15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 23, 2026
in Ulas Rupa
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Ogoh-ogoh 'Sapa Warang' Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam keadaan yang terasa nyaris runtuh. Ia tidak berdiri tegak, tidak memamerkan keseimbangan yang selesai. Tubuhnya condong ke depan, satu kaki terangkat tinggi ke belakang, seperti sedang ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat. Ada ketegangan yang terasa di seluruh anatominya.

Otot-ototnya tidak sekadar dibentuk, tetapi seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Ia tidak memberi rasa stabil. Ia berada di antara dua keadaan: antara bertahan dan menyerah, antara bentuk yang masih utuh dan sesuatu yang sedang berubah.

Itulah Sapa Warang, karya Sekaa Teruna Gemeh Indah yang dikonsepsi oleh maestro Marmar Herayukti.

Tangan-tangannya menjulur panjang, jari-jari terbuka, seperti meraba sesuatu yang tidak kasatmata. Tidak jelas apakah ia sedang meraih atau justru menjauh. Ambiguitas itu tidak diselesaikan, dan justru di situlah ia bekerja. Ia tidak memberi satu tindakan, melainkan membiarkan kita berada di antara kemungkinan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Wajahnya menjadi pusat dari seluruh pengalaman visual ini. Pada satu sisi, ia masih dapat dikenali sebagai manusia. Struktur tulang wajah, garis bibir, ekspresi yang familiar. Namun pada sisi lainnya, wajah itu telah retak. Permukaannya pecah seperti tanah yang lama tidak tersentuh air. Dari dalam retakan itu, cahaya merah muncul. Bukan sebagai tambahan, tetapi seperti sesuatu yang memang berasal dari dalam tubuh itu sendiri.

Mata pada wajah itu tidak sepenuhnya melihat. Ia putih, kosong, tetapi tidak mati. Justru terasa penuh. Seperti bukan lagi mata yang mengamati dunia, melainkan titik di mana sesuatu dari dalam sedang memandang keluar.

Di atas tubuh yang retak itu, ornamen emas hadir dengan ketelitian yang halus. Ukirannya rapi, hampir aristokratik, seperti datang dari dunia yang tertata. Di sela-selanya, uang kepeng dironce dan diulang sebagai ritme visual. Pada beberapa bagian, terbaca aksara seperti Sangupati dan Sangurip—bekal mati dan bekal hidup—yang tidak ditempatkan sebagai simbol terpisah, tetapi melekat pada tubuh itu sendiri.

Di ujung sanan (usungan yang terbuat dari bambu), terpisah dari pedestal, muncul elemen menyerupai pancuran—yang dalam pemahaman umum menjadi simbol air kehidupan. Namun di sini, sesuatu telah bergeser. Yang keluar bukan air. Melainkan api.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Dua Wajah dan Cara Kita Memahami

Ada sesuatu yang tidak langsung terlihat jika karya ini hanya diamati dari satu sudut. Wajah Sapa Warang tidak tunggal. Ia dapat dibaca dari dua orientasi. Ketika posisi dibalik, wajah yang sama berubah menjadi karakter lain—lebih kasar, lebih liar, lebih dekat dengan sesuatu yang biasanya kita tempatkan di luar wilayah manusia. Yang berubah bukan bentuknya. Yang berubah adalah cara kita melihatnya.

Di titik ini, karya ini tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk, tetapi tentang cara kita memahami realitas. Kita terbiasa membagi dunia menjadi atas dan bawah, depan dan belakang, manusia dan bukan manusia. Namun ketika satu bentuk mampu menghadirkan dua identitas hanya dengan perubahan orientasi, batas-batas itu mulai goyah. Apa yang kita yakini sebagai tetap, ternyata bergantung pada posisi kita.

Wajah yang terbalik ini tidak sekadar menghadirkan dualitas. Ia menghadirkan jarak. Seolah-olah ada sosok yang tidak lagi menghadap kita. Seolah-olah ada sesuatu yang memunggungi kita. Dan mungkin justru dari sanalah ia “menyapa”. Bukan dari depan, tetapi dari arah yang kita abaikan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Retakan, Api, dan yang Tak Lagi Bisa Ditahan

Dalam gagasan yang dibawa oleh Marmar Herayukti, semuanya berangkat dari sesuatu yang sederhana: tangisan pertama manusia. Tangisan itu adalah penanda awal kesadaran. Momen ketika manusia hadir dengan kemampuan untuk merasakan dan mengingat. Namun seiring waktu, sesuatu perlahan berubah. Manusia mulai menjauh dari tubuhnya sendiri.

