3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
in Panggung
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”

Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Desa, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar. Kamis malam, 14 Mei 2026.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari agenda hiburan dalam rangkaian piodalan di Pura Desa, Guwang. Selama tiga hari berturut-turut, berbagai pertunjukan seni dan budaya digelar di wantilan pura.

Malam itu, penonton disuguhi beragam tari Bali yang akrab di mata masyarakat, seperti Selat Segara, Jauk Manis, Cendrawasih, Teruna Jaya, Gopala, Margapati, Merak Angelo, hingga Legong Masatya. Namun di antara deretan tarian tersebut, satu pertunjukan paling menyita perhatian adalah Legong Kembang Ura. Bukan semata karena statusnya sebagai tari kreasi baru, melainkan karena untuk pertama kalinya tarian itu dipentaskan di Desa Guwang.

Sorot lampu panggung menimpa wajah-wajah penari yang tampil dengan ekspresi datar khas Legong Kembang Ura. Gerak mereka pelan, tegas, dan sesekali patah-patah dalam pola yang tidak biasa bagi penonton. Di beberapa bagian, tubuh penari bergerak dengan teknik “ngengsog” yang sengaja didiamkan sejenak, menciptakan kesan tegas sekaligus dramatik. Suasana wantilan pun terasa khusyuk ketika para penari mulai memasuki bagian inti tarian. Mata penonton mengikuti setiap detail gerak tangan, kepala, dan sorot mata para penari muda itu.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Salah satu penonton malam itu, Wayan Sentur (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat salah menduga ketika pertama kali melihat para penari memasuki panggung.

“Saya kira itu bukan tari legong, karena pakaiannya seperti sisya di calonarang. Tapi tarian itu sangat menarik, berbeda dari tari Bali populer lainnya,” ujarnya.

Komentar itu menggambarkan kesan pertama banyak penonton malam itu. Legong Kembang Ura memang tampil berbeda. Tata busananya tidak menghadirkan kemewahan yang lazim ditemukan dalam tari Bali populer. Nuansa vintage dengan warna-warna kusam justru mendominasi, dipadukan dengan hiasan kepala penuh bunga yang memberi kesan klasik bagi sebagian penonton.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Bagi Mas Ayu Rasitha dan rekan-rekannya, malam itu bukan sekadar pementasan. Itu adalah hasil dari proses panjang yang dimulai sejak Desember lalu.

“Kami belajar hanya dari YouTube dengan menonton berkali-kali,” ujar Rasitha.

Tanpa pelatih yang mendampingi secara langsung, mereka mempelajari tarian itu secara mandiri, bagian demi bagian. Dari pepeson, pengawak, hingga pengecet dipelajari perlahan. Awalnya sambil duduk, hanya fokus pada gerakan kepala, tangan, dan badan. Setelah mulai hafal pola gerak, latihan dilanjutkan dengan berdiri untuk mempelajari gerakan kaki. Tahap terakhir justru menjadi bagian paling sulit, yaitu ekspresi.

“Belajar ekspresi adalah bagian paling lama dipelajari. Karena inilah kali pertama menari dengan ekspresi datar. Bahkan napas terengah-engah pun harus tetap ditahan agar tak terlihat,” kata Rasitha.

Tantangan itu terasa semakin berat karena mereka hanya belajar lewat layar ponsel. Tidak ada kesempatan melihat langsung detail teknik atau mendapatkan koreksi secara langsung dari penciptanya. Rasitha pun mengakui ada beberapa bagian gerakan yang mungkin tidak sepenuhnya sama seperti versi asli yang mereka lihat di YouTube.

“Tak dipungkiri pula pasti ada beberapa detail gerakan yang tidak sama seperti di YouTube, karena keterbatasan dalam proses belajar hanya lewat layar ponsel,” ungkapnya.

