15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Rasman Maulana by Rasman Maulana
February 6, 2026
in Ulas Rupa
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026—yang merupakan hasil dari program residensi yang diselenggarakan Manajemen Talenta Nasional (MTN) bekerjasama dengan Gurat Institut. Pameran ini menarik karena mengangkat tradisi bukan sebagai sesuatu yang mapan dan selesai, melainkan sebagai ruang terdalam yang terus menuntut pembacaan ulang.

Pameran ini dihadirkan sebagai “palung”—dasar yang menopang perjalanan panjang manusia, namun sekaligus menyimpan endapan nilai, luka, dan relasi kuasa yang kerap luput dari perhatian. Dalam konteks inilah karya “Tabur Tabah” hadir sebagai praktik menyelam ke kedalaman tradisi, bukan untuk memurnikan atau merayakannya secara romantik, melainkan untuk menyingkap beban perempuan yang selama ini dipikul dan dinormalisasi.

Karya “Tabur, Tabah” menghadirkan sebuah medan simbolik yang tenang namun sarat beban. Seperti pendapat Sutan Takdir Alisjahbana yang mengatakan bahwa seni selalu mempunyai isi, suatu pesan, atau dengan kata lain mewakili tenaga rohani, berbeda dengan mekarnya bunga-bunga atau nyanyian burung di padangan.

Sekilas membaca karya ini kita akan menemukan lingkaran bata yang membumi, tulang punggung yang terbaring di pusatnya, serta partisipasi penonton yang perlahan menumpuk residu material, membentuk ruang kontemplatif sekaligus politis. Dalam keheningan visualnya, karya ini berbicara tentang tubuh perempuan, relasi kuasa, dan sistem patriarki yang diwariskan lintas generasi, bukan sebagai abstraksi melainkan sebagai pengalaman yang menempel pada tubuh dan ingatan manusia.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dalam karya ini lingkaran bata yang menjadi dasar karya segera menghadirkan kesan ruang ritual yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah manusia. Batu bata merupakan material yang identik dengan fondasi rumah dan keteraturan sosial disusun membentuk arena yang kokoh, merepresentasikan sistem adat dan nilai budaya yang dibangun secara turun-temurun: keras, berat, dan menuntut kepatuhan mutlak. Sedangkan bentuk lingkaran bekerja sebagai batas simbolik, menandai ruang di mana peran, identitas, dan relasi kuasa telah ditentukan sebelum individu hadir di dalamnya untuk mengisi dan beranak-pinak.

Di pusat lingkaran yang terlapis kaca tersebut terbaring objek menyerupai tulang punggung manusia, tekstur dan warnanya seperti fosil yang hidup dari masa lampau menyampaikan pesan bahwa karya ini membicarkan sesuatu yang terjaga dari masa terdahulu. Posisi horizontalnya seperti sebuah penolakan gestur heroik, tidak berdiri sebagai monumen kekuasaan, tetapi justru menyatu dengan tanah, debu, dan serpihan bata.

Tulang punggung ini dimaknai sebagai tubuh perempuan yang dinarasikan sebagai penopang kehidupan sosial dan kultural yang kerap tidak diakui secara formal di kelomoknya dari dulu sampai sekarang. Dengan menempatkan tulang punggung perempuan di pusat ruang, karya ini membalik narasi dominan patriarki yang secara historis menempatkan laki-laki sebagai fondasi keluarga dan adat yang tak tergantikan.

Serbuk bata yang ditaburkan di sekitar tulang punggung memperkuat kesan luka yang berulang dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Serbuk tersebut seperti semacam residu—sisa dari sistem yang terus direproduksi dan diwariskan terus menerus. Pemakaian serbuk batu bata di dalam karya dimaksudkan sebagai penanda bentuk kekerasan yang tidak selalu hadir sebagai peristiwa spektakuler, tetapi juga sebagai tekanan simbolik, ekspektasi sosial, dan beban moral yang terus diwariskan.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dimensi partisipatif karya diperluas melalui kehadiran toples-toples berisi serpihan bata. Pengunjung, khususnya perempuan, diajak untuk bersila dan menaburkan serpihan bata sebagai gestur simbolik yang merepresentasikan pengalaman personal dan kolektif. Serpihan bata, berfungsi sebagai arsip kolektif, bukan arsip resmi yang ditulis oleh struktur adat atau negara melainkan arsip pengalaman perempuan yang sering kali tak terdokumentasikan.

Alasan seniman memberi ruang partisipasi khusus untuk perempuan merupakan bagian dari konsep karyanya. Dengan demikian karya ini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi perempuan untuk menulis ulang narasi melalui tindakan simbolik sederhana. Meskipun bukan tanpa kekurangan, pemilihan konsep partisipasi dalam karya ini sedikit kurang matang, karena penempatan toples yang lebih tinggi dari posisi ideal orang bersila menjadikan subjek yang terlibat sedikit kesulitan secara teknis.

Kekurangan tersebut bisa dimaklumi menijau waktu produksi yang ditentukan dalam program residensi yang pendek sehingga seniman yang terlibat tidak punya keleluasaan untuk mempertimbangkan hal-hal teknis. Meskiipun begitu setiap serpihan yang ditabur berhasil merepresentasikan pengalaman personal perempuan yang selama ini jarang tercatat dalam narasi resmi adat maupun sejarah.

Berangkat dari konteks budaya Batak Karo, karya ini mengungkap paradoks patriarki: ketika laki-laki mendominasi simbol formal adat, perempuan justru memainkan peran strategis dalam pengambilan keputusan sehari-hari di lingkup keluarga. Namun, penekanan pada ketabahan juga menyimpan ketegangan kritis. Ketabahan berisiko dirayakan tanpa membongkar sistem yang melahirkan beban tersebut. Tulang punggung perempuan yang terus menopang lingkaran adat dapat dibaca sebagai simbol perlawanan, sekaligus tanda bahwa sistem bertahan karena tubuh perempuan terus menanggungnya.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Tabur, Tabah tidak menawarkan solusi, melainkan membuka ruang kesadaran. Ia mengajak penonton berhenti, bersila, dan menimbang kembali beban yang diwariskan, sembari mempertanyakan: sampai kapan ketabahan akan terus dijadikan fondasi yang tak terlihat? [T]



Penulis: Rasman Maulana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat InstituteMTN Seni BudayaPameran Seni RupaResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Rasman Maulana

Rasman Maulana

Penulis dan kurator berbasis di Banyumas yang aktif mengolah gagasan tentang ruang alternatif, serta relasi sosial dalam praktik seni rupa. Berpengalaman menangani penyusunan konsep pameran, dan penulisan teks kuratorial yang menekankan pendekatan naratif dan sensitivitas terhadap konteks lokal. Memiliki ketertarikan pada praktik seni yang berangkat dari keseharian, lokalitas, dan dinamika komunitas, serta terus mengembangkan metode membaca karya yang peka, reflektif, dan berorientasi dialog. Ia merupakan salah satu peserta kurator residensi MTN Lab Desnpasar 2025 dan menjadi manajer project dalam pameran “Pulang ke Palung” Instagram Penulis: @mata.pijar

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? ---Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co