24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
in Panggung
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

Les Ngembak Festival

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi Nyegara Gunung—sebuah pandangan kosmologis Bali yang menyatukan gunung dan laut sebagai satu kesatuan siklus kehidupan—disebut-sebut dan berusaha diwujudkan dalam bentuk festival atau boleh jadi disebut sebagai “pesta rakyat”.

Di Desa Les, alam memang tak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dari bukit yang kering, menyusuri ladang, menyeberangi jalan-jalan kecil, lalu berakhir di laut yang membentang luas di utara. Gerak itu tak kasatmata, tapi terasa. Dan selama tiga hari, 20 hingga 22 Maret 2026 kemarin, gerak itu dirayakan dalam satu helaan napas panjang: Les Ngembak Festival 2026.

“Berangkat dari tradisi Ngembak Geni setelah Nyepi, festival ini kini berkembang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Les,” terang Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kepada tatkala.co, Minggu, 22 Maret 2026.

Les Ngembak Festival

Tahun keempat ini, Les Ngembak Festival mengusung tema “Ridge to Reef Experience” yang meliputi art, culture, cullinary, dan nature. Teman tersebut bukan sekadar jargon pariwisata, tentu saja. Menurut Don Rare, panggilan akrab Nyoman Nadiana, itu cara warga Les membaca dirinya sendiri—sebagai bagian dari alur panjang antara gunung dan laut dalam filosofi Nyegara Gunung yang telah hidup jauh sebelum festival ini lahir.

Namun, masih kata Don, jika kita menepi sejenak dari panggung dan keramaian, festival ini sebenarnya menyimpan dua cerita: tentang perayaan, dan tentang jejak yang ditinggalkannya.

Di Pantai Penyumbahan, tempat festival berlangsung, panggung didirikan tanpa kemewahan berlebih. Laut menjadi latar, langit menjadi atap. Selebihnya, manusia mengisi ruang itu dengan energi mereka.

Talenta lokal tampil tanpa jarak. Band, DJ, memainkan lagu-lagu dan musik yang akrab di telinga warga, modern dance menghadirkan semangat generasi muda, sementara tarian Bali menegaskan akar yang tak tercerabut. Di sela-sela itu, tawa penonton mengalir, bercampur dengan suara ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Semua seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang sama.

Di sisi lain, aroma dapur menjadi penanda bahwa festival ini juga tentang rasa. Kuliner khas Desa Les disajikan dengan cara sederhana tetapi jujur. Ikan segar, sambal yang pedasnya menggigit, hingga jajanan tradisional, semuanya hadir sebagai bagian dari identitas di tengah gempuran kuliner-kuliner ekstra proses yang datang dari negeri jauh.

Les Ngembak Festival

Sementara itu, HuB produk kebanggaan lokal menjadi ruang kecil yang penting. Di sana, karya-karya warga dipamerkan: hasil tangan yang tak selalu sempurna, tapi penuh makna. Festival ini, pada titik itu, menjadi lebih dari sekadar tontonan—ia adalah ruang ekonomi, ruang eksistensi.

Menjelang senja, laut mengambil alih peran utama. Perahu-perahu jukung mulai bergerak perlahan. Aktivitas melancaran atau mejukungan menjadi magnet yang tak tergantikan. Pengunjung diajak menyusuri laut, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan.

Di atas perahu, waktu seperti melambat. Angin laut membawa aroma asin yang khas, air memantulkan warna langit yang berubah, dan di tangan, makanan khas desa dinikmati tanpa tergesa.

Pengalaman itu terkesan sederhana, tapi justru di situlah kekhasannya. Tak ada teknologi canggih, tak ada rekayasa berlebihan, hanya manusia, alam, dan momen yang dibiarkan terjadi apa adanya. Begitu saja. “Inilah inti dari ridge to reef, perjalanan yang menghubungkan, bukan memisahkan,” kata Don.

Sampai di sini, sebagai desa wisata yang menyandang gelar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Les disebut ikut mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Buleleng. Pemerintah Buleleng menganggap Les Ngembak Festival sebagai ruang promosi desa wisata, seni budaya, hingga produk UMKM lokal. Kehadiran wisatawan turut memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat. 

“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” ujar Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, yang membuka festival tersebut.

Namun, setiap perayaan selalu memiliki sisi lain yang jarang disorot saat musik masih dimainkan. Ketika hari terakhir berakhir dan pengunjung mulai pulang, pantai itu tak lagi sama. Sisa-sisa festival tertinggal. Sampah plastik, kemasan makanan, botol minuman—semuanya menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya belajar dari apa yang ia rayakan. Pantai yang tadi menjadi ruang perjumpaan, berubah menjadi ruang pekerjaan: warga dan panitia membersihkan, mengumpulkan, memilah.

Persoalan ini bukan hal baru. Ia seperti kutukan yang selalu kembali setelah festival usai. Warga menyadari, panitia memahami, namun solusi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Di tengah semangat merayakan alam, ironi itu terasa begitu konyol: bagaimana mungkin sebuah festival yang mengangkat filosofi keselarasan justru meninggalkan ketidakseimbangan?

Les Ngembak Festival

“Ini terjadi setiap tahun. Saya kira, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah teknis. Itu sebuah pertanyaan moral yang menggantung: sejauh mana kita benar-benar memahami filosofi Nyegara Gunung?” keluh Don yang menggerakkan panitia untuk membersihkan Pantai Penyumbahan seusai acara. “Jika gunung dan laut adalah satu kesatuan, maka apa yang kita tinggalkan di pantai, pada akhirnya juga akan kembali kepada kita,” sambung sambung pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pejalan, pemandu, dan pedagang itu.

Les Ngembak Festival 2026 memang belum sempurna secara teknis maupun nonteknis. Tapi justru di situlah ia terasa hidup. Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah desa berusaha berdiri di antara dua dunia: tradisi yang ingin dijaga, dan modernitas yang tak bisa dihindari. Warga Les mencoba mempertemukan seni, ekonomi, dan pariwisata dalam satu ruang yang sama—meski kadang selaras, kadang saling bertabrakan.

Namun, yang paling penting, festival ini membuka ruang refleksi bahwa merayakan alam tidak cukup dengan menghadirkan panggung di tepi laut; bahwa pengalaman “dari bukit ke terumbu karang” seharusnya tidak berhenti pada apa yang dilihat dan dirasakan, tetapi juga pada bagaimana ia dijaga setelahnya.

Les Ngembak Festival

Mungkin, di masa depan, Les Ngembak Festival tak hanya dikenang karena keindahannya, tetapi juga karena keberaniannya berbenah. Karena pada akhirnya, perjalanan dari bukit ke laut bukan hanya tentang jarak. “Itu adalah tentang tanggung jawab yang harus ditempuh bersama,” Don berpesan.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Next Post

Yang Terpatri di Hari Fitri —Catatan Kecil Usai Lebaran

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Yang Terpatri di Hari Fitri ---Catatan Kecil Usai Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co