25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
April 15, 2026
in Esai
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ORANG Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang penuh akal, luwes, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Kita tumbuh dalam budaya yang menghargai kebersamaan, improvisasi, dan kemampuan membaca situasi. Dari kecil, kita sudah akrab dengan solusi-solusi tak tertulis; berbagai cara yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diwariskan melalui pengamatan dan pengalaman.

Maka tidak mengherankan jika dalam keseharian, muncul berbagai “keterampilan sosial” yang unik, yang mungkin tampak ganjil bagi orang luar, tetapi terasa wajar bagi kita. Salah satunya adalah praktik yang sederhana namun sarat makna: titip absen. Di permukaan, titip absen tampak seperti pelanggaran kecil terhadap aturan. Dalam dunia yang ideal, kehadiran berarti tubuh yang hadir, pikiran yang terlibat, dan partisipasi yang nyata.

Dalam praktiknya, terutama di Indonesia, kehadiran sering kali memiliki arti yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan lebih simbolik daripada literal. Nama di atas kertas, tanda tangan di daftar hadir, atau centang di kolom kehadiran sering kali dianggap cukup untuk mewakili eksistensi seseorang dalam suatu ruang.

Di ruang kelas, daftar hadir menjadi ritual yang hampir sakral. Kertas itu berpindah dari satu meja ke meja lain, membawa serta tanggung jawab yang tak tertulis. Di dalamnya bukan hanya ada kolom nama dan tanda tangan, tetapi juga peluang untuk saling membantu. Ketika seorang teman berhalangan hadir, entah karena sakit, urusan keluarga, atau sekadar kelelahan, permintaan itu datang dengan nada pelan, kadang disertai senyum, kadang dibungkus candaan: “Titip ya.” Dan tanpa banyak tanya, tangan lain akan bergerak, menuliskan nama yang bukan miliknya.

Di kantor, praktik ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda, tetapi esensinya sama. Kehadiran menjadi indikator disiplin, loyalitas, bahkan kinerja. Namun di balik sistem absensi yang semakin canggih; fingerprint, kartu akses, hingga aplikasi digital, masih ada ruang bagi negosiasi manusia. Seorang rekan bisa “mengakali” sistem, atau lebih tepatnya, sistem bisa dilunakkan oleh relasi.

Ada yang datang lebih awal untuk membantu temannya, ada yang mencatatkan kehadiran atas nama solidaritas, dan ada pula yang memilih diam karena memahami situasi. Menariknya, praktik titip absen ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka sebagai sesuatu yang salah. Ia hidup di wilayah abu-abu, di antara norma dan toleransi. Semua orang tahu, tetapi sedikit yang benar-benar mempermasalahkan.

Mengapa? Karena di balik tindakan itu, ada nilai yang lebih dalam: rasa kebersamaan. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kolektivitas, membantu orang lain; even dalam bentuk yang kecil dan teknis, dianggap sebagai bagian dari etika sosial. Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, dalam konteks tertentu bisa menjadi bentuk kompromi terhadap integritas.

Titip absen bukan sekadar soal tanda tangan; ia mencerminkan bagaimana kita memaknai kejujuran, tanggung jawab, dan kehadiran itu sendiri. Ketika seseorang “hadir” tanpa benar-benar ada, kita mulai mempertanyakan: apa arti kehadiran itu? Dalam banyak kasus, titip absen tidak dilakukan karena kemalasan semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Sistem yang kaku, tuntutan administratif yang berlebihan, atau kegiatan yang dianggap tidak relevan sering kali mendorong orang untuk mencari jalan pintas.

Ketika sebuah rapat bisa diringkas dalam satu email, atau sebuah kelas terasa tidak memberi nilai tambah, kehadiran fisik menjadi formalitas belaka. Dalam kondisi seperti ini, titip absen menjadi semacam bentuk perlawanan kecil; cara halus untuk mengatakan bahwa sistem tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata.

Di sisi lain, praktik ini juga memperlihatkan betapa kuatnya jaringan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hubungan antarindividu sering kali lebih menentukan daripada aturan tertulis. Kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari, dan bantuan sekecil apa pun bisa memperkuat ikatan tersebut. Ketika seseorang bersedia menandatangani untuk orang lain, ia tidak hanya membantu, tetapi juga menunjukkan loyalitas. Sebaliknya, menolak permintaan itu bisa dianggap sebagai sikap yang dingin atau tidak solid.

Pertanyaan adalah apakah ini berarti praktik titip absen harus terus dipertahankan? Tidak sesederhana itu. Dalam dunia yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, batas antara toleransi dan pelanggaran menjadi semakin tipis. Institusi pendidikan dan tempat kerja mulai menyadari bahwa kehadiran bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas partisipasi. Sistem yang lebih ketat mulai diterapkan, teknologi digunakan untuk meminimalkan celah, dan kesadaran akan pentingnya integritas perlahan dibangun.

Meski demikian, menghapus praktik titip absen sepenuhnya bukan hanya soal memperketat aturan. Ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama kehadiran masih dipahami sebagai kewajiban administratif, selama sistem belum mampu memberikan makna yang nyata bagi partisipasi, praktik ini akan terus menemukan jalannya. Orang akan selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri, untuk menavigasi antara tuntutan dan realitas.

Yang menarik, generasi muda mulai menunjukkan sikap yang lebih kritis terhadap praktik ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, dengan akses informasi yang lebih luas, dan pemahaman yang lebih kuat tentang etika profesional. Bagi sebagian dari mereka, titip absen bukan lagi sekadar “biasa saja,” tetapi mulai dipertanyakan. Apakah ini adil? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kita pegang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena menunjukkan adanya pergeseran budaya.

Di sisi lain, nilai kebersamaan yang melatarbelakangi praktik ini tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga semangat solidaritas tanpa harus mengorbankan integritas. Membantu teman tidak harus selalu berarti melanggar aturan; bisa juga dalam bentuk lain yang lebih konstruktif. Misalnya, berbagi catatan, membantu memahami materi, atau menggantikan tugas secara resmi dengan izin yang jelas.

Titip absen adalah cermin kecil dari dinamika sosial yang lebih besar. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia menavigasi antara aturan dan relasi, antara formalitas dan fleksibilitas. Ia bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol dari cara kita hidup bersama dengan segala kompromi dan negosiasinya.

Dalam dunia yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna kehadiran. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Bukan hanya memenuhi daftar, tetapi juga berkontribusi secara nyata. Dan mungkin, dalam proses itu, kita bisa menemukan cara baru untuk tetap menjaga kebersamaan tanpa harus bergantung pada praktik-praktik yang meragukan.

Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya soal nama di atas kertas. Ia adalah tentang keberadaan yang sesungguhnya, tentang bagaimana kita memilih untuk muncul, berpartisipasi, dan bertanggung jawab dalam setiap ruang yang kita masuki. Dan di situlah, seni yang sebenarnya dimulai. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kejujuransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Next Post

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Dijual, Adat Ditinggal ---Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co