DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang kini dipersoalkan dari lirik “liar” mahasiswa HMT-ITB, khususnya lagu “Erika”, tidak bisa semata-mata dibaca sebagai kesalahan individual atau kelalaian organisatoris. Ia adalah teks sosial, yang memanggil kita untuk menafsirkan bukan hanya kata-katanya, tetapi juga dunia yang melahirkannya.
Hans-Georg Gadamer mengajarkan bahwa pemahaman adalah “peleburan cakrawala” (fusion of horizons). Lirik yang dahulu mungkin dianggap sebagai humor internal, kini bertabrakan dengan cakrawala baru: kesadaran publik tentang kesetaraan gender dan martabat manusia. Di sinilah konflik tafsir terjadi. Apa yang dulu dianggap “biasa saja,” kini dibaca sebagai bentuk simbolik dari dominasi dan pelecehan.
Namun, hermeneutika tidak berhenti pada pemahaman historis. Ia juga bersifat kritis. Paul Ricoeur membedakan antara “hermeneutika kepercayaan” dan “hermeneutika kecurigaan.” Dalam kasus ini, kita tidak cukup hanya memahami bahwa lirik tersebut adalah produk zamannya. Kita perlu mencurigai: nilai apa yang tersembunyi di balik bahasa tersebut? Kuasa apa yang bekerja dalam candaan yang merendahkan?
Di sinilah pemikiran Michel Foucault menjadi relevan. Bagi Foucault, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi instrumen kekuasaan. Lirik yang merendahkan perempuan bukan hanya “kata-kata nakal,” melainkan praktik diskursif yang menormalisasi subordinasi. Ia membentuk cara pandang, bahkan tanpa disadari oleh pelakunya. Kampus, dalam hal ini, bukan lagi ruang netral, melainkan turut menjadi produsen wacana yang problematik.
Ironinya, kampus yang seharusnya menjadi penjaga moral dan rasionalitas justru terjebak dalam banalitas budaya populer yang tidak kritis. Theodor W. Adorno pernah mengkritik industri budaya yang membuat masyarakat menerima sesuatu tanpa refleksi. Dalam konteks ini, lirik tersebut bisa dilihat sebagai bagian dari “budaya yang dinormalkan”, dinyanyikan berulang, ditertawakan bersama, hingga kehilangan sensitivitas etiknya.
Namun, persoalan ini tidak hanya bisa diselesaikan dengan kritik rasional. Ia juga menyentuh dimensi batin manusia. Dalam perspektif sufistik, bahasa adalah cermin dari hati. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa “kata-kata adalah bayangan dari keadaan jiwa.” Jika lirik yang lahir adalah lirik yang merendahkan, maka ada sesuatu dalam kesadaran kolektif yang perlu disucikan.
Lebih jauh, Al-Ghazali menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai bagian dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dalam pandangannya, kata-kata yang melukai orang lain bukan hanya kesalahan sosial, tetapi juga cacat spiritual. Dalam konteks ini, lirik tersebut bukan sekadar pelanggaran norma sosial, tetapi juga kegagalan etis-spiritual.
Di sinilah letak paradoksnya: institusi yang dibangun atas dasar pencarian ilmu justru lalai dalam menjaga kebijaksanaan. Pengetahuan tanpa etika, dalam bahasa Immanuel Kant, adalah sesuatu yang berbahaya, karena manusia diperlakukan bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat, bahkan dalam bentuk candaan sekalipun.
Namun, pengakuan dan permintaan maaf dari HMT-ITB menunjukkan adanya kesadaran reflektif. Dalam kerangka hermeneutika, ini adalah momen penting: teks lama dibaca ulang dalam cahaya kesadaran baru. Ini bukan sekadar koreksi, tetapi transformasi makna.
Kita bisa melihat ini sebagai proses “taubat kultural”, sebuah istilah yang mungkin lebih dekat dengan tradisi sufistik. Bukan hanya berhenti pada penyesalan, tetapi juga perubahan cara pandang dan tindakan ke depan. Kampus harus kembali menjadi ruang di mana bahasa dimuliakan, bukan dinistakan.
Pada akhirnya, lirik “liar” itu hanyalah gejala. Ia adalah pintu masuk untuk melihat sesuatu yang lebih dalam: bagaimana kita, sebagai masyarakat terdidik, memperlakukan sesama manusia dalam bahasa dan praktik sehari-hari. Jika bahasa adalah rumah bagi makna, maka kita harus memastikan bahwa rumah itu tidak menjadi tempat bagi penghinaan, tetapi bagi penghormatan. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole





























