6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
in Ulas Musik
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Creedence Clearwater Revival | Ilustrasi dibuat dengan AI

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan yang berlari seperti garis waktu, lagu Long As I Can See the Light milik Creedence Clearwater Revival, yang ditulis oleh John Fogerty, terasa seperti doa sederhana bagi manusia yang jauh dari rumah.

Lagu itu tidak berbicara tentang kemenangan besar atau petualangan heroik. Ia hanya berbicara tentang satu hal yang paling manusiawi: keinginan untuk pulang, selama masih terlihat sedikit cahaya di ujung jalan.

Dalam hermeneutika, sebuah teks, baik kitab suci, puisi, maupun lagu, tidak pernah berhenti pada makna literalnya. Ia hidup kembali setiap kali ditafsirkan oleh pengalaman manusia. Lagu ini lahir pada tahun 1970, di tengah dunia yang gelisah, tetapi maknanya justru terasa sangat dekat dengan kehidupan Indonesia hari ini, terutama dalam fenomena pulang kampung: mudik Lebaran, perjalanan panjang Natal, atau sekadar pulang ke desa saat tubuh dan jiwa mulai letih oleh kota.

Jalan Panjang Manusia Modern

Indonesia modern adalah negeri perjalanan. Setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ritual sosial yang hampir sakral: mudik. Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan stasiun berubah menjadi sungai manusia yang mengalir menuju rumah.

Pada saat seperti itu, lagu Long As I Can See the Light seperti menemukan konteks barunya. Bukan lagi tentang musisi yang lelah dari tur panjang, tetapi tentang pekerja pabrik di Bekasi yang kembali ke kampung di Jawa Tengah. Tentang mahasiswa di Jakarta yang pulang ke Sumatra saat Natal. Tentang perantau yang menempuh perjalanan dua puluh jam dengan bus hanya untuk mendengar suara ibunya memanggil dari dapur.

Manusia modern mungkin hidup dalam teknologi, tetapi jiwanya masih purba: ia selalu mencari rumah. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Martin Heidegger, filsuf yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu “mencari tempat tinggal” di dunia. Dalam istilahnya, manusia ingin dwelling, berdiam secara autentik.

Kota besar sering membuat manusia kehilangan rasa tinggal itu. Ia bekerja, berlari, dan bersaing, tetapi tidak benar-benar merasa berada. Karena itu perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial.

Cahaya Simbol Harapan

Dalam lagu tersebut, “cahaya” adalah metafora yang sangat sederhana tetapi kuat. Cahaya itu tidak harus terang; cukup terlihat. Selama cahaya itu masih ada, perjalanan tetap bermakna.

Bagi masyarakat Indonesia, cahaya itu sering berbentuk sangat konkret: lampu teras rumah orang tua, suara azan dari masjid kampung, lonceng gereja kecil saat Natal, atau aroma kayu bakar dari dapur yang sudah lama dikenal.

Dalam filsafat, cahaya sering dipakai sebagai simbol pengetahuan dan harapan. Plato pernah menggunakan metafora cahaya matahari dalam alegori guanya untuk menggambarkan kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, cahaya sering lebih sederhana: ia adalah tanda bahwa kita masih diterima.

Di sinilah lagu tersebut terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara tentang cahaya metafisik yang besar. Ia hanya mengatakan: selama masih ada cahaya itu, aku akan terus berjalan.

Kesendirian di Tengah Keramaian

Salah satu sisi paling halus dari lagu ini adalah nuansa penyendiriannya. Sang penyanyi tidak sepenuhnya ingin berada di tengah keramaian dunia. Ia justru membutuhkan jarak. Ia mengakui dirinya sebagai seseorang yang kadang harus berjalan sendiri.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan urban Indonesia. Kota-kota besar dipenuhi manusia, tetapi kesepian justru semakin dalam. Banyak orang hidup di apartemen kecil, bekerja sepanjang hari, lalu pulang ke kamar yang sunyi.

Sosiolog sering menyebut ini sebagai paradoks modernitas: semakin padat dunia, semakin kesepian manusia. Namun lagu ini tidak memandang kesendirian sebagai tragedi. Ia hanya mengatakan bahwa manusia kadang perlu berjalan sendirian, selama ia tahu ada cahaya yang menunggu di ujung perjalanan.

Pandangan Para Sufi

Menariknya, simbol cahaya juga sangat kuat dalam tradisi tasawuf. Dalam spiritualitas Islam, cahaya sering menjadi metafora cinta ilahi dan arah pulang jiwa manusia.

Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia sebenarnya selalu sedang pulang. Dunia ini hanyalah perjalanan panjang menuju sumber asalnya.

Dalam perspektif sufi, kerinduan kepada rumah sering dimaknai sebagai kerinduan jiwa kepada asal spiritualnya. Ketika seseorang merasa asing di dunia, mungkin sebenarnya ia sedang mengingat tempat asalnya yang lebih dalam.

Sufi lain, Ibn Arabi, berbicara tentang perjalanan batin manusia menuju cahaya pengetahuan dan cinta. Dalam pemikirannya, manusia selalu bergerak dari kegelapan menuju pencerahan. Jika dibaca dari sudut ini, cahaya dalam lagu itu bukan hanya lampu rumah atau pelukan keluarga. Ia juga bisa menjadi cahaya batin, harapan bahwa hidup tetap memiliki arah.

Mudik sebagai Ritual Spiritual

Di Indonesia, mudik sering dipahami hanya sebagai tradisi sosial. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya memiliki dimensi spiritual.

Mudik adalah pengakuan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya hidup tanpa akar. Kota boleh menjadi tempat bekerja, tetapi rumah tetap menjadi tempat jiwa kembali.

Setiap perjalanan mudik sebenarnya adalah narasi kecil tentang manusia yang mencoba mengingat dirinya sendiri. Karena itu banyak orang merasa haru saat memasuki batas desa. Jalan yang sempit, pohon-pohon tua, atau warung kecil di tikungan tiba-tiba terasa seperti bagian dari identitas mereka. Di saat seperti itu, cahaya dalam lagu Long As I Can See the Light terasa sangat nyata.

Cahaya yang Sederhana

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan filsafat yang rumit. Ia hanya mengatakan bahwa manusia membutuhkan satu hal sederhana: tanda bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang.

Dalam dunia yang semakin cepat, penuh kompetisi, dan sering terasa dingin, pesan ini justru menjadi semakin penting. Seperti kata Kahlil Gibran, rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana jiwa kita merasa diterima.

Mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu abadi. Ia tidak terikat oleh waktu atau negara. Selama manusia masih berjalan jauh dari rumah di jalan raya, di bandara, di kapal laut, atau di lorong kehidupan, selama itu pula ia akan mencari cahaya kecil yang menuntunnya pulang.

Dan selama cahaya itu masih terlihat, perjalanan manusia tidak pernah benar-benar gelap. [T]

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Next Post

CCTV, Sampah, Kota

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
CCTV, Sampah, Kota

CCTV, Sampah, Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co