2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
in Panggung
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. Kak nu cenik ugen to sing baange pesu. Kak nengil jumah gen. Ugen to rames sajan munyin bedile.”

Terjemahan: “Disinilah Bapak I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menginap. Di rumah warga sebelah timur juga ada. Kakek tidak tahu pasti, karena pasukan itu datang malam. Jika pagi, mereka sedikit di rumah. Mereka pergi malam dan datang malam. Kakek masih kecil saat itu, sehingga diam di rumah. Tetapi, suara tembakan itu terus saja terdengar.”

Suaranya parau, serak dan bergetar, namun terdengar sangat jelas. Kakek itu menceritakan masa kecilnya, ketika pasukan yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai itu datang ke kampung halamannya, di Banjar Ole, hingga cerita itu diakhiri suara gong. Suara suling pegambuhan kemudian mengalun, lalu diikuti keluarnya enam penari berbusana nuansa putih yang bergerak pelan dengan karakter kuat, serta ekspresi yang lebih hidup.

Itulah tanda dimulainya teater tari berjudul “Marga Saksi Kemardikan” yang disajikan oleh Sanggar Buratwangi berkolaborasi dengan Perguruan Pencak Silat Merpati Putih Banjar Ole serta didukung Komunitas Tanpa Kata dan Amrita Studio sebagai duta Desa Marga Dauh Puri di Marga Fest II di Wantilan TPB Margarana, Kecamatan Marga – Tabanan, Selasa 2 Juni 2026 malam. Garapan seni ini tampak sederhana, namun tidak kosong. Pesannya tegas, simbol dan pendidikan juga terasa kental.  

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

  

Garapan seni ini didukung sekitar 30 anak-anak muda yang tidak semuanya memiliki dasar seni tari. Kisahnya dimulai dari berita pada tanggal 15 Agustus 1945, melalui siaran radio. Saat itu, Kaisar Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menerima syarat-syarat penyerahan diri kepada Sekutu, menandai berakhirnya keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II.

Pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal perang USS Missouri yang berlabuh di Teluk Tokyo, Jepang secara resmi menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu.

Di Nusantara, atas nama rakyat Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, tidak ada kekuatan apa pun yang berhak merampas kemerdekaan tersebut. Dari tangan rakyat Indonesia, segala bentuk penjajahan harus enyah dari bumi pertiwi.

Pada awal tahun 1946, NICA kembali memasuki Bali dengan membonceng pasukan Sekutu yang bertugas menerima penyerahan dan melucuti tentara Jepang.

Namun, pada tanggal 2 Maret 1946, pasukan “Gajah Merah” telah menyebar ke berbagai wilayah Bali. Kedatangan mereka bukan semata-mata untuk melucuti tentara Jepang, melainkan untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial Belanda atas Pulau Bali.

Hingga pada bulan November 1946, tibalah I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara di Desa Marga. Di sanalah perjuangan mencapai puncaknya, ketika semangat kemerdekaan dipertaruhkan dalam pertempuran yang kelak dikenang sebagai Puputan Margarana.

Padukan unsur dramatik dan koreografi gerak

Amrita Dharma yang bertindak sebagai sutradara mengkemas pertunjukan seni ini dalam bentuk teater tari yang memadukan unsur dramatik dan koreografi gerak. Dalam mewujudkan karya yang kreatif itu, ia dibantu oleh Mahija Sena dan Arya Krisna sebagai koreografer serta Made Manipuspaka yang dipercaya sebagai komposer.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Garapan didominasi oleh ragam gerak silat yang menjadi identitas utama karya, sekaligus merepresentasikan semangat perjuangan para pejuang pada masa tersebut. Pemilihan unsur silat didasarkan pada peristiwa historis pementasan Silat Tengklung yang berlangsung selama beberapa hari ketika pasukan I Gusti Ngurah Rai bermarkas di Banjar Ole, Desa Marga.

“Kami tetap menyajikan pengolahan gerak yang berpijak pada tradisi, karena kami ingin menyajikan pertunjukan seni yang berupaya menghadirkan kembali suasana, semangat kebersamaan, serta euforia perjuangan yang pernah hidup di tengah masyarakat Banjar Ole. Walaupun pada saat itu, I Gusti Ngurah Rai sudah mengetahui bahwa dirinya sudah dikepung Belanda,” kata Amrita Dharma.

