3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
in Budaya
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak sore merapatkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, dan ujung kedua ibu jari dipertemukan. Hujan yang mengguyur perlahan mereda, seakan memberikan alunan lembut menyentuh telinga yang datang sejak sore. Beberapa diantaranya masih ada yang menyapa para tamu hingga menyuguhkan hidangan selamat datang.

Lantunan geguritan itulah sebagai penanda dimulainya acara mengenang 10 tahun kepergian Ida Pedanda Gede Made Gunung bertempat di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar, Minggu 17 Mei 2026 sore. Acara bertajuk “Patinget Lepas Ida Betara Lingga (Ida Pedanda Gede Made Gunung) itu dihadiri oleh keluarga besar pasraman, para sulinggih, pemangku, hingga masyarakat umum yang mengenakan busana adat bernuansa putih.

Ida bagus Made Purwita Suamen, Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya | Foto: tatkala.co/Budarsana

Petinget Lepas Ida Bhatara Lingga itu menjadi momentum memperkuat pelestarian sastra suci, lontar, dan nilai spiritual Hindu Bali bagi generasi muda. Acara tersebut dirangkai dengan bedah buku geguritan yang mengisahkan perjalanan spiritual Ida Pedanda Gede Made Gunung. Buku yang belum berisi judul itu, dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Buku yang merupakan kumpulan geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu memuat 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Sebelum buku geguritan itu dibedah secara tuntas, tiga orang Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Gianyar mengawali dengan manembangkan beberapa pupuh yang ada.

Mereka adalah Ni Wayan Miani, S.Pd. dan Ni Wayan Juliantini, S.Pd. yang bertugas sebagai panembang, lalu I Wayan Sumarka, S.Pd. yang bertugas sebagai pangartos. Bagian awal, Wayan Miani manembangkan pada (bait) 1 dengan menggunakan Pupuh Durma. Julianti kemudian manembangkan geguritan pada (bait) 223 menggunakan Pupuh Pangkur. Pada bagian penutup yang manembangkan pada (bait) 504 menggunakan Pupuh Maskumambang dan manembangkan pada (bait) 506 menggunakan Pupuh Ginanti.

Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Setelah ditembangkan, geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu kemudian dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Kumpulan karya tersebut memuat sebanyak 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Pada ksemeatn itu pula, buku geguritan yang belum ada judul itu, kemudian diberi judul Paparikan Dharma Yatra Ida Bhatara Sakti Wawu Rauh.

Ida Pedanda Gde Putra Pidada memaparkan, kumpulan geguritan tersebut sesungguhnya merupakan sebuah peparikan yang bersumber dari lontar Dwijendra Tatwa dan Paniti Gama Tirta Pawitra. Dari lontar kedua itu kemudian lahir pemikiran tentang Hindu Dresta Bali—ajaran yang tumbuh dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali sendiri.

Setelah runtuhnya Majapahit, Ida Danghyang Dwijendra membawa ajaran spiritual ke Bali untuk dimurnikan dan dijadikan landasan kehidupan masyarakat Bali yang bernapaskan Hindu. Konsep itu kemudian melahirkan gagasan Padma Bhuwana, simbol keseimbangan dan kesatuan spiritual Bali, dengan Pura Besakih sebagai pusatnya. “Warisan spiritual ini tidak boleh dicampuri kepentingan kelompok, kebencian, atau agenda tertentu. Karena ini adalah pemersatu masyarakat Bali,” ucapnya.

Ida Pedanda Gde Putra Pidada membedah buku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ida Pedanda Gde Putra Pidada menegaskan, inti ajaran Ida Bhatara Lingga Ida Pedanda Gede Made Gunung bukan sekadar ritual, melainkan menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Ancaman terbesar Bali hari ini adalah hilangnya keseimbangan akibat pembangunan yang tidak selaras dengan nilai spiritual dan kelestarian alam.

Dengan kesucian dan kemurnian spiritual, manusia diharapkan mampu menjaga bumi, tanah air, dan alam semesta. Konsep keseimbangan ini mencakup hubungan vertikal maupun horizontal—antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Semua itu menjadi bagian dari karakter khas Hindu Dresta Bali yang berbeda dengan tradisi Hindu di tempat lain, karena dibentuk oleh kondisi alam, budaya, dan kehidupan Bali sendiri. “Agama itu ibarat air. Ditempatkan di gelas berbeda akan tampak berbeda, tetapi esensinya tetap sama,” ujar Ida Pedanda Gde Pidada.

Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem SS MSi, mengatakan peringatan tersebut bukan sekadar mengenang sosok sulinggih, melainkan juga menjaga kesinambungan ajaran spiritual dan budaya Bali. “Peringatan ini menjadi bentuk bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga sekaligus upaya menanamkan nilai spiritual kepada generasi penerus melalui karya sastra dan geguritan,” sebutnya.

Geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung mencapai sekitar 508 bait. Selain bernilai sastra, karya tersebut memuat ajaran spiritual dan filosofi Hindu yang dapat menjadi pedoman kehidupan umat. Warisan pemikiran dan karya beliau kini diteruskan putranya, Ida Bagus Made Purwita Suamem, yang aktif merawat ratusan koleksi lontar di Gria Purnawati, Desa Blahbatuh. Selain bertugas sebagai ASN di Dinas Kebudayaan Bali, Purwita juga terlibat dalam pelestarian bahasa, sastra, dan konservasi naskah kuno bersama pemerintah.

Semasa walaka, Ida Pedanda Gede Made Gunung bernama Ida Bagus Gede Suamem. Beliau lahir di Gianyar pada 31 Desember 1952 dan wafat pada 18 Mei 2016. Sebelum menjadi sulinggih, ia sempat mengabdi sebagai petugas PLKB Gianyar sejak 1972. Sosoknya dikenal luas di Bali lewat dharma wacana yang disampaikan dengan pendekatan humor, sehingga ajaran agama terasa dekat dan mudah diterima masyarakat lintas kalangan.

Penyuluh Bahasa Bali di Gianyar tembangkan gehuritan karaya Ida Pedanda Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pelestarian lontar dan sastra keagamaan dinilai menjadi bagian penting menjaga identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Melalui Petinget Lepas ini, keluarga besar dan pasraman berharap ajaran serta keteladanan Ida Pedanda Gede Made Gunung tetap hidup dan menjadi sumber pembelajaran lintas generasi. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukugeguritansastra balisastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

Next Post

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

by tatkala
October 30, 2026
0
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

Read moreDetails

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
0
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

Read moreDetails

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

by tatkala
September 23, 2026
0
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

Read moreDetails

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
0
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

Read moreDetails

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

by tatkala
September 20, 2026
0
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

Read moreDetails

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
0
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

Read moreDetails

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
0
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

by tatkala
August 23, 2026
0
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

Read moreDetails

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

by tatkala
August 19, 2026
0
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co