Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun sekolah. Setiap kali peserta berhasil menyelesaikan memasang bed cover, melipat sudut asur atau menyelesaikan hiasan, sorak itu semakin keras membangkitkan semangat para peserta. Tentu ada sedikit ketegangan, namun mereka tetap focus, lalu bergerak lincah, membalikkan kasur, mengibaskan seprai, dan memastikan setiap sudut kasur (bed cornering) terlipat rapi.
Semangat itu tampak pada International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 di Prime Plaza Hotel Sanur, Jumat 5 Juni 2026. Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association (BPD IHKA) Bali itu diikuti peserta Bed-Making Competition sebanyak 34 Hotel dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Philippine, dan Vietnam. Sementara perwakilan dari seklolah pariwisata diikuti 15 Hotel School, termasuk peserta dari luar Bali dan Filipina. Sementara acara ini total estimasi kehadiran sebanyak 500 orang.
Menarik dalam lomba menata tempat tidur kali ini, ketika peserta dari Bali beradu dengan peserta luar negeri yang sama-sama memiliki kelebihan. Tak satu pun diantara mereka yang mengecewakan. Semuanya tampil cekatan dalam menata dan merapikan tempat tidur standar perhotelan. Dalam waktu sekejap, mereka mampu menyulap tempat tidur menjadi setara standar hotel mewah dengan kerapian lipatan dan kebersihan tanpa cela.

Dalam Bed Making Competition itu, sangat kompetitif, menegangkan, sekaligus meriah dan kreatif. Para peserta dituntut beradu cepat untuk menghasilkan kasur yang rapi, kencang tanpa kerutan, dan higienis sesuai standar industry. “Mereka tak hanya cepat dalam menata tempat tidur, tetapi lihai dalam memadukan seni dengan ketelitian standar industri perhotelan yang diaplikasikan dalam waktu sangat singkat,” kata Hubungan Masyarakat (Humas) IHKA BPD Bali, Roma Waisnawa disela-sela acara lomba.
Lomba ini berlangsung setelah International Housekeeper’s Conference yang menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, seperti Ms. Adelaide Susan Carag (Executive Housekeeper Association of the Philippinee), Mr. Tranduc (Vice President Vietnam ExecutiveAssociation), DR. Ritalo (Honorary Secretery Malasia Association of Housekeepers), Mr. Benjapon Hiran (Head of Cooperation and Partnerships Executive Housekeeper Association Thailand), dan Mr. I Ketut Gede Sudarsana (Chairmen BPC IHKA Seminyak) serta James Gwee sebagai Guest Speaker.
Disela-sela konferensi itu, James Gwee mengatakan, topik yang disampaikan kali ini sesuai denga tema acara “From Tradition to Transformation: Culture of Housekeeping Leadership in The Age of AI”. Melalui tema ini, ia mengajak teman-teman housekeeping untuk mempersiapkan diri untuk Artificial Intelligence (AI) yang akan datang di media perhotelan, khususnya di bidang housekeeping.
“Bali ini pusat pariwisata dunia, dan di dunia perhotelan di Bali jauh lebih lama dari pada parwisata di kota-kota lain di Indonesia. Maka itu, Bali mestinya yang pertama menggunkan AI karena Pulau Dewata ini sudah menginternasional sejak dulu,” papar James Gwee dengan nada serius.
Menurutnya, AI itu bisa dikolaborasi dengan kearipakan local yang menjadi kekhasan dari pariwisata Bali itu sendiri. AI akan sangat membantu memperlancarkan efisiensi perhotelan, termasuk dibidang housekeeping. “Saya kasi contoh nyata, karena di negara lain sudah menggunakan AI maka Bali mestinya sudah mulai menerapkan. Seperti di Singapura sudah menggunakan AI khususnya dibidang housekeeping. Begitu pula sebagian hotel di negara-negara lain,” bebernya.

