17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
in Panggung
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Jro Dalang Gede Sudarma saat mendalang di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan yang dulu jadi pusat keramaian desa kini kerap luput dari perhatian bahkan oleh warga di sekitarnya sendiri.

Di tengah situasi tersebut, upaya-upaya mendirikan panggung agar wayang tetap hidup tampaknya masih tetap ada. Salah satunya dalam Festival Wayang Bali Utara 2026 yang diselenggarakan Komunitas Lemah Tulis. Pada Kamis, 9 April 2026, sebagai rangkaian festival, tampil dengan penuh percaya diri wayang dari Desa Bungkulan, Buleleng, yang dimainkan Jro Dalang Gede Sudarma.

Jro Dalang Gede Sudarma telah menekuni dunia pewayangan selama 50 tahun. Ia merupakan generasi ketujuh dalam keluarganya. Sejak 1976 hingga sekarang, ia menyaksikan langsung perubahan zaman dari masa ketika wayang ditunggu, hingga kini mulai dilupakan.

“Bibit menjadi dalang itu nomor satu dari kelahiran,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi dalang tidak cukup hanya unjuk bakat saja, seorang dalang harus belajar memahami gending, wirama khas pewayangan, dan mendalami kekawin yang menjadi dasar cerita.

“Kalau sudah paham kekawin, baru belajar bicara wayang, bagaimana lagaknya, bagaimana jiwanya,” jelasnya. Ia menyebut, dalang yang benar-benar menjiwai bahkan bisa mencapai ketaksunan, yakni kekuatan spiritual yang membuat pertunjukan terasa hidup.

Penonton wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Namun, idealisme tersebut kini harus berhadapan dengan tuntutan zaman. Banyak pakem atau dharma pewayangan yang mulai dilonggarkan demi menyesuaikan dengan selera penonton. Ia mencontohkan tokoh Tualen yang dahulu tidak diperbolehkan berbicara erotis atau menyimpang.

“Ada beberapa pakem yang mulai disesuaikan, karena zaman tidak lagi memungkinkan kita bertahan sepenuhnya seperti dulu,” ujarnya. Baginya, perubahan itu beradaptasi agar wayang tetap bertahan.

Dari sisi ekonomi, dalang harus memutar otak untuk mengemas pertunjukan yang lebih kreatif. Sayangnya, minat masyarakat terhadap wayang terus menurun. Jika dulu penonton datang dari berbagai desa bahkan kota, kini kondisi berbalik.

“Sekarang, tetangga saja cuek jika ada pementasan wayang di dekatnya,” tuturnya.

Pementasan wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Di sisi lain, kondisi ini memberi ruang bagi dalang lebih leluasa mengulang cerita. Jika dulu satu lakon tidak berani diulang di desa lain karena penonton dari berbagai wilayah rela datang jauh-jauh untuk menonton. Kini hal itu menjadi biasa karena jangkauan penonton semakin terbatas.

Untuk tetap relevan, humor menjadi senjata utama. Dalang kini kerap menyisipkan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari gaya hidup remaja hingga beban ekonomi orang tua.

“Misalnya anak sekolah minta motor, kuliah minta mobil. Itu kita sindir lewat humor,” ujarnya. Pesan moral disampaikan secara ringan agar lebih mudah diterima penonton.

Yang membuat wayang tetap hidup ya ceritanya. Lakon yang dibawakan Jro Dalang Gede Sudarma di Festival Wayang Bali Utara 2026 adalah kisah Sang Kala Baka. Kisah ini bermula ketika para Pandawa bersama Dewi Kunti tengah menjalani masa pelarian dan penyamaran setelah lolos dari kebakaran Bale Sigala-gala. Mereka kemudian tinggal di rumah seorang warga di Desa Ekacakra dengan menyamar sebagai brahmana.

Suatu malam, mereka mendengar tangisan dari pemilik rumah. Setelah ditelusuri, desa tersebut ternyata berada dalam teror seorang raksasa kejam bernama Kala Baka. Raksasa itu membuat perjanjian dengan warga.

Setiap hari harus dikirimkan satu gerobak makanan lengkap yang ditarik dua ekor kerbau, serta satu orang manusia untuk dijadikan santapan. Jika tidak dipenuhi, seluruh desa akan dihancurkan,” ucapnya.

Hari itu, giliran keluarga yang menampung Pandawa yang harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya. Melihat kesedihan tersebut, Dewi Kunti yang penuh empati memutuskan untuk membantu. Ia memerintahkan Bima, putranya yang paling kuat, untuk menggantikan korban tersebut.

Meski sempat dikhawatirkan oleh Yudistira, keputusan itu tetap dijalankan sebagai bentuk balas budi kepada keluarga yang telah memberikan tempat berlindung.

Bima kemudian berangkat ke hutan tempat tinggal Kala Baka sambil membawa gerobak makanan. Namun alih-alih menyerahkan makanan itu, Bima justru memakannya sendiri dengan tenang.

”Tindakan ini membuat Kala Baka murka ketika melihat makanannya telah habis,’’ tuturnya.

Dalam upaya menjebak Kala Baka, Bima bersama Tualen dan Merdah menyamar sebagai bagian dari hidangan persembahan atau banten. Tualen yang bertubuh besar menyamar sebagai nasi tumpeng, Merdah sebagai telur, sementara Bima menyamar sebagai babi guling (kuliner istimewa dalam tradisi Bali).

Saat Kala Baka mendekat untuk menyantap hidangan tersebut, ia tidak menyadari bahwa makanan itu adalah jebakan. Tualen dan Merdah kemudian mulai menggoda dan mengejek sang raksasa dengan dialog jenaka, memancing tawa penonton.

Ketika Kala Baka lengah, Bima yang menyamar sebagai babi guling tiba-tiba bangkit dan langsung menyerangnya.

”Pertarungan pun terjadi hingga akhirnya raksasa itu berhasil dikalahkan,” tuturnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran (dharma) mampu mengalahkan (adharma) bahkan melalui cara-cara yang tak terduga, termasuk melalui penyamaran dan kecerdikan.

Blencong, salah satu sarana pementasan wayang yang diwarisi Jro Dalang Gede Sudarma dari leluhurnya

Bagi Jro Dalang Gede Sudarma, wayang sebenarnya tidak pernah kehabisan cerita. Yang mulai habis justru penontonnya. Persoalannya bukan lagi bagaimana memainkan lakon, tapi bagaimana membuat orang mau duduk dan menonton sampai selesai.

Setelah 50 tahun menjadi dalang, ia masih naik panggung, termasuk di festival. Namun suasananya tak lagi sama, dulu penonton berdesakan, sekarang yang longgar justru bangkunya. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: DalangFestival Wayang Bali Utarakomunitas lemah tuliswayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

CCTV, Sampah, Kota

Next Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails
Next Post
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co