17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
in Opini
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada kesan kuat bahwa Bali sedang menjadi sasaran sebuah orkestrasi besar. Koalisi gemuk di tingkat pusat seolah-olah sedang melakukan operasi yang terstruktur dan sistematis untuk memojokkan posisi I Wayan Koster, Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.

Instrumen Penekan: Sampah dan Tol Mengwi-Gilimanuk dan “Kartu” LRT

Dua isu krusial sengaja diletakkan di depan mata rakyat Bali sebagai “senjata”: persoalan sampah yang tak kunjung usai dan mandeknya proyek Tol Mengwi-Gilimanuk.

Faktanya, proyek strategis nasional (PSN) seperti jalan tol seringkali bergantung penuh pada kebijakan anggaran dan eksekusi pusat. Namun, narasi yang dibangun di bawah adalah kegagalan kepemimpinan lokal. Ini adalah pola klasik: menciptakan depresi publik terhadap figur pemimpinnya sendiri melalui isu fundamental.

•           Fakta Indikator: Penundaan progres fisik Tol Mengwi-Gilimanuk yang sempat terkendala pendanaan pasca-mundurnya kontraktor utama, seringkali digoreng sebagai ketidakmampuan diplomasi Gubernur di tingkat pusat.

Agenda Besar: “De-PDIP-isasi” Bali

Ada bau menyengat yang mengindikasikan bahwa agenda besarnya adalah melepaskan Bali dari genggaman PDI Perjuangan. Bali adalah benteng terakhir, “kandang banteng  yang paling sakral” setelah Jawa Tengah. Menekan Koster adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan moral kader di bawah.

Ironisnya, tekanan ini tidak hanya datang dari luar (Jakarta). Koster kini menghadapi situasi “api dalam sekam” di internal PDIP Bali sendiri. Ada faksi-faksi yang sejak awal memang tidak menginginkan Koster memimpin, dan kini seolah mendapat momentum untuk ikut menekan dari dalam.

“Sandera” dan Dendam Politik

Sulit untuk tidak mengaitkan tekanan ini dengan sikap tegas Ketum PDIP,  Megawati Soekarnoputri yang menolak pembangunan Bandara Bali Utara. Keputusan tersebut tampaknya menyulut “balas dendam sandera” dari pihak-pihak yang kepentingannya terganggu. Koster, sebagai kader setia dan kepanjangan tangan partai di daerah, harus memikul konsekuensi dari kebijakan ideologis tersebut sendirian.

Posisi Koster saat ini adalah potret seorang pemimpin yang nyaris sendirian. Ia ditekan koalisi besar pusat, dikepung isu teknis yang dipolitisasi, dan digoyang oleh kawan segerbong yang menyimpan belati di punggung.

Fakta 1: Status Lumpuh Tol Mengwi-Gilimanuk

Berdasarkan laporan terkini dari Kementerian Pekerjaan Umum dan perkembangan di lapangan:

1. Kedaluwarsa Penlok (Penetapan Lokasi)

Masa berlaku Surat Keputusan Penetapan Lokasi (Penlok) untuk tol ini telah berakhir pada 25 Februari 2026. Akibatnya, secara hukum proses pembebasan lahan harus diulang dari nol. Ribuan bidang tanah milik warga yang selama dua tahun “terkunci” (tidak bisa dijual atau diagunkan) kini statusnya mengambang, memicu kemarahan warga yang dialamatkan kepada Pemerintah Provinsi.

2. Pengunduran Jadwal Lelang (Tender Ulang 2027)

Meskipun sebelumnya dijanjikan akan segera dimulai, Kementerian PU baru-baru ini mengonfirmasi bahwa proses tender ulang baru direncanakan pada tahun 2027. Target pengoperasian pun mundur jauh ke tahun 2031. Penundaan berkali-kali ini mengesankan bahwa pusat tidak menaruh urgensi pada proyek ini, namun tetap membiarkan “isu”-nya hidup untuk memojokkan gubernur.

