14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 23, 2026
in Ulas Rupa
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Ogoh-ogoh 'Sapa Warang' Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam keadaan yang terasa nyaris runtuh. Ia tidak berdiri tegak, tidak memamerkan keseimbangan yang selesai. Tubuhnya condong ke depan, satu kaki terangkat tinggi ke belakang, seperti sedang ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat. Ada ketegangan yang terasa di seluruh anatominya.

Otot-ototnya tidak sekadar dibentuk, tetapi seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Ia tidak memberi rasa stabil. Ia berada di antara dua keadaan: antara bertahan dan menyerah, antara bentuk yang masih utuh dan sesuatu yang sedang berubah.

Itulah Sapa Warang, karya Sekaa Teruna Gemeh Indah yang dikonsepsi oleh maestro Marmar Herayukti.

Tangan-tangannya menjulur panjang, jari-jari terbuka, seperti meraba sesuatu yang tidak kasatmata. Tidak jelas apakah ia sedang meraih atau justru menjauh. Ambiguitas itu tidak diselesaikan, dan justru di situlah ia bekerja. Ia tidak memberi satu tindakan, melainkan membiarkan kita berada di antara kemungkinan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Wajahnya menjadi pusat dari seluruh pengalaman visual ini. Pada satu sisi, ia masih dapat dikenali sebagai manusia. Struktur tulang wajah, garis bibir, ekspresi yang familiar. Namun pada sisi lainnya, wajah itu telah retak. Permukaannya pecah seperti tanah yang lama tidak tersentuh air. Dari dalam retakan itu, cahaya merah muncul. Bukan sebagai tambahan, tetapi seperti sesuatu yang memang berasal dari dalam tubuh itu sendiri.

Mata pada wajah itu tidak sepenuhnya melihat. Ia putih, kosong, tetapi tidak mati. Justru terasa penuh. Seperti bukan lagi mata yang mengamati dunia, melainkan titik di mana sesuatu dari dalam sedang memandang keluar.

Di atas tubuh yang retak itu, ornamen emas hadir dengan ketelitian yang halus. Ukirannya rapi, hampir aristokratik, seperti datang dari dunia yang tertata. Di sela-selanya, uang kepeng dironce dan diulang sebagai ritme visual. Pada beberapa bagian, terbaca aksara seperti Sangupati dan Sangurip—bekal mati dan bekal hidup—yang tidak ditempatkan sebagai simbol terpisah, tetapi melekat pada tubuh itu sendiri.

Di ujung sanan (usungan yang terbuat dari bambu), terpisah dari pedestal, muncul elemen menyerupai pancuran—yang dalam pemahaman umum menjadi simbol air kehidupan. Namun di sini, sesuatu telah bergeser. Yang keluar bukan air. Melainkan api.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Dua Wajah dan Cara Kita Memahami

Ada sesuatu yang tidak langsung terlihat jika karya ini hanya diamati dari satu sudut. Wajah Sapa Warang tidak tunggal. Ia dapat dibaca dari dua orientasi. Ketika posisi dibalik, wajah yang sama berubah menjadi karakter lain—lebih kasar, lebih liar, lebih dekat dengan sesuatu yang biasanya kita tempatkan di luar wilayah manusia. Yang berubah bukan bentuknya. Yang berubah adalah cara kita melihatnya.

Di titik ini, karya ini tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk, tetapi tentang cara kita memahami realitas. Kita terbiasa membagi dunia menjadi atas dan bawah, depan dan belakang, manusia dan bukan manusia. Namun ketika satu bentuk mampu menghadirkan dua identitas hanya dengan perubahan orientasi, batas-batas itu mulai goyah. Apa yang kita yakini sebagai tetap, ternyata bergantung pada posisi kita.

Wajah yang terbalik ini tidak sekadar menghadirkan dualitas. Ia menghadirkan jarak. Seolah-olah ada sosok yang tidak lagi menghadap kita. Seolah-olah ada sesuatu yang memunggungi kita. Dan mungkin justru dari sanalah ia “menyapa”. Bukan dari depan, tetapi dari arah yang kita abaikan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Retakan, Api, dan yang Tak Lagi Bisa Ditahan

Dalam gagasan yang dibawa oleh Marmar Herayukti, semuanya berangkat dari sesuatu yang sederhana: tangisan pertama manusia. Tangisan itu adalah penanda awal kesadaran. Momen ketika manusia hadir dengan kemampuan untuk merasakan dan mengingat. Namun seiring waktu, sesuatu perlahan berubah. Manusia mulai menjauh dari tubuhnya sendiri.

