5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 27, 2026
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

WAJAHNYA merah seperti para pemabuk yang setiap malam berteriak di depan rumah orang. Kepalanya menggelayut dan tangannya mengibas-ngibas seperti ikan yang menggelepar di tanah. Kedua kaki Grudug diikat di plafon Balai Banjar sehingga ia tampak seperti kelelawar kesiangan. Tapi, bagi anak-anak yang datang mengerubunginya sambil menunjuk-nunjuk, berbisik-bisik, bahkan tertawa kecil, Grudug adalah penampil sirkus.

Rasanya sudah jelas, tapi tak ada yang tahu pasti siapa yang mengikatnya. Setiap orang enggan bertanya. Bedanya dengan anak-anak begitu jelas, orang tua dan muda hanya melihat, kadang melirik, ada pula yang mengamati dari jauh, tapi semuanya akan kembali pada urusan masing-masing. Peristiwa itu seolah-olah memang mesti begitu–tak usah ditanyakan lagi, apalagi dijelaskan. Tentu semua orang tahu, desa ini selalu memiliki tempat khusus bagi orang-orang seperti Grudug, yaitu langit-langit Balai Banjar.

Jujur saja, aku tidak terkejut. Bahkan, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat. Sekarang atau nanti. Hari ini atau besok. Hal ini terjadi karena kebodohannya sendiri. Kalau aku bisa membisikinya sebelum ini terjadi, maka aku akan berkata: “Diam saja, tak usah banyak tingkah!”

Ia menantang lelaki berlengan paha yang tingginya hampir dua kali lipat tubuh Grudug, lelaki yang namanya cukup disebut dengan nada pelan, atau hanya dengan gerakan mata. “Ia cari mati!” bisik warga yang melihat tingkah Grudug.

Lelaki kekar berkepala botak itu adalah preman kampung. Namanya Pan Dalem. Ia preman kampung, pejudi, dan kini, kepala desa. Tubuhnya berat, dompetnya berat, dan pengaruhnya pun sangat berat. Ia biasa menghambur-hamburkan uang di arena sabung ayam hanya untuk menyebar sesuatu yang jauh lebih berharga dari kemenangan ayam jantan.

***

Nah! menjadi seorang pemain sabung ayam memiliki keuntungan yang tak dimiliki orang seperti Grudug. Pejudi memiliki banyak teman, orang kaya memiliki kuasa, dan Pan Dalem memiliki keduanya. Maka, suatu hari pastilah orang-orangnya bisa menjadi pelindung, pasukan, bahkan algojo. Algojo! Jika Grudug memiliki satu banjar pasukan, tentu itu tak cukup untuk dibandingkan dengan Pan Dalem, karena Pan Dalem memiliki lebih dari itu.

Sial kepalang sial, Pan Dalem juga murah hati. Paling tidak begitulah imbuhan mitos mengenai dirinya. Hal ini bisa dilacak, sebab ia biasa memberi uang dua ratus ribu hanya untuk seseorang yang membawa ayam-ayamnya dari parkiran mobil ke arena sabung ayam: dua ratus ribu untuk pekerjaan yang selesai dalam hitungan menit. Tentu sesederhana itu. Pan Dalem tahu persis bahwa uang itu adalah kecambah yang kelak tumbuh menjadi sesuatu.

Cerita tentang Pan Dalem menjalar seperti akar ketapang: dari pembawa ayam ke pejudi lain, dari pejudi ke pedagang lawar, dari pedagang lawar ke tukang parkir, lalu kembali lagi ke tempat asalnya. Nah…ketika cerita itu kembali, ia akan berbentuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang tentu saja diharapkan oleh Pan Dalem. Kadang, sesuatu itu tumbuh lebih dari apa yang ia harapkan. Ketika ia mendengar mitos tentang dirinya, ia akan tersenyum, lalu pura-pura malu.

“Katanya, Pan Dalem itu sakti.”

“Ya… Katanya, dia biasa terbang setiap malam Kajeng Kliwon.”

“Ya… ya… ya…! Katanya, dia bisa mendengar orang yang membisiki namanya tiga kali.”

Di titik itu, tak penting lagi dari mana cerita itu berasal. Pan Dalem pun tak peduli dengan itu. Tapi semua orang tahu cerita itu. Cukup! Sesungguhnya, sampai pada titik itu, Pan Dalem bukanlah  manusia biasa di mata orang-orang. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, membesar, makin besar, dan Pan Dalem menyukainya.

