8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
in Panggung
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Jro Dalang Gede Sudarma saat mendalang di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan yang dulu jadi pusat keramaian desa kini kerap luput dari perhatian bahkan oleh warga di sekitarnya sendiri.

Di tengah situasi tersebut, upaya-upaya mendirikan panggung agar wayang tetap hidup tampaknya masih tetap ada. Salah satunya dalam Festival Wayang Bali Utara 2026 yang diselenggarakan Komunitas Lemah Tulis. Pada Kamis, 9 April 2026, sebagai rangkaian festival, tampil dengan penuh percaya diri wayang dari Desa Bungkulan, Buleleng, yang dimainkan Jro Dalang Gede Sudarma.

Jro Dalang Gede Sudarma telah menekuni dunia pewayangan selama 50 tahun. Ia merupakan generasi ketujuh dalam keluarganya. Sejak 1976 hingga sekarang, ia menyaksikan langsung perubahan zaman dari masa ketika wayang ditunggu, hingga kini mulai dilupakan.

“Bibit menjadi dalang itu nomor satu dari kelahiran,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi dalang tidak cukup hanya unjuk bakat saja, seorang dalang harus belajar memahami gending, wirama khas pewayangan, dan mendalami kekawin yang menjadi dasar cerita.

“Kalau sudah paham kekawin, baru belajar bicara wayang, bagaimana lagaknya, bagaimana jiwanya,” jelasnya. Ia menyebut, dalang yang benar-benar menjiwai bahkan bisa mencapai ketaksunan, yakni kekuatan spiritual yang membuat pertunjukan terasa hidup.

Penonton wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Namun, idealisme tersebut kini harus berhadapan dengan tuntutan zaman. Banyak pakem atau dharma pewayangan yang mulai dilonggarkan demi menyesuaikan dengan selera penonton. Ia mencontohkan tokoh Tualen yang dahulu tidak diperbolehkan berbicara erotis atau menyimpang.

“Ada beberapa pakem yang mulai disesuaikan, karena zaman tidak lagi memungkinkan kita bertahan sepenuhnya seperti dulu,” ujarnya. Baginya, perubahan itu beradaptasi agar wayang tetap bertahan.

Dari sisi ekonomi, dalang harus memutar otak untuk mengemas pertunjukan yang lebih kreatif. Sayangnya, minat masyarakat terhadap wayang terus menurun. Jika dulu penonton datang dari berbagai desa bahkan kota, kini kondisi berbalik.

“Sekarang, tetangga saja cuek jika ada pementasan wayang di dekatnya,” tuturnya.

Pementasan wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Di sisi lain, kondisi ini memberi ruang bagi dalang lebih leluasa mengulang cerita. Jika dulu satu lakon tidak berani diulang di desa lain karena penonton dari berbagai wilayah rela datang jauh-jauh untuk menonton. Kini hal itu menjadi biasa karena jangkauan penonton semakin terbatas.

Untuk tetap relevan, humor menjadi senjata utama. Dalang kini kerap menyisipkan kritik sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari gaya hidup remaja hingga beban ekonomi orang tua.

“Misalnya anak sekolah minta motor, kuliah minta mobil. Itu kita sindir lewat humor,” ujarnya. Pesan moral disampaikan secara ringan agar lebih mudah diterima penonton.

Yang membuat wayang tetap hidup ya ceritanya. Lakon yang dibawakan Jro Dalang Gede Sudarma di Festival Wayang Bali Utara 2026 adalah kisah Sang Kala Baka. Kisah ini bermula ketika para Pandawa bersama Dewi Kunti tengah menjalani masa pelarian dan penyamaran setelah lolos dari kebakaran Bale Sigala-gala. Mereka kemudian tinggal di rumah seorang warga di Desa Ekacakra dengan menyamar sebagai brahmana.

Suatu malam, mereka mendengar tangisan dari pemilik rumah. Setelah ditelusuri, desa tersebut ternyata berada dalam teror seorang raksasa kejam bernama Kala Baka. Raksasa itu membuat perjanjian dengan warga.

Setiap hari harus dikirimkan satu gerobak makanan lengkap yang ditarik dua ekor kerbau, serta satu orang manusia untuk dijadikan santapan. Jika tidak dipenuhi, seluruh desa akan dihancurkan,” ucapnya.

Hari itu, giliran keluarga yang menampung Pandawa yang harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya. Melihat kesedihan tersebut, Dewi Kunti yang penuh empati memutuskan untuk membantu. Ia memerintahkan Bima, putranya yang paling kuat, untuk menggantikan korban tersebut.

Meski sempat dikhawatirkan oleh Yudistira, keputusan itu tetap dijalankan sebagai bentuk balas budi kepada keluarga yang telah memberikan tempat berlindung.

Bima kemudian berangkat ke hutan tempat tinggal Kala Baka sambil membawa gerobak makanan. Namun alih-alih menyerahkan makanan itu, Bima justru memakannya sendiri dengan tenang.

”Tindakan ini membuat Kala Baka murka ketika melihat makanannya telah habis,’’ tuturnya.

Dalam upaya menjebak Kala Baka, Bima bersama Tualen dan Merdah menyamar sebagai bagian dari hidangan persembahan atau banten. Tualen yang bertubuh besar menyamar sebagai nasi tumpeng, Merdah sebagai telur, sementara Bima menyamar sebagai babi guling (kuliner istimewa dalam tradisi Bali).

Saat Kala Baka mendekat untuk menyantap hidangan tersebut, ia tidak menyadari bahwa makanan itu adalah jebakan. Tualen dan Merdah kemudian mulai menggoda dan mengejek sang raksasa dengan dialog jenaka, memancing tawa penonton.

Ketika Kala Baka lengah, Bima yang menyamar sebagai babi guling tiba-tiba bangkit dan langsung menyerangnya.

”Pertarungan pun terjadi hingga akhirnya raksasa itu berhasil dikalahkan,” tuturnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran (dharma) mampu mengalahkan (adharma) bahkan melalui cara-cara yang tak terduga, termasuk melalui penyamaran dan kecerdikan.

Blencong, salah satu sarana pementasan wayang yang diwarisi Jro Dalang Gede Sudarma dari leluhurnya

Bagi Jro Dalang Gede Sudarma, wayang sebenarnya tidak pernah kehabisan cerita. Yang mulai habis justru penontonnya. Persoalannya bukan lagi bagaimana memainkan lakon, tapi bagaimana membuat orang mau duduk dan menonton sampai selesai.

Setelah 50 tahun menjadi dalang, ia masih naik panggung, termasuk di festival. Namun suasananya tak lagi sama, dulu penonton berdesakan, sekarang yang longgar justru bangkunya. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: DalangFestival Wayang Bali Utarakomunitas lemah tuliswayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

CCTV, Sampah, Kota

Next Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails
Next Post
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co