17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
in Ulas Musik
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Creedence Clearwater Revival | Ilustrasi dibuat dengan AI

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan yang berlari seperti garis waktu, lagu Long As I Can See the Light milik Creedence Clearwater Revival, yang ditulis oleh John Fogerty, terasa seperti doa sederhana bagi manusia yang jauh dari rumah.

Lagu itu tidak berbicara tentang kemenangan besar atau petualangan heroik. Ia hanya berbicara tentang satu hal yang paling manusiawi: keinginan untuk pulang, selama masih terlihat sedikit cahaya di ujung jalan.

Dalam hermeneutika, sebuah teks, baik kitab suci, puisi, maupun lagu, tidak pernah berhenti pada makna literalnya. Ia hidup kembali setiap kali ditafsirkan oleh pengalaman manusia. Lagu ini lahir pada tahun 1970, di tengah dunia yang gelisah, tetapi maknanya justru terasa sangat dekat dengan kehidupan Indonesia hari ini, terutama dalam fenomena pulang kampung: mudik Lebaran, perjalanan panjang Natal, atau sekadar pulang ke desa saat tubuh dan jiwa mulai letih oleh kota.

Jalan Panjang Manusia Modern

Indonesia modern adalah negeri perjalanan. Setiap tahun jutaan orang bergerak dalam ritual sosial yang hampir sakral: mudik. Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan stasiun berubah menjadi sungai manusia yang mengalir menuju rumah.

Pada saat seperti itu, lagu Long As I Can See the Light seperti menemukan konteks barunya. Bukan lagi tentang musisi yang lelah dari tur panjang, tetapi tentang pekerja pabrik di Bekasi yang kembali ke kampung di Jawa Tengah. Tentang mahasiswa di Jakarta yang pulang ke Sumatra saat Natal. Tentang perantau yang menempuh perjalanan dua puluh jam dengan bus hanya untuk mendengar suara ibunya memanggil dari dapur.

Manusia modern mungkin hidup dalam teknologi, tetapi jiwanya masih purba: ia selalu mencari rumah. Di sini kita bisa mengingat pemikiran Martin Heidegger, filsuf yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu “mencari tempat tinggal” di dunia. Dalam istilahnya, manusia ingin dwelling, berdiam secara autentik.

Kota besar sering membuat manusia kehilangan rasa tinggal itu. Ia bekerja, berlari, dan bersaing, tetapi tidak benar-benar merasa berada. Karena itu perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan eksistensial.

Cahaya Simbol Harapan

Dalam lagu tersebut, “cahaya” adalah metafora yang sangat sederhana tetapi kuat. Cahaya itu tidak harus terang; cukup terlihat. Selama cahaya itu masih ada, perjalanan tetap bermakna.

Bagi masyarakat Indonesia, cahaya itu sering berbentuk sangat konkret: lampu teras rumah orang tua, suara azan dari masjid kampung, lonceng gereja kecil saat Natal, atau aroma kayu bakar dari dapur yang sudah lama dikenal.

Dalam filsafat, cahaya sering dipakai sebagai simbol pengetahuan dan harapan. Plato pernah menggunakan metafora cahaya matahari dalam alegori guanya untuk menggambarkan kebenaran. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, cahaya sering lebih sederhana: ia adalah tanda bahwa kita masih diterima.

Di sinilah lagu tersebut terasa begitu manusiawi. Ia tidak berbicara tentang cahaya metafisik yang besar. Ia hanya mengatakan: selama masih ada cahaya itu, aku akan terus berjalan.

Kesendirian di Tengah Keramaian

Salah satu sisi paling halus dari lagu ini adalah nuansa penyendiriannya. Sang penyanyi tidak sepenuhnya ingin berada di tengah keramaian dunia. Ia justru membutuhkan jarak. Ia mengakui dirinya sebagai seseorang yang kadang harus berjalan sendiri.

Fenomena ini sangat terasa dalam kehidupan urban Indonesia. Kota-kota besar dipenuhi manusia, tetapi kesepian justru semakin dalam. Banyak orang hidup di apartemen kecil, bekerja sepanjang hari, lalu pulang ke kamar yang sunyi.

Sosiolog sering menyebut ini sebagai paradoks modernitas: semakin padat dunia, semakin kesepian manusia. Namun lagu ini tidak memandang kesendirian sebagai tragedi. Ia hanya mengatakan bahwa manusia kadang perlu berjalan sendirian, selama ia tahu ada cahaya yang menunggu di ujung perjalanan.

Pandangan Para Sufi

Menariknya, simbol cahaya juga sangat kuat dalam tradisi tasawuf. Dalam spiritualitas Islam, cahaya sering menjadi metafora cinta ilahi dan arah pulang jiwa manusia.

Penyair sufi besar Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa manusia sebenarnya selalu sedang pulang. Dunia ini hanyalah perjalanan panjang menuju sumber asalnya.

Dalam perspektif sufi, kerinduan kepada rumah sering dimaknai sebagai kerinduan jiwa kepada asal spiritualnya. Ketika seseorang merasa asing di dunia, mungkin sebenarnya ia sedang mengingat tempat asalnya yang lebih dalam.

Sufi lain, Ibn Arabi, berbicara tentang perjalanan batin manusia menuju cahaya pengetahuan dan cinta. Dalam pemikirannya, manusia selalu bergerak dari kegelapan menuju pencerahan. Jika dibaca dari sudut ini, cahaya dalam lagu itu bukan hanya lampu rumah atau pelukan keluarga. Ia juga bisa menjadi cahaya batin, harapan bahwa hidup tetap memiliki arah.

Mudik sebagai Ritual Spiritual

Di Indonesia, mudik sering dipahami hanya sebagai tradisi sosial. Tetapi jika dilihat lebih dalam, ia sebenarnya memiliki dimensi spiritual.

Mudik adalah pengakuan bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya hidup tanpa akar. Kota boleh menjadi tempat bekerja, tetapi rumah tetap menjadi tempat jiwa kembali.

Setiap perjalanan mudik sebenarnya adalah narasi kecil tentang manusia yang mencoba mengingat dirinya sendiri. Karena itu banyak orang merasa haru saat memasuki batas desa. Jalan yang sempit, pohon-pohon tua, atau warung kecil di tikungan tiba-tiba terasa seperti bagian dari identitas mereka. Di saat seperti itu, cahaya dalam lagu Long As I Can See the Light terasa sangat nyata.

Cahaya yang Sederhana

Pada akhirnya, lagu ini tidak menawarkan filsafat yang rumit. Ia hanya mengatakan bahwa manusia membutuhkan satu hal sederhana: tanda bahwa ia masih memiliki tempat untuk pulang.

Dalam dunia yang semakin cepat, penuh kompetisi, dan sering terasa dingin, pesan ini justru menjadi semakin penting. Seperti kata Kahlil Gibran, rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana jiwa kita merasa diterima.

Mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu abadi. Ia tidak terikat oleh waktu atau negara. Selama manusia masih berjalan jauh dari rumah di jalan raya, di bandara, di kapal laut, atau di lorong kehidupan, selama itu pula ia akan mencari cahaya kecil yang menuntunnya pulang.

Dan selama cahaya itu masih terlihat, perjalanan manusia tidak pernah benar-benar gelap. [T]

Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

Next Post

CCTV, Sampah, Kota

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
CCTV, Sampah, Kota

CCTV, Sampah, Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co