6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
in Opini
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada kesan kuat bahwa Bali sedang menjadi sasaran sebuah orkestrasi besar. Koalisi gemuk di tingkat pusat seolah-olah sedang melakukan operasi yang terstruktur dan sistematis untuk memojokkan posisi I Wayan Koster, Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.

Instrumen Penekan: Sampah dan Tol Mengwi-Gilimanuk dan “Kartu” LRT

Dua isu krusial sengaja diletakkan di depan mata rakyat Bali sebagai “senjata”: persoalan sampah yang tak kunjung usai dan mandeknya proyek Tol Mengwi-Gilimanuk.

Faktanya, proyek strategis nasional (PSN) seperti jalan tol seringkali bergantung penuh pada kebijakan anggaran dan eksekusi pusat. Namun, narasi yang dibangun di bawah adalah kegagalan kepemimpinan lokal. Ini adalah pola klasik: menciptakan depresi publik terhadap figur pemimpinnya sendiri melalui isu fundamental.

•           Fakta Indikator: Penundaan progres fisik Tol Mengwi-Gilimanuk yang sempat terkendala pendanaan pasca-mundurnya kontraktor utama, seringkali digoreng sebagai ketidakmampuan diplomasi Gubernur di tingkat pusat.

Agenda Besar: “De-PDIP-isasi” Bali

Ada bau menyengat yang mengindikasikan bahwa agenda besarnya adalah melepaskan Bali dari genggaman PDI Perjuangan. Bali adalah benteng terakhir, “kandang banteng  yang paling sakral” setelah Jawa Tengah. Menekan Koster adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan moral kader di bawah.

Ironisnya, tekanan ini tidak hanya datang dari luar (Jakarta). Koster kini menghadapi situasi “api dalam sekam” di internal PDIP Bali sendiri. Ada faksi-faksi yang sejak awal memang tidak menginginkan Koster memimpin, dan kini seolah mendapat momentum untuk ikut menekan dari dalam.

“Sandera” dan Dendam Politik

Sulit untuk tidak mengaitkan tekanan ini dengan sikap tegas Ketum PDIP,  Megawati Soekarnoputri yang menolak pembangunan Bandara Bali Utara. Keputusan tersebut tampaknya menyulut “balas dendam sandera” dari pihak-pihak yang kepentingannya terganggu. Koster, sebagai kader setia dan kepanjangan tangan partai di daerah, harus memikul konsekuensi dari kebijakan ideologis tersebut sendirian.

Posisi Koster saat ini adalah potret seorang pemimpin yang nyaris sendirian. Ia ditekan koalisi besar pusat, dikepung isu teknis yang dipolitisasi, dan digoyang oleh kawan segerbong yang menyimpan belati di punggung.

Fakta 1: Status Lumpuh Tol Mengwi-Gilimanuk

Berdasarkan laporan terkini dari Kementerian Pekerjaan Umum dan perkembangan di lapangan:

1. Kedaluwarsa Penlok (Penetapan Lokasi)

Masa berlaku Surat Keputusan Penetapan Lokasi (Penlok) untuk tol ini telah berakhir pada 25 Februari 2026. Akibatnya, secara hukum proses pembebasan lahan harus diulang dari nol. Ribuan bidang tanah milik warga yang selama dua tahun “terkunci” (tidak bisa dijual atau diagunkan) kini statusnya mengambang, memicu kemarahan warga yang dialamatkan kepada Pemerintah Provinsi.

2. Pengunduran Jadwal Lelang (Tender Ulang 2027)

Meskipun sebelumnya dijanjikan akan segera dimulai, Kementerian PU baru-baru ini mengonfirmasi bahwa proses tender ulang baru direncanakan pada tahun 2027. Target pengoperasian pun mundur jauh ke tahun 2031. Penundaan berkali-kali ini mengesankan bahwa pusat tidak menaruh urgensi pada proyek ini, namun tetap membiarkan “isu”-nya hidup untuk memojokkan gubernur.

