24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 6, 2026
in Ulas Pentas
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas Mahima, ketika pentas pada acara Swaraloka UKM Teater Kampus Seribu Jendela, Kamis, 5 Februari 2026. Orang-orang diam, menyimak, sesekali tersenyum getir.

Teater Komunitas Mahima saat itu mementaskan lakon Aduh karya Putu Wijaya yang disutradarai Wahyu M Putra.  Tujuh aktor itu adalah Gusti Ngurah Andika Alit Putra, Kadek Febry Marsya Dewi, Ni Putu Indi Padma Pramayanti, Ida Ayu Ade Cili Laksmi, Ni Gusti Ayu Made Raysita Pratiwi, Putu Erna Yuniari, dan Kadek Wisnu Oktditya.

Sebagian dari mereka memerankan “salah seorang” dalam pementasan teater itu . Ada juga yang berperan sebagai “yang usul” dan “yang simpati”. Dan, satu aktor berperan sebagai “si sakit” yang kerap berteriak dengan lantang, “Aduuuuuuuh!”

Si Sakit dalam lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pementasan diawali dengan kesan mengejutkan. Suasana panggung yang awalnya terang dan tenang, tiba-tiba gelap dengan berkas-berkas cahaya merah. Suasana panggung yang benar-benar meneror penonton atau orang-orang yang duduk di kursi penonton dan panitia.

Dan panggung menjadi pemandangan yang dingin setelah seorang dengan tubuh gigil berbaju lusuh robek-robek itu datang dan berteriak “Haruuuuh”. Kepalanya menunduk ke bawah sebelum akhirnya ambruk di tengah kerumunan.

Yang ambruk itu adalah pemeran tokoh “si sakit”. Dan dari situlah pementasan kemudian mengalir, cepat, dan tegas.

Di atas panggung, dehumanisasi ditarik sebagai wacana penting dan seakan-akan meneror siapa saja yang berada di tengah masyarakat kini. Apalagi pementasan itu tidak melakonkan seperti kita melihat lakon-lakon pada umumnya, yang biasanya memiliki nama tokoh.dan karakter yang jelas sesuai nama-nama si tokoh. Lakon “Aduh” justru tidak biasa. Ia seperti menggunakan pantulan kenyataan yang mudah ditemui di teater sehari-hari kita; Siapa Kita di tengah kesengsaraan orang lain itu, apakah sebagai Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, dan atau Si Sakit.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Si Sakit dalam lakon itu,  yang ambruk dan berteriak aduuuuuh, membeuyarkan aktivitas orang-orang berkumpul-bernyanyi megenjekan. Si Sakit yang datang dari kegelapan, menimbulkan suasana runyam. Orang-orang saling lempar pertanyaan kesel dan sinis kepada Si Sakit—mengganggu sekali;

Sakit apa?

Masuk angin, ya?

Panas? Pusing kepala?

Barangkali sakit ayan!

Tentu. Para penonton dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan setelah sirine dan lampu-lampu mati sebelum masuk ke cerita. Yang sekarat pada satu tokoh itu memintal banyak pertanyaan pada manusia modern saat ini, yang dilakonkan di atas panggung, masih adakah saling tolong menolong itu pada manusia? Membuat tokoh Si Sakit—yang diperankan Gede Yoga Wismantara, telah pula mengingatkan saya pada cerita teman saya, Sofi namanya, walaupun dengan kasus yang lain.

Sofi. Ia asalnya dari Bandung dan bekerja di Jakarta. Kami bertemu tahun lalu dan ia pernah bercerita di sela liburannya di Bali. Ketika hari kerja, katanya, di sebuah Stasiun Nambo ke Stasiun Manggarai, jangan harap bisa jalan santai. Semua kaki berjalan cepat. Meleng dikit kena sikut, sundul dan kegencet sesama tubuh. Karena orang-orang pergi ke tujuan masing-masing itu dengan kesadaran survival yang tinggi. Tidak ada uluran pertolongan antar sesama di waktu seperti itu. Kalaupun ada, hanya angin rasa kasihan, katanya. Selebihnya penderitaan ditanggung masing-masing.

