17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 12, 2026
in Esai
Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Seafood Kedonganan

Jalan sore menyususi tepi pantai
Langit jingga menutup hari
Masa depan pariwisata tak hanya soal ramai
Namun keseimbangan yang terus dijaga setiap hari

SELAMA puluhan tahun, pariwisata menjadi denyut utama perekonomian Bali. Sebelum pandemi, pulau ini menerima lebih dari enam juta wisatawan mancanegara setiap tahun dan dikenal sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia. Namun pandemi COVID-19 pada 2020 seolah menekan tombol jeda bagi pariwisata Bali.

Ketika mobilitas wisatawan global berhenti, sektor pariwisata langsung terpuruk dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat yang bergantung pada industri ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan resiliensi, kemampuan destinasi untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya di tengah ketidakpastian.

Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun resiliensi pariwisata, yaitu filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan pentingnya harmoni antara tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia: hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan antar manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Selama ini Tri Hita Karana sering dipahami sebagai nilai budaya atau filosofi kehidupan masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap krisis.

Salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam praktik pariwisata dapat ditemukan di kawasan pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner seafood di Bali yang telah berkembang selama beberapa dekade. Setiap sore hingga malam hari, wisatawan datang ke pantai Kedonganan untuk menikmati hidangan laut segar sambil menikmati suasana pantai dan matahari terbenam.

Tri Hita Karana dalam Resiliensi Pariwisata Bali

Pesisir Kedonganan bukan sekadar kawasan kuliner yang menawarkan pengalaman gastronomi bagi wisatawan. Di balik deretan kafe seafood di tepi pantai, terdapat sistem sosial masyarakat pesisir yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan kawasan tersebut.

Berbeda dengan banyak kawasan wisata yang berkembang melalui investasi besar dari luar daerah, usaha kuliner di Kedonganan sebagian besar dikelola oleh masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan usaha yang berbasis komunitas.

Praktik ini mencerminkan nilai pawongan dalam Tri Hita Karana. Solidaritas sosial dan kerja sama antar masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi pariwisata. Melalui mekanisme komunitas, masyarakat lokal memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan, menjaga ketertiban usaha, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selain hubungan sosial antar masyarakat, keberadaan kawasan kuliner Kedonganan juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan pesisir. Sebagai kawasan yang berbasis pada sumber daya laut, keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir menjadi faktor kunci bagi kelangsungan usaha kuliner di wilayah ini. Dalam konteks tersebut, nilai palemahan dalam Tri Hita Karana menjadi sangat relevan. Aktivitas ekonomi pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan laut dan pesisir yang menjadi sumber utama bahan baku kuliner seafood.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Kedonganan juga tetap terhubung dengan nilai spiritual melalui berbagai praktik keagamaan dan upacara adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Aktivitas ekonomi pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual masyarakat, mencerminkan nilai parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa kuliner dapat memainkan peran penting dalam memperkuat resiliensi pariwisata. Berbeda dengan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas internasional, usaha kuliner memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, kuliner berbasis sumber daya lokal juga memungkinkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi pariwisata.

Belajar Ketahanan Pariwisata dari Kuliner Pesisir Kedonganan

Tekanan pembangunan pariwisata, perubahan kondisi lingkungan pesisir, serta persaingan yang semakin ketat dalam industri pariwisata global dapat memengaruhi keberlanjutan kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi kompas penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui strategi pemasaran atau investasi besar dalam infrastruktur, tetapi justru tumbuh dari kekuatan komunitas lokal yang mampu merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun, melainkan oleh kemampuan destinasi ini untuk berkembang tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.

Di Kedonganan, sepiring seafood yang disajikan di tepi pantai bukan sekadar hidangan laut yang menggugah selera wisatawan. Di balik aroma ikan bakar dan suasana matahari terbenam, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Aktivitas kuliner di kawasan ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal. Masyarakat bekerja bersama, memanfaatkan sumber daya laut secara bijak, sekaligus tetap menjaga tradisi dan kehidupan spiritual yang menjadi identitas Bali. Harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual inilah yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dari Kedonganan, kita belajar bahwa kekuatan pariwisata Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni tersebut. Harmoni itulah yang menjadi fondasi penting bagi resiliensi pariwisata Bali di tengah berbagai ketidakpastian global. [T]

Penulis: AA Ayu Arun Suwi Arianty
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Kedonganankulinerpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BALI DALAM JEPITAN ---Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co