17 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
April 15, 2026
in Esai
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ORANG Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang penuh akal, luwes, dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Kita tumbuh dalam budaya yang menghargai kebersamaan, improvisasi, dan kemampuan membaca situasi. Dari kecil, kita sudah akrab dengan solusi-solusi tak tertulis; berbagai cara yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diwariskan melalui pengamatan dan pengalaman.

Maka tidak mengherankan jika dalam keseharian, muncul berbagai “keterampilan sosial” yang unik, yang mungkin tampak ganjil bagi orang luar, tetapi terasa wajar bagi kita. Salah satunya adalah praktik yang sederhana namun sarat makna: titip absen. Di permukaan, titip absen tampak seperti pelanggaran kecil terhadap aturan. Dalam dunia yang ideal, kehadiran berarti tubuh yang hadir, pikiran yang terlibat, dan partisipasi yang nyata.

Dalam praktiknya, terutama di Indonesia, kehadiran sering kali memiliki arti yang lebih luas, bahkan bisa dikatakan lebih simbolik daripada literal. Nama di atas kertas, tanda tangan di daftar hadir, atau centang di kolom kehadiran sering kali dianggap cukup untuk mewakili eksistensi seseorang dalam suatu ruang.

Di ruang kelas, daftar hadir menjadi ritual yang hampir sakral. Kertas itu berpindah dari satu meja ke meja lain, membawa serta tanggung jawab yang tak tertulis. Di dalamnya bukan hanya ada kolom nama dan tanda tangan, tetapi juga peluang untuk saling membantu. Ketika seorang teman berhalangan hadir, entah karena sakit, urusan keluarga, atau sekadar kelelahan, permintaan itu datang dengan nada pelan, kadang disertai senyum, kadang dibungkus candaan: “Titip ya.” Dan tanpa banyak tanya, tangan lain akan bergerak, menuliskan nama yang bukan miliknya.

Di kantor, praktik ini mengambil bentuk yang sedikit berbeda, tetapi esensinya sama. Kehadiran menjadi indikator disiplin, loyalitas, bahkan kinerja. Namun di balik sistem absensi yang semakin canggih; fingerprint, kartu akses, hingga aplikasi digital, masih ada ruang bagi negosiasi manusia. Seorang rekan bisa “mengakali” sistem, atau lebih tepatnya, sistem bisa dilunakkan oleh relasi.

Ada yang datang lebih awal untuk membantu temannya, ada yang mencatatkan kehadiran atas nama solidaritas, dan ada pula yang memilih diam karena memahami situasi. Menariknya, praktik titip absen ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka sebagai sesuatu yang salah. Ia hidup di wilayah abu-abu, di antara norma dan toleransi. Semua orang tahu, tetapi sedikit yang benar-benar mempermasalahkan.

Mengapa? Karena di balik tindakan itu, ada nilai yang lebih dalam: rasa kebersamaan. Dalam budaya yang menjunjung tinggi kolektivitas, membantu orang lain; even dalam bentuk yang kecil dan teknis, dianggap sebagai bagian dari etika sosial. Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dianggap sebagai bentuk solidaritas, dalam konteks tertentu bisa menjadi bentuk kompromi terhadap integritas.

Titip absen bukan sekadar soal tanda tangan; ia mencerminkan bagaimana kita memaknai kejujuran, tanggung jawab, dan kehadiran itu sendiri. Ketika seseorang “hadir” tanpa benar-benar ada, kita mulai mempertanyakan: apa arti kehadiran itu? Dalam banyak kasus, titip absen tidak dilakukan karena kemalasan semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih kompleks. Sistem yang kaku, tuntutan administratif yang berlebihan, atau kegiatan yang dianggap tidak relevan sering kali mendorong orang untuk mencari jalan pintas.

Ketika sebuah rapat bisa diringkas dalam satu email, atau sebuah kelas terasa tidak memberi nilai tambah, kehadiran fisik menjadi formalitas belaka. Dalam kondisi seperti ini, titip absen menjadi semacam bentuk perlawanan kecil; cara halus untuk mengatakan bahwa sistem tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata.

