2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
in Budaya
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak sore merapatkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, dan ujung kedua ibu jari dipertemukan. Hujan yang mengguyur perlahan mereda, seakan memberikan alunan lembut menyentuh telinga yang datang sejak sore. Beberapa diantaranya masih ada yang menyapa para tamu hingga menyuguhkan hidangan selamat datang.

Lantunan geguritan itulah sebagai penanda dimulainya acara mengenang 10 tahun kepergian Ida Pedanda Gede Made Gunung bertempat di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar, Minggu 17 Mei 2026 sore. Acara bertajuk “Patinget Lepas Ida Betara Lingga (Ida Pedanda Gede Made Gunung) itu dihadiri oleh keluarga besar pasraman, para sulinggih, pemangku, hingga masyarakat umum yang mengenakan busana adat bernuansa putih.

Ida bagus Made Purwita Suamen, Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya | Foto: tatkala.co/Budarsana

Petinget Lepas Ida Bhatara Lingga itu menjadi momentum memperkuat pelestarian sastra suci, lontar, dan nilai spiritual Hindu Bali bagi generasi muda. Acara tersebut dirangkai dengan bedah buku geguritan yang mengisahkan perjalanan spiritual Ida Pedanda Gede Made Gunung. Buku yang belum berisi judul itu, dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Buku yang merupakan kumpulan geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu memuat 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Sebelum buku geguritan itu dibedah secara tuntas, tiga orang Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Gianyar mengawali dengan manembangkan beberapa pupuh yang ada.

Mereka adalah Ni Wayan Miani, S.Pd. dan Ni Wayan Juliantini, S.Pd. yang bertugas sebagai panembang, lalu I Wayan Sumarka, S.Pd. yang bertugas sebagai pangartos. Bagian awal, Wayan Miani manembangkan pada (bait) 1 dengan menggunakan Pupuh Durma. Julianti kemudian manembangkan geguritan pada (bait) 223 menggunakan Pupuh Pangkur. Pada bagian penutup yang manembangkan pada (bait) 504 menggunakan Pupuh Maskumambang dan manembangkan pada (bait) 506 menggunakan Pupuh Ginanti.

Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Setelah ditembangkan, geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu kemudian dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Kumpulan karya tersebut memuat sebanyak 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Pada ksemeatn itu pula, buku geguritan yang belum ada judul itu, kemudian diberi judul Paparikan Dharma Yatra Ida Bhatara Sakti Wawu Rauh.

Ida Pedanda Gde Putra Pidada memaparkan, kumpulan geguritan tersebut sesungguhnya merupakan sebuah peparikan yang bersumber dari lontar Dwijendra Tatwa dan Paniti Gama Tirta Pawitra. Dari lontar kedua itu kemudian lahir pemikiran tentang Hindu Dresta Bali—ajaran yang tumbuh dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali sendiri.

Setelah runtuhnya Majapahit, Ida Danghyang Dwijendra membawa ajaran spiritual ke Bali untuk dimurnikan dan dijadikan landasan kehidupan masyarakat Bali yang bernapaskan Hindu. Konsep itu kemudian melahirkan gagasan Padma Bhuwana, simbol keseimbangan dan kesatuan spiritual Bali, dengan Pura Besakih sebagai pusatnya. “Warisan spiritual ini tidak boleh dicampuri kepentingan kelompok, kebencian, atau agenda tertentu. Karena ini adalah pemersatu masyarakat Bali,” ucapnya.

Ida Pedanda Gde Putra Pidada membedah buku | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ida Pedanda Gde Putra Pidada menegaskan, inti ajaran Ida Bhatara Lingga Ida Pedanda Gede Made Gunung bukan sekadar ritual, melainkan menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Ancaman terbesar Bali hari ini adalah hilangnya keseimbangan akibat pembangunan yang tidak selaras dengan nilai spiritual dan kelestarian alam.

Dengan kesucian dan kemurnian spiritual, manusia diharapkan mampu menjaga bumi, tanah air, dan alam semesta. Konsep keseimbangan ini mencakup hubungan vertikal maupun horizontal—antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Semua itu menjadi bagian dari karakter khas Hindu Dresta Bali yang berbeda dengan tradisi Hindu di tempat lain, karena dibentuk oleh kondisi alam, budaya, dan kehidupan Bali sendiri. “Agama itu ibarat air. Ditempatkan di gelas berbeda akan tampak berbeda, tetapi esensinya tetap sama,” ujar Ida Pedanda Gde Pidada.

Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem SS MSi, mengatakan peringatan tersebut bukan sekadar mengenang sosok sulinggih, melainkan juga menjaga kesinambungan ajaran spiritual dan budaya Bali. “Peringatan ini menjadi bentuk bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga sekaligus upaya menanamkan nilai spiritual kepada generasi penerus melalui karya sastra dan geguritan,” sebutnya.

Geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung mencapai sekitar 508 bait. Selain bernilai sastra, karya tersebut memuat ajaran spiritual dan filosofi Hindu yang dapat menjadi pedoman kehidupan umat. Warisan pemikiran dan karya beliau kini diteruskan putranya, Ida Bagus Made Purwita Suamem, yang aktif merawat ratusan koleksi lontar di Gria Purnawati, Desa Blahbatuh. Selain bertugas sebagai ASN di Dinas Kebudayaan Bali, Purwita juga terlibat dalam pelestarian bahasa, sastra, dan konservasi naskah kuno bersama pemerintah.

Semasa walaka, Ida Pedanda Gede Made Gunung bernama Ida Bagus Gede Suamem. Beliau lahir di Gianyar pada 31 Desember 1952 dan wafat pada 18 Mei 2016. Sebelum menjadi sulinggih, ia sempat mengabdi sebagai petugas PLKB Gianyar sejak 1972. Sosoknya dikenal luas di Bali lewat dharma wacana yang disampaikan dengan pendekatan humor, sehingga ajaran agama terasa dekat dan mudah diterima masyarakat lintas kalangan.

Penyuluh Bahasa Bali di Gianyar tembangkan gehuritan karaya Ida Pedanda Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pelestarian lontar dan sastra keagamaan dinilai menjadi bagian penting menjaga identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Melalui Petinget Lepas ini, keluarga besar dan pasraman berharap ajaran serta keteladanan Ida Pedanda Gede Made Gunung tetap hidup dan menjadi sumber pembelajaran lintas generasi. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukugeguritansastra balisastra bali klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

Next Post

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

by tatkala
August 23, 2026
0
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

Read moreDetails

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

by tatkala
August 19, 2026
0
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

Read moreDetails

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

by tatkala
August 10, 2026
0
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

Read moreDetails

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

by tatkala
July 25, 2026
0
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

Read moreDetails

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

Read moreDetails

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

by tatkala
June 23, 2026
0
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

Read moreDetails

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
0
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

by tatkala
June 13, 2026
0
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co