3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
in Panggung
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma tampil pada saat pembinaan dari tim Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Jumat, 15 Mei 2026.

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah lama tidak dipentaskan, alias vakum. Pendukungnya kini, semuanya baru dengan merekrut generasi muda yang memiliki kemauan untuk melestarikan kesenian klasik yang telah diwarisi para leluhurnya tempo dulu. Termasuk memperbaharui kostum serta gamelan pengiringnya.

Pengemasannya juga sangat relevan yang mengedepan inovasi, sehingga tampil lebih segar dengan durasi yang tidak membosankan, serta tema cerita yang lebih fleksibel. “Kebangkitan kesenian arja ini bermula dari keinginan warga untuk “nangiang” Ida Bhatara di Pura Banjar Bukit Buwung pada 2018. Saat itu, warga hanya memperbaiki empat gelungan lama yang masih tersisa, seperti gelungan condong, mantri manis, mantra buduh, dan limbur,” kata Koordinator Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma, I Made Sumantra, Jumat, 15 Mei 2026.

Sumantra mengatakan, pada waktu itu baru sebatas memperbaiki gelungan peninggalan lama, belum ada penarinya. Keinginan menghidupkan kembali kesenian arja itu semakin kuat, pada saat karya di pura banjar, pada Tumpek Bubuh 2025. Kelian Banjar meminta warga segera mencari pelatih agar dramatari arja benar-benar bisa diwujudkan kembali. “Saya kemudian mencari pelatih atas rekomendasi seniman arja senior, Jero Ratna,” ucapnya.

Kesenian arja di Bajar Bukit Buwung itu pernah mengalami masa kejayaan sekitar tahun 1965-an, namun setelah itu jarang menerima pesanan pentas, dan akhirnya vakum. Arja tersebut kembali dipelajari hingga terbentuk sekaa dramatari arja baru bernama Giri Nata Kusuma. Upaya pelestarian tersebut pun mendapat sambutan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, dengan mempercayai sebagai duta Kota Denpasar untuk tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. “Ini kesempatan yang membanggakan, ini juga tantangan bagi kami,” ucapnya.

Para penabuh Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma

Sebab, dalam proses pembentukan sekaa, warga lokal menjadi prioritas sebagai penari dan pendukung pementasan untuk keberlanjutan tradisi tetap terjaga. Tak hanya itu, pemilihan pemain juga banyak melibatkan keturunan para pemain arja generasi sebelumnya. Tradisi regenerasi itu dinilai penting agar karakter dan roh kesenian tetap terpelihara. “Dulu kakeknya menjadi penasar, sekarang diteruskan anak atau cucunya. Jadi memang ada kesinambungan generasi,” ucap Sumantra senang.

Satu hal menarik dari pemilihan penari arja itu, setelah mengalami trance, kerauhan warga pada saat piodalan di pura di banjar tersebut. Ketika piodalan itu, beberapa warga secara spontan menari atau melantunkan tembang arja meski tidak pernah belajar sebelumnya. Ada yang kerauhan dengan menari tokoh limbur, condong, bahkan matembang arja secara alami. “Penari condong yang masih berusia muda itu, terpilih setelah sebelumnya mengalami kerauhan dan menarikan karakter condong saat piodalan,” aku pria yang juga pelatih iringan dramatari arja itu.

Diawal dramatari arja ini dibangkitkan, hanya didukung 7 penari saja. Namun, setelah didapuk menjadi duta seni Kota Denpasar, tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan dramatari arja ditampilkan semua, sehingga menjadi 11 penari. Penambahan tokoh ini juga dikuatkan dengan adanya tanda pada piodalan di tahun 2025. Pada saat itu mementaskan arja dengan 7 penari. Ketika tokoh mantra buduh ngelembar (menari), tiba-tiba salah satu warga bangkit dan menari tokoh mantra manis tanpa sadarkan diri. “Dari tanda itu, jumlah penari arja kemudian dilengkapi sesuai dengan kebuthan tampil di ajang PKB,” imbuhnya.

Dari total pemain yang terlibat, hanya dua orang yang belum menikah, sementara lainnya merupakan warga Banjar Bukit Buwung yang sudah berkeluarga. Setelah dipercaya tampil di PKB, para pemain kemudian dilatih oleh sejumlah seniman senior, sepeti Made Sudira dan Jero Ratna serta dibantu pelatih dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Made Sudarsana melatih tabuh, Made Sudira, Jero Ratna, Wayan Rumasih, serta Rimbit. “Ini menjadi tugas berat bagi kami karena sebagian besar penarinya adalah warga banjar yang tidak semuanya memiliki dasar tari maupun tembang,” ujar Sumantra.

Ni Ketut Cangkir, pemeran condong, salah satu penari senior yang masih hidup

Latihan perdana dimulai pada 18 Januari 2026 setelah dilakukan prosesi nuasen. Demi mengejar persiapan tampil di PKB, latihan dilakukan secara intensif. Atas usulan Jero Ratna, dramatari arja yang akan dipentaskan mengangkat lakon “Katung Pingit”, selaras dengan tema PKB 2026, “Atma Kerthi”. Judul tersebut juga terinspirasi dari kondisi arja lama di Banjar Bukit Buwung yang hanya menyisakan katung dan gelungannya saja. “Katung itu dulu tetap disakralkan walaupun lama tidak digunakan. Dari situlah ide cerita ini muncul,” jelasnya.

Pementasan Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma tersebut akan diiringi barungan gamelan geguntangan, seperti tradisi masa lalu. Namun satu instrumen lama bernama “ber”, alat musik berbentuk lingkaran menyerupai rebana, tidak lagi digunakan karena sudah rusak dimakan rayap. “Penabuh dan semua barungan gamelan geguntangan itu tergolong baru,” imbuhnya.

Sementara itu, seniman senior Ni Ketut Cangkir yang dahulu pernah menjadi pemeran Condong mengaku bangga melihat semangat generasi muda menghidupkan kembali kesenian arja di banjarnya. “Saya senang anak-anak muda sekarang mau belajar dan membentuk kembali sekaa dramatari arja di banjar ini,” ujarnya.

Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta, mengatakan keberadaan seni Arja di kawasan Kesiman memang memiliki jejak sejarah yang kuat. Bahkan sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama seperti gelungan Arja masih tersimpan dan kini kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi. “Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali,” paparnya.

Arja merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. Di Kota Denpasar, kesenian ini pernah berkembang kuat di sejumlah wilayah seperti Kesiman, Pedungan, hingga Sanur. Namun dalam beberapa dekade terakhir, keberadaannya mulai jarang dipentaskan sehingga kini kembali digeliatkan oleh generasi pelaku seni.

I Made Sumantra

Selain Arja, Denpasar juga masih memiliki sejumlah kesenian klasik yang tetap dijaga keberlangsungannya, seperti Joged Gandrung, Gambuh, Wayang Wong, Topeng Pajegan, hingga Gender Wayang. Sejumlah kesenian tersebut terus dikembangkan melalui sanggar-sanggar seni berbasis desa adat serta pembinaan generasi muda.

Ia menilai langkah Denpasar mengedepankan kesenian berbasis akar tradisi desa menjadi strategi penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perkembangan seni modern. Pemerintah Kota Denpasar berharap pola pembinaan berbasis komunitas itu mampu melahirkan regenerasi seniman baru sekaligus menjaga keberlanjutan seni klasik Bali di masa mendatang. [T]

Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: arjadramatari arjaKesiman PetilanPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Next Post

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

by tatkala
November 1, 2026
0
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

Read moreDetails

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails
Next Post
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co