27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Made Chandra by Made Chandra
April 14, 2026
in Ulas Rupa
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali. Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam lubang hidungku. Sebuah pertanda tentang hari yang rasanya cukup menyenangkan untuk dilakoni.

Tak ada yang berbeda di pagi itu, sampai kemudian aku teringat ada beberapa pameran tunggal yang aku harus kunjungi sore harinya.

Sebagai seorang suporter tetap di tribun-tribun kesenian, terutama di skena Bali. Bokong rasanya sudah terlatih untuk diajak kompromi—menduduki jok motor dengan jarak satu jam perjalanan hanya untuk menikmati suguhan karya dalam sebuah pameran—sebuah kenyataan yang menjadi hal lumrah bagi mereka yang memilih Bali sebagai kolam berkesenian. Terlebih jika itu para dedengkot seniman yang seperskenaan. Rasanya sulit menolak undangan yang kini hanya terpampang manis dalam feed Instagram para scroller andal.

Tiga Solo Exhibition Dalam Satu Malam

Disengaja atau tidak, ketiga perupa yang ku kunjungi pamerannya ini nampaknya bersepakat untuk memilih hari baik itu untuk mengadakan susur pameran— seperti halnya susur sungai, tapi riak arusnya seni rupa kontemporer….

Mengapa ku sebut sebagai susur pameran, karena rute untuk sampai pada ketiga pameran itu, memaksaku untuk menerobos arus kemacetan dan menyusuri jalanan sempit untuk bisa sampai.

Sebut saja Dayu Sartika, salah seorang seniman muda yang berpameran pada malam itu. Ia berpameran di salah satu alternatif space yang terletak tak jauh dari Pantai Petitenget, yaitu Uma Seminyak dengan tajuk pameran “Kini Aku Kembali Pulang”. Sebuah pameran yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari, teman lama yang kini juga kembali terjun ke ruang pamer.

Sebagai seorang yang cukup sering mendatangi pameran, rasanya memang akhir-akhir ini aku jarang melihat Dayu berpameran secara langsung. Terakhir yang kuingat adalah karya-karya dalam seri Manis-manisnya—yang mengingatkanku tentang Dayu dan keinginan semunya untuk menyantap makanan manis yang uzur karna kondisi kesehatannya di masa muda.

Goresan charcoal Dayu dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Sesaat kusadari, ternyata itu sudah 2 tahun yang lalu, rasanya singkat sekali. Tapi terasa begitu lama bagi seorang yang dahulunya begitu aktif dengan jaringan perupa muda after pandemi. Kevakuman tersebut tentunya disertai beberapa alasan, terutama ia yang kini tengah mengajar sebagai guru di ujung utara Bali. Sedikit tidaknya hal itu menjadi sebab ia menepi sejenak dari kepenatan skena seni.

Saat kumasuki ruang pamer yang tak begitu besar, aku langsung disuguhi beberapa goresan charcoal yang menampakan sosok wanita yang mestinya sang seniman itu sendiri. Anatomi lekuk tubuh termanifestasi dengan nyata dalam tarikan garis yang begitu tegas sekaligus lembut. Dengan begitu lihai ia mengelabui mata penonton, arsirannya nampak halus namun ketika didekati, terpampang pasti dalam guratan-guratan kasar khas charcoal.

Instalasi partisipatoris dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Diantara garis-garis tersebut tumpah helaian rambut yang berurai dengan intensitas charcoal yang nian pekat—memecah keheningan ruang yang ia bangun dalam komposisinya. Rambut-rambut tersebut sesekali mengelus, mengurai, lalu memilin satu sama lain. Sebuah penggambaran metaforis tentang hubungan love hate relationship antara dirinya dan waktu yang terus berjalan.

Mengapa charcoal? Ternyata ini salah satu medium pertama yang ia gunakan dan eksplorasi di awal karir keperupaannya. Pensil arang itu serupa seismograf yang merekam getaran batin seorang Dayu.

