27 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Made Chandra by Made Chandra
April 14, 2026
in Ulas Rupa
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali. Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam lubang hidungku. Sebuah pertanda tentang hari yang rasanya cukup menyenangkan untuk dilakoni.

Tak ada yang berbeda di pagi itu, sampai kemudian aku teringat ada beberapa pameran tunggal yang aku harus kunjungi sore harinya.

Sebagai seorang suporter tetap di tribun-tribun kesenian, terutama di skena Bali. Bokong rasanya sudah terlatih untuk diajak kompromi—menduduki jok motor dengan jarak satu jam perjalanan hanya untuk menikmati suguhan karya dalam sebuah pameran—sebuah kenyataan yang menjadi hal lumrah bagi mereka yang memilih Bali sebagai kolam berkesenian. Terlebih jika itu para dedengkot seniman yang seperskenaan. Rasanya sulit menolak undangan yang kini hanya terpampang manis dalam feed Instagram para scroller andal.

Tiga Solo Exhibition Dalam Satu Malam

Disengaja atau tidak, ketiga perupa yang ku kunjungi pamerannya ini nampaknya bersepakat untuk memilih hari baik itu untuk mengadakan susur pameran— seperti halnya susur sungai, tapi riak arusnya seni rupa kontemporer….

Mengapa ku sebut sebagai susur pameran, karena rute untuk sampai pada ketiga pameran itu, memaksaku untuk menerobos arus kemacetan dan menyusuri jalanan sempit untuk bisa sampai.

Sebut saja Dayu Sartika, salah seorang seniman muda yang berpameran pada malam itu. Ia berpameran di salah satu alternatif space yang terletak tak jauh dari Pantai Petitenget, yaitu Uma Seminyak dengan tajuk pameran “Kini Aku Kembali Pulang”. Sebuah pameran yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari, teman lama yang kini juga kembali terjun ke ruang pamer.

Sebagai seorang yang cukup sering mendatangi pameran, rasanya memang akhir-akhir ini aku jarang melihat Dayu berpameran secara langsung. Terakhir yang kuingat adalah karya-karya dalam seri Manis-manisnya—yang mengingatkanku tentang Dayu dan keinginan semunya untuk menyantap makanan manis yang uzur karna kondisi kesehatannya di masa muda.

Goresan charcoal Dayu dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Sesaat kusadari, ternyata itu sudah 2 tahun yang lalu, rasanya singkat sekali. Tapi terasa begitu lama bagi seorang yang dahulunya begitu aktif dengan jaringan perupa muda after pandemi. Kevakuman tersebut tentunya disertai beberapa alasan, terutama ia yang kini tengah mengajar sebagai guru di ujung utara Bali. Sedikit tidaknya hal itu menjadi sebab ia menepi sejenak dari kepenatan skena seni.

Saat kumasuki ruang pamer yang tak begitu besar, aku langsung disuguhi beberapa goresan charcoal yang menampakan sosok wanita yang mestinya sang seniman itu sendiri. Anatomi lekuk tubuh termanifestasi dengan nyata dalam tarikan garis yang begitu tegas sekaligus lembut. Dengan begitu lihai ia mengelabui mata penonton, arsirannya nampak halus namun ketika didekati, terpampang pasti dalam guratan-guratan kasar khas charcoal.

Instalasi partisipatoris dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Diantara garis-garis tersebut tumpah helaian rambut yang berurai dengan intensitas charcoal yang nian pekat—memecah keheningan ruang yang ia bangun dalam komposisinya. Rambut-rambut tersebut sesekali mengelus, mengurai, lalu memilin satu sama lain. Sebuah penggambaran metaforis tentang hubungan love hate relationship antara dirinya dan waktu yang terus berjalan.

Mengapa charcoal? Ternyata ini salah satu medium pertama yang ia gunakan dan eksplorasi di awal karir keperupaannya. Pensil arang itu serupa seismograf yang merekam getaran batin seorang Dayu.

