5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Made Chandra by Made Chandra
April 14, 2026
in Ulas Rupa
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali. Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam lubang hidungku. Sebuah pertanda tentang hari yang rasanya cukup menyenangkan untuk dilakoni.

Tak ada yang berbeda di pagi itu, sampai kemudian aku teringat ada beberapa pameran tunggal yang aku harus kunjungi sore harinya.

Sebagai seorang suporter tetap di tribun-tribun kesenian, terutama di skena Bali. Bokong rasanya sudah terlatih untuk diajak kompromi—menduduki jok motor dengan jarak satu jam perjalanan hanya untuk menikmati suguhan karya dalam sebuah pameran—sebuah kenyataan yang menjadi hal lumrah bagi mereka yang memilih Bali sebagai kolam berkesenian. Terlebih jika itu para dedengkot seniman yang seperskenaan. Rasanya sulit menolak undangan yang kini hanya terpampang manis dalam feed Instagram para scroller andal.

Tiga Solo Exhibition Dalam Satu Malam

Disengaja atau tidak, ketiga perupa yang ku kunjungi pamerannya ini nampaknya bersepakat untuk memilih hari baik itu untuk mengadakan susur pameran— seperti halnya susur sungai, tapi riak arusnya seni rupa kontemporer….

Mengapa ku sebut sebagai susur pameran, karena rute untuk sampai pada ketiga pameran itu, memaksaku untuk menerobos arus kemacetan dan menyusuri jalanan sempit untuk bisa sampai.

Sebut saja Dayu Sartika, salah seorang seniman muda yang berpameran pada malam itu. Ia berpameran di salah satu alternatif space yang terletak tak jauh dari Pantai Petitenget, yaitu Uma Seminyak dengan tajuk pameran “Kini Aku Kembali Pulang”. Sebuah pameran yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari, teman lama yang kini juga kembali terjun ke ruang pamer.

Sebagai seorang yang cukup sering mendatangi pameran, rasanya memang akhir-akhir ini aku jarang melihat Dayu berpameran secara langsung. Terakhir yang kuingat adalah karya-karya dalam seri Manis-manisnya—yang mengingatkanku tentang Dayu dan keinginan semunya untuk menyantap makanan manis yang uzur karna kondisi kesehatannya di masa muda.

Goresan charcoal Dayu dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Sesaat kusadari, ternyata itu sudah 2 tahun yang lalu, rasanya singkat sekali. Tapi terasa begitu lama bagi seorang yang dahulunya begitu aktif dengan jaringan perupa muda after pandemi. Kevakuman tersebut tentunya disertai beberapa alasan, terutama ia yang kini tengah mengajar sebagai guru di ujung utara Bali. Sedikit tidaknya hal itu menjadi sebab ia menepi sejenak dari kepenatan skena seni.

Saat kumasuki ruang pamer yang tak begitu besar, aku langsung disuguhi beberapa goresan charcoal yang menampakan sosok wanita yang mestinya sang seniman itu sendiri. Anatomi lekuk tubuh termanifestasi dengan nyata dalam tarikan garis yang begitu tegas sekaligus lembut. Dengan begitu lihai ia mengelabui mata penonton, arsirannya nampak halus namun ketika didekati, terpampang pasti dalam guratan-guratan kasar khas charcoal.

Instalasi partisipatoris dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Diantara garis-garis tersebut tumpah helaian rambut yang berurai dengan intensitas charcoal yang nian pekat—memecah keheningan ruang yang ia bangun dalam komposisinya. Rambut-rambut tersebut sesekali mengelus, mengurai, lalu memilin satu sama lain. Sebuah penggambaran metaforis tentang hubungan love hate relationship antara dirinya dan waktu yang terus berjalan.

Mengapa charcoal? Ternyata ini salah satu medium pertama yang ia gunakan dan eksplorasi di awal karir keperupaannya. Pensil arang itu serupa seismograf yang merekam getaran batin seorang Dayu.

