HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.
Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya untuk mengumpulkan data, pengalaman, dan material yang nantinya akan mengkonstruksi pertunjukan yang sedang saya bangun.
Bukan kelas, bukan pula latihan dalam pengertian yang selama ini saya kenal.
Ruang ini lebih dekat pada sebuah laboratorium tempat kami mencoba menangkap sesuatu yang sering terlewat: hal-hal kecil dalam tubuh, yang justru menjadi dasar dari praktik tari itu sendiri pengalaman tubuh yang dalam banyak situasi justru jarang benar-benar dihadirkan.
Ruang seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sebelumnya, peristiwa serupa pernah hidup dalam beberapa pertemuan yang diinisiasi oleh sebuah platform berbasis media sosial, khususnya Instagram, bernama Tanpakata.Bali.
Di sana, tubuh dipertemukan, pengalaman dibagikan, dan praktik dijalankan tanpa tuntutan bentuk yang final.
Namun, seiring waktu, banyak teman-teman di Tanpakata.Bali telah lulus dalam jenjang akademisinya dan melanjutkan jalannya masing-masing, sehingga ruang-ruang seperti ini menjadi semakin jarang terjadi.
Dari situ, muncul dorongan dalam diri saya untuk menghadirkan kembali peristiwa semacam ini, bukan untuk mengulang, tetapi untuk melanjutkan dalam konteks kebutuhan saya saat ini, yaitu proses penciptaan karya, sekaligus membuka kembali ruang bagi pengalaman tubuh yang mulai jarang mendapat tempat.

Ruang ini kemudian bisa terjadi melalui kerja kolektif.
Dayu Tri berperan sebagai manajer produksi yang mengkoordinir jalannya kegiatan, terutama dalam pengaturan dan komunikasi secara online.
Sementara di lapangan, bersama Arya Krisna, Githa, Dekpa, dan saya, kami saling berbagi peran untuk memastikan peristiwa ini dapat berlangsung.
Tidak ada struktur yang kaku. Yang ada adalah kesadaran bersama untuk menghadirkan pertemuan.
Kesepakatan: Membongkar Cara Lama Melihat Gerak
Kami memulai dengan kesepakatan sederhana. Ruang ini adalah laboratorium. Kami tidak mencari bentuk jadi, melainkan partikel-partikel kecil dalam tari.
Gerak tidak diberi label. Tidak ada benar atau salah, indah atau jelek.
Kesepakatan ini terasa sederhana, tetapi tidak mudah dijalani. Karena sebagian besar peserta telah terbiasa dengan sistem penilaian sebuah sistem yang secara tidak langsung membentuk cara tubuh dipahami, sekaligus membatasi bagaimana tubuh dapat dialami.
Kami hanya memegang satu hal: kejujuran terhadap apa yang dirasakan tubuh, dan keberanian untuk mengkomunikasikannya.
Tiga Menit yang Membuka
Saya meminta mereka bergerak selama tiga menit.
Tanpa musik.
Tanpa arahan bentuk.
Setelah itu, saya bertanya: apa yang kalian rasakan?
Jawaban yang muncul sederhana: bingung, capek, ngos-ngosan.
Jawaban-jawaban ini justru membuka sesuatu. Bahwa tubuh memang bergerak, tetapi tidak sepenuhnya disadari.
Saya kemudian bertanya: apakah kalian sadar dengan nafas kalian saat bergerak?
Pertanyaan ini tidak langsung terjawab. Beberapa terdiam. Beberapa mencoba mengingat.
Dan di situlah terlihat bahwa nafas sesuatu yang paling dekat dengan tubuh justru sering tidak hadir dalam kesadaran saat bergerak.
Nafas yang Hilang di Balik Hitungan
Dalam praktik yang selama ini mereka dan saya jalani, gerak sering dibangun melalui hitungan.
Satu sampai delapan.
Pengulangan.
Struktur.
Hitungan menjadi pegangan, tetapi secara perlahan menggantikan kehadiran nafas.
Gerak menjadi sesuatu yang diatur dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam tubuh.
Di titik ini mulai terasa bahwa pengalaman tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bahkan cenderung terpinggirkan oleh sistem yang lebih menekankan struktur.
Di titik ini, saya mulai menawarkan sebuah pendekatan: asanas.
Asanas: Pengetahuan yang Diterima, Diolah, dan Disemai
Praktik asanas yang saya hadirkan dalam ruang ini bukan sesuatu yang saya temukan sendiri.
