14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
in Ulas Rupa
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Karya lukisan Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New Abstract, di N-CAS Art Space. Dibuka 25 Maret 2026.

*

KITA sering berdiri takjub di depan lukisan, dengan satu kebiasaan sederhana: mencari tahu “ini gambar apa?”. Apakah itu bunga, tubuh, lanskap, atau sesuatu yang bisa segera kita kenali. Seolah-olah tugas kita sebagai penonton untuk menemukan jawaban yang benar. Tapi ada saat-saat ketika lukisan tidak mau menjawab. Ia diam. Ia menghindar dari bentuk yang jelas. Ia tidak memberi pegangan. Dan justru di situlah sesuatu mulai terbuka.

Ketika sebuah lukisan tidak menghadirkan objek yang jelas, kita dipaksa untuk mengubah cara melihat. Kita tidak lagi bisa “membaca”. Kita harus mulai merasakan. Warna tidak lagi sekadar warna. Ia menjadi suasana. Gelap tidak lagi hanya bayangan.
Ia menjadi ruang. Terang tidak lagi cahaya biasa. Ia menjadi kejadian, sesuatu yang muncul, lalu hilang. Dalam momen seperti ini, kita sadar bahwa melihat bukan sekadar aktivitas mata. Ada tubuh yang ikut terlibat. Ada perasaan yang bergerak pelan, kadang bahkan sebelum kita sempat memahaminya.

Lukisan tidak selalu berisi “sesuatu” yang bisa disebut. Tidak selalu ada cerita yang bisa diringkas. Tidak selalu ada bentuk yang bisa ditunjuk. Yang ada bisa jadi: rasa tenggelam, rasa ditekan, rasa gelisah, atau justru rasa hening. Kita mungkin tidak tahu apa yang kita lihat, tapi kita tahu apa yang kita rasakan. Dan itu cukup.

Bayangkan sebuah bidang biru gelap. Tidak ada bentuk yang jelas, hanya lapisan-lapisan yang saling bertumpuk. Di dalamnya, sesekali muncul kilatan terang. Apa yang sebenarnya kita lihat? Bukan laut. Bukan langit. Melainkan kedalaman itu sendiri. Atau bayangkan warna merah yang pekat, berlapis, seperti terus didorong ke permukaan. Ada garis-garis kasar, ada bagian yang seperti terbuka. Apa itu bunga? Mungkin.
Tapi yang lebih terasa adalah: tekanan, energi, bahkan luka. Di sini, warna tidak lagi menggambarkan sesuatu. Warna menjadi sesuatu itu sendiri.

Setiap lukisan, pada dasarnya, hidup dari hubungan sederhana: gelap dan terang. Tapi hubungan ini bukan sekadar soal teknik. Gelap bisa terasa berat, dalam, bahkan sunyi.

Terang bisa terasa tajam, ringan, atau menyakitkan. Keduanya tidak pernah benar-benar terpisah. Selalu ada terang di dalam gelap. Selalu ada bayang di dalam terang. Seperti hidup itu sendiri.

Mungkin kita perlu berhenti memandang lukisan sebagai “gambar tentang sesuatu”. Karena sering kali, lukisan bukan tentang sesuatu. Ia adalah sesuatu yang sedang terjadi. Sebuah kejadian visual. Di mana warna bergerak, cahaya muncul dan menghilang, dan kita tanpa sadar, ikut masuk ke dalamnya.

Tidak semua lukisan perlu dimengerti. Tidak semua pengalaman perlu dijelaskan. Kadang, cukup berdiri di depannya. Diam sebentar. Biarkan mata menyesuaikan. Biarkan tubuh merespons. Karena mungkin, yang paling penting bukan menemukan arti,
tetapi memberi ruang bagi sesuatu untuk hadir. Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi bertanya:
“Ini gambar apa?” Kita mulai merasakan: “Ada sesuatu di sini.”

Melihat sebagai Pengalaman, bukan Identifikasi

Kita tumbuh dengan kebiasaan melihat yang sederhana: mengenali. Melihat berarti menemukan nama. Melihat berarti memastikan: itu apa? Sebuah lukisan bunga, kita bilang bunga. Sebuah wajah, kita bilang manusia. Selesai. Namun ada momen tertentu ketika cara ini tidak lagi bekerja. Ketika kita berdiri di depan sebuah karya, dan tidak ada yang bisa segera dikenali. Tidak ada bentuk yang stabil, tidak ada objek yang bisa ditunjuk. Yang tersisa hanyalah warna. Gerak. Ketegangan. Atau bahkan; keheningan. Di titik itu, kita dipaksa untuk berubah.