Kendati demikian, justru di situlah letak semangat mereka. Ada keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dipentaskan di Guwang sebelumnya. Ada rasa penasaran terhadap bentuk gerak yang unik dan berbeda dari tarian yang biasa mereka bawakan.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Legong Kembang Ura sendiri merupakan tari kreasi baru karya koreografer muda berbakat, Putu Parama Kesawa. Tarian ini menghadirkan nuansa yang tidak lazim dalam pertunjukan legong modern. Ada polesan vintage pada kostum, ekspresi nyebeng (cemberut) seperti potret penari era kolonial, bentuk gerak legong kuno, hingga penggunaan teknik gerak tertentu yang sengaja diperlambat untuk membangun karakter tarian.

Mengutip laman BASABaliWiki, Legong Kembang Ura merupakan karya tari baru yang mengambil esensi dari ‘kembang ura’ dalam tari Topeng Sidakarya. Dalam tradisi itu, kembang ura menjadi simbol kedermawanan dan medana-dana atau bersedekah. Maknanya berkaitan dengan kasih sayang kepada seluruh semesta agar kesejahteraan terus terjalin dan terjaga dengan baik. Nilai itu pula yang dilekatkan pada sosok Ida Dalem Sidakarya, figur yang dikenal memiliki kasih sayang tak terbatas kepada umatnya.

Dalam pertunjukan Topeng Sidakarya, masyarakat kerap melihat penaburan bunga, pis bolong, dan beras sebagai simbol kesejahteraan. Menurut Kesawa, esensi itulah yang diterjemahkan kembali ke dalam bentuk Legong Kembang Ura.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Namun seperti karya-karya baru lainnya, Legong Kembang Ura juga memunculkan beragam tanggapan di awal kemunculannya.

Made Agus Wardana alias Bli Ciaaattt, dalam ulasannya di Tatkala.co, menilai ada beberapa bagian yang kurang pas di hatinya.

“Penggunaan kostum kurang menarik terutama di bagian kepala bertaburan bunga yang sangat berlebihan seperti penari gandrung. Warna kostum tampak kusam bergaya vintage berasa sisya calonarang. Kalau vintage dengan warna kostum legong kuno barangkali pas dilihat,” tulisnya.

Wardana juga menyinggung soal penggambaran makna “ura” yang menurutnya belum terlalu terlihat dalam gerak tari.

“Dalam pikiran saya, ura berasal dari maura (bertaburan) dalam arti positif yaitu taburan bunga yang mensejahterakan. Dalam konteks cerita ini, wujud taburan berupa bunga, pis bolong dan beras tidak nampak jelas dalam gerak, padahal Dalem Sidakarya adalah figur kuat dalam sinopsis yang diceritakan,” tulisnya lagi.

Bli Ciaaattt dalam tulisannya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap penataan tabuh karya I Made Andita. Menurutnya, komposisi musik dalam tari ini menghadirkan nuansa romantik dengan sentuhan ngumbang-isep yang kuat dalam setiap gerakan. Melodi dan strukturnya mengingatkan pada gending palegongan klasik.

Pementasan Tari Kembang Ura di Desa Guwang, Sukawati│Foto: @momenku_

Kembali lagi ke pementasan di Guwang. Malam itu, semua kritik, tafsir, dan diskusi tentang estetika seolah melebur menjadi satu pengalaman baru bagi para penari muda yang sedang belajar melampaui batasnya sendiri. Mereka mungkin belum sempurna. Beberapa detail gerak mungkin berbeda dari versi aslinya. Tetapi keberanian mereka membawa Legong Kembang Ura ke panggung desa untuk pertama kalinya justru menghadirkan energi yang terasa segar.

Malam itu, Legong Kembang Ura bukan hanya hadir sebagai tontonan baru di Guwang. Ia menjadi cerita tentang anak-anak muda Guwang yang belajar dari layar ponsel, menafsir ulang, lalu menyajikannya di panggung desa mereka sendiri.

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Parade Pelegongan di DNA Denpasar | Esensi Legong Kembang Ura, Benarkah Membuat Rakyat Sejahtera?
Tags: Desa Guwangkesenian balilegongLegong Kembang Ura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

Next Post

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co