2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
February 6, 2026
in Esai
Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Karya Wayan Sujana Suklu

Pendahuluan

Sebagai seniman, saya acap menyadari bahwa hidup tak pernah berdiri di titik kosong, ia selalu memihak pada luka atau harap. Ia bukan sekadar gemuruh elan peristiwa biologis yang kita lalui dari lahir hingga mati, melainkan medium pertama yang kita terima, bahkan sebelum kita memilih riwayat seni, sebelum akhirnya kita mengenal kata “karya rupa”.

Setiap manusia hidup di antara dua jemana yang tak pernah benar-benar kita ingat secara utuh, napas pertama dan ingatan terakhir. Di antara keduanya, hidup bergerak sebagai proses panjang pembentukan makna melalui tubuh, relasi, ritual, luka, dan cerita.

Tulisan ini merupakan upaya membaca kembali tahapan hidup manusia sebagai proses artistik, sebuah langkah-langkah yang secara sadar atau tidak, kita bangun atau tata layaknya komposisi karya pada matra.

Dalam tradisi lokal maupun pemikiran global, kehidupan selalu dipahami sebagai siklus yang melingkar, bukan garis lurus. Sebagai seniman yang hidup di tengah gradasian dan bekerja di persimpangan budaya, saya mencoba menuliskan tahapan-tahapan itu bukan sebagai teori, melainkan sebagai kisah yang dialami, diamati, dan direnungkan sebagai epos personal.

Napas Pertama: Awal yang Tak Kita Ingat

Namun justru dari momen itulah seluruh hidup mendapatkan lokus. Dalam banyak kebudayaan dunia, napas tidak diamini semata sebagai fungsi biologis, melainkan sebagai energi hidup yang menghubungkan antara manusia dengan alam semesta raya.

Di Bali, napas dikenal sebagai bayu, daya hidup yang menautkan tubuh manusia dengan Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Karena itu, kelahiran selalu disertai doa dan ritual,
sebagai penyelarasan kosmis.

Napas pertama menandai kehadiran manusia sebagai bagian dari semesta, bukan sebagai individu yang terpisah. Nafas pertama merupakan simbol universal lahirnya seorang manusia. Secara biologis merupakan momen ritus dan sambutan, disambut tetesan air laut, harumnya dupa Bali, atau lantunan kidung di banyak komunitas Nusantara, keluarga mengucapkan doa dan sambutan suci agar itu membawa keseimbangan.
Pandangan ini sejalan dengan antropologi modern.

Arnold van Gennep memandang kelahiran sebagai rite of passage, sebuah peristiwa ambang yang memindahkan manusia dari dunia non-sosial ke dunia budaya. Tangisan bayi bukan sekadar refleks, tetapi tanda masuknya tubuh ke elan tatanan sosial, transisi dari kebergantungan total pada tubuh ibu ke dunia sosial.

Sebagai seniman, saya acap kali melihat napas pertama ini sebagai metafora penciptaan. Setiap karya, seperti hidup, selalu dimulai dari sesuatu yang tak sepenuhnya kita kuasai. Kita hanya bisa hadir, bernapas, lalu membiarkan proses berjalan bagaikan rupa yang siap berbagai kemungkinan.

Kanak-Kanak: Tubuh, Permainan, dan Imajinasi


Masa kanak-kanak merupakan fase ketika dunia belum sepenuhnya diberi nama, tetapi epos telah dirasakan dengan intens. Tubuh dengan atribut entitas bekerja lebih cepat dari pada bahasa. Anak menjamah dunia lewat sentuhan, gerak, suara, dan permainan.
Saya tumbuh dengan permainan tradisional seperti petak umpet, ngonang, yoyo, nampus gelatik, dan layangan.

Tanpa disadari, permainan-permainan itu mengajarkan ritme, kerja sama, batas, dan keadilan. Bahkan tidak ada kurikulum formal, tetapi terselip pendidikan estetika tubuh yang berlangsung secara alami.
Jean Piaget menjelaskan bahwa anak membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Ariban konteks lokal, pengetahuan itu tidak dipisahkan dari komunitas. Anak belajar hidup bukan dari instruksi verbal, melainkan dari pengalaman transformatif kolektif.

Bagi seniman, masa kanak-kanak adalah arsip imajinasi yang luruh lekat di memori, tak pernah benar-benar hilang. Berjimbun karya seni dewasa sesungguhnya adalah usaha untuk kembali pada cara melihat anak-anak: terbuka, tak sinis, dan penuh rasa ingin tahu. Ketika imajinasi masa kanak-kanak terputus, seni sering kehilangan vitalitasnya.

Remaja, Tubuh yang Berubah dan Pencarian Identitas


Remaja adalah epos paling bising sekaligus paling rapuh. Tubuh berubah cepat, emosi menguat, tetapi bahasa sering tertinggal. Di sinilah manusia mulai menyadari keterpisahan dirinya dari dunia, keinginan yang tumbuh cepat, aturan membimbing, dan mulai bertanya tentang identitas.

Dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menyebut fase ini sebagai krisis identitas. Remaja berada di antara kebutuhan untuk diterima dan dorongan untuk berbeda. Budaya modern memperumit fase ini dengan tuntutan citra, prestasi, dan ekspektasi sosial.

