5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker is the best judge of how the trouble is to be remedied.”
— John Dewey, The Public and Its Problems (1927)

Mandala Rizky Syahputra, seorang siswa SMK, mungkin tidak pernah membaca John Dewey. Namun tragedinya menjelaskan dengan sangat jelas apa yang pernah ditulis filsuf Amerika Serikat itu hampir seabad lalu, orang yang memakai sepatu paling mengetahui di mana letak sepatu itu menyakitkan.

Kasus Mandala menyita perhatian publik karena memperlihatkan ironi yang begitu menyakitkan. Seorang anak dari keluarga miskin diduga mengalami persoalan kesehatan serius setelah menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit, sementara keterbatasan ekonomi membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi tidak mudah.

Tragedi ini tentu tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan “sepatu kekecilan”. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yakni bagaimana kemiskinan dapat mengubah persoalan kecil menjadi risiko kehidupan, dan bagaimana negara sering kali terlambat memahami penderitaan yang dialami warganya sendiri.

Dalam banyak diskusi kebijakan publik, negara cenderung memahami kemiskinan melalui angka-angka, misalnya melalui tingkat kemiskinan, persentase stunting, dan sederet angka lainnya. Semua itu penting. Namun angka tidak selalu mampu menangkap pengalaman hidup orang miskin sehari-hari. Negara mungkin mengetahui berapa jumlah keluarga miskin, tetapi belum tentu memahami bagaimana rasanya hidup dalam kerentanan yang terus-menerus.

Bagi kelompok miskin ekstrem, kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan risiko yang bagi kelompok lain mungkin tampak sepele. Sepatu sekolah bukan hanya perlengkapan pendidikan, tetapi bisa menjadi persoalan kesehatan.

Ongkos transportasi menuju rumah sakit dapat menentukan apakah seseorang memperoleh pengobatan tepat waktu atau tidak. Administrasi BPJS yang rumit bisa menjadi penghalang bagi warga yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian. Dalam konteks seperti ini, kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan, melainkan kondisi kerentanan yang bersifat multidimensional.

Persoalannya, kebijakan publik sering kali bekerja terlalu teknokratis. Negara merasa cukup hadir melalui data, dashboard, target administratif, dan indikator kinerja. Padahal pengalaman sosial masyarakat tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam tabel birokrasi.

Kritik semacam itu sebenarnya telah lama disampaikan oleh James C. Scott dalam “Seeing Like a State” (1998) yang mejelaskan bahwa negara modern cenderung menyederhanakan realitas sosial agar mudah diatur, tetapi penyederhanaan itu kerap menghilangkan pengalaman konkret warga di lapangan.

Akibatnya, terdapat jarak yang cukup lebar antara negara yang “menghitung” dan masyarakat yang “mengalami”. Program kesehatan boleh jadi tersedia secara formal, tetapi akses riil terhadap layanan kesehatan tetap tidak merata.

Pembelajaran dari Situbondo

Indonesia memang telah memiliki BPJS Kesehatan dan sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang secara kelembagaan merupakan capaian besar. Namun dalam praktiknya, kelompok miskin ekstrem masih sering menghadapi hambatan berlapis, bahkan karena tunggakan BPJS membuat Mandala tidak bisa berobat secara layak.

Situasi ini semakin kompleks ketika pemerintah pusat mendorong efisiensi dan konsolidasi fiskal yang berdampak pada menyempitnya ruang fiskal daerah. Dalam banyak kasus, daerah dengan kapasitas fiskal rendah menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Mereka dituntut menyediakan pelayanan publik berkualitas, tetapi pada saat yang sama memiliki keterbatasan anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Akibatnya, kualitas pelayanan dasar antardaerah menjadi semakin timpang.

Namun demikian, keterbatasan fiskal tidak selalu berujung pada absennya negara. Di sinilah menariknya melihat pengalaman Kabupaten Situbondo. Salah satu daerah dengan kapasitas fiskal yang relatif terbatas ini justru menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang lebih responsif tetap mungkin dilakukan ketika pengalaman warga dijadikan dasar utama desain kebijakan publik.

Melalui berbagai inovasi layanan kesehatan Berantas (Berobat Gratis Tanpa Batas) dan Berantas Plus, Situbondo berupaya mengurangi hambatan paling nyata yang dihadapi masyarakat miskin, seperti prosedur administratif yang rumit, keterlambatan akses layanan, dan ketidakpastian pembiayaan kesehatan. Pendekatan penggunaan KTP atau KK untuk mempercepat layanan menunjukkan upaya memperpendek jarak antara birokrasi dan kebutuhan warga sehari-hari.

Tentu saja Situbondo bukan daerah tanpa masalah. Keterbatasan fiskal tetap menjadi tantangan serius, demikian pula kualitas layanan yang belum tentu merata sepenuhnya. Namun pengalaman tersebut penting karena menunjukkan satu hal mendasar, pelayanan publik yang manusiawi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sensitivitas institusional terhadap pengalaman sosial warga.

Dalam konteks ini, tragedi Mandala semestinya tidak berhenti sebagai simpati sesaat di media sosial. Ia harus dibaca sebagai kritik terhadap cara negara memahami rakyatnya sendiri. Sebab masalah terbesar kebijakan publik sering kali bukan sekadar kurangnya program, melainkan kegagalan mendengar pengalaman mereka yang hidup dalam kerentanan sehari-hari.

Kebijakan publik pada akhirnya bukan hanya soal target administratif, efisiensi anggaran, atau capaian statistik. Kebijakan publik juga menyangkut sejauh mana negara mampu memahami pengalaman nyata warga yang hidup di tengah kerentanan sehari-hari. Sebab kebijakan yang baik tidak cukup hanya terlihat efektif di atas kertas, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan sebagaimana benar-benar dirasakan masyarakat.

Pengalaman Situbondo menunjukkan bahwa pelayanan publik yang responsif lahir bukan semata dari besarnya kapasitas fiskal, tetapi dari kemampuan institusi mendekatkan kebijakan pada pengalaman konkret warga. Dalam pandangan Archon Fung (2006), partisipasi publik bukan sekadar pelengkap tata kelola, melainkan sumber penting bagi lahirnya kebijakan yang lebih problem-solving dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar kebijakan publik kita hari ini mungkin bukan hanya soal anggaran, tetapi bagaimana negara sungguh-sungguh mau mendengar mereka yang paling merasakan dampak kebijakan. [T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: kemiskinankesehatanSitubondo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

Next Post

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

'Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan' ---Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co