26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Mahijasena by Mahijasena
April 12, 2026
in Esai
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.
Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya untuk mengumpulkan data, pengalaman, dan material yang nantinya akan mengkonstruksi pertunjukan yang sedang saya bangun.

Bukan kelas, bukan pula latihan dalam pengertian yang selama ini saya kenal.
Ruang ini lebih dekat pada sebuah laboratorium tempat kami mencoba menangkap sesuatu yang sering terlewat: hal-hal kecil dalam tubuh, yang justru menjadi dasar dari praktik tari itu sendiri pengalaman tubuh yang dalam banyak situasi justru jarang benar-benar dihadirkan.

Ruang seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sebelumnya, peristiwa serupa pernah hidup dalam beberapa pertemuan yang diinisiasi oleh sebuah platform berbasis media sosial, khususnya Instagram, bernama Tanpakata.Bali.

Di sana, tubuh dipertemukan, pengalaman dibagikan, dan praktik dijalankan tanpa tuntutan bentuk yang final.
Namun, seiring waktu, banyak teman-teman di Tanpakata.Bali telah lulus dalam jenjang akademisinya dan melanjutkan jalannya masing-masing, sehingga ruang-ruang seperti ini menjadi semakin jarang terjadi.

Dari situ, muncul dorongan dalam diri saya untuk menghadirkan kembali peristiwa semacam ini, bukan untuk mengulang, tetapi untuk melanjutkan dalam konteks kebutuhan saya saat ini, yaitu proses penciptaan karya, sekaligus membuka kembali ruang bagi pengalaman tubuh yang mulai jarang mendapat tempat.

Ruang ini kemudian bisa terjadi melalui kerja kolektif.
Dayu Tri berperan sebagai manajer produksi yang mengkoordinir jalannya kegiatan, terutama dalam pengaturan dan komunikasi secara online.

Sementara di lapangan, bersama Arya Krisna, Githa, Dekpa, dan saya, kami saling berbagi peran untuk memastikan peristiwa ini dapat berlangsung.

Tidak ada struktur yang kaku. Yang ada adalah kesadaran bersama untuk menghadirkan pertemuan.

Kesepakatan: Membongkar Cara Lama Melihat Gerak

Kami memulai dengan kesepakatan sederhana. Ruang ini adalah laboratorium. Kami tidak mencari bentuk jadi, melainkan partikel-partikel kecil dalam tari.

Gerak tidak diberi label. Tidak ada benar atau salah, indah atau jelek.

Kesepakatan ini terasa sederhana, tetapi tidak mudah dijalani. Karena sebagian besar peserta telah terbiasa dengan sistem penilaian sebuah sistem yang secara tidak langsung membentuk cara tubuh dipahami, sekaligus membatasi bagaimana tubuh dapat dialami.

Kami hanya memegang satu hal: kejujuran terhadap apa yang dirasakan tubuh, dan keberanian untuk mengkomunikasikannya.

Tiga Menit yang Membuka

Saya meminta mereka bergerak selama tiga menit.

Tanpa musik.
Tanpa arahan bentuk.

Setelah itu, saya bertanya: apa yang kalian rasakan?

Jawaban yang muncul sederhana: bingung, capek, ngos-ngosan.

Jawaban-jawaban ini justru membuka sesuatu. Bahwa tubuh memang bergerak, tetapi tidak sepenuhnya disadari.

Saya kemudian bertanya: apakah kalian sadar dengan nafas kalian saat bergerak?

Pertanyaan ini tidak langsung terjawab. Beberapa terdiam. Beberapa mencoba mengingat.

Dan di situlah terlihat bahwa nafas sesuatu yang paling dekat dengan tubuh justru sering tidak hadir dalam kesadaran saat bergerak.

Nafas yang Hilang di Balik Hitungan

Dalam praktik yang selama ini mereka dan saya jalani, gerak sering dibangun melalui hitungan.

Satu sampai delapan.
Pengulangan.
Struktur.

Hitungan menjadi pegangan, tetapi secara perlahan menggantikan kehadiran nafas.

Gerak menjadi sesuatu yang diatur dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam tubuh.

Di titik ini mulai terasa bahwa pengalaman tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bahkan cenderung terpinggirkan oleh sistem yang lebih menekankan struktur.

Di titik ini, saya mulai menawarkan sebuah pendekatan: asanas.

Asanas: Pengetahuan yang Diterima, Diolah, dan Disemai

Praktik asanas yang saya hadirkan dalam ruang ini bukan sesuatu yang saya temukan sendiri.

