4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 16, 2026
in Ulas Pentas
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

Pementasan Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati di SMAN 1 Kuta Selatan

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali di SMAN 1 Kuta Selatan, Sabtu, 14 Februari 2026. Saya menyaksikannya lewat layar, potongan dokumentasi, dan terutama dari cerita panjang yang mengalir melalui wawancara daring bersama Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd,  guru Seni Budaya yang akrab disapa Sukma Uma.

Dari seberang layar, Sukma Uma berkisah dengan mata yang berbinar. Bukan semata tentang sebuah pertunjukan, melainkan tentang proses, tentang keberanian seorang siswa mengirim pesan di tengah malam, dan tentang keyakinan bahwa ide sekecil apa pun layak diperjuangkan.

Pertunjukan itu berangkat dari kegelisahan sederhana namun mendasar. Kisah Dewi Saraswati yang bertapa yoga samadhi, mengeluarkan sakti jnana, lalu didatangi para Dewata Nawa Sanga untuk turun ke jagat raya. Keangkaramurkaan manusia yang lupa pada ajaran sastra serta tak lagi mampu membedakan palemahan, pawongan, dan parahyangan menjadi latar turunnya sang Dewi. Ia menjelma Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati untuk memberi pencerahan dan tutur.

Gagasan itu datang dari seorang siswa bernama I Made Gio Devtanio Wijaya, yang menggunakan nama panggung laliku.mas. Ia bukan hanya penampil utama, tetapi juga penggagas karya. Sukma Uma masih mengingat betul bagaimana ide itu pertama kali sampai kepadanya.

Pembina ekstra kurikuler teater di SMAN 1 Kuta Selatan, Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd (Sukma Uma)

“Kalau murid saya sudah punya ide, mau malam hari, mau pagi hari buta, kalaupun dia punya ide, dia langsung chat saya atau telepon saya,” ujarnya melalui sambungan daring. “Mereka akan sampaikan seperti ini, Mak, aku punya ide sebuah garapan tari seperti ini. Dia gambarkan idenya, kemudian dia minta pendapat saya, apakah kira-kira bisa diwujudkan,” imbuh Sukma Uma.

Saya membayangkan layar ponsel yang menyala di tengah malam. Seorang remaja yang tidak ingin idenya menguap begitu saja. Dalam dunia yang sering menertawakan mimpi anak muda sebagai angan-angan, pesan semacam itu adalah bentuk keberanian.

Bagi Sukma Uma, pesan seperti itu bukan gangguan. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai energi.

“Saya selalu katakan kepada murid saya bahwa apapun keinginan kalian itu, kalian harus berani mewujudkan,” katanya. “Apresiasi akan datang kalau kita mau bekerja dan berusaha. Kalaupun bukan saat ini dapatkan apresiasi, next time kita pasti akan mendapatkan apresiasi,” ia menambahkan.

Kalimat itu terdengar seperti prinsip yang dipegangnya dalam mendampingi siswa. Bukan sekadar menyetujui ide, melainkan mengawal prosesnya.

Pementasan Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati | Foto: Sukma Uma

Menurutnya, waktu persiapan karya ini tidak panjang. “Untuk prosesnya mungkin sekitar satu setengah bulan kita benar-benar intens untuk menggarap itu. Untuk menggodok konsepnya, untuk mencari musiknya yang bisa dipergunakan, untuk latihan bersama penari-penari yang sudah dipilih,” kata Sukma Uma.

Satu setengah bulan bukan waktu yang panjang untuk sebuah garapan yang memadukan tari, tembang, pedalangan, dan drama. Namun justru di situlah letak keberanian mereka. Tidak menunggu segala sesuatu ideal, melainkan bekerja dengan apa yang ada.

Sukma Uma menjelaskan bahwa ia mengambil peran sebagai penata gerak dan pemberi konsep gerakan. Selebihnya, siswa-siswa terlibat aktif dalam pengisian tembang, iringan, hingga konsep dramatik.

“Apa yang bisa saya lakukan adalah saya membantu untuk menata gerak. Jadi sebagai penata gerak atau memberikan konsep gerakan kepada mereka. Kemudian mereka juga yang mengisi iringan lagunya atau tembangnya, kemudian yang mengisi pedalangannya. Jadi garapan ini komplit sekali. Ada dalangnya, ada tembangnya, kemudian ada tarinya, dan ada konsep dramanya,” jelasnya.

Penampil utama pementasan, I Made Gio Devtanio Wijaya, nama panggung: laliku.mas.

