2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CCTV, Sampah, Kota

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 11, 2026
in Esai
CCTV, Sampah, Kota

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di beberapa sudut Kota Denpasar dan wilayah Kabupaten Badung, Bali, saya kerap menemukan tulisan yang sama, diulang dengan nada yang nyaris putus asa, “Tempat ini diawasi CCTV.” Sebuah kalimat pendek, dingin, dan mengandung ancaman yang samar. CCTV sendiri adalah singkatan dari Closed-Circuit Television, sebuah sistem kamera pengawas yang sinyalnya tidak disiarkan secara publik, melainkan terbatas pada jaringan tertentu. Ia dipasang untuk mengawasi, merekam. Dalam konteks ini, mencegah orang membuang sampah sembarangan.

Namun, yang menarik, justru di bawah papan peringatan itu, sering kali saya melihat tumpukan sampah, seperti kantong plastik hitam, sisa upacara, daun-daun kering, botol air mineral, dan berbagai residu kehidupan kota. Kamera boleh terpasang, peringatan boleh terpampang, tetapi sampah tetap hadir. Seolah-olah ada jarak yang tak terjembatani antara aturan dan perilaku.

Sejak 1 April 2026, kebijakan baru diberlakukan; TPA Suwung di Denpasar Selatan tidak lagi menerima sampah organik. Kebijakan ini bukan tanpa alasan. TPA Suwung selama bertahun-tahun telah menjadi simbol krisis sampah Bali Selatan. Gunungan sampah yang kian meninggi, bau yang menyengat, serta ancaman lingkungan yang terus membesar. Pemerintah kemudian mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah, organik dan anorganik. Daun, sisa makanan, banten atau canang, dan kertas dipisahkan dari plastik, kaca, dan bahan lain yang tidak mudah terurai.

Kebijakan ini, di atas kertas, tampak ideal. Ia menempatkan tanggung jawab pada individu, pada rumah tangga, pada unit terkecil masyarakat. Namun, seperti tulisan “diawasi CCTV” yang diabaikan, kebijakan ini juga menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks, yakni, manusia.

Dalam kajian antropologi, persoalan sampah tidak pernah sekadar soal benda yang dibuang. Ia adalah soal makna, kebiasaan, dan sistem nilai. Antropolog seperti Mary Douglas dalam bukunya Purity and Danger pernah mengatakan bahwa “dirt is matter out of place”, kotoran adalah sesuatu yang berada di tempat yang salah. Dengan kata lain, sampah bukan semata-mata objek, melainkan hasil dari cara manusia mengklasifikasikan dunia.

Di Bali, konsep kebersihan dan kekotoran memiliki dimensi yang lebih dalam, terkait dengan nilai-nilai religius dan kosmologis. Ada pembagian antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasatmata), antara yang suci dan yang profan. Dalam konteks ini, sisa upacara seperti banten atau canang tidak selalu dianggap sebagai “sampah” dalam pengertian modern. Ia adalah bagian dari siklus ritual, sesuatu yang pernah suci, lalu menjadi residu.

Masalah muncul ketika sistem nilai tradisional ini bertemu dengan modernitas; dengan plastik, konsumsi massal, dan urbanisasi. Jika dahulu sisa-sisa upacara mudah terurai, kini ia bercampur dengan bahan-bahan sintetis yang tidak dapat kembali ke tanah. Sampah tidak lagi sekadar “keluar dari tempatnya,” tetapi menjadi entitas yang menolak untuk hilang.

Di sinilah kota memainkan peran penting. Denpasar dan Badung bukan lagi ruang homogen. Ia adalah pertemuan berbagai latar belakang: penduduk lokal, pendatang dari berbagai daerah di Indonesia, serta ekspatriat dari berbagai negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk di wilayah ini cukup tinggi, terutama akibat urbanisasi dan migrasi ekonomi. Heterogenitas ini membawa serta beragam cara pandang terhadap kebersihan, ruang publik, dan tanggung jawab sosial.

Dalam masyarakat yang relatif homogen, norma sosial cenderung lebih mudah ditegakkan melalui mekanisme informal, yakni teguran, rasa malu, atau sanksi adat. Namun, dalam masyarakat yang heterogen, mekanisme ini melemah. Orang tidak lagi merasa diawasi oleh komunitas yang sama. Identitas menjadi cair, relasi menjadi anonim. Dalam kondisi seperti ini, papan bertuliskan “diawasi CCTV” menjadi pengganti dari pengawasan sosial yang dulu hidup.

