23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Moch. Anil Syidqi by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
in Ulas Pentas
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Foto: Sumiati bersama tokoh Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan.

Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diproduksi oleh Rumah Kreatif Damar Art (Banyuwangi) pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi [HARJABA] ke-254 di Gesibu, Komplek Taman Blambangan, Banyuwangi (20/12/2025).

Karya ini hadir dari tangan dingin Eko Ari Bawanto [sutradara], Echa Puri Albatiruna [penulis naskah], Lista Dewi Ramadhaningrum [Koreografer]. Empat lainnya, ada Achzana Ilhamy [komposer etnik], Ananda Mahardika Putra [komposer modern], Mirza Prastyo [Ilustrator], dan Moh. Faris Efendi [Animator]. Tim artistik diisi kombinasi apik Arini Mai Sela, Fahrina Aulia, Shinta Maulidya, Ellysa Nanda, dan Anggi Dinda. Sementara itu, para pemusik adalah keluarga besar Rumah Kreatif Damar Art.

Turut tampil para artis ternama Banyuwangi, dari Yon’s DD, Wandra, hingga Sumiati. Masing-masing menampilkan lagu andalan mereka. Yon’s DD dengan Suling Montro. Wandra dengan Sawangen. Sumiati dengan Isun Lare Using.

Para penari, prajurit pembawa bendera merangkap pasukan alap-alap diperankan oleh Bagus Ponco, Arinda Afrionika, Zhivana Inezya, Zahra Asfa’ullya, Yuarma Auldy, Bintang Ahmad. Prajurit gandewa diperankan oleh Rifa’i, Wiji Amelia, Arletha Bhineka, Mauren Putri, Putu Evinka Prancylia, Anwarul Maulah. Penari bedhaya adalah Bunga Sintia, Denisa Meta, Jihan Ceysa, Dwi Zahra, Rachel Ervio. Kedua tokoh utama adalah Sayu Wiwit dan Rempeg Jagapati. Masing-masing diperankan oleh Wahyu Suri Marwani [Sayu Wiwit] dan Romi Romansyah [Rempeg Jagapati].

Sajian Karya

Cahaya merah merona memenuhi ruang pertunjukan. Ilustrasi musik drone muncul bersama lenyapnya sorot lampu. Dari layar tengah, tersaji ilustrasi berlatar merah berapi, menarasikan sinopsis karya.

Dari darah yang tumpah di Blambangan, lahirlah banyuwangi yang berdaya menjaga tradisi, menoreh prestasi, mengibarkan cahaya dari timur Nusantara.

Para penari memasuki panggung sembari mengibarkan bendera dalam cahaya merah redup menuju terang. Mereka berlari berputar. Sekian kali, mengitari panggung persegi panjang yang terbatas ruang. Tak sampai berhenti, penari lain masuk. Menyusul setelahnya sebuah formasi dengan penataan rapi, berpola segitiga meruncing ke depan.

Baris belakang diisi oleh prajurit pembawa bendera [prajurit alap-alap]. Sebaris di depannya adalah prajurit gandewa. Para penari bedhaya dan tokoh Sayu Wiwit mengisi baris kedua dan ketiga dari depan. Sementara tokoh Rempeg Jagapati berada pada barisan terdepan.

Sembari bernyanyi serempak, para pemain berpose. Ada yang menggerakkan bendera atau meletakkan tangan menyilang dada tanpa gerak berarti. Kecuali tokoh Mas Rempeg yang mengalun merespons musik.

Mereka menyanyikan tembang pembukaan. Sebuah penghormatan pada penonton dan permohonan keselamatan pada Tuhan.

Apakah kita akan membiarkan dada kita diinjak-injak? Kata Jagapati menyemangati pasukannya. Kalimat ini memantik lonjakan emosi sajian. Dada adalah bagian tubuh. Menginjak dada sama halnya merendahkan harkat martabat. Maka responnya adalah melawan atau mati.

