15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerabah dan Manusia yang Berubah

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
in Ulas Rupa
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Pameran Gerabah karya Ketut Muka Pendet

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ‘ Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak dimensi rupa menarik yang ditawarkan untuk dinikmati, salah satunya adalah karya Ketut Muka Pendet yang berjudul “Gerabah”.

Karya Gerabah hadir dalam dimensi ruang masa lalu, masa kini dan masa depan, dengan frekwensi dan vibrasi beragam yang ditawarkan, sesuai dengan manusia sebagai penikmat, penghayat dan pemakna .

Gerabah dan Tembikar

Gerabah sebagai karya kerajinan, seni, intelektual dan spiritual adalah “benda” yang terbuat dari tanah liat, sering didekatkan dengan tembikar, tempayan, dan keramik. Perbedaan ini terkait dengan proses, bentuk, dan fungsinya.

Gerabah (Earthenware), adalah difinisi umum untuk kerajinan tanah liat yang dibakar dengan suhu rendah-menengah (biasanya di bawah 1000°C). Proses ini menjadikan gerabah sebagai bentuk tanah liat berpori (tidak kedap air jika tidak diglasir), tekstur kasar, dan rentan pecah, bisa berbentuk ‘caratan’ (kendi) ‘coblong’ (kuali), ‘pasepan’ (tungku), pot, bata merah, cekengan, dan lain-lain tergantung tempat, ruang, waktu, fungsi dan makna yang menyertainya.

Tembikar (Pottery) adalah sebutan benda berbahan tanah liat dalam fungsinya yang lebih spesifik sebagai karya seni wadah yang dihasilkan dari sentuhan teknologi.

Pameran Gerabah karya Ketut Muka Pendet

Secara spesifik sebutan ‘tembikar’ merujuk pada benda fungsional (wadah) yang dihasilkan dari seni tanah liat (pottery), sering kali menggunakan roda putar, sehingga kualitasnya “dianggap’ lebih tinggi. Perbedaan sebutan dan kualitas ini, biasanya karena dibarengi dengan memrosesan secara modern, misalnya dengan dengan pengerjaan yang lebih halus, digrafir agar lebih kedap air.

Jadi, gerabah bisa dijadikan tembikar, dan semua tembikar berasal dari gerabah.

Manusia yang Berubah

Judul ‘Gerabah” yang dipakai seniman, menyiratkan maksud dan tujuannya dalam mengkomunikasikan idenya tentang ketradisionlan Bali sebagai awal dari budaya Bali Kini dan Masa Depan. Lapal ‘gerabah’ terkesan lebih polos dan apa adanya, ketimbang “tembikar” yang lebih “nyastra”.

‘Caratan” dan “Coblong”

Kepolosan seorang seniman dalam tempat, ruang dan waktu yang berkarya di masa kini, tentu sangat dipengaruhi oleh ketrampilan sebagai bagian dari pemanfaatan raga dengan indria-indrianya, perasaan dan pikirannya, sehingga Muka Pendet memilih bentuk dua (2) “Caratan” Kenci Besar sebagai bentuk ekpresi tanpa “Coblong” Kuali Besar.

Pameran Gerabah karya Ketut Muka Pendet

Pilihan ini menyiratkan maskulinitas yang lebih bersifat spirit sebagai kecerdasan ketimbang tanah liat itu sendiri yang bersifat nyata dan menyiratkan feminimitas.

Pilihan ini membebaskan seniman menuangkan ide-ide, spirit, masukin dalam media tanah liat yang nyata, yang bersifat feminim.

Kendi

Kendi “caratan” dalam filsafat Hindu Bali, disejajarkan sebagai ‘lingga’ dimaknai sebagai laki-laki, dengan lubang, sebagai tempat air dituangkan.

Karya ‘Gerabah” Muka Pendet yang satu polos dengan 5 luang air, diletakan pada areal tengah ruangan yang tak kentara. Kehadirannya, seolahan menjadi dasar dari semua kreatifitas seni yang dipamerkan.

“Gerabah” yang lain ditempatkan pada ruang tengah di arah utara, tepat di tenggah dua karya lukis yang lebar, dengan warna terang dan bentuk mencolok, sehingga ‘Gerabah’ tanah liat ini terkesan sederhana, tetapi dalam dan penuh makna.

Berbeda dengan Kendi yang polos yang berisi lima lubang air ( panca indria), Kendi ini berisi tiga lubang air (triguna). Perbedaan lubang air ini menyiratkan perubahan manusia dalam persepsi manusia seniman, dan penulis dari masa lalu ke masa kini.

Masa Kini

Masa lalu adalah segala kondisi yang tidak bisa diutak-atik lagi, tak bisa digugat, dengan kecerdasam masa kini termasuk teknologi IA. Masa lalu seseorang, juga hidup dan kehidupannya sudah terjadi dengan struktur atom-atom, neotron (cakra/macan/kekuatan) elektron dan proton (kundalini/naga/rasa) . Ia sudah menjadi DNA seseorang, sehingga yang perlu dikelola dan diberdayakan adalah Kekuatan dan rasa yang ada saat ini.

Kekuatan dan rasa saat inilah yang terpancar dari Gerabah ‘sederhana’ yang mengandung ketrampilan, kecerdasan dan kearifan sebagai seorang seniman Bali.

Tiga guna: Tamas, Satpam dan Rajas yang ditampilkan terbaca dari pembagian; alam bawah, tengah dan atas.
Alam bawah diwakili alam/pola geometri, binatang dan tumbuhan. Alam tengah diwakili oleh hubungan manusia dengan manusia dengan binatang dan tumbuhan. Alam atas diwakili oleh mabusia yang telah mencapai pencerahan.

Melalui “Gerabah’ berbentuk kendi ini, seniman berhasil mengepresikan dirinya sebagai manusia, raganya yang berbalut ketidaktahuan, indrianya-indranya dengan berbagai perasaannya, kecerdasan dan kearifannya dalam menggali ide, mengolah dan menampilkannya dalam sebuah karya utuh yang memberi ruang, bagi penikmat.

“Celebingkah”

Seperti halnya gerabah yang berbahan tanah liat, waktu akan menghancurkannya sehinga kembali pada tanah. Karya seni berbahan tanah dalam kesadaran sebagai manusia yang berbudidaya tak akan pernah menjadikan sampah..Ia bisa menjadi media tanaman anggrek dan akar rambat lainnya. Bahkan sebelum kembali secara sempurna, saat wadah sudah tak berfungsi, hanya kepingan yang disebut “cekebingkah” .

Pameran Gerabah karya Ketut Muka Pendet

“Celebingkah’ mewakili kearifan dasar adat dan budaya Bali dalam menerima, menghargai dan mengakui semua dan segala perbedaan. ” Cekebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu (pecahan gerabah di bawah pisang, bumi luas untuk berbanyak. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum Arma UbudPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

Next Post

Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails
Next Post
Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co