30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Moch. Anil Syidqi by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
in Ulas Pentas
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Foto: Sumiati bersama tokoh Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan.

Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diproduksi oleh Rumah Kreatif Damar Art (Banyuwangi) pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi [HARJABA] ke-254 di Gesibu, Komplek Taman Blambangan, Banyuwangi (20/12/2025).

Karya ini hadir dari tangan dingin Eko Ari Bawanto [sutradara], Echa Puri Albatiruna [penulis naskah], Lista Dewi Ramadhaningrum [Koreografer]. Empat lainnya, ada Achzana Ilhamy [komposer etnik], Ananda Mahardika Putra [komposer modern], Mirza Prastyo [Ilustrator], dan Moh. Faris Efendi [Animator]. Tim artistik diisi kombinasi apik Arini Mai Sela, Fahrina Aulia, Shinta Maulidya, Ellysa Nanda, dan Anggi Dinda. Sementara itu, para pemusik adalah keluarga besar Rumah Kreatif Damar Art.

Turut tampil para artis ternama Banyuwangi, dari Yon’s DD, Wandra, hingga Sumiati. Masing-masing menampilkan lagu andalan mereka. Yon’s DD dengan Suling Montro. Wandra dengan Sawangen. Sumiati dengan Isun Lare Using.

Para penari, prajurit pembawa bendera merangkap pasukan alap-alap diperankan oleh Bagus Ponco, Arinda Afrionika, Zhivana Inezya, Zahra Asfa’ullya, Yuarma Auldy, Bintang Ahmad. Prajurit gandewa diperankan oleh Rifa’i, Wiji Amelia, Arletha Bhineka, Mauren Putri, Putu Evinka Prancylia, Anwarul Maulah. Penari bedhaya adalah Bunga Sintia, Denisa Meta, Jihan Ceysa, Dwi Zahra, Rachel Ervio. Kedua tokoh utama adalah Sayu Wiwit dan Rempeg Jagapati. Masing-masing diperankan oleh Wahyu Suri Marwani [Sayu Wiwit] dan Romi Romansyah [Rempeg Jagapati].

Sajian Karya

Cahaya merah merona memenuhi ruang pertunjukan. Ilustrasi musik drone muncul bersama lenyapnya sorot lampu. Dari layar tengah, tersaji ilustrasi berlatar merah berapi, menarasikan sinopsis karya.

Dari darah yang tumpah di Blambangan, lahirlah banyuwangi yang berdaya menjaga tradisi, menoreh prestasi, mengibarkan cahaya dari timur Nusantara.

Para penari memasuki panggung sembari mengibarkan bendera dalam cahaya merah redup menuju terang. Mereka berlari berputar. Sekian kali, mengitari panggung persegi panjang yang terbatas ruang. Tak sampai berhenti, penari lain masuk. Menyusul setelahnya sebuah formasi dengan penataan rapi, berpola segitiga meruncing ke depan.

Baris belakang diisi oleh prajurit pembawa bendera [prajurit alap-alap]. Sebaris di depannya adalah prajurit gandewa. Para penari bedhaya dan tokoh Sayu Wiwit mengisi baris kedua dan ketiga dari depan. Sementara tokoh Rempeg Jagapati berada pada barisan terdepan.

Sembari bernyanyi serempak, para pemain berpose. Ada yang menggerakkan bendera atau meletakkan tangan menyilang dada tanpa gerak berarti. Kecuali tokoh Mas Rempeg yang mengalun merespons musik.

Mereka menyanyikan tembang pembukaan. Sebuah penghormatan pada penonton dan permohonan keselamatan pada Tuhan.

Apakah kita akan membiarkan dada kita diinjak-injak? Kata Jagapati menyemangati pasukannya. Kalimat ini memantik lonjakan emosi sajian. Dada adalah bagian tubuh. Menginjak dada sama halnya merendahkan harkat martabat. Maka responnya adalah melawan atau mati.

