15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 6, 2026
in Ulas Pentas
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas Mahima, ketika pentas pada acara Swaraloka UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Kamis, 5 Februari 2026. Orang-orang diam, menyimak, sesekali tersenyum getir.

Teater Komunitas Mahima saat itu mementaskan lakon Aduh karya Putu Wijaya yang disutradarai Wahyu M Putra.  Tujuh aktor itu adalah Gusti Ngurah Andika Alit Putra, Kadek Febry Marsya Dewi, Ni Putu Indi Padma Pramayanti, Ida Ayu Ade Cili Laksmi, Ni Gusti Ayu Made Raysita Pratiwi, Putu Erna Yuniari, dan Kadek Wisnu Oktditya.

Sebagian dari mereka memerankan “salah seorang” dalam pementasan teater itu . Ada juga yang berperan sebagai “yang usul” dan “yang simpati”. Dan, satu aktor berperan sebagai “si sakit” yang kerap berteriak dengan lantang, “Aduuuuuuuh!”

Si Sakit dalam lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pementasan diawali dengan kesan mengejutkan. Suasana panggung yang awalnya terang dan tenang, tiba-tiba gelap dengan berkas-berkas cahaya merah. Suasana panggung yang benar-benar meneror penonton atau orang-orang yang duduk di kursi penonton dan panitia.

Dan panggung menjadi pemandangan yang dingin setelah seorang dengan tubuh gigil berbaju lusuh robek-robek itu datang dan berteriak “Haruuuuh”. Kepalanya menunduk ke bawah sebelum akhirnya ambruk di tengah kerumunan.

Yang ambruk itu adalah pemeran tokoh “si sakit”. Dan dari situlah pementasan kemudian mengalir, cepat, dan tegas.

Di atas panggung, dehumanisasi ditarik sebagai wacana penting dan seakan-akan meneror siapa saja yang berada di tengah masyarakat kini. Apalagi pementasan itu tidak melakonkan seperti kita melihat lakon-lakon pada umumnya, yang biasanya memiliki nama tokoh.dan karakter yang jelas sesuai nama-nama si tokoh. Lakon “Aduh” justru tidak biasa. Ia seperti menggunakan pantulan kenyataan yang mudah ditemui di teater sehari-hari kita; Siapa Kita di tengah kesengsaraan orang lain itu, apakah sebagai Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, dan atau Si Sakit.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Si Sakit dalam lakon itu,  yang ambruk dan berteriak aduuuuuh, membeuyarkan aktivitas orang-orang berkumpul-bernyanyi megenjekan. Si Sakit yang datang dari kegelapan, menimbulkan suasana runyam. Orang-orang saling lempar pertanyaan kesel dan sinis kepada Si Sakit—mengganggu sekali;

Sakit apa?

Masuk angin, ya?

Panas? Pusing kepala?

Barangkali sakit ayan!

Tentu. Para penonton dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan setelah sirine dan lampu-lampu mati sebelum masuk ke cerita. Yang sekarat pada satu tokoh itu memintal banyak pertanyaan pada manusia modern saat ini, yang dilakonkan di atas panggung, masih adakah saling tolong menolong itu pada manusia? Membuat tokoh Si Sakit—yang diperankan Gede Yoga Wismantara, telah pula mengingatkan saya pada cerita teman saya, Sofi namanya, walaupun dengan kasus yang lain.

Sofi. Ia asalnya dari Bandung dan bekerja di Jakarta. Kami bertemu tahun lalu dan ia pernah bercerita di sela liburannya di Bali. Ketika hari kerja, katanya, di sebuah Stasiun Nambo ke Stasiun Manggarai, jangan harap bisa jalan santai. Semua kaki berjalan cepat. Meleng dikit kena sikut, sundul dan kegencet sesama tubuh. Karena orang-orang pergi ke tujuan masing-masing itu dengan kesadaran survival yang tinggi. Tidak ada uluran pertolongan antar sesama di waktu seperti itu. Kalaupun ada, hanya angin rasa kasihan, katanya. Selebihnya penderitaan ditanggung masing-masing.

Dan di awal-awal babak teater Aduh itu, akting para pemain di atas panggung telah membentuk cermin lebar dan jernih pada penonton untuk kembali merefleksikan tentang hidup; apakah masih ada pertolongan antar sesama pada manusia hari ini. Penonton telah masuk ke banyak pilihan, siapa dirinya di atas panggung itu, apakah ia sebagai tokoh Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, atau Si Sakit.

Cerita di atas panggung mengalir dengan baik. Kebingungan Si Sakit, misalnya, yang tiba-tiba datang membawa sakitnya itu di tengah kerumunan, memberi bangunan awal yang baik dari pementasan itu.  Suasana kebingungan dan keragu-raguan orang-orang dalam menghadapi Si Sakit di atas panggung, juga menjadi kebingungan penonton. Saling menerka satu sama lain baik di atas panggung maupun di bawah panggung. Sama-sama hanya menatap dan tidak menolong. Hingga Si Sakit itu sekarat tak tertolong dan menjumpai kematiannya sendiri dengan tubuh pucat pasi dan kaku disertai bau bangkai.

Tapi di pertengahan babak, agaknya, para pemain bocor emosional, akibat energi terkuras, barangkali oleh rasa kesalnya sendiri pada sifat manusia yang banal, yang mereka mainkan itu. Mereka ngoceh. Penonton sepertinya tak dibiarkan untuk merenung, berdialog dengan diri sendiri, karena rasa kesal diambil seluruhnya oleh para pemain di atas panggung.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pada akhirnya, fokus penonton mulai pecah. Mereka, penonton itu, tak lagi diteror dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia bisa sejahat itu pada sesamanya. Pementasan seakan berubah menjadi letupan marah-marah para pemain di atas panggung, terlebih ketika para pemain turun ke panggung dengan teriak ke tubuh penonton dengan ucapan; dalam keadaan bagaimanapun kita wajib menolong siapa saja makhluk yang memerlukan pertolongan, binatang sekalipun, apalagi manusia.

Diucapkan secara berulang kali seperti sedang orasi, seakan penonton tidak tahu sedang disindir, bahwa mereka di luar panggung barangkali adalah Yang Usul, Salah Seorang, Si Sakit, atau Yang Simpati.

Tapi ada yang lebih menarik setelah pementasan itu terjadi, adalah sebelum pementasan, saat mereka latihan. Wahyu M. Putra menggarap lakon “Aduh” itu dengan para pemainnya yang masih muda, dan kebanyakan baru pertama kali bermain teater. Rerata para pemainnya adalah pengalaman pertama untuk urusan teater dan pentas, terkecuali si sutradara sendiri.

Di sinilah teater sesungguhnya barangkali terjadi, yaitu pada saat latihan menurut saya. Tapi sayang penonton yang lain tidak tahu. Hanya saya yang tahu, sebab saya mengintip mereka latihan dengan waktu yang singkat dan bongkar pasang dengan keras itu selama tujuh hari, sedikitnya saya merasakan—Aduh.

Sehingga, walaupun ada banyak celahnya seperti kostum dan alat-alat pendukung kurang memadai, dan energi pemain yang perlu latihan secara maksimal soal urusan napas, tapi secara pementasan, mereka tetap emot api untuk tetap menuntaskannya sebagai pementasan yang tentu saja, selain menghibur juga meneror—Kita Siapa pada lakon Aduh? di luar panggung.[T]

Penulis: Son Lomri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaPutu Wijayaseni pertunjukanTeaterUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Next Post

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar 'Pangijeng Abian', Mantra-mantra Penjaga Kebun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co