13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
in Ulas Pentas
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka, entah berada di mana, di rumah, di ruang keluarga, di dapur atau restoran, di jalan pulang atau jalan pergi. Atau tak tahu lagi manusia entah berada di negeri yang mana.

Pertunjukan musikal ini hadir dengan segenap tawaran yang memungkinkan kita duduk merenungi diri sendiri, menegakkan arah diri, dan bangkit kembali. Sebuah pesan, mimpi harus dipeluk kembali dan dirayakan dengan berani.

Saya menyaksikan pentas musikal Perahu Kertas itu, Minggu, 15 Februari 2026. Itu pertunjukan ke-20 dari 21 total pertunjukan musikal Perahu Kertas yang terjadi sejak 30 Januari.

Saya diundang secara khusus oleh Dee Lestari, dengan tiket VIP, saya menyiapkan diri berangkat dari Singaraja sehari sebelumnya. Dan saya benar-benar ingin mengabadikan pengalaman menonton musikal dengan serius dan sekaligus bahagia.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Ketakjuban saya saat pentas itu sudah terjadi sejak layar panggung terangkat. Lalu panggung seakan terbuka seperti cakrawala yang luas. Pertunjukan diawali dengan penampilan Dee Lestari. Ia memberi pengantar tentang karya ini.

Lalu Dee menyanyikan lagu Perahu Kertas dengan sangat baik, menyentuh dan magis. Penampilan pembuka ini disambut hangat oleh semua audiens yang memadati teater. Daya tampung gedung ini kira-kira 1.200 penonton. Full, namun nyaman dan tenang.

Cerita mengalir kemudian. Karakter Kugy dan Keenan diperkenalkan sebagai mahasiswa baru yang menentang Ospek. Kugy yang bercita-cita sebagai pendongeng, dan Keenan yang bercita-cita sebagai pelukis namun dipaksa sebagai pebisnis.

Cerita mengalir kembali bagaimana cinta, passion harus mengalah demi realitas. Dengan cahaya dan musik yang memanjakan visual dan audio yang sungguh memikat, kita diajak mengarungi kompleksitas hidup Kugy dan Keenan yang mulai menemui realitas pekerjaan, Kugy dengan pekerjaan sebagai staf di perusahaan agensi, dan Keenan di bisnis orang tuanya.

Pada klimaksnya,  soal cinta menjadi salah satu alasan cerita terus bergerak. Seperti panggung yang terus bergerak, dengan cahaya yang hidup dan koreografi tari dan musik yang apik, hidup Kugy dan Keenan selalu bergerak. Pada akhirnya tiba di titik yang menemukan kembali cinta mereka pada seni dan cinta mereka pada mimpi mereka sendiri yang diwujudkan bersama.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Yang menarik dari musikal ini adalah selipan karakter Noni dan Eko yang menjadi representasi dari masyarakat yang realis, humoris dan juga kritis metaforis. Mereka menghadirkan kekuatan masyarakat sebagai daya dukung utama dari individu yang punya mimpi.

Seni adalah sebuah cara menyampaikan pesan dengan indah. Manusia menghadirkan chaos dalam dirinya dengan cara estetis, metaforis, dan manis. Seni menghadirkan manusia yang chaos menjadi cosmos, sebuah tatanan baru yang mendefinisikan ulang semua tentang dirinya sebagai diri yang utuh. Dan seperti itulah pentas musikal Perahu Kertas ini menaburkan renungan, terutama kepada saya, juga barangkali kepada siapa saja.

Edwin Wilson dalam bukunya the Theater Experience menegaskan bahwa the subject of theater is human being. Subjek teater adalah manusia dan segala kemanusiaannya. Teater adalah sebuah cara menyampaikan realita dengan metafora panggung dan kisah yang melibatkan produksi total; aktor, naskah, musik, cahaya, kostum, makeup, dan artistik panggung berikut property dan alat pendukung lainnya.

Dengan subjek manusia, seni seharusnya tak pernah memiliki batas untuk melahirkan karya indah yang menggugah, dia harusnya selalu hadir sebagai alat cermin manusia yang jujur dan autentik.

Musikal Perahu Kertas hadir sebagai bagian dari masyarakat yang merindukan seni sebagai jalan menemukan diri sendiri.

Gagasan tentang mimpi, kenyataan, proses bertumbuh, dan proses menerima, semua adalah isu yang kita hadapi sehari-hari. Kita sebagai manusia sering merasa kalah, sering putus asa, sering hampa, namun bertahan adalah sebuah cara  alami untuk membangun diri kembali sebagai manusia.

Bahasa kadang tak mampu mengucapkan seberapa dalam sakit kita, seberapa nyaring kecemasan kita, seberapa rapuh jiwa kita, namun seni teater dalam konteks musikal Perahu Kertas ini mampu kembali menggugah kerapuhan kita dan merayakan kebangkitannya dengan manis.  Betapa seni memiliki daya itu, memungkinkan apa yang terlihat tak mungkin, menjadikan batasan sebagai harapan, dan menjadikan persoalan sebagai jalan keluar.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Sebagai seorang pengajar drama dan seorang penulis, saya melihat produksi ini sebagai sebuah karya yang monumental, rigid, dan efektif. Produksi ini melibatkan penulis naskah, sutradara, aktor, musisi, tim artistik panggung, cahaya, audio, kostum, make up, dan masih banyak lainnya. Ini adalah kerja kemanusiaan dan kerja kesenian yang total. Juga kerja ekonomi yang besar. Sebuah produksi tidak lahir dari imajinasi belaka. Dia lahir dari sebuah ekosistem kerja yang besar.

