4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
in Panggung
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi Nyegara Gunung—sebuah pandangan kosmologis Bali yang menyatukan gunung dan laut sebagai satu kesatuan siklus kehidupan—disebut-sebut dan berusaha diwujudkan dalam bentuk festival atau boleh jadi disebut sebagai “pesta rakyat”.

Di Desa Les, alam memang tak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dari bukit yang kering, menyusuri ladang, menyeberangi jalan-jalan kecil, lalu berakhir di laut yang membentang luas di utara. Gerak itu tak kasatmata, tapi terasa. Dan selama tiga hari, 20 hingga 22 Maret 2026 kemarin, gerak itu dirayakan dalam satu helaan napas panjang: Les Ngembak Festival 2026.

“Berangkat dari tradisi Ngembak Geni setelah Nyepi, festival ini kini berkembang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Les,” terang Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kepada tatkala.co, Minggu, 22 Maret 2026.

Les Ngembak Festival

Tahun keempat ini, Les Ngembak Festival mengusung tema “Ridge to Reef Experience” yang meliputi art, culture, cullinary, dan nature. Teman tersebut bukan sekadar jargon pariwisata, tentu saja. Menurut Don Rare, panggilan akrab Nyoman Nadiana, itu cara warga Les membaca dirinya sendiri—sebagai bagian dari alur panjang antara gunung dan laut dalam filosofi Nyegara Gunung yang telah hidup jauh sebelum festival ini lahir.

Namun, masih kata Don, jika kita menepi sejenak dari panggung dan keramaian, festival ini sebenarnya menyimpan dua cerita: tentang perayaan, dan tentang jejak yang ditinggalkannya.

Di Pantai Penyumbahan, tempat festival berlangsung, panggung didirikan tanpa kemewahan berlebih. Laut menjadi latar, langit menjadi atap. Selebihnya, manusia mengisi ruang itu dengan energi mereka.

Talenta lokal tampil tanpa jarak. Band, DJ, memainkan lagu-lagu dan musik yang akrab di telinga warga, modern dance menghadirkan semangat generasi muda, sementara tarian Bali menegaskan akar yang tak tercerabut. Di sela-sela itu, tawa penonton mengalir, bercampur dengan suara ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Semua seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang sama.

Di sisi lain, aroma dapur menjadi penanda bahwa festival ini juga tentang rasa. Kuliner khas Desa Les disajikan dengan cara sederhana tetapi jujur. Ikan segar, sambal yang pedasnya menggigit, hingga jajanan tradisional, semuanya hadir sebagai bagian dari identitas di tengah gempuran kuliner-kuliner ekstra proses yang datang dari negeri jauh.

Les Ngembak Festival

Sementara itu, HuB produk kebanggaan lokal menjadi ruang kecil yang penting. Di sana, karya-karya warga dipamerkan: hasil tangan yang tak selalu sempurna, tapi penuh makna. Festival ini, pada titik itu, menjadi lebih dari sekadar tontonan—ia adalah ruang ekonomi, ruang eksistensi.

Menjelang senja, laut mengambil alih peran utama. Perahu-perahu jukung mulai bergerak perlahan. Aktivitas melancaran atau mejukungan menjadi magnet yang tak tergantikan. Pengunjung diajak menyusuri laut, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan.

Di atas perahu, waktu seperti melambat. Angin laut membawa aroma asin yang khas, air memantulkan warna langit yang berubah, dan di tangan, makanan khas desa dinikmati tanpa tergesa.

Pengalaman itu terkesan sederhana, tapi justru di situlah kekhasannya. Tak ada teknologi canggih, tak ada rekayasa berlebihan, hanya manusia, alam, dan momen yang dibiarkan terjadi apa adanya. Begitu saja. “Inilah inti dari ridge to reef, perjalanan yang menghubungkan, bukan memisahkan,” kata Don.

Sampai di sini, sebagai desa wisata yang menyandang gelar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Les disebut ikut mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Buleleng. Pemerintah Buleleng menganggap Les Ngembak Festival sebagai ruang promosi desa wisata, seni budaya, hingga produk UMKM lokal. Kehadiran wisatawan turut memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat. 

“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” ujar Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, yang membuka festival tersebut.

Namun, setiap perayaan selalu memiliki sisi lain yang jarang disorot saat musik masih dimainkan. Ketika hari terakhir berakhir dan pengunjung mulai pulang, pantai itu tak lagi sama. Sisa-sisa festival tertinggal. Sampah plastik, kemasan makanan, botol minuman—semuanya menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya belajar dari apa yang ia rayakan. Pantai yang tadi menjadi ruang perjumpaan, berubah menjadi ruang pekerjaan: warga dan panitia membersihkan, mengumpulkan, memilah.

Persoalan ini bukan hal baru. Ia seperti kutukan yang selalu kembali setelah festival usai. Warga menyadari, panitia memahami, namun solusi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Di tengah semangat merayakan alam, ironi itu terasa begitu konyol: bagaimana mungkin sebuah festival yang mengangkat filosofi keselarasan justru meninggalkan ketidakseimbangan?

Les Ngembak Festival

“Ini terjadi setiap tahun. Saya kira, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah teknis. Itu sebuah pertanyaan moral yang menggantung: sejauh mana kita benar-benar memahami filosofi Nyegara Gunung?” keluh Don yang menggerakkan panitia untuk membersihkan Pantai Penyumbahan seusai acara. “Jika gunung dan laut adalah satu kesatuan, maka apa yang kita tinggalkan di pantai, pada akhirnya juga akan kembali kepada kita,” sambung sambung pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pejalan, pemandu, dan pedagang itu.

Les Ngembak Festival 2026 memang belum sempurna secara teknis maupun nonteknis. Tapi justru di situlah ia terasa hidup. Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah desa berusaha berdiri di antara dua dunia: tradisi yang ingin dijaga, dan modernitas yang tak bisa dihindari. Warga Les mencoba mempertemukan seni, ekonomi, dan pariwisata dalam satu ruang yang sama—meski kadang selaras, kadang saling bertabrakan.

Namun, yang paling penting, festival ini membuka ruang refleksi bahwa merayakan alam tidak cukup dengan menghadirkan panggung di tepi laut; bahwa pengalaman “dari bukit ke terumbu karang” seharusnya tidak berhenti pada apa yang dilihat dan dirasakan, tetapi juga pada bagaimana ia dijaga setelahnya.

Les Ngembak Festival

Mungkin, di masa depan, Les Ngembak Festival tak hanya dikenang karena keindahannya, tetapi juga karena keberaniannya berbenah. Karena pada akhirnya, perjalanan dari bukit ke laut bukan hanya tentang jarak. “Itu adalah tentang tanggung jawab yang harus ditempuh bersama,” Don berpesan.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Next Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Yang Terpatri di Hari Fitri ---Catatan Kecil Usai Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co