4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 6, 2026
in Cerpen
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PUKUL delapan lewat sedikit ketika Jonas, pianis tetap di Café Lumina, duduk di bangkunya. Piano tua berlapis pernis hitam itu sudah tidak mulus, tapi masih menyimpan gema hari-hari yang panjang.

Malam Sabtu adalah malam paling padat, bukan karena orang ingin bersenang-senang, tapi karena mereka takut sendirian di rumah. Ketika jari Jonas menyentuh tuts, kafe mulai penuh. Ia memainkan melodi lembut yang melayang seperti asap rokok.

Setiap nada adalah undangan: ”Masuklah. Ceritakan lukamu. Aku akan menyimpannya”.

Jonas bukan sekadar pianis. Ia adalah kotak pos rahasia. Tempat orang-orang membuang isi hati tanpa tanda terima.

***

Meja Satu: Sang Politisi yang Tak Punya Negeri

Di meja pertama dekat bar, duduk Rahman, politisi terkenal yang wajahnya sering muncul di baliho. Ia datang tanpa ajudan, hal yang jarang.

“Jonas,” katanya lirih sambil mengangkat gelas. “Mainkan sesuatu yang membuat saya merasa manusia.”

Jonas tahu betul arti kalimat itu.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sering ia kehilangan bagian paling penting dari dirinya: kejujuran sederhana. Rahman memandangi gelas seperti sedang membaca masa depannya.

“Besok saya punya pidato besar,” katanya pada bartender. “Tentang masa depan negara. Tapi… saya tidak tahu masa depan saya sendiri.”

Ia tertawa kecil, tawa seorang lelaki yang sudah lama berhenti percaya pada apa pun kecuali pengawalnya. Jonas memainkan nada-nada berat, seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian di lorong panjang.

Rahman menutup mata dan mendengarkan, seolah-olah lagu itu bisa memberi jawaban.

Tapi lagu tidak memberi jawaban. Lagu hanya mendengar.

***

Meja Dua: Artis yang Ingin Menjadi Biasa

Di sudut lain kafe, Mira, seorang artis layar kaca, duduk sendirian. Rambutnya disembunyikan di bawah topi, matanya ditutupi kacamata gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar peduli siapa dia, ini tempat orang-orang melarikan diri, bukan mencari sensasi.

“Jonas,” katanya ketika jeda lagu. “Bisa mainkan sesuatu yang tidak membuat saya merasa terkenal?”

Jonas tersenyum samar. Ia tahu maksudnya: ketenaran adalah keramaian yang membuatmu kesepian. Mira bercerita kepada pelayan.

“Saya capek harus selalu cantik. Capek menghibur orang. Capek menutupi semua kekacauan hidup saya.”

Pelayan setia mendengarkan, meski ia tahu Mira bukan butuh jawaban, hanya butuh ruang untuk bernapas.

Jonas memainkan lagu yang ringan, seperti angin sore. Mira menaruh kepalanya ke meja, tersenyum kecil, bukan senyum untuk kamera, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia bukan siapa-siapa. Dan itu membuatnya bahagia.

***

Meja Tiga: Pengusaha yang Tak Bisa Tidur

Seorang pria berjas cokelat duduk sendirian di meja dekat jendela. Namanya Hartono, pengusaha sukses, pemilik banyak hal kecuali tidur malam yang tenang. Ia menyesap kopi hitam seperti menyesap obat penenang.

“Mainkan lagu keras, Jon,” katanya. “Biar suara di kepala saya kalah.”

Suara di kepala Hartono adalah daftar hutang moral yang tidak pernah lunas: janji pada keluarga yang tidak pernah dia tepati, karyawan yang dia lepas demi neraca perusahaan, ambisi yang membakar semuanya.

Jonas memainkan lagu cepat, keras, dan penuh ketegangan, bukan untuk menghibur, tapi untuk melawan suara-suara itu.