Yang merayakan semua ini adalah kita semua sebagai manusia.  Kerja-kerja sebagai manusia yang selalu dibenturkan dengan realita terkadang memadamkan api kita sebagai manusia. Apakah kita lahir sebagai pendongeng, pelukis, penulis, pendidik, atau yang lain. Kita adalah manusia produk waktu masa kini, yang ditentukan oleh chaos waktu, uang, tenggat pekerjaan, tuntutan, dan tanggung jawab yang tidak menyisakan apa-apa kecuali kehampaan yang panjang.

Melalui seni kehampaan itu dipaparkan dengan indah, dirangkul dan dihadirkan. Dibagikan. Untuk dirasakan kembali, diberikan makna baru dan dirasakan dalam konteks masing-masing.

Dee Lestari, menulis karya ini 30 tahun lalu, dan karya ini telah bermetamorfosis menjadi film, dan kini musikal. Pilihan musikal ini menjadi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat (penonton) saat ini yang tentu tak lagi sama dengan 30 tahun lalu, dimana kebutuhan mengapresiasi seni harus berkompetisi dengan banyak tantangan; social media, AI, tingkat literasi, dan sebagainya. Ia dituntut harus segar dan relevan, menjadi jembatan bagi semua yang terkait dengannya. Ia juga harus merangkum semua kegaduhan menjadi sebuah keutuhan yang manis, metaforis dan liris.

Bahasa verbal saja tak lagi cukup untuk menyampaikan realita sehingga dia perlu visual, audio, pergerakan panggung, koreo, hentakan dan kesunyian sekaligus, sehingga musikal hadir sebagai bahasa baru yang merangkum semuanya dengan cerdas. Dalam konteks filsafat Wittgenstein, bahasa harus menemui tantangannya untuk mengurai fakta, sehingga simbolisme akurat harus hadir sebagai kombinasi struktur fakta dan struktur bahasa, yang sama sekali tak sederhana. Saya pernah menulis ini di tatkala.co, tentang hal itu.

Bisa baca:

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Dalam konteks musikal Perahu Kertas, keterbatasan bahasa verbal dilengkapi dengan struktur lain seperti musik, visual, tari, artistik panggung, kostum, dan property lainnya. Hal-hal yang tak dapat diungkap bahkan oleh bahasa metafora digenapi oleh karya lain, sehingga menjadikannya ekosistem karya yang lengkap.

Dan lebih dari semuanya, sebuah pertunjukan ini melibatkan ratusan manusia yang menyihir ribuan manusia lainnya, dalam satu waktu bersamaan.

Saya bersama Dee Lestari usai pementasan

The theater experience, seperti dalam buku Edwin Wilson, membuat sebuah seni teater sebagai pertunjukan masih relevan di dunia yang sangat chaos dengan kehampaan manusia di tengah ekonomi yang juga tak baik-baik saja ini.

Kenapa dia masih relevan, karena presence of human being in the middle of others’ presence, kehadiran nyata di tengah masyarakat yang lelah, yang mendamaikan diri sendiri, tapi sesungguhnya tak benar-benar sendiri.

Sebagai sebuah ruang alternatif baru untuk healing, musikal menjadi sebuah pilihan yang bernas untuk menawar kepahitan hidup dan berdamai sejenak dengan realita, menyusun kembali mimpi dan mewujudkannya meski terasa getir dan sunyi.

Pentas musikal Perahu Kertas, Minggu, 15 Februari 2026 | Foto: Sonia

Dee Lestari, setelah pertunjukan dalam percakapan singkat dengan saya mengatakan karya ini memang ditulis 30 tahun lalu tapi tetap memberi arti lagi dan lagi. Bagi saya, yang dengan cengeng mengakui menangis 3 kali sepanjang pertunjukan mengakui bahwa  Perahu Kertas adalah premis sederhana yang dikemas dengan sangat apik, merawat mimpi dengan upaya dan melalui semua rintangan dengan cara-cara bijaksana. Dan sekali lagi pasti ada alasan dan selalu ada alasan mengapa kita ada di dunia ini, dan kita hanya harus menemukannya, kini dan atau nanti.

Kehadiran musikal seperti menjadi sebuah alternatif liburan berbasis literasi yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya secara hangat dan absurd, sendiri namun bersama, bersama namun tetap tidak kehilangan makna sendiri. Selamat untuk semua tim produksi, kolaborasi Trinity Entertainment Network, Trinity Youth Symphony Orchestra, dan  Indonesia Kaya, juga semua audiens yang telah merayakan seni di Indonesia untuk terus hidup dan bercahaya kembali. [T]

Penulis: Kadek Sonia Piscayanti
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dee Lestaridrama musikalmusikseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangan-Tangan Kecil, Semangat Besar: Ketika Lomba Mewarnai Membuka Perayaan HUT ke-17 Kesbam

Next Post

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine’s Day dan Imlek 2577 di DCC School

Tari Barongsai, Bazar dan Tukar Kado pada Perayaan Valentine's Day dan Imlek 2577 di DCC School

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co