14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada spanduk, konser, atau parade massa. Jadi, saat itu di hadapan ribuan buruh, presiden bertanya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) apakah berguna atau tidak? Lalu terdengar jawaban, “Tidaaaaak!”. Yah, jelas mengagetkan lah, jawaban ini.

Padahal dalam demokrasi yang sehat, momen seperti itu seharusnya menjadi momen emas. Negara bertanya, rakyat pun berani menjawab jujur. Simpel saja.  Selanjutnya tinggal didalami, mengapa jawabannya tidak? Dievaluasi saja apa yang kurang, atau kelompok mana yang merasa belum terwakili.

Tetapi kali ini tidak selesai di situ, yang terjadi justru tidak kalah menarik. Jawaban itu, di kesempatan lain buru-buru diluruskan. Karena dianggap tidak lurus. Disebut bahwa yang menjawab “tidak” adalah buruh yang belum berkeluarga alias single. Seolah-olah ada catatan kaki sosial, bahwa pendapat tersebut perlu dikoreksi konteksnya agar tidak terlalu mengganggu narasi besar negara.  Dan dari sinilah kita masuk ke kata wasiat yang belakangan mendadak naik pangkat menjadi selebritas nasional yaitu “artikulasi”.

Kata ini naik daun, karena meski tidak disengaja, beberapa hari kemudian publik juga dihebohkan kasus protes siswa SMAN 1 Pontianak dalam ajang LCC Empat Pilar milik Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Di sini yang ramai bukan substansi kritiknya, melainkan soal “artikulasi”. Jawaban nggak kurang jelas, kurang tepat, kurang tersampaikan dengan baik.  Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Nah, dalam dua kasus ini, netizen pun langsung menangkap pola yang terasa familiar bahwa rakyat boleh bicara, asalkan artikulasinya sesuai standar penguasa.

Demokrasi yang Menuntut Public Speaking

Kita hidup di zaman yang unik. Sepertinya orang kecil hanya boleh menyampaikan pendapat, tetapi sering kali harus memenuhi syarat tak tertulis seperti intonasi harus benar, diksi harus rapi, emosi harus stabil, struktur argumen harus sistematis, dan kalau bisa sekalian punya kemampuan debat ala podcast politik.  Jika tidak, maka dianggap kurang artikulatif. 

Padahal buruh yang entahlah, benar-benar single atau double, menjawab “tidak” itu mungkin hanya sedang jujur. Bisa jadi dalam kepalanya sederhana saja, “Saya belum punya anak. Yang saya pikirkan sekarang ya upah, kontrakan, harga beras, dan cicilan.” 

Tetapi jawaban spontan rakyat ini lantas memang membuat negara gugup. Sebab negara modern sangat menyukai legitimasi visual. Program besar harus tampak diterima publik. Maka suara sumbang di ruang terbuka kadang lebih mengganggu daripada kritik panjang di seminar akademik.

Akhirnya yang dikoreksi bukan kebijakannya, melainkan jawabannya, dilanjut dengan cara rakyat menyampaikan respons.  Persis seperti kasus LCC tadi. Yang menjadi sorotan memang ada ketidakadilan, karena siswa dianggap tidak cukup jelas dalam artikulasi.   Meski ada penagajuan keberatan tapi di sini penguasa yang selalu benar. Di sinilah “artikulasi” berubah fungsi. Ia bukan lagi alat komunikasi, tetapi gerbang validasi. Nah, valid sesuai artikulasi, menurut telinga siapa?Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Cerita ini makin menarik ketika Presiden KSPSI tampil mengklarifikasi polemik tersebut sambil mengenakan Audemars Piguet Royal Oak seharga 400 juta mewakili para pekerja yang menuntut upah layak. Nah, mulailah media sosial bekerja bak detektor sinisme nasional.  Publik sebenarnya mungkin lupa atau tidak peduli isi klarifikasinya, karena selalu bisa ditebak arahnya. Tapi jam tangannya? Wah, itu langsung jadi bahan diskusi kelas pekerja digital se-Indonesia.  Karena dalam politik modern, simbol visual sering lebih kuat daripada pidato.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa barang mewah bukan sekadar benda, tetapi simbol status dan posisi sosial. Jam mahal tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menunjukkan kelas.  Maka ketika seorang tokoh buruh tampil membela atau meluruskan suara anggota sambil mengenakan simbol kemewahan, publik membaca pesan lain. Orang ini masih wakil kita-kita kaum buruh atau sudah terlalu nyaman di lingkar elite? 

