26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 12, 2026
in Esai
Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Seafood Kedonganan

Jalan sore menyususi tepi pantai
Langit jingga menutup hari
Masa depan pariwisata tak hanya soal ramai
Namun keseimbangan yang terus dijaga setiap hari

SELAMA puluhan tahun, pariwisata menjadi denyut utama perekonomian Bali. Sebelum pandemi, pulau ini menerima lebih dari enam juta wisatawan mancanegara setiap tahun dan dikenal sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia. Namun pandemi COVID-19 pada 2020 seolah menekan tombol jeda bagi pariwisata Bali.

Ketika mobilitas wisatawan global berhenti, sektor pariwisata langsung terpuruk dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat yang bergantung pada industri ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan resiliensi, kemampuan destinasi untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya di tengah ketidakpastian.

Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun resiliensi pariwisata, yaitu filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan pentingnya harmoni antara tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia: hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan antar manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Selama ini Tri Hita Karana sering dipahami sebagai nilai budaya atau filosofi kehidupan masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap krisis.

Salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam praktik pariwisata dapat ditemukan di kawasan pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner seafood di Bali yang telah berkembang selama beberapa dekade. Setiap sore hingga malam hari, wisatawan datang ke pantai Kedonganan untuk menikmati hidangan laut segar sambil menikmati suasana pantai dan matahari terbenam.

Tri Hita Karana dalam Resiliensi Pariwisata Bali

Pesisir Kedonganan bukan sekadar kawasan kuliner yang menawarkan pengalaman gastronomi bagi wisatawan. Di balik deretan kafe seafood di tepi pantai, terdapat sistem sosial masyarakat pesisir yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan kawasan tersebut.

Berbeda dengan banyak kawasan wisata yang berkembang melalui investasi besar dari luar daerah, usaha kuliner di Kedonganan sebagian besar dikelola oleh masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan usaha yang berbasis komunitas.

Praktik ini mencerminkan nilai pawongan dalam Tri Hita Karana. Solidaritas sosial dan kerja sama antar masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi pariwisata. Melalui mekanisme komunitas, masyarakat lokal memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan, menjaga ketertiban usaha, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selain hubungan sosial antar masyarakat, keberadaan kawasan kuliner Kedonganan juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan pesisir. Sebagai kawasan yang berbasis pada sumber daya laut, keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir menjadi faktor kunci bagi kelangsungan usaha kuliner di wilayah ini. Dalam konteks tersebut, nilai palemahan dalam Tri Hita Karana menjadi sangat relevan. Aktivitas ekonomi pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan laut dan pesisir yang menjadi sumber utama bahan baku kuliner seafood.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Kedonganan juga tetap terhubung dengan nilai spiritual melalui berbagai praktik keagamaan dan upacara adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Aktivitas ekonomi pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual masyarakat, mencerminkan nilai parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa kuliner dapat memainkan peran penting dalam memperkuat resiliensi pariwisata. Berbeda dengan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas internasional, usaha kuliner memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, kuliner berbasis sumber daya lokal juga memungkinkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi pariwisata.

Belajar Ketahanan Pariwisata dari Kuliner Pesisir Kedonganan

Tekanan pembangunan pariwisata, perubahan kondisi lingkungan pesisir, serta persaingan yang semakin ketat dalam industri pariwisata global dapat memengaruhi keberlanjutan kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi kompas penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui strategi pemasaran atau investasi besar dalam infrastruktur, tetapi justru tumbuh dari kekuatan komunitas lokal yang mampu merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun, melainkan oleh kemampuan destinasi ini untuk berkembang tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.

Di Kedonganan, sepiring seafood yang disajikan di tepi pantai bukan sekadar hidangan laut yang menggugah selera wisatawan. Di balik aroma ikan bakar dan suasana matahari terbenam, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Aktivitas kuliner di kawasan ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal. Masyarakat bekerja bersama, memanfaatkan sumber daya laut secara bijak, sekaligus tetap menjaga tradisi dan kehidupan spiritual yang menjadi identitas Bali. Harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual inilah yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dari Kedonganan, kita belajar bahwa kekuatan pariwisata Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni tersebut. Harmoni itulah yang menjadi fondasi penting bagi resiliensi pariwisata Bali di tengah berbagai ketidakpastian global. [T]

Penulis: AA Ayu Arun Suwi Arianty
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Kedonganankulinerpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BALI DALAM JEPITAN ---Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co