23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada spanduk, konser, atau parade massa. Jadi, saat itu di hadapan ribuan buruh, presiden bertanya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) apakah berguna atau tidak? Lalu terdengar jawaban, “Tidaaaaak!”. Yah, jelas mengagetkan lah, jawaban ini.

Padahal dalam demokrasi yang sehat, momen seperti itu seharusnya menjadi momen emas. Negara bertanya, rakyat pun berani menjawab jujur. Simpel saja.  Selanjutnya tinggal didalami, mengapa jawabannya tidak? Dievaluasi saja apa yang kurang, atau kelompok mana yang merasa belum terwakili.

Tetapi kali ini tidak selesai di situ, yang terjadi justru tidak kalah menarik. Jawaban itu, di kesempatan lain buru-buru diluruskan. Karena dianggap tidak lurus. Disebut bahwa yang menjawab “tidak” adalah buruh yang belum berkeluarga alias single. Seolah-olah ada catatan kaki sosial, bahwa pendapat tersebut perlu dikoreksi konteksnya agar tidak terlalu mengganggu narasi besar negara.  Dan dari sinilah kita masuk ke kata wasiat yang belakangan mendadak naik pangkat menjadi selebritas nasional yaitu “artikulasi”.

Kata ini naik daun, karena meski tidak disengaja, beberapa hari kemudian publik juga dihebohkan kasus protes siswa SMAN 1 Pontianak dalam ajang LCC Empat Pilar milik Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Di sini yang ramai bukan substansi kritiknya, melainkan soal “artikulasi”. Jawaban nggak kurang jelas, kurang tepat, kurang tersampaikan dengan baik.  Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Nah, dalam dua kasus ini, netizen pun langsung menangkap pola yang terasa familiar bahwa rakyat boleh bicara, asalkan artikulasinya sesuai standar penguasa.

Demokrasi yang Menuntut Public Speaking

Kita hidup di zaman yang unik. Sepertinya orang kecil hanya boleh menyampaikan pendapat, tetapi sering kali harus memenuhi syarat tak tertulis seperti intonasi harus benar, diksi harus rapi, emosi harus stabil, struktur argumen harus sistematis, dan kalau bisa sekalian punya kemampuan debat ala podcast politik.  Jika tidak, maka dianggap kurang artikulatif. 

Padahal buruh yang entahlah, benar-benar single atau double, menjawab “tidak” itu mungkin hanya sedang jujur. Bisa jadi dalam kepalanya sederhana saja, “Saya belum punya anak. Yang saya pikirkan sekarang ya upah, kontrakan, harga beras, dan cicilan.” 

Tetapi jawaban spontan rakyat ini lantas memang membuat negara gugup. Sebab negara modern sangat menyukai legitimasi visual. Program besar harus tampak diterima publik. Maka suara sumbang di ruang terbuka kadang lebih mengganggu daripada kritik panjang di seminar akademik.

Akhirnya yang dikoreksi bukan kebijakannya, melainkan jawabannya, dilanjut dengan cara rakyat menyampaikan respons.  Persis seperti kasus LCC tadi. Yang menjadi sorotan memang ada ketidakadilan, karena siswa dianggap tidak cukup jelas dalam artikulasi.   Meski ada penagajuan keberatan tapi di sini penguasa yang selalu benar. Di sinilah “artikulasi” berubah fungsi. Ia bukan lagi alat komunikasi, tetapi gerbang validasi. Nah, valid sesuai artikulasi, menurut telinga siapa?Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Elite, Simbol, dan Jam Tangan Mewah

Cerita ini makin menarik ketika Presiden KSPSI tampil mengklarifikasi polemik tersebut sambil mengenakan Audemars Piguet Royal Oak seharga 400 juta mewakili para pekerja yang menuntut upah layak. Nah, mulailah media sosial bekerja bak detektor sinisme nasional.  Publik sebenarnya mungkin lupa atau tidak peduli isi klarifikasinya, karena selalu bisa ditebak arahnya. Tapi jam tangannya? Wah, itu langsung jadi bahan diskusi kelas pekerja digital se-Indonesia.  Karena dalam politik modern, simbol visual sering lebih kuat daripada pidato.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa barang mewah bukan sekadar benda, tetapi simbol status dan posisi sosial. Jam mahal tidak hanya menunjukkan waktu, tetapi juga menunjukkan kelas.  Maka ketika seorang tokoh buruh tampil membela atau meluruskan suara anggota sambil mengenakan simbol kemewahan, publik membaca pesan lain. Orang ini masih wakil kita-kita kaum buruh atau sudah terlalu nyaman di lingkar elite? 

