2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

Early NHS by Early NHS
May 19, 2026
in Esai
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi di ruang diplomasi. Presiden Prabowo Subianto hadir mengenakan Barong Tagalog, busana formal khas Filipina, dengan sentuhan bordir yang terinspirasi motif batik Indonesia. Sebuah gestur kecil yang menunjukkan persahabatan Indonesia-Filipina melalui ekspresi budaya. 

Di panggung diplomasi tingkat tinggi, produk budaya seperti busana tidak lagi sekadar kain yang melilit tubuh; busana telah menjadi bahasa simbolik yang menunjukkan hubungan baik, penghormatan, dan pertemuan warisan budaya di ruang diplomatik. Rilis resmi Sekretariat Negara menyebut bahwa busana Prabowo di KTT ke-48 ASEAN melambangkan perpaduan unsur budaya Indonesia-Filipina, sekaligus mencerminkan harmoni budaya serta persahabatan antar-kedua negara.

Malam itu para pemimpin ASEAN juga disuguhkan pertunjukan budaya khas Filipina. Ini sesuatu yang lazim, setidaknya di Asia Tenggara, bahwa dalam jamuan santap malam yang dihadiri para kepala negara, pertunjukan budaya menjadi semacam kewajiban. Sebab, dalam diplomasi, urusan tingkat tinggi negara tidak hanya tentang pidato atau dokumen resmi. Kadang-kadang negara harus berbicara melalui busana, musik, makanan, gerak tubuh, dan panggung. Seremoni. Negara butuh budaya untuk menunjukkan kepada dunia siapa mereka. Dan Indonesia fasih melakukan itu. 

Kefasihan Indonesia Menggelar Panggung Budaya Satu Malam

Jika ditarik ke belakang, saat memegang Presidensi G-20 pada 2022, Pemerintah Indonesia berhasil menjadi event organizer (penyelenggara acara) kelas wahid. Welcoming Dinner and Cultural Performance KTT G20 di Bali berjalan sukses. Acara itu dibicarakan, banyak tepuk tangan, ragam pujian di media sosial, dan untuk satu malam dunia tahu bahwa Indonesia adalah negara kaya budaya.

Setahun setelahnya, pada bulan September 2023, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT ke-43 ASEAN, di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, di tengah cahaya pencakar langit Ibu Kota, Indonesia sekali lagi berhasil menggelar jamuan santap malam bagi para kepala negara, pemimpin pemerintahan, mitra strategis, dan petinggi organisasi internasional. Makanan dipikirkan, panggung disusun, cahaya diatur, meja didekorasi, keramahan dikoreografi; lagi-lagi, Indonesia tampil sebagai tuan rumah yang terlihat rapi, megah, ramah, dan tentu saja, kaya budaya.

Tidak ada yang salah dengan itu. Seperti kehidupan sosial seorang manusia, dalam pergaulan internasional, kesan itu penting. Artinya, dalam diplomasi, seremoni bukan perkara remeh. Seremoni bagian dari bahasa kekuasaan yang menunjukkan kredibilitas negara, martabat tuan rumah, sekaligus kemampuan mengelola simbol di depan tamu asing.

Namun, justru di situlah masalah diplomasi budaya Indonesia terlihat. Setiap kali budaya Indonesia tampil di panggung internasional sebagai bagian dari diplomasi tingkat tinggi, kita sering terlalu cepat puas. Kita merasa cukup ketika tamu negara tersenyum, kamera menyorot, media sosial ramai, dan masyarakat di dalam negeri bangga. 

Tarian selesai, musik berhenti, lampu panggung padam, lalu kita mengira diplomasi budaya telah berhasil. Padahal, belum tentu.

Seharusnya pertunjukan budaya semacam itu menjadi awal, bukan akhir. Seharusnya kita bertanya, “Setelah budaya dipertontonkan kepada dunia di atas panggung satu malam, apa yang benar-benar tersisa dari diplomasi budaya kita?”

Budaya dalam Hubungan Internasional

Dalam kajian Hubungan Internasional, budaya tidak hanya warisan, identitas, atau hiasan simbolik negara. Budaya juga dapat menjadi sumber daya politik luar negeri. Tiga konsep yang sering dipakai untuk memahami peran budaya dalam hubungan antarnegara adalah soft power, diplomasi publik, dan diplomasi budaya.

