14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 6, 2026
in Cerpen
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PUKUL delapan lewat sedikit ketika Jonas, pianis tetap di Café Lumina, duduk di bangkunya. Piano tua berlapis pernis hitam itu sudah tidak mulus, tapi masih menyimpan gema hari-hari yang panjang.

Malam Sabtu adalah malam paling padat, bukan karena orang ingin bersenang-senang, tapi karena mereka takut sendirian di rumah. Ketika jari Jonas menyentuh tuts, kafe mulai penuh. Ia memainkan melodi lembut yang melayang seperti asap rokok.

Setiap nada adalah undangan: ”Masuklah. Ceritakan lukamu. Aku akan menyimpannya”.

Jonas bukan sekadar pianis. Ia adalah kotak pos rahasia. Tempat orang-orang membuang isi hati tanpa tanda terima.

***

Meja Satu: Sang Politisi yang Tak Punya Negeri

Di meja pertama dekat bar, duduk Rahman, politisi terkenal yang wajahnya sering muncul di baliho. Ia datang tanpa ajudan, hal yang jarang.

“Jonas,” katanya lirih sambil mengangkat gelas. “Mainkan sesuatu yang membuat saya merasa manusia.”

Jonas tahu betul arti kalimat itu.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sering ia kehilangan bagian paling penting dari dirinya: kejujuran sederhana. Rahman memandangi gelas seperti sedang membaca masa depannya.

“Besok saya punya pidato besar,” katanya pada bartender. “Tentang masa depan negara. Tapi… saya tidak tahu masa depan saya sendiri.”

Ia tertawa kecil, tawa seorang lelaki yang sudah lama berhenti percaya pada apa pun kecuali pengawalnya. Jonas memainkan nada-nada berat, seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian di lorong panjang.

Rahman menutup mata dan mendengarkan, seolah-olah lagu itu bisa memberi jawaban.

Tapi lagu tidak memberi jawaban. Lagu hanya mendengar.

***

Meja Dua: Artis yang Ingin Menjadi Biasa

Di sudut lain kafe, Mira, seorang artis layar kaca, duduk sendirian. Rambutnya disembunyikan di bawah topi, matanya ditutupi kacamata gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar peduli siapa dia, ini tempat orang-orang melarikan diri, bukan mencari sensasi.

“Jonas,” katanya ketika jeda lagu. “Bisa mainkan sesuatu yang tidak membuat saya merasa terkenal?”

Jonas tersenyum samar. Ia tahu maksudnya: ketenaran adalah keramaian yang membuatmu kesepian. Mira bercerita kepada pelayan.

“Saya capek harus selalu cantik. Capek menghibur orang. Capek menutupi semua kekacauan hidup saya.”

Pelayan setia mendengarkan, meski ia tahu Mira bukan butuh jawaban, hanya butuh ruang untuk bernapas.

Jonas memainkan lagu yang ringan, seperti angin sore. Mira menaruh kepalanya ke meja, tersenyum kecil, bukan senyum untuk kamera, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia bukan siapa-siapa. Dan itu membuatnya bahagia.

***

Meja Tiga: Pengusaha yang Tak Bisa Tidur

Seorang pria berjas cokelat duduk sendirian di meja dekat jendela. Namanya Hartono, pengusaha sukses, pemilik banyak hal kecuali tidur malam yang tenang. Ia menyesap kopi hitam seperti menyesap obat penenang.

“Mainkan lagu keras, Jon,” katanya. “Biar suara di kepala saya kalah.”

Suara di kepala Hartono adalah daftar hutang moral yang tidak pernah lunas: janji pada keluarga yang tidak pernah dia tepati, karyawan yang dia lepas demi neraca perusahaan, ambisi yang membakar semuanya.

Jonas memainkan lagu cepat, keras, dan penuh ketegangan, bukan untuk menghibur, tapi untuk melawan suara-suara itu.

