12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

tatkala by tatkala
January 6, 2021
in Cerpen, Puisi
Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu || Mencincang Pesan

Monolog dan Kekasih Satu Tahun Lalu

– Cerpen Eva Lailatur Riska

_____

Cempaka. Denpasar, Desember 2017

Kita berkenalan setelah hujan yang tergesa-gesa itu reda—ingatkah kau? “Dalam perjalanan menuju istana atas awan,” bualmu. Khidmat aku mendengarkan segala yang meluncur dari mulut tipismu, yang berhamburan bagai bintang-bintang sehingga penuh semangat, aku mencoba mengingatnya dengan sangat hati-hati, karena ingatan adalah rumah: tempat yang tepat untuk pulang menuju kenangan.

Ah, bagaimana bisa aku sebentar saja tak mengingatmu? Tentu saja aku tak akan pernah melupakan orang aneh yang membuatku jatuh cinta; yang hampir saja menikahiku. Aku sudah bicara banyak pada ibu perihal sesuatu yang akhir-akhir ini, membuatku tak bisa lelap. Ibu sudah menduganya, dan Ibu langsung setuju. Inilah kali pertamaku berterus terang kepadanya tentang sebuah perasaan. Aku dapat merasakan aura bahagia yang menguar dari ibu waktu itu.

***

Huru-hara kota memang sering memberi kejutan: menciptakan kejadian yang tidak direncanakan sebelumnya—termasuk perkenalanku denganmu. Ketika itu, harusnya aku berterimakasih kepada hujan. Karena hujan, kau berteduh di rumah kopi ibuku. Sejak pertemuan pagi itu, aku menjadi wanita yang tidak sabaran. Bangun pagi-pagi—bahkan kepagian—berangkat menemani ibu ke rumah kopi. Terus terang, Kekasih, aku mulai merasakan beratnya rindu.

Kau memiliki banyak sekali cerita seperti juru dongeng yang benar-benar diutus untuk menghiburku; menjadi sahabatku entah sampai kapan. Pernah pula kau menceritakan seorang gadis yang senang memunguti sisa hujan, seorang pemuda yang mencintai gerimis, dan banyak lagi cerita fiksi lainnya. Herannya, aku percaya saja dengan cerita yang kau ujarkan, meski kalau dipikir-pikir, sungguh tidak masuk nalar.

Aku mulai jelas mengenali intonasi, artikulasi bunyi, serta suramu yang sedikit berat—dan tentu saja berat untuk sekadar aku ingat-ingat. Pengucapan huruf “r”-mu yang serupa huruf “l”, membuatku semakin gemas; selain suaramu, diam-diam aku telah bersahabat baik dengan aroma parfum yang kau semprotkan ke bagian tubuhmu sebelum menemuiku, Kekasih. Aroma kayu gaharu. Aroma yang terus terpilin dalam hidungku. Rasanya, aku ingin mengihrup aroma itu dalam-dalam agar tersimpan rapi dalam ingatanku.

Aku meraba kembali lorong hatiku yang kini sudah kosong – sudah berapa lama? Aku tidak menghitungnya secara pasti, kekasih. Mungkin kau tahu seberapa lama itu.

“Kau sangat menyukai gerimis,” kataku malu-malu kala itu, saat gerimis masih saja mericis sejak fajar.

“Selalu ada alasan kuat bagi seseorang untuk menyukai sesuatu,” jawabmu. “Sama seperti aku menyukai cerita-cerita tentang hujan dan gerimis yang telah banyak kuceritakan kepadamu, Cempaka.”

“Kenangan.” Balasku hati-hati.

“Bisa saja.” Kau menjawab dengan nada yang terdengar hampir putus asa.

Aku diam cukup lama dan memikirkan, “Apa itu kenangan?” dan “apakah aku mempunyai kenangan yang benar-benar berharga?” Aku telah medapat jawaban itu. Aku memiliki kenangan! Bahkan kenangan yang sangat manis: kenangan tentangmu, kekasih, dan hujan dengan serpihan gerimis.

“Dulu, aku pernah mempunyai pendengar setia sepertimu, Cempaka. Aku selalu menceritakan apa pun tentang hujan kepadanya. Ia sangat girang, seakan hujan benar-benar turun walaupun cuaca sedang terik-teriknya. Kami berjanji akan berjalan berpegangan tangan, dan tiba-tiba gerimis berjatuhan di kepala kami. Ya, aku berjanji.” Jelasmu dengan suara sesak.

