3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada spanduk, konser, atau parade massa. Jadi, saat itu di hadapan ribuan buruh, presiden bertanya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) apakah berguna atau tidak? Lalu terdengar jawaban, “Tidaaaaak!”. Yah, jelas mengagetkan lah, jawaban ini.

Padahal dalam demokrasi yang sehat, momen seperti itu seharusnya menjadi momen emas. Negara bertanya, rakyat pun berani menjawab jujur. Simpel saja.  Selanjutnya tinggal didalami, mengapa jawabannya tidak? Dievaluasi saja apa yang kurang, atau kelompok mana yang merasa belum terwakili.

Tetapi kali ini tidak selesai di situ, yang terjadi justru tidak kalah menarik. Jawaban itu, di kesempatan lain buru-buru diluruskan. Karena dianggap tidak lurus. Disebut bahwa yang menjawab “tidak” adalah buruh yang belum berkeluarga alias single. Seolah-olah ada catatan kaki sosial, bahwa pendapat tersebut perlu dikoreksi konteksnya agar tidak terlalu mengganggu narasi besar negara.  Dan dari sinilah kita masuk ke kata wasiat yang belakangan mendadak naik pangkat menjadi selebritas nasional yaitu “artikulasi”.

Kata ini naik daun, karena meski tidak disengaja, beberapa hari kemudian publik juga dihebohkan kasus protes siswa SMAN 1 Pontianak dalam ajang LCC Empat Pilar milik Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Di sini yang ramai bukan substansi kritiknya, melainkan soal “artikulasi”. Jawaban nggak kurang jelas, kurang tepat, kurang tersampaikan dengan baik.  Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Nah, dalam dua kasus ini, netizen pun langsung menangkap pola yang terasa familiar bahwa rakyat boleh bicara, asalkan artikulasinya sesuai standar penguasa.

Demokrasi yang Menuntut Public Speaking

Kita hidup di zaman yang unik. Sepertinya orang kecil hanya boleh menyampaikan pendapat, tetapi sering kali harus memenuhi syarat tak tertulis seperti intonasi harus benar, diksi harus rapi, emosi harus stabil, struktur argumen harus sistematis, dan kalau bisa sekalian punya kemampuan debat ala podcast politik.  Jika tidak, maka dianggap kurang artikulatif. 

Padahal buruh yang entahlah, benar-benar single atau double, menjawab “tidak” itu mungkin hanya sedang jujur. Bisa jadi dalam kepalanya sederhana saja, “Saya belum punya anak. Yang saya pikirkan sekarang ya upah, kontrakan, harga beras, dan cicilan.” 

Tetapi jawaban spontan rakyat ini lantas memang membuat negara gugup. Sebab negara modern sangat menyukai legitimasi visual. Program besar harus tampak diterima publik. Maka suara sumbang di ruang terbuka kadang lebih mengganggu daripada kritik panjang di seminar akademik.

Akhirnya yang dikoreksi bukan kebijakannya, melainkan jawabannya, dilanjut dengan cara rakyat menyampaikan respons.  Persis seperti kasus LCC tadi. Yang menjadi sorotan memang ada ketidakadilan, karena siswa dianggap tidak cukup jelas dalam artikulasi.   Meski ada penagajuan keberatan tapi di sini penguasa yang selalu benar. Di sinilah “artikulasi” berubah fungsi. Ia bukan lagi alat komunikasi, tetapi gerbang validasi. Nah, valid sesuai artikulasi, menurut telinga siapa?Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Cerita ini makin menarik ketika Presiden KSPSI tampil mengklarifikasi polemik tersebut sambil mengenakan Audemars Piguet Royal Oak seharga 400 juta mewakili para pekerja yang menuntut upah layak. Nah, mulailah media sosial bekerja bak detektor sinisme nasional.  Publik sebenarnya mungkin lupa atau tidak peduli isi klarifikasinya, karena selalu bisa ditebak arahnya. Tapi jam tangannya? Wah, itu langsung jadi bahan diskusi kelas pekerja digital se-Indonesia.  Karena dalam politik modern, simbol visual sering lebih kuat daripada pidato.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa barang mewah bukan sekadar benda, tetapi simbol status dan posisi sosial. Jam mahal tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menunjukkan kelas.  Maka ketika seorang tokoh buruh tampil membela atau meluruskan suara anggota sambil mengenakan simbol kemewahan, publik membaca pesan lain. Orang ini masih wakil kita-kita kaum buruh atau sudah terlalu nyaman di lingkar elite? 

