2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

Made Chandra by Made Chandra
June 8, 2026
in Ulas Rupa
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

Instalasi video oleh Ilham Gusti Syahadat | Photo : Made Chandra

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua kuping tanpa malu-malu.

Ya, selamat. Kamu sudah berada di dalam stasiun imajinasi milik mas-mas kediri, Aka Ilham Gusti Syahadat, seorang arsitek yang merawat anomali berpikirnya lewat karya-karya nakal nan eksperimental.

Di dalam sebuah ruang gelap lantai dua milik sebuah kafe bernama The Ruum, ia membangkitkan bentuk dan rupa-rupa makhluk imajinatifnya dalam sebuah presentasi instalatif yang sayangnya hanya berlangsung dalam dua hari saja.

Tapi tak apa, seperti dendam, kegilaan juga harus dibayar tuntas. Dengan cara inilah Ilham yang sehari-hari berkutat dalam berbagai proyek arsitektur, menjaga kewarasannya dengan proyek solo presentasi berjudul “Ruang Kepala” ini.

Tak tanggung-tanggung, tempat yang sangat kosong sebelumnya, ia retas, modifikasi lalu rancang sebagai ruang intim, yang menampilkan berbagai endapan visual yang telah lama tertidur dalam bentuk aset digital.

Dalam satu karya yang cukup masif, ia menembak kain yang membentang lengkung dengan sebuah proyektor mini, untuk menampilkan berbagai aset video imajinatif yang telah lama ia kumpulkan satu persatu.

Instalasi video oleh Ilham Gusti Syahadat | Photo : Made Chandra

Dalam salah satu video yang me-looping dirinya terus menerus, ia menampilkan salah satu arsitektur rekaan yang Ilham sebut sebagai Stasiun Buraq, sebuah makhluk sufistik yang hadir dalam cerita-cerita tradisi keislaman tentang peristiwa “Isra Mi’raj”.

Sebagai seorang muslim yang lahir di salah satu daerah penting kerajaan besar nusantara, pria Kediri ini paham betul, bagaimana memori, cerapan, kebiasaan dan lingkungan begitu menubuh dalam sensibilitas kognitifnya.

Maka wajar, karyanya seringkali berjalan di antara praktik arsitektur dan tradisi sufistik yang begitu kental. Potongan tubuh yang kemudian bercampur dengan kepala-kepala hewan, hamparan ruang lapang tak berujung, serta sosok di antara objek-objek arsitektur yang saling berjejalan.

Mungkin pada aplikasi SketchUp, atau 3D blender inilah, ia memuntahkan sebagian dari isi kepalanya yang begitu liar, mentah, dan kadang sedikit usil.

Beranjak dari sana, di balik kain tersebut muncul siluet-siluet hitam yang meneror dengan wujud-wujud bersayap kesukaannya. Namun entah mengapa, wujud-wujud tersebut—dengan kesederhanaan bentuknya—berhasil menampilkan kesan-kesan keilahian, mistik, dan spirituil yang berhasil menyentuh persepsi penonton, terutama saya sendiri yang langsung menyaksikannya.

Instalasi bayangan oleh Ilham Gusti Syahadat | Photo : Made Chandra

Hal itu dipertebal oleh hamparan kain sajadah yang menghadap cahaya merah, yang ternyata berasal dari properti interior café dan berpendar syahdu layaknya bulan di kala adzan Isya berkumandang.

Di balik sosok-sosok yang ia tampilkan, ternyata baru masuk akal, setelah ia memberitahu bahwa kegandrungannya pada sayap-sayap itu muncul dari buku-buku milik Danarto, seorang penulis revolusioner melalui tulisan-tulisannya yang melampaui batas realisme konvensional.

Cover buku Asmaraloka milik Danarto ternyata menjadi keseharian dalam pengalaman visual yang ia konsumsi sehari-hari. Larik kata yang aneh dan komposisi kalimat yang jauh dari konteks sastra pada umumnya. Membawa pengaruh besar dalam karya-karya Ilham, terutama pada presentasi solonya kali ini.

Ia dengan sadar mengakui, sebagian besar dari bentuk dan visual-visual yang ia hadirkan, tumbuh dari keisengan dan sensibilitas yang sangat impulsif. Tanpa mengurangi konteks, wujud-wujud itu melebur dalam pengalaman dan memorinya tentang rumah, tradisi dan keterhubungannya dengan Bali sebagai tempatnya menetap sekarang.

