BEL istirahat berbunyi. Anak-anak tampak sangat antusias dan sumringah keluar dari kelas melepas jenuh setelah hampir satu jam lamanya duduk menyimak pelajaran. Beberapa anak berbaris secara tertib mengantri untuk mendapatkan makanan yang disediakan oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi sebagian besar siswa, kotak makan tersebut tidak hanya makan siang biasa—melainkan bukti nyata perhatian pemerintah terhadap kesehatan anak di negara ini.
Namun di beberapa sekolah, program yang diharapkan untuk memperbaiki status gizi anak, justru menimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang kualitas dan keamanan makanan yang diterima anak. Kebijakan MBG merupakan upaya strategis dari pemerintah untuk memperbaiki status gizi anak Indonesia. Program ini diciptakan karena kekurangan gizi kronis masih menjadi masalah besar di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan angka stunting di Indonesia mencapai 19,8% dan underweight 16,8%.
Target MBG adalah untuk menyasar puluhan juta anak sekolah dari PAUD/TK hingga SMA. Selama lebih dari satu tahun berjalan, pelaksanaan MBG telah meninggalkan berbagai kesan baik positif dan kritis. Kesan ini datang dari siswa sebagai penerima MBG, guru sebagai pengawas di sekolah dan orang tua sebagai pendamping anak.
Di wilayah terpencil dan tertinggal, kehadiran program MBG disambut dengan kesan yang sangat positif. Anak-anak di daerah tersebut jarang memilikki kesempatan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung protein hewani. Hal ini tidak dapat dihindari karena tingkat ekonomi keluarga yang rendah yang menyebabkan pemenuhan kebutuhan makanan bergizi dikalahkan oleh prioritas pemenuhan kehidupan sehari-hari. Dalam situasi ini, keluarga akan memilih makanan yang “mengenyangkan” daripada makanan yang “bergizi” untuk anak. Akibatnya, ketika anak-anak mendapatkan makanan bergizi lengkap dari program ini, pengalaman tersebut menjadi sangat berharga.
Selain itu, hadirnya MBG telah meningkatkan keinginan anak untuk pergi ke sekolah. Di beberapa wilayah, seperti Papua, istirahat makan siang adalah momen yang paling ditunggu oleh siswa. Yang lebih mengharukan lagi, siswa secara sengaja menyisihkan uang untuk membawa pulang makanan MBG yang mereka terima di sekolah untuk diberikan kepada anggota keluarga yang sakit atau yang belum pernah menikmati makanan bergizi.Kemampuan anak selama proses belajar di sekolah juga dilaporkan meningkat setelah anak-anak di daerah pedalaman lebih sering mengkonsumsi protein hewani dari menu MBG. Guru di daerah tersebut juga mengatakan bahwa siswa lebih fokus dan konsentrasi saat belajar di sekolah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi belajar anak dan kesehatan secara keseluruhan dipengaruhi oleh pemenuhan gizi yang cukup.
Sebaliknya, respons yang berbeda mulai terlihat di beberapa kota. Laporan tentang makanan yang tidak segar, nasi yang terlalu keras, atau lauk yang belum matang dengan baik adalah beberapa tanggapan kritis terhadap kualitas makanan yang dikonsumsi siswa sekolah. Selain itu, beberapa sekolah melaporkan bahwa siswa mengalami masalah pencernaan setelah mengonsumsi MBG, seperti muntah dan diare. Kejadian tersebut memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab yang mendasari. Fenomena ini mencerminkan betapa pentingnya evaluasi secara menyeluruh terutama yang berkaitan dengan masalah keamanan pangan yang tidak boleh diabaikan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa program MBG adalah program penyediaan makanan berskala besar yang ditujukan untuk anak-anak. Apabila kontrol kualitas MBG tidak dijaga sebelum distribusi, anak-anak rentan terhadap masalah kesehatan.
Selain itu, beberapa pengamat mengatakan bahwa program MBG belum sepenuhnya tepat sasaran. Program ini tidak hanya menjangkau siswa dari keluarga kurang mampu atau wilayah 3 T (terdepan, terpencil, tertinggal), tetapi juga siswa di sekolah yang secara ekonomi sudah tergolong mampu. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terkait dengan efisiensi penggunaan anggaran, karena bantuan yang seharusnya diprioritaskan untuk kelompok yang kurang mampu atau paling membutuhkan, malah menjadi didistribusikan secara merata ke semua kelompok.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis memang tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran atau jumlah penerima manfaat. Keberhasilannya bergantung pada kualitas pelaksanaan lapangan, yang mencakup standar keamanan pangan, sistem distribusi makanan, dan mekanisme pengawasan yang konsisten. Jika tidak dikelola dengan baik, program yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak dapat menimbulkan masalah baru yang tidak diharapkan.
Program MBG sejatinya merupakan niat baik untuk memperbaiki masa depan kesehatan anak-anak Indonesia. Namun niat baik saja tidak cukup untuk kebijakan publik. Hal yang paling penting adalah memastikan bahwa setiap makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman, berkualitas, layak dikonsumsi, dan memiliki manfaat gizi yang signifikan. Program yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak tanpa pengawasan yang ketat justru berisiko menimbulkan masalah baru bagi orang tua. Karena makanan yang diberikan kepada anak-anak di sekolah merupakan bagian dari investasi dalam kesehatan generasi berikutnya, bukan sekadar bantuan sosial. [T]
Penulis: Erika Suciari
Editor: Adnyana Ole