3. Mundurnya Kontraktor dan Masalah “Financial Close”

Penyebab utama mangkraknya proyek ini adalah mundurnya konsorsium PT Tol Jagat Kerthi Bali karena gagal mendapatkan pendanaan (financial close). Hingga April 2026, investor besar masih “emoh” masuk dengan alasan trafik kendaraan yang dianggap sepi (tidak menguntungkan secara bisnis). Pusat kini mencoba mengubah skema menjadi solicited (diprakarsai pemerintah), namun anggaran yang dialokasikan masih jauh dari kebutuhan total investasi sebesar Rp25,4 triliun.

4. Pemangkasan Prioritas Ruas

Dalam rencana terbaru, terdapat indikasi bahwa Seksi I (Gilimanuk–Pekutatan) dibatalkan atau ditunda tanpa batas waktu. Fokus hanya digeser ke Seksi II dan III. Hal ini memicu kekecewaan besar di Bali Barat, wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan PDI Perjuangan, yang merasa dikhianati oleh janji pembangunan nasional.

Fakta 2: Sampah Bali (Status April 2026)

1. Tragedi TPA Suwung: Bom Waktu yang Dibiarkan

TPA Suwung seharusnya sudah ditutup total sejak 2021, namun hingga April 2026, aktivitas pembuangan masih terjadi karena kegagalan pembangunan infrastruktur alternatif.

  • Kapasitas Lampau Batas: Ketinggian tumpukan sampah di Suwung kini mencapai lebih dari 25-30 meter. Kebakaran bawah tanah (bara metana) menjadi ancaman rutin setiap musim kemarau, yang secara langsung merusak citra pariwisata Sanur dan Denpasar.
  • Status Lahan: Lahan TPA Suwung adalah milik kehutanan (pusat). Mandeknya izin revitalisasi menjadi taman hutan raya (tahura) seringkali tersangkut di birokrasi kementerian, seolah membiarkan “borok” ini tetap terbuka di jantung pariwisata Bali.

2. Kegagalan Teknologi TPST (Integrated Waste Treatment)

Pemerintah pusat melalui kementerian terkait mendorong pembangunan 3 TPST besar di Denpasar (Kesiman Kertalangu, Tahura, dan Padangsambian Kaja). Namun faktanya:

  • Mesin Mangkrak/Tidak Optimal: Hingga saat ini, teknologi pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) sering mengalami kerusakan teknis. Pusat terkesan “lepas tangan” setelah proyek fisik selesai, meninggalkan beban biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat tinggi pada APBD daerah.
  • Target vs Realitas: Target pengolahan 1.000 ton/hari tidak pernah tercapai secara konsisten, sehingga sampah kembali meluap ke pinggir jalan dan sungai.

3. Kebijakan Pendanaan: “Beban Daerah, Citra Nasional”

Ada ketimpangan nyata dalam kebijakan pendanaan pengolahan sampah antara Bali dan wilayah strategis lainnya:

  • Dana Dekonsentrasi Minim: Pendanaan dari APBN untuk operasional sampah di Bali terus dipangkas dengan alasan daerah harus mandiri secara fiskal melalui pungutan wisatawan.
  • Inkonsistensi Bantuan: Sementara IKN dan beberapa Destinasi Super Prioritas (DSP) lain mendapatkan kucuran dana jumbo untuk infrastruktur sanitasi, Bali justru diminta menanggung sendiri beban pengolahan sampah sisa mass-tourism yang notabene pajaknya (PPN/PPH) masuk ke kantong pusat.

Politisasi atas fakta di atas kita dapati di ruang publik menjadi:

1. Kegagalan Sistemik yang Dipersonalisasi: Masalah teknis TPST dan anggaran adalah domain kementerian (pusat), namun narasi yang diledakkan ke publik adalah “Koster Gagal Mengurus Sampah”. Ini adalah teknik gaslighting politik.

2. Menunggu Ledakan: Pusat seolah membiarkan TPA Suwung tetap kumuh untuk menjaga “citra buruk” Bali di bawah kepemimpinan PDIP, sebagai alat tawar untuk memaksa Bali tunduk pada agenda-agenda lain.