Ia saya dapatkan melalui proses mapaguruan di komunitas Bumi Bajra, yang bermuara pada Sanggar Maha Bajra Sandhi, dan ditransfer oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Pengetahuan itu tidak saya simpan sebagai sesuatu yang utuh. Ia mengalami proses dalam tubuh saya dijalani, dirasakan, dipertanyakan, bahkan diragukan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dipindahkan secara langsung. Ia perlu diolah.

Apa yang saya lakukan dalam ruang ini bukanlah mengajarkan asanas sebagaimana saya terima,
melainkan mencoba menyemai.

Menyemai dalam arti membuka kemungkinan agar pengetahuan ini tumbuh dengan cara yang berbeda di setiap tubuh dan sekaligus memberi ruang bagi pengalaman tubuh untuk kembali muncul ke permukaan.

Dari Sikap ke Kesadaran

Ketika saya bertanya tentang asanas, beberapa peserta menjawab bahwa itu adalah “sikap sempurna sebelum sembahyang.”

Saya hanya mengajak mereka masuk lebih dalam.

Kami memilih satu sikap: silasana, vajrasana, atau padaasana.

Kami diam.
Lalu mulai menyadari nafas.

Menarik.
Menghembuskan.

Dada mengembang.
Dada mengempis.

Sesuatu yang sederhana, tetapi justru jarang benar-benar disadari

Memvisualkan Nafas: Tubuh Mulai Berbicara

Dari kesadaran itu, kami mulai memvisualkan nafas ke dalam gerak:

menarik nafas → tubuh dan tangan mengembang
menahan → tubuh berada pada titik maksimal
menghembuskan → tubuh mengempis kembali

Di sini mulai terlihat bahwa setiap tubuh berbeda.

Panjang nafas berbeda.
Kapasitas berbeda.
Respon tubuh berbeda.

Ketika diminta menahan nafas, reaksi mulai muncul: getaran, ketegangan, dorongan untuk melewati batas.

Tubuh mulai berbicara bukan sebagai objek yang diarahkan, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.

Asanas sebagai Pintu Gerbang Indrawi

Latihan kemudian berkembang. Asanas menjadi pintu gerbang. Dari pose, ke nafas, lalu ke indra.

Kami mengaktifkan indra satu per satu, menyerap apa yang ada di sekitar.

Dan dari situ, kami mengamati:

bagaimana nafas merespon,
bagaimana tubuh bergerak,
dan bagaimana pengalaman terbentuk.

Gerak tidak lagi dimulai dari ide, melainkan dari apa yang dialami.

Temuan: Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan

Dari proses ini, beberapa hal menjadi terlihat.

Peristiwa seperti ini ternyata jarang terjadi, bahkan di lingkungan mahasiswa tari.

Ini menjadi sebuah ironi.

Tubuh dipelajari, tetapi tidak selalu dialami secara mendalam.
Nafas tergeser oleh hitungan. Kesadaran tergeser oleh struktur.

Referensi gerak banyak berasal dari media digital, yang lewat dalam algoritma pribadi.

Dalam kondisi ini, tubuh cenderung menjadi reproduktif, bukan reflektif.

Di titik inilah saya mulai melihat bahwa pengalaman tubuh tidak sepenuhnya hilang, tetapi berada di posisi yang terpinggirkan tidak menjadi pusat dalam praktik, melainkan berada di pinggiran dari sistem yang dijalankan.

Penutup: Menuju Konstruksi Karya

Peristiwa ini bukan hanya tentang berbagi praktik.

Ia menjadi bagian dari proses saya dalam mengumpulkan pengalaman, membaca respon tubuh orang lain, dan memahami kemungkinan metode kerja yang saya gunakan.

Dalam konteks Tugas Akhir, ruang ini berfungsi sebagai: tempat menguji pendekatan, ruang membaca respon partisipan, sekaligus ladang untuk menemukan material gerak dan kesadaran

Asanas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi latihan, tetapi mulai terlihat sebagai metode yang berpotensi mengembalikan pengalaman tubuh sebagai bagian penting dalam praktik.

Dari peristiwa ini, saya tidak merasa menemukan bentuk akhir. Namun saya mulai melihat arah: bahwa karya yang sedang saya bangun tidak lahir dari bentuk yang dipaksakan, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil seperti ini pertemuan antara tubuh, nafas, pengalaman, dan kesadaran yang perlahan disusun menjadi sebuah kemungkinan pertunjukan. [T]

Tags: Pendidikanseni tariTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Next Post

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co