21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. Kak nu cenik ugen to sing baange pesu. Kak nengil jumah gen. Ugen to rames sajan munyin bedile.”

Terjemahan: “Disinilah Bapak I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menginap. Di rumah warga sebelah timur juga ada. Kakek tidak tahu pasti, karena pasukan itu datang malam. Jika pagi, mereka sedikit di rumah. Mereka pergi malam dan datang malam. Kakek masih kecil saat itu, sehingga diam di rumah. Tetapi, suara tembakan itu terus saja terdengar.”

Suaranya parau, serak dan bergetar, namun terdengar sangat jelas. Kakek itu menceritakan masa kecilnya, ketika pasukan yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai itu datang ke kampung halamannya, di Banjar Ole, hingga cerita itu diakhiri suara gong. Suara suling pegambuhan kemudian mengalun, lalu diikuti keluarnya enam penari berbusana nuansa putih yang bergerak pelan dengan karakter kuat, serta ekspresi yang lebih hidup.

Itulah tanda dimulainya teater tari berjudul “Marga Saksi Kemardikan” yang disajikan oleh Sanggar Buratwangi berkolaborasi dengan Perguruan Pencak Silat Merpati Putih Banjar Ole serta didukung Komunitas Tanpa Kata dan Amrita Studio sebagai duta Desa Marga Dauh Puri di Marga Fest II di Wantilan TPB Margarana, Kecamatan Marga – Tabanan, Selasa 2 Juni 2026 malam. Garapan seni ini tampak sederhana, namun tidak kosong. Pesannya tegas, simbol dan pendidikan juga terasa kental.  

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

  

Garapan seni ini didukung sekitar 30 anak-anak muda yang tidak semuanya memiliki dasar seni tari. Kisahnya dimulai dari berita pada tanggal 15 Agustus 1945, melalui siaran radio. Saat itu, Kaisar Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menerima syarat-syarat penyerahan diri kepada Sekutu, menandai berakhirnya keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II.

Pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal perang USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, Jepang secara resmi menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu.

Di Nusantara, atas nama rakyat Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, tidak ada kekuatan apa pun yang berhak merampas kemerdekaan tersebut. Dari tangan rakyat Indonesia, segala bentuk penjajahan harus enyah dari bumi pertiwi.

Pada awal tahun 1946, NICA kembali memasuki Bali dengan membonceng pasukan Sekutu yang bertugas menerima penyerahan dan melucuti tentara Jepang.

Namun, pada tanggal 2 Maret 1946, pasukan “Gajah Merah” telah menyebar ke berbagai wilayah Bali. Kedatangan mereka bukan semata-mata untuk melucuti tentara Jepang, melainkan untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda atas Pulau Bali.

Hingga pada bulan November 1946, tibalah I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara di Desa Marga. Di sanalah perjuangan mencapai puncaknya, ketika semangat kemerdekaan dipertaruhkan dalam pertempuran yang kelak dikenang sebagai Puputan Margarana.

Padukan unsur dramatik dan koreografi gerak

Amrita Dharma yang bertindak sebagai sutradara mengkemas pertunjukan seni ini dalam bentuk teater tari yang memadukan unsur dramatik dan koreografi gerak. Dalam mewujudkan karya yang kreatif itu, ia dibantu oleh Mahija Sena dan Arya Krisna sebagai koreografer serta Made Manipuspaka yang dipercaya sebagai komposer.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Garapan didominasi oleh ragam gerak silat yang menjadi identitas utama karya, sekaligus merepresentasikan semangat perjuangan para pejuang pada masa tersebut. Pemilihan unsur silat didasarkan pada peristiwa historis pementasan Silat Tengklung yang berlangsung selama beberapa hari ketika pasukan I Gusti Ngurah Rai bermarkas di Banjar Ole, Desa Marga.

“Kami tetap menyajikan pengolahan gerak yang berpijak pada tradisi, karena kami ingin menyajikan pertunjukan seni yang berupaya menghadirkan kembali suasana, semangat kebersamaan, serta euforia perjuangan yang pernah hidup di tengah masyarakat Banjar Ole. Walaupun pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai sudah mengetahui bahwa dirinya sudah dikepung Belanda,” kata Amrita Dharma.

Salah satu aspek yang menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini adalah, sutradara yang terinspirasi dari cerita yang kerap didengarnya sejak kecil dari sang kakek, I Nyoman Mongol. Ceriya mengenai rumah keluarga mereka yang pernah digunakan sebagai markas pasukan perjuangan I Gusti Ngurah Rai. Pengalaman mendengar kisah tersebut menumbuhkan ketertarikannya untuk mengangkat kembali fragmen sejarah perjuangan tersebut ke dalam bentuk pertunjukan teater tari. Mengangkat kisah perjuangan I Gusti Ngurah Rai juga lahir dari ide Perbekel Desa Marga Dauh Puri, I Wayan Wiryanata.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Amrita Dharma menegasan, pertunjukan seni ini lebih pada menonjolkan euforia para pejuang melalui adegan pementasan silat tengklung setelah berhasil merebut senjata dari tangsi NICA di Kota Tabanan. Namun, keberhasilan tersebut ternyata memicu kemarahan pihak NICA yang kemudian melancarkan serangan ke markas I Gusti Ngurah Rai yang sudah bergerak ke Subak Umakaang. Bentrokan pun tak terhindarkan dan berkembang menjadi pertempuran sengit yang akhirnya bermuara pada semangat puputan sebagai simbol perjuangan tanpa menyerah demi mempertahankan tanah Bali.