Setelah beberapa tahun beranjak dan bertamasya dengan kuas dan warna-warna manisnya, kini ia “Kembali Pulang” ke pangkuan diri yang selama ini telah ia tinggalkan. Mencoba kembali Menyusun diri dan berdamai dengan waktu yang telah membuat dirinya kian dewasa.

Karya-karya dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Beranjak dan move on dari kesenduan dan nuansa reflektif dalam pameran Dayu, kini kita bergeser pada duo pameran solo yang berada dalam satu atap yang sama, tepatnya di Galeri Sun Contemporary yang berjarak 30 menit dari Uma Seminyak.

Nugi Ketut, dua kata ini rasanya tak asing di telinga para penikmat seni rupa kontemporer Bali, utamanya anak muda lintas disiplin yang kini sedang ramai dengan segala kehirukpikukannya. Pameran yang ia beri judul “Little Object of Otherness” ini sekaligus menjadi perhelatan ke tiga dari solo Exhibition yang pernah ia Jalani sebelumnya.

Belakangan ini kita mengenal Nugi dengan papan plang khas ke Bali-baliannya. Plang itu ia gubah menjadi medium kritik sosial terhadap parawisata dan konstruksi sejarah orang-orang Bali saat pertama kali menerima pengaruh dunia luar. Begitupun sapuan kuas yang kasar, layaknya poster-poster promosi parawisata di era seniman ekspatriat membawa ribuan turis dari negara-negara kolonial ke Pulau Bali.

Suasana solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Namun di ruang pamer yang tak begitu luas, ia menampilkan satu hal yang mungkin belum pernah ia tunjukan dalam aktivitas berpamerannya. Sebut saja berbagai sketsa dan mini painting yang tersusun layaknya selebaran kartu pos lama, dan poster-poster perjalanan kolonial yang kita sering jumpai di Internet.

Melihat dan mengamati kartu-kartu kecil itu, membuatku berpikir bagaimana membayangkan Bali yang telah lama dikemas sebagai bagian dari aktivitas hospitality tersistematis. Beragam kemudahan ditawarkan layaknya fasilitas portabel—memudahkan turis untuk membawa ingatan tentang ikon-ikon kebalian itu.

Karya-karya kecil dalam solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian besar karya-karya kecil dan beberapa lukisan yang hadir banyak berasal dari aset design yang ia sering kerjakan di belakang layar kesenimanannya. Ia memadukan citra konvensional dengan promosi digital yang sehari-hari kita lihat dalam media promosi parawisata. Melalui karya-karya itu ia tak menampik kenyataan tentang dirinya yang ada dan hidup ditengah pergulatan industri parawisata. Berbagai fragmen-fragmen itu muncul sebagai bagian yang “lain” dari seorang Nugi. Hal yang jarang terekspos namun menjadi bagian penting dalam jejak karya-karya pentingnya.

ia hadir untuk menghadirkan ironi sekaligus cubitan kecil yang mengganggu kesadaran kita. Tentang sikap dan cara pandang kita terhadap parawisata dari sudut pandang yang lebih jernih, agar tak jatuh dalam kelatahan orang-orang Bali pada umumnya. Poster-poster itu seperti pil obat yang kecil namun menyingkap tabir pahit dari struktur besar yang selama ini luput untuk kita sadari. 

Sejenak kemudian aku melangkah ke bagian lain dari galeri yang sama, melihat visual yang rasanya begitu jomplang dalam eksekusi artistik dibandingkan karya-karya pada pameran Nugi. Di ruang yang lebih leluasa ini, aku kemudian menyadari karya-karya ini berasal dari Pecut Sumantri, seniman yang beberapa kali karyanya aku lihat di Bali, namun pada pameran tunggal ini aku melihat sesuatu yang cukup berbeda darinya.

