6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Made Chandra by Made Chandra
April 14, 2026
in Ulas Rupa
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali. Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam lubang hidungku. Sebuah pertanda tentang hari yang rasanya cukup menyenangkan untuk dilakoni.

Tak ada yang berbeda di pagi itu, sampai kemudian aku teringat ada beberapa pameran tunggal yang aku harus kunjungi sore harinya.

Sebagai seorang suporter tetap di tribun-tribun kesenian, terutama di skena Bali. Bokong rasanya sudah terlatih untuk diajak kompromi—menduduki jok motor dengan jarak satu jam perjalanan hanya untuk menikmati suguhan karya dalam sebuah pameran—sebuah kenyataan yang menjadi hal lumrah bagi mereka yang memilih Bali sebagai kolam berkesenian. Terlebih jika itu para dedengkot seniman yang seperskenaan. Rasanya sulit menolak undangan yang kini hanya terpampang manis dalam feed Instagram para scroller andal.

Tiga Solo Exhibition Dalam Satu Malam

Disengaja atau tidak, ketiga perupa yang ku kunjungi pamerannya ini nampaknya bersepakat untuk memilih hari baik itu untuk mengadakan susur pameran— seperti halnya susur sungai, tapi riak arusnya seni rupa kontemporer….

Mengapa ku sebut sebagai susur pameran, karena rute untuk sampai pada ketiga pameran itu, memaksaku untuk menerobos arus kemacetan dan menyusuri jalanan sempit untuk bisa sampai.

Sebut saja Dayu Sartika, salah seorang seniman muda yang berpameran pada malam itu. Ia berpameran di salah satu alternatif space yang terletak tak jauh dari Pantai Petitenget, yaitu Uma Seminyak dengan tajuk pameran “Kini Aku Kembali Pulang”. Sebuah pameran yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari, teman lama yang kini juga kembali terjun ke ruang pamer.

Sebagai seorang yang cukup sering mendatangi pameran, rasanya memang akhir-akhir ini aku jarang melihat Dayu berpameran secara langsung. Terakhir yang kuingat adalah karya-karya dalam seri Manis-manisnya—yang mengingatkanku tentang Dayu dan keinginan semunya untuk menyantap makanan manis yang uzur karna kondisi kesehatannya di masa muda.

Goresan charcoal Dayu dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Sesaat kusadari, ternyata itu sudah 2 tahun yang lalu, rasanya singkat sekali. Tapi terasa begitu lama bagi seorang yang dahulunya begitu aktif dengan jaringan perupa muda after pandemi. Kevakuman tersebut tentunya disertai beberapa alasan, terutama ia yang kini tengah mengajar sebagai guru di ujung utara Bali. Sedikit tidaknya hal itu menjadi sebab ia menepi sejenak dari kepenatan skena seni.

Saat kumasuki ruang pamer yang tak begitu besar, aku langsung disuguhi beberapa goresan charcoal yang menampakan sosok wanita yang mestinya sang seniman itu sendiri. Anatomi lekuk tubuh termanifestasi dengan nyata dalam tarikan garis yang begitu tegas sekaligus lembut. Dengan begitu lihai ia mengelabui mata penonton, arsirannya nampak halus namun ketika didekati, terpampang pasti dalam guratan-guratan kasar khas charcoal.

Instalasi partisipatoris dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Diantara garis-garis tersebut tumpah helaian rambut yang berurai dengan intensitas charcoal yang nian pekat—memecah keheningan ruang yang ia bangun dalam komposisinya. Rambut-rambut tersebut sesekali mengelus, mengurai, lalu memilin satu sama lain. Sebuah penggambaran metaforis tentang hubungan love hate relationship antara dirinya dan waktu yang terus berjalan.

Mengapa charcoal? Ternyata ini salah satu medium pertama yang ia gunakan dan eksplorasi di awal karir keperupaannya. Pensil arang itu serupa seismograf yang merekam getaran batin seorang Dayu.

