27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 12, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus ganjil ketika kita mendengar istilah “Koperasi Merah Putih.” Akrab, karena kata “koperasi” dan “merah putih” adalah dua hal yang secara historis melekat dalam identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Ganjil dan terasa agak gimana gitu, karena di tengah realitas ekonomi yang semakin kapitalistik ini, tiba-tiba muncul kembali sebuah gagasan yang terdengar sangat “Indonesia sekali”, seolah kita sedang diajak pulang ke rumah lama yang pernah kita tinggalkan. Malah jadi kepikiran apakah Koperasi Merah Putih ini sebenarnya nostalgia, strategi ekonomi jitu, atau justru sebuah eksperimen besar.

Antara Solidaritas dan Efisiensi

Koperasi, dalam bayangan idealnya, bukan sekadar badan usaha. Ia adalah perwujudan dari satu gagasan besar dimana ekonomi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga keadilan. Dalam bahasa yang lebih filosofis, koperasi adalah upaya untuk mendamaikan dua kutub yang sering bertentangan yaitu kutub efisiensi dan dan kutub solidaritas di sisi yang lain.

Sejak awal, para pendiri bangsa sudah menyadari bahwa Indonesia bukanlah masyarakat yang dibangun di atas individualisme ekstrem. Kita tumbuh dari tradisi gotong royong, dari kebiasaan berbagi beban, dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah benar-benar bisa dijalani sendirian. Dan itulah jiwa dari dasar negara kita Pancasila.

 Jadi sebenarnya dalam konteks tersebut, koperasi bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan salahsatu dari refleksi budaya kita.  Namun, sejarah koperasi tidak selalu berjalan sesuai dengan niat awal.

Ketika Ruh Koperasi Menghilang

Dalam praktiknya, koperasi di Indonesia sering kali kehilangan ruhnya. Ia berubah menjadi lembaga administratif, sekadar formalitas, atau bahkan dalam beberapa kasus, koperasi dijadikan alat untuk kepentingan segelintir orang. Apa yang seharusnya menjadi milik bersama, perlahan bergeser menjadi milik pengurus. Apa yang seharusnya transparan, justru menjadi gelap.

Sekarang ini, muncul kembali gagasan “Koperasi Merah Putih” dan pula dengan ambisi yang tidak kecil. Dengan target perputaran dana ratusan juta rupiah per bulan tiap unit perdesanya dan laba puluhan juta, koperasi ini tidak bisa lagi dibayangkan sebagai usaha kecil-kecilan.

Ia diproyeksikan menjadi mesin ekonomi desa, bahkan mungkin tulang punggung ekonomi lokal. Di atas kertas, hitung-hitungannya ini terdengar menjanjikan. Tapi dari pengalaman, kita tahu sama tahu saja, realitas yang terjadi jarang yang semulus proposal awal.

Mari kita mulai dari fakta paling mendasar saja, kita tahu bahwa tidak semua desa memiliki kapasitas ekonomi yang sama. Ada banyak desa yang hidup dari pertanian subsisten, dengan perputaran uang yang terbatas. Tapi memang ada pula desa yang mulai terhubung dengan pasar yang lebih luas, memiliki akses distribusi, bahkan sudah mengenal ekonomi digital.

Namun memaksakan satu model koperasi dengan target yang seragam untuk semua desa adalah seperti memaksa semua orang memakai ukuran sepatu yang sama. Secara teoritis mungkin rapi, tetapi dalam praktiknya, banyak yang yakin nantinya akan terasa menyakitkan. Sepertinya benar juga jika masalah terbesar dalam kebijakan publik bukanlah kurangnya ide, melainkan adanya kecenderungan untuk mengabaikan konteks.

Ketika kebijakan dibuat dari atas, sering kali ia kehilangan sensitivitas terhadap realitas di bawah. Dalam konteks koperasi, ini menjadi sangat krusial. Karena koperasi bukan hanya soal modal, tetapi soal partisipasi. Tanpa partisipasi aktif anggota, koperasi hanyalah bangunan kosong. Dan bangunan yang akan dibuat ini, targetnya total secara nasional akan ada 81 ribu unit koperasi desa atau kelurahan. Kalau soal membangun gedungnya, pasti relatif tak ada masalah.

Namun di sisi lain, ada persoalan yang lebih substantif tetapi jauh lebih berbahaya yaitu soal kapasitas pengelolanya.  Bagaimanapun, mengelola koperasi dengan perputaran dana ratusan juta rupiah bukan perkara sederhana. Ini bukan lagi soal semangat gotong royong, tetapi juga soal manajemen risiko, akuntabilitas, dan tata kelola keuangan yang profesional.

Tanpa pelatihan yang memadai, tanpa sistem pengawasan yang ketat, koperasi dengan modal besar justru berpotensi menjadi ladang baru bagi penyimpangan dan penyelewengan.  Sejarah ekonomi yang sama-sama kita alami dan saksikan sudah cukup memberi pelajaran, bahwa di mana ada uang besar tanpa sistem yang kuat, di situ selalu ada godaan.

