PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial?
Kesalahan tik atau saltik yang populer dengan istilah typo, kini seolah telah menjadi pemandangan keseharian dan biasa dalam komunikasi digital. Di era yang serba cepat ini, fenomena ini mencerminkan kondisi psikologis masyarakat digital kita: ingin cepat, kurang sabar—termasuk dalam mengetik. Kita seolah terjebak dalam perlombaan untuk menjadi yang pertama membagikan berita, memberikan komentar pada isu yang sedang hangat, atau sekadar memperbarui status harian. Dalam ketergesaan itu, ketelitian sering kali dikorbankan, dan saltik pun menjadi bumbu yang mewarnai hampir setiap interaksi digital.
Apakah hal ini bisa diabaikan begitu saja dengan dalih efisiensi dan kecepatan? Tentu tidak. Jika kita menelisik lebih dalam, penyebab utama menjamurnya saltik adalah budaya instan yang kian mengakar dalam pola komunikasi kita. Di platform seperti Facebook, YouTube, TikTok, Instagram, hingga X, algoritma menuntut penggunanya untuk selalu aktif, responsif, dan konsisten. Tekanan untuk terus memproduksi konten membuat proses penyuntingan yang seharusnya menjadi tahap krusial sebelum konten dilepas ke publik, sering kali terlewati begitu saja. Kita mulai memaklumi kesalahan dengan anggapan keliru bahwa selama orang lain paham maksudnya, ejaan, tanda baca, dan tata bahasa tidak lagi dianggap penting.
Hambatan teknis juga turut memperparah keadaan ini. Ukuran layar ponsel yang terbatas sering kali membuat jemari salah menekan huruf yang berdekatan. Belum lagi fitur koreksi otomatis (autocorrect) yang terkadang “salah tebak” dan secara sepihak mengubah kata kita menjadi istilah lain yang sama sekali berbeda maknanya.
Lebih dari sekadar masalah teknis atau mekanis, ketepatan berbahasa tulis adalah soal etika dan martabat sang penulis. Ada anggapan salah bahwa peduli pada ejaan membuat seseorang terlihat kaku, membosankan, atau terlalu formal di dunia maya. Padahal, di dunia profesional dan pergaulan digital yang sehat, ketepatan berbahasa adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada pembaca. Kesalahan ejaan yang berulang, sekecil apa pun itu, secara perlahan akan melunturkan wibawa tulisan tersebut. Pembaca tidak lagi mampu fokus pada substansi pesan atau kedalaman ide yang Anda sampaikan, melainkan terdistraksi oleh kekeliruan-kekeliruan kecil yang mengganggu kenyamanan mereka.
Dalam konteks pencitraan diri (personal branding), ketelitian dalam menulis adalah cerminan karakter yang autentik. Ia menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang cermat, menghargai detail, dan memiliki tingkat literasi yang baik. Di ruang digital yang luas, bahasa tulis adalah “pakaian” Anda. Menggunakan bahasa yang rapi tanpa saltik ibarat mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Ia memberikan kesan pertama yang kredibel bahkan sebelum Anda sempat menjelaskan siapa diri Anda. Sebaliknya, tulisan yang penuh saltik ibarat pakaian kusut yang dapat secara drastis mengurangi rasa percaya orang lain terhadap kompetensi dan integritas Anda.
Marilah kita mulai memberi jeda sejenak laju jemari kita. Melakukan penyuntingan mandiri selama beberapa detik sebelum menekan tombol “kirim” bukanlah sebuah tanda ketertinggalan, melainkan sebuah bentuk kedewasaan dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Di tengah belantara informasi yang serba cepat dan sering kali dangkal, ketelitian adalah sebuah kemewahan yang mampu membangun kepercayaan jangka panjang. Ingatlah selalu bahwa kata-kata tulis adalah wakil resmi Anda di dunia digital. Pastikan tulisan kita tampil dengan wibawa terbaiknya, tanpa cacat, dan penuh martabat. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole




























