4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
in Ulas Rupa
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis

LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi menjadi cair, tak stabil, dan terbuka terhadap transformasi. Dalam kerangka Victor Turner, liminalitas adalah momen ambang (threshold) di mana subjek dilepaskan dari struktur sosial yang mapan, namun belum memasuki tatanan baru—sebuah ruang “di antara” yang sarat potensi sekaligus ketidakpastian. Namun, dalam kosmologi Bali, liminalitas tidak berhenti sebagai kategori sosial-antropologis; ia menjelma sebagai prinsip kosmik yang mengatur relasi antara keteraturan (dharma) dan kekacauan (adharma).

Praktik ritual seperti Nyepi, ambang kosmologis ini menjadi nyata dan performatif. Hari raya ini bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi mekanisme kosmik untuk menegosiasikan ulang keseimbangan antara bhuta kala (energi liar/chaotic) dan kekuatan penata semesta. Pawai ogoh-ogoh yang mendahului Nyepi menghadirkan figur-figur liminal-makhluk yang tidak sepenuhnya manusia, namun juga belum sepenuhnya entitas kosmik—yang kemudian dilebur melalui api sebagai bentuk transisi menuju keheningan total. Dapat dikatakan, liminalitas dalam konteks Bali adalah ruang kerja kosmos itu sendiri: sebuah interval di mana dunia diperbarui melalui ketegangan.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Konsep ini memiliki resonansi kuat dalam filsafat Inndia, gagasan antarābhava (keadaan antara) dalam Buddhisme menjelaskan fase transisi antara kematian dan kelahiran kembali, di mana identitas menjadi cair dan terbuka terhadap re-konfigurasi. Sementara dalam praktik performatif Jepang seperti Butoh, tubuh ditempatkan dalam kondisi ambang—antara hidup dan mati, manusia dan non-manusia; melalui eksplorasi gerak yang terdistorsi dan non-linear. Dikembangkann oleh Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno, Butoh tidak sekadar menampilkan tubuh, tetapi mengurai batas ontologisnya, menjadikannya ruang di mana transformasi berlangsung secara terus-menerus.

Pendekatan filsafat kontemporer, khususnya dalam pemikiran Gilles Deleuze tentang becoming. Bagi Deleuze, eksistensi tidak pernah stabil atau final; ia selalu berada dalam proses menjadi, melintasi batas-batas identitas yang tetap. Dalam kerangka ini, liminalitas bukanlah anomali, melainkan kondisi dasar dari realitas itu sendiri. Tubuh, karenanya, tidak lagi dipahami sebagai entitas tertutup, tetapi sebagai medan intensitas yang terus berubah—sebuah situs di mana berbagai kekuatan bertemu, bertabrakan, dan bertransformasi.

Di seluruh kebudayaan, liminalitas sebagai ambang kosmologis dapat dipahami sebagai ruang epistemik sekaligus ontologis; tempat di mana pengetahuan, tubuh, dan kosmos saling berkelindan. Ia bukan hanya fase transisi, tetapi kondisi eksistensi yang produktif: ruang di mana ketidakstabilan justru menjadi sumber kemungkinan. Dalam konteks visual ogoh-ogoh “Sapa Warang,” liminalitas ini menemukan bentuk konkret pada tubuh yang retak, terbakar, dan belum selesai, sebuah tubuh yang tidak hanya merepresentasikan ambang, tetapi menjadi ambang itu sendiri.

Tubuh sebagai Medan Sekala–Niskala

Catatan epistemologi Bali, tubuh tidak pernah dipahami sebagaai entitas biologis yang otonom, melainkan sebagai medan perlintasan antara dua rezim realitas: sekala (yang tampak, terindra) dan niskala (yang tak kasatmata, spiritual). Relasi ini bukan dikotomi yang terpisah, tetapi jaringan dialektis yang saling menembus. Tubuh, dalam pengertian ini, adalah pori kosmologis; ruang di mana energi, makna, dan kekuatan dari dua dunia tersebut beresonansi secara simultan.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Pembacaan ini sejalan dengan analisis Clifford Geertz yang melihat kebudayaan Bali sebagai sistem simbolik yang menautkan tindakan manusia dengan struktur kosmos yang lebih luas. Namun, lebih dari sekadar sistem simbol, tubuh dalam konteks ini adalah medium performatif: ia tidak hanya merepresentasikan relasi sekala-niskala, tetapi mengaktualisasikannya. Dalam ritual, tari, hingga praktik sehari-hari, tubuh menjadi locus di mana yang tak terlihat memperoleh bentuk, dan yang terlihat membuka dirinya pada dimensi transenden.