Saya tegaskan, problemnya bukan orang tidak boleh kaya. Bukan itu. Sekali lagi, bukan itu. Yang dipersoalkan adalah sensitivitas simbolik.  Bayangkan rakyat sedang bicara soal kebutuhan makan, biaya hidup, dan keresahan ekonomi. Lalu yang tampil menjelaskan keadaan memakai aksesori yang nilainya bisa setara rumah sederhana, ya kontan saja, kontras sosialnya terasa brutal.  Dan media sosial memang sangat menyukai kontras seperti itu.

Negara Jangan Salah Dengar

Yang paling menarik dari dua kasus ini adalah pola respons institusinya.  Baik dalam polemik MBG maupun kasus LCC, kesannya sama, institusi lebih sibuk mengoreksi cara kritik disampaikan daripada memeriksa kemungkinan masalahnya.Ini sebenarnya bukan fenomena baru. 

Filsuf Michel Foucault sejak lama membahas bagaimana kekuasaan bekerja bukan hanya lewat aturan, tetapi juga lewat penentuan bahasa mana yang dianggap sah.  Kekuasaan modern tidak selalu membungkam orang secara kasar. Kadang cukup dengan mengatakan bahwa pendapat kita kurang tepat penyampaiannya. Selesai. 

Substansi kritik kemudian perlahan tenggelam oleh debat teknis komunikasi. Makanya publik sekarang makin sinis. Mereka merasa negara dan institusi sering kali tidak benar-benar ingin mendengar suara rakyat, melainkan ingin mendengar suara rakyat yang sudah dirapikan, sudah diedit.  Nah untuk suara buruh, aspirasinya diedit setelah disampaikan.

Tetapi ada satu hal penting yang sering dilupakan elite bahwa masyarakat Indonesia sekarang berbeda dengan 20 tahun lalu.  Dulu rakyat cenderung diam, tapi sekarang rakyat mengevaluasi. Media sosial membuat masyarakat terbiasa mengomentari kebijakan, membandingkan narasi, bahkan membaca gestur dan simbol elite.

Publik hari ini tidak hanya mendengar apa yang diucapkan penguasa, tetapi juga mengamati siapa yang bicara, bagaimana tampilannya, apa kepentingannya, dan siapa yang diuntungkan.  Maka jangan heran kalau kata “artikulasi” akhirnya malah jadi bahan meme nasional.

Karena netizen merasa ada ironi besar yaitu ketika rakyat bicara jujur, yang dipersoalkan justru tata bahasanya. Dan di sinilah humor menjadi senjata sosial. Orang Indonesia memang unik. Ketika frustrasi politik sulit disampaikan secara formal, mereka mengubahnya menjadi satire. Dari zaman W.S. Rendra sampai era TikTok, kritik paling tajam sering lahir lewat candaan.

Maka muncullah kesimpulan satiris yang terasa lucu sekaligus pahit, bahwasanya di zaman sekarang, artikulasi aspirasi rakyat ternyata belum tentu lebih jelas daripada bisik-bisik yang sefrekuensi dengan penguasa. Kalimat itu terasa lucu tiak lucu karena terasa dekat dengan pengalaman sosial banyak orang.

Ketika Demokrasi Terlalu Sibuk Mengoreksi Nada

Demokrasi pada dasarnya bukan soal semua orang harus bicara sempurna. Demokrasi justru hadir karena rakyat biasa sering tidak punya bahasa elite untuk menjelaskan penderitaannya.  Buruh yang menjawab “tidak” mungkin tidak sedang membuat tesis kebijakan publik. Ia hanya sedang menyampaikan kenyataan hidupnya. 

Siswa yang protes lomba mungkin tidak punya kemampuan retorika setingkat juru bicara kementerian. Tetapi rasa ketidakadilannya tetap nyata. Kalau setiap suara rakyat harus lolos standar artikulasi tertentu agar dianggap sah, maka demokrasi perlahan berubah menjadi audisi public speaking.  Dan itu berbahaya, karena negara akhirnya lebih mudah mendengar suara yang nyaman didengar dibanding suara yang benar-benar jujur. Semacam ABS, asal bapak senang.

Padahal suara rakyat sering lahir bukan dari kesempurnaan bahasa, melainkan dari pengalaman hidup yang mentah.  Di situlah ironi politik kita hari ini, saudara. Aspirasi diminta terbuka, tetapi seringkali baru dianggap valid kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa yang aman bagi kekuasaan.  Sementara bisik-bisik yang sejalan dengan kepentingan elite kadang tak perlu artikulasi terlalu jelas untuk langsung dipahami. Jadi melihat kondisi saat ini, menurut Anda, apakah kita perlu belajar artikulasi atau belajar bisik-bisik? Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bahasademokrasipublic speaking
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Next Post

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co