26 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

Mahijasena by Mahijasena
April 12, 2026
in Esai
Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan dalam Praktik Tari: Sebuah Catatan Proses

HARI Selasa, 7 April, dan Kamis, 9 April, saya membuka sebuah ruang kecil sebagai bagian dari perjalanan saya menuju karya Tugas Akhir.
Ruang ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya untuk mengumpulkan data, pengalaman, dan material yang nantinya akan mengkonstruksi pertunjukan yang sedang saya bangun.

Bukan kelas, bukan pula latihan dalam pengertian yang selama ini saya kenal.
Ruang ini lebih dekat pada sebuah laboratorium tempat kami mencoba menangkap sesuatu yang sering terlewat: hal-hal kecil dalam tubuh, yang justru menjadi dasar dari praktik tari itu sendiri pengalaman tubuh yang dalam banyak situasi justru jarang benar-benar dihadirkan.

Ruang seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sebelumnya, peristiwa serupa pernah hidup dalam beberapa pertemuan yang diinisiasi oleh sebuah platform berbasis media sosial, khususnya Instagram, bernama Tanpakata.Bali.

Di sana, tubuh dipertemukan, pengalaman dibagikan, dan praktik dijalankan tanpa tuntutan bentuk yang final.
Namun, seiring waktu, banyak teman-teman di Tanpakata.Bali telah lulus dalam jenjang akademisinya dan melanjutkan jalannya masing-masing, sehingga ruang-ruang seperti ini menjadi semakin jarang terjadi.

Dari situ, muncul dorongan dalam diri saya untuk menghadirkan kembali peristiwa semacam ini, bukan untuk mengulang, tetapi untuk melanjutkan dalam konteks kebutuhan saya saat ini, yaitu proses penciptaan karya, sekaligus membuka kembali ruang bagi pengalaman tubuh yang mulai jarang mendapat tempat.

Ruang ini kemudian bisa terjadi melalui kerja kolektif.
Dayu Tri berperan sebagai manajer produksi yang mengkoordinir jalannya kegiatan, terutama dalam pengaturan dan komunikasi secara online.

Sementara di lapangan, bersama Arya Krisna, Githa, Dekpa, dan saya, kami saling berbagi peran untuk memastikan peristiwa ini dapat berlangsung.

Tidak ada struktur yang kaku. Yang ada adalah kesadaran bersama untuk menghadirkan pertemuan.

Kesepakatan: Membongkar Cara Lama Melihat Gerak

Kami memulai dengan kesepakatan sederhana. Ruang ini adalah laboratorium. Kami tidak mencari bentuk jadi, melainkan partikel-partikel kecil dalam tari.

Gerak tidak diberi label. Tidak ada benar atau salah, indah atau jelek.

Kesepakatan ini terasa sederhana, tetapi tidak mudah dijalani. Karena sebagian besar peserta telah terbiasa dengan sistem penilaian sebuah sistem yang secara tidak langsung membentuk cara tubuh dipahami, sekaligus membatasi bagaimana tubuh dapat dialami.

Kami hanya memegang satu hal: kejujuran terhadap apa yang dirasakan tubuh, dan keberanian untuk mengkomunikasikannya.

Tiga Menit yang Membuka

Saya meminta mereka bergerak selama tiga menit.

Tanpa musik.
Tanpa arahan bentuk.

Setelah itu, saya bertanya: apa yang kalian rasakan?

Jawaban yang muncul sederhana: bingung, capek, ngos-ngosan.

Jawaban-jawaban ini justru membuka sesuatu. Bahwa tubuh memang bergerak, tetapi tidak sepenuhnya disadari.

Saya kemudian bertanya: apakah kalian sadar dengan nafas kalian saat bergerak?

Pertanyaan ini tidak langsung terjawab. Beberapa terdiam. Beberapa mencoba mengingat.

Dan di situlah terlihat bahwa nafas sesuatu yang paling dekat dengan tubuh justru sering tidak hadir dalam kesadaran saat bergerak.

Nafas yang Hilang di Balik Hitungan

Dalam praktik yang selama ini mereka dan saya jalani, gerak sering dibangun melalui hitungan.

Satu sampai delapan.
Pengulangan.
Struktur.

Hitungan menjadi pegangan, tetapi secara perlahan menggantikan kehadiran nafas.

Gerak menjadi sesuatu yang diatur dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam tubuh.

Di titik ini mulai terasa bahwa pengalaman tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi bergeser bahkan cenderung terpinggirkan oleh sistem yang lebih menekankan struktur.

Di titik ini, saya mulai menawarkan sebuah pendekatan: asanas.

Asanas: Pengetahuan yang Diterima, Diolah, dan Disemai

Praktik asanas yang saya hadirkan dalam ruang ini bukan sesuatu yang saya temukan sendiri.

