22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
February 6, 2026
in Esai
Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Karya Wayan Sujana Suklu

Pendahuluan

Sebagai seniman, saya acap menyadari bahwa hidup tak pernah berdiri di titik kosong, ia selalu memihak pada luka atau harap. Ia bukan sekadar gemuruh elan peristiwa biologis yang kita lalui dari lahir hingga mati, melainkan medium pertama yang kita terima, bahkan sebelum kita memilih riwayat seni, sebelum akhirnya kita mengenal kata “karya rupa”.

Setiap manusia hidup di antara dua jemana yang tak pernah benar-benar kita ingat secara utuh, napas pertama dan ingatan terakhir. Di antara keduanya, hidup bergerak sebagai proses panjang pembentukan makna melalui tubuh, relasi, ritual, luka, dan cerita.

Tulisan ini merupakan upaya membaca kembali tahapan hidup manusia sebagai proses artistik, sebuah langkah-langkah yang secara sadar atau tidak, kita bangun atau tata layaknya komposisi karya pada matra.

Dalam tradisi lokal maupun pemikiran global, kehidupan selalu dipahami sebagai siklus yang melingkar, bukan garis lurus. Sebagai seniman yang hidup di tengah gradasian dan bekerja di persimpangan budaya, saya mencoba menuliskan tahapan-tahapan itu bukan sebagai teori, melainkan sebagai kisah yang dialami, diamati, dan direnungkan sebagai epos personal.

Napas Pertama: Awal yang Tak Kita Ingat

Namun justru dari momen itulah seluruh hidup mendapatkan lokus. Dalam banyak kebudayaan dunia, napas tidak diamini semata sebagai fungsi biologis, melainkan sebagai energi hidup yang menghubungkan antara manusia dengan alam semesta raya.

Di Bali, napas dikenal sebagai bayu, daya hidup yang menautkan tubuh manusia dengan Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Karena itu, kelahiran selalu disertai doa dan ritual,
sebagai penyelarasan kosmis.

Napas pertama menandai kehadiran manusia sebagai bagian dari semesta, bukan sebagai individu yang terpisah. Nafas pertama merupakan simbol universal lahirnya seorang manusia. Secara biologis merupakan momen ritus dan sambutan, disambut tetesan air laut, harumnya dupa Bali, atau lantunan kidung di banyak komunitas Nusantara, keluarga mengucapkan doa dan sambutan suci agar itu membawa keseimbangan.
Pandangan ini sejalan dengan antropologi modern.

Arnold van Gennep memandang kelahiran sebagai rite of passage, sebuah peristiwa ambang yang memindahkan manusia dari dunia non-sosial ke dunia budaya. Tangisan bayi bukan sekadar refleks, tetapi tanda masuknya tubuh ke elan tatanan sosial, transisi dari kebergantungan total pada tubuh ibu ke dunia sosial.

Sebagai seniman, saya acap kali melihat napas pertama ini sebagai metafora penciptaan. Setiap karya, seperti hidup, selalu dimulai dari sesuatu yang tak sepenuhnya kita kuasai. Kita hanya bisa hadir, bernapas, lalu membiarkan proses berjalan bagaikan rupa yang siap berbagai kemungkinan.

Kanak-Kanak: Tubuh, Permainan, dan Imajinasi


Masa kanak-kanak merupakan fase ketika dunia belum sepenuhnya diberi nama, tetapi epos telah dirasakan dengan intens. Tubuh dengan atribut entitas bekerja lebih cepat dari pada bahasa. Anak menjamah dunia lewat sentuhan, gerak, suara, dan permainan.
Saya tumbuh dengan permainan tradisional seperti petak umpet, ngonang, yoyo, nampus gelatik, dan layangan.

Tanpa disadari, permainan-permainan itu mengajarkan ritme, kerja sama, batas, dan keadilan. Bahkan tidak ada kurikulum formal, tetapi terselip pendidikan estetika tubuh yang berlangsung secara alami.
Jean Piaget menjelaskan bahwa anak membangun pengetahuan melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Ariban konteks lokal, pengetahuan itu tidak dipisahkan dari komunitas. Anak belajar hidup bukan dari instruksi verbal, melainkan dari pengalaman transformatif kolektif.

Bagi seniman, masa kanak-kanak adalah arsip imajinasi yang luruh lekat di memori, tak pernah benar-benar hilang. Berjimbun karya seni dewasa sesungguhnya adalah usaha untuk kembali pada cara melihat anak-anak: terbuka, tak sinis, dan penuh rasa ingin tahu. Ketika imajinasi masa kanak-kanak terputus, seni sering kehilangan vitalitasnya.

Remaja, Tubuh yang Berubah dan Pencarian Identitas


Remaja adalah epos paling bising sekaligus paling rapuh. Tubuh berubah cepat, emosi menguat, tetapi bahasa sering tertinggal. Di sinilah manusia mulai menyadari keterpisahan dirinya dari dunia, keinginan yang tumbuh cepat, aturan membimbing, dan mulai bertanya tentang identitas.

Dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menyebut fase ini sebagai krisis identitas. Remaja berada di antara kebutuhan untuk diterima dan dorongan untuk berbeda. Budaya modern memperumit fase ini dengan tuntutan citra, prestasi, dan ekspektasi sosial.

