23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur —Pentas ‘Bima Swarga’ UPMI Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
February 6, 2026
in Panggung
Kupu-kupu Pertanda Datangnya Spirit Leluhur  —Pentas ‘Bima Swarga’ UPMI Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Sendratari Bima Swarga dari UPMI Bali

Ketika cahaya panggung berbentuk presenium itu semakin terang, gamelan Semarandana pun di tabuh. Gending yang dimainkan begitu lembut, sejuk dan terkesan damai. Perlahan, penonton mulai mengisi tempat duduk. Walau tidak terlalu penuh, MC langsung menyapa pengunjung dan menyebut Bulan Bahasa Bali VIII hari ini, Kamis 5 Pebruari 2026 menghadirkan Sasolahan (Pergelaran) Sendratari Bima Swarga oleh Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali.

Gedung Kesirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali tempat pergelaran itu berdenyut. Penonton bertepuk tangan. Meski tak terlalu banyak, namun suara itu cukup membangkitkan semangat para seniman muda yang tengah berekpresi melalui gerak tari di atas panggung. Maksud dan pesan moral disampaikan oleh seorang dalang, tukang tandak memperkuat aspek dramatic, dan pengkisahan dikuatkan alunan gending atau tembang oleh tiga gerong wanita.

Gamelan Semarandana yang dipilih menjadi iringannya, mampu memformulasi permainan nada-nada yang garapan menjadi lebih hidup. Musik itu ditata, bukan hanya sebagai pengiring gerak, tetapi mampu pembangun suasana pada setiap adegan, mengatur ritme tari, juga mempertegas karakter tokoh. Iringannya memang ditata apik, sehingga mampu menyampaikan pesan cerita tanpa dialog kepada penonton, dan memperindah gerakan tari.

“Sendratari ini mengangkat karya sastra dari kearipan lokal Bali, yaitu Bima Swarga yang kemudian digarap menjadi karya seni sendratari yang mengacu pada tema Bulan Bahasa Bali VIII, yakni “Atma Kerthi – Udiāna Purnaning Jiwa” sebagai upaya pelestarian Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali,” kata Art Direktor, Dr. I Gusti Darma Putra atau yang lebih dikenal sebagai Gung Ade Dalang disela-sela pergelaran itu.

Sendratari Bima Swarga dari UPMI Bali

Sendratari Bima Swarga ini secara konsep alur berjalan, seperti biasa. Namun, dalam pergelarannya dapat dibagi 4 bagian. Pertama flash back, dan opening yang menghadirkan kebimbangan Bima yang tiba-tiba ingat dengan orang tuanya, yaitu Pandu dan Dewi Madri. Bima juga kebingungan tentang kehadiran kupu-kupu di lingkungan istana. Bahkan, dua kupu-kupu sempat menjadi perhatian, tetapi tidak dijelaskan kenapa ada kupu-kupu.

Bagian kedua, menghadirkan suasana di istana, dimana Pandawa dengan prajurit dan dayang sedang melaksanakan pertemuan. Di situ, tidak menghadirkan Dewi Kunti, tetapi langsung menghadirkan kebingungan dari Pandawa untuk menyiapkan keinganan Ibu Kunti untuk mengutus salah satu anaknya menuju ke Yama Loka mencari sesuatu untuk “menyupat mala”.
Bima sempat marah karena tidajk ada yang bersedia. Bima kemudian menyadarkan saudaranya untuk bersama-sana pergi ke Swarga loka.

Bagian ketiga menghadirkan suasana di Yama Loka dengan tokoh Raksasa dan satu atma. Dalam adegan ini sarat dengan pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan di dunia. Kemudian bagian keempat, menghadirkan perang di Yama Loka, dan ending. Dalam adegan ini, ada unsur dramatic, dimana Bima tidak mau mencakupkan tangan ketiga melakukan sembah bakti.

Sendratari Bima Swarga dari UPMI Bali

Gung Ade Dalang mengatakan, dalam garapan Bima Swarga ini pesan yang ingin disampaikan itu menukik pada tema besar. Namun, yang menjadi fokus dalam garapan itu juga mengekplor dari mascot yang dihadirkan dalam bulan Bahasa Bali VIII ini, yaitu Kupu-kupu. “Maka itu, perjalanan Bima Swarga ini kami fromulasikan dengan kepercayaan kearipan local Bali dengan keberagadaan kupu-kupu. Ada kebercayaan kalua ada kupu-kupu masuk ke pekarangan rumah itu artinya ada tanda bahwa leluhur yang dating,” ungkap pembuat Wayang Ental ini.

Kupu-kupu dihadirkan di awal garapan, bagian tengah dan bagian akhir pada bagian keempat, saat adegan peperangan Cikrabali dengan kupu-kupu. Iitu artinya spirit para leluhur bisa memberikan jalan kepada pretisentana atau keturanan untuk mencapai apa yang diinginkan melalui spirit tersebut. “Atma Kerthi pemuliaan dan pemurnian jiwa, dan kontek cerita Bima Swarga itu pada intinya menyupat dari Maharaja Pandu dan Dewi Madri untuk di linggihkan di Pemerajan Agung untuk diupacai,” jelasnya.

Intinya, Tim Kesenian UPMI Bali ini mengkorelasikan apa yang diilhami bersama tentang keberadaan kupu-kupu itu. Hanya menjadi kode yang tidak lumbrah, namun kini dihadirkan di dalam ajang Bulan Bahasa Bali. “Maka kita coba ramu dan munculkan kepercayaan yang kini mulai pudar, dimana ada kupu-kupu ke rumah itu petanda leluhur memantau dari alam sana untuk memberikan spiritnya. Leluhur itu hadir sebagai spirit, sehingga ada jiwa yang berjuang untuk melanjutkan kehidupan lebih baik,” paparnya.

Sendratari Bima Swarga dari UPMI Bali

Koordinator pergelaran I Gede Gusman Adi Gunawan mengatakan, sasolahan Bima Swarga ini didukung sebanyak 53 penari dan penabuh. Garapan ini tak hanya melibatkan mahasiswa khususnya Jurusan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), tetapi juga melibatkan dosen. “Kendala yang kami hadapi adalah kurangnya waktu. Program baru mahasiswa di semester ganjil masih kuliah pratek, sehingga waktu latihan berbagai dengan jam kuliah,” ungkapnya.

Namun menariknya, lanjut Wawan Gumi Art – sapaan akrabnya, karya ini secara koseptual dikreatori oleh Gung De Dalang, dan dikoreografi oleh Dek Gung, serta fikomposeri I Ketut Lanus, namun tetap memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggarap. “Ini karya dari mahasiswa. Mereka mengekskusi atau mengerjakan koreografinya masing-masing, namun tetap dibimbing oleh dosennya,” pungkas Wawan. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026Dinas Kebudayaan Balikesenian baliseni pertunjukanUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penting Penegasan Penggunaan Aksara Bali di Baligrafi —Catatan Workshop Baligrafi di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran —Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Dari Tubuh yang Bernapas Hingga Cerita yang Menggenang dalam Kesadaran ---Catatan seorang seniman tentang tubuh, waktu, dan narasi hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co