1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. Kak nu cenik ugen to sing baange pesu. Kak nengil jumah gen. Ugen to rames sajan munyin bedile.”

Terjemahan: “Disinilah Bapak I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menginap. Di rumah warga sebelah timur juga ada. Kakek tidak tahu pasti, karena pasukan itu datang malam. Jika pagi, mereka sedikit di rumah. Mereka pergi malam dan datang malam. Kakek masih kecil saat itu, sehingga diam di rumah. Tetapi, suara tembakan itu terus saja terdengar.”

Suaranya parau, serak dan bergetar, namun terdengar sangat jelas. Kakek itu menceritakan masa kecilnya, ketika pasukan yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai itu datang ke kampung halamannya, di Banjar Ole, hingga cerita itu diakhiri suara gong. Suara suling pegambuhan kemudian mengalun, lalu diikuti keluarnya enam penari berbusana nuansa putih yang bergerak pelan dengan karakter kuat, serta ekspresi yang lebih hidup.

Itulah tanda dimulainya teater tari berjudul “Marga Saksi Kemardikan” yang disajikan oleh Sanggar Buratwangi berkolaborasi dengan Perguruan Pencak Silat Merpati Putih Banjar Ole serta didukung Komunitas Tanpa Kata dan Amrita Studio sebagai duta Desa Marga Dauh Puri di Marga Fest II di Wantilan TPB Margarana, Kecamatan Marga – Tabanan, Selasa 2 Juni 2026 malam. Garapan seni ini tampak sederhana, namun tidak kosong. Pesannya tegas, simbol dan pendidikan juga terasa kental.  

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

  

Garapan seni ini didukung sekitar 30 anak-anak muda yang tidak semuanya memiliki dasar seni tari. Kisahnya dimulai dari berita pada tanggal 15 Agustus 1945, melalui siaran radio. Saat itu, Kaisar Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menerima syarat-syarat penyerahan diri kepada Sekutu, menandai berakhirnya keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II.

Pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal perang USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, Jepang secara resmi menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu.

Di Nusantara, atas nama rakyat Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, tidak ada kekuatan apa pun yang berhak merampas kemerdekaan tersebut. Dari tangan rakyat Indonesia, segala bentuk penjajahan harus enyah dari bumi pertiwi.

Pada awal tahun 1946, NICA kembali memasuki Bali dengan membonceng pasukan Sekutu yang bertugas menerima penyerahan dan melucuti tentara Jepang.

Namun, pada tanggal 2 Maret 1946, pasukan “Gajah Merah” telah menyebar ke berbagai wilayah Bali. Kedatangan mereka bukan semata-mata untuk melucuti tentara Jepang, melainkan untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda atas Pulau Bali.

Hingga pada bulan November 1946, tibalah I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara di Desa Marga. Di sanalah perjuangan mencapai puncaknya, ketika semangat kemerdekaan dipertaruhkan dalam pertempuran yang kelak dikenang sebagai Puputan Margarana.

Padukan unsur dramatik dan koreografi gerak

Amrita Dharma yang bertindak sebagai sutradara mengkemas pertunjukan seni ini dalam bentuk teater tari yang memadukan unsur dramatik dan koreografi gerak. Dalam mewujudkan karya yang kreatif itu, ia dibantu oleh Mahija Sena dan Arya Krisna sebagai koreografer serta Made Manipuspaka yang dipercaya sebagai komposer.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Garapan didominasi oleh ragam gerak silat yang menjadi identitas utama karya, sekaligus merepresentasikan semangat perjuangan para pejuang pada masa tersebut. Pemilihan unsur silat didasarkan pada peristiwa historis pementasan Silat Tengklung yang berlangsung selama beberapa hari ketika pasukan I Gusti Ngurah Rai bermarkas di Banjar Ole, Desa Marga.

“Kami tetap menyajikan pengolahan gerak yang berpijak pada tradisi, karena kami ingin menyajikan pertunjukan seni yang berupaya menghadirkan kembali suasana, semangat kebersamaan, serta euforia perjuangan yang pernah hidup di tengah masyarakat Banjar Ole. Walaupun pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai sudah mengetahui bahwa dirinya sudah dikepung Belanda,” kata Amrita Dharma.