Namun dalam banyak tradisi lokal, kegelisahan remaja diikat dengan ritus peralihan. Upacara kedewasaan, keterlibatan dalam kegiatan adat, dan tanggung jawab komunal berfungsi sebagai penanda, bahwa perubahan adalah keniscayaan, diakui, disediakan ruang, dan diarahkan.

Sebagai seniman, masa remaja sering menjadi laboratorium awal pencarian pola-pola samar. Puisi pertama, gambar pertama, atau gestur artistik awal biasanya lahir dari kegelisahan ini. Luka, kegetiran, kebingungan, traumatik, dan hasrat yang belum terartikulasi sering menjadi bahan anyar bahasa artistika dan estetika di kemudian hari.

Dewasa: Pilihan, Tanggung Jawab, dan Posisi Etis


Menjadi dewasa sering dipahami sebagai fase stabil. Namun demikian sesungguhnya, inilah epos paling kompleks penuh drama dalam komposisi hidup. Manusia dewasa harus membangun relasi antara kebebasan dan tanggung jawab, antara keinginan personal dan tuntutan sosial.
Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Setiap pilihan adalah tindakan etis yang membentuk diri.

Dalam konteks lokal, kedewasaan juga berarti keterlibatan aktif dalam struktur sosial, keluarga, banjar, komunitas, menyadari keputusan dan konsekuensi.
Bagi seniman, masa dewasa adalah saat karya tidak lagi berdiri terpisah dari hidup. Seni bertemu dengan realitas ekonomi, kewajiban adat, dan relasi sosial. Pada titik inilah muncul pertanyaan penting: di mana posisi seni dalam kehidupan bersama?

Seni dewasa bukan lagi sekadar ekspresi, tetapi pernyataan sikap. Ia berbicara tentang keberpihakan, kesadaran, penyembuh, dan tanggung jawab terhadap dunia yang semakin kompleks.

Menua: Waktu, Refleksi, dan Kepadatan Makna


Menua acap dipandang sebagai kemunduran, padahal dalam banyak kebudayaan, usia tua justru dihormati sebagai epos kebijaksanaan. Pengalaman hidup mengendap paripurna menjadi cerita, statement, dan membawa pengetahuan sekaligus mewariskan cerita.
Psikologi gerontologi menunjukkan bahwa manusia lanjut usia cenderung berfokus pada makna yang dikais, bukan pencapaian belaka.

Erikson menyebut fase ini sebagai refleksi integritas hidup apakah hidup yang dijalani dapat diterima sebagai sesuatu yang utuh dan reflektif.
Kasanah kebudayan Bali, para tetua desa berperan sebagai penjaga ingatan kolektif. Cerita mereka sekalipun tidak selalu runtut, namun demikian bergelimpangan nilai sarat makna.

Mereka tidak mengejar klimaks, karena hidup telah memberi pengalaman cukup dari awal sampai akhir. Penuaan bukan sekedar biologis, ia adalah estetika sejarah hidup.
Dalam seni, fase ini sering melahirkan karya paling jujur. Tidak ada lagi kebutuhan untuk membuktikan apa pun, kecuali kebutuhan healing sekaligus. Yang tersisa hanyalah kehadiran pengalaman, dampak sosial, dan spiritual.

Ingatan: Ketika Hidup Berubah Menjadi Cerita


Tidak semua manusia dikenang lewat monumen atau arsip resmi. Sebagian besar hidup dalam ingatan kecil; cerita keluarga, kebiasaan, pengaruh yang samar namun bertahan. Kisah hidup seseorang tidak berhenti saat tubuh tenang. Ia tertinggal dalam ingatan kolektif.
William James menegaskan bahwa ingatan bukan sekadar rekaman masa lalu, melainkan bagian aktif dari identitas.

Setiap kali kita mengingat, kita menafsirkan ulang hidup. Tradisi lokal ingatan dijaga melalui cerita lisan, ritual, seni pertunjukan, dan lontar. Dalam sastra global, ingatan menjadi ruang pertemuan antara sejarah personal dan kolektif.

Bagi seniman, ingatan adalah medium paling rapuh sekaligus paling kuat. Karya seni mungkin rusak, tetapi kisah yang hidup dalam ingatan orang lain dapat bertahan jauh lebih lama. Inilah garis yang lembut dari narasi kehidupan; nafas pertama kita membentuk dunia kita, ingatan yang kita tinggalkan menjadi bagian dari dunia orang lain.

Penutup: Hidup sebagai Karya yang Tak Pernah Selesai


Dari napas pertama hingga menjadi ingatan, hidup manusia adalah proses penciptaan yang tidak pernah final. Perjalanan hidup manusia dari nafas pertama hingga menjadi ingatan merupakan sebuah kisah perjalanan yang melampaui batas biologis, ia juga ritus sosial, estetika budaya, dan kontruksi makna. Memahami epos ini kita melihat manusia sebagai organisme, sekaligus narator makna dalam jagad hidup yang luas dan kaya. [T]

Penulis: Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seni RupasenimanTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur —Pentas ‘Bima Swarga’ UPMI Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi M.Z. Billal  |  Merajut Jarak

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co