7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
in Ulas Pentas
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan kemajuan dibanding secara umum yang terjadi pada ajang yang sama tahun-tahun sebelumnya, terutama dilihat dari segi artistik, kosa gerak dan bahasa ungkap di atas panggung. Namun, sepertinya masih banyak teater yang ragu-ragu bermain untuk menyampaikan kritik sosial, misalnya kritik terhadap fenomena sosial dan kehidupan yang terjadi di Bali belakangan ini.

Pementasan teater (modern) tentu tak melulu punya tujuan normal: agar penonton paham dan terhibur terhadap cerita yang dibawakan di atas panggung. Teater punya tugas lebih berat, antara lain menyampaikan pesan, refleksi atau renungan, dan kritik sosial melalui garapan cerita.

Apalagi, dalam ajang Bulan Bahasa Bali ini, cerita-cerita yang digarap kebanyakan cerita-cerita yang sudah dikenal secara umum di Bali, semisal kisah Basur dan Jaratkaru. Ketika cerita sudah dikenal luas, maka tugas seorang seniman drama seharusnya memberi warna lain dalam cerita itu, semisal menyelipkan “sesuatu yang berbeda” untuk penonton bawa pulang.

Meski tak banyak yang berani menyelipkan kritik sosial, sebagian besar garapan drama Bali modern di Bulan Bahasa Bali 2026 ini terlihat sangat lihai menyampaikan pesan-pesan moral sesuai dengan konteks zaman sekarang. Misalnya, drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta cukup berhasil membawa pesan untuk memuliakan perempuan.

Drama Basur mengisahkan Ni Garu dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada I Tigaron, putra tunggal I Gede Basur. Di sisi lain, dendam membara dalam diri I Gede Basur setelah gagal meminang Ni Sokasti untuk anaknya. Amarah dan ambisi mendorong Basur menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai Ni Sokasti, memantik rentetan konflik bernuansa mistis yang berujung kehancuran.

Drama Bali modern “Basur” garapan Teater Jineng Smasta Tabanan

Melalui alur dramatik yang kuat, pementasan ini menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan menjadi awal petaka. Basur, yang dikenal sakti, justru tumbang oleh kekuatannya sendiri setelah menistakan perempuan dan menyimpangkan ajaran suci.

“Kisah Basur ini masih relevan dengan kondisi sosial saat ini,” kata  I Gede Arum Gunawan atau Jro Arum selaku sutradara sekaligus penulis naskah drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta itu.

Dalam kisah ini, peran ibu dilukiskan begitu penting, terutama dalam pembentukan karakter anak. Apalagi, dalam kisah ini, tiga keluarga digambarkan kehilangan sosok ibu, namun memiliki nasib yang berbeda-beda.

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Februari 2026, juga berhasil menyelipkan pesan-pesan moral, terutama tentang kesetaraan manusia di dunia modern ini.

Kisah “Mlantjaran ka Sasak”, di tangan Sanggar Nong Nong Kling, juga memnyampaikan semacam refleksi dan renungan untuk dunia masa kini, misalnya tentang kasta. Penonton bisa membawa pertanyaan dalam perjalanan pulang dari Taman Budaya, “Apakah kasta masih menjadi penghalang hubungan antarmanusia, terutama dalam pernikahan, di Bali?”

Refleksi dan Kritik Sosial Menjadi Kekuatan

Kisah-kisah yang dimainkan grup drama modern pada ajang Bulan Bahasa Bali ini sebagian memang kisah-kisah lama dengan latar zaman kerajaan atau bisa disebut zaman kuna, semisal Basur dan Jaratkaru.  Kisah-kisah lama biasanya secara otomatis sudah mengandung pesan moral, terutama tentang kehidupan antara manusia. Namun, pesan moral itu biasanya sangat klasik. Tentang kehidupan hitam-putih, kebajikan dan kebatilan, surga dan neraka, baik-buruk: Yang baik akhirnya menang, yang buruk akan mendapat pahala keburukan yang setimpal.

Drama modern sepertinya punya tugas untuk menghubungkan amanat cerita itu ke dalam konteks yang lebih modern, sehingga cerita itu bisa berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini, dengan segala problema dan persoalannya.

Dalam kisah Jaratkaru misalnya, ada semacam amanat bahwa seseorang yang  tidak menikah di dunia nyata, maka leluhurnya akan menerima karma buruk di alam kematian. Apakah keyakinan-keyakinan semacam itu di masa lalu, masih sesuai dengan kehidupan manusia di zaman kini?

Jawabannya bisa macam-macam. Keyakinan pada nilai dan ajaran di masa lalu bisa saja pudar tergerus zaman, tapi bisa saja hidup tetap hidup selamanya. Dan, ketika cerita semacam itu dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan di atas panggung, sutradara atau penulis naskah tak bisa serta-merta memilih apakah pertunjukan itu akan memberi simpati pada ajaran lama, atau menentang ajaran itu. Tentu karena cerita semacam itu, yang sudah dipercaya begitu lama dan sudah menjadi semacam “agama”,  tidak bisa serta-merta diubah begitu saja. Saat dialihwahanakan di atas panggung, cerita itu hanya bisa disiasati dengan diberi “carangan-carangan” kecil untuk menjadi cermin bagi penonton agar bisa melihat diri sendiri dalam cerita itu. Di bagian itulah refleksi dan kritik sosial bermain. Justru, ketika cerita dianggap tak sesuai zaman tapi begitu merakyat, refleksi dan kritik sosial menjadi kekuatan di atas panggung pertunjukan.  

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling

Sejumlah pementasan drama modern di Bulan Bahasa Bali tentu sudah banyak yang berhasil menyelipkan refleksi pada pementasan. Namun untuk memunculkan kritik sosial terhadap fenomena yang dihadapi manusia zaman kini, banyak sutradara masih memainkannya dengan penuh keragu-raguan. Jika pun kritik muncul, itu hanya muncul selintas dalam celetukan yang bertujuan untuk mengundang tawa, bukan secara serius membongkar kesadaran untuk berbenah.

Putri Suastini, seorang pemain teater senior yang dikenal sebagai istri Gubernur Wayan Koster, pun mengamini bahwa kritik sosial penting ada dalam pementasan drama modern.

“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika.” Begitu kata Putri Suastini usai menonton drama Bali modern yang ditampilkan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin, 23 Februari 2026. Saat itu Kawiya memainkan kisah Jakatkaru.

Menurut Putri Suastini, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa tersakiti. Ia yang merupakan istri Gubernur dan bagian dari pemerintahan mengaku tidak alergi terhadap kritik. “Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” katanya.

Drama yang dimainkan Kawiya itu memang penuh dengan refleksi dan kritik sosial. Di situ digambarkan empat manusia urban yang hidup lajang di Denpasar mengalami berbagai persoalan hidup; sibuk kerja, kemacetan lalu-lintas dan banjir. Kesibukan dan persoalan yang mereka hadapi membuat mereka menjadi Jaratkaru, tidak sempat menikah, tidak berani menikah, tidak sadar bahwa mereka tidak menikah meski usia terus bertambah.

Jaratkaru, dengan kisah yang sudah jadi semacam ajaran di Bali itu, dimainkan dengan warna hidup manusia di zaman modern. Kisah Jaratkaru tidak tercerabut dari aslinya, namun ia diberikan cermin agar manusia modern bisa bersuluh dengan penuh kesadaran. [T]

Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026Drama Bali ModernTeaterteater bahasa bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Next Post

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co