6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
in Opini
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada kesan kuat bahwa Bali sedang menjadi sasaran sebuah orkestrasi besar. Koalisi gemuk di tingkat pusat seolah-olah sedang melakukan operasi yang terstruktur dan sistematis untuk memojokkan posisi I Wayan Koster, Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Bali.

Instrumen Penekan: Sampah dan Tol Mengwi-Gilimanuk dan “Kartu” LRT

Dua isu krusial sengaja diletakkan di depan mata rakyat Bali sebagai “senjata”: persoalan sampah yang tak kunjung usai dan mandeknya proyek Tol Mengwi-Gilimanuk.

Faktanya, proyek strategis nasional (PSN) seperti jalan tol seringkali bergantung penuh pada kebijakan anggaran dan eksekusi pusat. Namun, narasi yang dibangun di bawah adalah kegagalan kepemimpinan lokal. Ini adalah pola klasik: menciptakan depresi publik terhadap figur pemimpinnya sendiri melalui isu fundamental.

•           Fakta Indikator: Penundaan progres fisik Tol Mengwi-Gilimanuk yang sempat terkendala pendanaan pasca-mundurnya kontraktor utama, seringkali digoreng sebagai ketidakmampuan diplomasi Gubernur di tingkat pusat.

Agenda Besar: “De-PDIP-isasi” Bali

Ada bau menyengat yang mengindikasikan bahwa agenda besarnya adalah melepaskan Bali dari genggaman PDI Perjuangan. Bali adalah benteng terakhir, “kandang banteng  yang paling sakral” setelah Jawa Tengah. Menekan Koster adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan moral kader di bawah.

Ironisnya, tekanan ini tidak hanya datang dari luar (Jakarta). Koster kini menghadapi situasi “api dalam sekam” di internal PDIP Bali sendiri. Ada faksi-faksi yang sejak awal memang tidak menginginkan Koster memimpin, dan kini seolah mendapat momentum untuk ikut menekan dari dalam.

“Sandera” dan Dendam Politik

Sulit untuk tidak mengaitkan tekanan ini dengan sikap tegas Ketum PDIP,  Megawati Soekarnoputri yang menolak pembangunan Bandara Bali Utara. Keputusan tersebut tampaknya menyulut “balas dendam sandera” dari pihak-pihak yang kepentingannya terganggu. Koster, sebagai kader setia dan kepanjangan tangan partai di daerah, harus memikul konsekuensi dari kebijakan ideologis tersebut sendirian.

Posisi Koster saat ini adalah potret seorang pemimpin yang nyaris sendirian. Ia ditekan koalisi besar pusat, dikepung isu teknis yang dipolitisasi, dan digoyang oleh kawan segerbong yang menyimpan belati di punggung.

Fakta 1: Status Lumpuh Tol Mengwi-Gilimanuk

Berdasarkan laporan terkini dari Kementerian Pekerjaan Umum dan perkembangan di lapangan:

1. Kedaluwarsa Penlok (Penetapan Lokasi)

Masa berlaku Surat Keputusan Penetapan Lokasi (Penlok) untuk tol ini telah berakhir pada 25 Februari 2026. Akibatnya, secara hukum proses pembebasan lahan harus diulang dari nol. Ribuan bidang tanah milik warga yang selama dua tahun “terkunci” (tidak bisa dijual atau diagunkan) kini statusnya mengambang, memicu kemarahan warga yang dialamatkan kepada Pemerintah Provinsi.

2. Pengunduran Jadwal Lelang (Tender Ulang 2027)

Meskipun sebelumnya dijanjikan akan segera dimulai, Kementerian PU baru-baru ini mengonfirmasi bahwa proses tender ulang baru direncanakan pada tahun 2027. Target pengoperasian pun mundur jauh ke tahun 2031. Penundaan berkali-kali ini mengesankan bahwa pusat tidak menaruh urgensi pada proyek ini, namun tetap membiarkan “isu”-nya hidup untuk memojokkan gubernur.

