2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
in Panggung
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”

Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Desa, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Kamis malam, 14 Mei 2026.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari agenda hiburan dalam rangkaian piodalan di Pura Desa, Guwang. Selama tiga hari berturut-turut, berbagai pertunjukan seni dan budaya digelar di wantilan pura.

Malam itu, penonton disuguhi beragam tari Bali yang akrab di mata masyarakat, seperti Selat Segara, Jauk Manis, Cendrawasih, Teruna Jaya, Gopala, Margapati, Merak Angelo, hingga Legong Masatya. Namun di antara deretan tarian tersebut, satu pertunjukan paling menyita perhatian adalah Legong Kembang Ura. Bukan semata karena statusnya sebagai tari kreasi baru, melainkan karena untuk pertama kalinya tarian itu dipentaskan di Desa Guwang.

Sorot lampu panggung menimpa wajah-wajah penari yang tampil dengan ekspresi datar khas Legong Kembang Ura. Gerak mereka pelan, tegas, dan sesekali patah-patah dalam pola yang tidak biasa bagi penonton. Di beberapa bagian, tubuh penari bergerak dengan teknik “ngengsog” yang sengaja didiamkan sejenak, menciptakan kesan tegas sekaligus dramatik. Suasana wantilan pun terasa khusyuk ketika para penari mulai memasuki bagian inti tarian. Mata penonton mengikuti setiap detail gerak tangan, kepala, dan sorot mata para penari muda itu.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Salah satu penonton malam itu, Wayan Sentur (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat salah menduga ketika pertama kali melihat para penari memasuki panggung.

“Saya kira itu bukan tari legong, karena pakaiannya seperti sisya di calonarang. Tapi tarian itu sangat menarik, berbeda dari tari Bali populer lainnya,” ujarnya.

Komentar itu menggambarkan kesan pertama banyak penonton malam itu. Legong Kembang Ura memang tampil berbeda. Tata busananya tidak menghadirkan kemewahan yang lazim ditemukan dalam tari Bali populer. Nuansa vintage dengan warna-warna kusam justru mendominasi, dipadukan dengan hiasan kepala penuh bunga yang memberi kesan klasik bagi sebagian penonton.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Bagi Mas Ayu Rasitha dan rekan-rekannya, malam itu bukan sekadar pementasan. Itu adalah hasil dari proses panjang yang dimulai sejak Desember lalu.

“Kami belajar hanya dari YouTube dengan menonton berkali-kali,” ujar Rasitha.

Tanpa pelatih yang mendampingi secara langsung, mereka mempelajari tarian itu secara mandiri, bagian demi bagian. Dari pepeson, pengawak, hingga pengecet dipelajari perlahan. Awalnya sambil duduk, hanya fokus pada gerakan kepala, tangan, dan badan. Setelah mulai hafal pola gerak, latihan dilanjutkan dengan berdiri untuk mempelajari gerakan kaki. Tahap terakhir justru menjadi bagian paling sulit, yaitu ekspresi.

“Belajar ekspresi adalah bagian paling lama dipelajari. Karena inilah kali pertama menari dengan ekspresi datar. Bahkan napas terengah-engah pun harus tetap ditahan agar tak terlihat,” kata Rasitha.

Tantangan itu terasa semakin berat karena mereka hanya belajar lewat layar ponsel. Tidak ada kesempatan melihat langsung detail teknik atau mendapatkan koreksi secara langsung dari penciptanya. Rasitha pun mengakui ada beberapa bagian gerakan yang mungkin tidak sepenuhnya sama seperti versi asli yang mereka lihat di YouTube.

“Tak dipungkiri pula pasti ada beberapa detail gerakan yang tidak sama seperti di YouTube, karena keterbatasan dalam proses belajar hanya lewat layar ponsel,” ungkapnya.

Kendati demikian, justru di situlah letak semangat mereka. Ada keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dipentaskan di Guwang sebelumnya. Ada rasa penasaran terhadap bentuk gerak yang unik dan berbeda dari tarian yang biasa mereka bawakan.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Legong Kembang Ura sendiri merupakan tari kreasi baru karya koreografer muda berbakat, Putu Parama Kesawa. Tarian ini menghadirkan nuansa yang tidak lazim dalam pertunjukan legong modern. Ada polesan vintage pada kostum, ekspresi nyebeng (cemberut) seperti potret penari era kolonial, bentuk gerak legong kuno, hingga penggunaan teknik gerak tertentu yang sengaja diperlambat untuk membangun karakter tarian.

Mengutip laman BASABaliWiki, Legong Kembang Ura merupakan karya tari baru yang mengambil esensi dari ‘kembang ura’ dalam tari Topeng Sidakarya. Dalam tradisi itu, kembang ura menjadi simbol kedermawanan dan medana-dana atau bersedekah. Maknanya berkaitan dengan kasih sayang kepada seluruh semesta agar kesejahteraan terus terjalin dan terjaga dengan baik. Nilai itu pula yang dilekatkan pada sosok Ida Dalem Sidakarya, figur yang dikenal memiliki kasih sayang tak terbatas kepada umatnya.

Dalam pertunjukan Topeng Sidakarya, masyarakat kerap melihat penaburan bunga, pis bolong, dan beras sebagai simbol kesejahteraan. Menurut Kesawa, esensi itulah yang diterjemahkan kembali ke dalam bentuk Legong Kembang Ura.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Namun seperti karya-karya baru lainnya, Legong Kembang Ura juga memunculkan beragam tanggapan di awal kemunculannya.

Made Agus Wardana alias Bli Ciaaattt, dalam ulasannya di Tatkala.co, menilai ada beberapa bagian yang kurang pas di hatinya.

“Penggunaan kostum kurang menarik terutama di bagian kepala bertaburan bunga yang sangat berlebihan seperti penari gandrung. Warna kostum tampak kusam bergaya vintage berasa sisya calonarang. Kalau vintage dengan warna kostum legong kuno barangkali pas dilihat,” tulisnya.

Wardana juga menyinggung soal penggambaran makna “ura” yang menurutnya belum terlalu terlihat dalam gerak tari.

“Dalam pikiran saya, ura berasal dari maura (bertaburan) dalam arti positif yaitu taburan bunga yang mensejahterakan. Dalam konteks cerita ini, wujud taburan berupa bunga, pis bolong dan beras tidak nampak jelas dalam gerak, padahal Dalem Sidakarya adalah figur kuat dalam sinopsis yang diceritakan,” tulisnya lagi.

Bli Ciaaattt dalam tulisannya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penataan tabuh karya I Made Andita. Menurutnya, komposisi musik dalam tari ini menghadirkan nuansa romantik dengan sentuhan ngumbang-isep yang kuat dalam setiap gerakan. Melodi dan strukturnya mengingatkan pada gending palegongan klasik.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Kembali lagi ke pementasan di Guwang. Malam itu, semua kritik, tafsir, dan diskusi tentang estetika seolah melebur menjadi satu pengalaman baru bagi para penari muda yang sedang belajar melampaui batasnya sendiri. Mereka mungkin belum sempurna. Beberapa detail gerak mungkin berbeda dari versi aslinya. Tetapi keberanian mereka membawa Legong Kembang Ura ke panggung desa untuk pertama kalinya justru menghadirkan energi yang terasa segar.

Malam itu, Legong Kembang Ura bukan hanya hadir sebagai tontonan baru di Guwang. Ia menjadi cerita tentang anak-anak muda Guwang yang belajar dari layar ponsel, menafsir ulang, lalu menyajikannya di panggung desa mereka sendiri.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Tags: Desa Guwangkesenian balilegongLegong Kembang Ura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Next Post

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co