25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker is the best judge of how the trouble is to be remedied.”
— John Dewey, The Public and Its Problems (1927)

Mandala Rizky Syahputra, seorang siswa SMK, mungkin tidak pernah membaca John Dewey. Namun tragedinya menjelaskan dengan sangat jelas apa yang pernah ditulis filsuf Amerika Serikat itu hampir seabad lalu, orang yang memakai sepatu paling mengetahui di mana letak sepatu itu menyakitkan.

Kasus Mandala menyita perhatian publik karena memperlihatkan ironi yang begitu menyakitkan. Seorang anak dari keluarga miskin diduga mengalami persoalan kesehatan serius setelah menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit, sementara keterbatasan ekonomi membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi tidak mudah.

Tragedi ini tentu tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan “sepatu kekecilan”. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yakni bagaimana kemiskinan dapat mengubah persoalan kecil menjadi risiko kehidupan, dan bagaimana negara sering kali terlambat memahami penderitaan yang dialami warganya sendiri.

Dalam banyak diskusi kebijakan publik, negara cenderung memahami kemiskinan melalui angka-angka, misalnya melalui tingkat kemiskinan, persentase stunting, dan sederet angka lainnya. Semua itu penting. Namun angka tidak selalu mampu menangkap pengalaman hidup orang miskin sehari-hari. Negara mungkin mengetahui berapa jumlah keluarga miskin, tetapi belum tentu memahami bagaimana rasanya hidup dalam kerentanan yang terus-menerus.

Bagi kelompok miskin ekstrem, kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan risiko yang bagi kelompok lain mungkin tampak sepele. Sepatu sekolah bukan hanya perlengkapan pendidikan, tetapi bisa menjadi persoalan kesehatan.

Ongkos transportasi menuju rumah sakit dapat menentukan apakah seseorang memperoleh pengobatan tepat waktu atau tidak. Administrasi BPJS yang rumit bisa menjadi penghalang bagi warga yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian. Dalam konteks seperti ini, kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan, melainkan kondisi kerentanan yang bersifat multidimensional.

Persoalannya, kebijakan publik sering kali bekerja terlalu teknokratis. Negara merasa cukup hadir melalui data, dashboard, target administratif, dan indikator kinerja. Padahal pengalaman sosial masyarakat tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam tabel birokrasi.

Kritik semacam itu sebenarnya telah lama disampaikan oleh James C. Scott dalam “Seeing Like a State” (1998) yang mejelaskan bahwa negara modern cenderung menyederhanakan realitas sosial agar mudah diatur, tetapi penyederhanaan itu kerap menghilangkan pengalaman konkret warga di lapangan.

Akibatnya, terdapat jarak yang cukup lebar antara negara yang “menghitung” dan masyarakat yang “mengalami”. Program kesehatan boleh jadi tersedia secara formal, tetapi akses riil terhadap layanan kesehatan tetap tidak merata.

Pembelajaran dari Situbondo

Indonesia memang telah memiliki BPJS Kesehatan dan sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang secara kelembagaan merupakan capaian besar. Namun dalam praktiknya, kelompok miskin ekstrem masih sering menghadapi hambatan berlapis, bahkan karena tunggakan BPJS membuat Mandala tidak bisa berobat secara layak.

Situasi ini semakin kompleks ketika pemerintah pusat mendorong efisiensi dan konsolidasi fiskal yang berdampak pada menyempitnya ruang fiskal daerah. Dalam banyak kasus, daerah dengan kapasitas fiskal rendah menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Mereka dituntut menyediakan pelayanan publik berkualitas, tetapi pada saat yang sama memiliki keterbatasan anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Akibatnya, kualitas pelayanan dasar antardaerah menjadi semakin timpang.

Namun demikian, keterbatasan fiskal tidak selalu berujung pada absennya negara. Di sinilah menariknya melihat pengalaman Kabupaten Situbondo. Salah satu daerah dengan kapasitas fiskal yang relatif terbatas ini justru menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang lebih responsif tetap mungkin dilakukan ketika pengalaman warga dijadikan dasar utama desain kebijakan publik.

Melalui berbagai inovasi layanan kesehatan Berantas (Berobat Gratis Tanpa Batas) dan Berantas Plus, Situbondo berupaya mengurangi hambatan paling nyata yang dihadapi masyarakat miskin, seperti prosedur administratif yang rumit, keterlambatan akses layanan, dan ketidakpastian pembiayaan kesehatan. Pendekatan penggunaan KTP atau KK untuk mempercepat layanan menunjukkan upaya memperpendek jarak antara birokrasi dan kebutuhan warga sehari-hari.

Tentu saja Situbondo bukan daerah tanpa masalah. Keterbatasan fiskal tetap menjadi tantangan serius, demikian pula kualitas layanan yang belum tentu merata sepenuhnya. Namun pengalaman tersebut penting karena menunjukkan satu hal mendasar, pelayanan publik yang manusiawi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sensitivitas institusional terhadap pengalaman sosial warga.

Dalam konteks ini, tragedi Mandala semestinya tidak berhenti sebagai simpati sesaat di media sosial. Ia harus dibaca sebagai kritik terhadap cara negara memahami rakyatnya sendiri. Sebab masalah terbesar kebijakan publik sering kali bukan sekadar kurangnya program, melainkan kegagalan mendengar pengalaman mereka yang hidup dalam kerentanan sehari-hari.

Kebijakan publik pada akhirnya bukan hanya soal target administratif, efisiensi anggaran, atau capaian statistik. Kebijakan publik juga menyangkut sejauh mana negara mampu memahami pengalaman nyata warga yang hidup di tengah kerentanan sehari-hari. Sebab kebijakan yang baik tidak cukup hanya terlihat efektif di atas kertas, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan sebagaimana benar-benar dirasakan masyarakat.

Pengalaman Situbondo menunjukkan bahwa pelayanan publik yang responsif lahir bukan semata dari besarnya kapasitas fiskal, tetapi dari kemampuan institusi mendekatkan kebijakan pada pengalaman konkret warga. Dalam pandangan Archon Fung (2006), partisipasi publik bukan sekadar pelengkap tata kelola, melainkan sumber penting bagi lahirnya kebijakan yang lebih problem-solving dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar kebijakan publik kita hari ini mungkin bukan hanya soal anggaran, tetapi bagaimana negara sungguh-sungguh mau mendengar mereka yang paling merasakan dampak kebijakan. [T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: kemiskinankesehatanSitubondo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

Next Post

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

'Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan' ---Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co