7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Moch. Anil Syidqi by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
in Ulas Pentas
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Foto: Sumiati bersama tokoh Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan.

Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diproduksi oleh Rumah Kreatif Damar Art (Banyuwangi) pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi [HARJABA] ke-254 di Gesibu, Komplek Taman Blambangan, Banyuwangi (20/12/2025).

Karya ini hadir dari tangan dingin Eko Ari Bawanto [sutradara], Echa Puri Albatiruna [penulis naskah], Lista Dewi Ramadhaningrum [Koreografer]. Empat lainnya, ada Achzana Ilhamy [komposer etnik], Ananda Mahardika Putra [komposer modern], Mirza Prastyo [Ilustrator], dan Moh. Faris Efendi [Animator]. Tim artistik diisi kombinasi apik Arini Mai Sela, Fahrina Aulia, Shinta Maulidya, Ellysa Nanda, dan Anggi Dinda. Sementara itu, para pemusik adalah keluarga besar Rumah Kreatif Damar Art.

Turut tampil para artis ternama Banyuwangi, dari Yon’s DD, Wandra, hingga Sumiati. Masing-masing menampilkan lagu andalan mereka. Yon’s DD dengan Suling Montro. Wandra dengan Sawangen. Sumiati dengan Isun Lare Using.

Para penari, prajurit pembawa bendera merangkap pasukan alap-alap diperankan oleh Bagus Ponco, Arinda Afrionika, Zhivana Inezya, Zahra Asfa’ullya, Yuarma Auldy, Bintang Ahmad. Prajurit gandewa diperankan oleh Rifa’i, Wiji Amelia, Arletha Bhineka, Mauren Putri, Putu Evinka Prancylia, Anwarul Maulah. Penari bedhaya adalah Bunga Sintia, Denisa Meta, Jihan Ceysa, Dwi Zahra, Rachel Ervio. Kedua tokoh utama adalah Sayu Wiwit dan Rempeg Jagapati. Masing-masing diperankan oleh Wahyu Suri Marwani [Sayu Wiwit] dan Romi Romansyah [Rempeg Jagapati].

Sajian Karya

Cahaya merah merona memenuhi ruang pertunjukan. Ilustrasi musik drone muncul bersama lenyapnya sorot lampu. Dari layar tengah, tersaji ilustrasi berlatar merah berapi, menarasikan sinopsis karya.

Dari darah yang tumpah di Blambangan, lahirlah banyuwangi yang berdaya menjaga tradisi, menoreh prestasi, mengibarkan cahaya dari timur Nusantara.

Para penari memasuki panggung sembari mengibarkan bendera dalam cahaya merah redup menuju terang. Mereka berlari berputar. Sekian kali, mengitari panggung persegi panjang yang terbatas ruang. Tak sampai berhenti, penari lain masuk. Menyusul setelahnya sebuah formasi dengan penataan rapi, berpola segitiga meruncing ke depan.

Baris belakang diisi oleh prajurit pembawa bendera [prajurit alap-alap]. Sebaris di depannya adalah prajurit gandewa. Para penari bedhaya dan tokoh Sayu Wiwit mengisi baris kedua dan ketiga dari depan. Sementara tokoh Rempeg Jagapati berada pada barisan terdepan.

Sembari bernyanyi serempak, para pemain berpose. Ada yang menggerakkan bendera atau meletakkan tangan menyilang dada tanpa gerak berarti. Kecuali tokoh Mas Rempeg yang mengalun merespons musik.

Mereka menyanyikan tembang pembukaan. Sebuah penghormatan pada penonton dan permohonan keselamatan pada Tuhan.

Apakah kita akan membiarkan dada kita diinjak-injak? Kata Jagapati menyemangati pasukannya. Kalimat ini memantik lonjakan emosi sajian. Dada adalah bagian tubuh. Menginjak dada sama halnya merendahkan harkat martabat. Maka responnya adalah melawan atau mati.

