27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

M.Z. Billal by M.Z. Billal
February 6, 2026
in Puisi
Puisi-puisi M.Z. Billal  |  Merajut Jarak

M.Z. Billal

MERAJUT JARAK

semakin sedikit kau mengetahui,
maka jarak akan menjelma jadi baju hangat
yang kau rajut pada hari-hari sebelum
musim hujan tiba; ia akan mendekap
seperti kenangan-kenangan itu
adalah kekasih yang tidak pernah mati.
abadi dalam kepalamu. dan rindu, dan
prasangka baik, dan harapan-harapan
semakin hijau tumbuh di ladang tandus.
yang tanpa kausadari bahwa kau telah
menciptakan peradaban baru dalam dadamu.

kau menginginkan kebahagiaan itu dan kau
berhasil mewujudkannya. kadang kau memang
perlu mencari, menjelajah ke dalam
dirimu sendiri, bertahan lebih lama dan membatasi
hal-hal yang berasal dari luar masuk. barangkali
kemungkinan besarnya adalah kau akan sekarat.
tak sanggup menahan beban derita pada rentang jarak
yang membentang. tapi percayalah selalu
ada yang indah bila kau mampu menahan dirimu
untuk semua hal yang tidak perlu kau tahu.
termasuk rindumu kepada orang yang tidak tahu
bagaimana membalas rindumu dengan merajut jarak,
dengan benang-benang yang terbuat dari kenangan baik.

2025

EFEK SAMPING RINDU

akan ada pagi-pagi yang masa bodoh.
kita hanya menulis puisi dan mengirim
sejumlah pelukan ke tempat yang jauh sambil
menikmati teh hambar. bertanya bagaimana
kabarmu, lalu menunggu balasan dengan perasaan
yang tidak bisa diungkapkan. namun semua
pekerjaan dan segala jenis kekacauan terasa
tidak masalah. seolah-olah kita terapung
ke udara menjangkau daun-daun paling tinggi
dan menyaksikan semua perbuatan manusia
sebagai pertunjukkan yang menarik seperti
dalam film-film bisu hitam-putih.

begitulah adanya. kadang rindu
membuat kita rajin bergerak
tapi lebih sering ia membuat kita mabuk.
bermalas-malasan, bersikap masa bodoh.
dan efek samping rindu yang paling terasa
adalah kita jadi manusia aneh
paling bahagia di alam semesta ini.

2025

MALAM TAHUN BARU

malam pergantian tahun tak pula
melipur laramu sebenarnya. ia cuma robekan
kulit mati yang mengubahmu dari kau
yang kemarin menjadi kau yang sekarang.
yang masih saja terendam duka lalu tertawa
pura-pura. sementara letup kembang api hanya mirip
suara orang buang angin karena belum makan
seharian. semuanya tak ada yang berbeda.
hanya sedikit debar yang tersisa di kiri
rongga dadamu. bisikan kecil yang berkata,
masih ada hari esok jika kau masih pula kuat
untuk tidak mati dan menangisi kegagalan
juga hal-hal yang berantakan di dunia ini.

dan kau hanya mampu melepaskan napasmu
perlahan sembari menyaksikan langit hitam
yang diberi corak bunga-bunga api sialan;
simbol satu menit kegembiraan
pertaruhan jiwa demi cinta dan harapan.

ya, cuma itu alasan kenapa kau masih memahat dirimu
untuk mempersiapkan waktu yang tersisa. meski
luka-luka di tubuhmu perlu waktu lebih lama
untuk sembuh, perlu pelukan hangat tanpa dialog
yang mempertanyakan apakah kau benar-benar
bisa bertahan dan memetik buah kebahagiaan
untuk tiga ratus enam puluh lima hari perjuangan.

2026

MENUJU TENGAH MALAM

kesunyian melolong
seperti anjing-anjing liar
yang menginginkan hujan turun
ke dalam puisi-puisi gersang yang meradang
tepat ketika waktu menuju dekapan
kelam tengah malam.

biar. biar tak ada yang tahu
perihnya luka parut bekas perjuangan
kecuali kata-kata itu sendiri.
bahwa hidup memang tak mudah;
bahwa hidup membawa cinta beserta
kekecewaan di dalam tubuhnya.
dan hanya ada satu teman setia
yang tak pernah meninggalkan.
yakni kau. kau yang menyaksikan
puisi ini dilahirkan dan sedang kaubaca
dalam lirih sela angin malam; sepasang matamu.

2025

LIMA PERBUATAN BAIK DALAM MENCINTAI

1/
kisah silam; ia dan kau mutlak memiliki itu.
jika sesuatu pernah terbakar di sana. dan kalian menyadari itu
lekas padamkan saja. kubur abunya di dekat akar pohon
yang ia dan kau tanam jauh sebelum kalian bertemu.
tentu saja kalian masih akan mengingat itu. tapi sudahlah,
mencintai dilarang keras menyulut bara masa lalu.