Sialnya, Grudug melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Grudug hanyalah tamatan kuliah dan pengangguran. Apa yang bisa diharapkan? Siapa yang percaya? Tubuhnya kecil, suaranya melengking, dan selalu terasa terlalu keras. Ia memang pembaca buku, pengagum tokoh-tokoh tertentu–sekali lagi–sialnya, ia percaya bahwa pengetahuan akan mengubah banyak hal. Benturan itu normal. Pukul-pukulan itu wajar. Tapi, tentu dia salah tempat! Apa artinya pintar jika bisa dikeroyok? Apa artinya pintar jika lengan besar Pan Dalem sudah bertindak? Dan, apa artinya pintar jika kekuasaan tak mengharapkan itu?

***

Kisah ini bermula ketika baliho Pan Dalem muncul seperti jamur setelah hujan di seluruh sudut desa. Kepala mengkilap Pan Dalem begitu mentereng. Senyumnya yang bagi Grudug mengada-ada terpampang jelas di perempatan desa: tinggi, angkuh, dan terlalu percaya diri. Ketika itu, Pan Dalem mencalonkan diri sebagai kepala desa. Grudug menggerutu setelah tahu bahwa lawan Pan Dalem adalah anak buahnya sendiri. Semua orang pun tahu hasil akhirnya.

“Kita dirugikan!” kata Grudug di Bale Banjar waktu itu.

Semua orang diam. Grudug berdiri tapi tubuhnya tetap tampak terlalu kecil di kerumunan itu. Dan, suaranya yang melengking terasa memenuhi ruangan. Tapi aku tahu bahwa dia terlalu keras. Dasar anak muda! Dia belum tahu hakikat selamat.

“Penjudi, preman, dan pembunuh tidak boleh menjadi pemimpin! Mereka akan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri!” Lanjut Grudug.

Tidak hanya itu, ia juga bicara panjang tentang pajak, kekuasaan, dan bagaimana rakyat bekerja tapi pemimpin menikmati hasilnya–ia bicara perbudakan modern, ia bicara penindasan, dan banyak hal lain yang tidak sungguh-sungguh dipahami Pan Dalem.

Ketika Grudug bicara berkobar-kobar, terdengar suara kursi terseret. Dari satu kursi, satu lagi, lagi, dan lagi hingga kursi di sekelilingnya mulai kosong. Orang-orang menjauh. Seolah mereka berkata, “Jangan ciprati aku dengan kebodohanmu!” Akhirnya, Grudug berada di tengah lingkaran seperti titik kecil yang cerewet dan membandel. Pan Dalem tetap duduk sambil tersenyum, namun dadanya naik turun dengan cepat.

“Jika ingin mengkritik,” katanya pelan, “kritik saja asal beretika.”

Sendiri bukanlah hal yang menguntungkan. Sejak hari itu, Grudug menjadi bahan pembicaraan. Dalam imajinasinya sendiri, ia muncul sebagai orang yang biasa ia baca dalam buku-buku biografi: sepertinya ia yakin bahwa kebenaran tak pernah bisa langsung diterima, tapi tetap saja, orang mengenalnya sebagai orang bodoh, tak tahu tempat, tak tahu etika, terlalu memaksakan idealismenya.

Sebagai warga banjar–jangan ragu–aku tentu berada di barisan warga. Hehehe. Aku tak punya alasan untuk berdiri di dekat Grudug, lebih-lebih bersamanya. Itu bahaya. Aku punya keluarga, dan aku berharap selamat di tengah carut marut ini. “Orang-orang seperti Grudug, paling kalau dipilih jadi pejabat akan sama saja.” Kata-kata ini selalu aku bisiki dalam hati seperti mengucap mantra untuk menghilangkan keraguan dan perasaan bersalahku. Siapa yang bisa kita harapkan hari ini? Aku punya leher yang harus diselamatkan. Dia juga sedang membuat sesuatu untuk dirinya. Aku yakin, dia berkepentingan! Tapi…

“Kok, rasa-rasanya Grudug ada benarnya, ya?” bisikku.

Sial! Pamanku langsung menatap tajam begitu mendengar bisikan itu.

