17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV, Sampah, Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 11, 2026
in Esai
CCTV, Sampah, Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di beberapa sudut Kota Denpasar dan wilayah Kabupaten Badung, Bali, saya kerap menemukan tulisan yang sama, diulang dengan nada yang nyaris putus asa, “Tempat ini diawasi CCTV.” Sebuah kalimat pendek, dingin, dan mengandung ancaman yang samar. CCTV sendiri adalah singkatan dari Closed-Circuit Television, sebuah sistem kamera pengawas yang sinyalnya tidak disiarkan secara publik, melainkan terbatas pada jaringan tertentu. Ia dipasang untuk mengawasi, merekam. Dalam konteks ini, mencegah orang membuang sampah sembarangan.

Namun, yang menarik, justru di bawah papan peringatan itu, sering kali saya melihat tumpukan sampah, seperti kantong plastik hitam, sisa upacara, daun-daun kering, botol air mineral, dan berbagai residu kehidupan kota. Kamera boleh terpasang, peringatan boleh terpampang, tetapi sampah tetap hadir. Seolah-olah ada jarak yang tak terjembatani antara aturan dan perilaku.

Sejak 1 April 2026, kebijakan baru diberlakukan; TPA Suwung di Denpasar Selatan tidak lagi menerima sampah organik. Kebijakan ini bukan tanpa alasan. TPA Suwung selama bertahun-tahun telah menjadi simbol krisis sampah Bali Selatan. Gunungan sampah yang kian meninggi, bau yang menyengat, serta ancaman lingkungan yang terus membesar. Pemerintah kemudian mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah, organik dan anorganik. Daun, sisa makanan, banten atau canang, dan kertas dipisahkan dari plastik, kaca, dan bahan lain yang tidak mudah terurai.

Kebijakan ini, di atas kertas, tampak ideal. Ia menempatkan tanggung jawab pada individu, pada rumah tangga, pada unit terkecil masyarakat. Namun, seperti tulisan “diawasi CCTV” yang diabaikan, kebijakan ini juga menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks, yakni, manusia.

Dalam kajian antropologi, persoalan sampah tidak pernah sekadar soal benda yang dibuang. Ia adalah soal makna, kebiasaan, dan sistem nilai. Antropolog seperti Mary Douglas dalam bukunya Purity and Danger pernah mengatakan bahwa “dirt is matter out of place”, kotoran adalah sesuatu yang berada di tempat yang salah. Dengan kata lain, sampah bukan semata-mata objek, melainkan hasil dari cara manusia mengklasifikasikan dunia.

Di Bali, konsep kebersihan dan kekotoran memiliki dimensi yang lebih dalam, terkait dengan nilai-nilai religius dan kosmologis. Ada pembagian antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasatmata), antara yang suci dan yang profan. Dalam konteks ini, sisa upacara seperti banten atau canang tidak selalu dianggap sebagai “sampah” dalam pengertian modern. Ia adalah bagian dari siklus ritual, sesuatu yang pernah suci, lalu menjadi residu.

Masalah muncul ketika sistem nilai tradisional ini bertemu dengan modernitas; dengan plastik, konsumsi massal, dan urbanisasi. Jika dahulu sisa-sisa upacara mudah terurai, kini ia bercampur dengan bahan-bahan sintetis yang tidak dapat kembali ke tanah. Sampah tidak lagi sekadar “keluar dari tempatnya,” tetapi menjadi entitas yang menolak untuk hilang.

Di sinilah kota memainkan peran penting. Denpasar dan Badung bukan lagi ruang homogen. Ia adalah pertemuan berbagai latar belakang: penduduk lokal, pendatang dari berbagai daerah di Indonesia, serta ekspatriat dari berbagai negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di wilayah ini cukup tinggi, terutama akibat urbanisasi dan migrasi ekonomi. Heterogenitas ini membawa serta beragam cara pandang terhadap kebersihan, ruang publik, dan tanggung jawab sosial.

Dalam masyarakat yang relatif homogen, norma sosial cenderung lebih mudah ditegakkan melalui mekanisme informal, yakni teguran, rasa malu, atau sanksi adat. Namun, dalam masyarakat yang heterogen, mekanisme ini melemah. Orang tidak lagi merasa diawasi oleh komunitas yang sama. Identitas menjadi cair, relasi menjadi anonim. Dalam kondisi seperti ini, papan bertuliskan “diawasi CCTV” menjadi pengganti dari pengawasan sosial yang dulu hidup.