Setelah beberapa tahun beranjak dan bertamasya dengan kuas dan warna-warna manisnya, kini ia “Kembali Pulang” ke pangkuan diri yang selama ini telah ia tinggalkan. Mencoba kembali Menyusun diri dan berdamai dengan waktu yang telah membuat dirinya kian dewasa.

Karya-karya dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Beranjak dan move on dari kesenduan dan nuansa reflektif dalam pameran Dayu, kini kita bergeser pada duo pameran solo yang berada dalam satu atap yang sama, tepatnya di Galeri Sun Contemporary yang berjarak 30 menit dari Uma Seminyak.

Nugi Ketut, dua kata ini rasanya tak asing di telinga para penikmat seni rupa kontemporer Bali, utamanya anak muda lintas disiplin yang kini sedang ramai dengan segala kehirukpikukannya. Pameran yang ia beri judul “Little Object of Otherness” ini sekaligus menjadi perhelatan ke tiga dari solo Exhibition yang pernah ia Jalani sebelumnya.

Belakangan ini kita mengenal Nugi dengan papan plang khas ke Bali-baliannya. Plang itu ia gubah menjadi medium kritik sosial terhadap parawisata dan konstruksi sejarah orang-orang Bali saat pertama kali menerima pengaruh dunia luar. Begitupun sapuan kuas yang kasar, layaknya poster-poster promosi parawisata di era seniman ekspatriat membawa ribuan turis dari negara-negara kolonial ke Pulau Bali.

Suasana solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Namun di ruang pamer yang tak begitu luas, ia menampilkan satu hal yang mungkin belum pernah ia tunjukan dalam aktivitas berpamerannya. Sebut saja berbagai sketsa dan mini painting yang tersusun layaknya selebaran kartu pos lama, dan poster-poster perjalanan kolonial yang kita sering jumpai di Internet.

Melihat dan mengamati kartu-kartu kecil itu, membuatku berpikir bagaimana membayangkan Bali yang telah lama dikemas sebagai bagian dari aktivitas hospitality tersistematis. Beragam kemudahan ditawarkan layaknya fasilitas portabel—memudahkan turis untuk membawa ingatan tentang ikon-ikon kebalian itu.

Karya-karya kecil dalam solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian besar karya-karya kecil dan beberapa lukisan yang hadir banyak berasal dari aset design yang ia sering kerjakan di belakang layar kesenimanannya. Ia memadukan citra konvensional dengan promosi digital yang sehari-hari kita lihat dalam media promosi parawisata. Melalui karya-karya itu ia tak menampik kenyataan tentang dirinya yang ada dan hidup ditengah pergulatan industri parawisata. Berbagai fragmen-fragmen itu muncul sebagai bagian yang “lain” dari seorang Nugi. Hal yang jarang terekspos namun menjadi bagian penting dalam jejak karya-karya pentingnya.

ia hadir untuk menghadirkan ironi sekaligus cubitan kecil yang mengganggu kesadaran kita. Tentang sikap dan cara pandang kita terhadap parawisata dari sudut pandang yang lebih jernih, agar tak jatuh dalam kelatahan orang-orang Bali pada umumnya. Poster-poster itu seperti pil obat yang kecil namun menyingkap tabir pahit dari struktur besar yang selama ini luput untuk kita sadari. 

Sejenak kemudian aku melangkah ke bagian lain dari galeri yang sama, melihat visual yang rasanya begitu jomplang dalam eksekusi artistik dibandingkan karya-karya pada pameran Nugi. Di ruang yang lebih leluasa ini, aku kemudian menyadari karya-karya ini berasal dari Pecut Sumantri, seniman yang beberapa kali karyanya aku lihat di Bali, namun pada pameran tunggal ini aku melihat sesuatu yang cukup berbeda darinya.

