8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
in Ulas Musik
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Creedence Clearwater Revival | Ilustrasi dibuat dengan AI

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan yang berlari seperti garis waktu, lagu Long As I Can See the Light milik Creedence Clearwater Revival, yang ditulis oleh John Fogerty, terasa seperti doa sederhana bagi manusia yang jauh dari rumah.

Lagu itu tidak berbicara tentang kemenangan besar atau petualangan heroik. Ia hanya berbicara tentang satu hal yang paling manusiawi: keinginan untuk pulang, selama masih terlihat sedikit cahaya di ujung jalan.

Dalam hermeneutika, sebuah teks, baik kitab suci, puisi, maupun lagu, tidak pernah berhenti pada makna literalnya. Ia hidup kembali setiap kali ditafsirkan oleh pengalaman manusia. Lagu ini lahir pada tahun 1970, di tengah dunia yang gelisah, tetapi maknanya justru terasa sangat dekat dengan kehidupan Indonesia hari ini, terutama dalam fenomena pulang kampung: mudik Lebaran, perjalanan panjang Natal, atau sekadar pulang ke desa saat tubuh dan jiwa mulai letih oleh kota.

Jalan Panjang Manusia Modern

Indonesia modern adalah negeri perjalanan. Setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ritual sosial yang hampir sakral: mudik. Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan stasiun berubah menjadi sungai manusia yang mengalir menuju rumah.

Pada saat seperti itu, lagu Long As I Can See the Light seperti menemukan konteks barunya. Bukan lagi tentang musisi yang lelah dari tur panjang, tetapi tentang pekerja pabrik di Bekasi yang kembali ke kampung di Jawa Tengah. Tentang mahasiswa di Jakarta yang pulang ke Sumatra saat Natal. Tentang perantau yang menempuh perjalanan dua puluh jam dengan bus hanya untuk mendengar suara ibunya memanggil dari dapur.

Manusia modern mungkin hidup dalam teknologi, tetapi jiwanya masih purba: ia selalu mencari rumah. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Martin Heidegger, filsuf yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu “mencari tempat tinggal” di dunia. Dalam istilahnya, manusia ingin dwelling, berdiam secara autentik.

Kota besar sering membuat manusia kehilangan rasa tinggal itu. Ia bekerja, berlari, dan bersaing, tetapi tidak benar-benar merasa berada. Karena itu perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial.

Cahaya Simbol Harapan

Dalam lagu tersebut, “cahaya” adalah metafora yang sangat sederhana tetapi kuat. Cahaya itu tidak harus terang; cukup terlihat. Selama cahaya itu masih ada, perjalanan tetap bermakna.

Bagi masyarakat Indonesia, cahaya itu sering berbentuk sangat konkret: lampu teras rumah orang tua, suara azan dari masjid kampung, lonceng gereja kecil saat Natal, atau aroma kayu bakar dari dapur yang sudah lama dikenal.

Dalam filsafat, cahaya sering dipakai sebagai simbol pengetahuan dan harapan. Plato pernah menggunakan metafora cahaya matahari dalam alegori guanya untuk menggambarkan kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, cahaya sering lebih sederhana: ia adalah tanda bahwa kita masih diterima.

Di sinilah lagu tersebut terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara tentang cahaya metafisik yang besar. Ia hanya mengatakan: selama masih ada cahaya itu, aku akan terus berjalan.

Kesendirian di Tengah Keramaian

Salah satu sisi paling halus dari lagu ini adalah nuansa penyendiriannya. Sang penyanyi tidak sepenuhnya ingin berada di tengah keramaian dunia. Ia justru membutuhkan jarak. Ia mengakui dirinya sebagai seseorang yang kadang harus berjalan sendiri.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan urban Indonesia. Kota-kota besar dipenuhi manusia, tetapi kesepian justru semakin dalam. Banyak orang hidup di apartemen kecil, bekerja sepanjang hari, lalu pulang ke kamar yang sunyi.

Sosiolog sering menyebut ini sebagai paradoks modernitas: semakin padat dunia, semakin kesepian manusia. Namun lagu ini tidak memandang kesendirian sebagai tragedi. Ia hanya mengatakan bahwa manusia kadang perlu berjalan sendirian, selama ia tahu ada cahaya yang menunggu di ujung perjalanan.

Pandangan Para Sufi

Menariknya, simbol cahaya juga sangat kuat dalam tradisi tasawuf. Dalam spiritualitas Islam, cahaya sering menjadi metafora cinta ilahi dan arah pulang jiwa manusia.

Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia sebenarnya selalu sedang pulang. Dunia ini hanyalah perjalanan panjang menuju sumber asalnya.

Dalam perspektif sufi, kerinduan kepada rumah sering dimaknai sebagai kerinduan jiwa kepada asal spiritualnya. Ketika seseorang merasa asing di dunia, mungkin sebenarnya ia sedang mengingat tempat asalnya yang lebih dalam.

Sufi lain, Ibn Arabi, berbicara tentang perjalanan batin manusia menuju cahaya pengetahuan dan cinta. Dalam pemikirannya, manusia selalu bergerak dari kegelapan menuju pencerahan. Jika dibaca dari sudut ini, cahaya dalam lagu itu bukan hanya lampu rumah atau pelukan keluarga. Ia juga bisa menjadi cahaya batin, harapan bahwa hidup tetap memiliki arah.

Mudik sebagai Ritual Spiritual

Di Indonesia, mudik sering dipahami hanya sebagai tradisi sosial. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya memiliki dimensi spiritual.

Mudik adalah pengakuan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya hidup tanpa akar. Kota boleh menjadi tempat bekerja, tetapi rumah tetap menjadi tempat jiwa kembali.

Setiap perjalanan mudik sebenarnya adalah narasi kecil tentang manusia yang mencoba mengingat dirinya sendiri. Karena itu banyak orang merasa haru saat memasuki batas desa. Jalan yang sempit, pohon-pohon tua, atau warung kecil di tikungan tiba-tiba terasa seperti bagian dari identitas mereka. Di saat seperti itu, cahaya dalam lagu Long As I Can See the Light terasa sangat nyata.

Cahaya yang Sederhana

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan filsafat yang rumit. Ia hanya mengatakan bahwa manusia membutuhkan satu hal sederhana: tanda bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang.

Dalam dunia yang semakin cepat, penuh kompetisi, dan sering terasa dingin, pesan ini justru menjadi semakin penting. Seperti kata Kahlil Gibran, rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana jiwa kita merasa diterima.

Mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu abadi. Ia tidak terikat oleh waktu atau negara. Selama manusia masih berjalan jauh dari rumah di jalan raya, di bandara, di kapal laut, atau di lorong kehidupan, selama itu pula ia akan mencari cahaya kecil yang menuntunnya pulang.

Dan selama cahaya itu masih terlihat, perjalanan manusia tidak pernah benar-benar gelap. [T]

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Next Post

CCTV, Sampah, Kota

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
CCTV, Sampah, Kota

CCTV, Sampah, Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co