Dalam bahasa paling mudah, soft power adalah kemampuan suatu negara membuat pihak lain tertarik dan bersedia mengikuti arah yang negara itu inginkan, bukan karena paksaan (kekuatan militer) atau tergoda oleh imbalan ekonomi, tetapi karena budaya, nilai, atau kebijakan negara itu menarik dan layak diikuti (Nye, 2004). Dalam konteks tersebut, diplomasi publik dapat dipahami sebagai upaya sebuah negara membangun komunikasi dan memengaruhi persepsi publik di negara lain, termasuk memperkuat soft power. Sementara itu, diplomasi budaya adalah bagian dari diplomasi publik yang menggunakan seni, tradisi, bahasa, pendidikan, kuliner, musik, dan berbagai ekspresi budaya lain untuk membangun kedekatan antar-bangsa.

Soft power memiliki banyak manfaat, dan Korea Selatan adalah salah satu contoh bagaimana soft power melalui budaya populer berdampak langsung pada ekonomi, pariwisata, dan citra negara (nation-branding). Contoh lain yang tidak kalah penting adalah Thailand. Sejak awal 2000-an, Thailand konsisten mengembangkan gastrodiplomasi (diplomasi kuliner) melalui program Global Thai.

Gagasannya sederhana: memperbanyak kehadiran restoran Thailand di luar negeri agar makanan menjadi pintu masuk bagi orang asing mengenal Thailand, membayangkan Thailand, lalu tertarik berkunjung, membeli produk Thailand, atau sekadar memiliki kesan positif terhadap negara itu. Dalam hal ini, sepiring tom yum, pad thai, atau mango sticky rice tidak lagi sekadar makanan; makanan berubah menjadi bahasa diplomasi. Program Global Thai sering dirujuk sebagai salah satu contoh bagaimana negara secara sadar menggunakan kuliner untuk memperkuat citra nasional, pariwisata, dan hubungan dengan masyarakat global.

Korea Selatan dan Thailand membangun soft power melalui budaya tidak di atas panggung satu malam. Selama bertahun-tahun pemerintah dua negara itu serius membentuk ekosistem budaya dan industri kreatif, melandasinya dengan kebijakan, memikirkan distribusi global produk-produk budayanya, dan konsisten membangun citra negara dalam jangka panjang. 

Sayangnya, jika dibandingkan, diplomasi budaya Indonesia jauh tertinggal di belakang. Indonesia fasih dalam menampilkan budaya di depan kepala negara bangsa lain dalam satu malam, tetapi lemah dalam merawat ekosistem dan kebijakan yang membuat budaya bekerja maksimal sebagai instrumen soft power.

Menurut data Kementerian Luar Negeri Indonesia, jumlah restoran Indonesia di luar negeri lebih kurang berjumlah 1.400 restoran, sedangkan menurut data Departemen Perdagangan Luar Negeri Thailand, pada tahun 2024 saja ada lebih dari 17.000 restoran Thailand di luar negeri. 

Itu tentang makanan. Dengan berlaksa-laksa kebudayaan Indonesia yang sering dipamerkan di atas panggung satu malam, sepatutnya kita mengajukan pertanyaan, berapa banyak wisatawan asing yang datang karena tertarik pada kebudayaan Indonesia? Berapa banyak musik, film, atau lukisan Indonesia yang dikenal dunia?  

Indonesia Tidak Miskin Budaya

Kekayaan budaya tidak begitu saja menjadi kekuatan hanya karena dipentaskan dalam forum diplomasi resmi. Batik tidak menjadi soft power hanya karena dikenakan pejabat saat dipotret jurnalis internasional. Tari tradisional tidak bisa disebut diplomasi publik hanya karena dipertontonkan kepada delegasi asing. Kuliner tidak menciptakan pengaruh hanya karena masuk menu jamuan santap malam kepala negara. Semua itu baru berdampak pada kepentingan negara ketika mampu menciptakan ketertarikan, membentuk persepsi dan pemahaman, memperluas jejaring, serta membuat publik luar negeri ingin mengenal Indonesia lebih jauh.

Salah satu masalah diplomasi budaya Indonesia bukan karena miskin atau kekurangan produk budaya. Justru sebaliknya, Indonesia terlalu kaya. Dari Aceh sampai Papua, dari Maluku sampai Nusa Tenggara, dari Kalimantan sampai Sulawesi, dari pesisir sampai pegunungan, bangsa ini memiliki bahasa, musik, tarian, busana, kuliner, arsitektur, ritual, sastra lisan, dan pengetahuan lokal yang jumlahnya nyaris mustahil ditulis dalam sebuah daftar. 

Indonesia tidak kekurangan sumber daya diplomasi budaya, Indonesia hanya terlalu sering memperlakukan kebudayaan sebagai hiasan atau dekorasi, bukan ekosistem yang menghasilkan sumber daya diplomasi publik. Negara senang meminjam budaya ketika butuh wajah yang indah. Negara senang menghadirkan seniman ketika ada tamu asing. Negara senang menampilkan keragaman ketika ingin mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang kaya budaya. 

