PERANG yang tengah terjadi di Timur Tengah sempat menjadi perbincangan oleh peserta seminar yang diorganisir Indonesian Housekeepers Association (IHKA) Bali BPC Kuta di Solia Legian, Sabtu 11 April 2026 malam. Padahal, seminar kolaborasi antara housekeeping dan laundry itu jelas-jelas untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan melakukan sinergi kuat antar departemen. Apakah itu tanda pelaku pariwisata di Bali resah?
Seminar dengan tema “Kolaborasi Housekeeping dengan Laundry dalam Meningkatkan Standar Pelayanan Hospitality” itu menghadirkan dua tokoh pariwisata, yaitu Director of Leger Laundry, Sholikin Agus Riyanto dan CEO of The Kayon, Adhi Guna. Kedua pembicara ini tak hanya menekankan terhadap kalangan pariwisata untuk menangani dampak lingkungan yang sekarang menghadapi masalah sampah di masing-masing unit dan tata kelola kebersihan di lingkungan house keeping, tetaPi juga situasi pariwisata saat ini, termasuk perang Timur Tengah itu.
Pada seminar yang berlangsung setengah hari itu, Sholikin menyebut perang Timur Tengah sangat berdampak terhadap perhotelan dan pariwisata. Konflik di kawasan tersebut, memberikan efek domino ke industri global, termasuk Indonesia. “Hal itu menyebabkan penurunan wisatawan internasional khususnya Middle East & Eropa yang cenderung menunda perjalanan. Termasuk dikeluarkannya travel warning dari negara asal, tentu mengakibatkan penurunan okupansi hotel,” katanya.
Perang Timur Tengah juga berdampak pada kenaikan harga energy. Konflik sering memicu naiknya harga minyak dunia, sehingga berdampak pada biaya operasional hotel naik (plastik, transportasi). Laundry terkena dampak besar (mesin dryer, boiler). Jika perang ini tak kunjung berakhir, akan berdampak pada gangguan supply chain. “Produk impor, seperti chemical laundry, linen, dan spare part mesin bisa terlambat atau mahal, sehingga hotel harus mencari alternatif local,” paparnya.
Sebagai dampak lain dari perang Timur Tengah adalah perubahan tren wisata. Para wisatawan akan lebih memilih destinasi yang dianggap aman dan stabil. “Ini sesungguhnya peluang untuk Indonesia, jika mampu dikelola dengan baik,” sebut Sholikin serius.
Sholikin juga menyinggung upaya mengatasi masalah sampah di industri pariwisata Bali yang belakangan ini sedang bermasalah. Karena itu, Laundry mesti serius mengatasi hal tersebut. Apalagi, kini masalah sampah sekarang jadi isu serius di hotel dan destinasi wisata, sehingga menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan mengurangi pemakaian plastic sekali pakai. Pemilahan sampah dari sumber, dengan memisahkan sampah organik, anorganik dan B3 (bahan berbahaya).
Edukasi staf housekeeping dan tamu, juga penting dilakukan. Kolaborasi dengan bank sampah atau vendor daur ulang, sehingga sampah bernilai bisa jadi pemasukan tambahan. “Digitalisasi operasional penting dilakukan untuk mengurangi penggunaan kertas (invoice, laporan, SOP) termasuk kampanye ke tamu. Misalnya dengan “Reuse towel program” atau “Save water & energy”. Audit lingkungan berkala, ukur volume sampah harian dan konsumsi air dan energy,” paparnya.
Dengan bangga, Sholikin kemudian mengatakan, loundry sebagai salah satu penunjang tata kelola kebersihan di lingkungan house keeping untuk membantu menjaga lingkungan dari residu dan pencemaran lingkungan. Laundry adalah “jantung kebersihan” tetapi juga berpotensi mencemari jika tidak dikelola. Karena itu, gunakan chemical yang tepat dan gunakan dosis sesuai standar (tidak overuse), pilih eco-friendly chemical (biodegradable). “Gunakan sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk mengontrol air dan limbah,” sebutnya.
Industri pariwisata sekarang tidak hanya dituntut bersih dan nyaman, tetapi juga berkelanjutan (sustainable). Perang global mengharuskan untuk menekan biaya dan demand, mengurangsi sampah untuk menekan citra destinasi, dan laundry yang minim sampah dapat menentukan standar kebersihan dan dampak lingkungan. “Jika ketiganya dikelola dengan baik, justru bisa menjadi keunggulan kompetitif,” jelasnya.
Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahaya Adi PutraCadi yang membuka seminar itu menegaskan, tema seminar hari ini, yaitu “Kolaborasi Housekeeping dengan Laundry dalam Meningkatkan Standar Pelayanan Hospitality” adalah topik yang sangat relevan dengan tantangan industri saat ini. “Kita semua memahami bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh satu departemen saja, tetapi oleh sinergi yang kuat antar departemen,” ucapnya.
Housekeeping dan Laundry adalah dua pilar penting yang saling berkaitan erat. Kebersihan kamar, kualitas linen, serta kecepatan dan ketepatan layanan menjadi bagian dari pengalaman tamu yang tidak bisa ditawar. Melalui kolaborasi yang baik, kita dapat menciptakan standar pelayanan yang lebih tinggi dan konsisten. “Kita sangat beruntung dapat menghadirkan dua narasumber inspiratif dalam seminar ini,” ujarnya.
Direktur Leger Laundry memberikan wawasan mendalam terkait product knowledge laundry, sehingga para peserta yang merupakan pekerja houskeeping dapat memahami standar dan inovasi terbaru dalam pengelolaan linen dan laundry service. Sedangkan CEO The Kayon membawakan materi “Architecting Your Future: A Blueprint for Intentional Growth” untuk membuka perspektif dalam membangun karier dan pertumbuhan profesional secara terarah dan berkelanjutan.
“Saya berharap melalui seminar ini, kita semua tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga inspirasi untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas diri, serta membawa perubahan positif di tempat kerja masing-masing. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang besar bagi kita semua dan industri hospitality ke depannya,” harapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto





