Peperangan antara dua belah kelompok pun tak dapat terhindarkan. Pasukan bercelurit pimpinan Tumenggung Alap-alap dengan pasukan bergandewa pimpinan Rempeg Jagapati. Berjalan selama beberapa waktu, koreografi dan musik menyatu padu menyajikan gambaran peperangan yang sengit. Tak tampak ada yang kalah atau menang.

Buummm! Waktu seolah berhenti. Para penari mematung pada pose terakhirnya. Terbagi dalam kelompok kecil, dua sampai tiga penari. Ada yang berdiri dan jongkok setengah badan.

Musik berganti untuk masuk ke sajian lagu. Yon’s DD, salah satu artis yang tampil pada drama musikal ini, masuk perlahan. DD menyanyikan lagu Suling Montro. Lagu yang diciptakannya bersama Elvin Hendratha pada 2022.

Nyeja isun yara mula nyeja

Ngirim dilah giningna manteb

Nggawa atinrika liwat lawang ngarep

Melebuwa manjinga nong atinisun kelawan reda

Syair tersebut adalah mantra. Sebuah permohonan untuk membuka hati seseorang (perempuan). Agar hatinya luluh, menyatu ikhlas dengan perasaan sang pemantra.

Usai lagu, musik kembali naik. Suasana wingit terbangun dengan puncak pelafalan doa oleh Yon’s DD.

Pembacaan

Kurang lebih begitulah gambaran sajian drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Secara keseluruhan tampilan, karya ini sangat menarik. Namun, ada satu catatan penting yang mungkin terlewatkan oleh para kreator. Ini utamanya soal kesesuaian lagu dengan narasi yang ingin dibangun. Sedari awal pembacaan sinopsis, jelas menegaskan bahwa drama ini mengisahkan perjuangan Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit dalam perlawanan di Tanah Bayu.

Sayangnya, dari tiga lagu kunci yang dipilih, hanya satu (yaitu Isun Lare Using) yang memang sesuai dengan alur cerita. Karena itu karya ini menjadi semacam kepingan tema yang disusun dan disisipi satu narasi. Perjuangan.

Suling Montro, misalnya. Di tengah jalannya cerita, lagu ini seolah berdiri sendiri sebagai intermeso. Secara tema, ia tidak sesuai. Hanya saja, dinamika musik masih melebur dengan bangunan suasana. Terlebih saat DD merapalkan doa keselamatan untuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-254. Bukan hal yang keliru. Namun, itu semakin melebarkan konteks dengan kisah yang ingin diungkap.

Kasusnya sama seperti Suling Montro. Penyematan Sawangen [Wandra] justru mematahkan bangunan tema yang dibangun kuat sejak awal sajian. Di titik ini, kreator tampak ingin memunculkan kebimbangan Sayu Wiwit akan situasi di Bayu. Secara koreografi dan visual, itu berhasil. Namun tidak dengan lagu sebagai sorot utama. Sawangen di sini menyuarakan kisah patah hati dalam hubungan dua sejoli [kekasih]. Yang secara syair, bersimpangan dengan cinta terhadap negara.

Secara keseluruhan, patahan-patahan ini samar tertutupi oleh bangunan musik, koreografi, dan visual yang ciamik. Emosinya cukup. Tidak kurang apalagi berlebihan. Terlepas dari keterlewatan yang mungkin tak disengaja itu, drama musikal ini cukup berhasil mendobrak batasan kekaryaan yang biasa dilakukan di Banyuwangi. Memadukan dua kutub peradaban ilustrasi visual modern dan musik digital, dengan elemen etnik tari, musik, dan sejarah.

Di perayaan HARJABA ke-254, Damar Art menawarkan gebrakan baru di panggung seni tradisi Banyuwangi. [T]

Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyuwangiDramadrama musikalkesenian banyuwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Next Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Moch. Anil Syidqi

Moch. Anil Syidqi

Mahasiswa S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Pernah mengajar gamelan jawa di berbagai tingkatan sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Memupuk konsistensi sebagai nilai hidup.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Sisi Lain 1965 : 'Surat dari Praha' (2016)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co