2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Chusmeru by Chusmeru
May 20, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa bangsa ini  pada nostaligia indah dan romantis tentang nasionalisme serta mozaik kebangkitan nasional yang tampak sekarang.

Secara substansial, nasionalisme  adalah kesadaran sekelompok orang bahwa mereka satu bangsa karena punya ikatan  sejarah, bahasa, budaya, wilayah, atau nasib. Dari kesadaran itu lahir keinginan untuk punya kedaulatan sendiri dan memajukan bangsanya.

Nasionalisme Indonesia sebagai suatu bangsa sungguh indah. Orang mungkin tidak saling kenal, tapi merasa senasib sepenanggungan  karena sama-sama “Indonesia”. Imajinasi kolektif sebagai bangsa ini tumbuh lewat bahasa, sekolah, maupun  media. Ditambah lagi  lebih dari 1.300 suku, 700 bahasa daerah, dan 6 agama resmi, bangsa ini masih bisa tetap satu.

Romantisme kebangkitan nasional menandai bangsa ini sebagai majemuk namun menyatu. Adalah Boedi Oetomo, organisasi yang di tahun 1908 sudah bicara tentang kebangkitan kesadaran sebagai satu bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya dengan jalan perang, namun melalui jalur pendidikan. Lewat pendidikan inilah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Kebangkitan nasional semestinya memang bukan konsep yang statis seiring tercapainya kemerdekaan di tahun 1945. Sebagaimana dikatakan filsuf dan sejarawan Prancis, Ernest Renan, eksistensi sebuah bangsa adalah plebisit setiap hari (a nation’s existence is a daily plebiscite).

Konsep Ernest Renan menekankan, bahwa bangsa bukanlah entitas statis. Keberadaan atau nasionalisme suatu bangsa harus terus-menerus diperbarui, ditegaskan, dan disepakati oleh rakyatnya setiap hari. Sama seperti rakyat yang memberikan suara dalam referendum (plebisit) setiap harinya untuk meyakinkan diri mereka sendiri.

Karenanya, momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)  yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar nostalgia dan romantisme sejarah yang berhenti pada satu titik. Jika komitmen tentang plebisit berhenti, maka berhenti pula nasionalisme bangsa ini. Bukan pula seremoni tahunan yang harus dirayakan, lantaran nasionalisme juga perlu daya kritis masyarakatnya.

Hari Kebangkitan Nasional juga dapat menjadi reminder, bahwa nasionalisme itu bukan sekadar nostalgia 1908, tetapi juga pembaruan perangkat lunak (software update) setiap tahun. Kebodohan dan perpecahan masih ada di depan mata. Literasi digital masih lemah, bangsa ini masih mudah diadu domba oleh algoritma. Dan perpecahan juga mengancam bangsa ini lewat polarisasi media sosial, buzzer, dan politik identitas. Bila ingin memperingati 20 Mei, maka jangan hanya banyak seremoni, namun miskin kebangkitan.

Mozaik Nasionalisme

Indonesia boleh saja bangga masih bertahan hingga kini. Namun kebanggaan tentang nasionalisme itu tidaklah terang-benderang. Mozaik nasionalisme merupakan bagian yang tak bisa diabaikan. Nasionalisme saat ini tidak lagi satu bentuk utuh, tetapi menjadi kepingan-kepingan yang kadang menyambung, kadang bertabrakan layaknya mozaik yang membutuhkan perekat.

Mozaik nasionalisme di tengah Harkitnas dapat dilihat dari banyak hal. Orang bangga menjadi nasionalis, namun sebatas simbolik dan cenderung menjadi nasionalis musiman. Setiap perayaan hari besar nasional, orang ramai-ramai membuat twibbon. Akan tetapi mereka tak pernah bangkit sesungguhnya. Nasionalisme simbolik tak pernah menjadi etos. Selepas membuat twibbon Harkitnas, mereka akan kembali histeris menonton drama Korea dan drama Cina.

Nasionalisme digital juga menjadi bagian dari mozaik yang mempunyai wajah positif dan negatif. Media sosial menjadi ajang unjuk nasionalisme 24 jam secara real time. Positifnya, ketika terjadi bencana, gerakan solidaritas di media sosial mampu mengumpulkan donasi miliaran rupiah dalam hitungan jam. Banyak pula media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang dimanfaatkan untuk media edukasi sejarah dan politik.

Wajah negatifnya, perdebatan di media sosial kerap memunculkan labeling “tidak nasionalis” pada lawan debat. Nasionalisme juga kerap menjadi “jualan” bagi kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Bahkan nasionalisme digital cenderung menciptakan algoritma “NKRI” atau “asing”, sehingga membentuk echo chamber nasionalisme.

