23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
in Ulas Musik
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Creedence Clearwater Revival | Ilustrasi dibuat dengan AI

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan yang berlari seperti garis waktu, lagu Long As I Can See the Light milik Creedence Clearwater Revival, yang ditulis oleh John Fogerty, terasa seperti doa sederhana bagi manusia yang jauh dari rumah.

Lagu itu tidak berbicara tentang kemenangan besar atau petualangan heroik. Ia hanya berbicara tentang satu hal yang paling manusiawi: keinginan untuk pulang, selama masih terlihat sedikit cahaya di ujung jalan.

Dalam hermeneutika, sebuah teks, baik kitab suci, puisi, maupun lagu, tidak pernah berhenti pada makna literalnya. Ia hidup kembali setiap kali ditafsirkan oleh pengalaman manusia. Lagu ini lahir pada tahun 1970, di tengah dunia yang gelisah, tetapi maknanya justru terasa sangat dekat dengan kehidupan Indonesia hari ini, terutama dalam fenomena pulang kampung: mudik Lebaran, perjalanan panjang Natal, atau sekadar pulang ke desa saat tubuh dan jiwa mulai letih oleh kota.

Jalan Panjang Manusia Modern

Indonesia modern adalah negeri perjalanan. Setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ritual sosial yang hampir sakral: mudik. Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan stasiun berubah menjadi sungai manusia yang mengalir menuju rumah.

Pada saat seperti itu, lagu Long As I Can See the Light seperti menemukan konteks barunya. Bukan lagi tentang musisi yang lelah dari tur panjang, tetapi tentang pekerja pabrik di Bekasi yang kembali ke kampung di Jawa Tengah. Tentang mahasiswa di Jakarta yang pulang ke Sumatra saat Natal. Tentang perantau yang menempuh perjalanan dua puluh jam dengan bus hanya untuk mendengar suara ibunya memanggil dari dapur.

Manusia modern mungkin hidup dalam teknologi, tetapi jiwanya masih purba: ia selalu mencari rumah. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Martin Heidegger, filsuf yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu “mencari tempat tinggal” di dunia. Dalam istilahnya, manusia ingin dwelling, berdiam secara autentik.

Kota besar sering membuat manusia kehilangan rasa tinggal itu. Ia bekerja, berlari, dan bersaing, tetapi tidak benar-benar merasa berada. Karena itu perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial.

Cahaya Simbol Harapan

Dalam lagu tersebut, “cahaya” adalah metafora yang sangat sederhana tetapi kuat. Cahaya itu tidak harus terang; cukup terlihat. Selama cahaya itu masih ada, perjalanan tetap bermakna.

Bagi masyarakat Indonesia, cahaya itu sering berbentuk sangat konkret: lampu teras rumah orang tua, suara azan dari masjid kampung, lonceng gereja kecil saat Natal, atau aroma kayu bakar dari dapur yang sudah lama dikenal.

Dalam filsafat, cahaya sering dipakai sebagai simbol pengetahuan dan harapan. Plato pernah menggunakan metafora cahaya matahari dalam alegori guanya untuk menggambarkan kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, cahaya sering lebih sederhana: ia adalah tanda bahwa kita masih diterima.

Di sinilah lagu tersebut terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara tentang cahaya metafisik yang besar. Ia hanya mengatakan: selama masih ada cahaya itu, aku akan terus berjalan.

Kesendirian di Tengah Keramaian

Salah satu sisi paling halus dari lagu ini adalah nuansa penyendiriannya. Sang penyanyi tidak sepenuhnya ingin berada di tengah keramaian dunia. Ia justru membutuhkan jarak. Ia mengakui dirinya sebagai seseorang yang kadang harus berjalan sendiri.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan urban Indonesia. Kota-kota besar dipenuhi manusia, tetapi kesepian justru semakin dalam. Banyak orang hidup di apartemen kecil, bekerja sepanjang hari, lalu pulang ke kamar yang sunyi.

Sosiolog sering menyebut ini sebagai paradoks modernitas: semakin padat dunia, semakin kesepian manusia. Namun lagu ini tidak memandang kesendirian sebagai tragedi. Ia hanya mengatakan bahwa manusia kadang perlu berjalan sendirian, selama ia tahu ada cahaya yang menunggu di ujung perjalanan.

Pandangan Para Sufi

Menariknya, simbol cahaya juga sangat kuat dalam tradisi tasawuf. Dalam spiritualitas Islam, cahaya sering menjadi metafora cinta ilahi dan arah pulang jiwa manusia.

Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia sebenarnya selalu sedang pulang. Dunia ini hanyalah perjalanan panjang menuju sumber asalnya.

Dalam perspektif sufi, kerinduan kepada rumah sering dimaknai sebagai kerinduan jiwa kepada asal spiritualnya. Ketika seseorang merasa asing di dunia, mungkin sebenarnya ia sedang mengingat tempat asalnya yang lebih dalam.

Sufi lain, Ibn Arabi, berbicara tentang perjalanan batin manusia menuju cahaya pengetahuan dan cinta. Dalam pemikirannya, manusia selalu bergerak dari kegelapan menuju pencerahan. Jika dibaca dari sudut ini, cahaya dalam lagu itu bukan hanya lampu rumah atau pelukan keluarga. Ia juga bisa menjadi cahaya batin, harapan bahwa hidup tetap memiliki arah.

Mudik sebagai Ritual Spiritual

Di Indonesia, mudik sering dipahami hanya sebagai tradisi sosial. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya memiliki dimensi spiritual.

Mudik adalah pengakuan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya hidup tanpa akar. Kota boleh menjadi tempat bekerja, tetapi rumah tetap menjadi tempat jiwa kembali.

Setiap perjalanan mudik sebenarnya adalah narasi kecil tentang manusia yang mencoba mengingat dirinya sendiri. Karena itu banyak orang merasa haru saat memasuki batas desa. Jalan yang sempit, pohon-pohon tua, atau warung kecil di tikungan tiba-tiba terasa seperti bagian dari identitas mereka. Di saat seperti itu, cahaya dalam lagu Long As I Can See the Light terasa sangat nyata.

Cahaya yang Sederhana

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan filsafat yang rumit. Ia hanya mengatakan bahwa manusia membutuhkan satu hal sederhana: tanda bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang.

Dalam dunia yang semakin cepat, penuh kompetisi, dan sering terasa dingin, pesan ini justru menjadi semakin penting. Seperti kata Kahlil Gibran, rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana jiwa kita merasa diterima.

Mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu abadi. Ia tidak terikat oleh waktu atau negara. Selama manusia masih berjalan jauh dari rumah di jalan raya, di bandara, di kapal laut, atau di lorong kehidupan, selama itu pula ia akan mencari cahaya kecil yang menuntunnya pulang.

Dan selama cahaya itu masih terlihat, perjalanan manusia tidak pernah benar-benar gelap. [T]

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Next Post

CCTV, Sampah, Kota

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails
Next Post
CCTV, Sampah, Kota

CCTV, Sampah, Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co