Dalam teater tari itu, Amrita Dharma yang juga seorang filmmaker, memasukan pembacaan kutipan dari Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai yang disisipkan di tengah alur pementasan menjadi salah satu momen penting dalam pertunjukan itu. Kehadiran pembacaan surat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penguat narasi sejarah, tetapi juga menjadi representasi semangat perjuangan, keberanian, dan keteguhan sikap yang dimiliki oleh I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Melalui pembacaan teks, penonton diajak untuk merasakan kembali suasana perjuangan pada masa revolusi fisik di Bali serta memahami nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh sang pahlawan. “Pembacaan Surat Sakti ini menjadi salah satu bagian penting yang menghubungkan unsur dramatik pertunjukan dengan fakta sejarah yang melatarbelakangi peristiwa perjuangan di Desa Marga,” ungkapnya.

Didukung pemain dengan tiga latar berbeda

“Marga Saksi Kemardikan” menjadi sebuah garapan teater tari yang mampu meleburkan gerak tari dan akting teater secara harmonis, sehingga pesan cerita tersampaikan dengan emosional dan visual yang memukau. Garapan ini didukung oleh pemain dengan latar berbeda, seperti berlatar penari, pemain permainan tradisional dan pencak silat. Namun, konsepnya kuat dan dieksekusi secara matang di atas panggung. Gerak tari yang disajikan bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa tubuh yang mengekspresikan dialog batin dan emosi tokoh. Konsep dan struktur cerita memiliki alur, penguasaan ruang dan pola lantai serta kemampuan para pemain untuk menghidupkan karakter melalui ekspresi dan penghayatan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Di sini, Amrita Dharma meramu semuanya menjadi sebuah garapan seni yang tidak memaksakan semua pemain menjadi penari, tetapi menemukan potensi gerak yang mereka miliki. Tari dan pencak silat sama-sama berangkat dari tubuh sebagai media ekspresi. Itu yang menjadi kunci utamanya. “Artinya, dalam garapan ini bukan menyamakan kemampuan semua pemain, melainkan menemukan bahasa gerak bersama,” jelasnya.

Gerak silat diolah dengan pendekatan koreografi, sementara pemain yang tidak memiliki dasar tari diarahkan pada kesadaran tubuh dan perannya masing-masing. Dengan demikian, setiap orang tetap dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya, dan keberagaman latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan yang memperkaya bentuk pertunjukan. “Ini memang menjadi tantangan kami,” lanjutnya.

Amrita Dharma lalu menegaskan, melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa semangat perjuangan tidak hanya tercermin dalam pertempuran, tetapi juga dalam keberanian, kebersamaan, dan keteguhan menjaga nilai-nilai yang diyakini. Kisah heroik I Gusti Ngurah Rai yang dipadukan dengan pengembangan gerak Silat Tengklung menjadi pengingat bahwa sejarah hidup melalui ingatan, budaya, dan karya seni, sekaligus mengajak generasi masa kini untuk meneladani semangat pantang menyerah, cinta tanah air, dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Tetap hidup dengan iringan musik MIDI

Meskipun menggunakan iringan musik MIDI yang cenderung mekanis karena menggunakan data digital berbasis computer, namun teater tari Marga Saksi Kemardikan tetap terlihat hidup. Alat music terdengar minimalis, namun komosisinya mampu menghidupkan suasana di setiap adegan. Musik MIDI yang menggunakan rekaman suara (sampling) itu, tetap dapat merespons penari atau ritme panggung secara seketika, karena komposer juga memainkan sungu ataupun tawa-tawa untuk memberi variasi secara natural.

“Saya menggunakan alat music itu berdasarkan feeling aja, mungkin juga dengan pengalaman mendengar dari instrument-instrumen tersebut, sehingga ketika saya membaca naskahnya, saya langsung membayangkan instrumen tersebut bermain di otak saya,” ujar Manipuspaka.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Kejelian seorang komposer juga dituntut saat pembacaan narasai di dalam sebuah adegan. Untuk menjadikan fokus penonton pada narasi, ia menciptakan musik dengan memperhalus bunyian instrumen, sehingga tidak mengalihkan fokus penonton. “Di sini, saya membuat musik sebagai layer untuk narasi, sehingga penonton bisa membayangkan atau berada didalam narasi tersebut,” lanjutnya.

