23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

Chusmeru by Chusmeru
May 20, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa bangsa ini  pada nostaligia indah dan romantis tentang nasionalisme serta mozaik kebangkitan nasional yang tampak sekarang.

Secara substansial, nasionalisme  adalah kesadaran sekelompok orang bahwa mereka satu bangsa karena punya ikatan  sejarah, bahasa, budaya, wilayah, atau nasib. Dari kesadaran itu lahir keinginan untuk punya kedaulatan sendiri dan memajukan bangsanya.

Nasionalisme Indonesia sebagai suatu bangsa sungguh indah. Orang mungkin tidak saling kenal, tapi merasa senasib sepenanggungan  karena sama-sama “Indonesia”. Imajinasi kolektif sebagai bangsa ini tumbuh lewat bahasa, sekolah, maupun  media. Ditambah lagi  lebih dari 1.300 suku, 700 bahasa daerah, dan 6 agama resmi, bangsa ini masih bisa tetap satu.

Romantisme kebangkitan nasional menandai bangsa ini sebagai majemuk namun menyatu. Adalah Boedi Oetomo, organisasi yang di tahun 1908 sudah bicara tentang kebangkitan kesadaran sebagai satu bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya dengan jalan perang, namun melalui jalur pendidikan. Lewat pendidikan inilah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Kebangkitan nasional semestinya memang bukan konsep yang statis seiring tercapainya kemerdekaan di tahun 1945. Sebagaimana dikatakan filsuf dan sejarawan Prancis, Ernest Renan, eksistensi sebuah bangsa adalah plebisit setiap hari (a nation’s existence is a daily plebiscite).

Konsep Ernest Renan menekankan, bahwa bangsa bukanlah entitas statis. Keberadaan atau nasionalisme suatu bangsa harus terus-menerus diperbarui, ditegaskan, dan disepakati oleh rakyatnya setiap hari. Sama seperti rakyat yang memberikan suara dalam referendum (plebisit) setiap harinya untuk meyakinkan diri mereka sendiri.

Karenanya, momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)  yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar nostalgia dan romantisme sejarah yang berhenti pada satu titik. Jika komitmen tentang plebisit berhenti, maka berhenti pula nasionalisme bangsa ini. Bukan pula seremoni tahunan yang harus dirayakan, lantaran nasionalisme juga perlu daya kritis masyarakatnya.

Hari Kebangkitan Nasional juga dapat menjadi reminder, bahwa nasionalisme itu bukan sekadar nostalgia 1908, tetapi juga pembaruan perangkat lunak (software update) setiap tahun. Kebodohan dan perpecahan masih ada di depan mata. Literasi digital masih lemah, bangsa ini masih mudah diadu domba oleh algoritma. Dan perpecahan juga mengancam bangsa ini lewat polarisasi media sosial, buzzer, dan politik identitas. Bila ingin memperingati 20 Mei, maka jangan hanya banyak seremoni, namun miskin kebangkitan.

Mozaik Nasionalisme

Indonesia boleh saja bangga masih bertahan hingga kini. Namun kebanggaan tentang nasionalisme itu tidaklah terang-benderang. Mozaik nasionalisme merupakan bagian yang tak bisa diabaikan. Nasionalisme saat ini tidak lagi satu bentuk utuh, tetapi menjadi kepingan-kepingan yang kadang menyambung, kadang bertabrakan layaknya mozaik yang membutuhkan perekat.

Mozaik nasionalisme di tengah Harkitnas dapat dilihat dari banyak hal. Orang bangga menjadi nasionalis, namun sebatas simbolik dan cenderung menjadi nasionalis musiman. Setiap perayaan hari besar nasional, orang ramai-ramai membuat twibbon. Akan tetapi mereka tak pernah bangkit sesungguhnya. Nasionalisme simbolik tak pernah menjadi etos. Selepas membuat twibbon Harkitnas, mereka akan kembali histeris menonton drama Korea dan drama Cina.

Nasionalisme digital juga menjadi bagian dari mozaik yang mempunyai wajah positif dan negatif. Media sosial menjadi ajang unjuk nasionalisme 24 jam secara real time. Positifnya, ketika terjadi bencana, gerakan solidaritas di media sosial mampu mengumpulkan donasi miliaran rupiah dalam hitungan jam. Banyak pula media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook yang dimanfaatkan untuk media edukasi sejarah dan politik.

Wajah negatifnya, perdebatan di media sosial kerap memunculkan labeling “tidak nasionalis” pada lawan debat. Nasionalisme juga kerap menjadi “jualan” bagi kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Bahkan nasionalisme digital cenderung menciptakan algoritma “NKRI” atau “asing”, sehingga membentuk echo chamber nasionalisme.