Peperangan antara dua belah kelompok pun tak dapat terhindarkan. Pasukan bercelurit pimpinan Tumenggung Alap-alap dengan pasukan bergandewa pimpinan Rempeg Jagapati. Berjalan selama beberapa waktu, koreografi dan musik menyatu padu menyajikan gambaran peperangan yang sengit. Tak tampak ada yang kalah atau menang.

Buummm! Waktu seolah berhenti. Para penari mematung pada pose terakhirnya. Terbagi dalam kelompok kecil, dua sampai tiga penari. Ada yang berdiri dan jongkok setengah badan.

Musik berganti untuk masuk ke sajian lagu. Yon’s DD, salah satu artis yang tampil pada drama musikal ini, masuk perlahan. DD menyanyikan lagu Suling Montro. Lagu yang diciptakannya bersama Elvin Hendratha pada 2022.

Nyeja isun yara mula nyeja

Ngirim dilah giningna manteb

Nggawa atinrika liwat lawang ngarep

Melebuwa manjinga nong atinisun kelawan reda

Syair tersebut adalah mantra. Sebuah permohonan untuk membuka hati seseorang (perempuan). Agar hatinya luluh, menyatu ikhlas dengan perasaan sang pemantra.

Usai lagu, musik kembali naik. Suasana wingit terbangun dengan puncak pelafalan doa oleh Yon’s DD.

Pembacaan

Kurang lebih begitulah gambaran sajian drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Secara keseluruhan tampilan, karya ini sangat menarik. Namun, ada satu catatan penting yang mungkin terlewatkan oleh para kreator. Ini utamanya soal kesesuaian lagu dengan narasi yang ingin dibangun. Sedari awal pembacaan sinopsis, jelas menegaskan bahwa drama ini mengisahkan perjuangan Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit dalam perlawanan di Tanah Bayu.

Sayangnya, dari tiga lagu kunci yang dipilih, hanya satu (yaitu Isun Lare Using) yang memang sesuai dengan alur cerita. Karena itu karya ini menjadi semacam kepingan tema yang disusun dan disisipi satu narasi. Perjuangan.

Suling Montro, misalnya. Di tengah jalannya cerita, lagu ini seolah berdiri sendiri sebagai intermeso. Secara tema, ia tidak sesuai. Hanya saja, dinamika musik masih melebur dengan bangunan suasana. Terlebih saat DD merapalkan doa keselamatan untuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-254. Bukan hal yang keliru. Namun, itu semakin melebarkan konteks dengan kisah yang ingin diungkap.

Kasusnya sama seperti Suling Montro. Penyematan Sawangen [Wandra] justru mematahkan bangunan tema yang dibangun kuat sejak awal sajian. Di titik ini, kreator tampak ingin memunculkan kebimbangan Sayu Wiwit akan situasi di Bayu. Secara koreografi dan visual, itu berhasil. Namun tidak dengan lagu sebagai sorot utama. Sawangen di sini menyuarakan kisah patah hati dalam hubungan dua sejoli [kekasih]. Yang secara syair, bersimpangan dengan cinta terhadap negara.

Secara keseluruhan, patahan-patahan ini samar tertutupi oleh bangunan musik, koreografi, dan visual yang ciamik. Emosinya cukup. Tidak kurang apalagi berlebihan. Terlepas dari keterlewatan yang mungkin tak disengaja itu, drama musikal ini cukup berhasil mendobrak batasan kekaryaan yang biasa dilakukan di Banyuwangi. Memadukan dua kutub peradaban ilustrasi visual modern dan musik digital, dengan elemen etnik tari, musik, dan sejarah.

Di perayaan HARJABA ke-254, Damar Art menawarkan gebrakan baru di panggung seni tradisi Banyuwangi. [T]

Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyuwangiDramadrama musikalkesenian banyuwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Next Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Moch. Anil Syidqi

Moch. Anil Syidqi

Mahasiswa S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Pernah mengajar gamelan jawa di berbagai tingkatan sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Memupuk konsistensi sebagai nilai hidup.

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Sisi Lain 1965 : 'Surat dari Praha' (2016)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co