3. Mundurnya Kontraktor dan Masalah “Financial Close”

Penyebab utama mangkraknya proyek ini adalah mundurnya konsorsium PT Tol Jagat Kerthi Bali karena gagal mendapatkan pendanaan (financial close). Hingga April 2026, investor besar masih “emoh” masuk dengan alasan trafik kendaraan yang dianggap sepi (tidak menguntungkan secara bisnis). Pusat kini mencoba mengubah skema menjadi solicited (diprakarsai pemerintah), namun anggaran yang dialokasikan masih jauh dari kebutuhan total investasi sebesar Rp25,4 triliun.

4. Pemangkasan Prioritas Ruas

Dalam rencana terbaru, terdapat indikasi bahwa Seksi I (Gilimanuk–Pekutatan) dibatalkan atau ditunda tanpa batas waktu. Fokus hanya digeser ke Seksi II dan III. Hal ini memicu kekecewaan besar di Bali Barat, wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan PDI Perjuangan, yang merasa dikhianati oleh janji pembangunan nasional.

Fakta 2: Sampah Bali (Status April 2026)

1. Tragedi TPA Suwung: Bom Waktu yang Dibiarkan

TPA Suwung seharusnya sudah ditutup total sejak 2021, namun hingga April 2026, aktivitas pembuangan masih terjadi karena kegagalan pembangunan infrastruktur alternatif.

  • Kapasitas Lampau Batas: Ketinggian tumpukan sampah di Suwung kini mencapai lebih dari 25-30 meter. Kebakaran bawah tanah (bara metana) menjadi ancaman rutin setiap musim kemarau, yang secara langsung merusak citra pariwisata Sanur dan Denpasar.
  • Status Lahan: Lahan TPA Suwung adalah milik kehutanan (pusat). Mandeknya izin revitalisasi menjadi taman hutan raya (tahura) seringkali tersangkut di birokrasi kementerian, seolah membiarkan “borok” ini tetap terbuka di jantung pariwisata Bali.

2. Kegagalan Teknologi TPST (Integrated Waste Treatment)

Pemerintah pusat melalui kementerian terkait mendorong pembangunan 3 TPST besar di Denpasar (Kesiman Kertalangu, Tahura, dan Padangsambian Kaja). Namun faktanya:

  • Mesin Mangkrak/Tidak Optimal: Hingga saat ini, teknologi pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) sering mengalami kerusakan teknis. Pusat terkesan “lepas tangan” setelah proyek fisik selesai, meninggalkan beban biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat tinggi pada APBD daerah.
  • Target vs Realitas: Target pengolahan 1.000 ton/hari tidak pernah tercapai secara konsisten, sehingga sampah kembali meluap ke pinggir jalan dan sungai.

3. Kebijakan Pendanaan: “Beban Daerah, Citra Nasional”

Ada ketimpangan nyata dalam kebijakan pendanaan pengolahan sampah antara Bali dan wilayah strategis lainnya:

  • Dana Dekonsentrasi Minim: Pendanaan dari APBN untuk operasional sampah di Bali terus dipangkas dengan alasan daerah harus mandiri secara fiskal melalui pungutan wisatawan.
  • Inkonsistensi Bantuan: Sementara IKN dan beberapa Destinasi Super Prioritas (DSP) lain mendapatkan kucuran dana jumbo untuk infrastruktur sanitasi, Bali justru diminta menanggung sendiri beban pengolahan sampah sisa mass-tourism yang notabene pajaknya (PPN/PPH) masuk ke kantong pusat.

Politisasi atas fakta di atas kita dapati di ruang publik menjadi:

1. Kegagalan Sistemik yang Dipersonalisasi: Masalah teknis TPST dan anggaran adalah domain kementerian (pusat), namun narasi yang diledakkan ke publik adalah “Koster Gagal Mengurus Sampah”. Ini adalah teknik gaslighting politik.

2. Menunggu Ledakan: Pusat seolah membiarkan TPA Suwung tetap kumuh untuk menjaga “citra buruk” Bali di bawah kepemimpinan PDIP, sebagai alat tawar untuk memaksa Bali tunduk pada agenda-agenda lain.

