17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
in Ulas Pentas
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan kemajuan dibanding secara umum yang terjadi pada ajang yang sama tahun-tahun sebelumnya, terutama dilihat dari segi artistik, kosa gerak dan bahasa ungkap di atas panggung. Namun, sepertinya masih banyak teater yang ragu-ragu bermain untuk menyampaikan kritik sosial, misalnya kritik terhadap fenomena sosial dan kehidupan yang terjadi di Bali belakangan ini.

Pementasan teater (modern) tentu tak melulu punya tujuan normal: agar penonton paham dan terhibur terhadap cerita yang dibawakan di atas panggung. Teater punya tugas lebih berat, antara lain menyampaikan pesan, refleksi atau renungan, dan kritik sosial melalui garapan cerita.

Apalagi, dalam ajang Bulan Bahasa Bali ini, cerita-cerita yang digarap kebanyakan cerita-cerita yang sudah dikenal secara umum di Bali, semisal kisah Basur dan Jaratkaru. Ketika cerita sudah dikenal luas, maka tugas seorang seniman drama seharusnya memberi warna lain dalam cerita itu, semisal menyelipkan “sesuatu yang berbeda” untuk penonton bawa pulang.

Meski tak banyak yang berani menyelipkan kritik sosial, sebagian besar garapan drama Bali modern di Bulan Bahasa Bali 2026 ini terlihat sangat lihai menyampaikan pesan-pesan moral sesuai dengan konteks zaman sekarang. Misalnya, drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta cukup berhasil membawa pesan untuk memuliakan perempuan.

Drama Basur mengisahkan Ni Garu dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada I Tigaron, putra tunggal I Gede Basur. Di sisi lain, dendam membara dalam diri I Gede Basur setelah gagal meminang Ni Sokasti untuk anaknya. Amarah dan ambisi mendorong Basur menggunakan ilmu hitam untuk mencelakai Ni Sokasti, memantik rentetan konflik bernuansa mistis yang berujung kehancuran.

Drama Bali modern “Basur” garapan Teater Jineng Smasta Tabanan

Melalui alur dramatik yang kuat, pementasan ini menegaskan bahwa kesombongan dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan menjadi awal petaka. Basur, yang dikenal sakti, justru tumbang oleh kekuatannya sendiri setelah menistakan perempuan dan menyimpangkan ajaran suci.

“Kisah Basur ini masih relevan dengan kondisi sosial saat ini,” kata  I Gede Arum Gunawan atau Jro Arum selaku sutradara sekaligus penulis naskah drama Basur yang dimainkan Teater Jineng Smasta itu.

Dalam kisah ini, peran ibu dilukiskan begitu penting, terutama dalam pembentukan karakter anak. Apalagi, dalam kisah ini, tiga keluarga digambarkan kehilangan sosok ibu, namun memiliki nasib yang berbeda-beda.

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Februari 2026, juga berhasil menyelipkan pesan-pesan moral, terutama tentang kesetaraan manusia di dunia modern ini.

Kisah “Mlantjaran ka Sasak”, di tangan Sanggar Nong Nong Kling, juga memnyampaikan semacam refleksi dan renungan untuk dunia masa kini, misalnya tentang kasta. Penonton bisa membawa pertanyaan dalam perjalanan pulang dari Taman Budaya, “Apakah kasta masih menjadi penghalang hubungan antarmanusia, terutama dalam pernikahan, di Bali?”

Refleksi dan Kritik Sosial Menjadi Kekuatan

Kisah-kisah yang dimainkan grup drama modern pada ajang Bulan Bahasa Bali ini sebagian memang kisah-kisah lama dengan latar zaman kerajaan atau bisa disebut zaman kuna, semisal Basur dan Jaratkaru.  Kisah-kisah lama biasanya secara otomatis sudah mengandung pesan moral, terutama tentang kehidupan antara manusia. Namun, pesan moral itu biasanya sangat klasik. Tentang kehidupan hitam-putih, kebajikan dan kebatilan, surga dan neraka, baik-buruk: Yang baik akhirnya menang, yang buruk akan mendapat pahala keburukan yang setimpal.

