23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
January 6, 2021
in Esai
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Wittgenstein [Foto Google]

Jika anda adalah pelaku filsafat dan penggemar teori filsafat maka tentu anda tak akan asing dengan nama Wittgenstein. Tokoh filsafat asal Austria ini sangat termashyur dengan teorinya yang dituangkan dalam buku Tractatus Logico Philosophicus. Buku ini adalah salah satu buku filsafat yang sangat penting di dalam perjalanan filsafat terutama soal teori makna di abad 20.

Tractatus Logico Philosophicus adalah versi terjemahan Bahasa Inggris dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman berjudul  Logisch-Philosophische Abhandlung, terbit di tahun 1921.

Tebal buku ini ‘hanya’ 75 halaman saja, namun isinya benar-benar membuat kita (penggemar filsafat) jatuh cinta. Pengantar dalam buku ini ditulis oleh Bertrand Russel, sang guru filsafat Wittgenstein yang jatuh cinta pada pemikiran muridnya sendiri. Begini kebanggaan Russel ia tulis dalam pengantar buku ini, pada kalimat pembuka pengantarnya,

“Mr Wittgenstein’s Tractatus Logico-Philosophicus, whether or not it prove to give the ultimate truth on the matters with which it deals, certainly deserves, by its breadth and scope and profundity, to be considered an important event in the philosophical world.”

Bagaimana seorang guru dapat memuji seorang murid sedemikian rupa padahal sang guru juga adalah mahaguru yang sangat terpuji? Sungguh sebuah ketulusan intelektual dan spiritual yang bisa ditunjukkan oleh seorang Bertrand Russel.

Dalam pengantarnya yang sangat gemilang dan terang benderang, Russel mengatakan bahwa sebelum kita dapat memahami buku Wittgenstein maka kita harus memahami persoalan yang dibahas oleh Wittgenstein. Dalam teori Wittgenstein yang berhubungan dengan Symbolism, ia membahas beberapa kondisi yang harus dipenuhi oleh sebuah bahasa yang logis sempurna. Padahal, apakah logis sempurna itu ada?

Russel menyebutkan beberapa persoalan bahasa. Pertama, ada persoalan antara apa yang terjadi pada pikiran kita dengan bahasa yang kita gunakan untuk mencapai makna tertentu. Kedua, ada persoalan hubungan antara pikiran, kata-kata, kalimat, dengan apa yang kita acu atau maksud. Ketiga adalah persoalan menggunakan kalimat untuk menggambarkan kebenaran daripada ketidakbenaran. Keempat, bagaimana sebuah kalimat mampu menjadi simbol bagi sebuah fakta?

Yang keempat inilah yang dimaksud sebagai logika bahasa yang dibahas oleh Wittgenstein. Sebab dalam praktiknya, bahasa sangat abu-abu, sangat ragu, dan sangat tidak bisa dibuat akurat, dan inilah yang menyebabkan bahasa tidak pernah benar-benar dapat menjelaskan dengan presisi sebuah fakta.

Jadi, Wittgenstein ingin menemukan Symbolism yang akurat, meskipun secara logika ia ditantang dua masalah dalam logika, pertama; masalah sense kombinasi simbol, kedua; masalah makna atau referensi dalam simbol dan kombinasi simbol. Rumitnya persoalan ini ingin dipecahkan oleh Wittgenstein dengan sebuah pendekatan yang ideal yang paling mendekati logis sempurna.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Menurut Russel tesis fundamental yang diajukan oleh Wittgenstein adalah bahwa untuk menuju logis sempurna – harus ada kesamaan antara struktur bahasa dengan struktur fakta. Secara “sederhana” menurut Wittgenstein, tidak ada sesuatu yang sederhana dapat diwakili oleh sesuatu yang tidak sederhana, sebaliknya tidak ada yang tidak sederhana dapat diwakili oleh yang sederhana. Sangat “sederhana” bukan?

Ternyata memang, se”sederhana” itu. Menurut Wittgenstein, yang kompleks adalah fakta. Sebuah fakta dapat berdiri sendiri atau tunggal dan sebuah fakta dapat terdiri dari beberapa fakta. Fakta tunggal disebut sebagai Sachverhalte, sementara fakta yang terdiri dari beberapa fakta disebut Tatsache. Contohnya sebuah kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak”. Kalimat ini adalah sebuah Sachverhalte sekaligus Tatsache namun kalimat “Socrates adalah seorang yang bijak dan Plato adalah muridnya” tergolong Tatsache namun bukan Sachverhalte.