Robert A. Caro, seorang sejarawan dan penulis biografi politik Amerika, pernah mengatakan, “Kekuasaan tidak selalu merusak. Kekuasaan bisa membersihkan. Yang selalu benar tentang kekuasaan adalah bahwa kekuasaan selalu mengungkapkan siapa seseorang sebenarnya”.Dalam konteks koperasi, “kekuasaan” itu bisa berupa akses terhadap dana, keputusan investasi, atau kontrol atas informasi.

Tanpa transparansi, koperasi bisa berubah dari alat pemberdayaan menjadi alat dominasi. Nah, siapa yang berkuasa di sini akan diuji nantinya.  Ya wajar, jika sampai di sini kekhawatiran publik menjadi masuk akal.

Antara Kebijakan dan Kepentingan

Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika politik di balik segala macam program-program besar. Dalam banyak kasus, kebijakan ekonomi sering kali tidak sepenuhnya netral. Ia bisa menjadi alat distribusi kekuasaan, bahkan instrumen untuk membangun loyalitas politik.

Ketika sebuah program membawa nama besar seperti “Merah Putih,” ada dua kemungkinan. Pertama, memang benar-benar berangkat dari niat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebangsaan dalam ekonomi. Kedua, hanya menggunakan simbol kebangsaan sebagai legitimasi untuk sesuatu yang lebih pragmatis.

Di titik ini, bukan bemaksud bagaimana-bagaimana, namun kita tetap perlu bersikap jernih, bukan sinis, tetapi juga tidak naif. Karena simbol, sekuat apa pun, tidak pernah cukup.  Merah, dalam makna filosofisnya, melambangkan keberanian, yaitu keberanian untuk berkorban, untuk berjuang, untuk mengambil risiko demi kepentingan bersama. Sementara putih melambangkan kesucian kejujuran, ketulusan, dan integritas.  Jika dua nilai ini benar-benar hidup dalam koperasi, maka kita tidak perlu terlalu khawatir.

Koperasi akan tumbuh, mungkin tidak selalu cepat, tetapi pastinya akan berakar kuat.  Namun jika yang terjadi nanti adalah yang sebaliknya, di mana merah hanya menjadi semangat retorika tanpa keberanian moral, dan putih hanya menjadi simbol belaka tanpa kejujuran, ya sudah, yang tersisa hanyalah warna, bukan nilai yang punya makna yang dalam dan berwibawa. Dan merah putih tanpa nilai, mudah sekali berubah menjadi abu-abu. Atau lebih buruk, belang. 

Di tengah semua ini, penting untuk diingat bahwa koperasi bukanlah konsep yang gagal. Ada banyak contoh koperasi di Indonesia yang berhasil, yang mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan pasar. Kunci keberhasilan mereka relatif sederhana, meski tidak mudah, yaitu manajemen yang profesional, transparansi yang konsisten, dan partisipasi anggota yang nyata. 

Jadi bukan soal koperasinya sebagai sistem, tetapi pada bagaimana ia dijalankan. Sistem yang bagus tetap bisa rusak jika dijalankan oleh orang yang salah, tetapi sistem yang biasa saja bisa bekerja dengan baik jika dijalankan dengan integritas.

Maka, harapan terhadap Koperasi Merah Putih sebenarnya bukan harapan yang muluk-muluk. Harapan yang sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana, agar koperasi ini benar-benar menjadi milik anggota, dikelola dengan jujur, dan dijalankan dengan keberanian untuk tetap berada di jalur yang benar.  Namun meski sederhana, bisa jadi harapan ini menjadi sulit.  Karena yang diuji bukan teknologinya, bukan juga model bisnisnya, melainkan manusianya itu sendiri.

Belang Cantik Cuma untuk Kucing Garong

Pada akhirnya, banyak praduga dan pertanyaan tentang Koperasi Merah Putih bukan lagi menyoal ekonomi semata. Namun pertanyaan tentang siapa kita sebagai bangsa. Apakah kita masih bisa percaya pada semangat kerja bersama dengan mementingkan kepentingan umum telebih dahulu? Apakah kita masih mampu menghargai kejujuran, dalam sistem yang sering kali memberi ruang untuk bertindak sebaliknya? Apakah bekerja dengan moral sudah terasa sebagai suatu utopia?

Jelas tidak ada jawaban yang mudah. Mungkin yang tersisa hanyalah harapan dan kewaspadaan.  Harapan bahwa koperasi ini benar-benar bisa menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar proyek. Harapan bahwa ia tetap merah dalam keberanian, dan putih dalam kejujuran. Dan sekaligus kewaspadaan bahwa tanpa itu semua, hal ini bisa saja berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan merah putih, tapi abu-abu tak jelas atau bahkan jadi belang.  Koperasi jangan belang. Kan, bukan koperasi garong. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikoperasikoperasi merah putih
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

Next Post

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah ---Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co