25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Chusmeru by Chusmeru
May 20, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa bangsa ini  pada nostaligia indah dan romantis tentang nasionalisme serta mozaik kebangkitan nasional yang tampak sekarang.

Secara substansial, nasionalisme  adalah kesadaran sekelompok orang bahwa mereka satu bangsa karena punya ikatan  sejarah, bahasa, budaya, wilayah, atau nasib. Dari kesadaran itu lahir keinginan untuk punya kedaulatan sendiri dan memajukan bangsanya.

Nasionalisme Indonesia sebagai suatu bangsa sungguh indah. Orang mungkin tidak saling kenal, tapi merasa senasib sepenanggungan  karena sama-sama “Indonesia”. Imajinasi kolektif sebagai bangsa ini tumbuh lewat bahasa, sekolah, maupun  media. Ditambah lagi  lebih dari 1.300 suku, 700 bahasa daerah, dan 6 agama resmi, bangsa ini masih bisa tetap satu.

Romantisme kebangkitan nasional menandai bangsa ini sebagai majemuk namun menyatu. Adalah Boedi Oetomo, organisasi yang di tahun 1908 sudah bicara tentang kebangkitan kesadaran sebagai satu bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya dengan jalan perang, namun melalui jalur pendidikan. Lewat pendidikan inilah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Kebangkitan nasional semestinya memang bukan konsep yang statis seiring tercapainya kemerdekaan di tahun 1945. Sebagaimana dikatakan filsuf dan sejarawan Prancis, Ernest Renan, eksistensi sebuah bangsa adalah plebisit setiap hari (a nation’s existence is a daily plebiscite).

Konsep Ernest Renan menekankan, bahwa bangsa bukanlah entitas statis. Keberadaan atau nasionalisme suatu bangsa harus terus-menerus diperbarui, ditegaskan, dan disepakati oleh rakyatnya setiap hari. Sama seperti rakyat yang memberikan suara dalam referendum (plebisit) setiap harinya untuk meyakinkan diri mereka sendiri.

Karenanya, momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)  yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar nostalgia dan romantisme sejarah yang berhenti pada satu titik. Jika komitmen tentang plebisit berhenti, maka berhenti pula nasionalisme bangsa ini. Bukan pula seremoni tahunan yang harus dirayakan, lantaran nasionalisme juga perlu daya kritis masyarakatnya.

Hari Kebangkitan Nasional juga dapat menjadi reminder, bahwa nasionalisme itu bukan sekadar nostalgia 1908, tetapi juga pembaruan perangkat lunak (software update) setiap tahun. Kebodohan dan perpecahan masih ada di depan mata. Literasi digital masih lemah, bangsa ini masih mudah diadu domba oleh algoritma. Dan perpecahan juga mengancam bangsa ini lewat polarisasi media sosial, buzzer, dan politik identitas. Bila ingin memperingati 20 Mei, maka jangan hanya banyak seremoni, namun miskin kebangkitan.

Mozaik Nasionalisme

Indonesia boleh saja bangga masih bertahan hingga kini. Namun kebanggaan tentang nasionalisme itu tidaklah terang-benderang. Mozaik nasionalisme merupakan bagian yang tak bisa diabaikan. Nasionalisme saat ini tidak lagi satu bentuk utuh, tetapi menjadi kepingan-kepingan yang kadang menyambung, kadang bertabrakan layaknya mozaik yang membutuhkan perekat.

Mozaik nasionalisme di tengah Harkitnas dapat dilihat dari banyak hal. Orang bangga menjadi nasionalis, namun sebatas simbolik dan cenderung menjadi nasionalis musiman. Setiap perayaan hari besar nasional, orang ramai-ramai membuat twibbon. Akan tetapi mereka tak pernah bangkit sesungguhnya. Nasionalisme simbolik tak pernah menjadi etos. Selepas membuat twibbon Harkitnas, mereka akan kembali histeris menonton drama Korea dan drama Cina.

Nasionalisme digital juga menjadi bagian dari mozaik yang mempunyai wajah positif dan negatif. Media sosial menjadi ajang unjuk nasionalisme 24 jam secara real time. Positifnya, ketika terjadi bencana, gerakan solidaritas di media sosial mampu mengumpulkan donasi miliaran rupiah dalam hitungan jam. Banyak pula media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang dimanfaatkan untuk media edukasi sejarah dan politik.

Wajah negatifnya, perdebatan di media sosial kerap memunculkan labeling “tidak nasionalis” pada lawan debat. Nasionalisme juga kerap menjadi “jualan” bagi kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Bahkan nasionalisme digital cenderung menciptakan algoritma “NKRI” atau “asing”, sehingga membentuk echo chamber nasionalisme.