3. Paradoks Pungutan Wisatawan: Ketika Koster mencoba mencari solusi mandiri melalui pungutan wisatawan (International Tourism Levy), kebijakan ini pun terus dipantau ketat dan sering dikritik oleh oknum-oknum di koalisi pusat, seolah-olah Bali tidak boleh memiliki kemandirian finansial yang kuat.

Fakta 3: “Sandera Kartu LRT”

1. LRT Bali: Proyek Strategis yang Terjepit “Pusat-Sentris Pemangkasan Rute dan Fokus Bandara

Rencana awal LRT Bali dirancang untuk menghubungkan titik-titik krusial pariwisata. Namun, dinamika di pusat (Kementerian Perhubungan) terus menggeser fokus hanya pada rute Bandara Ngurah Rai – Central Parkir Kuta. Pemangkasan rute ini membuat proyek ini kehilangan esensinya sebagai solusi kemacetan total Bali, dan lebih terlihat sebagai proyek “fasilitas turis” yang operasionalnya sangat bergantung pada regulasi pusat.

2. Skema Pembiayaan yang Membebani Daerah

Fakta yang paling menekan adalah keengganan pusat untuk sepenuhnya mendanai LRT melalui APBN (seperti LRT Jabodebek atau Palembang).

  • Status Terkini: Bali didorong untuk menggunakan skema Pinjaman Luar Negeri (Loan) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
  • Implikasi Politik: Ini menempatkan Koster dalam posisi sulit. Jika ia mengambil pinjaman besar, ia akan diserang secara politik karena dianggap membebani fiskal daerah. Jika ia menolak, ia dituduh “menghambat kemajuan”.

3. Tarik Ulur Izin dan “Feasibility Study” (FS)

Meskipun Koster sangat progresif mendorong LRT (bahkan sudah melakukan pembicaraan dengan investor Korea Selatan dan Eropa), lampu hijau dari Jakarta terasa sangat lambat. FS berkali-kali ditinjau ulang oleh pusat. Ini adalah teknik birokrasi klasik untuk menahan momentum keberhasilan seorang kepala daerah agar tidak mendapat panggung prestasi di mata rakyat.

Dari fakta yang dijadikan alat penekan oleh pusat, dengan mudah kita bisa membaca:

  • Koster dijadikan “Tameng”: Masalah pendanaan dan mundurnya kontraktor adalah murni masalah ekonomi-politik di level pusat, namun dampak sosialnya (warga yang tanahnya digantung) dibiarkan meledak di tangan Koster.
  • Penyanderaan Ekonomi: Dengan “mengunci” lahan warga lewat Penlok yang tidak jelas eksekusinya, pusat seolah sedang menyandera stabilitas ekonomi akar rumput Bali untuk menciptakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan daerah.
  • Kontras Kebijakan: Pusat sangat cepat mencairkan anggaran untuk PSN di wilayah lain (seperti IKN atau tol di Jawa), namun untuk Bali, alasan “sepi peminat” selalu dijadikan pembenaran untuk menunda.

Ajakan untuk Rakyat Bali

Saya mengajak krama Bali untuk melihat fenomena ini dengan jernih. Jangan hanya melihat permukaan bahwa “gubernur gagal mengatasi sampah” atau “tol macet”. Pahami konstelasi politik yang sedang menjepitnya.

Persoalan Bali hari ini bukan sekadar urusan satu orang bernama Koster. Ini adalah urusan kedaulatan politik Bali di tengah tarikan kepentingan nasional yang ingin menyeragamkan warna politik di seluruh nusantara. Kita harus lebih bijak: jika kita membiarkan pemimpin kita dipukul sendirian dalam posisi terjepit seperti ini, maka sebenarnya yang sedang dilemahkan adalah posisi tawar Bali itu sendiri di hadapan pusat.

Mari kita lihat dengan hati, bukan sekadar dengan emosi yang disulut oleh narasi-narasi buatan atau setidaknya mari ujian bersama tentang apa itu “ngrombo” sebagai adat istiadat  nak Bali seken. Salam Bali Dwipa Jaya! [T]

Prambanan, 10/4/2026

Tags: baliWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Next Post

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails
Next Post
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 5, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co