6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Mahijasena by Mahijasena
April 12, 2026
in Esai
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.
Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya untuk mengumpulkan data, pengalaman, dan material yang nantinya akan mengkonstruksi pertunjukan yang sedang saya bangun.

Bukan kelas, bukan pula latihan dalam pengertian yang selama ini saya kenal.
Ruang ini lebih dekat pada sebuah laboratorium tempat kami mencoba menangkap sesuatu yang sering terlewat: hal-hal kecil dalam tubuh, yang justru menjadi dasar dari praktik tari itu sendiri pengalaman tubuh yang dalam banyak situasi justru jarang benar-benar dihadirkan.

Ruang seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sebelumnya, peristiwa serupa pernah hidup dalam beberapa pertemuan yang diinisiasi oleh sebuah platform berbasis media sosial, khususnya Instagram, bernama Tanpakata.Bali.

Di sana, tubuh dipertemukan, pengalaman dibagikan, dan praktik dijalankan tanpa tuntutan bentuk yang final.
Namun, seiring waktu, banyak teman-teman di Tanpakata.Bali telah lulus dalam jenjang akademisinya dan melanjutkan jalannya masing-masing, sehingga ruang-ruang seperti ini menjadi semakin jarang terjadi.

Dari situ, muncul dorongan dalam diri saya untuk menghadirkan kembali peristiwa semacam ini, bukan untuk mengulang, tetapi untuk melanjutkan dalam konteks kebutuhan saya saat ini, yaitu proses penciptaan karya, sekaligus membuka kembali ruang bagi pengalaman tubuh yang mulai jarang mendapat tempat.

Ruang ini kemudian bisa terjadi melalui kerja kolektif.
Dayu Tri berperan sebagai manajer produksi yang mengkoordinir jalannya kegiatan, terutama dalam pengaturan dan komunikasi secara online.

Sementara di lapangan, bersama Arya Krisna, Githa, Dekpa, dan saya, kami saling berbagi peran untuk memastikan peristiwa ini dapat berlangsung.

Tidak ada struktur yang kaku. Yang ada adalah kesadaran bersama untuk menghadirkan pertemuan.

Kesepakatan: Membongkar Cara Lama Melihat Gerak

Kami memulai dengan kesepakatan sederhana. Ruang ini adalah laboratorium. Kami tidak mencari bentuk jadi, melainkan partikel-partikel kecil dalam tari.

Gerak tidak diberi label. Tidak ada benar atau salah, indah atau jelek.

Kesepakatan ini terasa sederhana, tetapi tidak mudah dijalani. Karena sebagian besar peserta telah terbiasa dengan sistem penilaian sebuah sistem yang secara tidak langsung membentuk cara tubuh dipahami, sekaligus membatasi bagaimana tubuh dapat dialami.

Kami hanya memegang satu hal: kejujuran terhadap apa yang dirasakan tubuh, dan keberanian untuk mengkomunikasikannya.

Tiga Menit yang Membuka

Saya meminta mereka bergerak selama tiga menit.

Tanpa musik.
Tanpa arahan bentuk.

Setelah itu, saya bertanya: apa yang kalian rasakan?

Jawaban yang muncul sederhana: bingung, capek, ngos-ngosan.

Jawaban-jawaban ini justru membuka sesuatu. Bahwa tubuh memang bergerak, tetapi tidak sepenuhnya disadari.

Saya kemudian bertanya: apakah kalian sadar dengan nafas kalian saat bergerak?

Pertanyaan ini tidak langsung terjawab. Beberapa terdiam. Beberapa mencoba mengingat.

Dan di situlah terlihat bahwa nafas sesuatu yang paling dekat dengan tubuh justru sering tidak hadir dalam kesadaran saat bergerak.

Nafas yang Hilang di Balik Hitungan

Dalam praktik yang selama ini mereka dan saya jalani, gerak sering dibangun melalui hitungan.

Satu sampai delapan.
Pengulangan.
Struktur.

Hitungan menjadi pegangan, tetapi secara perlahan menggantikan kehadiran nafas.

Gerak menjadi sesuatu yang diatur dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam tubuh.

Di titik ini mulai terasa bahwa pengalaman tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bahkan cenderung terpinggirkan oleh sistem yang lebih menekankan struktur.

Di titik ini, saya mulai menawarkan sebuah pendekatan: asanas.

Asanas: Pengetahuan yang Diterima, Diolah, dan Disemai

Praktik asanas yang saya hadirkan dalam ruang ini bukan sesuatu yang saya temukan sendiri.

