4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
in Ulas Rupa
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis

LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi menjadi cair, tak stabil, dan terbuka terhadap transformasi. Dalam kerangka Victor Turner, liminalitas adalah momen ambang (threshold) di mana subjek dilepaskan dari struktur sosial yang mapan, namun belum memasuki tatanan baru—sebuah ruang “di antara” yang sarat potensi sekaligus ketidakpastian. Namun, dalam kosmologi Bali, liminalitas tidak berhenti sebagai kategori sosial-antropologis; ia menjelma sebagai prinsip kosmik yang mengatur relasi antara keteraturan (dharma) dan kekacauan (adharma).

Praktik ritual seperti Nyepi, ambang kosmologis ini menjadi nyata dan performatif. Hari raya ini bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi mekanisme kosmik untuk menegosiasikan ulang keseimbangan antara bhuta kala (energi liar/chaotic) dan kekuatan penata semesta. Pawai ogoh-ogoh yang mendahului Nyepi menghadirkan figur-figur liminal-makhluk yang tidak sepenuhnya manusia, namun juga belum sepenuhnya entitas kosmik—yang kemudian dilebur melalui api sebagai bentuk transisi menuju keheningan total. Dapat dikatakan, liminalitas dalam konteks Bali adalah ruang kerja kosmos itu sendiri: sebuah interval di mana dunia diperbarui melalui ketegangan.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Konsep ini memiliki resonansi kuat dalam filsafat Inndia, gagasan antarābhava (keadaan antara) dalam Buddhisme menjelaskan fase transisi antara kematian dan kelahiran kembali, di mana identitas menjadi cair dan terbuka terhadap re-konfigurasi. Sementara dalam praktik performatif Jepang seperti Butoh, tubuh ditempatkan dalam kondisi ambang—antara hidup dan mati, manusia dan non-manusia; melalui eksplorasi gerak yang terdistorsi dan non-linear. Dikembangkann oleh Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno, Butoh tidak sekadar menampilkan tubuh, tetapi mengurai batas ontologisnya, menjadikannya ruang di mana transformasi berlangsung secara terus-menerus.

Pendekatan filsafat kontemporer, khususnya dalam pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming. Bagi Deleuze, eksistensi tidak pernah stabil atau final; ia selalu berada dalam proses menjadi, melintasi batas-batas identitas yang tetap. Dalam kerangka ini, liminalitas bukanlah anomali, melainkan kondisi dasar dari realitas itu sendiri. Tubuh, karenanya, tidak lagi dipahami sebagai entitas tertutup, tetapi sebagai medan intensitas yang terus berubah—sebuah situs di mana berbagai kekuatan bertemu, bertabrakan, dan bertransformasi.

Di seluruh kebudayaan, liminalitas sebagai ambang kosmologis dapat dipahami sebagai ruang epistemik sekaligus ontologis; tempat di mana pengetahuan, tubuh, dan kosmos saling berkelindan. Ia bukan hanya fase transisi, tetapi kondisi eksistensi yang produktif: ruang di mana ketidakstabilan justru menjadi sumber kemungkinan. Dalam konteks visual ogoh-ogoh “Sapa Warang,” liminalitas ini menemukan bentuk konkret pada tubuh yang retak, terbakar, dan belum selesai, sebuah tubuh yang tidak hanya merepresentasikan ambang, tetapi menjadi ambang itu sendiri.

Tubuh sebagai Medan Sekala–Niskala

Catatan epistemologi Bali, tubuh tidak pernah dipahami sebagaai entitas biologis yang otonom, melainkan sebagai medan perlintasan antara dua rezim realitas: sekala (yang tampak, terindra) dan niskala (yang tak kasatmata, spiritual). Relasi ini bukan dikotomi yang terpisah, tetapi jaringan dialektis yang saling menembus. Tubuh, dalam pengertian ini, adalah pori kosmologis; ruang di mana energi, makna, dan kekuatan dari dua dunia tersebut beresonansi secara simultan.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Pembacaan ini sejalan dengan analisis Clifford Geertz yang melihat kebudayaan Bali sebagai sistem simbolik yang menautkan tindakan manusia dengan struktur kosmos yang lebih luas. Namun, lebih dari sekadar sistem simbol, tubuh dalam konteks ini adalah medium performatif: ia tidak hanya merepresentasikan relasi sekala-niskala, tetapi mengaktualisasikannya. Dalam ritual, tari, hingga praktik sehari-hari, tubuh menjadi locus di mana yang tak terlihat memperoleh bentuk, dan yang terlihat membuka dirinya pada dimensi transenden.