Mozaik nasionalisme merambah pula dalam wacana kebangkitan ekonomi. Atas nama nasionalime dan atas nama ambisi menjadi Macan Asia, muncul gagasan hilirisasi nikel, hilirasasi sawit, peningkatan daya saing ekspor, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pertanyaannya, apakah itu semua telah menjadikan bangsa dan rakyat Indonesia benar-benar bangkit? Siapa yang menikmati hilirisasi dan peningkatan ekspor itu? Jangan-jangan smelter hilirisasi itu hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat; bahkan orang asing, dan rakyat hanya kebagian debunya saja.

Begitu banyak mozaik nasionalisme yang masih perlu direkatkan dalam momentum Harkitnas. Jika tahun 1908 Boedi Oetomo bangkit karena sadar akan kebodohan yang masih menimpa rakyat, maka kini saatnya bangkit dengan sadar karena kebodohan digital, kemiskinan empati, dan wabah korupsi. Jangan sampai penjajah masih bercokol di Tanah Air dengan berganti seragam baru. Semua sibuk melakukan seremoni, tapi lupa pada rakyat yang masih tertindas oleh pajak tinggi, eksploitasi buruh, dan hilangnya kebebasan berekspresi.

Nasionalisme Seremonial

Salah satu “budaya” dan perilaku masyarakat Indonesia yang hingga kini sulit ditinggalkan adalah orientasi pada seremoni. Begitu pun dalam urusan nasionalisme dan kebangkitan nasional. Masih banyak nasionalisme yang berhenti di simbol, ritual, dan euforia sesaat. Nasionalisme belum menembus pada perilaku sehari-hari dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ciri nasionalisme seremonial mudah dilihat, seperti layaknya hajatan pengantin. Ramai dan bagus di foto dokumentasi. Padahal rumah tangga yang baik baru akan dimulai setelah pelaminan dibongkar. Begitu pun nasionalisme seremonial, waktunya musiman. Teriak kencang bangkit dan merdeka pada setiap upacara hari besar nasional, setelah itu diam, tak pernah bangkit.

Nasionalisme yang seremonial ukurannya emosi. Merasa merinding menyanyikan lagu Indonesia Raya, menangis tatkala melihat Sang Merah Putih dikibarkan, tapi tak merasa bersalah ketika menyogok polisi saat kena tilang. Teriak NKRI Harga Mati, tapi tetap rajin korupsi.

Berjoget di atas panggung sambil melempar baju ke massa pada seremoni Hari Buruh Internasional, tapi persoalan upah buruh, PHK sepihak, akses layanan kesehatan dan jaminan sosial, penghapusan outsourcing ,serta lemahnya perlindungan buruh belum dituntaskan. Semua baru sebatas “akan”.

Orde Baru turut menyumbang nasionalisme yang seremonial ini. Selama 32 tahun rakyat diajari untuk nasionalis, rajin upacara setiap Senin, penataran P4. Namun ketika rakyat melakukan kritik dituding tidak nasionalis. Walhasil, nasionalisme adalah sebentuk kepatuhan simbolik, bukan partisipasi kritis.

Tentu saja nasionalisme seremonial ini sangat berbahaya, karena menghasilkan ilusi kemajuan dan kebangkitan. Rakyat dan pejabat merasa sudah sangat nasionalis karena ikut upacara bendera. Sementara Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia jeblok di urutan 109 dari 182 negara, tingkat literasi rakyat Indonesia hanya 0,001%, dan angka pengangguran 7,46 juta orang.

Semestinya nasionalisme seremonial bergerak ke arah yang lebih substansial. Selepas upacara hari besar, pejabat mengendalikan harga sembako agar rakyat bisa bangkit. Anak muda yang semangat membuat twibbon Harkitnas dilanjutkan dengan mengajar literasi digital kepada emak-emak agar tidak tertipu hoaks. Dan para pendukung berat Tim Nasional sepak bola yang merasa nasionalis harus bangkit melawan rasisme, calo tiket, dan match fixing.

Pertanyaannya, masih relevankah memperingati Hari kebangkitan Nasional? Jika sekadar banyak seremoni tapi miskin kebangkitan tentu tak lagi relevan. Peringatan menjadi tidak relevan begitu selesai pidato tematik Semangat 1908, tapi esoknya anggaran pendidikan dibajak. Kebangkitan nasional juga akan sia-sia bila para pejabat bangkit gajinya dan rakyat bangkit utangnya.

Kebangkitan nasional bukan sekadar siapa yang paling berhak memegang stempel nasionalis. Bukan pula soal siapa yang paling meriah melakukan seremoni. Kebangkitan nasional bukan panggung pidato, tapi arena pertanggungjawaban. Bukan hanya ritual, tapi standar moral untuk bangkit merangkum mozaik yang tercerai-berai. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Next Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co