17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Mahijasena by Mahijasena
April 12, 2026
in Esai
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.
Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya untuk mengumpulkan data, pengalaman, dan material yang nantinya akan mengkonstruksi pertunjukan yang sedang saya bangun.

Bukan kelas, bukan pula latihan dalam pengertian yang selama ini saya kenal.
Ruang ini lebih dekat pada sebuah laboratorium tempat kami mencoba menangkap sesuatu yang sering terlewat: hal-hal kecil dalam tubuh, yang justru menjadi dasar dari praktik tari itu sendiri pengalaman tubuh yang dalam banyak situasi justru jarang benar-benar dihadirkan.

Ruang seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sebelumnya, peristiwa serupa pernah hidup dalam beberapa pertemuan yang diinisiasi oleh sebuah platform berbasis media sosial, khususnya Instagram, bernama Tanpakata.Bali.

Di sana, tubuh dipertemukan, pengalaman dibagikan, dan praktik dijalankan tanpa tuntutan bentuk yang final.
Namun, seiring waktu, banyak teman-teman di Tanpakata.Bali telah lulus dalam jenjang akademisinya dan melanjutkan jalannya masing-masing, sehingga ruang-ruang seperti ini menjadi semakin jarang terjadi.

Dari situ, muncul dorongan dalam diri saya untuk menghadirkan kembali peristiwa semacam ini, bukan untuk mengulang, tetapi untuk melanjutkan dalam konteks kebutuhan saya saat ini, yaitu proses penciptaan karya, sekaligus membuka kembali ruang bagi pengalaman tubuh yang mulai jarang mendapat tempat.

Ruang ini kemudian bisa terjadi melalui kerja kolektif.
Dayu Tri berperan sebagai manajer produksi yang mengkoordinir jalannya kegiatan, terutama dalam pengaturan dan komunikasi secara online.

Sementara di lapangan, bersama Arya Krisna, Githa, Dekpa, dan saya, kami saling berbagi peran untuk memastikan peristiwa ini dapat berlangsung.

Tidak ada struktur yang kaku. Yang ada adalah kesadaran bersama untuk menghadirkan pertemuan.

Kesepakatan: Membongkar Cara Lama Melihat Gerak

Kami memulai dengan kesepakatan sederhana. Ruang ini adalah laboratorium. Kami tidak mencari bentuk jadi, melainkan partikel-partikel kecil dalam tari.

Gerak tidak diberi label. Tidak ada benar atau salah, indah atau jelek.

Kesepakatan ini terasa sederhana, tetapi tidak mudah dijalani. Karena sebagian besar peserta telah terbiasa dengan sistem penilaian sebuah sistem yang secara tidak langsung membentuk cara tubuh dipahami, sekaligus membatasi bagaimana tubuh dapat dialami.

Kami hanya memegang satu hal: kejujuran terhadap apa yang dirasakan tubuh, dan keberanian untuk mengkomunikasikannya.

Tiga Menit yang Membuka

Saya meminta mereka bergerak selama tiga menit.

Tanpa musik.
Tanpa arahan bentuk.

Setelah itu, saya bertanya: apa yang kalian rasakan?

Jawaban yang muncul sederhana: bingung, capek, ngos-ngosan.

Jawaban-jawaban ini justru membuka sesuatu. Bahwa tubuh memang bergerak, tetapi tidak sepenuhnya disadari.

Saya kemudian bertanya: apakah kalian sadar dengan nafas kalian saat bergerak?

Pertanyaan ini tidak langsung terjawab. Beberapa terdiam. Beberapa mencoba mengingat.

Dan di situlah terlihat bahwa nafas sesuatu yang paling dekat dengan tubuh justru sering tidak hadir dalam kesadaran saat bergerak.

Nafas yang Hilang di Balik Hitungan

Dalam praktik yang selama ini mereka dan saya jalani, gerak sering dibangun melalui hitungan.

Satu sampai delapan.
Pengulangan.
Struktur.

Hitungan menjadi pegangan, tetapi secara perlahan menggantikan kehadiran nafas.

Gerak menjadi sesuatu yang diatur dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam tubuh.

Di titik ini mulai terasa bahwa pengalaman tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bahkan cenderung terpinggirkan oleh sistem yang lebih menekankan struktur.

Di titik ini, saya mulai menawarkan sebuah pendekatan: asanas.

Asanas: Pengetahuan yang Diterima, Diolah, dan Disemai

Praktik asanas yang saya hadirkan dalam ruang ini bukan sesuatu yang saya temukan sendiri.

