26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
in Ulas Rupa
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis

LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi menjadi cair, tak stabil, dan terbuka terhadap transformasi. Dalam kerangka Victor Turner, liminalitas adalah momen ambang (threshold) di mana subjek dilepaskan dari struktur sosial yang mapan, namun belum memasuki tatanan baru—sebuah ruang “di antara” yang sarat potensi sekaligus ketidakpastian. Namun, dalam kosmologi Bali, liminalitas tidak berhenti sebagai kategori sosial-antropologis; ia menjelma sebagai prinsip kosmik yang mengatur relasi antara keteraturan (dharma) dan kekacauan (adharma).

Praktik ritual seperti Nyepi, ambang kosmologis ini menjadi nyata dan performatif. Hari raya ini bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi mekanisme kosmik untuk menegosiasikan ulang keseimbangan antara bhuta kala (energi liar/chaotic) dan kekuatan penata semesta. Pawai ogoh-ogoh yang mendahului Nyepi menghadirkan figur-figur liminal-makhluk yang tidak sepenuhnya manusia, namun juga belum sepenuhnya entitas kosmik—yang kemudian dilebur melalui api sebagai bentuk transisi menuju keheningan total. Dapat dikatakan, liminalitas dalam konteks Bali adalah ruang kerja kosmos itu sendiri: sebuah interval di mana dunia diperbarui melalui ketegangan.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Konsep ini memiliki resonansi kuat dalam filsafat Inndia, gagasan antarābhava (keadaan antara) dalam Buddhisme menjelaskan fase transisi antara kematian dan kelahiran kembali, di mana identitas menjadi cair dan terbuka terhadap re-konfigurasi. Sementara dalam praktik performatif Jepang seperti Butoh, tubuh ditempatkan dalam kondisi ambang—antara hidup dan mati, manusia dan non-manusia; melalui eksplorasi gerak yang terdistorsi dan non-linear. Dikembangkann oleh Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno, Butoh tidak sekadar menampilkan tubuh, tetapi mengurai batas ontologisnya, menjadikannya ruang di mana transformasi berlangsung secara terus-menerus.

Pendekatan filsafat kontemporer, khususnya dalam pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming. Bagi Deleuze, eksistensi tidak pernah stabil atau final; ia selalu berada dalam proses menjadi, melintasi batas-batas identitas yang tetap. Dalam kerangka ini, liminalitas bukanlah anomali, melainkan kondisi dasar dari realitas itu sendiri. Tubuh, karenanya, tidak lagi dipahami sebagai entitas tertutup, tetapi sebagai medan intensitas yang terus berubah—sebuah situs di mana berbagai kekuatan bertemu, bertabrakan, dan bertransformasi.

Di seluruh kebudayaan, liminalitas sebagai ambang kosmologis dapat dipahami sebagai ruang epistemik sekaligus ontologis; tempat di mana pengetahuan, tubuh, dan kosmos saling berkelindan. Ia bukan hanya fase transisi, tetapi kondisi eksistensi yang produktif: ruang di mana ketidakstabilan justru menjadi sumber kemungkinan. Dalam konteks visual ogoh-ogoh “Sapa Warang,” liminalitas ini menemukan bentuk konkret pada tubuh yang retak, terbakar, dan belum selesai, sebuah tubuh yang tidak hanya merepresentasikan ambang, tetapi menjadi ambang itu sendiri.

Tubuh sebagai Medan Sekala–Niskala

Catatan epistemologi Bali, tubuh tidak pernah dipahami sebagaai entitas biologis yang otonom, melainkan sebagai medan perlintasan antara dua rezim realitas: sekala (yang tampak, terindra) dan niskala (yang tak kasatmata, spiritual). Relasi ini bukan dikotomi yang terpisah, tetapi jaringan dialektis yang saling menembus. Tubuh, dalam pengertian ini, adalah pori kosmologis; ruang di mana energi, makna, dan kekuatan dari dua dunia tersebut beresonansi secara simultan.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Pembacaan ini sejalan dengan analisis Clifford Geertz yang melihat kebudayaan Bali sebagai sistem simbolik yang menautkan tindakan manusia dengan struktur kosmos yang lebih luas. Namun, lebih dari sekadar sistem simbol, tubuh dalam konteks ini adalah medium performatif: ia tidak hanya merepresentasikan relasi sekala-niskala, tetapi mengaktualisasikannya. Dalam ritual, tari, hingga praktik sehari-hari, tubuh menjadi locus di mana yang tak terlihat memperoleh bentuk, dan yang terlihat membuka dirinya pada dimensi transenden.