Namun dalam banyak tradisi lokal, kegelisahan remaja diikat dengan ritus peralihan. Upacara kedewasaan, keterlibatan dalam kegiatan adat, dan tanggung jawab komunal berfungsi sebagai penanda, bahwa perubahan adalah keniscayaan, diakui, disediakan ruang, dan diarahkan.

Sebagai seniman, masa remaja sering menjadi laboratorium awal pencarian pola-pola samar. Puisi pertama, gambar pertama, atau gestur artistik awal biasanya lahir dari kegelisahan ini. Luka, kegetiran, kebingungan, traumatik, dan hasrat yang belum terartikulasi sering menjadi bahan anyar bahasa artistika dan estetika di kemudian hari.

Dewasa: Pilihan, Tanggung Jawab, dan Posisi Etis


Menjadi dewasa sering dipahami sebagai fase stabil. Namun demikian sesungguhnya, inilah epos paling kompleks penuh drama dalam komposisi hidup. Manusia dewasa harus membangun relasi antara kebebasan dan tanggung jawab, antara keinginan personal dan tuntutan sosial.
Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Setiap pilihan adalah tindakan etis yang membentuk diri.

Dalam konteks lokal, kedewasaan juga berarti keterlibatan aktif dalam struktur sosial, keluarga, banjar, komunitas, menyadari keputusan dan konsekuensi.
Bagi seniman, masa dewasa adalah saat karya tidak lagi berdiri terpisah dari hidup. Seni bertemu dengan realitas ekonomi, kewajiban adat, dan relasi sosial. Pada titik inilah muncul pertanyaan penting: di mana posisi seni dalam kehidupan bersama?

Seni dewasa bukan lagi sekadar ekspresi, tetapi pernyataan sikap. Ia berbicara tentang keberpihakan, kesadaran, penyembuh, dan tanggung jawab terhadap dunia yang semakin kompleks.

Menua: Waktu, Refleksi, dan Kepadatan Makna


Menua acap dipandang sebagai kemunduran, padahal dalam banyak kebudayaan, usia tua justru dihormati sebagai epos kebijaksanaan. Pengalaman hidup mengendap paripurna menjadi cerita, statement, dan membawa pengetahuan sekaligus mewariskan cerita.
Psikologi gerontologi menunjukkan bahwa manusia lanjut usia cenderung berfokus pada makna yang dikais, bukan pencapaian belaka.

Erikson menyebut fase ini sebagai refleksi integritas hidup apakah hidup yang dijalani dapat diterima sebagai sesuatu yang utuh dan reflektif.
Kasanah kebudayan Bali, para tetua desa berperan sebagai penjaga ingatan kolektif. Cerita mereka sekalipun tidak selalu runtut, namun demikian bergelimpangan nilai sarat makna.

Mereka tidak mengejar klimaks, karena hidup telah memberi pengalaman cukup dari awal sampai akhir. Penuaan bukan sekedar biologis, ia adalah estetika sejarah hidup.
Dalam seni, fase ini sering melahirkan karya paling jujur. Tidak ada lagi kebutuhan untuk membuktikan apa pun, kecuali kebutuhan healing sekaligus. Yang tersisa hanyalah kehadiran pengalaman, dampak sosial, dan spiritual.

Ingatan: Ketika Hidup Berubah Menjadi Cerita


Tidak semua manusia dikenang lewat monumen atau arsip resmi. Sebagian besar hidup dalam ingatan kecil; cerita keluarga, kebiasaan, pengaruh yang samar namun bertahan. Kisah hidup seseorang tidak berhenti saat tubuh tenang. Ia tertinggal dalam ingatan kolektif.
William James menegaskan bahwa ingatan bukan sekadar rekaman masa lalu, melainkan bagian aktif dari identitas.

Setiap kali kita mengingat, kita menafsirkan ulang hidup. Tradisi lokal ingatan dijaga melalui cerita lisan, ritual, seni pertunjukan, dan lontar. Dalam sastra global, ingatan menjadi ruang pertemuan antara sejarah personal dan kolektif.

Bagi seniman, ingatan adalah medium paling rapuh sekaligus paling kuat. Karya seni mungkin rusak, tetapi kisah yang hidup dalam ingatan orang lain dapat bertahan jauh lebih lama. Inilah garis yang lembut dari narasi kehidupan; nafas pertama kita membentuk dunia kita, ingatan yang kita tinggalkan menjadi bagian dari dunia orang lain.

Penutup: Hidup sebagai Karya yang Tak Pernah Selesai


Dari napas pertama hingga menjadi ingatan, hidup manusia adalah proses penciptaan yang tidak pernah final. Perjalanan hidup manusia dari nafas pertama hingga menjadi ingatan merupakan sebuah kisah perjalanan yang melampaui batas biologis, ia juga ritus sosial, estetika budaya, dan kontruksi makna. Memahami epos ini kita melihat manusia sebagai organisme, sekaligus narator makna dalam jagad hidup yang luas dan kaya. [T]

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni RupasenimanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur —Pentas ‘Bima Swarga’ UPMI Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi M.Z. Billal  |  Merajut Jarak

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co