Dalang dalam pementasan ini adalah Kevin. Tata rias ditangani Jerry co. Crew dipercayakan kepada Redi. Penari tergabung dalam Insan Muda Osaka. Dukungan datang dari ekstrakurikuler teater, pesantian, dan tari SMAN 1 Kuta Selatan, serta Broadcasting Osaka.

Kolaborasi itu, dari cerita Sukma Uma, bukan sekadar teknis produksi. Ia menjadi ruang belajar bersama. Setiap elemen menyumbang peran, setiap siswa belajar memikul tanggung jawab.

Saya menanyakan kepadanya, mengapa kisah Dewi Saraswati yang dipilih. Ia menjelaskan bahwa keprihatinan terhadap lunturnya pemahaman sastra dan nilai-nilai dasar kehidupan menjadi pijakan.

Kisah turunnya Dewi Saraswati menjadi simbol pengingat. Bahwa ilmu dan sastra bukan hanya pelengkap seremoni, melainkan fondasi peradaban. Ketika manusia lupa membedakan palemahan, pawongan, dan parahyangan, keseimbangan hidup pun goyah.

Dalam pementasan ini, simbol juga hadir lewat pilihan warna kostum. Dominasi putih dan kuning bukan tanpa alasan.

“Kami menggunakan dominan warna putih, itu menunjukkan sebuah hati yang bersih, sebuah kesucian, sebuah keinginan yang baik. Kemudian warna kuning itu sudah pastilah kita tahu bahwa di Bali itu warna putih kuning itu melambangkan satu kesucian,” ujarnya.

Ia berharap simbol itu tidak berhenti sebagai visual panggung. “Harapannya semoga segala hal yang baik dan bersih itu selalu ada dan nyantol di kepala dan di hati kita,” tambahnya.

Dari layar laptop saya, kata-kata itu terasa lebih dari sekadar penjelasan artistik. Ia adalah doa yang diselipkan dalam karya.

Sukma Uma juga berbicara tentang keraguan yang sering menyelimuti siswa. Ia melihat banyak potensi yang tertahan oleh rasa takut.

“Murid itu punya potensi tapi ragu untuk mengungkapkan. Murid itu punya keinginan tapi merasa bahwa nanti tidak ada yang mendukung. Harus ada yang berani mendukung, harus ada yang berani berkata bahwa kamu pasti bisa dan aku ada selalu di sampingmu atau di belakangmu,” pungkasnya.

Pernyataan itu mengingatkan saya bahwa di balik setiap pertunjukan sekolah, ada dinamika psikologis yang tidak sederhana. Ada kecemasan, ada kekhawatiran gagal, ada ketakutan ditertawakan. Dalam konteks itu, peran guru menjadi sangat krusial.

Ia tidak hanya mengajarkan teknik tari atau teori seni, tetapi menghadirkan rasa aman.

“Saya sebagai guru hanya mendampingi dan membantu untuk mewujudkan ide-ide mereka. Sekecil apapun, sesederhana apapun ide dari murid-murid saya itu adalah sebuah batu berlian yang bisa diasah menjadi sebuah maha karya,” ujarnya.

Batu berlian. Ungkapan itu terus terngiang dalam pikiran saya setelah wawancara usai. Di tengah arus besar modernitas yang kerap membuat tradisi terasa kuno, justru di ruang-ruang sekolah seperti inilah batu-batu itu diasah.

Pementasan Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati | Foto: Sukma Uma

Laliku.mas, sebagai penampil utama sekaligus penggagas, menjadi contoh bahwa generasi muda tidak selalu apatis terhadap sastra dan nilai. Mereka hanya butuh ruang, butuh pendamping, dan butuh keyakinan bahwa suara mereka penting.

Dari ide yang dikirim di tengah malam hingga akhirnya berdiri di panggung Bulan Bahasa Bali, perjalanan Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati bukan semata cerita tentang pertunjukan. Ia adalah cerita tentang keberanian memulai, tentang guru yang membuka pintu, dan tentang siswa yang memilih untuk tidak diam.

Saya memang tidak menyaksikan langsung gemuruh tepuk tangan di aula sekolah itu. Namun dari cerita yang mengalir lewat layar, saya merasakan satu hal yang sama kuatnya, yakni keyakinan bahwa sastra dan ajaran tidak akan benar-benar hilang selama masih ada anak muda yang berani berkata, “Mak, aku punya ide.”  [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat
Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026seni pertunjukanSMAN 1 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Coba-coba Menulis Cerpen Bahasa Bali dengan Menggunakan AI, Itu Gampang Diketahui

Next Post

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails
Next Post
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir ---Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co