Mozaik nasionalisme merambah pula dalam wacana kebangkitan ekonomi. Atas nama nasionalime dan atas nama ambisi menjadi Macan Asia, muncul gagasan hilirisasi nikel, hilirasasi sawit, peningkatan daya saing ekspor, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pertanyaannya, apakah itu semua telah menjadikan bangsa dan rakyat Indonesia benar-benar bangkit? Siapa yang menikmati hilirisasi dan peningkatan ekspor itu? Jangan-jangan smelter hilirisasi itu hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat; bahkan orang asing, dan rakyat hanya kebagian debunya saja.

Begitu banyak mozaik nasionalisme yang masih perlu direkatkan dalam momentum Harkitnas. Jika tahun 1908 Boedi Oetomo bangkit karena sadar akan kebodohan yang masih menimpa rakyat, maka kini saatnya bangkit dengan sadar karena kebodohan digital, kemiskinan empati, dan wabah korupsi. Jangan sampai penjajah masih bercokol di Tanah Air dengan berganti seragam baru. Semua sibuk melakukan seremoni, tapi lupa pada rakyat yang masih tertindas oleh pajak tinggi, eksploitasi buruh, dan hilangnya kebebasan berekspresi.

Nasionalisme Seremonial

Salah satu “budaya” dan perilaku masyarakat Indonesia yang hingga kini sulit ditinggalkan adalah orientasi pada seremoni. Begitu pun dalam urusan nasionalisme dan kebangkitan nasional. Masih banyak nasionalisme yang berhenti di simbol, ritual, dan euforia sesaat. Nasionalisme belum menembus pada perilaku sehari-hari dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ciri nasionalisme seremonial mudah dilihat, seperti layaknya hajatan pengantin. Ramai dan bagus di foto dokumentasi. Padahal rumah tangga yang baik baru akan dimulai setelah pelaminan dibongkar. Begitu pun nasionalisme seremonial, waktunya musiman. Teriak kencang bangkit dan merdeka pada setiap upacara hari besar nasional, setelah itu diam, tak pernah bangkit.

Nasionalisme yang seremonial ukurannya emosi. Merasa merinding menyanyikan lagu Indonesia Raya, menangis tatkala melihat Sang Merah Putih dikibarkan, tapi tak merasa bersalah ketika menyogok polisi saat kena tilang. Teriak NKRI Harga Mati, tapi tetap rajin korupsi.

Berjoget di atas panggung sambil melempar baju ke massa pada seremoni Hari Buruh Internasional, tapi persoalan upah buruh, PHK sepihak, akses layanan kesehatan dan jaminan sosial, penghapusan outsourcing ,serta lemahnya perlindungan buruh belum dituntaskan. Semua baru sebatas “akan”.

Orde Baru turut menyumbang nasionalisme yang seremonial ini. Selama 32 tahun rakyat diajari untuk nasionalis, rajin upacara setiap Senin, penataran P4. Namun ketika rakyat melakukan kritik dituding tidak nasionalis. Walhasil, nasionalisme adalah sebentuk kepatuhan simbolik, bukan partisipasi kritis.

Tentu saja nasionalisme seremonial ini sangat berbahaya, karena menghasilkan ilusi kemajuan dan kebangkitan. Rakyat dan pejabat merasa sudah sangat nasionalis karena ikut upacara bendera. Sementara Indeks Persepsi Korupsi di Indonesia jeblok di urutan 109 dari 182 negara, tingkat literasi rakyat Indonesia hanya 0,001%, dan angka pengangguran 7,46 juta orang.

Semestinya nasionalisme seremonial bergerak ke arah yang lebih substansial. Selepas upacara hari besar, pejabat mengendalikan harga sembako agar rakyat bisa bangkit. Anak muda yang semangat membuat twibbon Harkitnas dilanjutkan dengan mengajar literasi digital kepada emak-emak agar tidak tertipu hoaks. Dan para pendukung berat Tim Nasional sepak bola yang merasa nasionalis harus bangkit melawan rasisme, calo tiket, dan match fixing.

Pertanyaannya, masih relevankah memperingati Hari kebangkitan Nasional? Jika sekadar banyak seremoni tapi miskin kebangkitan tentu tak lagi relevan. Peringatan menjadi tidak relevan begitu selesai pidato tematik Semangat 1908, tapi esoknya anggaran pendidikan dibajak. Kebangkitan nasional juga akan sia-sia bila para pejabat bangkit gajinya dan rakyat bangkit utangnya.

Kebangkitan nasional bukan sekadar siapa yang paling berhak memegang stempel nasionalis. Bukan pula soal siapa yang paling meriah melakukan seremoni. Kebangkitan nasional bukan panggung pidato, tapi arena pertanggungjawaban. Bukan hanya ritual, tapi standar moral untuk bangkit merangkum mozaik yang tercerai-berai. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kebangkitan NasionalKebangkitan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Next Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co