6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 12, 2026
in Esai
Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Seafood Kedonganan

Jalan sore menyususi tepi pantai
Langit jingga menutup hari
Masa depan pariwisata tak hanya soal ramai
Namun keseimbangan yang terus dijaga setiap hari

SELAMA puluhan tahun, pariwisata menjadi denyut utama perekonomian Bali. Sebelum pandemi, pulau ini menerima lebih dari enam juta wisatawan mancanegara setiap tahun dan dikenal sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia. Namun pandemi COVID-19 pada 2020 seolah menekan tombol jeda bagi pariwisata Bali.

Ketika mobilitas wisatawan global berhenti, sektor pariwisata langsung terpuruk dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat yang bergantung pada industri ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan resiliensi, kemampuan destinasi untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya di tengah ketidakpastian.

Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun resiliensi pariwisata, yaitu filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan pentingnya harmoni antara tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia: hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan antar manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Selama ini Tri Hita Karana sering dipahami sebagai nilai budaya atau filosofi kehidupan masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap krisis.

Salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam praktik pariwisata dapat ditemukan di kawasan pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner seafood di Bali yang telah berkembang selama beberapa dekade. Setiap sore hingga malam hari, wisatawan datang ke pantai Kedonganan untuk menikmati hidangan laut segar sambil menikmati suasana pantai dan matahari terbenam.

Tri Hita Karana dalam Resiliensi Pariwisata Bali

Pesisir Kedonganan bukan sekadar kawasan kuliner yang menawarkan pengalaman gastronomi bagi wisatawan. Di balik deretan kafe seafood di tepi pantai, terdapat sistem sosial masyarakat pesisir yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan kawasan tersebut.

Berbeda dengan banyak kawasan wisata yang berkembang melalui investasi besar dari luar daerah, usaha kuliner di Kedonganan sebagian besar dikelola oleh masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan usaha yang berbasis komunitas.

Praktik ini mencerminkan nilai pawongan dalam Tri Hita Karana. Solidaritas sosial dan kerja sama antar masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi pariwisata. Melalui mekanisme komunitas, masyarakat lokal memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan, menjaga ketertiban usaha, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selain hubungan sosial antar masyarakat, keberadaan kawasan kuliner Kedonganan juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan pesisir. Sebagai kawasan yang berbasis pada sumber daya laut, keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir menjadi faktor kunci bagi kelangsungan usaha kuliner di wilayah ini. Dalam konteks tersebut, nilai palemahan dalam Tri Hita Karana menjadi sangat relevan. Aktivitas ekonomi pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan laut dan pesisir yang menjadi sumber utama bahan baku kuliner seafood.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Kedonganan juga tetap terhubung dengan nilai spiritual melalui berbagai praktik keagamaan dan upacara adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Aktivitas ekonomi pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual masyarakat, mencerminkan nilai parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa kuliner dapat memainkan peran penting dalam memperkuat resiliensi pariwisata. Berbeda dengan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas internasional, usaha kuliner memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, kuliner berbasis sumber daya lokal juga memungkinkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi pariwisata.

Belajar Ketahanan Pariwisata dari Kuliner Pesisir Kedonganan

Tekanan pembangunan pariwisata, perubahan kondisi lingkungan pesisir, serta persaingan yang semakin ketat dalam industri pariwisata global dapat memengaruhi keberlanjutan kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi kompas penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui strategi pemasaran atau investasi besar dalam infrastruktur, tetapi justru tumbuh dari kekuatan komunitas lokal yang mampu merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun, melainkan oleh kemampuan destinasi ini untuk berkembang tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.

Di Kedonganan, sepiring seafood yang disajikan di tepi pantai bukan sekadar hidangan laut yang menggugah selera wisatawan. Di balik aroma ikan bakar dan suasana matahari terbenam, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Aktivitas kuliner di kawasan ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal. Masyarakat bekerja bersama, memanfaatkan sumber daya laut secara bijak, sekaligus tetap menjaga tradisi dan kehidupan spiritual yang menjadi identitas Bali. Harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual inilah yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dari Kedonganan, kita belajar bahwa kekuatan pariwisata Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni tersebut. Harmoni itulah yang menjadi fondasi penting bagi resiliensi pariwisata Bali di tengah berbagai ketidakpastian global. [T]

Penulis: AA Ayu Arun Suwi Arianty
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Kedonganankulinerpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BALI DALAM JEPITAN ---Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co