Saya tegaskan, problemnya bukan orang tidak boleh kaya. Bukan itu. Sekali lagi, bukan itu. Yang dipersoalkan adalah sensitivitas simbolik.  Bayangkan rakyat sedang bicara soal kebutuhan makan, biaya hidup, dan keresahan ekonomi. Lalu yang tampil menjelaskan keadaan memakai aksesori yang nilainya bisa setara rumah sederhana, ya kontan saja, kontras sosialnya terasa brutal.  Dan media sosial memang sangat menyukai kontras seperti itu.

Negara Jangan Salah Dengar

Yang paling menarik dari dua kasus ini adalah pola respons institusinya.  Baik dalam polemik MBG maupun kasus LCC, kesannya sama, institusi lebih sibuk mengoreksi cara kritik disampaikan daripada memeriksa kemungkinan masalahnya.Ini sebenarnya bukan fenomena baru. 

Filsuf Michel Foucault sejak lama membahas bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya lewat aturan, tetapi juga lewat penentuan bahasa mana yang dianggap sah.  Kekuasaan modern tidak selalu membungkam orang secara kasar. Kadang cukup dengan mengatakan bahwa pendapat kita kurang tepat penyampaiannya. Selesai. 

Substansi kritik kemudian perlahan tenggelam oleh debat teknis komunikasi. Makanya publik sekarang makin sinis. Mereka merasa negara dan institusi sering kali tidak benar-benar ingin mendengar suara rakyat, melainkan ingin mendengar suara rakyat yang sudah dirapikan, sudah diedit.  Nah untuk suara buruh, aspirasinya diedit setelah disampaikan.

Tetapi ada satu hal penting yang sering dilupakan elite bahwa masyarakat Indonesia sekarang berbeda dengan 20 tahun lalu.  Dulu rakyat cenderung diam, tapi sekarang rakyat mengevaluasi. Media sosial membuat masyarakat terbiasa mengomentari kebijakan, membandingkan narasi, bahkan membaca gestur dan simbol elite.

Publik hari ini tidak hanya mendengar apa yang diucapkan penguasa, tetapi juga mengamati siapa yang bicara, bagaimana tampilannya, apa kepentingannya, dan siapa yang diuntungkan.  Maka jangan heran kalau kata “artikulasi” akhirnya malah jadi bahan meme nasional.

Karena netizen merasa ada ironi besar yaitu ketika rakyat bicara jujur, yang dipersoalkan justru tata bahasanya. Dan di sinilah humor menjadi senjata sosial. Orang Indonesia memang unik. Ketika frustrasi politik sulit disampaikan secara formal, mereka mengubahnya menjadi satire. Dari zaman W.S. Rendra sampai era TikTok, kritik paling tajam sering lahir lewat candaan.

Maka muncullah kesimpulan satiris yang terasa lucu sekaligus pahit, bahwasanya di zaman sekarang, artikulasi aspirasi rakyat ternyata belum tentu lebih jelas daripada bisik-bisik yang sefrekuensi dengan penguasa. Kalimat itu terasa lucu tiak lucu karena terasa dekat dengan pengalaman sosial banyak orang.

Ketika Demokrasi Terlalu Sibuk Mengoreksi Nada

Demokrasi pada dasarnya bukan soal semua orang harus bicara sempurna. Demokrasi justru hadir karena rakyat biasa sering tidak punya bahasa elite untuk menjelaskan penderitaannya.  Buruh yang menjawab “tidak” mungkin tidak sedang membuat tesis kebijakan publik. Ia hanya sedang menyampaikan kenyataan hidupnya. 

Siswa yang protes lomba mungkin tidak punya kemampuan retorika setingkat juru bicara kementerian. Tetapi rasa ketidakadilannya tetap nyata. Kalau setiap suara rakyat harus lolos standar artikulasi tertentu agar dianggap sah, maka demokrasi perlahan berubah menjadi audisi public speaking.  Dan itu berbahaya, karena negara akhirnya lebih mudah mendengar suara yang nyaman didengar dibanding suara yang benar-benar jujur. Semacam ABS, asal bapak senang.

Padahal suara rakyat sering lahir bukan dari kesempurnaan bahasa, melainkan dari pengalaman hidup yang mentah.  Di situlah ironi politik kita hari ini, saudara. Aspirasi diminta terbuka, tetapi seringkali baru dianggap valid kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa yang aman bagi kekuasaan.  Sementara bisik-bisik yang sejalan dengan kepentingan elite kadang tak perlu artikulasi terlalu jelas untuk langsung dipahami. Jadi melihat kondisi saat ini, menurut Anda, apakah kita perlu belajar artikulasi atau belajar bisik-bisik? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasademokrasipublic speaking
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Next Post

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co