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Jika di ruangan Nugi aku harus berhimpit-himpit untuk mendekat dan melihat karya-karya kecil darinya, di ruangan Pecut aku seperti diberi jarak untuk bernafas—sebuah penempatan flow yang strategis dari pihak galeri. Ada satu hal yang perlu disadari dalam menikmati karya-karyanya, yaitu jarak dan picingan mata yang menyempit. Mengapa begitu?

Pecut menampilkan objek-objek familiar namun dibungkus dalam visual berkabut seolah berasal dari pandangan seseorang yang sedang rabun jauh. Entah disengaja atau tidak, visual itu memaksa penikmat untuk mengambil jarak yang cukup dan sedikit memicingkan mata agar gambar yang bersembunyi di balik kabut itu terungkap.

Suasana ruang pamer di solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Ia mengomentari ironi sosial. Dimana kedekatan semu, obrolan yang nampak akrab dan emote yang seolah  mewakili ekspresi kita menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkomunikasi hari ini. Saling mengirim hati bukan berarti suka, itu hanya empati artifisial yang menjauhkan kita dari kedekatan fisik dan interaksi sosial yang lebih nyata.

Karya-karyanya seperti fitur Close Friend yang ada di Instagram, memungkinkan kita melihat bagian-bagian personal dari seorang Pecut, namun dikemas seolah intimate walau sebenarnya tetap berada dalam keberjarakan—sesuatu yang ia jaga sepenuhnya.

Kenapa Sih Harus Solo Exhibition?

Setelah cukup puas diajak berkeliling oleh ketiga pameran solo itu, aku kemudian sejenak merenung dan mulai bertanya-tanya. Mengapa seorang seniman lebih-lebih ia perupa, rasanya wajib untuk berpameran tunggal atau sering kita sebut sebagai solo exhibition, solo show, solo presentation, atau whatever lah..

Pameran tunggal dalam keyakinan banyak seniman selalu menjadi satu ikhwal penting dalam karir kesenimanannya. Ia tak ubahnya Kartu SIM yang kita harus perpanjang masa aktifnya—penasbih eksistensi seorang perupa untuk terus menyatakan dirinya hadir dan mempertaruhkan gagasan yang selama ini ia eksplorasi.

Karya Personal Nugi Ketut pada Solo Exhibition “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian lainnya meyakini Solo exhibition sebagai anak tangga dalam merangkum segala eksplorasi artistik yang telah ia lewati sebelumnya. Sebuah laku untuk membuat garis start baru dalam menempuh perjalanan berikutnya.

Namun personal bagiku pameran tunggal adalah cara seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia ciptakan. Karena disini, seniman kemudian diajak kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya, yaitu kesendirian. Di titik inilah, mereka memaknai ulang dan merangkai sebagian dirinya yang selama ini telah berceceran. Sebuah tombol spasi yang memberi ruang pada seniman untuk memilih menjadi dirinya sendiri.

Ada yang begitu personal dengan diri dan ketubuhannya, ada yang menyatakan pemikirannya terhadap gejala sosial atau pun sesederhana cermin yang menelanjangi kejujuran kita. Hal itu kemudian kembali pada masing-masing perupa.

Jika disuruh memilih, aku pun akan berada di antara pilihan-pilihan tersebut, apakah ia personal maupun sosial. Bobotnya tergantung cara pandang dan bagaimana ia ditransmisikan terhadap publik dan khalayak luas.

Pada akhirnya perjalanan ini sungguh menarik, peristiwa kebetulan ini membuka banyak kemungkinan untuk menerjemahkan apa itu pameran tunggal dan mengapa ia nian penting. Ketiga seniman ini muncul dengan tegangannya masing-masing. Rasanya tak adil jika membandingkan mana yang bagus dan tidak.

Seperti mencicipi rujak buah—sekilas tampak serupa, namun setiap suapan menghadirkan letupan rasa yang berbeda: manis, asam, pedas, dan segar, saling berkelindan membentuk pemahamanku tentang, kenapa sih harus solo exhibition? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Next Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails
Next Post
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co