17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 12, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus ganjil ketika kita mendengar istilah “Koperasi Merah Putih.” Akrab, karena kata “koperasi” dan “merah putih” adalah dua hal yang secara historis melekat dalam identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Ganjil dan terasa agak gimana gitu, karena di tengah realitas ekonomi yang semakin kapitalistik ini, tiba-tiba muncul kembali sebuah gagasan yang terdengar sangat “Indonesia sekali”, seolah kita sedang diajak pulang ke rumah lama yang pernah kita tinggalkan. Malah jadi kepikiran apakah Koperasi Merah Putih ini sebenarnya nostalgia, strategi ekonomi jitu, atau justru sebuah eksperimen besar.

Antara Solidaritas dan Efisiensi

Koperasi, dalam bayangan idealnya, bukan sekadar badan usaha. Ia adalah perwujudan dari satu gagasan besar dimana ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga keadilan. Dalam bahasa yang lebih filosofis, koperasi adalah upaya untuk mendamaikan dua kutub yang sering bertentangan yaitu kutub efisiensi dan dan kutub solidaritas di sisi yang lain.

Sejak awal, para pendiri bangsa sudah menyadari bahwa Indonesia bukanlah masyarakat yang dibangun di atas individualisme ekstrem. Kita tumbuh dari tradisi gotong royong, dari kebiasaan berbagi beban, dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa dijalani sendirian. Dan itulah jiwa dari dasar negara kita Pancasila.

 Jadi sebenarnya dalam konteks tersebut, koperasi bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan salahsatu dari refleksi budaya kita.  Namun, sejarah koperasi tidak selalu berjalan sesuai dengan niat awal.

Ketika Ruh Koperasi Menghilang

Dalam praktiknya, koperasi di Indonesia sering kali kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi lembaga administratif, sekadar formalitas, atau bahkan dalam beberapa kasus, koperasi dijadikan alat untuk kepentingan segelintir orang. Apa yang seharusnya menjadi milik bersama, perlahan bergeser menjadi milik pengurus. Apa yang seharusnya transparan, justru menjadi gelap.

Sekarang ini, muncul kembali gagasan “Koperasi Merah Putih” dan pula dengan ambisi yang tidak kecil. Dengan target perputaran dana ratusan juta rupiah per bulan tiap unit perdesanya dan laba puluhan juta, koperasi ini tidak bisa lagi dibayangkan sebagai usaha kecil-kecilan.

Ia diproyeksikan menjadi mesin ekonomi desa, bahkan mungkin tulang punggung ekonomi lokal. Di atas kertas, hitung-hitungannya ini terdengar menjanjikan. Tapi dari pengalaman, kita tahu sama tahu saja, realitas yang terjadi jarang yang semulus proposal awal.

Mari kita mulai dari fakta paling mendasar saja, kita tahu bahwa tidak semua desa memiliki kapasitas ekonomi yang sama. Ada banyak desa yang hidup dari pertanian subsisten, dengan perputaran uang yang terbatas. Tapi memang ada pula desa yang mulai terhubung dengan pasar yang lebih luas, memiliki akses distribusi, bahkan sudah mengenal ekonomi digital.

Namun memaksakan satu model koperasi dengan target yang seragam untuk semua desa adalah seperti memaksa semua orang memakai ukuran sepatu yang sama. Secara teoritis mungkin rapi, tetapi dalam praktiknya, banyak yang yakin nantinya akan terasa menyakitkan. Sepertinya benar juga jika masalah terbesar dalam kebijakan publik bukanlah kurangnya ide, melainkan adanya kecenderungan untuk mengabaikan konteks.

Ketika kebijakan dibuat dari atas, sering kali ia kehilangan sensitivitas terhadap realitas di bawah. Dalam konteks koperasi, ini menjadi sangat krusial. Karena koperasi bukan hanya soal modal, tetapi soal partisipasi. Tanpa partisipasi aktif anggota, koperasi hanyalah bangunan kosong. Dan bangunan yang akan dibuat ini, targetnya total secara nasional akan ada 81 ribu unit koperasi desa atau kelurahan. Kalau soal membangun gedungnya, pasti relatif tak ada masalah.

Namun di sisi lain, ada persoalan yang lebih substantif tetapi jauh lebih berbahaya yaitu soal kapasitas pengelolanya.  Bagaimanapun, mengelola koperasi dengan perputaran dana ratusan juta rupiah bukan perkara sederhana. Ini bukan lagi soal semangat gotong royong, tetapi juga soal manajemen risiko, akuntabilitas, dan tata kelola keuangan yang profesional.

Tanpa pelatihan yang memadai, tanpa sistem pengawasan yang ketat, koperasi dengan modal besar justru berpotensi menjadi ladang baru bagi penyimpangan dan penyelewengan.  Sejarah ekonomi yang sama-sama kita alami dan saksikan sudah cukup memberi pelajaran, bahwa di mana ada uang besar tanpa sistem yang kuat, di situ selalu ada godaan.