Di sisi lain, praktik ini juga memperlihatkan betapa kuatnya jaringan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hubungan antarindividu sering kali lebih menentukan daripada aturan tertulis. Kepercayaan dibangun melalui interaksi sehari-hari, dan bantuan sekecil apa pun bisa memperkuat ikatan tersebut. Ketika seseorang bersedia menandatangani untuk orang lain, ia tidak hanya membantu, tetapi juga menunjukkan loyalitas. Sebaliknya, menolak permintaan itu bisa dianggap sebagai sikap yang dingin atau tidak solid.

Pertanyaan adalah apakah ini berarti praktik titip absen harus terus dipertahankan? Tidak sesederhana itu. Dalam dunia yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, batas antara toleransi dan pelanggaran menjadi semakin tipis. Institusi pendidikan dan tempat kerja mulai menyadari bahwa kehadiran bukan hanya soal angka, tetapi juga kualitas partisipasi. Sistem yang lebih ketat mulai diterapkan, teknologi digunakan untuk meminimalkan celah, dan kesadaran akan pentingnya integritas perlahan dibangun.

Meski demikian, menghapus praktik titip absen sepenuhnya bukan hanya soal memperketat aturan. Ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Selama kehadiran masih dipahami sebagai kewajiban administratif, selama sistem belum mampu memberikan makna yang nyata bagi partisipasi, praktik ini akan terus menemukan jalannya. Orang akan selalu mencari cara untuk menyesuaikan diri, untuk menavigasi antara tuntutan dan realitas.

Yang menarik, generasi muda mulai menunjukkan sikap yang lebih kritis terhadap praktik ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, dengan akses informasi yang lebih luas, dan pemahaman yang lebih kuat tentang etika profesional. Bagi sebagian dari mereka, titip absen bukan lagi sekadar “biasa saja,” tetapi mulai dipertanyakan. Apakah ini adil? Apakah ini mencerminkan nilai yang ingin kita pegang? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena menunjukkan adanya pergeseran budaya.

Di sisi lain, nilai kebersamaan yang melatarbelakangi praktik ini tetap relevan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga semangat solidaritas tanpa harus mengorbankan integritas. Membantu teman tidak harus selalu berarti melanggar aturan; bisa juga dalam bentuk lain yang lebih konstruktif. Misalnya, berbagi catatan, membantu memahami materi, atau menggantikan tugas secara resmi dengan izin yang jelas.

Titip absen adalah cermin kecil dari dinamika sosial yang lebih besar. Ia menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia menavigasi antara aturan dan relasi, antara formalitas dan fleksibilitas. Ia bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga simbol dari cara kita hidup bersama dengan segala kompromi dan negosiasinya.

Dalam dunia yang terus berubah, mungkin sudah saatnya kita merefleksikan kembali makna kehadiran. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional. Bukan hanya memenuhi daftar, tetapi juga berkontribusi secara nyata. Dan mungkin, dalam proses itu, kita bisa menemukan cara baru untuk tetap menjaga kebersamaan tanpa harus bergantung pada praktik-praktik yang meragukan.

Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya soal nama di atas kertas. Ia adalah tentang keberadaan yang sesungguhnya, tentang bagaimana kita memilih untuk muncul, berpartisipasi, dan bertanggung jawab dalam setiap ruang yang kita masuki. Dan di situlah, seni yang sebenarnya dimulai. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

Tags: kejujuransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Next Post

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
0
Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

Read moreDetails

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
0
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

Read moreDetails

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

by Chusmeru
June 15, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

Read moreDetails

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
0
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

Read moreDetails

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah Dijual, Adat Ditinggal ---Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali
Esai

Pesta Kesenian Bali, Ya Dibuka Gubernur Bali

MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun...

by Dede Putra Wiguna
June 16, 2026
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik
Panggung

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co