Melihat tidak lagi tentang apa itu, tetapi tentang apa yang terjadi pada kita. Sebuah bidang gelap tidak perlu menjadi “malam”. Ia bisa menjadi rasa dalam yang pelan-pelan menarik kita masuk. Sebuah warna merah tidak harus menjadi “bunga” atau “darah”. Ia bisa menjadi tekanan, sesuatu yang mendorong dari dalam. Di sini, kita tidak lagi berdiri sebagai penonton yang netral. Kita ikut terlibat. Seperti yang pernah dibayangkan oleh Maurice Merleau-Ponty, melihat bukanlah kerja mata semata, tetapi pengalaman tubuh. Kita tidak hanya melihat dunia, kita berada di dalamnya.

Coba perhatikan: ketika kita melihat warna gelap yang pekat, tubuh kita sering merespons dengan diam. Sedikit menahan napas. Ketika melihat warna terang yang tajam, tubuh bisa terasa tegang. Mata menyipit. Artinya, sebelum kita sempat “mengerti”, tubuh kita sudah lebih dulu merasakan. Melihat, dalam arti ini, adalah peristiwa yang sangat fisik. Sangat dekat.
Sangat personal.

Melihat tidak pernah sekadar soal bentuk. Dalam lukisan tinta Tiongkok, misalnya, yang penting bukan apakah gunung itu “mirip” gunung, tetapi apakah ia memiliki qi—energi hidup. Satu sapuan kuas bisa mengandung banyak hal: berat dan ringan cepat dan lambat penuh dan kosong. Di Jepang, dalam praktik Zen, bahkan ruang kosong pun tidak dianggap kosong. Ia adalah bagian dari kehadiran. Sesuatu yang memberi napas pada yang terlihat.Melihat, di sini, bukan mencari objek. Melainkan merasakan aliran.

Dunia tidak hanya terdiri dari yang terlihat (sekala), tetapi juga yang tak terlihat (niskala) menurut cara pandang Bali. Keduanya tidak terpisah. Mereka saling menembus. Cara melihat yang hanya mengandalkan identifikasi sering berhenti di sekala, pada apa yang tampak di permukaan. Namun pengalaman rupa yang lebih dalam membuka kemungkinan lain: merasakan yang tidak sepenuhnya terlihat, menangkap suasana, atau bahkan meraba sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Di sinilah melihat menjadi lebih dari sekadar mengenali. Ia menjadi cara untuk berhubungan dengan dunia, secara lebih utuh.

Melihat sebagai pengalaman membutuhkan waktu. Ia tidak bisa cepat. Kita perlu berhenti sejenak. Menunda keinginan untuk memberi nama. Membiarkan sesuatu bekerja pelan di dalam diri. Sering kali, yang muncul bukan jawaban, tetapi pergeseran: dari ingin tahu menjadi merasakan, dari mencari arti menjadi menerima kehadiran. Dan justru di situlah sesuatu menjadi lebih nyata.

Tidak semua yang kita lihat harus dikenali. Tidak semua pengalaman harus diberi nama. Kadang, yang paling penting adalah memberi ruang: agar warna bisa menjadi suasana, agar gelap bisa menjadi kedalaman, agar terang bisa menjadi kejadian. Melihat, pada akhirnya, bukan soal menemukan apa yang ada di luar sana. Tetapi tentang menyadari apa yang terjadi di dalam diri kita. Dan mungkin, di situlah kita benar-benar mulai melihat.

Warna sebagai Keberadaan

Kita sering menganggap warna sebagai sesuatu yang sederhana. Merah adalah merah. Biru adalah biru. Ia menempel pada benda—seperti kulit pada tubuh. Daun hijau. Langit biru. Darah merah. Seolah-olah warna hanyalah atribut, pelengkap, sesuatu yang datang setelah bentuk. Tapi bagaimana jika justru sebaliknya? Bagaimana jika warna bukan milik benda, melainkan cara benda itu hadir?

Coba ingat momen ketika kita melihat sesuatu tanpa sempat menamainya. Sebuah kilatan cahaya di sore hari. Langit yang tiba-tiba berubah warna menjelang hujan. Kita belum mengatakan “itu indah”. Belum mengatakan “itu langit”. Yang ada hanya: warna yang hadir begitu saja. Di titik itu, warna tidak mewakili apa pun. Ia tidak menunjuk ke luar dirinya.

