14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 6, 2026
in Ulas Pentas
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas Mahima, ketika pentas pada acara Swaraloka UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Kamis, 5 Februari 2026. Orang-orang diam, menyimak, sesekali tersenyum getir.

Teater Komunitas Mahima saat itu mementaskan lakon Aduh karya Putu Wijaya yang disutradarai Wahyu M Putra.  Tujuh aktor itu adalah Gusti Ngurah Andika Alit Putra, Kadek Febry Marsya Dewi, Ni Putu Indi Padma Pramayanti, Ida Ayu Ade Cili Laksmi, Ni Gusti Ayu Made Raysita Pratiwi, Putu Erna Yuniari, dan Kadek Wisnu Oktditya.

Sebagian dari mereka memerankan “salah seorang” dalam pementasan teater itu . Ada juga yang berperan sebagai “yang usul” dan “yang simpati”. Dan, satu aktor berperan sebagai “si sakit” yang kerap berteriak dengan lantang, “Aduuuuuuuh!”

Si Sakit dalam lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pementasan diawali dengan kesan mengejutkan. Suasana panggung yang awalnya terang dan tenang, tiba-tiba gelap dengan berkas-berkas cahaya merah. Suasana panggung yang benar-benar meneror penonton atau orang-orang yang duduk di kursi penonton dan panitia.

Dan panggung menjadi pemandangan yang dingin setelah seorang dengan tubuh gigil berbaju lusuh robek-robek itu datang dan berteriak “Haruuuuh”. Kepalanya menunduk ke bawah sebelum akhirnya ambruk di tengah kerumunan.

Yang ambruk itu adalah pemeran tokoh “si sakit”. Dan dari situlah pementasan kemudian mengalir, cepat, dan tegas.

Di atas panggung, dehumanisasi ditarik sebagai wacana penting dan seakan-akan meneror siapa saja yang berada di tengah masyarakat kini. Apalagi pementasan itu tidak melakonkan seperti kita melihat lakon-lakon pada umumnya, yang biasanya memiliki nama tokoh.dan karakter yang jelas sesuai nama-nama si tokoh. Lakon “Aduh” justru tidak biasa. Ia seperti menggunakan pantulan kenyataan yang mudah ditemui di teater sehari-hari kita; Siapa Kita di tengah kesengsaraan orang lain itu, apakah sebagai Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, dan atau Si Sakit.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Si Sakit dalam lakon itu,  yang ambruk dan berteriak aduuuuuh, membeuyarkan aktivitas orang-orang berkumpul-bernyanyi megenjekan. Si Sakit yang datang dari kegelapan, menimbulkan suasana runyam. Orang-orang saling lempar pertanyaan kesel dan sinis kepada Si Sakit—mengganggu sekali;

Sakit apa?

Masuk angin, ya?

Panas? Pusing kepala?

Barangkali sakit ayan!

Tentu. Para penonton dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan setelah sirine dan lampu-lampu mati sebelum masuk ke cerita. Yang sekarat pada satu tokoh itu memintal banyak pertanyaan pada manusia modern saat ini, yang dilakonkan di atas panggung, masih adakah saling tolong menolong itu pada manusia? Membuat tokoh Si Sakit—yang diperankan Gede Yoga Wismantara, telah pula mengingatkan saya pada cerita teman saya, Sofi namanya, walaupun dengan kasus yang lain.

Sofi. Ia asalnya dari Bandung dan bekerja di Jakarta. Kami bertemu tahun lalu dan ia pernah bercerita di sela liburannya di Bali. Ketika hari kerja, katanya, di sebuah Stasiun Nambo ke Stasiun Manggarai, jangan harap bisa jalan santai. Semua kaki berjalan cepat. Meleng dikit kena sikut, sundul dan kegencet sesama tubuh. Karena orang-orang pergi ke tujuan masing-masing itu dengan kesadaran survival yang tinggi. Tidak ada uluran pertolongan antar sesama di waktu seperti itu. Kalaupun ada, hanya angin rasa kasihan, katanya. Selebihnya penderitaan ditanggung masing-masing.

Dan di awal-awal babak teater Aduh itu, akting para pemain di atas panggung telah membentuk cermin lebar dan jernih pada penonton untuk kembali merefleksikan tentang hidup; apakah masih ada pertolongan antar sesama pada manusia hari ini. Penonton telah masuk ke banyak pilihan, siapa dirinya di atas panggung itu, apakah ia sebagai tokoh Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, atau Si Sakit.

Cerita di atas panggung mengalir dengan baik. Kebingungan Si Sakit, misalnya, yang tiba-tiba datang membawa sakitnya itu di tengah kerumunan, memberi bangunan awal yang baik dari pementasan itu.  Suasana kebingungan dan keragu-raguan orang-orang dalam menghadapi Si Sakit di atas panggung, juga menjadi kebingungan penonton. Saling menerka satu sama lain baik di atas panggung maupun di bawah panggung. Sama-sama hanya menatap dan tidak menolong. Hingga Si Sakit itu sekarat tak tertolong dan menjumpai kematiannya sendiri dengan tubuh pucat pasi dan kaku disertai bau bangkai.

Tapi di pertengahan babak, agaknya, para pemain bocor emosional, akibat energi terkuras, barangkali oleh rasa kesalnya sendiri pada sifat manusia yang banal, yang mereka mainkan itu. Mereka ngoceh. Penonton sepertinya tak dibiarkan untuk merenung, berdialog dengan diri sendiri, karena rasa kesal diambil seluruhnya oleh para pemain di atas panggung.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pada akhirnya, fokus penonton mulai pecah. Mereka, penonton itu, tak lagi diteror dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia bisa sejahat itu pada sesamanya. Pementasan seakan berubah menjadi letupan marah-marah para pemain di atas panggung, terlebih ketika para pemain turun ke panggung dengan teriak ke tubuh penonton dengan ucapan; dalam keadaan bagaimanapun kita wajib menolong siapa saja makhluk yang memerlukan pertolongan, binatang sekalipun, apalagi manusia.

Diucapkan secara berulang kali seperti sedang orasi, seakan penonton tidak tahu sedang disindir, bahwa mereka di luar panggung barangkali adalah Yang Usul, Salah Seorang, Si Sakit, atau Yang Simpati.

Tapi ada yang lebih menarik setelah pementasan itu terjadi, adalah sebelum pementasan, saat mereka latihan. Wahyu M. Putra menggarap lakon “Aduh” itu dengan para pemainnya yang masih muda, dan kebanyakan baru pertama kali bermain teater. Rerata para pemainnya adalah pengalaman pertama untuk urusan teater dan pentas, terkecuali si sutradara sendiri.

Di sinilah teater sesungguhnya barangkali terjadi, yaitu pada saat latihan menurut saya. Tapi sayang penonton yang lain tidak tahu. Hanya saya yang tahu, sebab saya mengintip mereka latihan dengan waktu yang singkat dan bongkar pasang dengan keras itu selama tujuh hari, sedikitnya saya merasakan—Aduh.

Sehingga, walaupun ada banyak celahnya seperti kostum dan alat-alat pendukung kurang memadai, dan energi pemain yang perlu latihan secara maksimal soal urusan napas, tapi secara pementasan, mereka tetap emot api untuk tetap menuntaskannya sebagai pementasan yang tentu saja, selain menghibur juga meneror—Kita Siapa pada lakon Aduh? di luar panggung.[T]

Penulis: Son Lomri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaPutu Wijayaseni pertunjukanTeaterUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Next Post

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar 'Pangijeng Abian', Mantra-mantra Penjaga Kebun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co