3. Paradoks Pungutan Wisatawan: Ketika Koster mencoba mencari solusi mandiri melalui pungutan wisatawan (International Tourism Levy), kebijakan ini pun terus dipantau ketat dan sering dikritik oleh oknum-oknum di koalisi pusat, seolah-olah Bali tidak boleh memiliki kemandirian finansial yang kuat.

Fakta 3: “Sandera Kartu LRT”

1. LRT Bali: Proyek Strategis yang Terjepit “Pusat-Sentris Pemangkasan Rute dan Fokus Bandara

Rencana awal LRT Bali dirancang untuk menghubungkan titik-titik krusial pariwisata. Namun, dinamika di pusat (Kementerian Perhubungan) terus menggeser fokus hanya pada rute Bandara Ngurah Rai – Central Parkir Kuta. Pemangkasan rute ini membuat proyek ini kehilangan esensinya sebagai solusi kemacetan total Bali, dan lebih terlihat sebagai proyek “fasilitas turis” yang operasionalnya sangat bergantung pada regulasi pusat.

2. Skema Pembiayaan yang Membebani Daerah

Fakta yang paling menekan adalah keengganan pusat untuk sepenuhnya mendanai LRT melalui APBN (seperti LRT Jabodebek atau Palembang).

  • Status Terkini: Bali didorong untuk menggunakan skema Pinjaman Luar Negeri (Loan) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
  • Implikasi Politik: Ini menempatkan Koster dalam posisi sulit. Jika ia mengambil pinjaman besar, ia akan diserang secara politik karena dianggap membebani fiskal daerah. Jika ia menolak, ia dituduh “menghambat kemajuan”.

3. Tarik Ulur Izin dan “Feasibility Study” (FS)

Meskipun Koster sangat progresif mendorong LRT (bahkan sudah melakukan pembicaraan dengan investor Korea Selatan dan Eropa), lampu hijau dari Jakarta terasa sangat lambat. FS berkali-kali ditinjau ulang oleh pusat. Ini adalah teknik birokrasi klasik untuk menahan momentum keberhasilan seorang kepala daerah agar tidak mendapat panggung prestasi di mata rakyat.

Dari fakta yang dijadikan alat penekan oleh pusat, dengan mudah kita bisa membaca:

  • Koster dijadikan “Tameng”: Masalah pendanaan dan mundurnya kontraktor adalah murni masalah ekonomi-politik di level pusat, namun dampak sosialnya (warga yang tanahnya digantung) dibiarkan meledak di tangan Koster.
  • Penyanderaan Ekonomi: Dengan “mengunci” lahan warga lewat Penlok yang tidak jelas eksekusinya, pusat seolah sedang menyandera stabilitas ekonomi akar rumput Bali untuk menciptakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan daerah.
  • Kontras Kebijakan: Pusat sangat cepat mencairkan anggaran untuk PSN di wilayah lain (seperti IKN atau tol di Jawa), namun untuk Bali, alasan “sepi peminat” selalu dijadikan pembenaran untuk menunda.

Ajakan untuk Rakyat Bali

Saya mengajak krama Bali untuk melihat fenomena ini dengan jernih. Jangan hanya melihat permukaan bahwa “gubernur gagal mengatasi sampah” atau “tol macet”. Pahami konstelasi politik yang sedang menjepitnya.

Persoalan Bali hari ini bukan sekadar urusan satu orang bernama Koster. Ini adalah urusan kedaulatan politik Bali di tengah tarikan kepentingan nasional yang ingin menyeragamkan warna politik di seluruh nusantara. Kita harus lebih bijak: jika kita membiarkan pemimpin kita dipukul sendirian dalam posisi terjepit seperti ini, maka sebenarnya yang sedang dilemahkan adalah posisi tawar Bali itu sendiri di hadapan pusat.

Mari kita lihat dengan hati, bukan sekadar dengan emosi yang disulut oleh narasi-narasi buatan atau setidaknya mari ujian bersama tentang apa itu “ngrombo” sebagai adat istiadat  nak Bali seken. Salam Bali Dwipa Jaya! [T]

Prambanan, 10/4/2026

Tags: baliWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Next Post

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co