27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Made Chandra by Made Chandra
April 14, 2026
in Ulas Rupa
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali. Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam lubang hidungku. Sebuah pertanda tentang hari yang rasanya cukup menyenangkan untuk dilakoni.

Tak ada yang berbeda di pagi itu, sampai kemudian aku teringat ada beberapa pameran tunggal yang aku harus kunjungi sore harinya.

Sebagai seorang suporter tetap di tribun-tribun kesenian, terutama di skena Bali. Bokong rasanya sudah terlatih untuk diajak kompromi—menduduki jok motor dengan jarak satu jam perjalanan hanya untuk menikmati suguhan karya dalam sebuah pameran—sebuah kenyataan yang menjadi hal lumrah bagi mereka yang memilih Bali sebagai kolam berkesenian. Terlebih jika itu para dedengkot seniman yang seperskenaan. Rasanya sulit menolak undangan yang kini hanya terpampang manis dalam feed Instagram para scroller andal.

Tiga Solo Exhibition Dalam Satu Malam

Disengaja atau tidak, ketiga perupa yang ku kunjungi pamerannya ini nampaknya bersepakat untuk memilih hari baik itu untuk mengadakan susur pameran— seperti halnya susur sungai, tapi riak arusnya seni rupa kontemporer….

Mengapa ku sebut sebagai susur pameran, karena rute untuk sampai pada ketiga pameran itu, memaksaku untuk menerobos arus kemacetan dan menyusuri jalanan sempit untuk bisa sampai.

Sebut saja Dayu Sartika, salah seorang seniman muda yang berpameran pada malam itu. Ia berpameran di salah satu alternatif space yang terletak tak jauh dari Pantai Petitenget, yaitu Uma Seminyak dengan tajuk pameran “Kini Aku Kembali Pulang”. Sebuah pameran yang dikuratori oleh Sekar Pradnyadari, teman lama yang kini juga kembali terjun ke ruang pamer.

Sebagai seorang yang cukup sering mendatangi pameran, rasanya memang akhir-akhir ini aku jarang melihat Dayu berpameran secara langsung. Terakhir yang kuingat adalah karya-karya dalam seri Manis-manisnya—yang mengingatkanku tentang Dayu dan keinginan semunya untuk menyantap makanan manis yang uzur karna kondisi kesehatannya di masa muda.

Goresan charcoal Dayu dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Sesaat kusadari, ternyata itu sudah 2 tahun yang lalu, rasanya singkat sekali. Tapi terasa begitu lama bagi seorang yang dahulunya begitu aktif dengan jaringan perupa muda after pandemi. Kevakuman tersebut tentunya disertai beberapa alasan, terutama ia yang kini tengah mengajar sebagai guru di ujung utara Bali. Sedikit tidaknya hal itu menjadi sebab ia menepi sejenak dari kepenatan skena seni.

Saat kumasuki ruang pamer yang tak begitu besar, aku langsung disuguhi beberapa goresan charcoal yang menampakan sosok wanita yang mestinya sang seniman itu sendiri. Anatomi lekuk tubuh termanifestasi dengan nyata dalam tarikan garis yang begitu tegas sekaligus lembut. Dengan begitu lihai ia mengelabui mata penonton, arsirannya nampak halus namun ketika didekati, terpampang pasti dalam guratan-guratan kasar khas charcoal.

Instalasi partisipatoris dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Diantara garis-garis tersebut tumpah helaian rambut yang berurai dengan intensitas charcoal yang nian pekat—memecah keheningan ruang yang ia bangun dalam komposisinya. Rambut-rambut tersebut sesekali mengelus, mengurai, lalu memilin satu sama lain. Sebuah penggambaran metaforis tentang hubungan love hate relationship antara dirinya dan waktu yang terus berjalan.

Mengapa charcoal? Ternyata ini salah satu medium pertama yang ia gunakan dan eksplorasi di awal karir keperupaannya. Pensil arang itu serupa seismograf yang merekam getaran batin seorang Dayu.