Pada figur “Sapa Warang,” kondisi ini dimaterialisasikan melalui deformasi tubuh yang ekstrem: retakan, luka terbuka, dan tekstur daging yang terbelah. Luka-luka tersebut bukan sekadar penanda penderitaan fisik, melainkan indeks dari penetrasi niskala ke dalam sekala. Tubuh yang “tercabik” ini menandakan bahwa batas antara keduanya telah runtuh—yang tak terlihat kini menubuh sebagai tanda yang kasatmata. Dengan demikian, tubuh tidak lagi berfungsi sebagai pelindung identitas, tetapi sebagai medan konflik dan negosiasi kosmologis.

Perspektif lokal Bali, memahami konsep ini berkelindan dengan praktik ritual seperti caru dan bhuta yadnya, di mana tubuh manusia dan representasi tubuh (termasuk ogoh-ogoh) dijadikan medium untuk menyalurkan, menenangkan, dan menyeimbangkan energi bhuta kala. Tubuh di sini bersifat substitusional sekaligus transformasional: ia menyerap ketegangan kosmik dan mengarahkannya menuju resolusi simbolik. Dengan kata lain, tubuh menjadi alat epistemik untuk memahami sekaligus mengelola realitas yang tak kasatmata. Konteks Asia, gagasan tubuh sebagai medan antara yang terlihat dan tak terlihat menemukan resonansi dalam berbagai tradisi. Dalam filsafat India, konsep kosha (lapisan tubuh) dalam Vedanta memandang tubuh manusia sebagai terdiri dari beberapa lapisan; fisik, energi, mental, hingga spiritual, yang saling berpenetrasi. Sementara dalam pengobatan Tiongkok, tubuh dipahami sebagai jaringan aliran energi (qi) yang menghubungkan organ, emosi, dan kosmos dalam satu sistem kontinu. Kedua pendekatan ini menegaskan bahwa tubuh bukan batas, melainkan jaringan terbuka yang menghubungkan berbagai dimensi realitas.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Ranah performatif, praktik seperti Butoh kembali menegaskan tubuh sebagai medan liminal. Tubuh Butoh bukan tubuh yang dikontrol secara rasional, melainkan tubuh yang “dirasuki,” oleh memori, trauma, lanskap, bahkan kematian itu sendiri. Melalui eksplorasi ekstrem atas gestur dan ekspresi, tubuh menjadi kanal bagi yang tak terlihat untuk muncul ke permukaan.  Dalam perspektif global kontemporer, pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari tentang Body without Organs (BwO) menawarkan kerangka radikal untuk memahami tubuh sebagai medan intensitas yang bebas dari struktur tetap. Tubuh tidak lagi diorganisasi oleh fungsi biologis semata, tetapi menjadi ruang distribusi energi, hasrat, dan kekuatan yang terus bergerak.

Hal asih, “Tubuh sebagai Medan Sekalaa-Niskala” tidak hanya menunjuk pada relasi metafisik antara dua dunia, tetapi juga pada kondisi eksistensial di mana tubuh menjadi arena pertemuan, konflik, dan transformasi. Tubuh bukan lagi pusat identitas yang stabil, melainkan medan yang terus dinegosiasikan; terbuka terhadap penetrasi, rentan terhadap fragmentasi, namun sekaligus produktif dalam menciptakan makna baru.

Pada figur “Sapa Warang,” tubuh yang tercabik itu justru mengungkapkan potensi epistemik: bahwa melalui keretakan, kita dapat melihat apa yang biasanya tersembunyi. Bahwa melalui luka, sekala dan niskala tidak lagi terpisah, melainkan bertemu dalam satu medan yang sama, tubuh sebagai ambang yang hidup.

Estetika Grotesk dan Tubuh yang Terfragmentasi

Estetika grotesk beroperasi pada wilayah di mana batas-batas tubuh, identitas, dan realitas mengalami distorsi, pelipatan, dan bahkan kehancuran. Ia menolak harmoni klasik dan proporsi ideal, menggantikannya dengan bentuk-bentuk yang berlebihan, cacat, dan terfragmentasi. Dalam konteks ini, grotesk bukan sekadar kategori visual, melainkan modus epistemologis; cara memahami dunia melalui ketidakteraturan, ambiguitas, dan ketegangan ontologis. Figur “Sapa Warang,” grotesk hadir melalui tubuh yang terbelah, luka yang menganga, serta ekspresi wajah yang terdistorsi. Dalam pengertian ini, tubuh grotesk bukanlah tubuh yang “rusak,” melainkan tubuh yang sedang mengalami proses pembongkaran, sebuah de-formation yang membuka kemungkinan pemaknaan baru.