Pada figur “Sapa Warang,” kondisi ini dimaterialisasikan melalui deformasi tubuh yang ekstrem: retakan, luka terbuka, dan tekstur daging yang terbelah. Luka-luka tersebut bukan sekadar penanda penderitaan fisik, melainkan indeks dari penetrasi niskala ke dalam sekala. Tubuh yang “tercabik” ini menandakan bahwa batas antara keduanya telah runtuh—yang tak terlihat kini menubuh sebagai tanda yang kasatmata. Dengan demikian, tubuh tidak lagi berfungsi sebagai pelindung identitas, tetapi sebagai medan konflik dan negosiasi kosmologis.

Perspektif lokal Bali, memahami konsep ini berkelindan dengan praktik ritual seperti caru dan bhuta yadnya, di mana tubuh manusia dan representasi tubuh (termasuk ogoh-ogoh) dijadikan medium untuk menyalurkan, menenangkan, dan menyeimbangkan energi bhuta kala. Tubuh di sini bersifat substitusional sekaligus transformasional: ia menyerap ketegangan kosmik dan mengarahkannya menuju resolusi simbolik. Dengan kata lain, tubuh menjadi alat epistemik untuk memahami sekaligus mengelola realitas yang tak kasatmata. Konteks Asia, gagasan tubuh sebagai medan antara yang terlihat dan tak terlihat menemukan resonansi dalam berbagai tradisi. Dalam filsafat India, konsep kosha (lapisan tubuh) dalam Vedanta memandang tubuh manusia sebagai terdiri dari beberapa lapisan; fisik, energi, mental, hingga spiritual, yang saling berpenetrasi. Sementara dalam pengobatan Tiongkok, tubuh dipahami sebagai jaringan aliran energi (qi) yang menghubungkan organ, emosi, dan kosmos dalam satu sistem kontinu. Kedua pendekatan ini menegaskan bahwa tubuh bukan batas, melainkan jaringan terbuka yang menghubungkan berbagai dimensi realitas.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Ranah performatif, praktik seperti Butoh kembali menegaskan tubuh sebagai medan liminal. Tubuh Butoh bukan tubuh yang dikontrol secara rasional, melainkan tubuh yang “dirasuki,” oleh memori, trauma, lanskap, bahkan kematian itu sendiri. Melalui eksplorasi ekstrem atas gestur dan ekspresi, tubuh menjadi kanal bagi yang tak terlihat untuk muncul ke permukaan.  Dalam perspektif global kontemporer, pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari tentang Body without Organs (BwO) menawarkan kerangka radikal untuk memahami tubuh sebagai medan intensitas yang bebas dari struktur tetap. Tubuh tidak lagi diorganisasi oleh fungsi biologis semata, tetapi menjadi ruang distribusi energi, hasrat, dan kekuatan yang terus bergerak.

Hal asih, “Tubuh sebagai Medan Sekalaa-Niskala” tidak hanya menunjuk pada relasi metafisik antara dua dunia, tetapi juga pada kondisi eksistensial di mana tubuh menjadi arena pertemuan, konflik, dan transformasi. Tubuh bukan lagi pusat identitas yang stabil, melainkan medan yang terus dinegosiasikan; terbuka terhadap penetrasi, rentan terhadap fragmentasi, namun sekaligus produktif dalam menciptakan makna baru.

Pada figur “Sapa Warang,” tubuh yang tercabik itu justru mengungkapkan potensi epistemik: bahwa melalui keretakan, kita dapat melihat apa yang biasanya tersembunyi. Bahwa melalui luka, sekala dan niskala tidak lagi terpisah, melainkan bertemu dalam satu medan yang sama, tubuh sebagai ambang yang hidup.

Estetika Grotesk dan Tubuh yang Terfragmentasi

Estetika grotesk beroperasi pada wilayah di mana batas-batas tubuh, identitas, dan realitas mengalami distorsi, pelipatan, dan bahkan kehancuran. Ia menolak harmoni klasik dan proporsi ideal, menggantikannya dengan bentuk-bentuk yang berlebihan, cacat, dan terfragmentasi. Dalam konteks ini, grotesk bukan sekadar kategori visual, melainkan modus epistemologis; cara memahami dunia melalui ketidakteraturan, ambiguitas, dan ketegangan ontologis. Figur “Sapa Warang,” grotesk hadir melalui tubuh yang terbelah, luka yang menganga, serta ekspresi wajah yang terdistorsi. Dalam pengertian ini, tubuh grotesk bukanlah tubuh yang “rusak,” melainkan tubuh yang sedang mengalami proses pembongkaran, sebuah de-formation yang membuka kemungkinan pemaknaan baru.