Setelah beberapa tahun beranjak dan bertamasya dengan kuas dan warna-warna manisnya, kini ia “Kembali Pulang” ke pangkuan diri yang selama ini telah ia tinggalkan. Mencoba kembali Menyusun diri dan berdamai dengan waktu yang telah membuat dirinya kian dewasa.

Karya-karya dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Beranjak dan move on dari kesenduan dan nuansa reflektif dalam pameran Dayu, kini kita bergeser pada duo pameran solo yang berada dalam satu atap yang sama, tepatnya di Galeri Sun Contemporary yang berjarak 30 menit dari Uma Seminyak.

Nugi Ketut, dua kata ini rasanya tak asing di telinga para penikmat seni rupa kontemporer Bali, utamanya anak muda lintas disiplin yang kini sedang ramai dengan segala kehirukpikukannya. Pameran yang ia beri judul “Little Object of Otherness” ini sekaligus menjadi perhelatan ke tiga dari solo Exhibition yang pernah ia Jalani sebelumnya.

Belakangan ini kita mengenal Nugi dengan papan plang khas ke Bali-baliannya. Plang itu ia gubah menjadi medium kritik sosial terhadap parawisata dan konstruksi sejarah orang-orang Bali saat pertama kali menerima pengaruh dunia luar. Begitupun sapuan kuas yang kasar, layaknya poster-poster promosi parawisata di era seniman ekspatriat membawa ribuan turis dari negara-negara kolonial ke Pulau Bali.

Suasana solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Namun di ruang pamer yang tak begitu luas, ia menampilkan satu hal yang mungkin belum pernah ia tunjukan dalam aktivitas berpamerannya. Sebut saja berbagai sketsa dan mini painting yang tersusun layaknya selebaran kartu pos lama, dan poster-poster perjalanan kolonial yang kita sering jumpai di Internet.

Melihat dan mengamati kartu-kartu kecil itu, membuatku berpikir bagaimana membayangkan Bali yang telah lama dikemas sebagai bagian dari aktivitas hospitality tersistematis. Beragam kemudahan ditawarkan layaknya fasilitas portabel—memudahkan turis untuk membawa ingatan tentang ikon-ikon kebalian itu.

Karya-karya kecil dalam solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian besar karya-karya kecil dan beberapa lukisan yang hadir banyak berasal dari aset design yang ia sering kerjakan di belakang layar kesenimanannya. Ia memadukan citra konvensional dengan promosi digital yang sehari-hari kita lihat dalam media promosi parawisata. Melalui karya-karya itu ia tak menampik kenyataan tentang dirinya yang ada dan hidup ditengah pergulatan industri parawisata. Berbagai fragmen-fragmen itu muncul sebagai bagian yang “lain” dari seorang Nugi. Hal yang jarang terekspos namun menjadi bagian penting dalam jejak karya-karya pentingnya.

ia hadir untuk menghadirkan ironi sekaligus cubitan kecil yang mengganggu kesadaran kita. Tentang sikap dan cara pandang kita terhadap parawisata dari sudut pandang yang lebih jernih, agar tak jatuh dalam kelatahan orang-orang Bali pada umumnya. Poster-poster itu seperti pil obat yang kecil namun menyingkap tabir pahit dari struktur besar yang selama ini luput untuk kita sadari. 

Sejenak kemudian aku melangkah ke bagian lain dari galeri yang sama, melihat visual yang rasanya begitu jomplang dalam eksekusi artistik dibandingkan karya-karya pada pameran Nugi. Di ruang yang lebih leluasa ini, aku kemudian menyadari karya-karya ini berasal dari Pecut Sumantri, seniman yang beberapa kali karyanya aku lihat di Bali, namun pada pameran tunggal ini aku melihat sesuatu yang cukup berbeda darinya.