Ia saya dapatkan melalui proses mapaguruan di komunitas Bumi Bajra, yang bermuara pada Sanggar Maha Bajra Sandhi, dan ditransfer oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Pengetahuan itu tidak saya simpan sebagai sesuatu yang utuh. Ia mengalami proses dalam tubuh saya dijalani, dirasakan, dipertanyakan, bahkan diragukan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dipindahkan secara langsung. Ia perlu diolah.

Apa yang saya lakukan dalam ruang ini bukanlah mengajarkan asanas sebagaimana saya terima,
melainkan mencoba menyemai.

Menyemai dalam arti membuka kemungkinan agar pengetahuan ini tumbuh dengan cara yang berbeda di setiap tubuh dan sekaligus memberi ruang bagi pengalaman tubuh untuk kembali muncul ke permukaan.

Dari Sikap ke Kesadaran

Ketika saya bertanya tentang asanas, beberapa peserta menjawab bahwa itu adalah “sikap sempurna sebelum sembahyang.”

Saya hanya mengajak mereka masuk lebih dalam.

Kami memilih satu sikap: silasana, vajrasana, atau padaasana.

Kami diam.
Lalu mulai menyadari nafas.

Menarik.
Menghembuskan.

Dada mengembang.
Dada mengempis.

Sesuatu yang sederhana, tetapi justru jarang benar-benar disadari

Memvisualkan Nafas: Tubuh Mulai Berbicara

Dari kesadaran itu, kami mulai memvisualkan nafas ke dalam gerak:

menarik nafas → tubuh dan tangan mengembang
menahan → tubuh berada pada titik maksimal
menghembuskan → tubuh mengempis kembali

Di sini mulai terlihat bahwa setiap tubuh berbeda.

Panjang nafas berbeda.
Kapasitas berbeda.
Respon tubuh berbeda.

Ketika diminta menahan nafas, reaksi mulai muncul: getaran, ketegangan, dorongan untuk melewati batas.

Tubuh mulai berbicara bukan sebagai objek yang diarahkan, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.

Asanas sebagai Pintu Gerbang Indrawi

Latihan kemudian berkembang. Asanas menjadi pintu gerbang. Dari pose, ke nafas, lalu ke indra.

Kami mengaktifkan indra satu per satu, menyerap apa yang ada di sekitar.

Dan dari situ, kami mengamati:

bagaimana nafas merespon,
bagaimana tubuh bergerak,
dan bagaimana pengalaman terbentuk.

Gerak tidak lagi dimulai dari ide, melainkan dari apa yang dialami.

Temuan: Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan

Dari proses ini, beberapa hal menjadi terlihat.

Peristiwa seperti ini ternyata jarang terjadi, bahkan di lingkungan mahasiswa tari.

Ini menjadi sebuah ironi.

Tubuh dipelajari, tetapi tidak selalu dialami secara mendalam.
Nafas tergeser oleh hitungan. Kesadaran tergeser oleh struktur.

Referensi gerak banyak berasal dari media digital, yang lewat dalam algoritma pribadi.

Dalam kondisi ini, tubuh cenderung menjadi reproduktif, bukan reflektif.

Di titik inilah saya mulai melihat bahwa pengalaman tubuh tidak sepenuhnya hilang, tetapi berada di posisi yang terpinggirkan tidak menjadi pusat dalam praktik, melainkan berada di pinggiran dari sistem yang dijalankan.

Penutup: Menuju Konstruksi Karya

Peristiwa ini bukan hanya tentang berbagi praktik.

Ia menjadi bagian dari proses saya dalam mengumpulkan pengalaman, membaca respon tubuh orang lain, dan memahami kemungkinan metode kerja yang saya gunakan.

Dalam konteks Tugas Akhir, ruang ini berfungsi sebagai: tempat menguji pendekatan, ruang membaca respon partisipan, sekaligus ladang untuk menemukan material gerak dan kesadaran

Asanas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi latihan, tetapi mulai terlihat sebagai metode yang berpotensi mengembalikan pengalaman tubuh sebagai bagian penting dalam praktik.

Dari peristiwa ini, saya tidak merasa menemukan bentuk akhir. Namun saya mulai melihat arah: bahwa karya yang sedang saya bangun tidak lahir dari bentuk yang dipaksakan, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil seperti ini pertemuan antara tubuh, nafas, pengalaman, dan kesadaran yang perlahan disusun menjadi sebuah kemungkinan pertunjukan. [T]

Tags: Pendidikanseni tariTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Next Post

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co