2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
April 15, 2026
in Esai
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ORANG Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang penuh akal, luwes, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Kita tumbuh dalam budaya yang menghargai kebersamaan, improvisasi, dan kemampuan membaca situasi. Dari kecil, kita sudah akrab dengan solusi-solusi tak tertulis; berbagai cara yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diwariskan melalui pengamatan dan pengalaman.

Maka tidak mengherankan jika dalam keseharian, muncul berbagai “keterampilan sosial” yang unik, yang mungkin tampak ganjil bagi orang luar, tetapi terasa wajar bagi kita. Salah satunya adalah praktik yang sederhana namun sarat makna: titip absen. Di permukaan, titip absen tampak seperti pelanggaran kecil terhadap aturan. Dalam dunia yang ideal, kehadiran berarti tubuh yang hadir, pikiran yang terlibat, dan partisipasi yang nyata.

Dalam praktiknya, terutama di Indonesia, kehadiran sering kali memiliki arti yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan lebih simbolik daripada literal. Nama di atas kertas, tanda tangan di daftar hadir, atau centang di kolom kehadiran sering kali dianggap cukup untuk mewakili eksistensi seseorang dalam suatu ruang.

Di ruang kelas, daftar hadir menjadi ritual yang hampir sakral. Kertas itu berpindah dari satu meja ke meja lain, membawa serta tanggung jawab yang tak tertulis. Di dalamnya bukan hanya ada kolom nama dan tanda tangan, tetapi juga peluang untuk saling membantu. Ketika seorang teman berhalangan hadir, entah karena sakit, urusan keluarga, atau sekadar kelelahan, permintaan itu datang dengan nada pelan, kadang disertai senyum, kadang dibungkus candaan: “Titip ya.” Dan tanpa banyak tanya, tangan lain akan bergerak, menuliskan nama yang bukan miliknya.

Di kantor, praktik ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda, tetapi esensinya sama. Kehadiran menjadi indikator disiplin, loyalitas, bahkan kinerja. Namun di balik sistem absensi yang semakin canggih; fingerprint, kartu akses, hingga aplikasi digital, masih ada ruang bagi negosiasi manusia. Seorang rekan bisa “mengakali” sistem, atau lebih tepatnya, sistem bisa dilunakkan oleh relasi.

Ada yang datang lebih awal untuk membantu temannya, ada yang mencatatkan kehadiran atas nama solidaritas, dan ada pula yang memilih diam karena memahami situasi. Menariknya, praktik titip absen ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka sebagai sesuatu yang salah. Ia hidup di wilayah abu-abu, di antara norma dan toleransi. Semua orang tahu, tetapi sedikit yang benar-benar mempermasalahkan.

Mengapa? Karena di balik tindakan itu, ada nilai yang lebih dalam: rasa kebersamaan. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kolektivitas, membantu orang lain; even dalam bentuk yang kecil dan teknis, dianggap sebagai bagian dari etika sosial. Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, dalam konteks tertentu bisa menjadi bentuk kompromi terhadap integritas.

Titip absen bukan sekadar soal tanda tangan; ia mencerminkan bagaimana kita memaknai kejujuran, tanggung jawab, dan kehadiran itu sendiri. Ketika seseorang “hadir” tanpa benar-benar ada, kita mulai mempertanyakan: apa arti kehadiran itu? Dalam banyak kasus, titip absen tidak dilakukan karena kemalasan semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Sistem yang kaku, tuntutan administratif yang berlebihan, atau kegiatan yang dianggap tidak relevan sering kali mendorong orang untuk mencari jalan pintas.

Ketika sebuah rapat bisa diringkas dalam satu email, atau sebuah kelas terasa tidak memberi nilai tambah, kehadiran fisik menjadi formalitas belaka. Dalam kondisi seperti ini, titip absen menjadi semacam bentuk perlawanan kecil; cara halus untuk mengatakan bahwa sistem tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata.

Di sisi lain, praktik ini juga memperlihatkan betapa kuatnya jaringan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hubungan antarindividu sering kali lebih menentukan daripada aturan tertulis. Kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari, dan bantuan sekecil apa pun bisa memperkuat ikatan tersebut. Ketika seseorang bersedia menandatangani untuk orang lain, ia tidak hanya membantu, tetapi juga menunjukkan loyalitas. Sebaliknya, menolak permintaan itu bisa dianggap sebagai sikap yang dingin atau tidak solid.

Pertanyaan adalah apakah ini berarti praktik titip absen harus terus dipertahankan? Tidak sesederhana itu. Dalam dunia yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, batas antara toleransi dan pelanggaran menjadi semakin tipis. Institusi pendidikan dan tempat kerja mulai menyadari bahwa kehadiran bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas partisipasi. Sistem yang lebih ketat mulai diterapkan, teknologi digunakan untuk meminimalkan celah, dan kesadaran akan pentingnya integritas perlahan dibangun.

Meski demikian, menghapus praktik titip absen sepenuhnya bukan hanya soal memperketat aturan. Ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama kehadiran masih dipahami sebagai kewajiban administratif, selama sistem belum mampu memberikan makna yang nyata bagi partisipasi, praktik ini akan terus menemukan jalannya. Orang akan selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri, untuk menavigasi antara tuntutan dan realitas.

Yang menarik, generasi muda mulai menunjukkan sikap yang lebih kritis terhadap praktik ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, dengan akses informasi yang lebih luas, dan pemahaman yang lebih kuat tentang etika profesional. Bagi sebagian dari mereka, titip absen bukan lagi sekadar “biasa saja,” tetapi mulai dipertanyakan. Apakah ini adil? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kita pegang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena menunjukkan adanya pergeseran budaya.

Di sisi lain, nilai kebersamaan yang melatarbelakangi praktik ini tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga semangat solidaritas tanpa harus mengorbankan integritas. Membantu teman tidak harus selalu berarti melanggar aturan; bisa juga dalam bentuk lain yang lebih konstruktif. Misalnya, berbagi catatan, membantu memahami materi, atau menggantikan tugas secara resmi dengan izin yang jelas.

Titip absen adalah cermin kecil dari dinamika sosial yang lebih besar. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia menavigasi antara aturan dan relasi, antara formalitas dan fleksibilitas. Ia bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol dari cara kita hidup bersama dengan segala kompromi dan negosiasinya.

Dalam dunia yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna kehadiran. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Bukan hanya memenuhi daftar, tetapi juga berkontribusi secara nyata. Dan mungkin, dalam proses itu, kita bisa menemukan cara baru untuk tetap menjaga kebersamaan tanpa harus bergantung pada praktik-praktik yang meragukan.

Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya soal nama di atas kertas. Ia adalah tentang keberadaan yang sesungguhnya, tentang bagaimana kita memilih untuk muncul, berpartisipasi, dan bertanggung jawab dalam setiap ruang yang kita masuki. Dan di situlah, seni yang sebenarnya dimulai. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kejujuransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Next Post

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Dijual, Adat Ditinggal ---Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co