Drama modern sepertinya punya tugas untuk menghubungkan amanat cerita itu ke dalam konteks yang lebih modern, sehingga cerita itu bisa berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini, dengan segala problema dan persoalannya.

Dalam kisah Jaratkaru misalnya, ada semacam amanat bahwa seseorang yang  tidak menikah di dunia nyata, maka leluhurnya akan menerima karma buruk di alam kematian. Apakah keyakinan-keyakinan semacam itu di masa lalu, masih sesuai dengan kehidupan manusia di zaman kini?

Jawabannya bisa macam-macam. Keyakinan pada nilai dan ajaran di masa lalu bisa saja pudar tergerus zaman, tapi bisa saja hidup tetap hidup selamanya. Dan, ketika cerita semacam itu dipentaskan dalam bentuk seni pertunjukan di atas panggung, sutradara atau penulis naskah tak bisa serta-merta memilih apakah pertunjukan itu akan memberi simpati pada ajaran lama, atau menentang ajaran itu. Tentu karena cerita semacam itu, yang sudah dipercaya begitu lama dan sudah menjadi semacam “agama”,  tidak bisa serta-merta diubah begitu saja. Saat dialihwahanakan di atas panggung, cerita itu hanya bisa disiasati dengan diberi “carangan-carangan” kecil untuk menjadi cermin bagi penonton agar bisa melihat diri sendiri dalam cerita itu. Di bagian itulah refleksi dan kritik sosial bermain. Justru, ketika cerita dianggap tak sesuai zaman tapi begitu merakyat, refleksi dan kritik sosial menjadi kekuatan di atas panggung pertunjukan.  

Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” yang dimainkan Sanggar Nong Nong Kling

Sejumlah pementasan drama modern di Bulan Bahasa Bali tentu sudah banyak yang berhasil menyelipkan refleksi pada pementasan. Namun untuk memunculkan kritik sosial terhadap fenomena yang dihadapi manusia zaman kini, banyak sutradara masih memainkannya dengan penuh keragu-raguan. Jika pun kritik muncul, itu hanya muncul selintas dalam celetukan yang bertujuan untuk mengundang tawa, bukan secara serius membongkar kesadaran untuk berbenah.

Putri Suastini, seorang pemain teater senior yang dikenal sebagai istri Gubernur Wayan Koster, pun mengamini bahwa kritik sosial penting ada dalam pementasan drama modern.

“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika.” Begitu kata Putri Suastini usai menonton drama Bali modern yang ditampilkan Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin, 23 Februari 2026. Saat itu Kawiya memainkan kisah Jakatkaru.

Menurut Putri Suastini, aktor yang baik adalah mereka yang mampu menyampaikan kritik setajam silet tanpa membuat pihak yang dikritik merasa tersakiti. Ia yang merupakan istri Gubernur dan bagian dari pemerintahan mengaku tidak alergi terhadap kritik. “Tapi tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan. Itu tidak bagus,” katanya.

Drama yang dimainkan Kawiya itu memang penuh dengan refleksi dan kritik sosial. Di situ digambarkan empat manusia urban yang hidup lajang di Denpasar mengalami berbagai persoalan hidup; sibuk kerja, kemacetan lalu-lintas dan banjir. Kesibukan dan persoalan yang mereka hadapi membuat mereka menjadi Jaratkaru, tidak sempat menikah, tidak berani menikah, tidak sadar bahwa mereka tidak menikah meski usia terus bertambah.

Jaratkaru, dengan kisah yang sudah jadi semacam ajaran di Bali itu, dimainkan dengan warna hidup manusia di zaman modern. Kisah Jaratkaru tidak tercerabut dari aslinya, namun ia diberikan cermin agar manusia modern bisa bersuluh dengan penuh kesadaran. [T]

Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026Drama Bali ModernTeaterteater bahasa bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

Next Post

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co