14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

M.Z. Billal by M.Z. Billal
February 6, 2026
in Puisi
Puisi-puisi M.Z. Billal  |  Merajut Jarak

M.Z. Billal

MERAJUT JARAK

semakin sedikit kau mengetahui,
maka jarak akan menjelma jadi baju hangat
yang kau rajut pada hari-hari sebelum
musim hujan tiba; ia akan mendekap
seperti kenangan-kenangan itu
adalah kekasih yang tidak pernah mati.
abadi dalam kepalamu. dan rindu, dan
prasangka baik, dan harapan-harapan
semakin hijau tumbuh di ladang tandus.
yang tanpa kausadari bahwa kau telah
menciptakan peradaban baru dalam dadamu.

kau menginginkan kebahagiaan itu dan kau
berhasil mewujudkannya. kadang kau memang
perlu mencari, menjelajah ke dalam
dirimu sendiri, bertahan lebih lama dan membatasi
hal-hal yang berasal dari luar masuk. barangkali
kemungkinan besarnya adalah kau akan sekarat.
tak sanggup menahan beban derita pada rentang jarak
yang membentang. tapi percayalah selalu
ada yang indah bila kau mampu menahan dirimu
untuk semua hal yang tidak perlu kau tahu.
termasuk rindumu kepada orang yang tidak tahu
bagaimana membalas rindumu dengan merajut jarak,
dengan benang-benang yang terbuat dari kenangan baik.

2025

EFEK SAMPING RINDU

akan ada pagi-pagi yang masa bodoh.
kita hanya menulis puisi dan mengirim
sejumlah pelukan ke tempat yang jauh sambil
menikmati teh hambar. bertanya bagaimana
kabarmu, lalu menunggu balasan dengan perasaan
yang tidak bisa diungkapkan. namun semua
pekerjaan dan segala jenis kekacauan terasa
tidak masalah. seolah-olah kita terapung
ke udara menjangkau daun-daun paling tinggi
dan menyaksikan semua perbuatan manusia
sebagai pertunjukkan yang menarik seperti
dalam film-film bisu hitam-putih.

begitulah adanya. kadang rindu
membuat kita rajin bergerak
tapi lebih sering ia membuat kita mabuk.
bermalas-malasan, bersikap masa bodoh.
dan efek samping rindu yang paling terasa
adalah kita jadi manusia aneh
paling bahagia di alam semesta ini.

2025

MALAM TAHUN BARU

malam pergantian tahun tak pula
melipur laramu sebenarnya. ia cuma robekan
kulit mati yang mengubahmu dari kau
yang kemarin menjadi kau yang sekarang.
yang masih saja terendam duka lalu tertawa
pura-pura. sementara letup kembang api hanya mirip
suara orang buang angin karena belum makan
seharian. semuanya tak ada yang berbeda.
hanya sedikit debar yang tersisa di kiri
rongga dadamu. bisikan kecil yang berkata,
masih ada hari esok jika kau masih pula kuat
untuk tidak mati dan menangisi kegagalan
juga hal-hal yang berantakan di dunia ini.

dan kau hanya mampu melepaskan napasmu
perlahan sembari menyaksikan langit hitam
yang diberi corak bunga-bunga api sialan;
simbol satu menit kegembiraan
pertaruhan jiwa demi cinta dan harapan.

ya, cuma itu alasan kenapa kau masih memahat dirimu
untuk mempersiapkan waktu yang tersisa. meski
luka-luka di tubuhmu perlu waktu lebih lama
untuk sembuh, perlu pelukan hangat tanpa dialog
yang mempertanyakan apakah kau benar-benar
bisa bertahan dan memetik buah kebahagiaan
untuk tiga ratus enam puluh lima hari perjuangan.

2026

MENUJU TENGAH MALAM

kesunyian melolong
seperti anjing-anjing liar
yang menginginkan hujan turun
ke dalam puisi-puisi gersang yang meradang
tepat ketika waktu menuju dekapan
kelam tengah malam.

biar. biar tak ada yang tahu
perihnya luka parut bekas perjuangan
kecuali kata-kata itu sendiri.
bahwa hidup memang tak mudah;
bahwa hidup membawa cinta beserta
kekecewaan di dalam tubuhnya.
dan hanya ada satu teman setia
yang tak pernah meninggalkan.
yakni kau. kau yang menyaksikan
puisi ini dilahirkan dan sedang kaubaca
dalam lirih sela angin malam; sepasang matamu.

2025

LIMA PERBUATAN BAIK DALAM MENCINTAI

1/
kisah silam; ia dan kau mutlak memiliki itu.
jika sesuatu pernah terbakar di sana. dan kalian menyadari itu
lekas padamkan saja. kubur abunya di dekat akar pohon
yang ia dan kau tanam jauh sebelum kalian bertemu.
tentu saja kalian masih akan mengingat itu. tapi sudahlah,
mencintai dilarang keras menyulut bara masa lalu.