Salah satu aspek yang menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini adalah, sutradara yang terinspirasi dari cerita yang kerap didengarnya sejak kecil dari sang kakek, I Nyoman Mongol. Ceriya mengenai rumah keluarga mereka yang pernah digunakan sebagai markas pasukan perjuangan I Gusti Ngurah Rai. Pengalaman mendengar kisah tersebut menumbuhkan ketertarikannya untuk mengangkat kembali fragmen sejarah perjuangan tersebut ke dalam bentuk pertunjukan teater tari. Mengangkat kisah perjuangan I Gusti Ngurah Rai juga lahir dari ide Perbekel Desa Marga Dauh Puri, I Wayan Wiryanata.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Amrita Dharma menegasan, pertunjukan seni ini lebih pada menonjolkan euforia para pejuang melalui adegan pementasan silat tengklung setelah berhasil merebut senjata dari tangsi NICA di Kota Tabanan. Namun, keberhasilan tersebut ternyata memicu kemarahan pihak NICA yang kemudian melancarkan serangan ke markas I Gusti Ngurah Rai yang sudah bergerak ke Subak Umakaang. Bentrokan pun tak terhindarkan dan berkembang menjadi pertempuran sengit yang akhirnya bermuara pada semangat puputan sebagai simbol perjuangan tanpa menyerah demi mempertahankan tanah Bali.

Dalam teater tari itu, Amrita Dharma yang juga seorang filmmaker, memasukan pembacaan kutipan dari Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai yang disisipkan di tengah alur pementasan menjadi salah satu momen penting dalam pertunjukan itu. Kehadiran pembacaan surat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penguat narasi sejarah, tetapi juga menjadi representasi semangat perjuangan, keberanian, dan keteguhan sikap yang dimiliki oleh I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Melalui pembacaan teks, penonton diajak untuk merasakan kembali suasana perjuangan pada masa revolusi fisik di Bali serta memahami nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh sang pahlawan. “Pembacaan Surat Sakti ini menjadi salah satu bagian penting yang menghubungkan unsur dramatik pertunjukan dengan fakta sejarah yang melatarbelakangi peristiwa perjuangan di Desa Marga,” ungkapnya.

Didukung pemain dengan tiga latar berbeda

“Marga Saksi Kemardikan” menjadi sebuah garapan teater tari yang mampu meleburkan gerak tari dan akting teater secara harmonis, sehingga pesan cerita tersampaikan dengan emosional dan visual yang memukau. Garapan ini didukung oleh pemain dengan latar berbeda, seperti berlatar penari, pemain permainan tradisional dan pencak silat. Namun, konsepnya kuat dan dieksekusi secara matang di atas panggung. Gerak tari yang disajikan bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa tubuh yang mengekspresikan dialog batin dan emosi tokoh. Konsep dan struktur cerita memiliki alur, penguasaan ruang dan pola lantai serta kemampuan para pemain untuk menghidupkan karakter melalui ekspresi dan penghayatan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Di sini, Amrita Dharma meramu semuanya menjadi sebuah garapan seni yang tidak memaksakan semua pemain menjadi penari, tetapi menemukan potensi gerak yang mereka miliki. Tari dan pencak silat sama-sama berangkat dari tubuh sebagai media ekspresi. Itu yang menjadi kunci utamanya. “Artinya, dalam garapan ini bukan menyamakan kemampuan semua pemain, melainkan menemukan bahasa gerak bersama,” jelasnya.

Gerak silat diolah dengan pendekatan koreografi, sementara pemain yang tidak memiliki dasar tari diarahkan pada kesadaran tubuh dan perannya masing-masing. Dengan demikian, setiap orang tetap dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya, dan keberagaman latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan yang memperkaya bentuk pertunjukan. “Ini memang menjadi tantangan kami,” lanjutnya.

Amrita Dharma lalu menegaskan, melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa semangat perjuangan tidak hanya tercermin dalam pertempuran, tetapi juga dalam keberanian, kebersamaan, dan keteguhan menjaga nilai-nilai yang diyakini. Kisah heroik I Gusti Ngurah Rai yang dipadukan dengan pengembangan gerak Silat Tengklung menjadi pengingat bahwa sejarah hidup melalui ingatan, budaya, dan karya seni, sekaligus mengajak generasi masa kini untuk meneladani semangat pantang menyerah, cinta tanah air, dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Tetap hidup dengan iringan musik MIDI

Meskipun menggunakan iringan musik MIDI yang cenderung mekanis karena menggunakan data digital berbasis computer, namun teater tari Marga Saksi Kemardikan tetap terlihat hidup. Alat music terdengar minimalis, namun komosisinya mampu menghidupkan suasana di setiap adegan. Musik MIDI yang menggunakan rekaman suara (sampling) itu, tetap dapat merespons penari atau ritme panggung secara seketika, karena komposer juga memainkan sungu ataupun tawa-tawa untuk memberi variasi secara natural.

