26 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
in Panggung
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Para narasumber dalam diskui museum dan wayang di Festival Wayang Bali Utara 2026

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus hidup. Festival Wayang Bali Utara yang diinisiasi Yayasan Lemah Tulis menjadi momentum untuk menata kembali peran museum sebagai pusat kebudayaan, pendidikan, sekaligus ruang kreativitas lintas generasi.

Berdiri di kawasan bekas Pelabuhan Buleleng—yang dahulu menjadi simpul perdagangan dan pemerintahan pada masa kolonial—museum ini memikul sejarah panjang. Dermaga yang dulu disinggahi kapal-kapal pembawa rempah, kain, dan kisah dari berbagai penjuru Nusantara kini tak lagi berdenyut secara ekonomi, melainkan secara kultural. Museum Soenda Ketjil menjelma sebagai ruang yang menghidupkan kembali ingatan kolektif. Singaraja sendiri pernah menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil, wilayah administratif awal Indonesia yang mencakup Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang tafsir yang mempertemukan masa lalu dengan kebutuhan zaman kini.

Hal-hal semacam itulah yang dibincangkan dalam diskusi tentang museum dan wayang dalam Festival Wayang Bali Utara, Jumat siang, 10 April 2026.

Dalam diskusi itu Drs. Nyoman Wisandika, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng, menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai peninggalan mati; ia harus terus hidup melalui praktik tradisi. Wayang, menurutnya, bukan hanya hiburan, melainkan medium yang menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Dalam gerak tokoh dan dialog punakawan, terkandung pesan moral tentang kebijaksanaan, keseimbangan, dan kemanusiaan. Karena itu, museum seharusnya menjadi ruang yang memungkinkan tradisi tetap bernapas, bukan sekadar etalase benda-benda bisu. Program Museum Masuk Sekolah (MMS) menjadi salah satu langkah strategis: museum tidak lagi pasif menunggu pengunjung, tetapi aktif hadir di ruang kelas, mempertemukan siswa dengan sejarah melalui pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini, museum berubah menjadi ruang belajar yang hidup, bukan sekadar tempat mengenang.

Ida Bagus Gde Surya Bharata, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Buleleng, memperluas pemahaman tentang wayang. Ia melihat wayang sebagai tontonan, tatanan, sekaligus tuntunan. Di dalam kisah-kisah seperti Ramayana dan Mahabharata, tersimpan nilai-nilai pembentuk karakter—keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Wayang menjadi cermin kehidupan yang membantu manusia memahami dirinya dan relasinya dengan orang lain.

Di Singaraja, tradisi wayang berkembang dalam beragam bentuk, mulai dari Wayang Wong Tejakula yang sakral hingga Wayang Kulit Pemaron yang lebih kreatif. Kekayaan ini, menurut Surya Bharata, harus dipandang sebagai warisan yang hidup. Wayang dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang menyenangkan, sekaligus relevan dengan dunia generasi muda. Ia bisa hadir tidak hanya di panggung tradisional, tetapi juga di ruang kelas dan media digital, menjembatani masa lalu dengan masa kini.

Dalam konteks ini, museum dan wayang saling melengkapi. Museum menghadirkan artefak sebagai jejak sejarah, sementara wayang menghidupkannya melalui cerita dan pertunjukan. Keduanya menjadi ruang belajar yang kontekstual, di mana sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan dihidupi. Wayang, sebagai tontonan, tatanan, dan tuntunan, menjadi penghubung antara museum dan generasi muda, menjadikan kebudayaan sebagai pengalaman yang membentuk identitas.

Prof. Dr. I Made Pageh mengingatkan bahwa Museum Soenda Ketjil lahir dari konteks sejarah penting Singaraja sebagai pusat administrasi dan interaksi lintas wilayah. Namun, ia menegaskan bahwa museum tidak boleh berhenti sebagai ruang masa lalu yang membeku. Museum harus menjadi ruang regenerasi—tempat lahirnya tafsir baru, tempat generasi muda menemukan akar sekaligus mengembangkan cabang kebudayaan yang relevan dengan zamannya. Dalam pandangannya, museum adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, sementara wayang menjadi contoh konkret bagaimana tradisi dapat terus hidup dan beradaptasi.

Dengan demikian, museum seharusnya menghadirkan pengalaman, bukan sekadar koleksi. Ia perlu menjadi ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat merasakan sejarah sebagai sesuatu yang hidup. Regenerasi budaya hanya akan terjadi jika museum berani keluar dari pola lama dan membuka diri terhadap tafsir baru, termasuk dengan menjadikan wayang sebagai medium yang kontekstual.

Made Adnyana Ole, pendiri Mahima Institute, menggarisbawahi bahwa museum kerap dipandang sebagai “ingatan yang dibekukan”. Ia mengkritik kecenderungan museum yang terjebak dalam fungsi penyimpanan, tanpa menghidupkan pengetahuan di dalamnya. Akibatnya, masyarakat sering terjebak dalam nostalgia dan kesulitan menghubungkan warisan budaya dengan realitas masa kini. Ia juga menyoroti bahwa wayang masih dominan hadir dalam konteks ritual, belum sepenuhnya masuk ke ranah ekonomi kreatif.

Ole menawarkan gagasan “alih wahana karakter”, yakni mentransformasikan nilai-nilai wayang ke dalam medium modern seperti film pendek, animasi, festival kreatif, desain kaus, hingga konten media sosial. Dengan cara ini, wayang tidak hanya bertahan sebagai peninggalan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang hidup dan relevan. Museum dan wayang, menurutnya, harus bergerak sebagai ruang pengetahuan yang dinamis: museum tidak hanya menyimpan, tetapi mengajarkan; wayang tidak hanya dipentaskan, tetapi juga ditafsirkan ulang.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul tidak sederhana. Setelah festival usai, apakah Museum Soenda Ketjil akan kembali sunyi, sekadar menjadi latar dokumentasi, atau benar-benar berfungsi sebagai laboratorium budaya? Apakah wayang akan terus dipuja sebagai pusaka yang jauh dari kehidupan sehari-hari, atau dihidupkan kembali sebagai energi kreatif yang membentuk masa depan?

Yang pasti, kepedulian terhadap kebudayaan tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus hadir dalam tindakan nyata—dalam keberanian menafsir ulang, menghidupkan kembali, dan menjadikan warisan budaya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak. [T]

Tags: Festival Wayang Bali UtaraMuseum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
0
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

Read moreDetails

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
0
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

Read moreDetails

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk Pesta Kesenian Bali 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buzzer Rakyat
Esai

Buzzer Rakyat

DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring,...

by Hartanto
May 25, 2026
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah
Tualang

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

by Chusmeru
May 25, 2026
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh
Panggung

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

by Made Chandra
May 25, 2026
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
Perokok Bertanggung Jawab
Esai

Perokok Bertanggung Jawab

Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di...

by Angga Wijaya
May 25, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pesta Babi: Membuka Hutan, Menutup Layar

DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
May 25, 2026
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen
Khas

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

by Salman Alade
May 24, 2026
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito
Cerpen

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co