Figur bersayap dalam cover buku Asmaraloka oleh Danarto | Photo : Made Chandra

 

Dari sanalah kita mulai sedikit paham, mengapa ruang kosong dalam kepalanya, justru dipenuhi ingatan visual yang begitu liar dan ajaib. Dengan cara inilah gagasan dan stimulasi impulsif itu sampai pada bentuk fisiknya.

Arsitektur dan kolase

Sebagai seseorang yang berangkat dari latar belakang arsitektur, tidak menjadikan Ilham larut dalam hiruk-pikuk produksi industri semata. Ia orang yang bisa melebur dengan praktik-praktik di luar lingkup profesinya.

Salah satunya adalah aktivitas potong-memotong yang sering disebut sebagai Kolase. Dalam pameran ini pun ia menggandeng komunitas yang telah membersamai praktik tersebut sejak lama. Yaitu Ejakolase, sebuah perkumpulan para pegiat kreatif yang menaruh perhatian lebih pada kerjaan tempel-menempel ini.

Karya kolase oleh Ilham Gusti Syahadat | Photo : Made Chandra

Selain aktivasi ruang berupa presentasi. Di ruangan sebelahnya, ia bersama Ejakolase, mengajak para pengunjung untuk menciptakan karya kolase mereka sendiri. Dengan bantuan gunting dan lem, gambar-gambar dalam majalah dipindah kontekskan sebagai bentuk baru dalam bidang yang telah disediakan.

Pada praktik kolase ini juga, Ilham mendapat intensi untuk memanipulasi, memotong, dan menyatukan berbagai elemen visual yang sesungguhnya tak punya kedekatan satu dengan yang lainnya.

Justru di sinilah, imajinasi dan mimpi-mimpi fantastis seorang Ilham, mendapatkan bentuknya melalui entitas dan ruang yang terwujud dari gabungan-gabungan elemen yang muncul dari ingatan dan kesehariannya sebagai seorang penikmat budaya visual.

Desain dan pengalaman keruangan

Instalasi bayang merah oleh Ilham Gusti Syahadat | Photo : Made Chandra

 

Satu hal yang sungguh terasa dalam presentasi solonya kali ini adalah pengalaman ruang dan bagaimana ia mendefinisikan idenya melalui komposisi alur yang begitu sukses menguasai area kosong nan gelap ini.

Sekali lagi, bahwa pengalaman pada desain arsitektur begitu menyelamatkan eksekusinya kali ini. Persoalan teknis display dan bagaimana karya betul-betul memanfaatkan ruangan dengan maksimal tentu menjadi hal yang patut diapresiasi di sini.

Tak banyak seniman yang mau bersusah payah untuk memikirkan kerja-kerja belakang layar, tentang bagaimana karyanya tampil dalam sebuah ruangan dan dengan cara apa ia ditampilkan. Di sinilah Ilham mematahkan stigma usang tersebut, dengan menunjukkan sikap profesionalnya lewat keputusan-keputusan instalasi yang vital.

Aspek keruangan dalam solo presentasi “Ruang Kepala” | Photo : Made Chandra

Dibantu oleh Unsual studio, ia merancang sebuah pementasan karya yang begitu dinamis. Dengan hanya sebuah senter kecil, potongan kertas serta klip yang dijepitkan secara sederhana. Ia berhasil menciptakan nuansa magis, misterius serta mistikal dengan bayangan-bayangan sufistiknya. Ditambah lagi cahaya merah dari properti café, semakin mendramatisir suasana yang telah terbangun secara bersamaan.

Hasil ini menunjukkan kecakapan Ilham dalam merangkai komposisi karya dalam satu ruangan yang sesungguhnya cukup luas sebagai sebuah ruang presentasi solo.  Serta bagaimana ia berhasil menciptakan dan membawa agenda langka ini di tengah jantung skena Kodya Denpasar.

Kata pengantar dan kesan coretan dalam solo presentasi “Ruang Kepala” | Photo : Made Chandra

Dan pada akhirnya, apa yang ditawarkan oleh Ilham bukan sekedar muntahan visual yang asal jiplak. Ia dibentuk, dan dipikirkan dengan sangat amat matang, dengan segala pertimbangan artistik dan desain yang saling bernegosiasi satu sama lain.

Menjelma ruang kepala yang menerjemahkan isi kekosongan atau kekosongan dalam isi pikiran seorang Ilham. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni InstalasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warna-warni Layang-layang di Atas Laut Peninsula Island —Cerita dari ‘World Ocean Day’ dan ‘Coral Triangle Day 2026’ di Nusa Dua

Next Post

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Guru Bahasa di Era Digital, Siapkah Menghadapi Perubahan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co