Ia adalah pengalaman langsung. Seperti yang pernah disinggung oleh Maurice Merleau-Ponty, penglihatan bukan sekadar mengenali objek, tetapi mengalami dunia sebelum diberi nama.

Setiap warna membawa suasana. Ia bekerja diam-diam, tapi kuat. Biru bisa terasa dalam, dingin, jauh. Merah bisa terasa dekat, panas, mendesak. Hitam bisa terasa berat, sunyi, bahkan misterius. Ini bukan soal teori warna semata. Ini soal bagaimana tubuh kita merespons. Kita tidak belajar untuk merasakan itu. Kita sudah tahu, secara naluriah. Artinya, warna bukan sekadar sesuatu yang kita lihat. Ia adalah sesuatu yang kita alami.

Warna tidak pernah benar-benar berdiri sebagai “hiasan”. Dalam lukisan tinta Tiongkok, misalnya, bahkan tanpa warna yang beragam, hanya hitam dan putih, dunia bisa terasa hidup. Mengapa? Karena yang bekerja bukan warna sebagai dekorasi, tetapi sebagai energi qi. Setiap gradasi hitam memiliki napasnya sendiri. Setiap ruang kosong memiliki kehadirannya sendiri.

Warna tidak pernah sekadar visual. Ia terkait dengan arah, energi, dan keseimbangan hidup. Konsep rwa bhineda mengajarkan bahwa terang dan gelap bukan lawan, tetapi pasangan.

Hitam tidak lebih rendah dari putih. Keduanya saling membutuhkan. Dalam praktik ritual, warna juga memiliki tempatnya: putih, hitam, merah—sering muncul sebagai simbol keseimbangan, bukan hanya estetika, tetapi bagian dari cara memahami dunia. Warna, di sini, bukan pelengkap. Ia adalah bagian dari struktur keberadaan itu sendiri.

Dalam seni modern, banyak seniman mulai melepaskan warna dari tugasnya untuk “menggambarkan sesuatu”. Seorang pelukis seperti Mark Rothko menghadirkan bidang-bidang warna yang tampak sederhana. Tidak ada objek. Tidak ada cerita. Namun ketika kita berdiri di depannya, sesuatu terjadi. Warna itu terasa dalam. Seperti ruang. Seperti suasana yang pelan-pelan membungkus kita. Di sini, warna tidak lagi mewakili dunia.
Ia menjadi dunia itu sendiri.

Jika kita kembali bertanya: apa sebenarnya warna itu? Mungkin jawabannya bukan panjang atau rumit. Mungkin justru sederhana: warna adalah cara sesuatu hadir. Ia bukan tambahan.

Ia bukan hiasan. Ia adalah bentuk keberadaan yang paling langsung.

Lukisan sebagai Kejadian

Sudah saatnya kita berhenti melihat gambar sebagai sesuatu yang diam. Selama ini kita terbiasa menganggap gambar sebagai hasil sesuatu yang selesai, dibingkai, lalu digantung. Kita datang, melihat, mengerti, lalu pergi.

Kita mungkin melihatnya dua kali, dan merasakan dua hal yang berbeda. Karena yang kita hadapi bukan benda mati, melainkan peristiwa.

Dalam sebuah kejadian, tidak ada jarak yang benar-benar aman. Kita tidak bisa sepenuhnya berada di luar. Kita ikut terlibat. Tubuh kita merespons, kadang tanpa kita sadari. Ada yang terasa berat. Ada yang terasa menekan. Ada yang terasa hening.

Dan semua itu terjadi bukan karena kita “mengerti”, tetapi karena kita mengalami. Mungkin itu sebabnya, kita tidak pernah benar-benar selesai dengan sebuah lukisan.

Jadi, lain kali kita berdiri di depan sebuah lukisan, mungkin kita tidak perlu buru-buru bertanya, cukup diam sejenak. Biarkan ia terjadi. Karena bisa jadi,
yang kita hadapi bukan sekadar lukisan, melainkan sesuatu yang sedang hidup.

Mari kita melihat, pameran lukisan masih berlangsung sampai awal April. [T]

Tags: Prof. Kun AdnyanaSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penjara Hewan, Hiburan Manusia

Next Post

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co