Salah satu aspek yang menjadi fokus utama dalam pertunjukan ini adalah, sutradara yang terinspirasi dari cerita yang kerap didengarnya sejak kecil dari sang kakek, I Nyoman Mongol. Ceriya mengenai rumah keluarga mereka yang pernah digunakan sebagai markas pasukan perjuangan I Gusti Ngurah Rai. Pengalaman mendengar kisah tersebut menumbuhkan ketertarikannya untuk mengangkat kembali fragmen sejarah perjuangan tersebut ke dalam bentuk pertunjukan teater tari. Mengangkat kisah perjuangan I Gusti Ngurah Rai juga lahir dari ide Perbekel Desa Marga Dauh Puri, I Wayan Wiryanata.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Amrita Dharma menegasan, pertunjukan seni ini lebih pada menonjolkan euforia para pejuang melalui adegan pementasan silat tengklung setelah berhasil merebut senjata dari tangsi NICA di Kota Tabanan. Namun, keberhasilan tersebut ternyata memicu kemarahan pihak NICA yang kemudian melancarkan serangan ke markas I Gusti Ngurah Rai yang sudah bergerak ke Subak Umakaang. Bentrokan pun tak terhindarkan dan berkembang menjadi pertempuran sengit yang akhirnya bermuara pada semangat puputan sebagai simbol perjuangan tanpa menyerah demi mempertahankan tanah Bali.

Dalam teater tari itu, Amrita Dharma yang juga seorang filmmaker, memasukan pembacaan kutipan dari Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai yang disisipkan di tengah alur pementasan menjadi salah satu momen penting dalam pertunjukan itu. Kehadiran pembacaan surat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penguat narasi sejarah, tetapi juga menjadi representasi semangat perjuangan, keberanian, dan keteguhan sikap yang dimiliki oleh I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi kekuatan kolonial.

Melalui pembacaan teks, penonton diajak untuk merasakan kembali suasana perjuangan pada masa revolusi fisik di Bali serta memahami nilai-nilai patriotisme yang terkandung dalam pesan yang disampaikan oleh sang pahlawan. “Pembacaan Surat Sakti ini menjadi salah satu bagian penting yang menghubungkan unsur dramatik pertunjukan dengan fakta sejarah yang melatarbelakangi peristiwa perjuangan di Desa Marga,” ungkapnya.

Didukung pemain dengan tiga latar berbeda

“Marga Saksi Kemardikan” menjadi sebuah garapan teater tari yang mampu meleburkan gerak tari dan akting teater secara harmonis, sehingga pesan cerita tersampaikan dengan emosional dan visual yang memukau. Garapan ini didukung oleh pemain dengan latar berbeda, seperti berlatar penari, pemain permainan tradisional dan pencak silat. Namun, konsepnya kuat dan dieksekusi secara matang di atas panggung. Gerak tari yang disajikan bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa tubuh yang mengekspresikan dialog batin dan emosi tokoh. Konsep dan struktur cerita memiliki alur, penguasaan ruang dan pola lantai serta kemampuan para pemain untuk menghidupkan karakter melalui ekspresi dan penghayatan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Di sini, Amrita Dharma meramu semuanya menjadi sebuah garapan seni yang tidak memaksakan semua pemain menjadi penari, tetapi menemukan potensi gerak yang mereka miliki. Tari dan pencak silat sama-sama berangkat dari tubuh sebagai media ekspresi. Itu yang menjadi kunci utamanya. “Artinya, dalam garapan ini bukan menyamakan kemampuan semua pemain, melainkan menemukan bahasa gerak bersama,” jelasnya.

Gerak silat diolah dengan pendekatan koreografi, sementara pemain yang tidak memiliki dasar tari diarahkan pada kesadaran tubuh dan perannya masing-masing. Dengan demikian, setiap orang tetap dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya, dan keberagaman latar belakang tersebut justru menjadi kekuatan yang memperkaya bentuk pertunjukan. “Ini memang menjadi tantangan kami,” lanjutnya.

Amrita Dharma lalu menegaskan, melalui pertunjukan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa semangat perjuangan tidak hanya tercermin dalam pertempuran, tetapi juga dalam keberanian, kebersamaan, dan keteguhan menjaga nilai-nilai yang diyakini. Kisah heroik I Gusti Ngurah Rai yang dipadukan dengan pengembangan gerak Silat Tengklung menjadi pengingat bahwa sejarah hidup melalui ingatan, budaya, dan karya seni, sekaligus mengajak generasi masa kini untuk meneladani semangat pantang menyerah, cinta tanah air, dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Tetap hidup dengan iringan musik MIDI

Meskipun menggunakan iringan musik MIDI yang cenderung mekanis karena menggunakan data digital berbasis computer, namun teater tari Marga Saksi Kemardikan tetap terlihat hidup. Alat music terdengar minimalis, namun komosisinya mampu menghidupkan suasana di setiap adegan. Musik MIDI yang menggunakan rekaman suara (sampling) itu, tetap dapat merespons penari atau ritme panggung secara seketika, karena komposer juga memainkan sungu ataupun tawa-tawa untuk memberi variasi secara natural.

