5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 23, 2026
in Ulas Rupa
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Ogoh-ogoh 'Sapa Warang' Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam keadaan yang terasa nyaris runtuh. Ia tidak berdiri tegak, tidak memamerkan keseimbangan yang selesai. Tubuhnya condong ke depan, satu kaki terangkat tinggi ke belakang, seperti sedang ditarik oleh kekuatan yang tidak terlihat. Ada ketegangan yang terasa di seluruh anatominya.

Otot-ototnya tidak sekadar dibentuk, tetapi seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Ia tidak memberi rasa stabil. Ia berada di antara dua keadaan: antara bertahan dan menyerah, antara bentuk yang masih utuh dan sesuatu yang sedang berubah.

Itulah Sapa Warang, karya Sekaa Teruna Gemeh Indah yang dikonsepsi oleh maestro Marmar Herayukti.

Tangan-tangannya menjulur panjang, jari-jari terbuka, seperti meraba sesuatu yang tidak kasatmata. Tidak jelas apakah ia sedang meraih atau justru menjauh. Ambiguitas itu tidak diselesaikan, dan justru di situlah ia bekerja. Ia tidak memberi satu tindakan, melainkan membiarkan kita berada di antara kemungkinan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Wajahnya menjadi pusat dari seluruh pengalaman visual ini. Pada satu sisi, ia masih dapat dikenali sebagai manusia. Struktur tulang wajah, garis bibir, ekspresi yang familiar. Namun pada sisi lainnya, wajah itu telah retak. Permukaannya pecah seperti tanah yang lama tidak tersentuh air. Dari dalam retakan itu, cahaya merah muncul. Bukan sebagai tambahan, tetapi seperti sesuatu yang memang berasal dari dalam tubuh itu sendiri.

Mata pada wajah itu tidak sepenuhnya melihat. Ia putih, kosong, tetapi tidak mati. Justru terasa penuh. Seperti bukan lagi mata yang mengamati dunia, melainkan titik di mana sesuatu dari dalam sedang memandang keluar.

Di atas tubuh yang retak itu, ornamen emas hadir dengan ketelitian yang halus. Ukirannya rapi, hampir aristokratik, seperti datang dari dunia yang tertata. Di sela-selanya, uang kepeng dironce dan diulang sebagai ritme visual. Pada beberapa bagian, terbaca aksara seperti Sangupati dan Sangurip—bekal mati dan bekal hidup—yang tidak ditempatkan sebagai simbol terpisah, tetapi melekat pada tubuh itu sendiri.

Di ujung sanan (usungan yang terbuat dari bambu), terpisah dari pedestal, muncul elemen menyerupai pancuran—yang dalam pemahaman umum menjadi simbol air kehidupan. Namun di sini, sesuatu telah bergeser. Yang keluar bukan air. Melainkan api.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Dua Wajah dan Cara Kita Memahami

Ada sesuatu yang tidak langsung terlihat jika karya ini hanya diamati dari satu sudut. Wajah Sapa Warang tidak tunggal. Ia dapat dibaca dari dua orientasi. Ketika posisi dibalik, wajah yang sama berubah menjadi karakter lain—lebih kasar, lebih liar, lebih dekat dengan sesuatu yang biasanya kita tempatkan di luar wilayah manusia. Yang berubah bukan bentuknya. Yang berubah adalah cara kita melihatnya.

Di titik ini, karya ini tidak lagi hanya berbicara tentang bentuk, tetapi tentang cara kita memahami realitas. Kita terbiasa membagi dunia menjadi atas dan bawah, depan dan belakang, manusia dan bukan manusia. Namun ketika satu bentuk mampu menghadirkan dua identitas hanya dengan perubahan orientasi, batas-batas itu mulai goyah. Apa yang kita yakini sebagai tetap, ternyata bergantung pada posisi kita.

Wajah yang terbalik ini tidak sekadar menghadirkan dualitas. Ia menghadirkan jarak. Seolah-olah ada sosok yang tidak lagi menghadap kita. Seolah-olah ada sesuatu yang memunggungi kita. Dan mungkin justru dari sanalah ia “menyapa”. Bukan dari depan, tetapi dari arah yang kita abaikan.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Retakan, Api, dan yang Tak Lagi Bisa Ditahan

Dalam gagasan yang dibawa oleh Marmar Herayukti, semuanya berangkat dari sesuatu yang sederhana: tangisan pertama manusia. Tangisan itu adalah penanda awal kesadaran. Momen ketika manusia hadir dengan kemampuan untuk merasakan dan mengingat. Namun seiring waktu, sesuatu perlahan berubah. Manusia mulai menjauh dari tubuhnya sendiri.

