutama kepada saya, juga barangkali kepada siapa saja.

Edwin Wilson dalam bukunya the Theater Experience menegaskan bahwa the subject of theater is human being. Subjek teater adalah manusia dan segala kemanusiaannya. Teater adalah sebuah cara menyampaikan realita dengan metafora panggung dan kisah yang melibatkan produksi total; aktor, naskah, musik, cahaya, kostum, makeup, dan artistik panggung berikut property dan alat pendukung lainnya.

Dengan subjek manusia, seni seharusnya tak pernah memiliki batas untuk melahirkan karya indah yang menggugah, dia harusnya selalu hadir sebagai alat cermin manusia yang jujur dan autentik.

Musikal Perahu Kertas hadir sebagai bagian dari masyarakat yang merindukan seni sebagai jalan menemukan diri sendiri.

Gagasan tentang mimpi, kenyataan, proses bertumbuh, dan proses menerima, semua adalah isu yang kita hadapi sehari-hari. Kita sebagai manusia sering merasa kalah, sering putus asa, sering hampa, namun bertahan adalah sebuah cara  alami untuk membangun diri kembali sebagai manusia.

Bahasa kadang tak mampu mengucapkan seberapa dalam sakit kita, seberapa nyaring kecemasan kita, seberapa rapuh jiwa kita, namun seni teater dalam konteks musikal Perahu Kertas ini mampu kembali menggugah kerapuhan kita dan merayakan kebangkitannya dengan manis.  Betapa seni memiliki daya itu, memungkinkan apa yang terlihat tak mungkin, menjadikan batasan sebagai harapan, dan menjadikan persoalan sebagai jalan keluar.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Sebagai seorang pengajar drama dan seorang penulis, saya melihat produksi ini sebagai sebuah karya yang monumental, rigid, dan efektif. Produksi ini melibatkan penulis naskah, sutradara, aktor, musisi, tim artistik panggung, cahaya, audio, kostum, make up, dan masih banyak lainnya. Ini adalah kerja kemanusiaan dan kerja kesenian yang total. Juga kerja ekonomi yang besar. Sebuah produksi tidak lahir dari imajinasi belaka. Dia lahir dari sebuah ekosistem kerja yang besar.

Yang merayakan semua ini adalah kita semua sebagai manusia.  Kerja-kerja sebagai manusia yang selalu dibenturkan dengan realita terkadang memadamkan api kita sebagai manusia. Apakah kita lahir sebagai pendongeng, pelukis, penulis, pendidik, atau yang lain. Kita adalah manusia produk waktu masa kini, yang ditentukan oleh chaos waktu, uang, tenggat pekerjaan, tuntutan, dan tanggung jawab yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehampaan yang panjang.

Melalui seni kehampaan itu dipaparkan dengan indah, dirangkul dan dihadirkan. Dibagikan. Untuk dirasakan kembali, diberikan makna baru dan dirasakan dalam konteks masing-masing.

Dee Lestari, menulis karya ini 30 tahun lalu, dan karya ini telah bermetamorfosis menjadi film, dan kini musikal. Pilihan musikal ini menjadi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat (penonton) saat ini yang tentu tak lagi sama dengan 30 tahun lalu, dimana kebutuhan mengapresiasi seni harus berkompetisi dengan banyak tantangan; social media, AI, tingkat literasi, dan sebagainya. Ia dituntut harus segar dan relevan, menjadi jembatan bagi semua yang terkait dengannya. Ia juga harus merangkum semua kegaduhan menjadi sebuah keutuhan yang manis, metaforis dan liris.

Bahasa verbal saja tak lagi cukup untuk menyampaikan realita sehingga dia perlu visual, audio, pergerakan panggung, koreo, hentakan dan kesunyian sekaligus, sehingga musikal hadir sebagai bahasa baru yang merangkum semuanya dengan cerdas. Dalam konteks filsafat Wittgenstein, bahasa harus menemui tantangannya untuk mengurai fakta, sehingga simbolisme akurat harus hadir sebagai kombinasi struktur fakta dan struktur bahasa, yang sama sekali tak sederhana. Saya pernah menulis ini di tatkala.co, tentang hal itu.

Bisa baca:

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Dalam konteks musikal Perahu Kertas, keterbatasan bahasa verbal dilengkapi dengan struktur lain seperti musik, visual, tari, artistik panggung, kostum, dan property lainnya. Hal-hal yang tak dapat diungkap bahkan oleh bahasa metafora digenapi oleh karya lain, sehingga menjadikannya ekosistem karya yang lengkap.

Dan lebih dari semuanya, sebuah pertunjukan ini melibatkan ratusan manusia yang menyihir ribuan manusia lainnya, dalam satu waktu bersamaan.

Saya bersama Dee Lestari usai pementasan

The theater experience, seperti dalam buku Edwin Wilson, membuat sebuah seni teater sebagai pertunjukan masih relevan di dunia yang sangat chaos dengan kehampaan manusia di tengah ekonomi yang juga tak baik-baik saja ini.

Kenapa dia masih relevan, karena presence of human being in the middle of others’ presence, kehadiran nyata di tengah masyarakat yang lelah, yang mendamaikan diri sendiri, tapi sesungguhnya tak benar-benar sendiri.

Sebagai sebuah ruang alternatif baru untuk healing, musikal menjadi sebuah pilihan yang bernas untuk menawar kepahitan hidup dan berdamai sejenak dengan realita, menyusun kembali mimpi dan mewujudkannya meski terasa getir dan sunyi.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Dee Lestari, setelah pertunjukan dalam percakapan singkat dengan saya mengatakan karya ini memang ditulis 30 tahun lalu tapi tetap memberi arti lagi dan lagi. Bagi saya, yang dengan cengeng mengakui menangis 3 kali sepanjang pertunjukan mengakui bahwa  Perahu Kertas adalah premis sederhana yang dikemas dengan sangat apik, merawat mimpi dengan upaya dan melalui semua rintangan dengan cara-cara bijaksana. Dan sekali lagi pasti ada alasan dan selalu ada alasan mengapa kita ada di dunia ini, dan kita hanya harus menemukannya, kini dan atau nanti.

Kehadiran musikal seperti menjadi sebuah alternatif liburan berbasis literasi yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya secara hangat dan absurd, sendiri namun bersama, bersama namun tetap tidak kehilangan makna sendiri. Selamat untuk semua tim produksi, kolaborasi Trinity Entertainment Network, Trinity Youth Symphony Orchestra, dan  Indonesia Kaya, juga semua audiens yang telah merayakan seni di Indonesia untuk terus hidup dan bercahaya kembali. [T]

Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dee Lestaridrama musikalmusikseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangan-Tangan Kecil, Semangat Besar: Ketika Lomba Mewarnai Membuka Perayaan HUT ke-17 Kesbam

Next Post

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine's Day dan Imlek 2577 di DCC School

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co