“Apa kau menangis?” Aku yang tersentuh dengan suaramu, lebih berhati-hati menanyakan itu.

“Bukan.,” kau mengelak.

“Namun aku yakin kau sedang bersedih.”

“Baiklah. Aku menangis. Namun, menangis tak selalu berarti sedih, ‘kan?”

Aku senang mendengar jawaban itu. Senang dan penasaran.

***

Akhir-akhir ini, hujan lebih sering turun membungkus kota Denpasar. Kota terasa lebih manis dan romantis. Aku lebih sering menghangatkan badan dengan secangkir coklat panas buatan ibu dan buku yang belum selesai kubaca sejak tiga hari lalu. Seharian suntuk, aku hanya duduk mendengarkan musik di sofa dekat tangga; tepat di sebelah meja bar. Pikiranku mengawang; terbayang aroma kayu gaharu yang selalu melekati tubuhmu, tapi ada yang lain lagi: harum kopi Kintamani. Kopi tanpa gula yang selalu kau pesan, Kekasih. Walaupun banyak menu baru, tapi kau sangat setia dengan kopi kesukaanmu itu.

Ibu mengerti keadaan hatiku yang sudah lama tidak baik-baik saja, bahkan bahagianya yang dulu terbawa ceritaku kini turut larut dengan situasi baru hatiku.

“Kelana,” gumamku dalam hati. Nama yang kau perkenalkan padaku, Kekasih; tepat saat hujan yang tergesa-gesa itu reda dan menyisakan gerimis satu-dua. Namun, waktu berlari jauh. Begitu cepat tanpa bisa kucegah barang sedetik pun. Waktu yang kini hanya meninggalkan air mata pada lesung pipiku.

***

Kelana. Jepara, Maret 2018.

Sesungguhnya aku tidak menyukai hujan. Hujan membuat benda-benda menjadi basah dan orang-orang menjadi repot. Dan satu lagi; hujan telah merenggut orang-orang yang aku cintai: bapak, ibu, dan Adel. Tepat satu tahun yang lalu, hujan mengikis rumah kami yang berada di bibir sungai. Aku beruntung, keluar pagi-pagi dan berteduh di rumah kopi milik ibu Cempaka karena dihadang hujan. Tapi ayah, ibu, dan Adel melakukan pekerjaan rumahnya masing-masing. Hujan reda. Aku pulang. Namun tak kudapati rumah. Hanya sungai keruh dan sisa bangunan yang sungguh tak dapat kukenali.

Satu lagi, hujan menjauhkanku dari Cempaka. Ya, aku juga kehilangan Cempaka, sebelum aku sempat memberinya apa-apa, selain cerita hujan yang entah ia kenang atau tidak. O, Cempaka, wanita yang manis! Wanita berambut gelombang sebahu. Setiap aku menemuinya, ia sering mengenakan baju rajut abu-abu berlengan panjang. Seolah Cempaka adalah langit yang sedang muram. Langit yang mendung di hadapanku. Namun senyum serekah matahari itu selalu terbit dan terbenam, dan selalu berhasil menguasai kesepianku.

O, Cempaka! Gadis manis yang tak bosan-bosannya mendengar ceritaku. Cerita tentang hujan yang baginya adalah hadiah terindah. Cerita yang selalu hadir setelah aku berada dalam hidupannya. Kini, aku ditemani penyesalan, dan penyesalan adalah kecerobohan seorang laki-laki yang tak dapat berbuat apa-apa, sedangkan rindu adalah ganjaran bagiku: lelaki yang telah menyakiti Cempaka. [T]

_____

Karya dalam pameran Mega Rupa, Oktober 2019

Mencincang Pesan

Puisi Santi Dewi


Seorang dicincang pesanan

Dua telur di dapur

Hiruk pikuk keluar kulkas

Bawang dikocok, garam melintas

Bumbu diputar wajan dan nampan


Rempah bebutiran masuk jadi kenyal

Ketika mulut menyendok hakau

Green tea berubah kacang hijau


Di depan,

Hitam dedaunan hiasi tembok gedung

Lumut mencicip jendela murung

Sepi rumah tingkat


Sementara di sepanjang jalan tersisih

Ia jumput tisu bekas, sumpit-sumpit kambang

Juga bebijian kekosongan


Sepi,

Menuang pekat di permukaan


Men Brayut, 12 Desember 2020.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I GUTO BRAHMANA JAWA

Next Post

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails
Next Post
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co