4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
in Panggung
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi Nyegara Gunung—sebuah pandangan kosmologis Bali yang menyatukan gunung dan laut sebagai satu kesatuan siklus kehidupan—disebut-sebut dan berusaha diwujudkan dalam bentuk festival atau boleh jadi disebut sebagai “pesta rakyat”.

Di Desa Les, alam memang tak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dari bukit yang kering, menyusuri ladang, menyeberangi jalan-jalan kecil, lalu berakhir di laut yang membentang luas di utara. Gerak itu tak kasatmata, tapi terasa. Dan selama tiga hari, 20 hingga 22 Maret 2026 kemarin, gerak itu dirayakan dalam satu helaan napas panjang: Les Ngembak Festival 2026.

“Berangkat dari tradisi Ngembak Geni setelah Nyepi, festival ini kini berkembang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Les,” terang Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kepada tatkala.co, Minggu, 22 Maret 2026.

Les Ngembak Festival

Tahun keempat ini, Les Ngembak Festival mengusung tema “Ridge to Reef Experience” yang meliputi art, culture, cullinary, dan nature. Teman tersebut bukan sekadar jargon pariwisata, tentu saja. Menurut Don Rare, panggilan akrab Nyoman Nadiana, itu cara warga Les membaca dirinya sendiri—sebagai bagian dari alur panjang antara gunung dan laut dalam filosofi Nyegara Gunung yang telah hidup jauh sebelum festival ini lahir.

Namun, masih kata Don, jika kita menepi sejenak dari panggung dan keramaian, festival ini sebenarnya menyimpan dua cerita: tentang perayaan, dan tentang jejak yang ditinggalkannya.

Di Pantai Penyumbahan, tempat festival berlangsung, panggung didirikan tanpa kemewahan berlebih. Laut menjadi latar, langit menjadi atap. Selebihnya, manusia mengisi ruang itu dengan energi mereka.

Talenta lokal tampil tanpa jarak. Band, DJ, memainkan lagu-lagu dan musik yang akrab di telinga warga, modern dance menghadirkan semangat generasi muda, sementara tarian Bali menegaskan akar yang tak tercerabut. Di sela-sela itu, tawa penonton mengalir, bercampur dengan suara ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Semua seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang sama.

Di sisi lain, aroma dapur menjadi penanda bahwa festival ini juga tentang rasa. Kuliner khas Desa Les disajikan dengan cara sederhana tetapi jujur. Ikan segar, sambal yang pedasnya menggigit, hingga jajanan tradisional, semuanya hadir sebagai bagian dari identitas di tengah gempuran kuliner-kuliner ekstra proses yang datang dari negeri jauh.

Les Ngembak Festival

Sementara itu, HuB produk kebanggaan lokal menjadi ruang kecil yang penting. Di sana, karya-karya warga dipamerkan: hasil tangan yang tak selalu sempurna, tapi penuh makna. Festival ini, pada titik itu, menjadi lebih dari sekadar tontonan—ia adalah ruang ekonomi, ruang eksistensi.

Menjelang senja, laut mengambil alih peran utama. Perahu-perahu jukung mulai bergerak perlahan. Aktivitas melancaran atau mejukungan menjadi magnet yang tak tergantikan. Pengunjung diajak menyusuri laut, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan.

Di atas perahu, waktu seperti melambat. Angin laut membawa aroma asin yang khas, air memantulkan warna langit yang berubah, dan di tangan, makanan khas desa dinikmati tanpa tergesa.

Pengalaman itu terkesan sederhana, tapi justru di situlah kekhasannya. Tak ada teknologi canggih, tak ada rekayasa berlebihan, hanya manusia, alam, dan momen yang dibiarkan terjadi apa adanya. Begitu saja. “Inilah inti dari ridge to reef, perjalanan yang menghubungkan, bukan memisahkan,” kata Don.

Sampai di sini, sebagai desa wisata yang menyandang gelar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Les disebut ikut mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Buleleng. Pemerintah Buleleng menganggap Les Ngembak Festival sebagai ruang promosi desa wisata, seni budaya, hingga produk UMKM lokal. Kehadiran wisatawan turut memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat. 

“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” ujar Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, yang membuka festival tersebut.

Namun, setiap perayaan selalu memiliki sisi lain yang jarang disorot saat musik masih dimainkan. Ketika hari terakhir berakhir dan pengunjung mulai pulang, pantai itu tak lagi sama. Sisa-sisa festival tertinggal. Sampah plastik, kemasan makanan, botol minuman—semuanya menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya belajar dari apa yang ia rayakan. Pantai yang tadi menjadi ruang perjumpaan, berubah menjadi ruang pekerjaan: warga dan panitia membersihkan, mengumpulkan, memilah.

Persoalan ini bukan hal baru. Ia seperti kutukan yang selalu kembali setelah festival usai. Warga menyadari, panitia memahami, namun solusi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Di tengah semangat merayakan alam, ironi itu terasa begitu konyol: bagaimana mungkin sebuah festival yang mengangkat filosofi keselarasan justru meninggalkan ketidakseimbangan?

Les Ngembak Festival

“Ini terjadi setiap tahun. Saya kira, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah teknis. Itu sebuah pertanyaan moral yang menggantung: sejauh mana kita benar-benar memahami filosofi Nyegara Gunung?” keluh Don yang menggerakkan panitia untuk membersihkan Pantai Penyumbahan seusai acara. “Jika gunung dan laut adalah satu kesatuan, maka apa yang kita tinggalkan di pantai, pada akhirnya juga akan kembali kepada kita,” sambung sambung pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pejalan, pemandu, dan pedagang itu.

Les Ngembak Festival 2026 memang belum sempurna secara teknis maupun nonteknis. Tapi justru di situlah ia terasa hidup. Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah desa berusaha berdiri di antara dua dunia: tradisi yang ingin dijaga, dan modernitas yang tak bisa dihindari. Warga Les mencoba mempertemukan seni, ekonomi, dan pariwisata dalam satu ruang yang sama—meski kadang selaras, kadang saling bertabrakan.

Namun, yang paling penting, festival ini membuka ruang refleksi bahwa merayakan alam tidak cukup dengan menghadirkan panggung di tepi laut; bahwa pengalaman “dari bukit ke terumbu karang” seharusnya tidak berhenti pada apa yang dilihat dan dirasakan, tetapi juga pada bagaimana ia dijaga setelahnya.

Les Ngembak Festival

Mungkin, di masa depan, Les Ngembak Festival tak hanya dikenang karena keindahannya, tetapi juga karena keberaniannya berbenah. Karena pada akhirnya, perjalanan dari bukit ke laut bukan hanya tentang jarak. “Itu adalah tentang tanggung jawab yang harus ditempuh bersama,” Don berpesan.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Next Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Yang Terpatri di Hari Fitri ---Catatan Kecil Usai Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co