“Saya menggunakan alat music itu berdasarkan feeling aja, mungkin juga dengan pengalaman mendengar dari instrument-instrumen tersebut, sehingga ketika saya membaca naskahnya, saya langsung membayangkan instrumen tersebut bermain di otak saya,” ujar Manipuspaka.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Kejelian seorang komposer juga dituntut saat pembacaan narasai di dalam sebuah adegan. Untuk menjadikan fokus penonton pada narasi, ia menciptakan musik dengan memperhalus bunyian instrumen, sehingga tidak mengalihkan fokus penonton. “Di sini, saya membuat musik sebagai layer untuk narasi, sehingga penonton bisa membayangkan atau berada didalam narasi tersebut,” lanjutnya.

Hampir sepanjang durasi, musikal instrumen yang digunakan itu instrumen autentik. Misal dalam pementasan tengklung, menggunakan kajar/tawa-tawa, kecek, kempur/gong. “Di situ juga, seharusnya ada musik kendang, tetapi instrumen kendang saya gantikan dengan salah satu bagian dari drum set, yaitu floor, cymbal serta tambahan instrumen jimbe,” sambungnya.

“Saya memilih instrumen tersebut, karena di dalam adegan 2, pada saat melucuti persenjataan itu terkesan heroik, namun bahagia karena berhasil mencuri senjata dari Tangsi NICA. Maka saya menambahkan instrumen floor dan cymbal agar terkesan heroik, jimbe dengan ritmis yang dinamis. Begitu juga saat adegan 3, saat mengadakan pementasan tengklung, sebelum akhirnya berperang,” terangnya.

Lalu, untuk instrumen yang bermelodi, ia mengunakan sample suling gambuh yang ditransfer ke laptop. Melalui MIDI itu ia membuat melodi dengan suara suling gambuh. “Selain suling gambuh, saya juga menambahkan instrumen string lainnya, seperti violin, cello, dan contrabass, dan instrumen brass, seperti french horn agar terkesan heroik peperangan di bagian akhir. Di sini saya bermain musik MIDI, melalui laptop, dan saya menambahkan efek-efek digital untuk mempertebal suasana di setiap adegan,” bebernya.

Memang tidak mudah. Ketika dipercaya menggarap music iringan teater tari tersebut, Made Manipuspaka awalnya cukup panik, karena deadline yang sangat singkat dan durasi pementasan yang cukup panjang. Namun, ia tetap menggarap yang diawali dengan mewujudkan secara struktur terlebih dahulu. Selanjutnya, setelah masih ada sisa waktu ia baru menambahkan hiasan-hiasan instrumen lainnya, sesuai dengan penokohan dalam setiap adegan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

“Yang pasti, saya mesti memahami struktur pementasannya terlebih dahulu. Caranya, dengan membaca naskah dari setiap adegan, setelah itu menginterpretasikan suasana dari setiap adegan tersebut, lalu memilih instrument-instrumen yang akan digunakan,” ucapnya.

Jadwal pentas yang gasar-geser

Meski persembahan “Marga Saksi Kemardikan” merupakan Duta Desa Marga Dauh Puri itu mendapat apresiasi diakhir pertunjukannya, namun wajah-wajah para pendukung teater tari itu hanya tersenyum semu. Semangat dan nafas mereka seakan dihentikan oleh jadwal pentas yang gasar-geser. Semula, dijadwalkan tampil setelah sambutan dan pembukaan Marga Fest II oleh Bupati Tabanan, sekitar pukul 20.45 Wita. Namun, menjelang pentas ternyata menjadi urutan terakhir, setelah penampilan Barong Bangkung dan Barong Keta atau sekitar pukul 21.55 Wita.

Padahal didalam jadwal itu tertulis, penampilan Barong Bangkung itu sebelum pembukaan oleh Marga Fest II oleh Bupati, sekitar pukul 19.45 Wita. Di dalam jadwal itu juga tidak disebutkan adanya penampilan Barong Ket, sehingga penampilan teater tari Marga Saksi Kemardikan itu molor dengan waktu yang lebih panjang. Ini sebagai insiden yang dapat mengganggu konsentrasi para pemain. Kekacauan waktu, juga terjadi saat gladi bersih pada Minggu, 31 Mei 2026. Duta Desa Marga Dauh Puri dijadwalkan mendapat giliran gladi pukul 21.00 Wita, setelah Desa Geluntung, Desa Tua dan Desa Marga. Namun, ketika duta seni ini akan gladi, ternyata waktunya masih digunakan oleh duta sebelumnya, sehingga baru mendapat giliran sekitar pukul 23.20 Wita. Pada saat gladi juga tidak ada MC yang mengatur pasti. Maka wajar, pelaksanaan gladi terkesan kacau. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriI Gusti Ngurah RaiMarga FestMargaranaTeaterteater tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Next Post

Sihir Tiga Kode Huruf

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Sihir Tiga Kode Huruf

Sihir Tiga Kode Huruf

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co