2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
January 6, 2021
in Esai
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Wittgenstein [Foto Google]

Jika anda adalah pelaku filsafat dan penggemar teori filsafat maka tentu anda tak akan asing dengan nama Wittgenstein. Tokoh filsafat asal Austria ini sangat termashyur dengan teorinya yang dituangkan dalam buku Tractatus Logico Philosophicus. Buku ini adalah salah satu buku filsafat yang sangat penting di dalam perjalanan filsafat terutama soal teori makna di abad 20.

Tractatus Logico Philosophicus adalah versi terjemahan Bahasa Inggris dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman berjudul  Logisch-Philosophische Abhandlung, terbit di tahun 1921.

Tebal buku ini ‘hanya’ 75 halaman saja, namun isinya benar-benar membuat kita (penggemar filsafat) jatuh cinta. Pengantar dalam buku ini ditulis oleh Bertrand Russel, sang guru filsafat Wittgenstein yang jatuh cinta pada pemikiran muridnya sendiri. Begini kebanggaan Russel ia tulis dalam pengantar buku ini, pada kalimat pembuka pengantarnya,

“Mr Wittgenstein’s Tractatus Logico-Philosophicus, whether or not it prove to give the ultimate truth on the matters with which it deals, certainly deserves, by its breadth and scope and profundity, to be considered an important event in the philosophical world.”

Bagaimana seorang guru dapat memuji seorang murid sedemikian rupa padahal sang guru juga adalah mahaguru yang sangat terpuji? Sungguh sebuah ketulusan intelektual dan spiritual yang bisa ditunjukkan oleh seorang Bertrand Russel.

Dalam pengantarnya yang sangat gemilang dan terang benderang, Russel mengatakan bahwa sebelum kita dapat memahami buku Wittgenstein maka kita harus memahami persoalan yang dibahas oleh Wittgenstein. Dalam teori Wittgenstein yang berhubungan dengan Symbolism, ia membahas beberapa kondisi yang harus dipenuhi oleh sebuah bahasa yang logis sempurna. Padahal, apakah logis sempurna itu ada?

Russel menyebutkan beberapa persoalan bahasa. Pertama, ada persoalan antara apa yang terjadi pada pikiran kita dengan bahasa yang kita gunakan untuk mencapai makna tertentu. Kedua, ada persoalan hubungan antara pikiran, kata-kata, kalimat, dengan apa yang kita acu atau maksud. Ketiga adalah persoalan menggunakan kalimat untuk menggambarkan kebenaran daripada ketidakbenaran. Keempat, bagaimana sebuah kalimat mampu menjadi simbol bagi sebuah fakta?

Yang keempat inilah yang dimaksud sebagai logika bahasa yang dibahas oleh Wittgenstein. Sebab dalam praktiknya, bahasa sangat abu-abu, sangat ragu, dan sangat tidak bisa dibuat akurat, dan inilah yang menyebabkan bahasa tidak pernah benar-benar dapat menjelaskan dengan presisi sebuah fakta.

Jadi, Wittgenstein ingin menemukan Symbolism yang akurat, meskipun secara logika ia ditantang dua masalah dalam logika, pertama; masalah sense kombinasi simbol, kedua; masalah makna atau referensi dalam simbol dan kombinasi simbol. Rumitnya persoalan ini ingin dipecahkan oleh Wittgenstein dengan sebuah pendekatan yang ideal yang paling mendekati logis sempurna.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Menurut Russel tesis fundamental yang diajukan oleh Wittgenstein adalah bahwa untuk menuju logis sempurna – harus ada kesamaan antara struktur bahasa dengan struktur fakta. Secara “sederhana” menurut Wittgenstein, tidak ada sesuatu yang sederhana dapat diwakili oleh sesuatu yang tidak sederhana, sebaliknya tidak ada yang tidak sederhana dapat diwakili oleh yang sederhana. Sangat “sederhana” bukan?

Ternyata memang, se”sederhana” itu. Menurut Wittgenstein, yang kompleks adalah fakta. Sebuah fakta dapat berdiri sendiri atau tunggal dan sebuah fakta dapat terdiri dari beberapa fakta. Fakta tunggal disebut sebagai Sachverhalte, sementara fakta yang terdiri dari beberapa fakta disebut Tatsache. Contohnya sebuah kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak”. Kalimat ini adalah sebuah Sachverhalte sekaligus Tatsache namun kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak dan Plato adalah muridnya” tergolong Tatsache namun bukan Sachverhalte.