Hartono mendengar. Ia mengetukkan jari, seolah ikut bertarung. Tapi Jonas tahu: melodi itu tidak akan menyelamatkannya. Ada orang yang datang ke kafe untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk tidak hancur di rumah.

***

Meja Empat: Anak Muda yang Tak Punya Arah

Empat anak muda duduk di kursi tengah. Mereka memesan minuman manis yang mahal, uang mungkin bukan dari kerja mereka sendiri. Tapi itu bukan urusan Jonas. Yang paling vokal, Liam, berseru setelah satu teguk minuman.

“Jon! Mainkan lagu yang bikin kita lupa kalau hidup ini absurd!”

Teman-temannya tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti seseorang berusaha menutupi suara retakan dalam hati. Jonas memainkan melodi riang.

Anak-anak muda itu menari kecil-kecilan, memfilmkan diri sendiri, menjadikan kafe itu panggung hidup yang mereka sendiri tidak peduli arahnya ke mana. Salah satu gadis berkata lirih kepada temannya.

“Aku takut bangun besok tanpa tahu apa yang harus kulakukan.”

Temannya menjawab: “Kita minum dulu. Besok dipikir nanti.”

Mereka tertawa lagi. Tawa terakhir sebelum kenyataan datang menagih.

***

Meja Lima: Lelaki Tua yang Tidak Mau Pulang

Di meja paling belakang duduk lelaki tua, Pak Rendra, pengunjung paling setia. Bukan karena ia suka musik. Bukan karena ia suka kopi. Tapi karena rumahnya terlalu sunyi.

“Mainkan lagu kenangan, Jonas,” katanya dengan suara bergetar.

Jonas memainkan melodi lembut, lagu tua yang mungkin pernah menemani cinta pertamanya. Pak Rendra menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.

“Istriku dulu suka duduk di situ…” katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. “Tapi sekarang aku satu-satunya yang mengingatnya.”

Pelayan menaruh tangan di pundaknya, lembut. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kesedihan orang tua adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.

***

Meja Enam: Cerita yang Tidak Pernah Pergi

Jonas terus bermain, jarinya menari di atas tuts seperti sedang merangkul semua orang.Ia bukan hakim. Bukan guru. Bukan penolong. Ia hanya saksi.

Ia menyaksikan politisi yang ingin jadi manusia, artis yang ingin hilang dari sorotan, pengusaha yang ingin mematikan suara di kepala, anak muda yang ingin melupakan masa depan, lelaki tua yang ingin masa lalu kembali.

Kafe itu berubah menjadi ruangan pengakuan tanpa agama. Setiap meja seperti altar kecil tempat manusia mengaku kalah pada hidup. Jonas memainkan satu melodi panjang yang menyatukan semuanya, nada-nada yang tidak menghakimi, tidak menawarkan solusi, hanya menemani.

***

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang

Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Satu per satu tamu pulang membawa beban yang sama, hanya sedikit lebih ringan. Jonas menutup penutup piano perlahan. Rahman keluar dengan langkah lebih tenang. Mira pulang tanpa menunduk.

Hartono menghela napas panjang. Anak-anak muda pergi sambil tertawa kecil. Pak Rendra berjalan paling terakhir, lambat, seperti ingin menunda kepulangannya.

Ketika kafe benar-benar kosong, Jonas duduk kembali. Ia menekan satu nada. Lalu satu lagi.

“Hidup ini lucu,” gumamnya sendiri.

“Orang datang dengan masalah berbeda… tapi pergi dengan melodi yang sama.”

Ia memejamkan mata.

Di bawah lampu kafe yang redup, ia memainkan satu lagu terakhir. Lagu untuk orang-orang yang tidak benar-benar pulang. Lagu untuk mereka yang menyimpan kesedihan di saku. Lagu untuk mereka yang berbohong demi bertahan. Lagu untuk mereka yang tersenyum demi tidak menangis. Dan lagu itu mengalun dalam kesunyian, tidak untuk didengar, tapi untuk menemani. Seperti doa yang tak pernah selesai. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Next Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co