Hampir sepanjang durasi, musikal instrumen yang digunakan itu instrumen autentik. Misal dalam pementasan tengklung, menggunakan kajar/tawa-tawa, kecek, kempur/gong. “Di situ juga, seharusnya ada musik kendang, tetapi instrumen kendang saya gantikan dengan salah satu bagian dari drum set, yaitu floor, cymbal serta tambahan instrumen jimbe,” sambungnya.

“Saya memilih instrumen tersebut, karena di dalam adegan 2, pada saat melucuti persenjataan itu terkesan heroik, namun bahagia karena berhasil mencuri senjata dari Tangsi NICA. Maka saya menambahkan instrumen floor dan cymbal agar terkesan heroik, jimbe dengan ritmis yang dinamis. Begitu juga saat adegan 3, saat mengadakan pementasan tengklung, sebelum akhirnya berperang,” terangnya.

Lalu, untuk instrumen yang bermelodi, ia mengunakan sample suling gambuh yang ditransfer ke laptop. Melalui MIDI itu ia membuat melodi dengan suara suling gambuh. “Selain suling gambuh, saya juga menambahkan instrumen string lainnya, seperti violin, cello, dan contrabass, dan instrumen brass, seperti french horn agar terkesan heroik peperangan di bagian akhir. Di sini saya bermain musik MIDI, melalui laptop, dan saya menambahkan efek-efek digital untuk mempertebal suasana di setiap adegan,” bebernya.

Memang tidak mudah. Ketika dipercaya menggarap music iringan teater tari tersebut, Made Manipuspaka awalnya cukup panik, karena deadline yang sangat singkat dan durasi pementasan yang cukup panjang. Namun, ia tetap menggarap yang diawali dengan mewujudkan secara struktur terlebih dahulu. Selanjutnya, setelah masih ada sisa waktu ia baru menambahkan hiasan-hiasan instrumen lainnya, sesuai dengan penokohan dalam setiap adegan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

“Yang pasti, saya mesti memahami struktur pementasannya terlebih dahulu. Caranya, dengan membaca naskah dari setiap adegan, setelah itu menginterpretasikan suasana dari setiap adegan tersebut, lalu memilih instrument-instrumen yang akan digunakan,” ucapnya.

Jadwal pentas yang gasar-geser

Meski persembahan “Marga Saksi Kemardikan” merupakan Duta Desa Marga Dauh Puri itu mendapat apresiasi diakhir pertunjukannya, namun wajah-wajah para pendukung teater tari itu hanya tersenyum semu. Semangat dan nafas mereka seakan dihentikan oleh jadwal pentas yang gasar-geser. Semula, dijadwalkan tampil setelah sambutan dan pembukaan Marga Fest II oleh Bupati Tabanan, sekitar pukul 20.45 Wita. Namun, menjelang pentas ternyata menjadi urutan terakhir, setelah penampilan Barong Bangkung dan Barong Keta atau sekitar pukul 21.55 Wita.

Padahal didalam jadwal itu tertulis, penampilan Barong Bangkung itu sebelum pembukaan oleh Marga Fest II oleh Bupati, sekitar pukul 19.45 Wita. Di dalam jadwal itu juga tidak disebutkan adanya penampilan Barong Ket, sehingga penampilan teater tari Marga Saksi Kemardikan itu molor dengan waktu yang lebih panjang. Ini sebagai insiden yang dapat mengganggu konsentrasi para pemain. Kekacauan waktu, juga terjadi saat gladi bersih pada Minggu, 31 Mei 2026. Duta Desa Marga Dauh Puri dijadwalkan mendapat giliran gladi pukul 21.00 Wita, setelah Desa Geluntung, Desa Tua dan Desa Marga. Namun, ketika duta seni ini akan gladi, ternyata waktunya masih digunakan oleh duta sebelumnya, sehingga baru mendapat giliran sekitar pukul 23.20 Wita. Pada saat gladi juga tidak ada MC yang mengatur pasti. Maka wajar, pelaksanaan gladi terkesan kacau. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriI Gusti Ngurah RaiMarga FestMargaranaTeaterteater tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Next Post

Sihir Tiga Kode Huruf

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

Read moreDetails

Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

RASA rindu terhadap lagu-lagu Bali yang sempat mewarnai awal dekade 2000-an terobati dalam Pergelaran Musik "Bintang 5 Musik Jani" persembahan...

Read moreDetails

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

TAWA penonton sesekali pecah mengikuti dialog-dialog jenaka yang menghidupkan panggung. Namun perlahan suasana berubah. Musik mengalun semakin sendu, puisi dilantunkan...

Read moreDetails

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

Read moreDetails

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

Read moreDetails

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

Read moreDetails

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
0
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

Read moreDetails

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

Read moreDetails

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

Read moreDetails
Next Post
Sihir Tiga Kode Huruf

Sihir Tiga Kode Huruf

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co