James Gwee menegaskan, AI akan sangat membantu dalam meningkatkan efisiensi. Mereka mempunyai chip yang bisa dikalkulasi, sehingga sesuatu yang biasanya butuh dua jam, setelah menggunkan AI kini bis mempercepat menjadi dua manit. “Maka bisa bayangkan kita telah melakukan efisiensi yang meningkat sekali,” ungkapnya.
Ajang berskala internasional ini memang menjadi ruang diskusi krusial mengenai sejauh mana teknologi AI dan otomatisasi dapat diterapkan dalam operasional housekeeping, khususnya di industri pariwisata Bali. Acara ini dihadiri oleh sekitar 500 peserta yang secara khusus mengundang partisipan dari berbagai negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam, hingga perwakilan dari berbagai provinsi di Indonesia.
Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahaya Adi Putra mengungkapkan, salah satu fokus utama dalam konferensi tahun ini adalah membedah relevansi AI di sektor industri perhotelan yang berbasis pada pelayanan langsung (hospitality). “Tema pada tahun ini kami mengadopsi from tradition to transformation. Jadi kita AI ini sedang berkembang, apakah cocok di Bali ini kita terapkan. Karena di Bali ini benar-benar hospitality itu harus bersentuhan, apakah bisa digantikan dengan robot? Dan kita juga menghadirkan talk shownantinya adalah lima negara yang akan membicarakan tema pada hari ini,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Cadi mengakui beberapa teknologi otomatisasi memang sudah mulai diadopsi dalam operasional harian housekeeping, seperti mesin pembersih lantai otomatis. Namun, peran manusia tetap mutlak diperlukan untuk aspek manajerial dan pemeliharaan kualitas. “Beberapa ada yang bisa kayak pakem sekarang sudah ada yang otomatis, kayak scrubber juga mesin brasing itu sudah ada yang otomatis. Cuman kembali lagi, perlu orang yang mempertahankan untuk scheduling seperti apa dan lain-lain, itu tidak bisa hanya sekedar robot saja jalan. Perlu sekali, tidak bisa digantikan,” tegasnya.

Cadi membandingkan tren ini dengan negara maju seperti Jepang yang mulai menerapkan sistem AI secara penuh. Konsep tersebut sulit diterapkan di Bali mengingat ekspektasi wisatawan yang datang ke Bali sangat tinggi terhadap aspek pelayanan yang personal. “Saya kemarin melihat di YouTube sudah ada di Jepang itu totally menggunakan AI dari penyambutan tamu, front office, dan lain-lain sampai check-in. Tapi di Bali kayaknya tidak akan bisa dilakukan.
Itu karena benar-benar para pekerja pariwisata bersentuhan harus dengan tamu. “Bagaimana kita mentreattamu tidak hanya tamu datang check-in dilepas saja. Tamu datang, mereka sudah bayar, harus dilayani sepenuh hati. Kepuasan yang mereka cari,” tambahnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau akrab disapa Cok Ace memberi apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan ini. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, divisi housekeeping memegang peranan yang sangat vital dalam membentuk kesan pertama dan pengalaman keseluruhan wisatawan.
“Saya mengapresiasi dan sangat mendukung ya, bagaimana kita tahu persaingan kita akan makin ketat. Dan kita tahu juga housekeeping merupakan garda terdepan. Jadi experience pengalaman wisatawan di pariwisata khususnya di hotel, restoran itu pasti housekeeping punya peran yang sangat besar sekali,” sebut Cok Ace.
Cok Ace lalu berharap melalui konferensi internasional ini, kompetensi para anggota IHKA terus meningkat demi kemajuan pariwisata Bali ke depan. “Saya mengapresiasi organisasi ini selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan, kompetisi, dan sertifikat khususnya daripada anggota-anggotanya. Mudah-mudahanlah ke depannya housekeeping terus makin maju, makin jaya untuk membangun pariwisata Bali yang terbaik,” pungkasnya.


Satu hal yang menarik dari International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 adalah pameran yang menyajikan berbagai alat dan kelengkapan hotel, utamanya yang dibutuhkan para housekeeper. Ada puluhan stand pameran yang disiapkan satu ruang yang akrab dan dikemas neyman. Selain itu, di luar ruang konferensi juga dipenuhi dengan stand pameran para vendor. “Sudah menjadi tradisi, setiap kegiatan besar, kami selalu memberikan kesempatan para vendor untuk memperkenalkan produknya,” ucapnya.
Lomba making bed dengan peserta international memang baru dan pertama kali dilakukan. Acara ini juga mendapat apresiasi dari semua pihak, dan usulan langsung diterima untuk dilakukan full satu hari agar peserta dari luar negeri bisa mengirim perwakilan lebih banyak. “Ini akan menjadi pertimbangan kedepannya. Kami berterimakasih atas dukungan semua pihak vendor dan juga awak media yang selalu ada dalam setiap kegiatan IHKA BPD Bali,” pungkas Roma Waisnawa. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole






