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Jika di ruangan Nugi aku harus berhimpit-himpit untuk mendekat dan melihat karya-karya kecil darinya, di ruangan Pecut aku seperti diberi jarak untuk bernafas—sebuah penempatan flow yang strategis dari pihak galeri. Ada satu hal yang perlu disadari dalam menikmati karya-karyanya, yaitu jarak dan picingan mata yang menyempit. Mengapa begitu?

Pecut menampilkan objek-objek familiar namun dibungkus dalam visual berkabut seolah berasal dari pandangan seseorang yang sedang rabun jauh. Entah disengaja atau tidak, visual itu memaksa penikmat untuk mengambil jarak yang cukup dan sedikit memicingkan mata agar gambar yang bersembunyi di balik kabut itu terungkap.

Suasana ruang pamer di solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Ia mengomentari ironi sosial. Dimana kedekatan semu, obrolan yang nampak akrab dan emote yang seolah  mewakili ekspresi kita menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkomunikasi hari ini. Saling mengirim hati bukan berarti suka, itu hanya empati artifisial yang menjauhkan kita dari kedekatan fisik dan interaksi sosial yang lebih nyata.

Karya-karyanya seperti fitur Close Friend yang ada di Instagram, memungkinkan kita melihat bagian-bagian personal dari seorang Pecut, namun dikemas seolah intimate walau sebenarnya tetap berada dalam keberjarakan—sesuatu yang ia jaga sepenuhnya.

Kenapa Sih Harus Solo Exhibition?

Setelah cukup puas diajak berkeliling oleh ketiga pameran solo itu, aku kemudian sejenak merenung dan mulai bertanya-tanya. Mengapa seorang seniman lebih-lebih ia perupa, rasanya wajib untuk berpameran tunggal atau sering kita sebut sebagai solo exhibition, solo show, solo presentation, atau whatever lah..

Pameran tunggal dalam keyakinan banyak seniman selalu menjadi satu ikhwal penting dalam karir kesenimanannya. Ia tak ubahnya Kartu SIM yang kita harus perpanjang masa aktifnya—penasbih eksistensi seorang perupa untuk terus menyatakan dirinya hadir dan mempertaruhkan gagasan yang selama ini ia eksplorasi.

Karya Personal Nugi Ketut pada Solo Exhibition “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian lainnya meyakini Solo exhibition sebagai anak tangga dalam merangkum segala eksplorasi artistik yang telah ia lewati sebelumnya. Sebuah laku untuk membuat garis start baru dalam menempuh perjalanan berikutnya.

Namun personal bagiku pameran tunggal adalah cara seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia ciptakan. Karena disini, seniman kemudian diajak kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya, yaitu kesendirian. Di titik inilah, mereka memaknai ulang dan merangkai sebagian dirinya yang selama ini telah berceceran. Sebuah tombol spasi yang memberi ruang pada seniman untuk memilih menjadi dirinya sendiri.

Ada yang begitu personal dengan diri dan ketubuhannya, ada yang menyatakan pemikirannya terhadap gejala sosial atau pun sesederhana cermin yang menelanjangi kejujuran kita. Hal itu kemudian kembali pada masing-masing perupa.

Jika disuruh memilih, aku pun akan berada di antara pilihan-pilihan tersebut, apakah ia personal maupun sosial. Bobotnya tergantung cara pandang dan bagaimana ia ditransmisikan terhadap publik dan khalayak luas.

Pada akhirnya perjalanan ini sungguh menarik, peristiwa kebetulan ini membuka banyak kemungkinan untuk menerjemahkan apa itu pameran tunggal dan mengapa ia nian penting. Ketiga seniman ini muncul dengan tegangannya masing-masing. Rasanya tak adil jika membandingkan mana yang bagus dan tidak.

Seperti mencicipi rujak buah—sekilas tampak serupa, namun setiap suapan menghadirkan letupan rasa yang berbeda: manis, asam, pedas, dan segar, saling berkelindan membentuk pemahamanku tentang, kenapa sih harus solo exhibition? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Next Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails
Next Post
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co