23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

tatkala by tatkala
January 6, 2021
in Cerpen, Puisi
Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu

– Cerpen Eva Lailatur Riska

_____

Cempaka. Denpasar, Desember 2017

Kita berkenalan setelah hujan yang tergesa-gesa itu reda—ingatkah kau? “Dalam perjalanan menuju istana atas awan,” bualmu. Khidmat aku mendengarkan segala yang meluncur dari mulut tipismu, yang berhamburan bagai bintang-bintang sehingga penuh semangat, aku mencoba mengingatnya dengan sangat hati-hati, karena ingatan adalah rumah: tempat yang tepat untuk pulang menuju kenangan.

Ah, bagaimana bisa aku sebentar saja tak mengingatmu? Tentu saja aku tak akan pernah melupakan orang aneh yang membuatku jatuh cinta; yang hampir saja menikahiku. Aku sudah bicara banyak pada ibu perihal sesuatu yang akhir-akhir ini, membuatku tak bisa lelap. Ibu sudah menduganya, dan Ibu langsung setuju. Inilah kali pertamaku berterus terang kepadanya tentang sebuah perasaan. Aku dapat merasakan aura bahagia yang menguar dari ibu waktu itu.

***

Huru-hara kota memang sering memberi kejutan: menciptakan kejadian yang tidak direncanakan sebelumnya—termasuk perkenalanku denganmu. Ketika itu, harusnya aku berterimakasih kepada hujan. Karena hujan, kau berteduh di rumah kopi ibuku. Sejak pertemuan pagi itu, aku menjadi wanita yang tidak sabaran. Bangun pagi-pagi—bahkan kepagian—berangkat menemani ibu ke rumah kopi. Terus terang, Kekasih, aku mulai merasakan beratnya rindu.

Kau memiliki banyak sekali cerita seperti juru dongeng yang benar-benar diutus untuk menghiburku; menjadi sahabatku entah sampai kapan. Pernah pula kau menceritakan seorang gadis yang senang memunguti sisa hujan, seorang pemuda yang mencintai gerimis, dan banyak lagi cerita fiksi lainnya. Herannya, aku percaya saja dengan cerita yang kau ujarkan, meski kalau dipikir-pikir, sungguh tidak masuk nalar.

Aku mulai jelas mengenali intonasi, artikulasi bunyi, serta suramu yang sedikit berat—dan tentu saja berat untuk sekadar aku ingat-ingat. Pengucapan huruf “r”-mu yang serupa huruf “l”, membuatku semakin gemas; selain suaramu, diam-diam aku telah bersahabat baik dengan aroma parfum yang kau semprotkan ke bagian tubuhmu sebelum menemuiku, Kekasih. Aroma kayu gaharu. Aroma yang terus terpilin dalam hidungku. Rasanya, aku ingin mengihrup aroma itu dalam-dalam agar tersimpan rapi dalam ingatanku.

Aku meraba kembali lorong hatiku yang kini sudah kosong – sudah berapa lama? Aku tidak menghitungnya secara pasti, kekasih. Mungkin kau tahu seberapa lama itu.

“Kau sangat menyukai gerimis,” kataku malu-malu kala itu, saat gerimis masih saja mericis sejak fajar.

“Selalu ada alasan kuat bagi seseorang untuk menyukai sesuatu,” jawabmu. “Sama seperti aku menyukai cerita-cerita tentang hujan dan gerimis yang telah banyak kuceritakan kepadamu, Cempaka.”

“Kenangan.” Balasku hati-hati.

“Bisa saja.” Kau menjawab dengan nada yang terdengar hampir putus asa.

Aku diam cukup lama dan memikirkan, “Apa itu kenangan?” dan “apakah aku mempunyai kenangan yang benar-benar berharga?” Aku telah medapat jawaban itu. Aku memiliki kenangan! Bahkan kenangan yang sangat manis: kenangan tentangmu, kekasih, dan hujan dengan serpihan gerimis.

“Dulu, aku pernah mempunyai pendengar setia sepertimu, Cempaka. Aku selalu menceritakan apa pun tentang hujan kepadanya. Ia sangat girang, seakan hujan benar-benar turun walaupun cuaca sedang terik-teriknya. Kami berjanji akan berjalan berpegangan tangan, dan tiba-tiba gerimis berjatuhan di kepala kami. Ya, aku berjanji.” Jelasmu dengan suara sesak.