Pada figur “Sapa Warang,” kondisi ini dimaterialisasikan melalui deformasi tubuh yang ekstrem: retakan, luka terbuka, dan tekstur daging yang terbelah. Luka-luka tersebut bukan sekadar penanda penderitaan fisik, melainkan indeks dari penetrasi niskala ke dalam sekala. Tubuh yang “tercabik” ini menandakan bahwa batas antara keduanya telah runtuh—yang tak terlihat kini menubuh sebagai tanda yang kasatmata. Dengan demikian, tubuh tidak lagi berfungsi sebagai pelindung identitas, tetapi sebagai medan konflik dan negosiasi kosmologis.

Perspektif lokal Bali, memahami konsep ini berkelindan dengan praktik ritual seperti caru dan bhuta yadnya, di mana tubuh manusia dan representasi tubuh (termasuk ogoh-ogoh) dijadikan medium untuk menyalurkan, menenangkan, dan menyeimbangkan energi bhuta kala. Tubuh di sini bersifat substitusional sekaligus transformasional: ia menyerap ketegangan kosmik dan mengarahkannya menuju resolusi simbolik. Dengan kata lain, tubuh menjadi alat epistemik untuk memahami sekaligus mengelola realitas yang tak kasatmata. Konteks Asia, gagasan tubuh sebagai medan antara yang terlihat dan tak terlihat menemukan resonansi dalam berbagai tradisi. Dalam filsafat India, konsep kosha (lapisan tubuh) dalam Vedanta memandang tubuh manusia sebagai terdiri dari beberapa lapisan; fisik, energi, mental, hingga spiritual, yang saling berpenetrasi. Sementara dalam pengobatan Tiongkok, tubuh dipahami sebagai jaringan aliran energi (qi) yang menghubungkan organ, emosi, dan kosmos dalam satu sistem kontinu. Kedua pendekatan ini menegaskan bahwa tubuh bukan batas, melainkan jaringan terbuka yang menghubungkan berbagai dimensi realitas.

Sapa Warang | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

Ranah performatif, praktik seperti Butoh kembali menegaskan tubuh sebagai medan liminal. Tubuh Butoh bukan tubuh yang dikontrol secara rasional, melainkan tubuh yang “dirasuki,” oleh memori, trauma, lanskap, bahkan kematian itu sendiri. Melalui eksplorasi ekstrem atas gestur dan ekspresi, tubuh menjadi kanal bagi yang tak terlihat untuk muncul ke permukaan.  Dalam perspektif global kontemporer, pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari tentang Body without Organs (BwO) menawarkan kerangka radikal untuk memahami tubuh sebagai medan intensitas yang bebas dari struktur tetap. Tubuh tidak lagi diorganisasi oleh fungsi biologis semata, tetapi menjadi ruang distribusi energi, hasrat, dan kekuatan yang terus bergerak.

Hal asih, “Tubuh sebagai Medan Sekalaa-Niskala” tidak hanya menunjuk pada relasi metafisik antara dua dunia, tetapi juga pada kondisi eksistensial di mana tubuh menjadi arena pertemuan, konflik, dan transformasi. Tubuh bukan lagi pusat identitas yang stabil, melainkan medan yang terus dinegosiasikan; terbuka terhadap penetrasi, rentan terhadap fragmentasi, namun sekaligus produktif dalam menciptakan makna baru.

Pada figur “Sapa Warang,” tubuh yang tercabik itu justru mengungkapkan potensi epistemik: bahwa melalui keretakan, kita dapat melihat apa yang biasanya tersembunyi. Bahwa melalui luka, sekala dan niskala tidak lagi terpisah, melainkan bertemu dalam satu medan yang sama, tubuh sebagai ambang yang hidup.

Estetika Grotesk dan Tubuh yang Terfragmentasi

Estetika grotesk beroperasi pada wilayah di mana batas-batas tubuh, identitas, dan realitas mengalami distorsi, pelipatan, dan bahkan kehancuran. Ia menolak harmoni klasik dan proporsi ideal, menggantikannya dengan bentuk-bentuk yang berlebihan, cacat, dan terfragmentasi. Dalam konteks ini, grotesk bukan sekadar kategori visual, melainkan modus epistemologis; cara memahami dunia melalui ketidakteraturan, ambiguitas, dan ketegangan ontologis. Figur “Sapa Warang,” grotesk hadir melalui tubuh yang terbelah, luka yang menganga, serta ekspresi wajah yang terdistorsi. Dalam pengertian ini, tubuh grotesk bukanlah tubuh yang “rusak,” melainkan tubuh yang sedang mengalami proses pembongkaran, sebuah de-formation yang membuka kemungkinan pemaknaan baru.

