2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Early NHS by Early NHS
May 19, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi di ruang diplomasi. Presiden Prabowo Subianto hadir mengenakan Barong Tagalog, busana formal khas Filipina, dengan sentuhan bordir yang terinspirasi motif batik Indonesia. Sebuah gestur kecil yang menunjukkan persahabatan Indonesia-Filipina melalui ekspresi budaya. 

Di panggung diplomasi tingkat tinggi, produk budaya seperti busana tidak lagi sekadar kain yang melilit tubuh; busana telah menjadi bahasa simbolik yang menunjukkan hubungan baik, penghormatan, dan pertemuan warisan budaya di ruang diplomatik. Rilis resmi Sekretariat Negara menyebut bahwa busana Prabowo di KTT ke-48 ASEAN melambangkan perpaduan unsur budaya Indonesia-Filipina, sekaligus mencerminkan harmoni budaya serta persahabatan antar-kedua negara.

Malam itu para pemimpin ASEAN juga disuguhkan pertunjukan budaya khas Filipina. Ini sesuatu yang lazim, setidaknya di Asia Tenggara, bahwa dalam jamuan santap malam yang dihadiri para kepala negara, pertunjukan budaya menjadi semacam kewajiban. Sebab, dalam diplomasi, urusan tingkat tinggi negara tidak hanya tentang pidato atau dokumen resmi. Kadang-kadang negara harus berbicara melalui busana, musik, makanan, gerak tubuh, dan panggung. Seremoni. Negara butuh budaya untuk menunjukkan kepada dunia siapa mereka. Dan Indonesia fasih melakukan itu. 

Kefasihan Indonesia Menggelar Panggung Budaya Satu Malam

Jika ditarik ke belakang, saat memegang Presidensi G-20 pada 2022, Pemerintah Indonesia berhasil menjadi event organizer (penyelenggara acara) kelas wahid. Welcoming Dinner and Cultural Performance KTT G20 di Bali berjalan sukses. Acara itu dibicarakan, banyak tepuk tangan, ragam pujian di media sosial, dan untuk satu malam dunia tahu bahwa Indonesia adalah negara kaya budaya.

Setahun setelahnya, pada bulan September 2023, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT ke-43 ASEAN, di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, di tengah cahaya pencakar langit Ibu Kota, Indonesia sekali lagi berhasil menggelar jamuan santap malam bagi para kepala negara, pemimpin pemerintahan, mitra strategis, dan petinggi organisasi internasional. Makanan dipikirkan, panggung disusun, cahaya diatur, meja didekorasi, keramahan dikoreografi; lagi-lagi, Indonesia tampil sebagai tuan rumah yang terlihat rapi, megah, ramah, dan tentu saja, kaya budaya.

Tidak ada yang salah dengan itu. Seperti kehidupan sosial seorang manusia, dalam pergaulan internasional, kesan itu penting. Artinya, dalam diplomasi, seremoni bukan perkara remeh. Seremoni bagian dari bahasa kekuasaan yang menunjukkan kredibilitas negara, martabat tuan rumah, sekaligus kemampuan mengelola simbol di depan tamu asing.

Namun, justru di situlah masalah diplomasi budaya Indonesia terlihat. Setiap kali budaya Indonesia tampil di panggung internasional sebagai bagian dari diplomasi tingkat tinggi, kita sering terlalu cepat puas. Kita merasa cukup ketika tamu negara tersenyum, kamera menyorot, media sosial ramai, dan masyarakat di dalam negeri bangga. 

Tarian selesai, musik berhenti, lampu panggung padam, lalu kita mengira diplomasi budaya telah berhasil. Padahal, belum tentu.

Seharusnya pertunjukan budaya semacam itu menjadi awal, bukan akhir. Seharusnya kita bertanya, “Setelah budaya dipertontonkan kepada dunia di atas panggung satu malam, apa yang benar-benar tersisa dari diplomasi budaya kita?”

Budaya dalam Hubungan Internasional

Dalam kajian Hubungan Internasional, budaya tidak hanya warisan, identitas, atau hiasan simbolik negara. Budaya juga dapat menjadi sumber daya politik luar negeri. Tiga konsep yang sering dipakai untuk memahami peran budaya dalam hubungan antarnegara adalah soft power, diplomasi publik, dan diplomasi budaya.