Ia saya dapatkan melalui proses mapaguruan di komunitas Bumi Bajra, yang bermuara pada Sanggar Maha Bajra Sandhi, dan ditransfer oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Pengetahuan itu tidak saya simpan sebagai sesuatu yang utuh. Ia mengalami proses dalam tubuh saya dijalani, dirasakan, dipertanyakan, bahkan diragukan.

Dari situlah saya mulai memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dipindahkan secara langsung. Ia perlu diolah.

Apa yang saya lakukan dalam ruang ini bukanlah mengajarkan asanas sebagaimana saya terima,
melainkan mencoba menyemai.

Menyemai dalam arti membuka kemungkinan agar pengetahuan ini tumbuh dengan cara yang berbeda di setiap tubuh dan sekaligus memberi ruang bagi pengalaman tubuh untuk kembali muncul ke permukaan.

Dari Sikap ke Kesadaran

Ketika saya bertanya tentang asanas, beberapa peserta menjawab bahwa itu adalah “sikap sempurna sebelum sembahyang.”

Saya hanya mengajak mereka masuk lebih dalam.

Kami memilih satu sikap: silasana, vajrasana, atau padaasana.

Kami diam.
Lalu mulai menyadari nafas.

Menarik.
Menghembuskan.

Dada mengembang.
Dada mengempis.

Sesuatu yang sederhana, tetapi justru jarang benar-benar disadari

Memvisualkan Nafas: Tubuh Mulai Berbicara

Dari kesadaran itu, kami mulai memvisualkan nafas ke dalam gerak:

menarik nafas → tubuh dan tangan mengembang
menahan → tubuh berada pada titik maksimal
menghembuskan → tubuh mengempis kembali

Di sini mulai terlihat bahwa setiap tubuh berbeda.

Panjang nafas berbeda.
Kapasitas berbeda.
Respon tubuh berbeda.

Ketika diminta menahan nafas, reaksi mulai muncul: getaran, ketegangan, dorongan untuk melewati batas.

Tubuh mulai berbicara bukan sebagai objek yang diarahkan, tetapi sebagai pengalaman yang hidup.

Asanas sebagai Pintu Gerbang Indrawi

Latihan kemudian berkembang. Asanas menjadi pintu gerbang. Dari pose, ke nafas, lalu ke indra.

Kami mengaktifkan indra satu per satu, menyerap apa yang ada di sekitar.

Dan dari situ, kami mengamati:

bagaimana nafas merespon,
bagaimana tubuh bergerak,
dan bagaimana pengalaman terbentuk.

Gerak tidak lagi dimulai dari ide, melainkan dari apa yang dialami.

Temuan: Pengalaman Tubuh yang Terpinggirkan

Dari proses ini, beberapa hal menjadi terlihat.

Peristiwa seperti ini ternyata jarang terjadi, bahkan di lingkungan mahasiswa tari.

Ini menjadi sebuah ironi.

Tubuh dipelajari, tetapi tidak selalu dialami secara mendalam.
Nafas tergeser oleh hitungan. Kesadaran tergeser oleh struktur.

Referensi gerak banyak berasal dari media digital, yang lewat dalam algoritma pribadi.

Dalam kondisi ini, tubuh cenderung menjadi reproduktif, bukan reflektif.

Di titik inilah saya mulai melihat bahwa pengalaman tubuh tidak sepenuhnya hilang, tetapi berada di posisi yang terpinggirkan tidak menjadi pusat dalam praktik, melainkan berada di pinggiran dari sistem yang dijalankan.

Penutup: Menuju Konstruksi Karya

Peristiwa ini bukan hanya tentang berbagi praktik.

Ia menjadi bagian dari proses saya dalam mengumpulkan pengalaman, membaca respon tubuh orang lain, dan memahami kemungkinan metode kerja yang saya gunakan.

Dalam konteks Tugas Akhir, ruang ini berfungsi sebagai: tempat menguji pendekatan, ruang membaca respon partisipan, sekaligus ladang untuk menemukan material gerak dan kesadaran

Asanas, dalam hal ini, tidak hanya menjadi latihan, tetapi mulai terlihat sebagai metode yang berpotensi mengembalikan pengalaman tubuh sebagai bagian penting dalam praktik.

Dari peristiwa ini, saya tidak merasa menemukan bentuk akhir. Namun saya mulai melihat arah: bahwa karya yang sedang saya bangun tidak lahir dari bentuk yang dipaksakan, melainkan dari pertemuan-pertemuan kecil seperti ini pertemuan antara tubuh, nafas, pengalaman, dan kesadaran yang perlahan disusun menjadi sebuah kemungkinan pertunjukan. [T]

Tags: Pendidikanseni tariTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Next Post

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails
Next Post
Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Housekeepers Bali Kolaborasi Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

by Salman Alade
May 24, 2026
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito
Cerpen

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co