Secara lokal, estetika grotesk telah lama hadir dalam representasi bhuta kala dalam tradisi Bali. Figur-figur ini kerap ditampilkan dengan proporsi ekstrem, wajah menyeramkan, dan tubuh yang melampaui batas anatomi manusia. Namun, penting dicatat bahwa grotesk dalam konteks ini tidak identik dengan kejahatan. Ia adalah manifestasi energi kosmik yang belum tertata, chaos yang perlu dihadirkan secara visual agar dapat dinegosiasikan melalui ritual. Dalam pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi, tubuh grotesk diproduksi secara kolektif sebagai bentuk artikulasi sekaligus penjinakan terhadap kekuatan tersebut.

Begitulah, grotesk dalam Bali memiliki fungsi performatif dan kosmologis: ia memperlihatkan yang tak teratur agar dapat dipahami, dihadapi, dan akhirnya diseimbangkan. Tubuh yang terfragmentasi bukan sekadar efek estetis, tetapi strategi visual untuk mengungkapkan ketegangan antara sekala dan niskala. Retakan pada tubuh adalah retakan kosmos itu sendiri, titik di mana keteraturan terganggu dan membutuhkan rekonsiliasi. Seperti dikembangkan oleh Tatsumi Hijikata, tubuh Butoh adalah tubuh yang menolak keindahan konvensional dan justru merangkul kegelapan, kematian, dan absurditas sebagai bagian dari eksistensi. Sedangkan konsep wabi-sabi di Jepang, menunjukkan bahwa keindahan dapat muncul dari kerusakan, ketidakteraturan, dan kefanaan. Meskipun tidak identik dengan grotesk, pendekatan ini berbagi prinsip bahwa bentuk yang tidak sempurna justru membuka kedalaman makna yang lebih besar.

Karya Francis Bacon, Study from Innocent

Estetika grotesk memperoleh artikulasi radikal dalam seni modern dan kontemporer. Karya-karya Francis Bacon, misalnya, menghadirkan tubuh sebagai daging yang terdistorsi, terperangkap dalam ruang eksistensial yang penuh tekanan. Tubuh dalam lukisan Bacon tidak lagi memiliki integritas anatomis; ia mencair, terlipat, dan terfragmentasi, mencerminkan kondisi manusia modern yang teralienasi dan rapuh. Pemikiran Mikhail Bakhtin tentang grotesque body juga relevan dalam membaca fenomena ini. Dalam analisisnya, tubuh grotesk adalah tubuh yang melampaui batas dirinya; terbuka, berlebihan, dan selalu dalam proses menjadi. Ia tidak tertutup atau selesai, melainkan terus berubah melalui interaksi dengan dunia.

Dalam “Sapa Warang,” seluruh lapisan ini bertemu: grotesk sebagai representasi bhuta kala, sebagai ekspresi liminalitas Timur, dan sebagai refleksi krisis tubuh dalam wacana global. Tubuh yang tercabik tidak hanya menampilkan kengerian, tetapi juga mengungkapkan kemungkinan, bahwa melalui deformasi, tubuh dapat keluar dari batas-batasnya dan memasuki wilayah baru dari eksistensi.

Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi

Pada akhirnya, tubuh dalam “Sapa Warang” adalah proses, sebuah becoming yang terus berlangsung, di mana identitas, bentuk, dan makna senantiasa berada dalam keadaan bergerak.  Catatan kosmologi Bali, prinsip ini memiliki resonansi mendalam melalui gagasan keseimbangan dinamis antara sekala dan niskala, serta antara bhuta kala dan kekuatan penata kosmos. Tubuh ogoh-ogoh yang dibakar tidak dimaksudkan untuk dimusnahkan semata, tetapi untuk dikembalikan ke dalam jaringan kosmik, sebuah transformasi dari bentuk menuju energi. “Sapa Warang” dapat dibaca sebagai tubuh yang sedang mengalami metamorfosis ontologis: dari bentuk yang terikat menuju medan yang terbuka.

Sapa Warang karya Marmar Herayukti | Foto: IG @marmarherrz/Marmar Herayukti

“Menuju Tubuh sebagai Proses Menjadi” bukan hanya kesimpulan konseptual, tetapi juga pergeseran cara pandang. “Sapa Warang,” dalam hal ini, bukan sekadar figur ogoh-ogoh, melainkan alegori tentang kondisi manusia kontemporer: terfragmentasi, berada di ambang, namun justru karena itu terbuka terhadap kemungkinan. Tubuh yang terbakar di batas liminalitas ini mengajarkan bahwa menjadi bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti, sebuah proses yang terus bergerak di antara kehancuran dan penciptaan.[T]

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliBanjar GemehHari Raya Nyepiogoh-ogohPutu Marmar HerayuktiSeni Rupaseni rupa Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

Next Post

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Berlari, Berbagi, Bereuni ---Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co