Dalam bahasa paling mudah, soft power adalah kemampuan suatu negara membuat pihak lain tertarik dan bersedia mengikuti arah yang negara itu inginkan, bukan karena paksaan (kekuatan militer) atau tergoda oleh imbalan ekonomi, tetapi karena budaya, nilai, atau kebijakan negara itu menarik dan layak diikuti (Nye, 2004). Dalam konteks tersebut, diplomasi publik dapat dipahami sebagai upaya sebuah negara membangun komunikasi dan memengaruhi persepsi publik di negara lain, termasuk memperkuat soft power. Sementara itu, diplomasi budaya adalah bagian dari diplomasi publik yang menggunakan seni, tradisi, bahasa, pendidikan, kuliner, musik, dan berbagai ekspresi budaya lain untuk membangun kedekatan antar-bangsa.

Soft power memiliki banyak manfaat, dan Korea Selatan adalah salah satu contoh bagaimana soft power melalui budaya populer berdampak langsung pada ekonomi, pariwisata, dan citra negara (nation-branding). Contoh lain yang tidak kalah penting adalah Thailand. Sejak awal 2000-an, Thailand konsisten mengembangkan gastrodiplomasi (diplomasi kuliner) melalui program Global Thai.

Gagasannya sederhana: memperbanyak kehadiran restoran Thailand di luar negeri agar makanan menjadi pintu masuk bagi orang asing mengenal Thailand, membayangkan Thailand, lalu tertarik berkunjung, membeli produk Thailand, atau sekadar memiliki kesan positif terhadap negara itu. Dalam hal ini, sepiring tom yum, pad thai, atau mango sticky rice tidak lagi sekadar makanan; makanan berubah menjadi bahasa diplomasi. Program Global Thai sering dirujuk sebagai salah satu contoh bagaimana negara secara sadar menggunakan kuliner untuk memperkuat citra nasional, pariwisata, dan hubungan dengan masyarakat global.

Korea Selatan dan Thailand membangun soft power melalui budaya tidak di atas panggung satu malam. Selama bertahun-tahun pemerintah dua negara itu serius membentuk ekosistem budaya dan industri kreatif, melandasinya dengan kebijakan, memikirkan distribusi global produk-produk budayanya, dan konsisten membangun citra negara dalam jangka panjang. 

Sayangnya, jika dibandingkan, diplomasi budaya Indonesia jauh tertinggal di belakang. Indonesia fasih dalam menampilkan budaya di depan kepala negara bangsa lain dalam satu malam, tetapi lemah dalam merawat ekosistem dan kebijakan yang membuat budaya bekerja maksimal sebagai instrumen soft power.

Menurut data Kementerian Luar Negeri Indonesia, jumlah restoran Indonesia di luar negeri lebih kurang berjumlah 1.400 restoran, sedangkan menurut data Departemen Perdagangan Luar Negeri Thailand, pada tahun 2024 saja ada lebih dari 17.000 restoran Thailand di luar negeri. 

Itu tentang makanan. Dengan berlaksa-laksa kebudayaan Indonesia yang sering dipamerkan di atas panggung satu malam, sepatutnya kita mengajukan pertanyaan, berapa banyak wisatawan asing yang datang karena tertarik pada kebudayaan Indonesia? Berapa banyak musik, film, atau lukisan Indonesia yang dikenal dunia?  

Indonesia Tidak Miskin Budaya

Kekayaan budaya tidak begitu saja menjadi kekuatan hanya karena dipentaskan dalam forum diplomasi resmi. Batik tidak menjadi soft power hanya karena dikenakan pejabat saat dipotret jurnalis internasional. Tari tradisional tidak bisa disebut diplomasi publik hanya karena dipertontonkan kepada delegasi asing. Kuliner tidak menciptakan pengaruh hanya karena masuk menu jamuan santap malam kepala negara. Semua itu baru berdampak pada kepentingan negara ketika mampu menciptakan ketertarikan, membentuk persepsi dan pemahaman, memperluas jejaring, serta membuat publik luar negeri ingin mengenal Indonesia lebih jauh.

Salah satu masalah diplomasi budaya Indonesia bukan karena miskin atau kekurangan produk budaya. Justru sebaliknya, Indonesia terlalu kaya. Dari Aceh sampai Papua, dari Maluku sampai Nusa Tenggara, dari Kalimantan sampai Sulawesi, dari pesisir sampai pegunungan, bangsa ini memiliki bahasa, musik, tarian, busana, kuliner, arsitektur, ritual, sastra lisan, dan pengetahuan lokal yang jumlahnya nyaris mustahil ditulis dalam sebuah daftar. 

Indonesia tidak kekurangan sumber daya diplomasi budaya, Indonesia hanya terlalu sering memperlakukan kebudayaan sebagai hiasan atau dekorasi, bukan ekosistem yang menghasilkan sumber daya diplomasi publik. Negara senang meminjam budaya ketika butuh wajah yang indah. Negara senang menghadirkan seniman ketika ada tamu asing. Negara senang menampilkan keragaman ketika ingin mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang kaya budaya. 