Ia lebih percaya pada pikirannya: pada konstruksi yang ia bangun, pada ketakutan yang ia pelihara, pada arah yang sering kali tidak sepenuhnya ia pilih sendiri. Tubuh, yang seharusnya menjadi jalur pesan yang jujur, perlahan diabaikan. Dan di situlah lupa mulai terjadi.

Lupa bukan sekadar tidak ingat. Ia adalah kondisi di mana manusia tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Dalam konteks ini, air mata tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai luapan emosi. Air mata adalah bekal menuju kesadaran. Ia adalah cara tubuh membuka kembali jalur yang sempat terputus, cara tubuh mengingatkan bahwa masih ada sesuatu yang bisa dirasakan, yang belum sepenuhnya hilang.

Retakan pada tubuh Sapa Warang menjadi bahasa dari kondisi itu. Ia adalah jejak tekanan yang terlalu lama disimpan. Namun retakan ini juga membuka jalan. Dari dalamnya, cahaya merah muncul. Dan ketika api dinyalakan pada malam pengerupukan itu, ia tidak hadir sebagai sesuatu yang acak. Ia mengikuti retakan. Ia menyala di jalur yang sejak awal sudah ada. Seolah tubuh ini memang telah dirancang untuk dilalui oleh api.

Api tidak langsung menghancurkan. Ia justru memperjelas. Ia membuat retakan menjadi hidup. Ia mengubah bentuk menjadi peristiwa. Api di sini dapat dibaca sebagai magma. Magma dalam bumi yang bergerak di dalam, menekan, dan akhirnya mencari jalan keluar.

Magma dalam diri manusia yang berupa tekanan, emosi, ingatan, sesuatu yang terlalu lama ditahan. Ketika ia muncul, ia tidak memilih jalur baru. Ia mengikuti retakan yang sudah ada sebelumnya.

Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti | Foto: @pradityaaa.07 

Sapaan yang Menjadi Peringatan

Nama Sapa Warang tidak bekerja sebagai label. Ia membuka. Kata sapa mengandung beberapa lapisan sekaligus. Ia bisa berarti menyapa, sebuah gerak mendekat. Ia juga bisa berarti siapa, sebuah pertanyaan. Namun dalam lapisan yang lebih dalam, ia dapat dimaknai sebagai peringatan, bahkan kutukan yakni teguran yang tidak selalu datang dengan keras, tetapi menetap.

Dalam karya ini, makna itu tidak hanya hadir dalam kata, tetapi dalam bentuk. Wajah yang dapat dibaca terbalik, tubuh yang seperti tidak sepenuhnya menghadap, menghadirkan kesan bahwa sapaan itu tidak lagi datang dari posisi yang biasa. Ia tidak berdiri di depan kita. Ia seperti datang dari arah yang kita abaikan. Dari belakang. Dari bawah. Dari sesuatu yang selama ini kita pijak.

Dalam pembacaan ini, sapa dapat dipahami sebagai sapaan, sekaligus teguran, dari Ibu Bumi yang tidak lagi sepenuhnya menghadap manusia. Bukan karena ia tidak ada. Tetapi karena manusia yang menjauh. Relasi itu bergeser. Yang seharusnya dekat menjadi jauh. Yang seharusnya disadari menjadi terlupakan.

Sementara itu, warang mempertemukan dua unsur yang sering dianggap berlawanan: air dan api. Air hadir sebagai kemungkinan, sebagai air mata, sebagai sesuatu yang mengalir dari dalam. Api hadir sebagai kenyataan, sebagai panas, sebagai energi yang muncul melalui retakan. Dan ketika keduanya hadir dalam satu tubuh, sapaan itu tidak lagi sekadar kata. Ia menjadi pengalaman. Ia menjadi tubuh yang retak. Ia menjadi cahaya yang keluar dari dalam. Ia menjadi api yang muncul dari pancuran yang seharusnya mengalirkan air.

Marmar Herayukti dan Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ | Foto: @pradityaaa.07 

Sapa Warang tidak menawarkan kesimpulan. Ia hanya membuka kemungkinan. Tentang tubuh yang menyimpan lebih banyak dari yang terlihat. Tentang retakan yang tidak selalu berarti akhir. Tentang api yang tidak selalu datang untuk menghancurkan. Dan mungkin, tentang sesuatu yang sederhana: bahwa di tengah semua yang kita yakini kita pahami, kita mungkin baru melihat dari satu sisi saja.  [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Catatan: Artikel ini juga disiarkan di Bekraf.id

Tags: Banjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar Herayukti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Next Post

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

by Made Chandra
June 2, 2026
0
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

Read moreDetails

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co