2/
sejumlah pertanyaan di muka bumi tak membutuhkan
jawaban. termasuk ketika kau bertanya padanya
apakah ia perlu mengubah sesuatu yang membuatmu
bahagia? tidak. begitupun sebaliknya. cinta tak akan
bertanya tentang itu. sebab mencintai adalah sebuah pekerjaan
dan ruang kerjanya adalah waktu. dari pagi sampai rindu.

3/
untuk sampai pada tahap saling memiliki, perasaan
berjalan jauh sekali. ia naik turun bukit, menyusuri
gang-gang sempit, dan menyelesaikan teriakan-teriakan.
kau bahkan kuyup kehujanan dan ia berpeluh kepanasan.
rasa sakit adalah parasit baik. membuat ia dan kau demam
tapi indahnya kalian bisa saling memeluk di kesunyian.

4/
ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi saat ia dan kau
berkaul disaksikan potongan langit di atas kepala kalian
dan sepetak bumi yang ia dan kau jejak di bawah kaki kalian.
kesetiaan, penerimaan, saling membahu, berbagi ciuman, dan
bersyukur. tapi kalian jangan lupa satu hal. tidak boleh saling
memenjarakan. sebab ia dan kau bukan sepasang anjing peliharaan.

5/
bergegaslah saling memeluk di antara kalian. kau bisa bilang
padanya sedang mampir ke toko kue kesukaannya, dan ia bisa
bilang padamu sedang menyirami bunga-bunga favoritmu.
usaha-usaha kecil penuh tanggung jawab ini akan menghalau
rasa tidak percaya ia dan kau ketika sebuah tindakan menimbulkan
kecurigaan. namun catatan tebalnya; jangan ada dusta dan penghianatan.

2024

IBU MERAYAKAN AKU

selamat datang kembali di rumah, anakku!

begitulah ibu. ia jahit hari-hari
yang robek pada setiap kepulangan.
dibasuhnya debu dan lumpur di wajah
senduku dengan satu belaian yang
mustajab mengusir segala cemas juga ragu.

ia tak ingin banyak bertanya apakah
aku baik-baik saja atau tidak. melainkan
ia bantu aku mengurai kemacetan kota
yang bermukim di kepalaku. dan dia jaga
pula keheningan jenggala tempatku
menenangkan amuk dada dan carut-marut
rindu. pada malam-malam usang ketika
aku membutuhkan pelukan dan lirih
lagu masa kecil yang mengisahkan
alasan-alasan kenapa anak-anak harus
tumbuh jadi manusia yang baik. bukan
seperti kini; berpeluh senyap duka dan
rencana-rencana gamang tentang masa depan.

sungguh ia selalu mengetahui segala
kabar yang tak pernah terucap dari bibirku.
ia selalu membubuhkan senyum manis
yang menjadi gambar paling kusuka di muka
bumi ini, tatkala api dalam sepasang mataku
mulai redup nyalanya dan lidahku bahkan kelu
hanya untuk berkata bahwa aku tidak apa-apa.

dan bila sudah ia dapati aku mulai kehilangan
jantungku sendiri. maka ibu hanya akan bilang
begini kepadaku:
“mari kita rayakan perjalanan langkah kakimu
hari ini, anakku. ibu selalu merayakanmu;
rasa lelah dan rahasia yang menetap dalam dadamu.”

2025

LEPASKAN SEPERTI BURUNG-BURUNG

pada akhirnya kau tetap harus
menerima itu. bahwa tak akan ada lagi
pelukan. yang membisikkan puisi-puisi.
sepasang cangkir teh yang biasa kaugunakan
bersamanya pun sudah retak. tak bisa lagi
menyeduh apapun. bahkan kehangatan hanya
sampai pada hitungan ketiga. semakin kau
kuat meyakini bahwa bara perasaanmu masih
menyala, sebetulnya ia sudah padam. sebab kau
tahu, satu kekacauan telah terjadi ketika orang lain
datang memasuki pikiranmu, dan memasuki hatinya.
lalu segalanya tak lagi sama. menjadi abu-abu,
menjadi debu-debu, menjadi mendung pada hari rabu.

maka satu-satunya hal yang bisa
kau lakukan ketika patah hati
adalah jatuh cintalah lagi setidaknya
kepada dirimu sendiri. sebab sebaik-baiknya
penyembuh luka adalah saat kau mendapatkan
pelukan kasih sayang darimu sendiri.
dan melepaskan segala yang terjadi seperti
burung-burung. biarkan mereka ke hutan.
biarkan mereka ke laut. biarkan mereka ke langit.

2025

.

Penulis: M.Z. Billal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Next Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

M.Z. Billal

M.Z. Billal

lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co