Setelah beberapa tahun beranjak dan bertamasya dengan kuas dan warna-warna manisnya, kini ia “Kembali Pulang” ke pangkuan diri yang selama ini telah ia tinggalkan. Mencoba kembali Menyusun diri dan berdamai dengan waktu yang telah membuat dirinya kian dewasa.

Karya-karya dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Beranjak dan move on dari kesenduan dan nuansa reflektif dalam pameran Dayu, kini kita bergeser pada duo pameran solo yang berada dalam satu atap yang sama, tepatnya di Galeri Sun Contemporary yang berjarak 30 menit dari Uma Seminyak.

Nugi Ketut, dua kata ini rasanya tak asing di telinga para penikmat seni rupa kontemporer Bali, utamanya anak muda lintas disiplin yang kini sedang ramai dengan segala kehirukpikukannya. Pameran yang ia beri judul “Little Object of Otherness” ini sekaligus menjadi perhelatan ke tiga dari solo Exhibition yang pernah ia Jalani sebelumnya.

Belakangan ini kita mengenal Nugi dengan papan plang khas ke Bali-baliannya. Plang itu ia gubah menjadi medium kritik sosial terhadap parawisata dan konstruksi sejarah orang-orang Bali saat pertama kali menerima pengaruh dunia luar. Begitupun sapuan kuas yang kasar, layaknya poster-poster promosi parawisata di era seniman ekspatriat membawa ribuan turis dari negara-negara kolonial ke Pulau Bali.

Suasana solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Namun di ruang pamer yang tak begitu luas, ia menampilkan satu hal yang mungkin belum pernah ia tunjukan dalam aktivitas berpamerannya. Sebut saja berbagai sketsa dan mini painting yang tersusun layaknya selebaran kartu pos lama, dan poster-poster perjalanan kolonial yang kita sering jumpai di Internet.

Melihat dan mengamati kartu-kartu kecil itu, membuatku berpikir bagaimana membayangkan Bali yang telah lama dikemas sebagai bagian dari aktivitas hospitality tersistematis. Beragam kemudahan ditawarkan layaknya fasilitas portabel—memudahkan turis untuk membawa ingatan tentang ikon-ikon kebalian itu.

Karya-karya kecil dalam solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian besar karya-karya kecil dan beberapa lukisan yang hadir banyak berasal dari aset design yang ia sering kerjakan di belakang layar kesenimanannya. Ia memadukan citra konvensional dengan promosi digital yang sehari-hari kita lihat dalam media promosi parawisata. Melalui karya-karya itu ia tak menampik kenyataan tentang dirinya yang ada dan hidup ditengah pergulatan industri parawisata. Berbagai fragmen-fragmen itu muncul sebagai bagian yang “lain” dari seorang Nugi. Hal yang jarang terekspos namun menjadi bagian penting dalam jejak karya-karya pentingnya.

ia hadir untuk menghadirkan ironi sekaligus cubitan kecil yang mengganggu kesadaran kita. Tentang sikap dan cara pandang kita terhadap parawisata dari sudut pandang yang lebih jernih, agar tak jatuh dalam kelatahan orang-orang Bali pada umumnya. Poster-poster itu seperti pil obat yang kecil namun menyingkap tabir pahit dari struktur besar yang selama ini luput untuk kita sadari. 

Sejenak kemudian aku melangkah ke bagian lain dari galeri yang sama, melihat visual yang rasanya begitu jomplang dalam eksekusi artistik dibandingkan karya-karya pada pameran Nugi. Di ruang yang lebih leluasa ini, aku kemudian menyadari karya-karya ini berasal dari Pecut Sumantri, seniman yang beberapa kali karyanya aku lihat di Bali, namun pada pameran tunggal ini aku melihat sesuatu yang cukup berbeda darinya.