Dan di awal-awal babak teater Aduh itu, akting para pemain di atas panggung telah membentuk cermin lebar dan jernih pada penonton untuk kembali merefleksikan tentang hidup; apakah masih ada pertolongan antar sesama pada manusia hari ini. Penonton telah masuk ke banyak pilihan, siapa dirinya di atas panggung itu, apakah ia sebagai tokoh Yang Usul, Yang Simpati, Salah Seorang, atau Si Sakit.

Cerita di atas panggung mengalir dengan baik. Kebingungan Si Sakit, misalnya, yang tiba-tiba datang membawa sakitnya itu di tengah kerumunan, memberi bangunan awal yang baik dari pementasan itu.  Suasana kebingungan dan keragu-raguan orang-orang dalam menghadapi Si Sakit di atas panggung, juga menjadi kebingungan penonton. Saling menerka satu sama lain baik di atas panggung maupun di bawah panggung. Sama-sama hanya menatap dan tidak menolong. Hingga Si Sakit itu sekarat tak tertolong dan menjumpai kematiannya sendiri dengan tubuh pucat pasi dan kaku disertai bau bangkai.

Tapi di pertengahan babak, agaknya, para pemain bocor emosional, akibat energi terkuras, barangkali oleh rasa kesalnya sendiri pada sifat manusia yang banal, yang mereka mainkan itu. Mereka ngoceh. Penonton sepertinya tak dibiarkan untuk merenung, berdialog dengan diri sendiri, karena rasa kesal diambil seluruhnya oleh para pemain di atas panggung.

Lakon Aduh yang dipentaskan Teater Komunitas Mahima di Undiksha

Pada akhirnya, fokus penonton mulai pecah. Mereka, penonton itu, tak lagi diteror dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia bisa sejahat itu pada sesamanya. Pementasan seakan berubah menjadi letupan marah-marah para pemain di atas panggung, terlebih ketika para pemain turun ke panggung dengan teriak ke tubuh penonton dengan ucapan; dalam keadaan bagaimanapun kita wajib menolong siapa saja makhluk yang memerlukan pertolongan, binatang sekalipun, apalagi manusia.

Diucapkan secara berulang kali seperti sedang orasi, seakan penonton tidak tahu sedang disindir, bahwa mereka di luar panggung barangkali adalah Yang Usul, Salah Seorang, Si Sakit, atau Yang Simpati.

Tapi ada yang lebih menarik setelah pementasan itu terjadi, adalah sebelum pementasan, saat mereka latihan. Wahyu M. Putra menggarap lakon “Aduh” itu dengan para pemainnya yang masih muda, dan kebanyakan baru pertama kali bermain teater. Rerata para pemainnya adalah pengalaman pertama untuk urusan teater dan pentas, terkecuali si sutradara sendiri.

Di sinilah teater sesungguhnya barangkali terjadi, yaitu pada saat latihan menurut saya. Tapi sayang penonton yang lain tidak tahu. Hanya saya yang tahu, sebab saya mengintip mereka latihan dengan waktu yang singkat dan bongkar pasang dengan keras itu selama tujuh hari, sedikitnya saya merasakan—Aduh.

Sehingga, walaupun ada banyak celahnya seperti kostum dan alat-alat pendukung kurang memadai, dan energi pemain yang perlu latihan secara maksimal soal urusan napas, tapi secara pementasan, mereka tetap emot api untuk tetap menuntaskannya sebagai pementasan yang tentu saja, selain menghibur juga meneror—Kita Siapa pada lakon Aduh? di luar panggung.[T]

Penulis: Son Lomri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaPutu Wijayaseni pertunjukanTeaterUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Next Post

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails
Next Post
Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar ‘Pangijeng Abian’, Mantra-mantra Penjaga Kebun

Konservasi Lontar di Belancan, Bangli:  Ada Lontar 'Pangijeng Abian', Mantra-mantra Penjaga Kebun

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co