14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
January 6, 2021
in Esai
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Wittgenstein [Foto Google]

Jika anda adalah pelaku filsafat dan penggemar teori filsafat maka tentu anda tak akan asing dengan nama Wittgenstein. Tokoh filsafat asal Austria ini sangat termashyur dengan teorinya yang dituangkan dalam buku Tractatus Logico Philosophicus. Buku ini adalah salah satu buku filsafat yang sangat penting di dalam perjalanan filsafat terutama soal teori makna di abad 20.

Tractatus Logico Philosophicus adalah versi terjemahan Bahasa Inggris dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman berjudul  Logisch-Philosophische Abhandlung, terbit di tahun 1921.

Tebal buku ini ‘hanya’ 75 halaman saja, namun isinya benar-benar membuat kita (penggemar filsafat) jatuh cinta. Pengantar dalam buku ini ditulis oleh Bertrand Russel, sang guru filsafat Wittgenstein yang jatuh cinta pada pemikiran muridnya sendiri. Begini kebanggaan Russel ia tulis dalam pengantar buku ini, pada kalimat pembuka pengantarnya,

“Mr Wittgenstein’s Tractatus Logico-Philosophicus, whether or not it prove to give the ultimate truth on the matters with which it deals, certainly deserves, by its breadth and scope and profundity, to be considered an important event in the philosophical world.”

Bagaimana seorang guru dapat memuji seorang murid sedemikian rupa padahal sang guru juga adalah mahaguru yang sangat terpuji? Sungguh sebuah ketulusan intelektual dan spiritual yang bisa ditunjukkan oleh seorang Bertrand Russel.

Dalam pengantarnya yang sangat gemilang dan terang benderang, Russel mengatakan bahwa sebelum kita dapat memahami buku Wittgenstein maka kita harus memahami persoalan yang dibahas oleh Wittgenstein. Dalam teori Wittgenstein yang berhubungan dengan Symbolism, ia membahas beberapa kondisi yang harus dipenuhi oleh sebuah bahasa yang logis sempurna. Padahal, apakah logis sempurna itu ada?

Russel menyebutkan beberapa persoalan bahasa. Pertama, ada persoalan antara apa yang terjadi pada pikiran kita dengan bahasa yang kita gunakan untuk mencapai makna tertentu. Kedua, ada persoalan hubungan antara pikiran, kata-kata, kalimat, dengan apa yang kita acu atau maksud. Ketiga adalah persoalan menggunakan kalimat untuk menggambarkan kebenaran daripada ketidakbenaran. Keempat, bagaimana sebuah kalimat mampu menjadi simbol bagi sebuah fakta?

Yang keempat inilah yang dimaksud sebagai logika bahasa yang dibahas oleh Wittgenstein. Sebab dalam praktiknya, bahasa sangat abu-abu, sangat ragu, dan sangat tidak bisa dibuat akurat, dan inilah yang menyebabkan bahasa tidak pernah benar-benar dapat menjelaskan dengan presisi sebuah fakta.

Jadi, Wittgenstein ingin menemukan Symbolism yang akurat, meskipun secara logika ia ditantang dua masalah dalam logika, pertama; masalah sense kombinasi simbol, kedua; masalah makna atau referensi dalam simbol dan kombinasi simbol. Rumitnya persoalan ini ingin dipecahkan oleh Wittgenstein dengan sebuah pendekatan yang ideal yang paling mendekati logis sempurna.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Menurut Russel tesis fundamental yang diajukan oleh Wittgenstein adalah bahwa untuk menuju logis sempurna – harus ada kesamaan antara struktur bahasa dengan struktur fakta. Secara “sederhana” menurut Wittgenstein, tidak ada sesuatu yang sederhana dapat diwakili oleh sesuatu yang tidak sederhana, sebaliknya tidak ada yang tidak sederhana dapat diwakili oleh yang sederhana. Sangat “sederhana” bukan?

Ternyata memang, se”sederhana” itu. Menurut Wittgenstein, yang kompleks adalah fakta. Sebuah fakta dapat berdiri sendiri atau tunggal dan sebuah fakta dapat terdiri dari beberapa fakta. Fakta tunggal disebut sebagai Sachverhalte, sementara fakta yang terdiri dari beberapa fakta disebut Tatsache. Contohnya sebuah kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak”. Kalimat ini adalah sebuah Sachverhalte sekaligus Tatsache namun kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak dan Plato adalah muridnya” tergolong Tatsache namun bukan Sachverhalte.