Dalam teorinya yang terkait dengan Symbolism, Wittgenstein menulis

(2.1): ‘We make to ourselves pictures of facts.’

Kita membuat gambar fakta kepada diri kita sendiri. Gambar menurut Wittgenstein adalah sebuah model realitas. Ada kesamaan antara elemen gambar dan realitas yang diwakilinya. Menurut Wittgenstein filosofi hanya dapat membahas apa yang dapat ditunjukkan di dalam realita. Seperti fakta dan gambar yang mewakilinya secara logis.

Wittgenstein meyakini bahwa objek filosofi adalah klarifikasi logis pikiran. Jadi pemikiran yang buram atau tidak jelas harus disingkirkan.

Dalam pengantar bukunya Wittgenstein membuka dengan kalimat seperti ini,

“Perhaps this book will be understood only by someone who has himself already had the thoughts that are expressed in it—or at least similar thoughts.—So it is not a textbook.—Its purpose would be achieved if it gave pleasure to one person who read and understood it.”

Dia meyakini bahwa tujuan bukunya hanya akan tercapai jika pembacanya terhibur dan memahami pemikirannya. Jadi tidak muluk-muluk dia mengatakan bahwa idenya ini hanya dapat diterima oleh yang satu ide dengannya.

Dia juga menyebut dua inspirasi dalam pengantarnya yaitu Frege dan Russel yang membantu menstimulasi pikiran-pikirannya.

Dalam penutup pengantarnya ia menyebutkan, “I therefore believe myself to have found, on all essential points, the final solution of the problems. And if I am not mistaken in this belief, then the second thing in which the value of this work consists is that it shows how little is achieved when these problems are solved. L. W”

Betapa percaya dirinya ia ketika mengatakan ia telah menemukan esensi solusi persoalan sekaligus betapa rendah hatinya ia mengatakan bahwa ketika semua persoalan selesai, ternyata sangat sedikit yang ia capai.

Berikut adalah beberapa pemikiran Wittgenstein di dalam Tractatus Logico Philosophicus yang layak kita renungi. Di dalam traktat ini Wittgenstein menyusun pemikirannya seperti line atau baris puisi yang bernomor. Tidak ada penjelasan, hanya pemikiran.


1* The world is all that is the case.

  1. The world is the totality of facts, not of things.

1.11 The world is determined by the facts, and by their being all the facts.


Di bagian pertama ini ia menyatakan dan meyakinkan dengan dalilnya bahwa dunia adalah totalitas fakta bukan benda. Dan bahwa dunia ditentukan oleh fakta-fakta.

Lalu berikutnya dalil kedua-hingga ketujuh adalah sebagai berikut.

2. What is the case—a fact—is the existence of states of affairs.

3. A logical picture of fact is the thought.

4. A thought is a proposition with a sense.

5. A proposition is a truth-function of elementary propositions.

6. The general form of a truth-function is [p¯, ξ – , N(ξ – )].

7. What we cannot speak about we must pass over in silence.


Namun yang paling menghentak tentu dalil ketujuh, yang tidak seperti dalil 1-6 diikuti butir-butir dalil yang detail dan rigid dalam urutan angka desimal, dalil ketujuh hadir sendiri, percaya diri. Wittgenstein seolah mengejek dunia dengan dalilnya yang ketujuh, bahwa apa yang tak dapat kita katakan, kita harus lempar ke dalam sunyi.

Tak ada kalimat penutup sekuat itu, bahkan dalam puisi. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang keras kepala, yang kemudian ditentang banyak filsuf lainnya. Karena ia berbeda, dan tentu saja, ia pun juga kelak menentang dirinya sendiri. Namun apapun itu, seperti kata penutupnya, diamlah dalam sunyi jika tak paham, saya pun akan menutup ini dalam sunyi. Sesunyi malam yang tak berlogika ini. [T]

Singaraja, 6 Januari 2021

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Next Post

Pengendara di Persimpangan Sikap

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pengendara di Persimpangan Sikap

Pengendara di Persimpangan Sikap

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co