Secara lokal, estetika grotesk telah lama hadir dalam representasi bhuta kala dalam tradisi Bali. Figur-figur ini kerap ditampilkan dengan proporsi ekstrem, wajah menyeramkan, dan tubuh yang melampaui batas anatomi manusia. Namun, penting dicatat bahwa grotesk dalam konteks ini tidak identik dengan kejahatan. Ia adalah manifestasi energi kosmik yang belum tertata, chaos yang perlu dihadirkan secara visual agar dapat dinegosiasikan melalui ritual. Dalam pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi, tubuh grotesk diproduksi secara kolektif sebagai bentuk artikulasi sekaligus penjinakan terhadap kekuatan tersebut.

Begitulah, grotesk dalam Bali memiliki fungsi performatif dan kosmologis: ia memperlihatkan yang tak teratur agar dapat dipahami, dihadapi, dan akhirnya diseimbangkan. Tubuh yang terfragmentasi bukan sekadar efek estetis, tetapi strategi visual untuk mengungkapkan ketegangan antara sekala dan niskala. Retakan pada tubuh adalah retakan kosmos itu sendiri, titik di mana keteraturan terganggu dan membutuhkan rekonsiliasi. Seperti dikembangkan oleh Tatsumi Hijikata, tubuh Butoh adalah tubuh yang menolak keindahan konvensional dan justru merangkul kegelapan, kematian, dan absurditas sebagai bagian dari eksistensi. Sedangkan konsep wabi-sabi di Jepang, menunjukkan bahwa keindahan dapat muncul dari kerusakan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Meskipun tidak identik dengan grotesk, pendekatan ini berbagi prinsip bahwa bentuk yang tidak sempurna justru membuka kedalaman makna yang lebih besar.

Karya Francis Bacon, Study from Innocent

Estetika grotesk memperoleh artikulasi radikal dalam seni modern dan kontemporer. Karya-karya Francis Bacon, misalnya, menghadirkan tubuh sebagai daging yang terdistorsi, terperangkap dalam ruang eksistensial yang penuh tekanan. Tubuh dalam lukisan Bacon tidak lagi memiliki integritas anatomis; ia mencair, terlipat, dan terfragmentasi, mencerminkan kondisi manusia modern yang teralienasi dan rapuh. Pemikiran Mikhail Bakhtin tentang grotesque body juga relevan dalam membaca fenomena ini. Dalam analisisnya, tubuh grotesk adalah tubuh yang melampaui batas dirinya; terbuka, berlebihan, dan selalu dalam proses menjadi. Ia tidak tertutup atau selesai, melainkan terus berubah melalui interaksi dengan dunia.

Dalam “Sapa Warang,” seluruh lapisan ini bertemu: grotesk sebagai representasi bhuta kala, sebagai ekspresi liminalitas Timur, dan sebagai refleksi krisis tubuh dalam wacana global. Tubuh yang tercabik tidak hanya menampilkan kengerian, tetapi juga mengungkapkan kemungkinan, bahwa melalui deformasi, tubuh dapat keluar dari batas-batasnya dan memasuki wilayah baru dari eksistensi.

Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi

Pada akhirnya, tubuh dalam “Sapa Warang” adalah proses, sebuah becoming yang terus berlangsung, di mana identitas, bentuk, dan makna senantiasa berada dalam keadaan bergerak.  Catatan kosmologi Bali, prinsip ini memiliki resonansi mendalam melalui gagasan keseimbangan dinamis antara sekala dan niskala, serta antara bhuta kala dan kekuatan penata kosmos. Tubuh ogoh-ogoh yang dibakar tidak dimaksudkan untuk dimusnahkan semata, tetapi untuk dikembalikan ke dalam jaringan kosmik, sebuah transformasi dari bentuk menuju energi. “Sapa Warang” dapat dibaca sebagai tubuh yang sedang mengalami metamorfosis ontologis: dari bentuk yang terikat menuju medan yang terbuka.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

“Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi” bukan hanya kesimpulan konseptual, tetapi juga pergeseran cara pandang. “Sapa Warang,” dalam hal ini, bukan sekadar figur ogoh-ogoh, melainkan alegori tentang kondisi manusia kontemporer: terfragmentasi, berada di ambang, namun justru karena itu terbuka terhadap kemungkinan. Tubuh yang terbakar di batas liminalitas ini mengajarkan bahwa menjadi bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti, sebuah proses yang terus bergerak di antara kehancuran dan penciptaan.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliBanjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar HerayuktiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Next Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Berlari, Berbagi, Bereuni ---Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co