22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
in Panggung
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Jro Dalang Gede Sudarma saat mendalang di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan yang dulu jadi pusat keramaian desa kini kerap luput dari perhatian bahkan oleh warga di sekitarnya sendiri.

Di tengah situasi tersebut, upaya-upaya mendirikan panggung agar wayang tetap hidup tampaknya masih tetap ada. Salah satunya dalam Festival Wayang Bali Utara 2026 yang diselenggarakan Komunitas Lemah Tulis. Pada Kamis, 9 April 2026, sebagai rangkaian festival, tampil dengan penuh percaya diri wayang dari Desa Bungkulan, Buleleng, yang dimainkan Jro Dalang Gede Sudarma.

Jro Dalang Gede Sudarma telah menekuni dunia pewayangan selama 50 tahun. Ia merupakan generasi ketujuh dalam keluarganya. Sejak 1976 hingga sekarang, ia menyaksikan langsung perubahan zaman dari masa ketika wayang ditunggu, hingga kini mulai dilupakan.

“Bibit menjadi dalang itu nomor satu dari kelahiran,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi dalang tidak cukup hanya unjuk bakat saja, seorang dalang harus belajar memahami gending, wirama khas pewayangan, dan mendalami kekawin yang menjadi dasar cerita.

“Kalau sudah paham kekawin, baru belajar bicara wayang, bagaimana lagaknya, bagaimana jiwanya,” jelasnya. Ia menyebut, dalang yang benar-benar menjiwai bahkan bisa mencapai ketaksunan, yakni kekuatan spiritual yang membuat pertunjukan terasa hidup.

Penonton wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Namun, idealisme tersebut kini harus berhadapan dengan tuntutan zaman. Banyak pakem atau dharma pewayangan yang mulai dilonggarkan demi menyesuaikan dengan selera penonton. Ia mencontohkan tokoh Tualen yang dahulu tidak diperbolehkan berbicara erotis atau menyimpang.

“Ada beberapa pakem yang mulai disesuaikan, karena zaman tidak lagi memungkinkan kita bertahan sepenuhnya seperti dulu,” ujarnya. Baginya, perubahan itu beradaptasi agar wayang tetap bertahan.

Dari sisi ekonomi, dalang harus memutar otak untuk mengemas pertunjukan yang lebih kreatif. Sayangnya, minat masyarakat terhadap wayang terus menurun. Jika dulu penonton datang dari berbagai desa bahkan kota, kini kondisi berbalik.

“Sekarang, tetangga saja cuek jika ada pementasan wayang di dekatnya,” tuturnya.

Pementasan wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Di sisi lain, kondisi ini memberi ruang bagi dalang lebih leluasa mengulang cerita. Jika dulu satu lakon tidak berani diulang di desa lain karena penonton dari berbagai wilayah rela datang jauh-jauh untuk menonton. Kini hal itu menjadi biasa karena jangkauan penonton semakin terbatas.

Untuk tetap relevan, humor menjadi senjata utama. Dalang kini kerap menyisipkan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari gaya hidup remaja hingga beban ekonomi orang tua.

“Misalnya anak sekolah minta motor, kuliah minta mobil. Itu kita sindir lewat humor,” ujarnya. Pesan moral disampaikan secara ringan agar lebih mudah diterima penonton.

Yang membuat wayang tetap hidup ya ceritanya. Lakon yang dibawakan Jro Dalang Gede Sudarma di Festival Wayang Bali Utara 2026 adalah kisah Sang Kala Baka. Kisah ini bermula ketika para Pandawa bersama Dewi Kunti tengah menjalani masa pelarian dan penyamaran setelah lolos dari kebakaran Bale Sigala-gala. Mereka kemudian tinggal di rumah seorang warga di Desa Ekacakra dengan menyamar sebagai brahmana.

Suatu malam, mereka mendengar tangisan dari pemilik rumah. Setelah ditelusuri, desa tersebut ternyata berada dalam teror seorang raksasa kejam bernama Kala Baka. Raksasa itu membuat perjanjian dengan warga.

Setiap hari harus dikirimkan satu gerobak makanan lengkap yang ditarik dua ekor kerbau, serta satu orang manusia untuk dijadikan santapan. Jika tidak dipenuhi, seluruh desa akan dihancurkan,” ucapnya.

Hari itu, giliran keluarga yang menampung Pandawa yang harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya. Melihat kesedihan tersebut, Dewi Kunti yang penuh empati memutuskan untuk membantu. Ia memerintahkan Bima, putranya yang paling kuat, untuk menggantikan korban tersebut.

Meski sempat dikhawatirkan oleh Yudistira, keputusan itu tetap dijalankan sebagai bentuk balas budi kepada keluarga yang telah memberikan tempat berlindung.

Bima kemudian berangkat ke hutan tempat tinggal Kala Baka sambil membawa gerobak makanan. Namun alih-alih menyerahkan makanan itu, Bima justru memakannya sendiri dengan tenang.

”Tindakan ini membuat Kala Baka murka ketika melihat makanannya telah habis,’’ tuturnya.

Dalam upaya menjebak Kala Baka, Bima bersama Tualen dan Merdah menyamar sebagai bagian dari hidangan persembahan atau banten. Tualen yang bertubuh besar menyamar sebagai nasi tumpeng, Merdah sebagai telur, sementara Bima menyamar sebagai babi guling (kuliner istimewa dalam tradisi Bali).

Saat Kala Baka mendekat untuk menyantap hidangan tersebut, ia tidak menyadari bahwa makanan itu adalah jebakan. Tualen dan Merdah kemudian mulai menggoda dan mengejek sang raksasa dengan dialog jenaka, memancing tawa penonton.

Ketika Kala Baka lengah, Bima yang menyamar sebagai babi guling tiba-tiba bangkit dan langsung menyerangnya.

”Pertarungan pun terjadi hingga akhirnya raksasa itu berhasil dikalahkan,” tuturnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran (dharma) mampu mengalahkan (adharma) bahkan melalui cara-cara yang tak terduga, termasuk melalui penyamaran dan kecerdikan.

Blencong, salah satu sarana pementasan wayang yang diwarisi Jro Dalang Gede Sudarma dari leluhurnya

Bagi Jro Dalang Gede Sudarma, wayang sebenarnya tidak pernah kehabisan cerita. Yang mulai habis justru penontonnya. Persoalannya bukan lagi bagaimana memainkan lakon, tapi bagaimana membuat orang mau duduk dan menonton sampai selesai.

Setelah 50 tahun menjadi dalang, ia masih naik panggung, termasuk di festival. Namun suasananya tak lagi sama, dulu penonton berdesakan, sekarang yang longgar justru bangkunya. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: DalangFestival Wayang Bali Utarakomunitas lemah tuliswayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

CCTV, Sampah, Kota

Next Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co