Saya tegaskan, problemnya bukan orang tidak boleh kaya. Bukan itu. Sekali lagi, bukan itu. Yang dipersoalkan adalah sensitivitas simbolik.  Bayangkan rakyat sedang bicara soal kebutuhan makan, biaya hidup, dan keresahan ekonomi. Lalu yang tampil menjelaskan keadaan memakai aksesori yang nilainya bisa setara rumah sederhana, ya kontan saja, kontras sosialnya terasa brutal.  Dan media sosial memang sangat menyukai kontras seperti itu.

Negara Jangan Salah Dengar

Yang paling menarik dari dua kasus ini adalah pola respons institusinya.  Baik dalam polemik MBG maupun kasus LCC, kesannya sama, institusi lebih sibuk mengoreksi cara kritik disampaikan daripada memeriksa kemungkinan masalahnya.Ini sebenarnya bukan fenomena baru. 

Filsuf Michel Foucault sejak lama membahas bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya lewat aturan, tetapi juga lewat penentuan bahasa mana yang dianggap sah.  Kekuasaan modern tidak selalu membungkam orang secara kasar. Kadang cukup dengan mengatakan bahwa pendapat kita kurang tepat penyampaiannya. Selesai. 

Substansi kritik kemudian perlahan tenggelam oleh debat teknis komunikasi. Makanya publik sekarang makin sinis. Mereka merasa negara dan institusi sering kali tidak benar-benar ingin mendengar suara rakyat, melainkan ingin mendengar suara rakyat yang sudah dirapikan, sudah diedit.  Nah untuk suara buruh, aspirasinya diedit setelah disampaikan.

Tetapi ada satu hal penting yang sering dilupakan elite bahwa masyarakat Indonesia sekarang berbeda dengan 20 tahun lalu.  Dulu rakyat cenderung diam, tapi sekarang rakyat mengevaluasi. Media sosial membuat masyarakat terbiasa mengomentari kebijakan, membandingkan narasi, bahkan membaca gestur dan simbol elite.

Publik hari ini tidak hanya mendengar apa yang diucapkan penguasa, tetapi juga mengamati siapa yang bicara, bagaimana tampilannya, apa kepentingannya, dan siapa yang diuntungkan.  Maka jangan heran kalau kata “artikulasi” akhirnya malah jadi bahan meme nasional.

Karena netizen merasa ada ironi besar yaitu ketika rakyat bicara jujur, yang dipersoalkan justru tata bahasanya. Dan di sinilah humor menjadi senjata sosial. Orang Indonesia memang unik. Ketika frustrasi politik sulit disampaikan secara formal, mereka mengubahnya menjadi satire. Dari zaman W.S. Rendra sampai era TikTok, kritik paling tajam sering lahir lewat candaan.

Maka muncullah kesimpulan satiris yang terasa lucu sekaligus pahit, bahwasanya di zaman sekarang, artikulasi aspirasi rakyat ternyata belum tentu lebih jelas daripada bisik-bisik yang sefrekuensi dengan penguasa. Kalimat itu terasa lucu tiak lucu karena terasa dekat dengan pengalaman sosial banyak orang.

Ketika Demokrasi Terlalu Sibuk Mengoreksi Nada

Demokrasi pada dasarnya bukan soal semua orang harus bicara sempurna. Demokrasi justru hadir karena rakyat biasa sering tidak punya bahasa elite untuk menjelaskan penderitaannya.  Buruh yang menjawab “tidak” mungkin tidak sedang membuat tesis kebijakan publik. Ia hanya sedang menyampaikan kenyataan hidupnya. 

Siswa yang protes lomba mungkin tidak punya kemampuan retorika setingkat juru bicara kementerian. Tetapi rasa ketidakadilannya tetap nyata. Kalau setiap suara rakyat harus lolos standar artikulasi tertentu agar dianggap sah, maka demokrasi perlahan berubah menjadi audisi public speaking.  Dan itu berbahaya, karena negara akhirnya lebih mudah mendengar suara yang nyaman didengar dibanding suara yang benar-benar jujur. Semacam ABS, asal bapak senang.

Padahal suara rakyat sering lahir bukan dari kesempurnaan bahasa, melainkan dari pengalaman hidup yang mentah.  Di situlah ironi politik kita hari ini, saudara. Aspirasi diminta terbuka, tetapi seringkali baru dianggap valid kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa yang aman bagi kekuasaan.  Sementara bisik-bisik yang sejalan dengan kepentingan elite kadang tak perlu artikulasi terlalu jelas untuk langsung dipahami. Jadi melihat kondisi saat ini, menurut Anda, apakah kita perlu belajar artikulasi atau belajar bisik-bisik? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasademokrasipublic speaking
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Next Post

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co