23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV, Sampah, Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 11, 2026
in Esai
CCTV, Sampah, Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di beberapa sudut Kota Denpasar dan wilayah Kabupaten Badung, Bali, saya kerap menemukan tulisan yang sama, diulang dengan nada yang nyaris putus asa, “Tempat ini diawasi CCTV.” Sebuah kalimat pendek, dingin, dan mengandung ancaman yang samar. CCTV sendiri adalah singkatan dari Closed-Circuit Television, sebuah sistem kamera pengawas yang sinyalnya tidak disiarkan secara publik, melainkan terbatas pada jaringan tertentu. Ia dipasang untuk mengawasi, merekam. Dalam konteks ini, mencegah orang membuang sampah sembarangan.

Namun, yang menarik, justru di bawah papan peringatan itu, sering kali saya melihat tumpukan sampah, seperti kantong plastik hitam, sisa upacara, daun-daun kering, botol air mineral, dan berbagai residu kehidupan kota. Kamera boleh terpasang, peringatan boleh terpampang, tetapi sampah tetap hadir. Seolah-olah ada jarak yang tak terjembatani antara aturan dan perilaku.

Sejak 1 April 2026, kebijakan baru diberlakukan; TPA Suwung di Denpasar Selatan tidak lagi menerima sampah organik. Kebijakan ini bukan tanpa alasan. TPA Suwung selama bertahun-tahun telah menjadi simbol krisis sampah Bali Selatan. Gunungan sampah yang kian meninggi, bau yang menyengat, serta ancaman lingkungan yang terus membesar. Pemerintah kemudian mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah, organik dan anorganik. Daun, sisa makanan, banten atau canang, dan kertas dipisahkan dari plastik, kaca, dan bahan lain yang tidak mudah terurai.

Kebijakan ini, di atas kertas, tampak ideal. Ia menempatkan tanggung jawab pada individu, pada rumah tangga, pada unit terkecil masyarakat. Namun, seperti tulisan “diawasi CCTV” yang diabaikan, kebijakan ini juga menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks, yakni, manusia.

Dalam kajian antropologi, persoalan sampah tidak pernah sekadar soal benda yang dibuang. Ia adalah soal makna, kebiasaan, dan sistem nilai. Antropolog seperti Mary Douglas dalam bukunya Purity and Danger pernah mengatakan bahwa “dirt is matter out of place”, kotoran adalah sesuatu yang berada di tempat yang salah. Dengan kata lain, sampah bukan semata-mata objek, melainkan hasil dari cara manusia mengklasifikasikan dunia.

Di Bali, konsep kebersihan dan kekotoran memiliki dimensi yang lebih dalam, terkait dengan nilai-nilai religius dan kosmologis. Ada pembagian antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasatmata), antara yang suci dan yang profan. Dalam konteks ini, sisa upacara seperti banten atau canang tidak selalu dianggap sebagai “sampah” dalam pengertian modern. Ia adalah bagian dari siklus ritual, sesuatu yang pernah suci, lalu menjadi residu.

Masalah muncul ketika sistem nilai tradisional ini bertemu dengan modernitas; dengan plastik, konsumsi massal, dan urbanisasi. Jika dahulu sisa-sisa upacara mudah terurai, kini ia bercampur dengan bahan-bahan sintetis yang tidak dapat kembali ke tanah. Sampah tidak lagi sekadar “keluar dari tempatnya,” tetapi menjadi entitas yang menolak untuk hilang.

Di sinilah kota memainkan peran penting. Denpasar dan Badung bukan lagi ruang homogen. Ia adalah pertemuan berbagai latar belakang: penduduk lokal, pendatang dari berbagai daerah di Indonesia, serta ekspatriat dari berbagai negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di wilayah ini cukup tinggi, terutama akibat urbanisasi dan migrasi ekonomi. Heterogenitas ini membawa serta beragam cara pandang terhadap kebersihan, ruang publik, dan tanggung jawab sosial.

Dalam masyarakat yang relatif homogen, norma sosial cenderung lebih mudah ditegakkan melalui mekanisme informal, yakni teguran, rasa malu, atau sanksi adat. Namun, dalam masyarakat yang heterogen, mekanisme ini melemah. Orang tidak lagi merasa diawasi oleh komunitas yang sama. Identitas menjadi cair, relasi menjadi anonim. Dalam kondisi seperti ini, papan bertuliskan “diawasi CCTV” menjadi pengganti dari pengawasan sosial yang dulu hidup.