Namun, setelah panggung satu malam selesai, berapa banyak komunitas budaya yang benar-benar diperhatikan? Berapa banyak seniman yang terhubung dengan jaringan internasional? Berapa banyak karya sastra lokal yang diterjemahkan? Berapa banyak arsip budaya yang dirawat? Berapa banyak festival kebudayaan yang diberi dukungan?

Negara tidak pernah serius mengelola budaya. Kebudayaan kerap diperlakukan hanya sebagai perlengkapan protokoler: dibutuhkan ketika acara dimulai, disingkirkan ketika acara selesai. Seniman diminta tampil, tetapi tidak selalu diajak bicara bagaimana seharusnya budaya dan karya mereka dibaca, dipahami, dan dibawa ke hadapan dunia.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa tarian pembuka, jamuan makan, busana tradisional, dan panggung megah tidak penting. Itu semua penting. Pada KTT G20 Bali 2022, Indonesia menjamu para pemimpin dunia di Garuda Wisnu Kencana. Lebih dari 200 penari tampil dalam pertunjukan yang mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger”, menggambarkan situasi sulit akibat pandemi sekaligus ajakan untuk bangkit bersama. Itu adalah contoh bagaimana simbol budaya dapat dirancang untuk membawa pesan politik global.

Namun, simbol yang kuat memerlukan tindak lanjut. Tanpa tindak lanjut, budaya hanya menjadi seperti kembang api: terang sebentar, membuat orang menoleh, lalu hilang di belantara langit malam. Negara mungkin merasa berhasil karena acara berjalan lancar, tetapi diplomasi budaya tidak boleh diukur hanya dari kelancaran acara. Setelah orang menoleh karena acara yang menunjukkan Indonesia kaya budaya, sepatutnya negara dan bahkan kita, bertanya, “Lalu apa?”

Apakah ada program lanjutan? Apakah ada kontak antar-seniman? Apakah ada penerjemahan karya sastra? Apakah ada undangan festival? Apakah ada kurator internasional yang datang ke Indonesia? Apakah ada orang di luar negeri yang mengenal Indonesia bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai peradaban yang hidup, rumit, dan terus berkembang?

Jika jawabannya tidak jelas, maka kita perlu jujur: yang Indonesia lakukan mungkin baru pertunjukan budaya, belum diplomasi budaya. Diplomasi budaya yang matang membutuhkan ekosistem. Diplomasi budaya butuh seniman, komunitas lokal, kurator, penerjemah, peneliti, pengelola festival, kampus, museum, diaspora, arsip digital, media, dan lembaga negara yang tidak bekerja sendiri-sendiri.

Kata Penghabisan: Jangan Berhenti pada Tepuk Tangan!

Budaya bukan cendera mata negara. Budaya bukan hiasan meja diplomasi. Budaya bukan sekadar latar foto para pejabat. Budaya adalah ruang hidup masyarakat. Budaya lahir dari ingatan, tubuh, bahasa, luka, kegembiraan, dan sejarah panjang manusia-manusia Indonesia.

Karena itu, jika negara ingin menjadikan budaya sebagai kekuatan diplomasi, negara harus berhenti memperlakukan kebudayaan sebagai dekorasi. Sebab dalam diplomasi publik, yang terutama bukan hanya apa yang kita tampilkan, tetapi hubungan apa yang sedang coba dibangun. Dalam soft power, yang paling penting bukan hanya apa yang membuat orang kagum, tetapi apa yang membuat publik luar negeri percaya, tertarik, dan ingin terhubung lebih lama dengan Indonesia

Indonesia tidak kekurangan budaya. Kita hanya terlalu cepat puas ketika diplomasi budaya menghasilkan tepuk tangan. Setelah tari pembuka selesai, seharusnya masih ada banyak hal yang tersisa: dukungan pada seniman, percakapan, kerja sama, kunjungan, arsip, penerjemahan, festival, dan rasa ingin tahu. Jika yang tersisa hanya unggahan media sosial dan berita seremonial, maka barangkali selama ini kita memang belum sungguh-sungguh melakukan diplomasi lewat budaya.

Dalam konteks diplomasi, Indonesia baru bisa menghias wajah negara dengan budaya, negara hanya menghargai seniman sebagai pesolek di atas panggung satu malam, tetapi masih belum benar-benar memanfaatkan budaya untuk kepentingan Indonesia di panggung kebudayaan dunia. Ciao!. [T]

Tags: Budayakebudayaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

Next Post

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Early NHS

Early NHS

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Ungkapan 'Sakit Hati dan Patah Hati' Nadiem Memantik Simpati Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co