3. Mundurnya Kontraktor dan Masalah “Financial Close”

Penyebab utama mangkraknya proyek ini adalah mundurnya konsorsium PT Tol Jagat Kerthi Bali karena gagal mendapatkan pendanaan (financial close). Hingga April 2026, investor besar masih “emoh” masuk dengan alasan trafik kendaraan yang dianggap sepi (tidak menguntungkan secara bisnis). Pusat kini mencoba mengubah skema menjadi solicited (diprakarsai pemerintah), namun anggaran yang dialokasikan masih jauh dari kebutuhan total investasi sebesar Rp25,4 triliun.

4. Pemangkasan Prioritas Ruas

Dalam rencana terbaru, terdapat indikasi bahwa Seksi I (Gilimanuk–Pekutatan) dibatalkan atau ditunda tanpa batas waktu. Fokus hanya digeser ke Seksi II dan III. Hal ini memicu kekecewaan besar di Bali Barat, wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan PDI Perjuangan, yang merasa dikhianati oleh janji pembangunan nasional.

Fakta 2: Sampah Bali (Status April 2026)

1. Tragedi TPA Suwung: Bom Waktu yang Dibiarkan

TPA Suwung seharusnya sudah ditutup total sejak 2021, namun hingga April 2026, aktivitas pembuangan masih terjadi karena kegagalan pembangunan infrastruktur alternatif.

  • Kapasitas Lampau Batas: Ketinggian tumpukan sampah di Suwung kini mencapai lebih dari 25-30 meter. Kebakaran bawah tanah (bara metana) menjadi ancaman rutin setiap musim kemarau, yang secara langsung merusak citra pariwisata Sanur dan Denpasar.
  • Status Lahan: Lahan TPA Suwung adalah milik kehutanan (pusat). Mandeknya izin revitalisasi menjadi taman hutan raya (tahura) seringkali tersangkut di birokrasi kementerian, seolah membiarkan “borok” ini tetap terbuka di jantung pariwisata Bali.

2. Kegagalan Teknologi TPST (Integrated Waste Treatment)

Pemerintah pusat melalui kementerian terkait mendorong pembangunan 3 TPST besar di Denpasar (Kesiman Kertalangu, Tahura, dan Padangsambian Kaja). Namun faktanya:

  • Mesin Mangkrak/Tidak Optimal: Hingga saat ini, teknologi pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) sering mengalami kerusakan teknis. Pusat terkesan “lepas tangan” setelah proyek fisik selesai, meninggalkan beban biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat tinggi pada APBD daerah.
  • Target vs Realitas: Target pengolahan 1.000 ton/hari tidak pernah tercapai secara konsisten, sehingga sampah kembali meluap ke pinggir jalan dan sungai.

3. Kebijakan Pendanaan: “Beban Daerah, Citra Nasional”

Ada ketimpangan nyata dalam kebijakan pendanaan pengolahan sampah antara Bali dan wilayah strategis lainnya:

  • Dana Dekonsentrasi Minim: Pendanaan dari APBN untuk operasional sampah di Bali terus dipangkas dengan alasan daerah harus mandiri secara fiskal melalui pungutan wisatawan.
  • Inkonsistensi Bantuan: Sementara IKN dan beberapa Destinasi Super Prioritas (DSP) lain mendapatkan kucuran dana jumbo untuk infrastruktur sanitasi, Bali justru diminta menanggung sendiri beban pengolahan sampah sisa mass-tourism yang notabene pajaknya (PPN/PPH) masuk ke kantong pusat.

Politisasi atas fakta di atas kita dapati di ruang publik menjadi:

1. Kegagalan Sistemik yang Dipersonalisasi: Masalah teknis TPST dan anggaran adalah domain kementerian (pusat), namun narasi yang diledakkan ke publik adalah “Koster Gagal Mengurus Sampah”. Ini adalah teknik gaslighting politik.

2. Menunggu Ledakan: Pusat seolah membiarkan TPA Suwung tetap kumuh untuk menjaga “citra buruk” Bali di bawah kepemimpinan PDIP, sebagai alat tawar untuk memaksa Bali tunduk pada agenda-agenda lain.