Namun, CCTV hanya merekam, bukan mendidik. Ia mengawasi, tetapi tidak membangun kesadaran. Ketika seseorang tetap membuang sampah di bawah kamera pengawas, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pelanggaran aturan. Kita sedang melihat kegagalan internalisasi nilai.

Beberapa laporan media lokal Bali dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalan sampah memang semakin mengkhawatirkan. Berita-berita di Bali Post dan Nusa Bali, misalnya, kerap mengangkat tentang meningkatnya volume sampah di Denpasar dan Badung, serta keterbatasan kapasitas TPA Suwung. Bahkan, pernah terjadi kebakaran di area TPA yang memperparah kondisi lingkungan. Di sisi lain, program-program seperti bank sampah dan pengelolaan berbasis desa adat mulai digalakkan, meski hasilnya belum merata.

Dalam perspektif antropologi perkotaan, apa yang terjadi di Denpasar dan Badung bisa dibaca sebagai gejala dari apa yang disebut sebagai urban anonymity, anonimitas kota. Ketika seseorang merasa tidak dikenal, tidak terikat, dan tidak diawasi oleh norma komunitas, maka kepatuhan terhadap aturan cenderung menurun. CCTV, dalam hal ini, adalah upaya untuk menggantikan mata sosial dengan mata teknologi.

Tetapi teknologi memiliki batasnya. Ia tidak bisa menggantikan rasa memiliki terhadap ruang. Ia tidak bisa menumbuhkan kesadaran bahwa jalan, lahan kosong, atau sudut kota adalah bagian dari diri kita bersama.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah benar persoalan ini semata-mata akibat pertumbuhan penduduk dan heterogenitas? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni perubahan cara kita memandang ruang dan tanggung jawab?

Kota modern sering kali menciptakan jarak antara manusia dan lingkungannya. Sampah yang kita buang “menghilang” begitu saja dari pandangan, diangkut oleh truk, dibawa ke TPA, dan menjadi urusan “orang lain.” Dalam logika ini, membuang sampah sembarangan bukan lagi tindakan yang memiliki konsekuensi langsung. Ia menjadi tindakan yang terlepas dari akibatnya.

Berbeda dengan masyarakat tradisional, di mana limbah yang dihasilkan langsung kembali ke lingkungan sekitar, sehingga dampaknya bisa dirasakan segera. Dalam konteks ini, kesadaran ekologis bukanlah hasil dari kampanye, melainkan bagian dari pengalaman sehari-hari.

Apa yang kita hadapi di Bali hari ini, terutama di Denpasar dan Badung, adalah benturan antara dua dunia: dunia lama yang berbasis komunitas dan siklus alam, serta dunia baru yang berbasis konsumsi dan anonimity. Sampah menjadi titik temu, atau mungkin titik konflik, dari keduanya.

Tulisan “diawasi CCTV” pada akhirnya adalah simbol dari kegelisahan kita sebagai masyarakat kota. Ia mencerminkan keinginan untuk mengontrol, untuk menertibkan, tetapi juga sekaligus pengakuan bahwa ada sesuatu yang tidak lagi bekerja, yakni, rasa malu, rasa memiliki, dan kesadaran kolektif.

Mungkin, solusi persoalan sampah tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi. Ia membutuhkan pendekatan yang lebih dalam, yang menyentuh cara kita memandang dunia, cara kita memahami hubungan antara diri dan lingkungan.

Dalam konteks Bali, pendekatan ini bisa berarti menghidupkan kembali nilai-nilai lokal tentang harmoni, Tri Hita Karana, misalnya, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Namun, nilai-nilai ini juga perlu diterjemahkan ulang dalam konteks modern, agar tidak berhenti sebagai slogan.

Sementara itu, pendidikan menjadi kunci. Bukan sekadar sosialisasi tentang memilah sampah, tetapi pendidikan yang membangun kesadaran kritis tentang konsumsi, tentang limbah, dan tentang tanggung jawab sebagai warga kota. Tanpa itu, CCTV hanya akan menjadi saksi bisu dari kebiasaan yang terus berulang. Pada akhirnya, sampah adalah cermin. Ia memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Ketika kita melihat tumpukan sampah di bawah papan “diawasi CCTV,” kita sebenarnya sedang melihat potret diri kita sendiri: antara tahu dan tidak peduli, antara aturan dan pelanggaran, antara kota yang ingin tertib dan manusia yang belum sepenuhnya siap. Dan mungkin, sebelum kita menambah jumlah kamera pengawas, kita perlu bertanya; sejauh mana kita benar-benar mengawasi diri kita sendiri? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: CCTVKotaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Next Post

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman ---Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co