2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Chusmeru by Chusmeru
May 20, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa bangsa ini  pada nostaligia indah dan romantis tentang nasionalisme serta mozaik kebangkitan nasional yang tampak sekarang.

Secara substansial, nasionalisme  adalah kesadaran sekelompok orang bahwa mereka satu bangsa karena punya ikatan  sejarah, bahasa, budaya, wilayah, atau nasib. Dari kesadaran itu lahir keinginan untuk punya kedaulatan sendiri dan memajukan bangsanya.

Nasionalisme Indonesia sebagai suatu bangsa sungguh indah. Orang mungkin tidak saling kenal, tapi merasa senasib sepenanggungan  karena sama-sama “Indonesia”. Imajinasi kolektif sebagai bangsa ini tumbuh lewat bahasa, sekolah, maupun  media. Ditambah lagi  lebih dari 1.300 suku, 700 bahasa daerah, dan 6 agama resmi, bangsa ini masih bisa tetap satu.

Romantisme kebangkitan nasional menandai bangsa ini sebagai majemuk namun menyatu. Adalah Boedi Oetomo, organisasi yang di tahun 1908 sudah bicara tentang kebangkitan kesadaran sebagai satu bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya dengan jalan perang, namun melalui jalur pendidikan. Lewat pendidikan inilah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Kebangkitan nasional semestinya memang bukan konsep yang statis seiring tercapainya kemerdekaan di tahun 1945. Sebagaimana dikatakan filsuf dan sejarawan Prancis, Ernest Renan, eksistensi sebuah bangsa adalah plebisit setiap hari (a nation’s existence is a daily plebiscite).

Konsep Ernest Renan menekankan, bahwa bangsa bukanlah entitas statis. Keberadaan atau nasionalisme suatu bangsa harus terus-menerus diperbarui, ditegaskan, dan disepakati oleh rakyatnya setiap hari. Sama seperti rakyat yang memberikan suara dalam referendum (plebisit) setiap harinya untuk meyakinkan diri mereka sendiri.

Karenanya, momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)  yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar nostalgia dan romantisme sejarah yang berhenti pada satu titik. Jika komitmen tentang plebisit berhenti, maka berhenti pula nasionalisme bangsa ini. Bukan pula seremoni tahunan yang harus dirayakan, lantaran nasionalisme juga perlu daya kritis masyarakatnya.

Hari Kebangkitan Nasional juga dapat menjadi reminder, bahwa nasionalisme itu bukan sekadar nostalgia 1908, tetapi juga pembaruan perangkat lunak (software update) setiap tahun. Kebodohan dan perpecahan masih ada di depan mata. Literasi digital masih lemah, bangsa ini masih mudah diadu domba oleh algoritma. Dan perpecahan juga mengancam bangsa ini lewat polarisasi media sosial, buzzer, dan politik identitas. Bila ingin memperingati 20 Mei, maka jangan hanya banyak seremoni, namun miskin kebangkitan.

Mozaik Nasionalisme

Indonesia boleh saja bangga masih bertahan hingga kini. Namun kebanggaan tentang nasionalisme itu tidaklah terang-benderang. Mozaik nasionalisme merupakan bagian yang tak bisa diabaikan. Nasionalisme saat ini tidak lagi satu bentuk utuh, tetapi menjadi kepingan-kepingan yang kadang menyambung, kadang bertabrakan layaknya mozaik yang membutuhkan perekat.

Mozaik nasionalisme di tengah Harkitnas dapat dilihat dari banyak hal. Orang bangga menjadi nasionalis, namun sebatas simbolik dan cenderung menjadi nasionalis musiman. Setiap perayaan hari besar nasional, orang ramai-ramai membuat twibbon. Akan tetapi mereka tak pernah bangkit sesungguhnya. Nasionalisme simbolik tak pernah menjadi etos. Selepas membuat twibbon Harkitnas, mereka akan kembali histeris menonton drama Korea dan drama Cina.

Nasionalisme digital juga menjadi bagian dari mozaik yang mempunyai wajah positif dan negatif. Media sosial menjadi ajang unjuk nasionalisme 24 jam secara real time. Positifnya, ketika terjadi bencana, gerakan solidaritas di media sosial mampu mengumpulkan donasi miliaran rupiah dalam hitungan jam. Banyak pula media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang dimanfaatkan untuk media edukasi sejarah dan politik.

Wajah negatifnya, perdebatan di media sosial kerap memunculkan labeling “tidak nasionalis” pada lawan debat. Nasionalisme juga kerap menjadi “jualan” bagi kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Bahkan nasionalisme digital cenderung menciptakan algoritma “NKRI” atau “asing”, sehingga membentuk echo chamber nasionalisme.

