27 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
April 15, 2026
in Esai
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ORANG Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang penuh akal, luwes, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Kita tumbuh dalam budaya yang menghargai kebersamaan, improvisasi, dan kemampuan membaca situasi. Dari kecil, kita sudah akrab dengan solusi-solusi tak tertulis; berbagai cara yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diwariskan melalui pengamatan dan pengalaman.

Maka tidak mengherankan jika dalam keseharian, muncul berbagai “keterampilan sosial” yang unik, yang mungkin tampak ganjil bagi orang luar, tetapi terasa wajar bagi kita. Salah satunya adalah praktik yang sederhana namun sarat makna: titip absen. Di permukaan, titip absen tampak seperti pelanggaran kecil terhadap aturan. Dalam dunia yang ideal, kehadiran berarti tubuh yang hadir, pikiran yang terlibat, dan partisipasi yang nyata.

Dalam praktiknya, terutama di Indonesia, kehadiran sering kali memiliki arti yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan lebih simbolik daripada literal. Nama di atas kertas, tanda tangan di daftar hadir, atau centang di kolom kehadiran sering kali dianggap cukup untuk mewakili eksistensi seseorang dalam suatu ruang.

Di ruang kelas, daftar hadir menjadi ritual yang hampir sakral. Kertas itu berpindah dari satu meja ke meja lain, membawa serta tanggung jawab yang tak tertulis. Di dalamnya bukan hanya ada kolom nama dan tanda tangan, tetapi juga peluang untuk saling membantu. Ketika seorang teman berhalangan hadir, entah karena sakit, urusan keluarga, atau sekadar kelelahan, permintaan itu datang dengan nada pelan, kadang disertai senyum, kadang dibungkus candaan: “Titip ya.” Dan tanpa banyak tanya, tangan lain akan bergerak, menuliskan nama yang bukan miliknya.

Di kantor, praktik ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda, tetapi esensinya sama. Kehadiran menjadi indikator disiplin, loyalitas, bahkan kinerja. Namun di balik sistem absensi yang semakin canggih; fingerprint, kartu akses, hingga aplikasi digital, masih ada ruang bagi negosiasi manusia. Seorang rekan bisa “mengakali” sistem, atau lebih tepatnya, sistem bisa dilunakkan oleh relasi.

Ada yang datang lebih awal untuk membantu temannya, ada yang mencatatkan kehadiran atas nama solidaritas, dan ada pula yang memilih diam karena memahami situasi. Menariknya, praktik titip absen ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka sebagai sesuatu yang salah. Ia hidup di wilayah abu-abu, di antara norma dan toleransi. Semua orang tahu, tetapi sedikit yang benar-benar mempermasalahkan.

Mengapa? Karena di balik tindakan itu, ada nilai yang lebih dalam: rasa kebersamaan. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kolektivitas, membantu orang lain; even dalam bentuk yang kecil dan teknis, dianggap sebagai bagian dari etika sosial. Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, dalam konteks tertentu bisa menjadi bentuk kompromi terhadap integritas.

Titip absen bukan sekadar soal tanda tangan; ia mencerminkan bagaimana kita memaknai kejujuran, tanggung jawab, dan kehadiran itu sendiri. Ketika seseorang “hadir” tanpa benar-benar ada, kita mulai mempertanyakan: apa arti kehadiran itu? Dalam banyak kasus, titip absen tidak dilakukan karena kemalasan semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Sistem yang kaku, tuntutan administratif yang berlebihan, atau kegiatan yang dianggap tidak relevan sering kali mendorong orang untuk mencari jalan pintas.

Ketika sebuah rapat bisa diringkas dalam satu email, atau sebuah kelas terasa tidak memberi nilai tambah, kehadiran fisik menjadi formalitas belaka. Dalam kondisi seperti ini, titip absen menjadi semacam bentuk perlawanan kecil; cara halus untuk mengatakan bahwa sistem tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata.

Di sisi lain, praktik ini juga memperlihatkan betapa kuatnya jaringan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hubungan antarindividu sering kali lebih menentukan daripada aturan tertulis. Kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari, dan bantuan sekecil apa pun bisa memperkuat ikatan tersebut. Ketika seseorang bersedia menandatangani untuk orang lain, ia tidak hanya membantu, tetapi juga menunjukkan loyalitas. Sebaliknya, menolak permintaan itu bisa dianggap sebagai sikap yang dingin atau tidak solid.

Pertanyaan adalah apakah ini berarti praktik titip absen harus terus dipertahankan? Tidak sesederhana itu. Dalam dunia yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, batas antara toleransi dan pelanggaran menjadi semakin tipis. Institusi pendidikan dan tempat kerja mulai menyadari bahwa kehadiran bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas partisipasi. Sistem yang lebih ketat mulai diterapkan, teknologi digunakan untuk meminimalkan celah, dan kesadaran akan pentingnya integritas perlahan dibangun.

Meski demikian, menghapus praktik titip absen sepenuhnya bukan hanya soal memperketat aturan. Ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama kehadiran masih dipahami sebagai kewajiban administratif, selama sistem belum mampu memberikan makna yang nyata bagi partisipasi, praktik ini akan terus menemukan jalannya. Orang akan selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri, untuk menavigasi antara tuntutan dan realitas.

Yang menarik, generasi muda mulai menunjukkan sikap yang lebih kritis terhadap praktik ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, dengan akses informasi yang lebih luas, dan pemahaman yang lebih kuat tentang etika profesional. Bagi sebagian dari mereka, titip absen bukan lagi sekadar “biasa saja,” tetapi mulai dipertanyakan. Apakah ini adil? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kita pegang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena menunjukkan adanya pergeseran budaya.

Di sisi lain, nilai kebersamaan yang melatarbelakangi praktik ini tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga semangat solidaritas tanpa harus mengorbankan integritas. Membantu teman tidak harus selalu berarti melanggar aturan; bisa juga dalam bentuk lain yang lebih konstruktif. Misalnya, berbagi catatan, membantu memahami materi, atau menggantikan tugas secara resmi dengan izin yang jelas.

Titip absen adalah cermin kecil dari dinamika sosial yang lebih besar. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia menavigasi antara aturan dan relasi, antara formalitas dan fleksibilitas. Ia bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol dari cara kita hidup bersama dengan segala kompromi dan negosiasinya.

Dalam dunia yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna kehadiran. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Bukan hanya memenuhi daftar, tetapi juga berkontribusi secara nyata. Dan mungkin, dalam proses itu, kita bisa menemukan cara baru untuk tetap menjaga kebersamaan tanpa harus bergantung pada praktik-praktik yang meragukan.

Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya soal nama di atas kertas. Ia adalah tentang keberadaan yang sesungguhnya, tentang bagaimana kita memilih untuk muncul, berpartisipasi, dan bertanggung jawab dalam setiap ruang yang kita masuki. Dan di situlah, seni yang sebenarnya dimulai. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kejujuransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Next Post

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

by Angga Wijaya
May 26, 2026
0
Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

Read moreDetails

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

Read moreDetails

Buzzer Rakyat

by Hartanto
May 25, 2026
0
Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

Read moreDetails

Perokok Bertanggung Jawab

by Angga Wijaya
May 25, 2026
0
Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

Read moreDetails

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

Read moreDetails

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Dijual, Adat Ditinggal ---Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026
Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co