Ia saya dapatkan melalui proses mapaguruan di komunitas Bumi Bajra, yang bermuara pada Sanggar Maha Bajra Sandhi, dan ditransfer oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Pengetahuan itu tidak saya simpan sebagai sesuatu yang utuh. Ia mengalami proses dalam tubuh saya dijalani, dirasakan, dipertanyakan, bahkan diragukan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dipindahkan secara langsung. Ia perlu diolah.

Apa yang saya lakukan dalam ruang ini bukanlah mengajarkan asanas sebagaimana saya terima,
melainkan mencoba menyemai.

Menyemai dalam arti membuka kemungkinan agar pengetahuan ini tumbuh dengan cara yang berbeda di setiap tubuh dan sekaligus memberi ruang bagi pengalaman tubuh untuk kembali muncul ke permukaan.

Dari Sikap ke Kesadaran

Ketika saya bertanya tentang asanas, beberapa peserta menjawab bahwa itu adalah “sikap sempurna sebelum sembahyang.”

Saya hanya mengajak mereka masuk lebih dalam.

Kami memilih satu sikap: silasana, vajrasana, atau padaasana.

Kami diam.
Lalu mulai menyadari nafas.

Menarik.
Menghembuskan.

Dada mengembang.
Dada mengempis.

Sesuatu yang sederhana, tetapi justru jarang benar-benar disadari

Memvisualkan Nafas: Tubuh Mulai Berbicara

Dari kesadaran itu, kami mulai memvisualkan nafas ke dalam gerak:

menarik nafas → tubuh dan tangan mengembang
menahan → tubuh berada pada titik maksimal
menghembuskan → tubuh mengempis kembali

Di sini mulai terlihat bahwa setiap tubuh berbeda.

Panjang nafas berbeda.
Kapasitas berbeda.
Respon tubuh berbeda.

Ketika diminta menahan nafas, reaksi mulai muncul: getaran, ketegangan, dorongan untuk melewati batas.

Tubuh mulai berbicara bukan sebagai objek yang diarahkan, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.

Asanas sebagai Pintu Gerbang Indrawi

Latihan kemudian berkembang. Asanas menjadi pintu gerbang. Dari pose, ke nafas, lalu ke indra.

Kami mengaktifkan indra satu per satu, menyerap apa yang ada di sekitar.

Dan dari situ, kami mengamati:

bagaimana nafas merespon,
bagaimana tubuh bergerak,
dan bagaimana pengalaman terbentuk.

Gerak tidak lagi dimulai dari ide, melainkan dari apa yang dialami.

Temuan: Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan

Dari proses ini, beberapa hal menjadi terlihat.

Peristiwa seperti ini ternyata jarang terjadi, bahkan di lingkungan mahasiswa tari.

Ini menjadi sebuah ironi.

Tubuh dipelajari, tetapi tidak selalu dialami secara mendalam.
Nafas tergeser oleh hitungan. Kesadaran tergeser oleh struktur.

Referensi gerak banyak berasal dari media digital, yang lewat dalam algoritma pribadi.

Dalam kondisi ini, tubuh cenderung menjadi reproduktif, bukan reflektif.

Di titik inilah saya mulai melihat bahwa pengalaman tubuh tidak sepenuhnya hilang, tetapi berada di posisi yang terpinggirkan tidak menjadi pusat dalam praktik, melainkan berada di pinggiran dari sistem yang dijalankan.

Penutup: Menuju Konstruksi Karya

Peristiwa ini bukan hanya tentang berbagi praktik.

Ia menjadi bagian dari proses saya dalam mengumpulkan pengalaman, membaca respon tubuh orang lain, dan memahami kemungkinan metode kerja yang saya gunakan.

Dalam konteks Tugas Akhir, ruang ini berfungsi sebagai: tempat menguji pendekatan, ruang membaca respon partisipan, sekaligus ladang untuk menemukan material gerak dan kesadaran

Asanas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi latihan, tetapi mulai terlihat sebagai metode yang berpotensi mengembalikan pengalaman tubuh sebagai bagian penting dalam praktik.

Dari peristiwa ini, saya tidak merasa menemukan bentuk akhir. Namun saya mulai melihat arah: bahwa karya yang sedang saya bangun tidak lahir dari bentuk yang dipaksakan, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil seperti ini pertemuan antara tubuh, nafas, pengalaman, dan kesadaran yang perlahan disusun menjadi sebuah kemungkinan pertunjukan. [T]

Tags: Pendidikanseni tariTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Next Post

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co