Ia saya dapatkan melalui proses mapaguruan di komunitas Bumi Bajra, yang bermuara pada Sanggar Maha Bajra Sandhi, dan ditransfer oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.
Pengetahuan itu tidak saya simpan sebagai sesuatu yang utuh. Ia mengalami proses dalam tubuh saya dijalani, dirasakan, dipertanyakan, bahkan diragukan.
Dari situlah saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dipindahkan secara langsung. Ia perlu diolah.
Apa yang saya lakukan dalam ruang ini bukanlah mengajarkan asanas sebagaimana saya terima,
melainkan mencoba menyemai.
Menyemai dalam arti membuka kemungkinan agar pengetahuan ini tumbuh dengan cara yang berbeda di setiap tubuh dan sekaligus memberi ruang bagi pengalaman tubuh untuk kembali muncul ke permukaan.
Dari Sikap ke Kesadaran
Ketika saya bertanya tentang asanas, beberapa peserta menjawab bahwa itu adalah “sikap sempurna sebelum sembahyang.”
Saya hanya mengajak mereka masuk lebih dalam.
Kami memilih satu sikap: silasana, vajrasana, atau padaasana.
Kami diam.
Lalu mulai menyadari nafas.
Menarik.
Menghembuskan.
Dada mengembang.
Dada mengempis.
Sesuatu yang sederhana, tetapi justru jarang benar-benar disadari
Memvisualkan Nafas: Tubuh Mulai Berbicara
Dari kesadaran itu, kami mulai memvisualkan nafas ke dalam gerak:
menarik nafas → tubuh dan tangan mengembang
menahan → tubuh berada pada titik maksimal
menghembuskan → tubuh mengempis kembali
Di sini mulai terlihat bahwa setiap tubuh berbeda.
Panjang nafas berbeda.
Kapasitas berbeda.
Respon tubuh berbeda.
Ketika diminta menahan nafas, reaksi mulai muncul: getaran, ketegangan, dorongan untuk melewati batas.
Tubuh mulai berbicara bukan sebagai objek yang diarahkan, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.
Asanas sebagai Pintu Gerbang Indrawi
Latihan kemudian berkembang. Asanas menjadi pintu gerbang. Dari pose, ke nafas, lalu ke indra.
Kami mengaktifkan indra satu per satu, menyerap apa yang ada di sekitar.
Dan dari situ, kami mengamati:
bagaimana nafas merespon,
bagaimana tubuh bergerak,
dan bagaimana pengalaman terbentuk.
Gerak tidak lagi dimulai dari ide, melainkan dari apa yang dialami.
Temuan: Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan
Dari proses ini, beberapa hal menjadi terlihat.
Peristiwa seperti ini ternyata jarang terjadi, bahkan di lingkungan mahasiswa tari.
Ini menjadi sebuah ironi.
Tubuh dipelajari, tetapi tidak selalu dialami secara mendalam.
Nafas tergeser oleh hitungan. Kesadaran tergeser oleh struktur.
Referensi gerak banyak berasal dari media digital, yang lewat dalam algoritma pribadi.
Dalam kondisi ini, tubuh cenderung menjadi reproduktif, bukan reflektif.
Di titik inilah saya mulai melihat bahwa pengalaman tubuh tidak sepenuhnya hilang, tetapi berada di posisi yang terpinggirkan tidak menjadi pusat dalam praktik, melainkan berada di pinggiran dari sistem yang dijalankan.
Penutup: Menuju Konstruksi Karya
Peristiwa ini bukan hanya tentang berbagi praktik.
Ia menjadi bagian dari proses saya dalam mengumpulkan pengalaman, membaca respon tubuh orang lain, dan memahami kemungkinan metode kerja yang saya gunakan.
Dalam konteks Tugas Akhir, ruang ini berfungsi sebagai: tempat menguji pendekatan, ruang membaca respon partisipan, sekaligus ladang untuk menemukan material gerak dan kesadaran
Asanas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi latihan, tetapi mulai terlihat sebagai metode yang berpotensi mengembalikan pengalaman tubuh sebagai bagian penting dalam praktik.
Dari peristiwa ini, saya tidak merasa menemukan bentuk akhir. Namun saya mulai melihat arah: bahwa karya yang sedang saya bangun tidak lahir dari bentuk yang dipaksakan, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil seperti ini pertemuan antara tubuh, nafas, pengalaman, dan kesadaran yang perlahan disusun menjadi sebuah kemungkinan pertunjukan. [T]





