Robert A. Caro, seorang sejarawan dan penulis biografi politik Amerika, pernah mengatakan, “Kekuasaan tidak selalu merusak. Kekuasaan bisa membersihkan. Yang selalu benar tentang kekuasaan adalah bahwa kekuasaan selalu mengungkapkan siapa seseorang sebenarnya”.Dalam konteks koperasi, “kekuasaan” itu bisa berupa akses terhadap dana, keputusan investasi, atau kontrol atas informasi.

Tanpa transparansi, koperasi bisa berubah dari alat pemberdayaan menjadi alat dominasi. Nah, siapa yang berkuasa di sini akan diuji nantinya.  Ya wajar, jika sampai di sini kekhawatiran publik menjadi masuk akal.

Antara Kebijakan dan Kepentingan

Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika politik di balik segala macam program-program besar. Dalam banyak kasus, kebijakan ekonomi sering kali tidak sepenuhnya netral. Ia bisa menjadi alat distribusi kekuasaan, bahkan instrumen untuk membangun loyalitas politik.

Ketika sebuah program membawa nama besar seperti “Merah Putih,” ada dua kemungkinan. Pertama, memang benar-benar berangkat dari niat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam ekonomi. Kedua, hanya menggunakan simbol kebangsaan sebagai legitimasi untuk sesuatu yang lebih pragmatis.

Di titik ini, bukan bemaksud bagaimana-bagaimana, namun kita tetap perlu bersikap jernih, bukan sinis, tetapi juga tidak naif. Karena simbol, sekuat apa pun, tidak pernah cukup.  Merah, dalam makna filosofisnya, melambangkan keberanian, yaitu keberanian untuk berkorban, untuk berjuang, untuk mengambil risiko demi kepentingan bersama. Sementara putih melambangkan kesucian kejujuran, ketulusan, dan integritas.  Jika dua nilai ini benar-benar hidup dalam koperasi, maka kita tidak perlu terlalu khawatir.

Koperasi akan tumbuh, mungkin tidak selalu cepat, tetapi pastinya akan berakar kuat.  Namun jika yang terjadi nanti adalah yang sebaliknya, di mana merah hanya menjadi semangat retorika tanpa keberanian moral, dan putih hanya menjadi simbol belaka tanpa kejujuran, ya sudah, yang tersisa hanyalah warna, bukan nilai yang punya makna yang dalam dan berwibawa. Dan merah putih tanpa nilai, mudah sekali berubah menjadi abu-abu. Atau lebih buruk, belang. 

Di tengah semua ini, penting untuk diingat bahwa koperasi bukanlah konsep yang gagal. Ada banyak contoh koperasi di Indonesia yang berhasil, yang mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan pasar. Kunci keberhasilan mereka relatif sederhana, meski tidak mudah, yaitu manajemen yang profesional, transparansi yang konsisten, dan partisipasi anggota yang nyata. 

Jadi bukan soal koperasinya sebagai sistem, tetapi pada bagaimana ia dijalankan. Sistem yang bagus tetap bisa rusak jika dijalankan oleh orang yang salah, tetapi sistem yang biasa saja bisa bekerja dengan baik jika dijalankan dengan integritas.

Maka, harapan terhadap Koperasi Merah Putih sebenarnya bukan harapan yang muluk-muluk. Harapan yang sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana, agar koperasi ini benar-benar menjadi milik anggota, dikelola dengan jujur, dan dijalankan dengan keberanian untuk tetap berada di jalur yang benar.  Namun meski sederhana, bisa jadi harapan ini menjadi sulit.  Karena yang diuji bukan teknologinya, bukan juga model bisnisnya, melainkan manusianya itu sendiri.

Belang Cantik Cuma untuk Kucing Garong

Pada akhirnya, banyak praduga dan pertanyaan tentang Koperasi Merah Putih bukan lagi menyoal ekonomi semata. Namun pertanyaan tentang siapa kita sebagai bangsa. Apakah kita masih bisa percaya pada semangat kerja bersama dengan mementingkan kepentingan umum telebih dahulu? Apakah kita masih mampu menghargai kejujuran, dalam sistem yang sering kali memberi ruang untuk bertindak sebaliknya? Apakah bekerja dengan moral sudah terasa sebagai suatu utopia?

Jelas tidak ada jawaban yang mudah. Mungkin yang tersisa hanyalah harapan dan kewaspadaan.  Harapan bahwa koperasi ini benar-benar bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar proyek. Harapan bahwa ia tetap merah dalam keberanian, dan putih dalam kejujuran. Dan sekaligus kewaspadaan bahwa tanpa itu semua, hal ini bisa saja berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan merah putih, tapi abu-abu tak jelas atau bahkan jadi belang.  Koperasi jangan belang. Kan, bukan koperasi garong. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Next Post

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails
Next Post
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah ---Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co