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Jika di ruangan Nugi aku harus berhimpit-himpit untuk mendekat dan melihat karya-karya kecil darinya, di ruangan Pecut aku seperti diberi jarak untuk bernafas—sebuah penempatan flow yang strategis dari pihak galeri. Ada satu hal yang perlu disadari dalam menikmati karya-karyanya, yaitu jarak dan picingan mata yang menyempit. Mengapa begitu?

Pecut menampilkan objek-objek familiar namun dibungkus dalam visual berkabut seolah berasal dari pandangan seseorang yang sedang rabun jauh. Entah disengaja atau tidak, visual itu memaksa penikmat untuk mengambil jarak yang cukup dan sedikit memicingkan mata agar gambar yang bersembunyi di balik kabut itu terungkap.

Suasana ruang pamer di solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Ia mengomentari ironi sosial. Dimana kedekatan semu, obrolan yang nampak akrab dan emote yang seolah  mewakili ekspresi kita menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkomunikasi hari ini. Saling mengirim hati bukan berarti suka, itu hanya empati artifisial yang menjauhkan kita dari kedekatan fisik dan interaksi sosial yang lebih nyata.

Karya-karyanya seperti fitur Close Friend yang ada di Instagram, memungkinkan kita melihat bagian-bagian personal dari seorang Pecut, namun dikemas seolah intimate walau sebenarnya tetap berada dalam keberjarakan—sesuatu yang ia jaga sepenuhnya.

Kenapa Sih Harus Solo Exhibition?

Setelah cukup puas diajak berkeliling oleh ketiga pameran solo itu, aku kemudian sejenak merenung dan mulai bertanya-tanya. Mengapa seorang seniman lebih-lebih ia perupa, rasanya wajib untuk berpameran tunggal atau sering kita sebut sebagai solo exhibition, solo show, solo presentation, atau whatever lah..

Pameran tunggal dalam keyakinan banyak seniman selalu menjadi satu ikhwal penting dalam karir kesenimanannya. Ia tak ubahnya Kartu SIM yang kita harus perpanjang masa aktifnya—penasbih eksistensi seorang perupa untuk terus menyatakan dirinya hadir dan mempertaruhkan gagasan yang selama ini ia eksplorasi.

Karya Personal Nugi Ketut pada Solo Exhibition “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian lainnya meyakini Solo exhibition sebagai anak tangga dalam merangkum segala eksplorasi artistik yang telah ia lewati sebelumnya. Sebuah laku untuk membuat garis start baru dalam menempuh perjalanan berikutnya.

Namun personal bagiku pameran tunggal adalah cara seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia ciptakan. Karena disini, seniman kemudian diajak kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya, yaitu kesendirian. Di titik inilah, mereka memaknai ulang dan merangkai sebagian dirinya yang selama ini telah berceceran. Sebuah tombol spasi yang memberi ruang pada seniman untuk memilih menjadi dirinya sendiri.

Ada yang begitu personal dengan diri dan ketubuhannya, ada yang menyatakan pemikirannya terhadap gejala sosial atau pun sesederhana cermin yang menelanjangi kejujuran kita. Hal itu kemudian kembali pada masing-masing perupa.

Jika disuruh memilih, aku pun akan berada di antara pilihan-pilihan tersebut, apakah ia personal maupun sosial. Bobotnya tergantung cara pandang dan bagaimana ia ditransmisikan terhadap publik dan khalayak luas.

Pada akhirnya perjalanan ini sungguh menarik, peristiwa kebetulan ini membuka banyak kemungkinan untuk menerjemahkan apa itu pameran tunggal dan mengapa ia nian penting. Ketiga seniman ini muncul dengan tegangannya masing-masing. Rasanya tak adil jika membandingkan mana yang bagus dan tidak.

Seperti mencicipi rujak buah—sekilas tampak serupa, namun setiap suapan menghadirkan letupan rasa yang berbeda: manis, asam, pedas, dan segar, saling berkelindan membentuk pemahamanku tentang, kenapa sih harus solo exhibition? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Next Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails
Next Post
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co