Secara lokal, estetika grotesk telah lama hadir dalam representasi bhuta kala dalam tradisi Bali. Figur-figur ini kerap ditampilkan dengan proporsi ekstrem, wajah menyeramkan, dan tubuh yang melampaui batas anatomi manusia. Namun, penting dicatat bahwa grotesk dalam konteks ini tidak identik dengan kejahatan. Ia adalah manifestasi energi kosmik yang belum tertata, chaos yang perlu dihadirkan secara visual agar dapat dinegosiasikan melalui ritual. Dalam pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi, tubuh grotesk diproduksi secara kolektif sebagai bentuk artikulasi sekaligus penjinakan terhadap kekuatan tersebut.

Begitulah, grotesk dalam Bali memiliki fungsi performatif dan kosmologis: ia memperlihatkan yang tak teratur agar dapat dipahami, dihadapi, dan akhirnya diseimbangkan. Tubuh yang terfragmentasi bukan sekadar efek estetis, tetapi strategi visual untuk mengungkapkan ketegangan antara sekala dan niskala. Retakan pada tubuh adalah retakan kosmos itu sendiri, titik di mana keteraturan terganggu dan membutuhkan rekonsiliasi. Seperti dikembangkan oleh Tatsumi Hijikata, tubuh Butoh adalah tubuh yang menolak keindahan konvensional dan justru merangkul kegelapan, kematian, dan absurditas sebagai bagian dari eksistensi. Sedangkan konsep wabi-sabi di Jepang, menunjukkan bahwa keindahan dapat muncul dari kerusakan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Meskipun tidak identik dengan grotesk, pendekatan ini berbagi prinsip bahwa bentuk yang tidak sempurna justru membuka kedalaman makna yang lebih besar.

Karya Francis Bacon, Study from Innocent

Estetika grotesk memperoleh artikulasi radikal dalam seni modern dan kontemporer. Karya-karya Francis Bacon, misalnya, menghadirkan tubuh sebagai daging yang terdistorsi, terperangkap dalam ruang eksistensial yang penuh tekanan. Tubuh dalam lukisan Bacon tidak lagi memiliki integritas anatomis; ia mencair, terlipat, dan terfragmentasi, mencerminkan kondisi manusia modern yang teralienasi dan rapuh. Pemikiran Mikhail Bakhtin tentang grotesque body juga relevan dalam membaca fenomena ini. Dalam analisisnya, tubuh grotesk adalah tubuh yang melampaui batas dirinya; terbuka, berlebihan, dan selalu dalam proses menjadi. Ia tidak tertutup atau selesai, melainkan terus berubah melalui interaksi dengan dunia.

Dalam “Sapa Warang,” seluruh lapisan ini bertemu: grotesk sebagai representasi bhuta kala, sebagai ekspresi liminalitas Timur, dan sebagai refleksi krisis tubuh dalam wacana global. Tubuh yang tercabik tidak hanya menampilkan kengerian, tetapi juga mengungkapkan kemungkinan, bahwa melalui deformasi, tubuh dapat keluar dari batas-batasnya dan memasuki wilayah baru dari eksistensi.

Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi

Pada akhirnya, tubuh dalam “Sapa Warang” adalah proses, sebuah becoming yang terus berlangsung, di mana identitas, bentuk, dan makna senantiasa berada dalam keadaan bergerak.  Catatan kosmologi Bali, prinsip ini memiliki resonansi mendalam melalui gagasan keseimbangan dinamis antara sekala dan niskala, serta antara bhuta kala dan kekuatan penata kosmos. Tubuh ogoh-ogoh yang dibakar tidak dimaksudkan untuk dimusnahkan semata, tetapi untuk dikembalikan ke dalam jaringan kosmik, sebuah transformasi dari bentuk menuju energi. “Sapa Warang” dapat dibaca sebagai tubuh yang sedang mengalami metamorfosis ontologis: dari bentuk yang terikat menuju medan yang terbuka.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

“Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi” bukan hanya kesimpulan konseptual, tetapi juga pergeseran cara pandang. “Sapa Warang,” dalam hal ini, bukan sekadar figur ogoh-ogoh, melainkan alegori tentang kondisi manusia kontemporer: terfragmentasi, berada di ambang, namun justru karena itu terbuka terhadap kemungkinan. Tubuh yang terbakar di batas liminalitas ini mengajarkan bahwa menjadi bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti, sebuah proses yang terus bergerak di antara kehancuran dan penciptaan.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliBanjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar HerayuktiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Next Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Berlari, Berbagi, Bereuni ---Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co