Setelah beberapa tahun beranjak dan bertamasya dengan kuas dan warna-warna manisnya, kini ia “Kembali Pulang” ke pangkuan diri yang selama ini telah ia tinggalkan. Mencoba kembali Menyusun diri dan berdamai dengan waktu yang telah membuat dirinya kian dewasa.

Karya-karya dalam solo exhibtion “Kini Aku Kembali Pulang” di Uma Seminyak, Bali | Sumber : Made Chandra

Beranjak dan move on dari kesenduan dan nuansa reflektif dalam pameran Dayu, kini kita bergeser pada duo pameran solo yang berada dalam satu atap yang sama, tepatnya di Galeri Sun Contemporary yang berjarak 30 menit dari Uma Seminyak.

Nugi Ketut, dua kata ini rasanya tak asing di telinga para penikmat seni rupa kontemporer Bali, utamanya anak muda lintas disiplin yang kini sedang ramai dengan segala kehirukpikukannya. Pameran yang ia beri judul “Little Object of Otherness” ini sekaligus menjadi perhelatan ke tiga dari solo Exhibition yang pernah ia Jalani sebelumnya.

Belakangan ini kita mengenal Nugi dengan papan plang khas ke Bali-baliannya. Plang itu ia gubah menjadi medium kritik sosial terhadap parawisata dan konstruksi sejarah orang-orang Bali saat pertama kali menerima pengaruh dunia luar. Begitupun sapuan kuas yang kasar, layaknya poster-poster promosi parawisata di era seniman ekspatriat membawa ribuan turis dari negara-negara kolonial ke Pulau Bali.

Suasana solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Namun di ruang pamer yang tak begitu luas, ia menampilkan satu hal yang mungkin belum pernah ia tunjukan dalam aktivitas berpamerannya. Sebut saja berbagai sketsa dan mini painting yang tersusun layaknya selebaran kartu pos lama, dan poster-poster perjalanan kolonial yang kita sering jumpai di Internet.

Melihat dan mengamati kartu-kartu kecil itu, membuatku berpikir bagaimana membayangkan Bali yang telah lama dikemas sebagai bagian dari aktivitas hospitality tersistematis. Beragam kemudahan ditawarkan layaknya fasilitas portabel—memudahkan turis untuk membawa ingatan tentang ikon-ikon kebalian itu.

Karya-karya kecil dalam solo exhibtion “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian besar karya-karya kecil dan beberapa lukisan yang hadir banyak berasal dari aset design yang ia sering kerjakan di belakang layar kesenimanannya. Ia memadukan citra konvensional dengan promosi digital yang sehari-hari kita lihat dalam media promosi parawisata. Melalui karya-karya itu ia tak menampik kenyataan tentang dirinya yang ada dan hidup ditengah pergulatan industri parawisata. Berbagai fragmen-fragmen itu muncul sebagai bagian yang “lain” dari seorang Nugi. Hal yang jarang terekspos namun menjadi bagian penting dalam jejak karya-karya pentingnya.

ia hadir untuk menghadirkan ironi sekaligus cubitan kecil yang mengganggu kesadaran kita. Tentang sikap dan cara pandang kita terhadap parawisata dari sudut pandang yang lebih jernih, agar tak jatuh dalam kelatahan orang-orang Bali pada umumnya. Poster-poster itu seperti pil obat yang kecil namun menyingkap tabir pahit dari struktur besar yang selama ini luput untuk kita sadari. 

Sejenak kemudian aku melangkah ke bagian lain dari galeri yang sama, melihat visual yang rasanya begitu jomplang dalam eksekusi artistik dibandingkan karya-karya pada pameran Nugi. Di ruang yang lebih leluasa ini, aku kemudian menyadari karya-karya ini berasal dari Pecut Sumantri, seniman yang beberapa kali karyanya aku lihat di Bali, namun pada pameran tunggal ini aku melihat sesuatu yang cukup berbeda darinya.

Karya Pecut Sumantri dalam solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Jika di ruangan Nugi aku harus berhimpit-himpit untuk mendekat dan melihat karya-karya kecil darinya, di ruangan Pecut aku seperti diberi jarak untuk bernafas—sebuah penempatan flow yang strategis dari pihak galeri. Ada satu hal yang perlu disadari dalam menikmati karya-karyanya, yaitu jarak dan picingan mata yang menyempit. Mengapa begitu?