Peperangan antara dua belah kelompok pun tak dapat terhindarkan. Pasukan bercelurit pimpinan Tumenggung Alap-alap dengan pasukan bergandewa pimpinan Rempeg Jagapati. Berjalan selama beberapa waktu, koreografi dan musik menyatu padu menyajikan gambaran peperangan yang sengit. Tak tampak ada yang kalah atau menang.

Buummm! Waktu seolah berhenti. Para penari mematung pada pose terakhirnya. Terbagi dalam kelompok kecil, dua sampai tiga penari. Ada yang berdiri dan jongkok setengah badan.

Musik berganti untuk masuk ke sajian lagu. Yon’s DD, salah satu artis yang tampil pada drama musikal ini, masuk perlahan. DD menyanyikan lagu Suling Montro. Lagu yang diciptakannya bersama Elvin Hendratha pada 2022.

Nyeja isun yara mula nyeja

Ngirim dilah giningna manteb

Nggawa atinrika liwat lawang ngarep

Melebuwa manjinga nong atinisun kelawan reda

Syair tersebut adalah mantra. Sebuah permohonan untuk membuka hati seseorang (perempuan). Agar hatinya luluh, menyatu ikhlas dengan perasaan sang pemantra.

Usai lagu, musik kembali naik. Suasana wingit terbangun dengan puncak pelafalan doa oleh Yon’s DD.

Pembacaan

Kurang lebih begitulah gambaran sajian drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Secara keseluruhan tampilan, karya ini sangat menarik. Namun, ada satu catatan penting yang mungkin terlewatkan oleh para kreator. Ini utamanya soal kesesuaian lagu dengan narasi yang ingin dibangun. Sedari awal pembacaan sinopsis, jelas menegaskan bahwa drama ini mengisahkan perjuangan Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit dalam perlawanan di Tanah Bayu.

Sayangnya, dari tiga lagu kunci yang dipilih, hanya satu (yaitu Isun Lare Using) yang memang sesuai dengan alur cerita. Karena itu karya ini menjadi semacam kepingan tema yang disusun dan disisipi satu narasi. Perjuangan.

Suling Montro, misalnya. Di tengah jalannya cerita, lagu ini seolah berdiri sendiri sebagai intermeso. Secara tema, ia tidak sesuai. Hanya saja, dinamika musik masih melebur dengan bangunan suasana. Terlebih saat DD merapalkan doa keselamatan untuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-254. Bukan hal yang keliru. Namun, itu semakin melebarkan konteks dengan kisah yang ingin diungkap.

Kasusnya sama seperti Suling Montro. Penyematan Sawangen [Wandra] justru mematahkan bangunan tema yang dibangun kuat sejak awal sajian. Di titik ini, kreator tampak ingin memunculkan kebimbangan Sayu Wiwit akan situasi di Bayu. Secara koreografi dan visual, itu berhasil. Namun tidak dengan lagu sebagai sorot utama. Sawangen di sini menyuarakan kisah patah hati dalam hubungan dua sejoli [kekasih]. Yang secara syair, bersimpangan dengan cinta terhadap negara.

Secara keseluruhan, patahan-patahan ini samar tertutupi oleh bangunan musik, koreografi, dan visual yang ciamik. Emosinya cukup. Tidak kurang apalagi berlebihan. Terlepas dari keterlewatan yang mungkin tak disengaja itu, drama musikal ini cukup berhasil mendobrak batasan kekaryaan yang biasa dilakukan di Banyuwangi. Memadukan dua kutub peradaban ilustrasi visual modern dan musik digital, dengan elemen etnik tari, musik, dan sejarah.

Di perayaan HARJABA ke-254, Damar Art menawarkan gebrakan baru di panggung seni tradisi Banyuwangi. [T]

Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyuwangiDramadrama musikalkesenian banyuwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Next Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Moch. Anil Syidqi

Moch. Anil Syidqi

Mahasiswa S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Pernah mengajar gamelan jawa di berbagai tingkatan sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Memupuk konsistensi sebagai nilai hidup.

Related Posts

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Sisi Lain 1965 : 'Surat dari Praha' (2016)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co