25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker is the best judge of how the trouble is to be remedied.”
— John Dewey, The Public and Its Problems (1927)

Mandala Rizky Syahputra, seorang siswa SMK, mungkin tidak pernah membaca John Dewey. Namun tragedinya menjelaskan dengan sangat jelas apa yang pernah ditulis filsuf Amerika Serikat itu hampir seabad lalu, orang yang memakai sepatu paling mengetahui di mana letak sepatu itu menyakitkan.

Kasus Mandala menyita perhatian publik karena memperlihatkan ironi yang begitu menyakitkan. Seorang anak dari keluarga miskin diduga mengalami persoalan kesehatan serius setelah menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit, sementara keterbatasan ekonomi membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi tidak mudah.

Tragedi ini tentu tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan “sepatu kekecilan”. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yakni bagaimana kemiskinan dapat mengubah persoalan kecil menjadi risiko kehidupan, dan bagaimana negara sering kali terlambat memahami penderitaan yang dialami warganya sendiri.

Dalam banyak diskusi kebijakan publik, negara cenderung memahami kemiskinan melalui angka-angka, misalnya melalui tingkat kemiskinan, persentase stunting, dan sederet angka lainnya. Semua itu penting. Namun angka tidak selalu mampu menangkap pengalaman hidup orang miskin sehari-hari. Negara mungkin mengetahui berapa jumlah keluarga miskin, tetapi belum tentu memahami bagaimana rasanya hidup dalam kerentanan yang terus-menerus.

Bagi kelompok miskin ekstrem, kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan risiko yang bagi kelompok lain mungkin tampak sepele. Sepatu sekolah bukan hanya perlengkapan pendidikan, tetapi bisa menjadi persoalan kesehatan.

Ongkos transportasi menuju rumah sakit dapat menentukan apakah seseorang memperoleh pengobatan tepat waktu atau tidak. Administrasi BPJS yang rumit bisa menjadi penghalang bagi warga yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian. Dalam konteks seperti ini, kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan, melainkan kondisi kerentanan yang bersifat multidimensional.

Persoalannya, kebijakan publik sering kali bekerja terlalu teknokratis. Negara merasa cukup hadir melalui data, dashboard, target administratif, dan indikator kinerja. Padahal pengalaman sosial masyarakat tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam tabel birokrasi.

Kritik semacam itu sebenarnya telah lama disampaikan oleh James C. Scott dalam “Seeing Like a State” (1998) yang mejelaskan bahwa negara modern cenderung menyederhanakan realitas sosial agar mudah diatur, tetapi penyederhanaan itu kerap menghilangkan pengalaman konkret warga di lapangan.

Akibatnya, terdapat jarak yang cukup lebar antara negara yang “menghitung” dan masyarakat yang “mengalami”. Program kesehatan boleh jadi tersedia secara formal, tetapi akses riil terhadap layanan kesehatan tetap tidak merata.

Pembelajaran dari Situbondo

Indonesia memang telah memiliki BPJS Kesehatan dan sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang secara kelembagaan merupakan capaian besar. Namun dalam praktiknya, kelompok miskin ekstrem masih sering menghadapi hambatan berlapis, bahkan karena tunggakan BPJS membuat Mandala tidak bisa berobat secara layak.

Situasi ini semakin kompleks ketika pemerintah pusat mendorong efisiensi dan konsolidasi fiskal yang berdampak pada menyempitnya ruang fiskal daerah. Dalam banyak kasus, daerah dengan kapasitas fiskal rendah menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Mereka dituntut menyediakan pelayanan publik berkualitas, tetapi pada saat yang sama memiliki keterbatasan anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Akibatnya, kualitas pelayanan dasar antardaerah menjadi semakin timpang.

Namun demikian, keterbatasan fiskal tidak selalu berujung pada absennya negara. Di sinilah menariknya melihat pengalaman Kabupaten Situbondo. Salah satu daerah dengan kapasitas fiskal yang relatif terbatas ini justru menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang lebih responsif tetap mungkin dilakukan ketika pengalaman warga dijadikan dasar utama desain kebijakan publik.

Melalui berbagai inovasi layanan kesehatan Berantas (Berobat Gratis Tanpa Batas) dan Berantas Plus, Situbondo berupaya mengurangi hambatan paling nyata yang dihadapi masyarakat miskin, seperti prosedur administratif yang rumit, keterlambatan akses layanan, dan ketidakpastian pembiayaan kesehatan. Pendekatan penggunaan KTP atau KK untuk mempercepat layanan menunjukkan upaya memperpendek jarak antara birokrasi dan kebutuhan warga sehari-hari.

Tentu saja Situbondo bukan daerah tanpa masalah. Keterbatasan fiskal tetap menjadi tantangan serius, demikian pula kualitas layanan yang belum tentu merata sepenuhnya. Namun pengalaman tersebut penting karena menunjukkan satu hal mendasar, pelayanan publik yang manusiawi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sensitivitas institusional terhadap pengalaman sosial warga.

Dalam konteks ini, tragedi Mandala semestinya tidak berhenti sebagai simpati sesaat di media sosial. Ia harus dibaca sebagai kritik terhadap cara negara memahami rakyatnya sendiri. Sebab masalah terbesar kebijakan publik sering kali bukan sekadar kurangnya program, melainkan kegagalan mendengar pengalaman mereka yang hidup dalam kerentanan sehari-hari.

Kebijakan publik pada akhirnya bukan hanya soal target administratif, efisiensi anggaran, atau capaian statistik. Kebijakan publik juga menyangkut sejauh mana negara mampu memahami pengalaman nyata warga yang hidup di tengah kerentanan sehari-hari. Sebab kebijakan yang baik tidak cukup hanya terlihat efektif di atas kertas, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan sebagaimana benar-benar dirasakan masyarakat.

Pengalaman Situbondo menunjukkan bahwa pelayanan publik yang responsif lahir bukan semata dari besarnya kapasitas fiskal, tetapi dari kemampuan institusi mendekatkan kebijakan pada pengalaman konkret warga. Dalam pandangan Archon Fung (2006), partisipasi publik bukan sekadar pelengkap tata kelola, melainkan sumber penting bagi lahirnya kebijakan yang lebih problem-solving dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar kebijakan publik kita hari ini mungkin bukan hanya soal anggaran, tetapi bagaimana negara sungguh-sungguh mau mendengar mereka yang paling merasakan dampak kebijakan. [T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: kemiskinankesehatanSitubondo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

Next Post

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

'Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan' ---Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co