Dalam teorinya yang terkait dengan Symbolism, Wittgenstein menulis

(2.1): ‘We make to ourselves pictures of facts.’

Kita membuat gambar fakta kepada diri kita sendiri. Gambar menurut Wittgenstein adalah sebuah model realitas. Ada kesamaan antara elemen gambar dan realitas yang diwakilinya. Menurut Wittgenstein filosofi hanya dapat membahas apa yang dapat ditunjukkan di dalam realita. Seperti fakta dan gambar yang mewakilinya secara logis.

Wittgenstein meyakini bahwa objek filosofi adalah klarifikasi logis pikiran. Jadi pemikiran yang buram atau tidak jelas harus disingkirkan.

Dalam pengantar bukunya Wittgenstein membuka dengan kalimat seperti ini,

“Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it—or at least similar thoughts.—So it is not a textbook.—Its purpose would be achieved if it gave pleasure to one person who read and understood it.”

Dia meyakini bahwa tujuan bukunya hanya akan tercapai jika pembacanya terhibur dan memahami pemikirannya. Jadi tidak muluk-muluk dia mengatakan bahwa idenya ini hanya dapat diterima oleh yang satu ide dengannya.

Dia juga menyebut dua inspirasi dalam pengantarnya yaitu Frege dan Russel yang membantu menstimulasi pikiran-pikirannya.

Dalam penutup pengantarnya ia menyebutkan, “I therefore believe myself to have found, on all essential points, the final solution of the problems. And if I am not mistaken in this belief, then the second thing in which the value of this work consists is that it shows how little is achieved when these problems are solved. L. W”

Betapa percaya dirinya ia ketika mengatakan ia telah menemukan esensi solusi persoalan sekaligus betapa rendah hatinya ia mengatakan bahwa ketika semua persoalan selesai, ternyata sangat sedikit yang ia capai.

Berikut adalah beberapa pemikiran Wittgenstein di dalam Tractatus Logico Philosophicus yang layak kita renungi. Di dalam traktat ini Wittgenstein menyusun pemikirannya seperti line atau baris puisi yang bernomor. Tidak ada penjelasan, hanya pemikiran.


1* The world is all that is the case.

  1. The world is the totality of facts, not of things.

1.11 The world is determined by the facts, and by their being all the facts.


Di bagian pertama ini ia menyatakan dan meyakinkan dengan dalilnya bahwa dunia adalah totalitas fakta bukan benda. Dan bahwa dunia ditentukan oleh fakta-fakta.

Lalu berikutnya dalil kedua-hingga ketujuh adalah sebagai berikut.

2. What is the case—a fact—is the existence of states of affairs.

3. A logical picture of fact is the thought.

4. A thought is a proposition with a sense.

5. A proposition is a truth-function of elementary propositions.

6. The general form of a truth-function is [p¯, ξ – , N(ξ – )].

7. What we cannot speak about we must pass over in silence.


Namun yang paling menghentak tentu dalil ketujuh, yang tidak seperti dalil 1-6 diikuti butir-butir dalil yang detail dan rigid dalam urutan angka desimal, dalil ketujuh hadir sendiri, percaya diri. Wittgenstein seolah mengejek dunia dengan dalilnya yang ketujuh, bahwa apa yang tak dapat kita katakan, kita harus lempar ke dalam sunyi.

Tak ada kalimat penutup sekuat itu, bahkan dalam puisi. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang keras kepala, yang kemudian ditentang banyak filsuf lainnya. Karena ia berbeda, dan tentu saja, ia pun juga kelak menentang dirinya sendiri. Namun apapun itu, seperti kata penutupnya, diamlah dalam sunyi jika tak paham, saya pun akan menutup ini dalam sunyi. Sesunyi malam yang tak berlogika ini. [T]

Singaraja, 6 Januari 2021

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Next Post

Pengendara di Persimpangan Sikap

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pengendara di Persimpangan Sikap

Pengendara di Persimpangan Sikap

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co