24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
in Panggung
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”

Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Desa, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Kamis malam, 14 Mei 2026.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari agenda hiburan dalam rangkaian piodalan di Pura Desa, Guwang. Selama tiga hari berturut-turut, berbagai pertunjukan seni dan budaya digelar di wantilan pura.

Malam itu, penonton disuguhi beragam tari Bali yang akrab di mata masyarakat, seperti Selat Segara, Jauk Manis, Cendrawasih, Teruna Jaya, Gopala, Margapati, Merak Angelo, hingga Legong Masatya. Namun di antara deretan tarian tersebut, satu pertunjukan paling menyita perhatian adalah Legong Kembang Ura. Bukan semata karena statusnya sebagai tari kreasi baru, melainkan karena untuk pertama kalinya tarian itu dipentaskan di Desa Guwang.

Sorot lampu panggung menimpa wajah-wajah penari yang tampil dengan ekspresi datar khas Legong Kembang Ura. Gerak mereka pelan, tegas, dan sesekali patah-patah dalam pola yang tidak biasa bagi penonton. Di beberapa bagian, tubuh penari bergerak dengan teknik “ngengsog” yang sengaja didiamkan sejenak, menciptakan kesan tegas sekaligus dramatik. Suasana wantilan pun terasa khusyuk ketika para penari mulai memasuki bagian inti tarian. Mata penonton mengikuti setiap detail gerak tangan, kepala, dan sorot mata para penari muda itu.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Salah satu penonton malam itu, Wayan Sentur (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat salah menduga ketika pertama kali melihat para penari memasuki panggung.

“Saya kira itu bukan tari legong, karena pakaiannya seperti sisya di calonarang. Tapi tarian itu sangat menarik, berbeda dari tari Bali populer lainnya,” ujarnya.

Komentar itu menggambarkan kesan pertama banyak penonton malam itu. Legong Kembang Ura memang tampil berbeda. Tata busananya tidak menghadirkan kemewahan yang lazim ditemukan dalam tari Bali populer. Nuansa vintage dengan warna-warna kusam justru mendominasi, dipadukan dengan hiasan kepala penuh bunga yang memberi kesan klasik bagi sebagian penonton.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Bagi Mas Ayu Rasitha dan rekan-rekannya, malam itu bukan sekadar pementasan. Itu adalah hasil dari proses panjang yang dimulai sejak Desember lalu.

“Kami belajar hanya dari YouTube dengan menonton berkali-kali,” ujar Rasitha.

Tanpa pelatih yang mendampingi secara langsung, mereka mempelajari tarian itu secara mandiri, bagian demi bagian. Dari pepeson, pengawak, hingga pengecet dipelajari perlahan. Awalnya sambil duduk, hanya fokus pada gerakan kepala, tangan, dan badan. Setelah mulai hafal pola gerak, latihan dilanjutkan dengan berdiri untuk mempelajari gerakan kaki. Tahap terakhir justru menjadi bagian paling sulit, yaitu ekspresi.

“Belajar ekspresi adalah bagian paling lama dipelajari. Karena inilah kali pertama menari dengan ekspresi datar. Bahkan napas terengah-engah pun harus tetap ditahan agar tak terlihat,” kata Rasitha.

Tantangan itu terasa semakin berat karena mereka hanya belajar lewat layar ponsel. Tidak ada kesempatan melihat langsung detail teknik atau mendapatkan koreksi secara langsung dari penciptanya. Rasitha pun mengakui ada beberapa bagian gerakan yang mungkin tidak sepenuhnya sama seperti versi asli yang mereka lihat di YouTube.

“Tak dipungkiri pula pasti ada beberapa detail gerakan yang tidak sama seperti di YouTube, karena keterbatasan dalam proses belajar hanya lewat layar ponsel,” ungkapnya.

Kendati demikian, justru di situlah letak semangat mereka. Ada keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dipentaskan di Guwang sebelumnya. Ada rasa penasaran terhadap bentuk gerak yang unik dan berbeda dari tarian yang biasa mereka bawakan.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Legong Kembang Ura sendiri merupakan tari kreasi baru karya koreografer muda berbakat, Putu Parama Kesawa. Tarian ini menghadirkan nuansa yang tidak lazim dalam pertunjukan legong modern. Ada polesan vintage pada kostum, ekspresi nyebeng (cemberut) seperti potret penari era kolonial, bentuk gerak legong kuno, hingga penggunaan teknik gerak tertentu yang sengaja diperlambat untuk membangun karakter tarian.

Mengutip laman BASABaliWiki, Legong Kembang Ura merupakan karya tari baru yang mengambil esensi dari ‘kembang ura’ dalam tari Topeng Sidakarya. Dalam tradisi itu, kembang ura menjadi simbol kedermawanan dan medana-dana atau bersedekah. Maknanya berkaitan dengan kasih sayang kepada seluruh semesta agar kesejahteraan terus terjalin dan terjaga dengan baik. Nilai itu pula yang dilekatkan pada sosok Ida Dalem Sidakarya, figur yang dikenal memiliki kasih sayang tak terbatas kepada umatnya.

Dalam pertunjukan Topeng Sidakarya, masyarakat kerap melihat penaburan bunga, pis bolong, dan beras sebagai simbol kesejahteraan. Menurut Kesawa, esensi itulah yang diterjemahkan kembali ke dalam bentuk Legong Kembang Ura.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Namun seperti karya-karya baru lainnya, Legong Kembang Ura juga memunculkan beragam tanggapan di awal kemunculannya.

Made Agus Wardana alias Bli Ciaaattt, dalam ulasannya di Tatkala.co, menilai ada beberapa bagian yang kurang pas di hatinya.

“Penggunaan kostum kurang menarik terutama di bagian kepala bertaburan bunga yang sangat berlebihan seperti penari gandrung. Warna kostum tampak kusam bergaya vintage berasa sisya calonarang. Kalau vintage dengan warna kostum legong kuno barangkali pas dilihat,” tulisnya.

Wardana juga menyinggung soal penggambaran makna “ura” yang menurutnya belum terlalu terlihat dalam gerak tari.

“Dalam pikiran saya, ura berasal dari maura (bertaburan) dalam arti positif yaitu taburan bunga yang mensejahterakan. Dalam konteks cerita ini, wujud taburan berupa bunga, pis bolong dan beras tidak nampak jelas dalam gerak, padahal Dalem Sidakarya adalah figur kuat dalam sinopsis yang diceritakan,” tulisnya lagi.

Bli Ciaaattt dalam tulisannya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penataan tabuh karya I Made Andita. Menurutnya, komposisi musik dalam tari ini menghadirkan nuansa romantik dengan sentuhan ngumbang-isep yang kuat dalam setiap gerakan. Melodi dan strukturnya mengingatkan pada gending palegongan klasik.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Kembali lagi ke pementasan di Guwang. Malam itu, semua kritik, tafsir, dan diskusi tentang estetika seolah melebur menjadi satu pengalaman baru bagi para penari muda yang sedang belajar melampaui batasnya sendiri. Mereka mungkin belum sempurna. Beberapa detail gerak mungkin berbeda dari versi aslinya. Tetapi keberanian mereka membawa Legong Kembang Ura ke panggung desa untuk pertama kalinya justru menghadirkan energi yang terasa segar.

Malam itu, Legong Kembang Ura bukan hanya hadir sebagai tontonan baru di Guwang. Ia menjadi cerita tentang anak-anak muda Guwang yang belajar dari layar ponsel, menafsir ulang, lalu menyajikannya di panggung desa mereka sendiri.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Tags: Desa Guwangkesenian balilegongLegong Kembang Ura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Next Post

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co