“Kau tahu uang perbaikan sanggah kemulan dari mana?”

“I… iya… dari Pan Dalem.”

“Kau tahu bekalmu dari mana?”

Diam memang lebih baik. Menjawab pasti salah dalam posisi itu karena aku tahu jawabannya. Maka, sekali lagi, selamatkan leher masing-masing: Diam!

***

Sejak saat itu, aku berusaha memahami dunia dengan cara “ngikut-ngikut”. Sebab kebenaran adalah kesepakatan, dan kesepakatan bisa dibentuk oleh kebiasaan dan kekuasaan. Melawannya berarti melawan orang banyak, melawan tetangga, melawan keluarga, melawan warga. Sistem ini begitu besar dan canggih untuk dilanggar dan diubah.

Tapi ini tak benar! Rasanya ada sesuatu yang bertempur dalam kepalaku. Tapi… ya… dunia tidak berjalan di jalur yang benar sebagaimana benar yang dijabarkan Grudug. Jika kita berjalan di jalur yang aman, ya, kita menang dengan cara yang lugu. Tapi, aku merasa bersalah dalam posisi ini. Ah… Grudug tak paham siapa yang kuat! Dia naif! Dia bodoh! Dia tak sadar sedang berdiri sendiri sementara semua orang di sekitarnya siap memenggal kepalanya kapan saja!

Grudug mana paham hal-hal seperti itu. Tapi, ia terus berbicara: di warung kopi, di jalan-jalan, di mana saja ada orang yang bersedia atau terpaksa mendengarnya. Hingga aku sendiri merasa bingung atas mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang kotor, dan mana yang bersih. Mana yang luka, mana yang bebal. Mana yang celaka, mana yang pasrah. Mana yang sesal, mana yang umpat. Mana yang sinting, mana yang gila. Mana yang hanyut, mana yang kekal. Mana yang roboh, mana yang kokoh. Mana yang jujur, mana yang jilat. Mana yang cara, mana yang bunuh diri.

Ia tetap bicara; terus dan bertambah lantang; sedikit dan tak pernah berhenti; melebar dan menggangguku. Ia berbicara tentang pajak, ia bicara tentang pejabat. Ia bicara tentang bagaimana rakyat diperas secara legal, dijual secara terang-terangan oleh pemerintah, dibudak dengan cara paling halus dalam sejarah penjajahan. Semua orang berkepentingan. Dunia bergerak dari kepentingan. Sebagaimana aku memikirkan keluarga. Tapi yang benar akan terkubur. Yang benar akan hilang.

Meskipun aku merasa ia ada benarnya, tapi aku tahu kebenaran tak selalu berguna untuk selamat. Paling tidak di tempat ini! Di tempat ini, bergerombol adalah kebenaran. Di tempat ini kebenaran tidak bisa memperbaiki sanggah kemulan, tidak bisa dipakai membeli susu bayi, tidak bisa dipakai membayar iuran BPJS, tidak bisa dipakai bayar samsat motor. Kebenaran tidak bisa memberi makan keluarga. Kebenaran tidak bisa melindungi leher seseorang di tengah malam.

Soal perbudakan, Grudug menyandingkan ini dengan kerja yang tak ada habisnya namun dibayar murah. Di sisi lain, lingkungan menuntut kita untuk selalu belanja: membeli motor, membeli hp, membeli kuota, membeli listrik, membeli gas, membeli air minum… Air minum! Membeli pakaian, membeli sandal-sepatu, membeli topi, membeli jasa guru, membeli jasa parkir, membeli jasa masak, membeli jasa laundry, membeli jasa salon. Semua mahal kecuali gaji kita.

Kita hidup dalam sistem yang membuat kita terperas. Aku pernah tertawa mendengar itu. Tapi, kau tahu, tawa itu terasa ganjil, hingga Grudug tergantung di Balai Banjar. Tubuhnya bergerak pelan, mengikuti hembusan angin pagi. Anak-anak masih melihatnya. Orang-orang masih lewat tanpa berhenti. Dan aku, sebagaimana kau, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini memang sewajarnya terjadi. Tapi, apa yang tersisa di masa depan kelak dengan diam ini? [T]

Penulis: Agus Wiratama
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikritik sosialManusia Balirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

‘Maplalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Maplalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

'Maplalianan' di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co