2/
sejumlah pertanyaan di muka bumi tak membutuhkan
jawaban. termasuk ketika kau bertanya padanya
apakah ia perlu mengubah sesuatu yang membuatmu
bahagia? tidak. begitupun sebaliknya. cinta tak akan
bertanya tentang itu. sebab mencintai adalah sebuah pekerjaan
dan ruang kerjanya adalah waktu. dari pagi sampai rindu.

3/
untuk sampai pada tahap saling memiliki, perasaan
berjalan jauh sekali. ia naik turun bukit, menyusuri
gang-gang sempit, dan menyelesaikan teriakan-teriakan.
kau bahkan kuyup kehujanan dan ia berpeluh kepanasan.
rasa sakit adalah parasit baik. membuat ia dan kau demam
tapi indahnya kalian bisa saling memeluk di kesunyian.

4/
ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi saat ia dan kau
berkaul disaksikan potongan langit di atas kepala kalian
dan sepetak bumi yang ia dan kau jejak di bawah kaki kalian.
kesetiaan, penerimaan, saling membahu, berbagi ciuman, dan
bersyukur. tapi kalian jangan lupa satu hal. tidak boleh saling
memenjarakan. sebab ia dan kau bukan sepasang anjing peliharaan.

5/
bergegaslah saling memeluk di antara kalian. kau bisa bilang
padanya sedang mampir ke toko kue kesukaannya, dan ia bisa
bilang padamu sedang menyirami bunga-bunga favoritmu.
usaha-usaha kecil penuh tanggung jawab ini akan menghalau
rasa tidak percaya ia dan kau ketika sebuah tindakan menimbulkan
kecurigaan. namun catatan tebalnya; jangan ada dusta dan penghianatan.

2024

IBU MERAYAKAN AKU

selamat datang kembali di rumah, anakku!

begitulah ibu. ia jahit hari-hari
yang robek pada setiap kepulangan.
dibasuhnya debu dan lumpur di wajah
senduku dengan satu belaian yang
mustajab mengusir segala cemas juga ragu.

ia tak ingin banyak bertanya apakah
aku baik-baik saja atau tidak. melainkan
ia bantu aku mengurai kemacetan kota
yang bermukim di kepalaku. dan dia jaga
pula keheningan jenggala tempatku
menenangkan amuk dada dan carut-marut
rindu. pada malam-malam usang ketika
aku membutuhkan pelukan dan lirih
lagu masa kecil yang mengisahkan
alasan-alasan kenapa anak-anak harus
tumbuh jadi manusia yang baik. bukan
seperti kini; berpeluh senyap duka dan
rencana-rencana gamang tentang masa depan.

sungguh ia selalu mengetahui segala
kabar yang tak pernah terucap dari bibirku.
ia selalu membubuhkan senyum manis
yang menjadi gambar paling kusuka di muka
bumi ini, tatkala api dalam sepasang mataku
mulai redup nyalanya dan lidahku bahkan kelu
hanya untuk berkata bahwa aku tidak apa-apa.

dan bila sudah ia dapati aku mulai kehilangan
jantungku sendiri. maka ibu hanya akan bilang
begini kepadaku:
“mari kita rayakan perjalanan langkah kakimu
hari ini, anakku. ibu selalu merayakanmu;
rasa lelah dan rahasia yang menetap dalam dadamu.”

2025

LEPASKAN SEPERTI BURUNG-BURUNG

pada akhirnya kau tetap harus
menerima itu. bahwa tak akan ada lagi
pelukan. yang membisikkan puisi-puisi.
sepasang cangkir teh yang biasa kaugunakan
bersamanya pun sudah retak. tak bisa lagi
menyeduh apapun. bahkan kehangatan hanya
sampai pada hitungan ketiga. semakin kau
kuat meyakini bahwa bara perasaanmu masih
menyala, sebetulnya ia sudah padam. sebab kau
tahu, satu kekacauan telah terjadi ketika orang lain
datang memasuki pikiranmu, dan memasuki hatinya.
lalu segalanya tak lagi sama. menjadi abu-abu,
menjadi debu-debu, menjadi mendung pada hari rabu.

maka satu-satunya hal yang bisa
kau lakukan ketika patah hati
adalah jatuh cintalah lagi setidaknya
kepada dirimu sendiri. sebab sebaik-baiknya
penyembuh luka adalah saat kau mendapatkan
pelukan kasih sayang darimu sendiri.
dan melepaskan segala yang terjadi seperti
burung-burung. biarkan mereka ke hutan.
biarkan mereka ke laut. biarkan mereka ke langit.

2025

.

Penulis: M.Z. Billal
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Next Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

M.Z. Billal

M.Z. Billal

lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co