Ia lebih percaya pada pikirannya: pada konstruksi yang ia bangun, pada ketakutan yang ia pelihara, pada arah yang sering kali tidak sepenuhnya ia pilih sendiri. Tubuh, yang seharusnya menjadi jalur pesan yang jujur, perlahan diabaikan. Dan di situlah lupa mulai terjadi.

Lupa bukan sekadar tidak ingat. Ia adalah kondisi di mana manusia tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Dalam konteks ini, air mata tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai luapan emosi. Air mata adalah bekal menuju kesadaran. Ia adalah cara tubuh membuka kembali jalur yang sempat terputus, cara tubuh mengingatkan bahwa masih ada sesuatu yang bisa dirasakan, yang belum sepenuhnya hilang.

Retakan pada tubuh Sapa Warang menjadi bahasa dari kondisi itu. Ia adalah jejak tekanan yang terlalu lama disimpan. Namun retakan ini juga membuka jalan. Dari dalamnya, cahaya merah muncul. Dan ketika api dinyalakan pada malam pengerupukan itu, ia tidak hadir sebagai sesuatu yang acak. Ia mengikuti retakan. Ia menyala di jalur yang sejak awal sudah ada. Seolah tubuh ini memang telah dirancang untuk dilalui oleh api.

Api tidak langsung menghancurkan. Ia justru memperjelas. Ia membuat retakan menjadi hidup. Ia mengubah bentuk menjadi peristiwa. Api di sini dapat dibaca sebagai magma. Magma dalam bumi yang bergerak di dalam, menekan, dan akhirnya mencari jalan keluar.

Magma dalam diri manusia yang berupa tekanan, emosi, ingatan, sesuatu yang terlalu lama ditahan. Ketika ia muncul, ia tidak memilih jalur baru. Ia mengikuti retakan yang sudah ada sebelumnya.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Sapaan yang Menjadi Peringatan

Nama Sapa Warang tidak bekerja sebagai label. Ia membuka. Kata sapa mengandung beberapa lapisan sekaligus. Ia bisa berarti menyapa, sebuah gerak mendekat. Ia juga bisa berarti siapa, sebuah pertanyaan. Namun dalam lapisan yang lebih dalam, ia dapat dimaknai sebagai peringatan, bahkan kutukan yakni teguran yang tidak selalu datang dengan keras, tetapi menetap.

Dalam karya ini, makna itu tidak hanya hadir dalam kata, tetapi dalam bentuk. Wajah yang dapat dibaca terbalik, tubuh yang seperti tidak sepenuhnya menghadap, menghadirkan kesan bahwa sapaan itu tidak lagi datang dari posisi yang biasa. Ia tidak berdiri di depan kita. Ia seperti datang dari arah yang kita abaikan. Dari belakang. Dari bawah. Dari sesuatu yang selama ini kita pijak.

Dalam pembacaan ini, sapa dapat dipahami sebagai sapaan, sekaligus teguran, dari Ibu Bumi yang tidak lagi sepenuhnya menghadap manusia. Bukan karena ia tidak ada. Tetapi karena manusia yang menjauh. Relasi itu bergeser. Yang seharusnya dekat menjadi jauh. Yang seharusnya disadari menjadi terlupakan.

Sementara itu, warang mempertemukan dua unsur yang sering dianggap berlawanan: air dan api. Air hadir sebagai kemungkinan, sebagai air mata, sebagai sesuatu yang mengalir dari dalam. Api hadir sebagai kenyataan, sebagai panas, sebagai energi yang muncul melalui retakan. Dan ketika keduanya hadir dalam satu tubuh, sapaan itu tidak lagi sekadar kata. Ia menjadi pengalaman. Ia menjadi tubuh yang retak. Ia menjadi cahaya yang keluar dari dalam. Ia menjadi api yang muncul dari pancuran yang seharusnya mengalirkan air.

Marmar Herayukti dan Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ | Foto: @pradityaaa.07 

Sapa Warang tidak menawarkan kesimpulan. Ia hanya membuka kemungkinan. Tentang tubuh yang menyimpan lebih banyak dari yang terlihat. Tentang retakan yang tidak selalu berarti akhir. Tentang api yang tidak selalu datang untuk menghancurkan. Dan mungkin, tentang sesuatu yang sederhana: bahwa di tengah semua yang kita yakini kita pahami, kita mungkin baru melihat dari satu sisi saja.  [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini juga disiarkan di Bekraf.id

Tags: Banjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar Herayukti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Next Post

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co