Mozaik nasionalisme merambah pula dalam wacana kebangkitan ekonomi. Atas nama nasionalime dan atas nama ambisi menjadi Macan Asia, muncul gagasan hilirisasi nikel, hilirasasi sawit, peningkatan daya saing ekspor, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pertanyaannya, apakah itu semua telah menjadikan bangsa dan rakyat Indonesia benar-benar bangkit? Siapa yang menikmati hilirisasi dan peningkatan ekspor itu? Jangan-jangan smelter hilirisasi itu hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat; bahkan orang asing, dan rakyat hanya kebagian debunya saja.

Begitu banyak mozaik nasionalisme yang masih perlu direkatkan dalam momentum Harkitnas. Jika tahun 1908 Boedi Oetomo bangkit karena sadar akan kebodohan yang masih menimpa rakyat, maka kini saatnya bangkit dengan sadar karena kebodohan digital, kemiskinan empati, dan wabah korupsi. Jangan sampai penjajah masih bercokol di Tanah Air dengan berganti seragam baru. Semua sibuk melakukan seremoni, tapi lupa pada rakyat yang masih tertindas oleh pajak tinggi, eksploitasi buruh, dan hilangnya kebebasan berekspresi.

Nasionalisme Seremonial

Salah satu “budaya” dan perilaku masyarakat Indonesia yang hingga kini sulit ditinggalkan adalah orientasi pada seremoni. Begitu pun dalam urusan nasionalisme dan kebangkitan nasional. Masih banyak nasionalisme yang berhenti di simbol, ritual, dan euforia sesaat. Nasionalisme belum menembus pada perilaku sehari-hari dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ciri nasionalisme seremonial mudah dilihat, seperti layaknya hajatan pengantin. Ramai dan bagus di foto dokumentasi. Padahal rumah tangga yang baik baru akan dimulai setelah pelaminan dibongkar. Begitu pun nasionalisme seremonial, waktunya musiman. Teriak kencang bangkit dan merdeka pada setiap upacara hari besar nasional, setelah itu diam, tak pernah bangkit.

Nasionalisme yang seremonial ukurannya emosi. Merasa merinding menyanyikan lagu Indonesia Raya, menangis tatkala melihat Sang Merah Putih dikibarkan, tapi tak merasa bersalah ketika menyogok polisi saat kena tilang. Teriak NKRI Harga Mati, tapi tetap rajin korupsi.

Berjoget di atas panggung sambil melempar baju ke massa pada seremoni Hari Buruh Internasional, tapi persoalan upah buruh, PHK sepihak, akses layanan kesehatan dan jaminan sosial, penghapusan outsourcing ,serta lemahnya perlindungan buruh belum dituntaskan. Semua baru sebatas “akan”.

Orde Baru turut menyumbang nasionalisme yang seremonial ini. Selama 32 tahun rakyat diajari untuk nasionalis, rajin upacara setiap Senin, penataran P4. Namun ketika rakyat melakukan kritik dituding tidak nasionalis. Walhasil, nasionalisme adalah sebentuk kepatuhan simbolik, bukan partisipasi kritis.

Tentu saja nasionalisme seremonial ini sangat berbahaya, karena menghasilkan ilusi kemajuan dan kebangkitan. Rakyat dan pejabat merasa sudah sangat nasionalis karena ikut upacara bendera. Sementara Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia jeblok di urutan 109 dari 182 negara, tingkat literasi rakyat Indonesia hanya 0,001%, dan angka pengangguran 7,46 juta orang.

Semestinya nasionalisme seremonial bergerak ke arah yang lebih substansial. Selepas upacara hari besar, pejabat mengendalikan harga sembako agar rakyat bisa bangkit. Anak muda yang semangat membuat twibbon Harkitnas dilanjutkan dengan mengajar literasi digital kepada emak-emak agar tidak tertipu hoaks. Dan para pendukung berat Tim Nasional sepak bola yang merasa nasionalis harus bangkit melawan rasisme, calo tiket, dan match fixing.

Pertanyaannya, masih relevankah memperingati Hari kebangkitan Nasional? Jika sekadar banyak seremoni tapi miskin kebangkitan tentu tak lagi relevan. Peringatan menjadi tidak relevan begitu selesai pidato tematik Semangat 1908, tapi esoknya anggaran pendidikan dibajak. Kebangkitan nasional juga akan sia-sia bila para pejabat bangkit gajinya dan rakyat bangkit utangnya.

Kebangkitan nasional bukan sekadar siapa yang paling berhak memegang stempel nasionalis. Bukan pula soal siapa yang paling meriah melakukan seremoni. Kebangkitan nasional bukan panggung pidato, tapi arena pertanggungjawaban. Bukan hanya ritual, tapi standar moral untuk bangkit merangkum mozaik yang tercerai-berai. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Next Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co