26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 12, 2026
in Esai
Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Seafood Kedonganan

Jalan sore menyususi tepi pantai
Langit jingga menutup hari
Masa depan pariwisata tak hanya soal ramai
Namun keseimbangan yang terus dijaga setiap hari

SELAMA puluhan tahun, pariwisata menjadi denyut utama perekonomian Bali. Sebelum pandemi, pulau ini menerima lebih dari enam juta wisatawan mancanegara setiap tahun dan dikenal sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia. Namun pandemi COVID-19 pada 2020 seolah menekan tombol jeda bagi pariwisata Bali.

Ketika mobilitas wisatawan global berhenti, sektor pariwisata langsung terpuruk dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat yang bergantung pada industri ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan resiliensi, kemampuan destinasi untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya di tengah ketidakpastian.

Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun resiliensi pariwisata, yaitu filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan pentingnya harmoni antara tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia: hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan antar manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Selama ini Tri Hita Karana sering dipahami sebagai nilai budaya atau filosofi kehidupan masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap krisis.

Salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam praktik pariwisata dapat ditemukan di kawasan pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner seafood di Bali yang telah berkembang selama beberapa dekade. Setiap sore hingga malam hari, wisatawan datang ke pantai Kedonganan untuk menikmati hidangan laut segar sambil menikmati suasana pantai dan matahari terbenam.

Tri Hita Karana dalam Resiliensi Pariwisata Bali

Pesisir Kedonganan bukan sekadar kawasan kuliner yang menawarkan pengalaman gastronomi bagi wisatawan. Di balik deretan kafe seafood di tepi pantai, terdapat sistem sosial masyarakat pesisir yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan kawasan tersebut.

Berbeda dengan banyak kawasan wisata yang berkembang melalui investasi besar dari luar daerah, usaha kuliner di Kedonganan sebagian besar dikelola oleh masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan usaha yang berbasis komunitas.

Praktik ini mencerminkan nilai pawongan dalam Tri Hita Karana. Solidaritas sosial dan kerja sama antar masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi pariwisata. Melalui mekanisme komunitas, masyarakat lokal memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan, menjaga ketertiban usaha, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selain hubungan sosial antar masyarakat, keberadaan kawasan kuliner Kedonganan juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan pesisir. Sebagai kawasan yang berbasis pada sumber daya laut, keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir menjadi faktor kunci bagi kelangsungan usaha kuliner di wilayah ini. Dalam konteks tersebut, nilai palemahan dalam Tri Hita Karana menjadi sangat relevan. Aktivitas ekonomi pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan laut dan pesisir yang menjadi sumber utama bahan baku kuliner seafood.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Kedonganan juga tetap terhubung dengan nilai spiritual melalui berbagai praktik keagamaan dan upacara adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Aktivitas ekonomi pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual masyarakat, mencerminkan nilai parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa kuliner dapat memainkan peran penting dalam memperkuat resiliensi pariwisata. Berbeda dengan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas internasional, usaha kuliner memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, kuliner berbasis sumber daya lokal juga memungkinkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi pariwisata.

Belajar Ketahanan Pariwisata dari Kuliner Pesisir Kedonganan

Tekanan pembangunan pariwisata, perubahan kondisi lingkungan pesisir, serta persaingan yang semakin ketat dalam industri pariwisata global dapat memengaruhi keberlanjutan kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi kompas penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui strategi pemasaran atau investasi besar dalam infrastruktur, tetapi justru tumbuh dari kekuatan komunitas lokal yang mampu merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun, melainkan oleh kemampuan destinasi ini untuk berkembang tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.

Di Kedonganan, sepiring seafood yang disajikan di tepi pantai bukan sekadar hidangan laut yang menggugah selera wisatawan. Di balik aroma ikan bakar dan suasana matahari terbenam, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Aktivitas kuliner di kawasan ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal. Masyarakat bekerja bersama, memanfaatkan sumber daya laut secara bijak, sekaligus tetap menjaga tradisi dan kehidupan spiritual yang menjadi identitas Bali. Harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual inilah yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dari Kedonganan, kita belajar bahwa kekuatan pariwisata Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni tersebut. Harmoni itulah yang menjadi fondasi penting bagi resiliensi pariwisata Bali di tengah berbagai ketidakpastian global. [T]

Penulis: AA Ayu Arun Suwi Arianty
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Kedonganankulinerpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails
Next Post
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BALI DALAM JEPITAN ---Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”
Khas

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co