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Jika di ruangan Nugi aku harus berhimpit-himpit untuk mendekat dan melihat karya-karya kecil darinya, di ruangan Pecut aku seperti diberi jarak untuk bernafas—sebuah penempatan flow yang strategis dari pihak galeri. Ada satu hal yang perlu disadari dalam menikmati karya-karyanya, yaitu jarak dan picingan mata yang menyempit. Mengapa begitu?

Pecut menampilkan objek-objek familiar namun dibungkus dalam visual berkabut seolah berasal dari pandangan seseorang yang sedang rabun jauh. Entah disengaja atau tidak, visual itu memaksa penikmat untuk mengambil jarak yang cukup dan sedikit memicingkan mata agar gambar yang bersembunyi di balik kabut itu terungkap.

Suasana ruang pamer di solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Ia mengomentari ironi sosial. Dimana kedekatan semu, obrolan yang nampak akrab dan emote yang seolah  mewakili ekspresi kita menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkomunikasi hari ini. Saling mengirim hati bukan berarti suka, itu hanya empati artifisial yang menjauhkan kita dari kedekatan fisik dan interaksi sosial yang lebih nyata.

Karya-karyanya seperti fitur Close Friend yang ada di Instagram, memungkinkan kita melihat bagian-bagian personal dari seorang Pecut, namun dikemas seolah intimate walau sebenarnya tetap berada dalam keberjarakan—sesuatu yang ia jaga sepenuhnya.

Kenapa Sih Harus Solo Exhibition?

Setelah cukup puas diajak berkeliling oleh ketiga pameran solo itu, aku kemudian sejenak merenung dan mulai bertanya-tanya. Mengapa seorang seniman lebih-lebih ia perupa, rasanya wajib untuk berpameran tunggal atau sering kita sebut sebagai solo exhibition, solo show, solo presentation, atau whatever lah..

Pameran tunggal dalam keyakinan banyak seniman selalu menjadi satu ikhwal penting dalam karir kesenimanannya. Ia tak ubahnya Kartu SIM yang kita harus perpanjang masa aktifnya—penasbih eksistensi seorang perupa untuk terus menyatakan dirinya hadir dan mempertaruhkan gagasan yang selama ini ia eksplorasi.

Karya Personal Nugi Ketut pada Solo Exhibition “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian lainnya meyakini Solo exhibition sebagai anak tangga dalam merangkum segala eksplorasi artistik yang telah ia lewati sebelumnya. Sebuah laku untuk membuat garis start baru dalam menempuh perjalanan berikutnya.

Namun personal bagiku pameran tunggal adalah cara seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia ciptakan. Karena disini, seniman kemudian diajak kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya, yaitu kesendirian. Di titik inilah, mereka memaknai ulang dan merangkai sebagian dirinya yang selama ini telah berceceran. Sebuah tombol spasi yang memberi ruang pada seniman untuk memilih menjadi dirinya sendiri.

Ada yang begitu personal dengan diri dan ketubuhannya, ada yang menyatakan pemikirannya terhadap gejala sosial atau pun sesederhana cermin yang menelanjangi kejujuran kita. Hal itu kemudian kembali pada masing-masing perupa.

Jika disuruh memilih, aku pun akan berada di antara pilihan-pilihan tersebut, apakah ia personal maupun sosial. Bobotnya tergantung cara pandang dan bagaimana ia ditransmisikan terhadap publik dan khalayak luas.

Pada akhirnya perjalanan ini sungguh menarik, peristiwa kebetulan ini membuka banyak kemungkinan untuk menerjemahkan apa itu pameran tunggal dan mengapa ia nian penting. Ketiga seniman ini muncul dengan tegangannya masing-masing. Rasanya tak adil jika membandingkan mana yang bagus dan tidak.

Seperti mencicipi rujak buah—sekilas tampak serupa, namun setiap suapan menghadirkan letupan rasa yang berbeda: manis, asam, pedas, dan segar, saling berkelindan membentuk pemahamanku tentang, kenapa sih harus solo exhibition? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Next Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails
Next Post
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co