Ia lebih percaya pada pikirannya: pada konstruksi yang ia bangun, pada ketakutan yang ia pelihara, pada arah yang sering kali tidak sepenuhnya ia pilih sendiri. Tubuh, yang seharusnya menjadi jalur pesan yang jujur, perlahan diabaikan. Dan di situlah lupa mulai terjadi.

Lupa bukan sekadar tidak ingat. Ia adalah kondisi di mana manusia tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Dalam konteks ini, air mata tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai luapan emosi. Air mata adalah bekal menuju kesadaran. Ia adalah cara tubuh membuka kembali jalur yang sempat terputus, cara tubuh mengingatkan bahwa masih ada sesuatu yang bisa dirasakan, yang belum sepenuhnya hilang.

Retakan pada tubuh Sapa Warang menjadi bahasa dari kondisi itu. Ia adalah jejak tekanan yang terlalu lama disimpan. Namun retakan ini juga membuka jalan. Dari dalamnya, cahaya merah muncul. Dan ketika api dinyalakan pada malam pengerupukan itu, ia tidak hadir sebagai sesuatu yang acak. Ia mengikuti retakan. Ia menyala di jalur yang sejak awal sudah ada. Seolah tubuh ini memang telah dirancang untuk dilalui oleh api.

Api tidak langsung menghancurkan. Ia justru memperjelas. Ia membuat retakan menjadi hidup. Ia mengubah bentuk menjadi peristiwa. Api di sini dapat dibaca sebagai magma. Magma dalam bumi yang bergerak di dalam, menekan, dan akhirnya mencari jalan keluar.

Magma dalam diri manusia yang berupa tekanan, emosi, ingatan, sesuatu yang terlalu lama ditahan. Ketika ia muncul, ia tidak memilih jalur baru. Ia mengikuti retakan yang sudah ada sebelumnya.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Sapaan yang Menjadi Peringatan

Nama Sapa Warang tidak bekerja sebagai label. Ia membuka. Kata sapa mengandung beberapa lapisan sekaligus. Ia bisa berarti menyapa, sebuah gerak mendekat. Ia juga bisa berarti siapa, sebuah pertanyaan. Namun dalam lapisan yang lebih dalam, ia dapat dimaknai sebagai peringatan, bahkan kutukan yakni teguran yang tidak selalu datang dengan keras, tetapi menetap.

Dalam karya ini, makna itu tidak hanya hadir dalam kata, tetapi dalam bentuk. Wajah yang dapat dibaca terbalik, tubuh yang seperti tidak sepenuhnya menghadap, menghadirkan kesan bahwa sapaan itu tidak lagi datang dari posisi yang biasa. Ia tidak berdiri di depan kita. Ia seperti datang dari arah yang kita abaikan. Dari belakang. Dari bawah. Dari sesuatu yang selama ini kita pijak.

Dalam pembacaan ini, sapa dapat dipahami sebagai sapaan, sekaligus teguran, dari Ibu Bumi yang tidak lagi sepenuhnya menghadap manusia. Bukan karena ia tidak ada. Tetapi karena manusia yang menjauh. Relasi itu bergeser. Yang seharusnya dekat menjadi jauh. Yang seharusnya disadari menjadi terlupakan.

Sementara itu, warang mempertemukan dua unsur yang sering dianggap berlawanan: air dan api. Air hadir sebagai kemungkinan, sebagai air mata, sebagai sesuatu yang mengalir dari dalam. Api hadir sebagai kenyataan, sebagai panas, sebagai energi yang muncul melalui retakan. Dan ketika keduanya hadir dalam satu tubuh, sapaan itu tidak lagi sekadar kata. Ia menjadi pengalaman. Ia menjadi tubuh yang retak. Ia menjadi cahaya yang keluar dari dalam. Ia menjadi api yang muncul dari pancuran yang seharusnya mengalirkan air.

Marmar Herayukti dan Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ | Foto: @pradityaaa.07 

Sapa Warang tidak menawarkan kesimpulan. Ia hanya membuka kemungkinan. Tentang tubuh yang menyimpan lebih banyak dari yang terlihat. Tentang retakan yang tidak selalu berarti akhir. Tentang api yang tidak selalu datang untuk menghancurkan. Dan mungkin, tentang sesuatu yang sederhana: bahwa di tengah semua yang kita yakini kita pahami, kita mungkin baru melihat dari satu sisi saja.  [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini juga disiarkan di Bekraf.id

Tags: Banjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar Herayukti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Next Post

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co