9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Rasman Maulana by Rasman Maulana
February 6, 2026
in Ulas Rupa
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026—yang merupakan hasil dari program residensi yang diselenggarakan Manajemen Talenta Nasional (MTN) bekerjasama dengan Gurat Institut. Pameran ini menarik karena mengangkat tradisi bukan sebagai sesuatu yang mapan dan selesai, melainkan sebagai ruang terdalam yang terus menuntut pembacaan ulang.

Pameran ini dihadirkan sebagai “palung”—dasar yang menopang perjalanan panjang manusia, namun sekaligus menyimpan endapan nilai, luka, dan relasi kuasa yang kerap luput dari perhatian. Dalam konteks inilah karya “Tabur Tabah” hadir sebagai praktik menyelam ke kedalaman tradisi, bukan untuk memurnikan atau merayakannya secara romantik, melainkan untuk menyingkap beban perempuan yang selama ini dipikul dan dinormalisasi.

Karya “Tabur, Tabah” menghadirkan sebuah medan simbolik yang tenang namun sarat beban. Seperti pendapat Sutan Takdir Alisjahbana yang mengatakan bahwa seni selalu mempunyai isi, suatu pesan, atau dengan kata lain mewakili tenaga rohani, berbeda dengan mekarnya bunga-bunga atau nyanyian burung di padangan.

Sekilas membaca karya ini kita akan menemukan lingkaran bata yang membumi, tulang punggung yang terbaring di pusatnya, serta partisipasi penonton yang perlahan menumpuk residu material, membentuk ruang kontemplatif sekaligus politis. Dalam keheningan visualnya, karya ini berbicara tentang tubuh perempuan, relasi kuasa, dan sistem patriarki yang diwariskan lintas generasi, bukan sebagai abstraksi melainkan sebagai pengalaman yang menempel pada tubuh dan ingatan manusia.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dalam karya ini lingkaran bata yang menjadi dasar karya segera menghadirkan kesan ruang ritual yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah manusia. Batu bata merupakan material yang identik dengan fondasi rumah dan keteraturan sosial disusun membentuk arena yang kokoh, merepresentasikan sistem adat dan nilai budaya yang dibangun secara turun-temurun: keras, berat, dan menuntut kepatuhan mutlak. Sedangkan bentuk lingkaran bekerja sebagai batas simbolik, menandai ruang di mana peran, identitas, dan relasi kuasa telah ditentukan sebelum individu hadir di dalamnya untuk mengisi dan beranak-pinak.

Di pusat lingkaran yang terlapis kaca tersebut terbaring objek menyerupai tulang punggung manusia, tekstur dan warnanya seperti fosil yang hidup dari masa lampau menyampaikan pesan bahwa karya ini membicarkan sesuatu yang terjaga dari masa terdahulu. Posisi horizontalnya seperti sebuah penolakan gestur heroik, tidak berdiri sebagai monumen kekuasaan, tetapi justru menyatu dengan tanah, debu, dan serpihan bata.

Tulang punggung ini dimaknai sebagai tubuh perempuan yang dinarasikan sebagai penopang kehidupan sosial dan kultural yang kerap tidak diakui secara formal di kelomoknya dari dulu sampai sekarang. Dengan menempatkan tulang punggung perempuan di pusat ruang, karya ini membalik narasi dominan patriarki yang secara historis menempatkan laki-laki sebagai fondasi keluarga dan adat yang tak tergantikan.

Serbuk bata yang ditaburkan di sekitar tulang punggung memperkuat kesan luka yang berulang dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Serbuk tersebut seperti semacam residu—sisa dari sistem yang terus direproduksi dan diwariskan terus menerus. Pemakaian serbuk batu bata di dalam karya dimaksudkan sebagai penanda bentuk kekerasan yang tidak selalu hadir sebagai peristiwa spektakuler, tetapi juga sebagai tekanan simbolik, ekspektasi sosial, dan beban moral yang terus diwariskan.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dimensi partisipatif karya diperluas melalui kehadiran toples-toples berisi serpihan bata. Pengunjung, khususnya perempuan, diajak untuk bersila dan menaburkan serpihan bata sebagai gestur simbolik yang merepresentasikan pengalaman personal dan kolektif. Serpihan bata, berfungsi sebagai arsip kolektif, bukan arsip resmi yang ditulis oleh struktur adat atau negara melainkan arsip pengalaman perempuan yang sering kali tak terdokumentasikan.

Alasan seniman memberi ruang partisipasi khusus untuk perempuan merupakan bagian dari konsep karyanya. Dengan demikian karya ini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi perempuan untuk menulis ulang narasi melalui tindakan simbolik sederhana. Meskipun bukan tanpa kekurangan, pemilihan konsep partisipasi dalam karya ini sedikit kurang matang, karena penempatan toples yang lebih tinggi dari posisi ideal orang bersila menjadikan subjek yang terlibat sedikit kesulitan secara teknis.

Kekurangan tersebut bisa dimaklumi menijau waktu produksi yang ditentukan dalam program residensi yang pendek sehingga seniman yang terlibat tidak punya keleluasaan untuk mempertimbangkan hal-hal teknis. Meskiipun begitu setiap serpihan yang ditabur berhasil merepresentasikan pengalaman personal perempuan yang selama ini jarang tercatat dalam narasi resmi adat maupun sejarah.

Berangkat dari konteks budaya Batak Karo, karya ini mengungkap paradoks patriarki: ketika laki-laki mendominasi simbol formal adat, perempuan justru memainkan peran strategis dalam pengambilan keputusan sehari-hari di lingkup keluarga. Namun, penekanan pada ketabahan juga menyimpan ketegangan kritis. Ketabahan berisiko dirayakan tanpa membongkar sistem yang melahirkan beban tersebut. Tulang punggung perempuan yang terus menopang lingkaran adat dapat dibaca sebagai simbol perlawanan, sekaligus tanda bahwa sistem bertahan karena tubuh perempuan terus menanggungnya.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Tabur, Tabah tidak menawarkan solusi, melainkan membuka ruang kesadaran. Ia mengajak penonton berhenti, bersila, dan menimbang kembali beban yang diwariskan, sembari mempertanyakan: sampai kapan ketabahan akan terus dijadikan fondasi yang tak terlihat? [T]



Penulis: Rasman Maulana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat InstituteMTN Seni BudayaPameran Seni RupaResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Rasman Maulana

Rasman Maulana

Penulis dan kurator berbasis di Banyumas yang aktif mengolah gagasan tentang ruang alternatif, serta relasi sosial dalam praktik seni rupa. Berpengalaman menangani penyusunan konsep pameran, dan penulisan teks kuratorial yang menekankan pendekatan naratif dan sensitivitas terhadap konteks lokal. Memiliki ketertarikan pada praktik seni yang berangkat dari keseharian, lokalitas, dan dinamika komunitas, serta terus mengembangkan metode membaca karya yang peka, reflektif, dan berorientasi dialog. Ia merupakan salah satu peserta kurator residensi MTN Lab Desnpasar 2025 dan menjadi manajer project dalam pameran “Pulang ke Palung” Instagram Penulis: @mata.pijar

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? ---Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co