“Apa kau menangis?” Aku yang tersentuh dengan suaramu, lebih berhati-hati menanyakan itu.

“Bukan.,” kau mengelak.

“Namun aku yakin kau sedang bersedih.”

“Baiklah. Aku menangis. Namun, menangis tak selalu berarti sedih, ‘kan?”

Aku senang mendengar jawaban itu. Senang dan penasaran.

***

Akhir-akhir ini, hujan lebih sering turun membungkus kota Denpasar. Kota terasa lebih manis dan romantis. Aku lebih sering menghangatkan badan dengan secangkir coklat panas buatan ibu dan buku yang belum selesai kubaca sejak tiga hari lalu. Seharian suntuk, aku hanya duduk mendengarkan musik di sofa dekat tangga; tepat di sebelah meja bar. Pikiranku mengawang; terbayang aroma kayu gaharu yang selalu melekati tubuhmu, tapi ada yang lain lagi: harum kopi Kintamani. Kopi tanpa gula yang selalu kau pesan, Kekasih. Walaupun banyak menu baru, tapi kau sangat setia dengan kopi kesukaanmu itu.

Ibu mengerti keadaan hatiku yang sudah lama tidak baik-baik saja, bahkan bahagianya yang dulu terbawa ceritaku kini turut larut dengan situasi baru hatiku.

“Kelana,” gumamku dalam hati. Nama yang kau perkenalkan padaku, Kekasih; tepat saat hujan yang tergesa-gesa itu reda dan menyisakan gerimis satu-dua. Namun, waktu berlari jauh. Begitu cepat tanpa bisa kucegah barang sedetik pun. Waktu yang kini hanya meninggalkan air mata pada lesung pipiku.

***

Kelana. Jepara, Maret 2018.

Sesungguhnya aku tidak menyukai hujan. Hujan membuat benda-benda menjadi basah dan orang-orang menjadi repot. Dan satu lagi; hujan telah merenggut orang-orang yang aku cintai: bapak, ibu, dan Adel. Tepat satu tahun yang lalu, hujan mengikis rumah kami yang berada di bibir sungai. Aku beruntung, keluar pagi-pagi dan berteduh di rumah kopi milik ibu Cempaka karena dihadang hujan. Tapi ayah, ibu, dan Adel melakukan pekerjaan rumahnya masing-masing. Hujan reda. Aku pulang. Namun tak kudapati rumah. Hanya sungai keruh dan sisa bangunan yang sungguh tak dapat kukenali.

Satu lagi, hujan menjauhkanku dari Cempaka. Ya, aku juga kehilangan Cempaka, sebelum aku sempat memberinya apa-apa, selain cerita hujan yang entah ia kenang atau tidak. O, Cempaka, wanita yang manis! Wanita berambut gelombang sebahu. Setiap aku menemuinya, ia sering mengenakan baju rajut abu-abu berlengan panjang. Seolah Cempaka adalah langit yang sedang muram. Langit yang mendung di hadapanku. Namun senyum serekah matahari itu selalu terbit dan terbenam, dan selalu berhasil menguasai kesepianku.

O, Cempaka! Gadis manis yang tak bosan-bosannya mendengar ceritaku. Cerita tentang hujan yang baginya adalah hadiah terindah. Cerita yang selalu hadir setelah aku berada dalam hidupannya. Kini, aku ditemani penyesalan, dan penyesalan adalah kecerobohan seorang laki-laki yang tak dapat berbuat apa-apa, sedangkan rindu adalah ganjaran bagiku: lelaki yang telah menyakiti Cempaka. [T]

_____

Karya dalam pameran Mega Rupa, Oktober 2019

Mencincang Pesan

Puisi Santi Dewi


Seorang dicincang pesanan

Dua telur di dapur

Hiruk pikuk keluar kulkas

Bawang dikocok, garam melintas

Bumbu diputar wajan dan nampan


Rempah bebutiran masuk jadi kenyal

Ketika mulut menyendok hakau

Green tea berubah kacang hijau


Di depan,

Hitam dedaunan hiasi tembok gedung

Lumut mencicip jendela murung

Sepi rumah tingkat


Sementara di sepanjang jalan tersisih

Ia jumput tisu bekas, sumpit-sumpit kambang

Juga bebijian kekosongan


Sepi,

Menuang pekat di permukaan


Men Brayut, 12 Desember 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I GUTO BRAHMANA JAWA

Next Post

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co