4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
in Esai
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

Faris Widiyatmoko

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker is the best judge of how the trouble is to be remedied.”
— John Dewey, The Public and Its Problems (1927)

Mandala Rizky Syahputra, seorang siswa SMK, mungkin tidak pernah membaca John Dewey. Namun tragedinya menjelaskan dengan sangat jelas apa yang pernah ditulis filsuf Amerika Serikat itu hampir seabad lalu, orang yang memakai sepatu paling mengetahui di mana letak sepatu itu menyakitkan.

Kasus Mandala menyita perhatian publik karena memperlihatkan ironi yang begitu menyakitkan. Seorang anak dari keluarga miskin diduga mengalami persoalan kesehatan serius setelah menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit, sementara keterbatasan ekonomi membuat akses terhadap layanan kesehatan menjadi tidak mudah.

Tragedi ini tentu tidak bisa disederhanakan hanya sebagai persoalan “sepatu kekecilan”. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yakni bagaimana kemiskinan dapat mengubah persoalan kecil menjadi risiko kehidupan, dan bagaimana negara sering kali terlambat memahami penderitaan yang dialami warganya sendiri.

Dalam banyak diskusi kebijakan publik, negara cenderung memahami kemiskinan melalui angka-angka, misalnya melalui tingkat kemiskinan, persentase stunting, dan sederet angka lainnya. Semua itu penting. Namun angka tidak selalu mampu menangkap pengalaman hidup orang miskin sehari-hari. Negara mungkin mengetahui berapa jumlah keluarga miskin, tetapi belum tentu memahami bagaimana rasanya hidup dalam kerentanan yang terus-menerus.

Bagi kelompok miskin ekstrem, kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan risiko yang bagi kelompok lain mungkin tampak sepele. Sepatu sekolah bukan hanya perlengkapan pendidikan, tetapi bisa menjadi persoalan kesehatan.

Ongkos transportasi menuju rumah sakit dapat menentukan apakah seseorang memperoleh pengobatan tepat waktu atau tidak. Administrasi BPJS yang rumit bisa menjadi penghalang bagi warga yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian. Dalam konteks seperti ini, kemiskinan bukan sekadar kekurangan pendapatan, melainkan kondisi kerentanan yang bersifat multidimensional.

Persoalannya, kebijakan publik sering kali bekerja terlalu teknokratis. Negara merasa cukup hadir melalui data, dashboard, target administratif, dan indikator kinerja. Padahal pengalaman sosial masyarakat tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh ke dalam tabel birokrasi.

Kritik semacam itu sebenarnya telah lama disampaikan oleh James C. Scott dalam “Seeing Like a State” (1998) yang mejelaskan bahwa negara modern cenderung menyederhanakan realitas sosial agar mudah diatur, tetapi penyederhanaan itu kerap menghilangkan pengalaman konkret warga di lapangan.

Akibatnya, terdapat jarak yang cukup lebar antara negara yang “menghitung” dan masyarakat yang “mengalami”. Program kesehatan boleh jadi tersedia secara formal, tetapi akses riil terhadap layanan kesehatan tetap tidak merata.

Pembelajaran dari Situbondo

Indonesia memang telah memiliki BPJS Kesehatan dan sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang secara kelembagaan merupakan capaian besar. Namun dalam praktiknya, kelompok miskin ekstrem masih sering menghadapi hambatan berlapis, bahkan karena tunggakan BPJS membuat Mandala tidak bisa berobat secara layak.

Situasi ini semakin kompleks ketika pemerintah pusat mendorong efisiensi dan konsolidasi fiskal yang berdampak pada menyempitnya ruang fiskal daerah. Dalam banyak kasus, daerah dengan kapasitas fiskal rendah menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Mereka dituntut menyediakan pelayanan publik berkualitas, tetapi pada saat yang sama memiliki keterbatasan anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Akibatnya, kualitas pelayanan dasar antardaerah menjadi semakin timpang.

Namun demikian, keterbatasan fiskal tidak selalu berujung pada absennya negara. Di sinilah menariknya melihat pengalaman Kabupaten Situbondo. Salah satu daerah dengan kapasitas fiskal yang relatif terbatas ini justru menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang lebih responsif tetap mungkin dilakukan ketika pengalaman warga dijadikan dasar utama desain kebijakan publik.

Melalui berbagai inovasi layanan kesehatan Berantas (Berobat Gratis Tanpa Batas) dan Berantas Plus, Situbondo berupaya mengurangi hambatan paling nyata yang dihadapi masyarakat miskin, seperti prosedur administratif yang rumit, keterlambatan akses layanan, dan ketidakpastian pembiayaan kesehatan. Pendekatan penggunaan KTP atau KK untuk mempercepat layanan menunjukkan upaya memperpendek jarak antara birokrasi dan kebutuhan warga sehari-hari.

Tentu saja Situbondo bukan daerah tanpa masalah. Keterbatasan fiskal tetap menjadi tantangan serius, demikian pula kualitas layanan yang belum tentu merata sepenuhnya. Namun pengalaman tersebut penting karena menunjukkan satu hal mendasar, pelayanan publik yang manusiawi tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sensitivitas institusional terhadap pengalaman sosial warga.

Dalam konteks ini, tragedi Mandala semestinya tidak berhenti sebagai simpati sesaat di media sosial. Ia harus dibaca sebagai kritik terhadap cara negara memahami rakyatnya sendiri. Sebab masalah terbesar kebijakan publik sering kali bukan sekadar kurangnya program, melainkan kegagalan mendengar pengalaman mereka yang hidup dalam kerentanan sehari-hari.

Kebijakan publik pada akhirnya bukan hanya soal target administratif, efisiensi anggaran, atau capaian statistik. Kebijakan publik juga menyangkut sejauh mana negara mampu memahami pengalaman nyata warga yang hidup di tengah kerentanan sehari-hari. Sebab kebijakan yang baik tidak cukup hanya terlihat efektif di atas kertas, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan sebagaimana benar-benar dirasakan masyarakat.

Pengalaman Situbondo menunjukkan bahwa pelayanan publik yang responsif lahir bukan semata dari besarnya kapasitas fiskal, tetapi dari kemampuan institusi mendekatkan kebijakan pada pengalaman konkret warga. Dalam pandangan Archon Fung (2006), partisipasi publik bukan sekadar pelengkap tata kelola, melainkan sumber penting bagi lahirnya kebijakan yang lebih problem-solving dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, tantangan terbesar kebijakan publik kita hari ini mungkin bukan hanya soal anggaran, tetapi bagaimana negara sungguh-sungguh mau mendengar mereka yang paling merasakan dampak kebijakan. [T]

Penulis: Faris Widiyatmoko
Editor: Adnyana Ole

Tags: kemiskinankesehatanSitubondo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

Next Post

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Faris Widiyatmoko

Faris Widiyatmoko

Dosen Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

'Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan' ---Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co