Namun, CCTV hanya merekam, bukan mendidik. Ia mengawasi, tetapi tidak membangun kesadaran. Ketika seseorang tetap membuang sampah di bawah kamera pengawas, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pelanggaran aturan. Kita sedang melihat kegagalan internalisasi nilai.

Beberapa laporan media lokal Bali dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalan sampah memang semakin mengkhawatirkan. Berita-berita di Bali Post dan Nusa Bali, misalnya, kerap mengangkat tentang meningkatnya volume sampah di Denpasar dan Badung, serta keterbatasan kapasitas TPA Suwung. Bahkan, pernah terjadi kebakaran di area TPA yang memperparah kondisi lingkungan. Di sisi lain, program-program seperti bank sampah dan pengelolaan berbasis desa adat mulai digalakkan, meski hasilnya belum merata.

Dalam perspektif antropologi perkotaan, apa yang terjadi di Denpasar dan Badung bisa dibaca sebagai gejala dari apa yang disebut sebagai urban anonymity, anonimitas kota. Ketika seseorang merasa tidak dikenal, tidak terikat, dan tidak diawasi oleh norma komunitas, maka kepatuhan terhadap aturan cenderung menurun. CCTV, dalam hal ini, adalah upaya untuk menggantikan mata sosial dengan mata teknologi.

Tetapi teknologi memiliki batasnya. Ia tidak bisa menggantikan rasa memiliki terhadap ruang. Ia tidak bisa menumbuhkan kesadaran bahwa jalan, lahan kosong, atau sudut kota adalah bagian dari diri kita bersama.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah benar persoalan ini semata-mata akibat pertumbuhan penduduk dan heterogenitas? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni perubahan cara kita memandang ruang dan tanggung jawab?

Kota modern sering kali menciptakan jarak antara manusia dan lingkungannya. Sampah yang kita buang “menghilang” begitu saja dari pandangan, diangkut oleh truk, dibawa ke TPA, dan menjadi urusan “orang lain.” Dalam logika ini, membuang sampah sembarangan bukan lagi tindakan yang memiliki konsekuensi langsung. Ia menjadi tindakan yang terlepas dari akibatnya.

Berbeda dengan masyarakat tradisional, di mana limbah yang dihasilkan langsung kembali ke lingkungan sekitar, sehingga dampaknya bisa dirasakan segera. Dalam konteks ini, kesadaran ekologis bukanlah hasil dari kampanye, melainkan bagian dari pengalaman sehari-hari.

Apa yang kita hadapi di Bali hari ini, terutama di Denpasar dan Badung, adalah benturan antara dua dunia: dunia lama yang berbasis komunitas dan siklus alam, serta dunia baru yang berbasis konsumsi dan anonimity. Sampah menjadi titik temu, atau mungkin titik konflik, dari keduanya.

Tulisan “diawasi CCTV” pada akhirnya adalah simbol dari kegelisahan kita sebagai masyarakat kota. Ia mencerminkan keinginan untuk mengontrol, untuk menertibkan, tetapi juga sekaligus pengakuan bahwa ada sesuatu yang tidak lagi bekerja, yakni, rasa malu, rasa memiliki, dan kesadaran kolektif.

Mungkin, solusi persoalan sampah tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi. Ia membutuhkan pendekatan yang lebih dalam, yang menyentuh cara kita memandang dunia, cara kita memahami hubungan antara diri dan lingkungan.

Dalam konteks Bali, pendekatan ini bisa berarti menghidupkan kembali nilai-nilai lokal tentang harmoni, Tri Hita Karana, misalnya, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Namun, nilai-nilai ini juga perlu diterjemahkan ulang dalam konteks modern, agar tidak berhenti sebagai slogan.

Sementara itu, pendidikan menjadi kunci. Bukan sekadar sosialisasi tentang memilah sampah, tetapi pendidikan yang membangun kesadaran kritis tentang konsumsi, tentang limbah, dan tentang tanggung jawab sebagai warga kota. Tanpa itu, CCTV hanya akan menjadi saksi bisu dari kebiasaan yang terus berulang. Pada akhirnya, sampah adalah cermin. Ia memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Ketika kita melihat tumpukan sampah di bawah papan “diawasi CCTV,” kita sebenarnya sedang melihat potret diri kita sendiri: antara tahu dan tidak peduli, antara aturan dan pelanggaran, antara kota yang ingin tertib dan manusia yang belum sepenuhnya siap. Dan mungkin, sebelum kita menambah jumlah kamera pengawas, kita perlu bertanya; sejauh mana kita benar-benar mengawasi diri kita sendiri? [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: CCTVKotaSampah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

Next Post

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman ---Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co