Hartono mendengar. Ia mengetukkan jari, seolah ikut bertarung. Tapi Jonas tahu: melodi itu tidak akan menyelamatkannya. Ada orang yang datang ke kafe untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk tidak hancur di rumah.

***

Meja Empat: Anak Muda yang Tak Punya Arah

Empat anak muda duduk di kursi tengah. Mereka memesan minuman manis yang mahal, uang mungkin bukan dari kerja mereka sendiri. Tapi itu bukan urusan Jonas. Yang paling vokal, Liam, berseru setelah satu teguk minuman.

“Jon! Mainkan lagu yang bikin kita lupa kalau hidup ini absurd!”

Teman-temannya tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti seseorang berusaha menutupi suara retakan dalam hati. Jonas memainkan melodi riang.

Anak-anak muda itu menari kecil-kecilan, memfilmkan diri sendiri, menjadikan kafe itu panggung hidup yang mereka sendiri tidak peduli arahnya ke mana. Salah satu gadis berkata lirih kepada temannya.

“Aku takut bangun besok tanpa tahu apa yang harus kulakukan.”

Temannya menjawab: “Kita minum dulu. Besok dipikir nanti.”

Mereka tertawa lagi. Tawa terakhir sebelum kenyataan datang menagih.

***

Meja Lima: Lelaki Tua yang Tidak Mau Pulang

Di meja paling belakang duduk lelaki tua, Pak Rendra, pengunjung paling setia. Bukan karena ia suka musik. Bukan karena ia suka kopi. Tapi karena rumahnya terlalu sunyi.

“Mainkan lagu kenangan, Jonas,” katanya dengan suara bergetar.

Jonas memainkan melodi lembut, lagu tua yang mungkin pernah menemani cinta pertamanya. Pak Rendra menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.

“Istriku dulu suka duduk di situ…” katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. “Tapi sekarang aku satu-satunya yang mengingatnya.”

Pelayan menaruh tangan di pundaknya, lembut. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kesedihan orang tua adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.

***

Meja Enam: Cerita yang Tidak Pernah Pergi

Jonas terus bermain, jarinya menari di atas tuts seperti sedang merangkul semua orang.Ia bukan hakim. Bukan guru. Bukan penolong. Ia hanya saksi.

Ia menyaksikan politisi yang ingin jadi manusia, artis yang ingin hilang dari sorotan, pengusaha yang ingin mematikan suara di kepala, anak muda yang ingin melupakan masa depan, lelaki tua yang ingin masa lalu kembali.

Kafe itu berubah menjadi ruangan pengakuan tanpa agama. Setiap meja seperti altar kecil tempat manusia mengaku kalah pada hidup. Jonas memainkan satu melodi panjang yang menyatukan semuanya, nada-nada yang tidak menghakimi, tidak menawarkan solusi, hanya menemani.

***

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang

Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Satu per satu tamu pulang membawa beban yang sama, hanya sedikit lebih ringan. Jonas menutup penutup piano perlahan. Rahman keluar dengan langkah lebih tenang. Mira pulang tanpa menunduk.

Hartono menghela napas panjang. Anak-anak muda pergi sambil tertawa kecil. Pak Rendra berjalan paling terakhir, lambat, seperti ingin menunda kepulangannya.

Ketika kafe benar-benar kosong, Jonas duduk kembali. Ia menekan satu nada. Lalu satu lagi.

“Hidup ini lucu,” gumamnya sendiri.

“Orang datang dengan masalah berbeda… tapi pergi dengan melodi yang sama.”

Ia memejamkan mata.

Di bawah lampu kafe yang redup, ia memainkan satu lagu terakhir. Lagu untuk orang-orang yang tidak benar-benar pulang. Lagu untuk mereka yang menyimpan kesedihan di saku. Lagu untuk mereka yang berbohong demi bertahan. Lagu untuk mereka yang tersenyum demi tidak menangis. Dan lagu itu mengalun dalam kesunyian, tidak untuk didengar, tapi untuk menemani. Seperti doa yang tak pernah selesai. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Next Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co