Namun, setelah panggung satu malam selesai, berapa banyak komunitas budaya yang benar-benar diperhatikan? Berapa banyak seniman yang terhubung dengan jaringan internasional? Berapa banyak karya sastra lokal yang diterjemahkan? Berapa banyak arsip budaya yang dirawat? Berapa banyak festival kebudayaan yang diberi dukungan?

Negara tidak pernah serius mengelola budaya. Kebudayaan kerap diperlakukan hanya sebagai perlengkapan protokoler: dibutuhkan ketika acara dimulai, disingkirkan ketika acara selesai. Seniman diminta tampil, tetapi tidak selalu diajak bicara bagaimana seharusnya budaya dan karya mereka dibaca, dipahami, dan dibawa ke hadapan dunia.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa tarian pembuka, jamuan makan, busana tradisional, dan panggung megah tidak penting. Itu semua penting. Pada KTT G20 Bali 2022, Indonesia menjamu para pemimpin dunia di Garuda Wisnu Kencana. Lebih dari 200 penari tampil dalam pertunjukan yang mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger”, menggambarkan situasi sulit akibat pandemi sekaligus ajakan untuk bangkit bersama. Itu adalah contoh bagaimana simbol budaya dapat dirancang untuk membawa pesan politik global.

Namun, simbol yang kuat memerlukan tindak lanjut. Tanpa tindak lanjut, budaya hanya menjadi seperti kembang api: terang sebentar, membuat orang menoleh, lalu hilang di belantara langit malam. Negara mungkin merasa berhasil karena acara berjalan lancar, tetapi diplomasi budaya tidak boleh diukur hanya dari kelancaran acara. Setelah orang menoleh karena acara yang menunjukkan Indonesia kaya budaya, sepatutnya negara dan bahkan kita, bertanya, “Lalu apa?”

Apakah ada program lanjutan? Apakah ada kontak antar-seniman? Apakah ada penerjemahan karya sastra? Apakah ada undangan festival? Apakah ada kurator internasional yang datang ke Indonesia? Apakah ada orang di luar negeri yang mengenal Indonesia bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai peradaban yang hidup, rumit, dan terus berkembang?

Jika jawabannya tidak jelas, maka kita perlu jujur: yang Indonesia lakukan mungkin baru pertunjukan budaya, belum diplomasi budaya. Diplomasi budaya yang matang membutuhkan ekosistem. Diplomasi budaya butuh seniman, komunitas lokal, kurator, penerjemah, peneliti, pengelola festival, kampus, museum, diaspora, arsip digital, media, dan lembaga negara yang tidak bekerja sendiri-sendiri.

Kata Penghabisan: Jangan Berhenti pada Tepuk Tangan!

Budaya bukan cendera mata negara. Budaya bukan hiasan meja diplomasi. Budaya bukan sekadar latar foto para pejabat. Budaya adalah ruang hidup masyarakat. Budaya lahir dari ingatan, tubuh, bahasa, luka, kegembiraan, dan sejarah panjang manusia-manusia Indonesia.

Karena itu, jika negara ingin menjadikan budaya sebagai kekuatan diplomasi, negara harus berhenti memperlakukan kebudayaan sebagai dekorasi. Sebab dalam diplomasi publik, yang terutama bukan hanya apa yang kita tampilkan, tetapi hubungan apa yang sedang coba dibangun. Dalam soft power, yang paling penting bukan hanya apa yang membuat orang kagum, tetapi apa yang membuat publik luar negeri percaya, tertarik, dan ingin terhubung lebih lama dengan Indonesia

Indonesia tidak kekurangan budaya. Kita hanya terlalu cepat puas ketika diplomasi budaya menghasilkan tepuk tangan. Setelah tari pembuka selesai, seharusnya masih ada banyak hal yang tersisa: dukungan pada seniman, percakapan, kerja sama, kunjungan, arsip, penerjemahan, festival, dan rasa ingin tahu. Jika yang tersisa hanya unggahan media sosial dan berita seremonial, maka barangkali selama ini kita memang belum sungguh-sungguh melakukan diplomasi lewat budaya.

Dalam konteks diplomasi, Indonesia baru bisa menghias wajah negara dengan budaya, negara hanya menghargai seniman sebagai pesolek di atas panggung satu malam, tetapi masih belum benar-benar memanfaatkan budaya untuk kepentingan Indonesia di panggung kebudayaan dunia. Ciao!. [T]

Tags: Budayakebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Next Post

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Ungkapan 'Sakit Hati dan Patah Hati' Nadiem Memantik Simpati Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co