Namun, CCTV hanya merekam, bukan mendidik. Ia mengawasi, tetapi tidak membangun kesadaran. Ketika seseorang tetap membuang sampah di bawah kamera pengawas, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pelanggaran aturan. Kita sedang melihat kegagalan internalisasi nilai.

Beberapa laporan media lokal Bali dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalan sampah memang semakin mengkhawatirkan. Berita-berita di Bali Post dan Nusa Bali, misalnya, kerap mengangkat tentang meningkatnya volume sampah di Denpasar dan Badung, serta keterbatasan kapasitas TPA Suwung. Bahkan, pernah terjadi kebakaran di area TPA yang memperparah kondisi lingkungan. Di sisi lain, program-program seperti bank sampah dan pengelolaan berbasis desa adat mulai digalakkan, meski hasilnya belum merata.

Dalam perspektif antropologi perkotaan, apa yang terjadi di Denpasar dan Badung bisa dibaca sebagai gejala dari apa yang disebut sebagai urban anonymity, anonimitas kota. Ketika seseorang merasa tidak dikenal, tidak terikat, dan tidak diawasi oleh norma komunitas, maka kepatuhan terhadap aturan cenderung menurun. CCTV, dalam hal ini, adalah upaya untuk menggantikan mata sosial dengan mata teknologi.

Tetapi teknologi memiliki batasnya. Ia tidak bisa menggantikan rasa memiliki terhadap ruang. Ia tidak bisa menumbuhkan kesadaran bahwa jalan, lahan kosong, atau sudut kota adalah bagian dari diri kita bersama.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah benar persoalan ini semata-mata akibat pertumbuhan penduduk dan heterogenitas? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni perubahan cara kita memandang ruang dan tanggung jawab?

Kota modern sering kali menciptakan jarak antara manusia dan lingkungannya. Sampah yang kita buang “menghilang” begitu saja dari pandangan, diangkut oleh truk, dibawa ke TPA, dan menjadi urusan “orang lain.” Dalam logika ini, membuang sampah sembarangan bukan lagi tindakan yang memiliki konsekuensi langsung. Ia menjadi tindakan yang terlepas dari akibatnya.

Berbeda dengan masyarakat tradisional, di mana limbah yang dihasilkan langsung kembali ke lingkungan sekitar, sehingga dampaknya bisa dirasakan segera. Dalam konteks ini, kesadaran ekologis bukanlah hasil dari kampanye, melainkan bagian dari pengalaman sehari-hari.

Apa yang kita hadapi di Bali hari ini, terutama di Denpasar dan Badung, adalah benturan antara dua dunia: dunia lama yang berbasis komunitas dan siklus alam, serta dunia baru yang berbasis konsumsi dan anonimity. Sampah menjadi titik temu, atau mungkin titik konflik, dari keduanya.

Tulisan “diawasi CCTV” pada akhirnya adalah simbol dari kegelisahan kita sebagai masyarakat kota. Ia mencerminkan keinginan untuk mengontrol, untuk menertibkan, tetapi juga sekaligus pengakuan bahwa ada sesuatu yang tidak lagi bekerja, yakni, rasa malu, rasa memiliki, dan kesadaran kolektif.

Mungkin, solusi persoalan sampah tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi. Ia membutuhkan pendekatan yang lebih dalam, yang menyentuh cara kita memandang dunia, cara kita memahami hubungan antara diri dan lingkungan.

Dalam konteks Bali, pendekatan ini bisa berarti menghidupkan kembali nilai-nilai lokal tentang harmoni, Tri Hita Karana, misalnya, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Namun, nilai-nilai ini juga perlu diterjemahkan ulang dalam konteks modern, agar tidak berhenti sebagai slogan.

Sementara itu, pendidikan menjadi kunci. Bukan sekadar sosialisasi tentang memilah sampah, tetapi pendidikan yang membangun kesadaran kritis tentang konsumsi, tentang limbah, dan tentang tanggung jawab sebagai warga kota. Tanpa itu, CCTV hanya akan menjadi saksi bisu dari kebiasaan yang terus berulang. Pada akhirnya, sampah adalah cermin. Ia memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Ketika kita melihat tumpukan sampah di bawah papan “diawasi CCTV,” kita sebenarnya sedang melihat potret diri kita sendiri: antara tahu dan tidak peduli, antara aturan dan pelanggaran, antara kota yang ingin tertib dan manusia yang belum sepenuhnya siap. Dan mungkin, sebelum kita menambah jumlah kamera pengawas, kita perlu bertanya; sejauh mana kita benar-benar mengawasi diri kita sendiri? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: CCTVKotaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Next Post

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman ---Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co