“Saya menggunakan alat music itu berdasarkan feeling aja, mungkin juga dengan pengalaman mendengar dari instrument-instrumen tersebut, sehingga ketika saya membaca naskahnya, saya langsung membayangkan instrumen tersebut bermain di otak saya,” ujar Manipuspaka.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

Kejelian seorang komposer juga dituntut saat pembacaan narasai di dalam sebuah adegan. Untuk menjadikan fokus penonton pada narasi, ia menciptakan musik dengan memperhalus bunyian instrumen, sehingga tidak mengalihkan fokus penonton. “Di sini, saya membuat musik sebagai layer untuk narasi, sehingga penonton bisa membayangkan atau berada didalam narasi tersebut,” lanjutnya.

Hampir sepanjang durasi, musikal instrumen yang digunakan itu instrumen autentik. Misal dalam pementasan tengklung, menggunakan kajar/tawa-tawa, kecek, kempur/gong. “Di situ juga, seharusnya ada musik kendang, tetapi instrumen kendang saya gantikan dengan salah satu bagian dari drum set, yaitu floor, cymbal serta tambahan instrumen jimbe,” sambungnya.

“Saya memilih instrumen tersebut, karena di dalam adegan 2, pada saat melucuti persenjataan itu terkesan heroik, namun bahagia karena berhasil mencuri senjata dari Tangsi NICA. Maka saya menambahkan instrumen floor dan cymbal agar terkesan heroik, jimbe dengan ritmis yang dinamis. Begitu juga saat adegan 3, saat mengadakan pementasan tengklung, sebelum akhirnya berperang,” terangnya.

Lalu, untuk instrumen yang bermelodi, ia mengunakan sample suling gambuh yang ditransfer ke laptop. Melalui MIDI itu ia membuat melodi dengan suara suling gambuh. “Selain suling gambuh, saya juga menambahkan instrumen string lainnya, seperti violin, cello, dan contrabass, dan instrumen brass, seperti french horn agar terkesan heroik peperangan di bagian akhir. Di sini saya bermain musik MIDI, melalui laptop, dan saya menambahkan efek-efek digital untuk mempertebal suasana di setiap adegan,” bebernya.

Memang tidak mudah. Ketika dipercaya menggarap music iringan teater tari tersebut, Made Manipuspaka awalnya cukup panik, karena deadline yang sangat singkat dan durasi pementasan yang cukup panjang. Namun, ia tetap menggarap yang diawali dengan mewujudkan secara struktur terlebih dahulu. Selanjutnya, setelah masih ada sisa waktu ia baru menambahkan hiasan-hiasan instrumen lainnya, sesuai dengan penokohan dalam setiap adegan.

Teater tari “Marga Saksi Kemardikan” di Marga Fest II | Foto: Mang Gus

“Yang pasti, saya mesti memahami struktur pementasannya terlebih dahulu. Caranya, dengan membaca naskah dari setiap adegan, setelah itu menginterpretasikan suasana dari setiap adegan tersebut, lalu memilih instrument-instrumen yang akan digunakan,” ucapnya.

Jadwal pentas yang gasar-geser

Meski persembahan “Marga Saksi Kemardikan” merupakan Duta Desa Marga Dauh Puri itu mendapat apresiasi diakhir pertunjukannya, namun wajah-wajah para pendukung teater tari itu hanya tersenyum semu. Semangat dan nafas mereka seakan dihentikan oleh jadwal pentas yang gasar-geser. Semula, dijadwalkan tampil setelah sambutan dan pembukaan Marga Fest II oleh Bupati Tabanan, sekitar pukul 20.45 Wita. Namun, menjelang pentas ternyata menjadi urutan terakhir, setelah penampilan Barong Bangkung dan Barong Keta atau sekitar pukul 21.55 Wita.

Padahal didalam jadwal itu tertulis, penampilan Barong Bangkung itu sebelum pembukaan oleh Marga Fest II oleh Bupati, sekitar pukul 19.45 Wita. Di dalam jadwal itu juga tidak disebutkan adanya penampilan Barong Ket, sehingga penampilan teater tari Marga Saksi Kemardikan itu molor dengan waktu yang lebih panjang. Ini sebagai insiden yang dapat mengganggu konsentrasi para pemain. Kekacauan waktu, juga terjadi saat gladi bersih pada Minggu, 31 Mei 2026. Duta Desa Marga Dauh Puri dijadwalkan mendapat giliran gladi pukul 21.00 Wita, setelah Desa Geluntung, Desa Tua dan Desa Marga. Namun, ketika duta seni ini akan gladi, ternyata waktunya masih digunakan oleh duta sebelumnya, sehingga baru mendapat giliran sekitar pukul 23.20 Wita. Pada saat gladi juga tidak ada MC yang mengatur pasti. Maka wajar, pelaksanaan gladi terkesan kacau. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriI Gusti Ngurah RaiMarga FestMargaranaTeaterteater tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Next Post

Sihir Tiga Kode Huruf

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Sihir Tiga Kode Huruf

Sihir Tiga Kode Huruf

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co