Dalam teorinya yang terkait dengan Symbolism, Wittgenstein menulis

(2.1): ‘We make to ourselves pictures of facts.’

Kita membuat gambar fakta kepada diri kita sendiri. Gambar menurut Wittgenstein adalah sebuah model realitas. Ada kesamaan antara elemen gambar dan realitas yang diwakilinya. Menurut Wittgenstein filosofi hanya dapat membahas apa yang dapat ditunjukkan di dalam realita. Seperti fakta dan gambar yang mewakilinya secara logis.

Wittgenstein meyakini bahwa objek filosofi adalah klarifikasi logis pikiran. Jadi pemikiran yang buram atau tidak jelas harus disingkirkan.

Dalam pengantar bukunya Wittgenstein membuka dengan kalimat seperti ini,

“Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it—or at least similar thoughts.—So it is not a textbook.—Its purpose would be achieved if it gave pleasure to one person who read and understood it.”

Dia meyakini bahwa tujuan bukunya hanya akan tercapai jika pembacanya terhibur dan memahami pemikirannya. Jadi tidak muluk-muluk dia mengatakan bahwa idenya ini hanya dapat diterima oleh yang satu ide dengannya.

Dia juga menyebut dua inspirasi dalam pengantarnya yaitu Frege dan Russel yang membantu menstimulasi pikiran-pikirannya.

Dalam penutup pengantarnya ia menyebutkan, “I therefore believe myself to have found, on all essential points, the final solution of the problems. And if I am not mistaken in this belief, then the second thing in which the value of this work consists is that it shows how little is achieved when these problems are solved. L. W”

Betapa percaya dirinya ia ketika mengatakan ia telah menemukan esensi solusi persoalan sekaligus betapa rendah hatinya ia mengatakan bahwa ketika semua persoalan selesai, ternyata sangat sedikit yang ia capai.

Berikut adalah beberapa pemikiran Wittgenstein di dalam Tractatus Logico Philosophicus yang layak kita renungi. Di dalam traktat ini Wittgenstein menyusun pemikirannya seperti line atau baris puisi yang bernomor. Tidak ada penjelasan, hanya pemikiran.


1* The world is all that is the case.

  1. The world is the totality of facts, not of things.

1.11 The world is determined by the facts, and by their being all the facts.


Di bagian pertama ini ia menyatakan dan meyakinkan dengan dalilnya bahwa dunia adalah totalitas fakta bukan benda. Dan bahwa dunia ditentukan oleh fakta-fakta.

Lalu berikutnya dalil kedua-hingga ketujuh adalah sebagai berikut.

2. What is the case—a fact—is the existence of states of affairs.

3. A logical picture of fact is the thought.

4. A thought is a proposition with a sense.

5. A proposition is a truth-function of elementary propositions.

6. The general form of a truth-function is [p¯, ξ – , N(ξ – )].

7. What we cannot speak about we must pass over in silence.


Namun yang paling menghentak tentu dalil ketujuh, yang tidak seperti dalil 1-6 diikuti butir-butir dalil yang detail dan rigid dalam urutan angka desimal, dalil ketujuh hadir sendiri, percaya diri. Wittgenstein seolah mengejek dunia dengan dalilnya yang ketujuh, bahwa apa yang tak dapat kita katakan, kita harus lempar ke dalam sunyi.

Tak ada kalimat penutup sekuat itu, bahkan dalam puisi. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang keras kepala, yang kemudian ditentang banyak filsuf lainnya. Karena ia berbeda, dan tentu saja, ia pun juga kelak menentang dirinya sendiri. Namun apapun itu, seperti kata penutupnya, diamlah dalam sunyi jika tak paham, saya pun akan menutup ini dalam sunyi. Sesunyi malam yang tak berlogika ini. [T]

Singaraja, 6 Januari 2021

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Next Post

Pengendara di Persimpangan Sikap

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Pengendara di Persimpangan Sikap

Pengendara di Persimpangan Sikap

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co