Mozaik nasionalisme merambah pula dalam wacana kebangkitan ekonomi. Atas nama nasionalime dan atas nama ambisi menjadi Macan Asia, muncul gagasan hilirisasi nikel, hilirasasi sawit, peningkatan daya saing ekspor, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pertanyaannya, apakah itu semua telah menjadikan bangsa dan rakyat Indonesia benar-benar bangkit? Siapa yang menikmati hilirisasi dan peningkatan ekspor itu? Jangan-jangan smelter hilirisasi itu hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat; bahkan orang asing, dan rakyat hanya kebagian debunya saja.

Begitu banyak mozaik nasionalisme yang masih perlu direkatkan dalam momentum Harkitnas. Jika tahun 1908 Boedi Oetomo bangkit karena sadar akan kebodohan yang masih menimpa rakyat, maka kini saatnya bangkit dengan sadar karena kebodohan digital, kemiskinan empati, dan wabah korupsi. Jangan sampai penjajah masih bercokol di Tanah Air dengan berganti seragam baru. Semua sibuk melakukan seremoni, tapi lupa pada rakyat yang masih tertindas oleh pajak tinggi, eksploitasi buruh, dan hilangnya kebebasan berekspresi.

Nasionalisme Seremonial

Salah satu “budaya” dan perilaku masyarakat Indonesia yang hingga kini sulit ditinggalkan adalah orientasi pada seremoni. Begitu pun dalam urusan nasionalisme dan kebangkitan nasional. Masih banyak nasionalisme yang berhenti di simbol, ritual, dan euforia sesaat. Nasionalisme belum menembus pada perilaku sehari-hari dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ciri nasionalisme seremonial mudah dilihat, seperti layaknya hajatan pengantin. Ramai dan bagus di foto dokumentasi. Padahal rumah tangga yang baik baru akan dimulai setelah pelaminan dibongkar. Begitu pun nasionalisme seremonial, waktunya musiman. Teriak kencang bangkit dan merdeka pada setiap upacara hari besar nasional, setelah itu diam, tak pernah bangkit.

Nasionalisme yang seremonial ukurannya emosi. Merasa merinding menyanyikan lagu Indonesia Raya, menangis tatkala melihat Sang Merah Putih dikibarkan, tapi tak merasa bersalah ketika menyogok polisi saat kena tilang. Teriak NKRI Harga Mati, tapi tetap rajin korupsi.

Berjoget di atas panggung sambil melempar baju ke massa pada seremoni Hari Buruh Internasional, tapi persoalan upah buruh, PHK sepihak, akses layanan kesehatan dan jaminan sosial, penghapusan outsourcing ,serta lemahnya perlindungan buruh belum dituntaskan. Semua baru sebatas “akan”.

Orde Baru turut menyumbang nasionalisme yang seremonial ini. Selama 32 tahun rakyat diajari untuk nasionalis, rajin upacara setiap Senin, penataran P4. Namun ketika rakyat melakukan kritik dituding tidak nasionalis. Walhasil, nasionalisme adalah sebentuk kepatuhan simbolik, bukan partisipasi kritis.

Tentu saja nasionalisme seremonial ini sangat berbahaya, karena menghasilkan ilusi kemajuan dan kebangkitan. Rakyat dan pejabat merasa sudah sangat nasionalis karena ikut upacara bendera. Sementara Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia jeblok di urutan 109 dari 182 negara, tingkat literasi rakyat Indonesia hanya 0,001%, dan angka pengangguran 7,46 juta orang.

Semestinya nasionalisme seremonial bergerak ke arah yang lebih substansial. Selepas upacara hari besar, pejabat mengendalikan harga sembako agar rakyat bisa bangkit. Anak muda yang semangat membuat twibbon Harkitnas dilanjutkan dengan mengajar literasi digital kepada emak-emak agar tidak tertipu hoaks. Dan para pendukung berat Tim Nasional sepak bola yang merasa nasionalis harus bangkit melawan rasisme, calo tiket, dan match fixing.

Pertanyaannya, masih relevankah memperingati Hari kebangkitan Nasional? Jika sekadar banyak seremoni tapi miskin kebangkitan tentu tak lagi relevan. Peringatan menjadi tidak relevan begitu selesai pidato tematik Semangat 1908, tapi esoknya anggaran pendidikan dibajak. Kebangkitan nasional juga akan sia-sia bila para pejabat bangkit gajinya dan rakyat bangkit utangnya.

Kebangkitan nasional bukan sekadar siapa yang paling berhak memegang stempel nasionalis. Bukan pula soal siapa yang paling meriah melakukan seremoni. Kebangkitan nasional bukan panggung pidato, tapi arena pertanggungjawaban. Bukan hanya ritual, tapi standar moral untuk bangkit merangkum mozaik yang tercerai-berai. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Next Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co