3. Paradoks Pungutan Wisatawan: Ketika Koster mencoba mencari solusi mandiri melalui pungutan wisatawan (International Tourism Levy), kebijakan ini pun terus dipantau ketat dan sering dikritik oleh oknum-oknum di koalisi pusat, seolah-olah Bali tidak boleh memiliki kemandirian finansial yang kuat.

Fakta 3: “Sandera Kartu LRT”

1. LRT Bali: Proyek Strategis yang Terjepit “Pusat-Sentris Pemangkasan Rute dan Fokus Bandara

Rencana awal LRT Bali dirancang untuk menghubungkan titik-titik krusial pariwisata. Namun, dinamika di pusat (Kementerian Perhubungan) terus menggeser fokus hanya pada rute Bandara Ngurah Rai – Central Parkir Kuta. Pemangkasan rute ini membuat proyek ini kehilangan esensinya sebagai solusi kemacetan total Bali, dan lebih terlihat sebagai proyek “fasilitas turis” yang operasionalnya sangat bergantung pada regulasi pusat.

2. Skema Pembiayaan yang Membebani Daerah

Fakta yang paling menekan adalah keengganan pusat untuk sepenuhnya mendanai LRT melalui APBN (seperti LRT Jabodebek atau Palembang).

  • Status Terkini: Bali didorong untuk menggunakan skema Pinjaman Luar Negeri (Loan) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
  • Implikasi Politik: Ini menempatkan Koster dalam posisi sulit. Jika ia mengambil pinjaman besar, ia akan diserang secara politik karena dianggap membebani fiskal daerah. Jika ia menolak, ia dituduh “menghambat kemajuan”.

3. Tarik Ulur Izin dan “Feasibility Study” (FS)

Meskipun Koster sangat progresif mendorong LRT (bahkan sudah melakukan pembicaraan dengan investor Korea Selatan dan Eropa), lampu hijau dari Jakarta terasa sangat lambat. FS berkali-kali ditinjau ulang oleh pusat. Ini adalah teknik birokrasi klasik untuk menahan momentum keberhasilan seorang kepala daerah agar tidak mendapat panggung prestasi di mata rakyat.

Dari fakta yang dijadikan alat penekan oleh pusat, dengan mudah kita bisa membaca:

  • Koster dijadikan “Tameng”: Masalah pendanaan dan mundurnya kontraktor adalah murni masalah ekonomi-politik di level pusat, namun dampak sosialnya (warga yang tanahnya digantung) dibiarkan meledak di tangan Koster.
  • Penyanderaan Ekonomi: Dengan “mengunci” lahan warga lewat Penlok yang tidak jelas eksekusinya, pusat seolah sedang menyandera stabilitas ekonomi akar rumput Bali untuk menciptakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan daerah.
  • Kontras Kebijakan: Pusat sangat cepat mencairkan anggaran untuk PSN di wilayah lain (seperti IKN atau tol di Jawa), namun untuk Bali, alasan “sepi peminat” selalu dijadikan pembenaran untuk menunda.

Ajakan untuk Rakyat Bali

Saya mengajak krama Bali untuk melihat fenomena ini dengan jernih. Jangan hanya melihat permukaan bahwa “gubernur gagal mengatasi sampah” atau “tol macet”. Pahami konstelasi politik yang sedang menjepitnya.

Persoalan Bali hari ini bukan sekadar urusan satu orang bernama Koster. Ini adalah urusan kedaulatan politik Bali di tengah tarikan kepentingan nasional yang ingin menyeragamkan warna politik di seluruh nusantara. Kita harus lebih bijak: jika kita membiarkan pemimpin kita dipukul sendirian dalam posisi terjepit seperti ini, maka sebenarnya yang sedang dilemahkan adalah posisi tawar Bali itu sendiri di hadapan pusat.

Mari kita lihat dengan hati, bukan sekadar dengan emosi yang disulut oleh narasi-narasi buatan atau setidaknya mari ujian bersama tentang apa itu “ngrombo” sebagai adat istiadat  nak Bali seken. Salam Bali Dwipa Jaya! [T]

Prambanan, 10/4/2026

Tags: baliWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Next Post

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co