6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
in Panggung
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Para narasumber dalam diskui museum dan wayang di Festival Wayang Bali Utara 2026

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus hidup. Festival Wayang Bali Utara yang diinisiasi Yayasan Lemah Tulis menjadi momentum untuk menata kembali peran museum sebagai pusat kebudayaan, pendidikan, sekaligus ruang kreativitas lintas generasi.

Berdiri di kawasan bekas Pelabuhan Buleleng—yang dahulu menjadi simpul perdagangan dan pemerintahan pada masa kolonial—museum ini memikul sejarah panjang. Dermaga yang dulu disinggahi kapal-kapal pembawa rempah, kain, dan kisah dari berbagai penjuru Nusantara kini tak lagi berdenyut secara ekonomi, melainkan secara kultural. Museum Soenda Ketjil menjelma sebagai ruang yang menghidupkan kembali ingatan kolektif. Singaraja sendiri pernah menjadi ibu kota Provinsi Sunda Kecil, wilayah administratif awal Indonesia yang mencakup Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, museum ini bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, tetapi juga ruang tafsir yang mempertemukan masa lalu dengan kebutuhan zaman kini.

Hal-hal semacam itulah yang dibincangkan dalam diskusi tentang museum dan wayang dalam Festival Wayang Bali Utara, Jumat siang, 10 April 2026.

Dalam diskusi itu Drs. Nyoman Wisandika, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng, menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai peninggalan mati; ia harus terus hidup melalui praktik tradisi. Wayang, menurutnya, bukan hanya hiburan, melainkan medium yang menyampaikan nilai-nilai kehidupan. Dalam gerak tokoh dan dialog punakawan, terkandung pesan moral tentang kebijaksanaan, keseimbangan, dan kemanusiaan. Karena itu, museum seharusnya menjadi ruang yang memungkinkan tradisi tetap bernapas, bukan sekadar etalase benda-benda bisu. Program Museum Masuk Sekolah (MMS) menjadi salah satu langkah strategis: museum tidak lagi pasif menunggu pengunjung, tetapi aktif hadir di ruang kelas, mempertemukan siswa dengan sejarah melalui pengalaman langsung. Dengan pendekatan ini, museum berubah menjadi ruang belajar yang hidup, bukan sekadar tempat mengenang.

Ida Bagus Gde Surya Bharata, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Buleleng, memperluas pemahaman tentang wayang. Ia melihat wayang sebagai tontonan, tatanan, sekaligus tuntunan. Di dalam kisah-kisah seperti Ramayana dan Mahabharata, tersimpan nilai-nilai pembentuk karakter—keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Wayang menjadi cermin kehidupan yang membantu manusia memahami dirinya dan relasinya dengan orang lain.

Di Singaraja, tradisi wayang berkembang dalam beragam bentuk, mulai dari Wayang Wong Tejakula yang sakral hingga Wayang Kulit Pemaron yang lebih kreatif. Kekayaan ini, menurut Surya Bharata, harus dipandang sebagai warisan yang hidup. Wayang dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang menyenangkan, sekaligus relevan dengan dunia generasi muda. Ia bisa hadir tidak hanya di panggung tradisional, tetapi juga di ruang kelas dan media digital, menjembatani masa lalu dengan masa kini.

Dalam konteks ini, museum dan wayang saling melengkapi. Museum menghadirkan artefak sebagai jejak sejarah, sementara wayang menghidupkannya melalui cerita dan pertunjukan. Keduanya menjadi ruang belajar yang kontekstual, di mana sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan dihidupi. Wayang, sebagai tontonan, tatanan, dan tuntunan, menjadi penghubung antara museum dan generasi muda, menjadikan kebudayaan sebagai pengalaman yang membentuk identitas.

Prof. Dr. I Made Pageh mengingatkan bahwa Museum Soenda Ketjil lahir dari konteks sejarah penting Singaraja sebagai pusat administrasi dan interaksi lintas wilayah. Namun, ia menegaskan bahwa museum tidak boleh berhenti sebagai ruang masa lalu yang membeku. Museum harus menjadi ruang regenerasi—tempat lahirnya tafsir baru, tempat generasi muda menemukan akar sekaligus mengembangkan cabang kebudayaan yang relevan dengan zamannya. Dalam pandangannya, museum adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, sementara wayang menjadi contoh konkret bagaimana tradisi dapat terus hidup dan beradaptasi.

Dengan demikian, museum seharusnya menghadirkan pengalaman, bukan sekadar koleksi. Ia perlu menjadi ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat merasakan sejarah sebagai sesuatu yang hidup. Regenerasi budaya hanya akan terjadi jika museum berani keluar dari pola lama dan membuka diri terhadap tafsir baru, termasuk dengan menjadikan wayang sebagai medium yang kontekstual.

Made Adnyana Ole, pendiri Mahima Institute, menggarisbawahi bahwa museum kerap dipandang sebagai “ingatan yang dibekukan”. Ia mengkritik kecenderungan museum yang terjebak dalam fungsi penyimpanan, tanpa menghidupkan pengetahuan di dalamnya. Akibatnya, masyarakat sering terjebak dalam nostalgia dan kesulitan menghubungkan warisan budaya dengan realitas masa kini. Ia juga menyoroti bahwa wayang masih dominan hadir dalam konteks ritual, belum sepenuhnya masuk ke ranah ekonomi kreatif.

Ole menawarkan gagasan “alih wahana karakter”, yakni mentransformasikan nilai-nilai wayang ke dalam medium modern seperti film pendek, animasi, festival kreatif, desain kaus, hingga konten media sosial. Dengan cara ini, wayang tidak hanya bertahan sebagai peninggalan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang hidup dan relevan. Museum dan wayang, menurutnya, harus bergerak sebagai ruang pengetahuan yang dinamis: museum tidak hanya menyimpan, tetapi mengajarkan; wayang tidak hanya dipentaskan, tetapi juga ditafsirkan ulang.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul tidak sederhana. Setelah festival usai, apakah Museum Soenda Ketjil akan kembali sunyi, sekadar menjadi latar dokumentasi, atau benar-benar berfungsi sebagai laboratorium budaya? Apakah wayang akan terus dipuja sebagai pusaka yang jauh dari kehidupan sehari-hari, atau dihidupkan kembali sebagai energi kreatif yang membentuk masa depan?

Yang pasti, kepedulian terhadap kebudayaan tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus hadir dalam tindakan nyata—dalam keberanian menafsir ulang, menghidupkan kembali, dan menjadikan warisan budaya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak. [T]

Tags: Festival Wayang Bali UtaraMuseum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
0
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

Read moreDetails

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
0
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

Read moreDetails

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
0
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

Read moreDetails

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co