Pecut menampilkan objek-objek familiar namun dibungkus dalam visual berkabut seolah berasal dari pandangan seseorang yang sedang rabun jauh. Entah disengaja atau tidak, visual itu memaksa penikmat untuk mengambil jarak yang cukup dan sedikit memicingkan mata agar gambar yang bersembunyi di balik kabut itu terungkap.

Suasana ruang pamer di solo exhibtion “Sisa Cahaya” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Instagram @Sun.Contemporary

Ia mengomentari ironi sosial. Dimana kedekatan semu, obrolan yang nampak akrab dan emote yang seolah  mewakili ekspresi kita menjadi hal lumrah dalam kehidupan berkomunikasi hari ini. Saling mengirim hati bukan berarti suka, itu hanya empati artifisial yang menjauhkan kita dari kedekatan fisik dan interaksi sosial yang lebih nyata.

Karya-karyanya seperti fitur Close Friend yang ada di Instagram, memungkinkan kita melihat bagian-bagian personal dari seorang Pecut, namun dikemas seolah intimate walau sebenarnya tetap berada dalam keberjarakan—sesuatu yang ia jaga sepenuhnya.

Kenapa Sih Harus Solo Exhibition?

Setelah cukup puas diajak berkeliling oleh ketiga pameran solo itu, aku kemudian sejenak merenung dan mulai bertanya-tanya. Mengapa seorang seniman lebih-lebih ia perupa, rasanya wajib untuk berpameran tunggal atau sering kita sebut sebagai solo exhibition, solo show, solo presentation, atau whatever lah..

Pameran tunggal dalam keyakinan banyak seniman selalu menjadi satu ikhwal penting dalam karir kesenimanannya. Ia tak ubahnya Kartu SIM yang kita harus perpanjang masa aktifnya—penasbih eksistensi seorang perupa untuk terus menyatakan dirinya hadir dan mempertaruhkan gagasan yang selama ini ia eksplorasi.

Karya Personal Nugi Ketut pada Solo Exhibition “Little Object of Otherness” di Sun Contemporary, Bali | Sumber : Made Chandra

Sebagian lainnya meyakini Solo exhibition sebagai anak tangga dalam merangkum segala eksplorasi artistik yang telah ia lewati sebelumnya. Sebuah laku untuk membuat garis start baru dalam menempuh perjalanan berikutnya.

Namun personal bagiku pameran tunggal adalah cara seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia ciptakan. Karena disini, seniman kemudian diajak kembali pada hakikat diri yang sesungguhnya, yaitu kesendirian. Di titik inilah, mereka memaknai ulang dan merangkai sebagian dirinya yang selama ini telah berceceran. Sebuah tombol spasi yang memberi ruang pada seniman untuk memilih menjadi dirinya sendiri.

Ada yang begitu personal dengan diri dan ketubuhannya, ada yang menyatakan pemikirannya terhadap gejala sosial atau pun sesederhana cermin yang menelanjangi kejujuran kita. Hal itu kemudian kembali pada masing-masing perupa.

Jika disuruh memilih, aku pun akan berada di antara pilihan-pilihan tersebut, apakah ia personal maupun sosial. Bobotnya tergantung cara pandang dan bagaimana ia ditransmisikan terhadap publik dan khalayak luas.

Pada akhirnya perjalanan ini sungguh menarik, peristiwa kebetulan ini membuka banyak kemungkinan untuk menerjemahkan apa itu pameran tunggal dan mengapa ia nian penting. Ketiga seniman ini muncul dengan tegangannya masing-masing. Rasanya tak adil jika membandingkan mana yang bagus dan tidak.

Seperti mencicipi rujak buah—sekilas tampak serupa, namun setiap suapan menghadirkan letupan rasa yang berbeda: manis, asam, pedas, dan segar, saling berkelindan membentuk pemahamanku tentang, kenapa sih harus solo exhibition? [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spirit Panji Sakti, Spirit Membangun Buleleng —Catatan dari Denyut Perayaan 422 Tahun Singaraja

Next Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co