22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
in Ulas Musik
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Creedence Clearwater Revival | Ilustrasi dibuat dengan AI

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan yang berlari seperti garis waktu, lagu Long As I Can See the Light milik Creedence Clearwater Revival, yang ditulis oleh John Fogerty, terasa seperti doa sederhana bagi manusia yang jauh dari rumah.

Lagu itu tidak berbicara tentang kemenangan besar atau petualangan heroik. Ia hanya berbicara tentang satu hal yang paling manusiawi: keinginan untuk pulang, selama masih terlihat sedikit cahaya di ujung jalan.

Dalam hermeneutika, sebuah teks, baik kitab suci, puisi, maupun lagu, tidak pernah berhenti pada makna literalnya. Ia hidup kembali setiap kali ditafsirkan oleh pengalaman manusia. Lagu ini lahir pada tahun 1970, di tengah dunia yang gelisah, tetapi maknanya justru terasa sangat dekat dengan kehidupan Indonesia hari ini, terutama dalam fenomena pulang kampung: mudik Lebaran, perjalanan panjang Natal, atau sekadar pulang ke desa saat tubuh dan jiwa mulai letih oleh kota.

Jalan Panjang Manusia Modern

Indonesia modern adalah negeri perjalanan. Setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ritual sosial yang hampir sakral: mudik. Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan stasiun berubah menjadi sungai manusia yang mengalir menuju rumah.

Pada saat seperti itu, lagu Long As I Can See the Light seperti menemukan konteks barunya. Bukan lagi tentang musisi yang lelah dari tur panjang, tetapi tentang pekerja pabrik di Bekasi yang kembali ke kampung di Jawa Tengah. Tentang mahasiswa di Jakarta yang pulang ke Sumatra saat Natal. Tentang perantau yang menempuh perjalanan dua puluh jam dengan bus hanya untuk mendengar suara ibunya memanggil dari dapur.

Manusia modern mungkin hidup dalam teknologi, tetapi jiwanya masih purba: ia selalu mencari rumah. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Martin Heidegger, filsuf yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu “mencari tempat tinggal” di dunia. Dalam istilahnya, manusia ingin dwelling, berdiam secara autentik.

Kota besar sering membuat manusia kehilangan rasa tinggal itu. Ia bekerja, berlari, dan bersaing, tetapi tidak benar-benar merasa berada. Karena itu perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial.

Cahaya Simbol Harapan

Dalam lagu tersebut, “cahaya” adalah metafora yang sangat sederhana tetapi kuat. Cahaya itu tidak harus terang; cukup terlihat. Selama cahaya itu masih ada, perjalanan tetap bermakna.

Bagi masyarakat Indonesia, cahaya itu sering berbentuk sangat konkret: lampu teras rumah orang tua, suara azan dari masjid kampung, lonceng gereja kecil saat Natal, atau aroma kayu bakar dari dapur yang sudah lama dikenal.

Dalam filsafat, cahaya sering dipakai sebagai simbol pengetahuan dan harapan. Plato pernah menggunakan metafora cahaya matahari dalam alegori guanya untuk menggambarkan kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, cahaya sering lebih sederhana: ia adalah tanda bahwa kita masih diterima.

Di sinilah lagu tersebut terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara tentang cahaya metafisik yang besar. Ia hanya mengatakan: selama masih ada cahaya itu, aku akan terus berjalan.

Kesendirian di Tengah Keramaian

Salah satu sisi paling halus dari lagu ini adalah nuansa penyendiriannya. Sang penyanyi tidak sepenuhnya ingin berada di tengah keramaian dunia. Ia justru membutuhkan jarak. Ia mengakui dirinya sebagai seseorang yang kadang harus berjalan sendiri.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan urban Indonesia. Kota-kota besar dipenuhi manusia, tetapi kesepian justru semakin dalam. Banyak orang hidup di apartemen kecil, bekerja sepanjang hari, lalu pulang ke kamar yang sunyi.

Sosiolog sering menyebut ini sebagai paradoks modernitas: semakin padat dunia, semakin kesepian manusia. Namun lagu ini tidak memandang kesendirian sebagai tragedi. Ia hanya mengatakan bahwa manusia kadang perlu berjalan sendirian, selama ia tahu ada cahaya yang menunggu di ujung perjalanan.

Pandangan Para Sufi

Menariknya, simbol cahaya juga sangat kuat dalam tradisi tasawuf. Dalam spiritualitas Islam, cahaya sering menjadi metafora cinta ilahi dan arah pulang jiwa manusia.

Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia sebenarnya selalu sedang pulang. Dunia ini hanyalah perjalanan panjang menuju sumber asalnya.

Dalam perspektif sufi, kerinduan kepada rumah sering dimaknai sebagai kerinduan jiwa kepada asal spiritualnya. Ketika seseorang merasa asing di dunia, mungkin sebenarnya ia sedang mengingat tempat asalnya yang lebih dalam.

Sufi lain, Ibn Arabi, berbicara tentang perjalanan batin manusia menuju cahaya pengetahuan dan cinta. Dalam pemikirannya, manusia selalu bergerak dari kegelapan menuju pencerahan. Jika dibaca dari sudut ini, cahaya dalam lagu itu bukan hanya lampu rumah atau pelukan keluarga. Ia juga bisa menjadi cahaya batin, harapan bahwa hidup tetap memiliki arah.

Mudik sebagai Ritual Spiritual

Di Indonesia, mudik sering dipahami hanya sebagai tradisi sosial. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya memiliki dimensi spiritual.

Mudik adalah pengakuan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya hidup tanpa akar. Kota boleh menjadi tempat bekerja, tetapi rumah tetap menjadi tempat jiwa kembali.

Setiap perjalanan mudik sebenarnya adalah narasi kecil tentang manusia yang mencoba mengingat dirinya sendiri. Karena itu banyak orang merasa haru saat memasuki batas desa. Jalan yang sempit, pohon-pohon tua, atau warung kecil di tikungan tiba-tiba terasa seperti bagian dari identitas mereka. Di saat seperti itu, cahaya dalam lagu Long As I Can See the Light terasa sangat nyata.

Cahaya yang Sederhana

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan filsafat yang rumit. Ia hanya mengatakan bahwa manusia membutuhkan satu hal sederhana: tanda bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang.

Dalam dunia yang semakin cepat, penuh kompetisi, dan sering terasa dingin, pesan ini justru menjadi semakin penting. Seperti kata Kahlil Gibran, rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana jiwa kita merasa diterima.

Mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu abadi. Ia tidak terikat oleh waktu atau negara. Selama manusia masih berjalan jauh dari rumah di jalan raya, di bandara, di kapal laut, atau di lorong kehidupan, selama itu pula ia akan mencari cahaya kecil yang menuntunnya pulang.

Dan selama cahaya itu masih terlihat, perjalanan manusia tidak pernah benar-benar gelap. [T]

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Next Post

CCTV, Sampah, Kota

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
CCTV, Sampah, Kota

CCTV, Sampah, Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co